Rabu, 23 September 2026
09:24 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak
Bank Raya Indonesia

Bank Raya Indonesia

Perusahaan rien perbankan digital Indonesia

PT Bank Raya Indonesia Tbk
250px-Bank_Raya_2023_%28with_BRI_2025_logo%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Logo sejak 8 November 2023[a]
Nama sebelumnyaPT Bank Agro (1989)
PT Bank Agroniaga Tbk (1989–2012)
PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (2012–2021)
JenisPerseroan terbatas publik, anak usaha
BEI: AGRO
IndustrIJasa keuangan
Didirikan27 September 1989 Sunting ini di Wikidata
PendiriDana Pensiun Perkebunan (Dapenbun)
Wilayah yang dilayani
Indonesia
Tokoh kunci
Ida Bagus Ketut Subagia[1]
(Direktur Utama)
Muhamad Sidik Heruwibowo[1]
(Komisaris Utama)
Produk
Merek
  • Raya
  • Pinang
Layanan
PendapatanKenaikan Rp 1,19 triliun (2025)[2]
Penurunan Rp -498,61 miliar (2025)[2]
Total asetPenurunan Rp 13,08 triliun (2025)[2]
Total ekuitasPenurunan Rp 3,01 triliun (2025)[2]
PemilikBank Rakyat Indonesia (86,8%)
Jumlah karyawan
942 (2025)[2]

PT Bank Raya Indonesia Tbk adalah anak usaha BRI yang bergerak di bidang perbankan digital. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2025, bank swasta devisa kecil ini memiliki 23 community branch dan 2 kantor kas yang tersebar di seantero Indonesia.[2][3]

Sejarah

Logo Bank Agroniaga
Logo Bank Agroniaga
Logo Bank BRI Agro (2012-2017)
Logo Bank BRI Agro (2012-2017)
Logo Bank BRI Agro (2017-2021)
Logo Bank BRI Agro (2017-2021)
Logo Bank Raya (2021-2023)
Logo Bank Raya (2021-2023)

Bank Agroniaga

Cikal-bakal bank ini dapat ditarik setelah kebijakan Pakto 88 yang mengizinkan pendirian bank swasta baru. Pada saat itu, muncul ide dari sejumlah tokoh di bidang pertanian dan perkebunan (seperti mantan Menteri Kehutanan Soedjarwo)[4] untuk mendirikan lembaga keuangan yang bertujuan membantu pengembangan kedua sektor ekonomi tersebut.[5] Khususnya bagi sejumlah BUMN pertanian dengan bendera PT Perkebunan Nusantara (PTPN), sebuah bank khusus dirasa perlu untuk meningkatkan bisnis mereka.[6] Lembaga pengelola dana pensiun PTPN, Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun) melihat hal serupa; bahwa sektor agrobisnis dan pembiayaannya sangatlah potensial untuk dikembangkan.[7]

Untuk merealisasikan ide tersebut, pada 27 September 1989 didirikanlah PT Bank Agro[2] (kemudian diubah menjadi PT Bank Agroniaga),[8] yang selanjutnya mendapatkan izin usaha lewat Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1347/KMK.013/1989 tertanggal 11 Desember 1989.[2] Dengan nama dagang awal Agrobank, perusahaan ini memulai operasionalnya sebagai bank umum non-devisa sejak 8 Februari 1990,[7] yang kemudian diresmikan Menkeu J.B. Sumarlin pada 17 Februari 1990. Sebagai pemegang saham awal Agrobank selain Dapenbun adalah sejumlah yayasan dalam internal Departemen Pertanian RI dan Departemen Kehutanan RI,[9] seperti Yayasan Sarana Wana Jaya.[10]

Sebagai bank yang didirikan untuk membantu pengembangan sektor agrobisnis, pada awal kehadirannya Agrobank ditargetkan bisa mendukung ekonomi pedesaan. Bank ini direncanakan akan menjadi penghimpun dana-dana dari perkotaan untuk disalurkan ke pedesaan, salah satunya melalui jaringan bank perkreditan rakyat yang dikembangkan nantinya.[10] Selain memberikan jasa perbankan, Agrobank juga menyediakan layanan informasi, konsultasi, bantuan teknis dan manajemen bagi usaha agrobisnis para nasabahnya.[11] Namun, selanjutnya fokus bisnis Bank Agro lebih ditujukan pada captive market,[12] yaitu untuk membantu pengembangan usaha PTPN, seperti penyaluran kredit kepada mereka berikut kelompok usaha pendukungnya (rekanan dan kontraktor), maupun penyaluran dana untuk kesejahteraan para petani yang direkomendasikan PTPN.[7]

Meskipun kemudian mampu bertahan dari krisis moneter,[7] kinerja Bank Agro bisa dikatakan "tertatih-tatih".[13] Per akhir 2003, bank ini tercatat memiliki 9 kantor cabang dan 4 ATM yang di beberapa kota di Indonesia,[14] naik dari satu dasawarsa sebelumnya yang hanya berjumlah 4 di Jakarta.[11] Pada indikator keuangan, aktivanya mencapai Rp 1,33 triliun, ekuitasnya Rp 160 miliar, dan keuntungan yang diraih Rp 16 miliar,[15] dimana pada tahun 2007, masing-masing sebesar Rp 2,9 triliun, Rp 245 miliar dan Rp 4,5 miliar.[16]

Untuk meningkatkan permodalannya, pada 8 Agustus 2003 bank ini melakukan penawaran umum perdana di Bursa Efek Surabaya, dengan melepas 1,5 miliar sahamnya seharga Rp 100/lembar. Nama resmi bank pun berganti menjadi PT Bank Agroniaga Tbk.[17] Belakangan Bank Agroniaga telah melakukan beberapa kali rights issue untuk memenuhi kebutuhan serupa.[12][2] Meskipun sudah go public, persentase saham AGRO yang dimiliki oleh masyarakat saat itu terbilang kecil, yakni hanya 0,59%, sedangkan Dapenbun sebagai pengendali memegang 96%.[16] Selanjutnya, lewat Keputusan Gubernur Bank Indonesia nomor 8/41/KEP.GBI/2006 di tanggal 8 Mei 2006, Bank Agroniaga resmi menyandang status sebagai bank devisa.[12]

Akuisisi oleh BRI

Walaupun sudah mampu membawa dua anak usahanya di bidang keuangan go public (PT Bank Agroniaga Tbk dan PT Asuransi Jasa Tania Tbk), Dapenbun belakangan merasa perlu untuk melakukan penataan kembali pada investasinya yang dirasa hasilnya kurang menggembirakan. Sejak 2008, Dapenbun mulai menjajaki rencana mengundang investor baru ke banknya, dengan target menurunkan pemilikan menjadi 55% saja. Beberapa calon peminat yang disebutkan seperti 3 investor asing (dari Timur Tengah, Singapura dan Korea Selatan), ditambah 2 peminat lokal (Grup Bakrie dan Bank Rakyat Indonesia).[18]

Belakangan, yang terpilih sebagai pemilik baru Bank Agroniaga adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Lewat perjanjian akuisisi yang diteken pada 19 Agustus 2010,[2] Dapenbun setuju untuk menjual 88,65% saham ke bank BUMN tersebut dalam transaksi bernilai Rp 330 miliar. Setelah akuisisi, BRI akan menjadi pengendali baru perusahaan, sedangkan Dapenbun tetap bertahan sebagai pemegang saham minoritas (14%). Meskipun berganti kepemilikan, BRI tetap akan mempertahankan fokus Bank Agroniaga di bidang agrobisnis, yang diharapkan bisa melengkapi segmen UMKM yang selama ini dilayani bank pelat merah itu.[19] Rencana akuisisi ini juga mendapat perhatian dari Menteri BUMN (saat itu) Mustafa Abubakar, yang menilai akuisisi bisa membantu BRI memperbesar kreditnya ke sektor pertanian.[20]

Proses akuisisi resmi diselesaikan pada 3 Maret 2011 lewat penandatanganan akta akuisisi.[21] Selanjutnya, melalui sejumlah aksi korporasi, bank ini meningkatkan persentase saham publiknya, sehingga kepemilikan BRI terdilusi menjadi 79,78% di akhir 2011.[17] Akhirnya, pada 16 Mei 2012 PT Bank Agroniaga Tbk mengubah namanya menjadi PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk[2] (disingkat BRI Agro). Dengan 24 kantor dan 426 karyawan di tahun 2013, BRI Agro tetap memfokuskan bisnisnya pada pembiayaan agrobisnis kecil dan menengah, yang mencapai 65%-75% dari total kreditnya. Beberapa usaha tersebut seperti perkebunan kelapa sawit (terutama petani plasma), perkebunan tebu, teh, peternakan sapi, dan keperluan off-farm seperti pengembangan pabrik pengolahan kelapa sawit, pembiayaan perdagangan gula, pembiayaan ekspor CPO, teh, impor sapi, dan lainnya.[22] Adapun sinergi dengan BRI diwujudkan salah satunya melalui kemudahan nasabah BRI Agro bertransaksi di jaringan ATM BRI tanpa dikenakan biaya.[2]

Seiring waktu, saham Dapenbun di BRI Agro semakin mengecil, dengan pada 2019 hanya sebesar 6,32%, sedangkan BRI naik menjadi 87,10%.[23] Meskipun demikian, bank ini masih menjalin beberapa kerjasama bersama Dapenbun, seperti penyaluran pembayaran pensiunan[24] yang diteken pada April 2019.[25] Kini, Dapenbun tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham signifikan di AGRO.[2]

Menjadi bank digital

Merespons kehadiran fintech di industri keuangan nasional pada era 2010-an, BRI Agro perlahan-lahan diubah fokusnya untuk menjadi penyedia jasa keuangan digital. Hal ini demi memenuhi target bank sebagai the best digital agribank di Indonesia pada 2023.[23] Proses ini dimulai ketika BRI Agro pada 23 Februari 2019 menghadirkan produk sejenis pinjaman daring bernama "Pinang" (Pinjaman Tenang). Pinang diklaim mampu memenuhi kebutuhan kredit nasabah dalam waktu singkat dan digital, namun tetap kompetitif dalam layanan, jasa dan bunga. Sebagai target pasar awalnya adalah 17.000 karyawan perusahaan tekstil Sritex.[26] Per tahun 2020, Pinang sudah menyalurkan kredit hingga Rp 70,6 miliar untuk 18.069 debitur, yang diharapkan akan terus bertambah lewat sejumlah program menarik, kolaborasi dengan tekfin hingga sistem baru.[27]

Tidak lama kemudian, pandemi COVID-19 membuka gelombang antusiasme atas perbankan digital di tanah air. BRI Agro pun ikut "disulap" menjadi kendaraan BRI bertarung di bisnis bank digital,[28] dengan fokus transformasi "digital, digitize and revamp".[2] Setelah transformasi, bank ini diharapkan bisa menjadi bank digital terbaik untuk para pemain tekfin dan gig economy.[17] Sebagai langkah awal, cabang-cabang BRI Agro ditransformasikan menjadi community branch, yang menjadi penghubung bank dengan agen dan calon nasabah dari kalangan gig economy.[29] Belum lagi ide peluncuran tabungan digital dan transformasi portofolio kredit menjadi digital,[30] hingga rumor kerjasama dengan Grab untuk membantu digitalisasinya.[31] Meskipun demikian, antara BRI dan BRI Agro diklaim tidak akan tumpang tindih, karena keduanya menargetkan fokus bisnis berbeda (masyarakat unbanked dan melek perbankan).[30]

Untuk memuluskan arah baru itu, pada 27 September 2021 bank ini kembali bersalin nama dari PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk menjadi PT Bank Raya Indonesia Tbk.[2] Nama "Raya" merupakan tanda penghargaan/perayaan atas pelaku gig economy yang menjadi target awal Bank Raya.[32] Tidak lama kemudian, pada 1 November 2021 Bank Raya meluncurkan aplikasi bank digitalnya bernama "Raya App", yang selanjutnya dimutakhirkan menjadi versi 2.0 di tanggal 22 Februari 2022. Fitur utama yang ditawarkan Raya App adalah Tabungan Raya, Saku Raya dan kartu debit, ditambah sistem pembukaan tabungan yang dilakukan secara digital. Tercatat, sebelum diluncurkannya versi 2.0, Bank Raya telah memiliki 94.500 nasabah,[33] yang naik menjadi 805.000 di akhir 2023.[34]

Transformasi tersebut sempat menekan kinerja Bank Raya, yang merugi Rp 3,05 triliun pada 2021 sebagai akibat dari upaya perusahaan menata kembali kredit dari fokus bisnis sebelumnya (agribisnis)[35] yang umumnya berskala besar. Sebagai gantinya, kredit yang disalurkan perusahaan kini berada dibawah Rp 1 miliar dengan tenor maksimal 1 tahun saja.[31] Beban promosi bank juga sempat menunjukkan peningkatan, demi mengenalkan produk Raya App ke masyarakat.[36] Namun, dua tahun pasca-transformasi, Bank Raya sudah mencatatkan laba kembali, yaitu Rp 24,35 miliar, yang didorong seperti lewat peningkatan penyaluran kredit dan simpanan digital yang signifikan.[37]

BRI kini memfokuskan Bank Raya sebagai produk digital attacker yang menghadirkan kemudahan transaksi lewat jaringan induknya yang luas. Hal tersebut seperti pemanfaatan BRILink dan ATM BRI. Tidak hanya memanfaatkan jaringan induk, Bank Raya terus dikembangkan seperti lewat pengembangan fitur dan kolaborasi bersama sejumlah partner.[2] Beberapa fitur yang dihadirkan di Raya App seperti Saku Bisnis, QRIS Bisnis,[37] Saku Bujet, Saku Pintar, Saku Jaga, kartu debit Visa, QRIS, setor tarik tunai di Indomaret, dll yang totalnya mencapai 111 per akhir 2025.[38] Sementara itu, produk pindar Pinang dikembangkan dengan beberapa varian seperti Pinang Maksima, Pinang Performa, Pinang Connect, Pinang Flexi dan Pinang Flexi Extra.[2] Hingga September 2025, diperkirakan pengguna Raya App telah mencapai 1,6 juta, dengan digital saving sebesar Rp 1,75 triliun dan transaksi yang dilayani sebesar 3,8 juta.[39] Sedangkan penyaluran kredit lewat Pinang per awal 2026 telah mencapai Rp 7,25 triliun atau outstanding Rp 1,15 triliun.[40]

Manajemen

  • Komisaris Utama: M. Sidik Heruwibowo
  • Komisaris Independen: Retno Wahyuni Wijayanti
  • Komisaris Independen: Johanes Kuntjoro Adisardjono
  • Komisaris: Nyimas Dewi Ratih Kamil
  • Direktur Utama: Ida Bagus K. Subagia
  • Direktur Keuangan: Rustarti Suri Pertiwi
  • Direktur Digital dan Operasional: Lukman Hakim
  • Direktur Manajemen Risiko, Kepatuhan dan Sumber Daya Manusia: Danar Widyantoro
  • Direktur Bisnis: Kicky Andrie Davetra[2]

Kantor

Bank ini berpusat di Jakarta, dan dibandingkan "bank digital" yang lain, masih mempertahankan jaringan kantor cabang yang cukup signifikan. Istilah internal yang digunakan untuk menyebut kantor Bank Raya adalah community branch, yang tersebar di sejumlah kota di Jawa (13), Sumatra (8), Bali (1, Denpasar) dan Sulawesi (1, Makassar). Selain itu bank ini juga memiliki 2 kantor kas di Riau.[2]

Catatan

  1. Bagian dari logo korporat BRI digunakan sejak 16 Oktober 2025.

Referensi

  1. 1 2 "Komisaris & Direksi". PT Bank Raya Indonesia Tbk. Diakses tanggal 8 Januari 2022.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 "Laporan Tahunan 2025" (PDF). PT Bank Raya Indonesia Tbk. Diakses tanggal 8 Januari 2022.
  3. "Profil Perusahaan". PT Bank Raya Indonesia Tbk. Diakses tanggal 8 Januari 2022.
  4. Informasi
  5. Pertanian membangun bangsa
  6. Sjarifudin Baharsjah, bekerja menurut keyakinan
  7. 1 2 3 4 Sejarah
  8. Dunia EKUIN dan PERBANKAN
  9. Tempo
  10. 1 2 Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis
  11. 1 2 Rupiah di tengah rentang sejarah: 45 tahun uang Republik Indonesia, 1946-1991
  12. 1 2 3 Prospektus PUT AGRO 2009
  13. Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis
  14. Lokasi Kantor Pusat dan Cabang
  15. Laporan keuangan
  16. 1 2 LapTahunan Bank AGRO 2007
  17. 1 2 3 LapTahunan AGRO 2021
  18. Dapenbun akan Lepas Rp150 Miliar Saham Bank Agro Lewat Right Issue
  19. Dana Dapenbun Rp 330 Miliar Siap Masuk Bursa
  20. Agustus 2010, BRI Realisasikan Akuisisi Bank Agro
  21. BRI resmi kuasai 88,65% saham Bank Agro
  22. Annual Report AGRO 2013
  23. 1 2 LapTahunan AGRO 2019
  24. Bank BRI Agro Dipercaya Tangani Pembayaran Pensiunan Perkebunan
  25. Tingkatkan CASA, BRI Agro Bersinergi Dengan Dapenbun
  26. BRI Agro Rilis PINANG, Fintech Pinjaman Digital Pertama di RI
  27. Pelopor Digital Loan, Ini Strategi BRI Agro Untuk Pinang
  28. BRI Akan 'Sulap' BRI Agro Jadi Bank Digital
  29. Persiapan BRI AGRO menjadi bank digital
  30. 1 2 Mau Jadi Bank Digital, BRI Agro Niat Ganti Nama
  31. 1 2 BRI Agro Menjadi Bank Raya Indonesia
  32. Jadi Bank Digital, BRI Agro Resmi Ganti Nama Jadi Bank Raya
  33. Rayakan Transformasi, Bank Raya Lakukan Soft Launching Raya App 2.0 untuk Mudahkan Akses Perbankan Digital bagi Nasabah
  34. Hingga Akhir Tahun 2023, Bank Raya Punya Lebih dari 800 Ribu Nasabah
  35. Bank Raya Klaim Sudah Kembali Profitable di Kuartal Pertama 2022
  36. Beban Promosi Bank Raya (AGRO) Melonjak, Ini Sebabnya
  37. 1 2 Laba Bersih Bank Raya Melejit di Tahun 2023 Semakin Tangguh Menuju Pertumbuhan Bisnis Digital yang Sehat dan Berkelanjutan
  38. Jurus Bank Raya Memutakhirkan Fitur Aplikasi Raya
  39. Aplikasi Raya Semakin Lengkap, Hadirkan Ragam Fitur Pembayaran, Nasabah Transaksi dalam Satu Genggaman
  40. Bank Raya Siapkan Fitur Raya Aktif dan Paylater untuk Perkuat Layanan Digital

Pranala luar

Bank sentral: Bank Indonesia
Sistem konvensional
Bank BUMN
Bank Pembangunan Daerah
Bank swasta
Bank Allo ·Bank Amar ·Bank ANZ Indonesia ·Bank Artha Graha Internasional ·Bank BNP Paribas Indonesia ·Bank Bumi Arta ·Bank Capital ·Bank CCB Indonesia ·Bank Central Asia ·Bank CIMB Niaga ·Bank CTBC Indonesia ·Bank Danamon ·Bank Digital BCA ·Bank DBS Indonesia ·Bank Ganesha ·Bank Hana Indonesia ·Bank HSBC Indonesia ·Bank IBK Indonesia ·Bank ICBC Indonesia ·Bank Ina ·Bank Index ·Bank Jago ·Bank J Trust Indonesia ·Bank KB Indonesia ·Bank Kasikorn Indonesia ·Bank Krom ·Bank Mayapada ·Bank Maybank Indonesia ·Bank Mega ·Bank Mestika ·Bank Mizuho Indonesia ·Bank MNC ·Bank Multiarta Sentosa ·Bank Nobu ·Bank Neo Commerce ·Bank OCBC Indonesia ·Bank of India Indonesia ·Bank OK! Indonesia ·Bank Panin ·Bank Permata ·Bank QNB Indonesia ·Bank Resona Perdania ·Bank Saqu Indonesia ·Bank Sahabat Sampoerna ·Bank SBI Indonesia ·Bank Seabank Indonesia ·Bank Shinhan Indonesia ·Bank Sinarmas ·Bank SMBC Indonesia ·Bank Superbank ·Bank UOB Indonesia ·Bank Victoria ·Bank Woori Saudara
Kantor cabang bank asing
Sistem syariah
Bank syariah BUMN
Bank syariah daerah
Bank syariah swasta
Unit usaha syariah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan