Aristoteles | |
|---|---|
Ἀριστοτέλης | |
Replika Romawi dari patung dada Yunani Aristoteles | |
| Lahir | 384 SM Stagira, yang saat itu merupakan bagian dari Liga Kalkidia |
| Meninggal | 322 SM (usia 61–62) Chalcis, yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Makedonia |
| Pendidikan | |
| Pendidikan | Akademi Platon |
| Filsafat | |
| Era | Filsafat Yunani kuno |
| Wilayah | Filsafat Barat |
| Mazhab Peripatetik | |
Mahasiswa terkenal | Aleksander Agung, Theophrastus, Aristoxenus |
Minat utama | |
Karya terkenal | |
Gagasan terkenal | Aristotelianisme
Filsafat teoretis Filsafat alam Filsafat praktis
|
Aristoteles[A] (Yunani Kuno: Ἀριστοτέλης, alih aksara: Aristotélēs;[B] 384–322 SM) adalah seorang filsuf Yunani kuno dan polimatik. Tulisan-tulisannya mencakup bidang ilmu alam, filsafat, linguistik, ekonomi, politik, psikologi, dan seni. Sebagai pendiri Mazhab Peripatetik dalam filsafat di Lyceum di Athena, ia memulai tradisi Aristotelian yang berkembang sesudahnya, yang menjadi landasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Sedikit yang diketahui mengenai kehidupan Aristoteles. Ia dilahirkan di kota Stagira di Kalkidiki (utara Yunani) pada masa periode Klasik. Ayahnya, Nikomakhos, meninggal ketika Aristoteles masih kecil, dan ia dibesarkan oleh seorang wali. Sekitar usia delapan belas tahun, ia bergabung dengan Akademi milik Platon di Athena dan menetap di sana hingga berusia tiga puluh tujuh tahun (ca 347 SM). Tak lama setelah Platon meninggal, Aristoteles meninggalkan Athena dan, atas permintaan Filipus II dari Makedonia, menjadi guru bagi putranya, Aleksander Agung, mulai tahun 343 SM. Ia mendirikan sebuah perpustakaan di Lyceum, yang membantunya menghasilkan banyak dari ratusan bukunya pada papirus gulungan.
Meskipun Aristoteles menulis banyak risalah dan dialog untuk diterbitkan, hanya sekitar sepertiga dari seluruh karya aslinya yang bertahan hingga kini, dan tidak satu pun di antaranya memang ditujukan untuk diterbitkan. Aristoteles menyusun sintesis yang kompleks dari berbagai filsafat yang telah ada sebelumnya. Ajaran dan metode penyelidikannya memberikan pengaruh besar di seluruh dunia dan tetap menjadi bahan perdebatan filosofis hingga masa kini.
Pandangan Aristoteles sangat membentuk keilmuan abad pertengahan. Pengaruh ilmu alamnya berlangsung sejak akhir zaman kuno dan Abad Pertengahan Awal hingga Renaisans, dan baru secara sistematis digantikan setelah Zaman Pencerahan serta berkembangnya teori seperti mekanika klasik. Ia memengaruhi filsafat Yahudi-Islam pada Abad Pertengahan, serta teologi Kristen, terutama Neoplatonisme dalam Gereja Perdana dan tradisi skolastik Gereja Katolik. Aristoteles dihormati oleh para cendekiawan Muslim abad pertengahan sebagai "Guru Pertama", dan oleh orang-orang Kristen abad pertengahan seperti Thomas Aquinas hanya sebagai "Sang Filsuf". Ia telah disebut sebagai ilmuwan pertama. Karya-karyanya memuat kajian sistematis paling awal yang diketahui mengenai logika, dan dipelajari oleh para sarjana abad pertengahan seperti Peter Abelard dan Jean Buridan. Pengaruhnya terhadap logika berlanjut hingga jauh ke abad ke-19. Selain itu, etikanya, meskipun senantiasa berpengaruh, kembali menarik perhatian besar dengan munculnya etika keutamaan pada zaman modern.
Riwayat Aristoteles

Aristoteles lahir di sebuah kota kecil bernama Stagira pada tahun 384 SM. Kota ini merupakan bagian dari semenanjung Kalkidiki. Pengasuhan Aristoteles dilakukan oleh keluarganya di Atarneus, Anatolia. Kondisi ini disebabkan ayahnya wafat pada usia muda selama pengadilan di Pella, Makedonia Tengah. Pekerjaan ayahnya adalah sebagai dokter pribadi raja Amnytas Ⅱ.[2]
Pada awalnya, Aristoteles merupakan murid dari Plato. Namun ia kemudian menolak beberapa pemikiran Plato dan memulai pemikiran filsafatnya sendiri. Aristoteles mendirikan sebuah pusat pendidikan dan penelitian bernama Lyceum. Melalui tempat ini, ia menyampaikan pemikiran-pemikirannya yang kemudian memengaruhi pemikiran dari para filsuf, teolog atau ilmuwan lain.[3]
Aristoteles hidup di lingkungan yang mendukung kreativitas kebudayaan dan intelektual. Pada masa hidupnya, negara-negara kota di Yunani mengalami perpecahan akibat kekalahan Athena dari Sparta dalam Perang Peloponesian pada tahun 404 SM. Konflik berkepanjangan antara negara-negara kota di Yunani berakhir setelah Filipus II dari Makedonia menaklukkan negara-negara tersebut dan mendirikan Kekaisaran Makedonia. Aristoteles hidup dalam pemerintahan putra dari Filipus II dari Makedonia, Alexander Agung. Pada masa ini, ia menjadi murid dari Plato yang banyak menulis dialog. Aristoteles mengembangkan sistem filsafatnya sendiri pada masa tersebut.[4]
Pemikiran filsafat
Abstraksi
Aristoteles meyakini bahwa abstraksi menjadi pembentuk kategori yang dapat diterapkan ke objek pemikiran.[5] Aristoteles menganggap bahwa pemikiran manusia melebihi tiga jenis abstraksi yang membentuk filsafat, yaitu fisika, matematika dan metafisika. Manusia melampaui fisika ketika ia mulai berpikir saat sedang melakukan pengamatan. Selama berpikir, akal manusia melepaskan diri dari pengamatan yang menggunakan indra untuk merasakan segala yang dapat dirasakan keberadaannya. Pengetahuan yang bersifat umum kemudian diketahui dari hal yang partikular dan nyata. Pengetahuan fisika kemudian terbentuk melalui pengetahuan abstrak dan akal manusia. Selanjutnya, abstraksi matematika membuat manusia mampu mengerti mengenai materi yang tidak terlihat. Akal melepaskan diri dari segala sesuatu yang dapat dipahami. Semua ciri material dari abstraksi ini kemudian menghasilkan ilmu pengetahuan. Sementara, abstraksi metafisika muncul setelah manusia melakukan abstraksi fisika. Dalam abstraksi ketiga, manusia telah mampu berpikir tentang kenyataan dari segala materi beserta dengan asal-usul dan tujuan pembentukannya. Aristoteles menganggap abstraksi ini sebagai filsafat pertama.[6]
Aristoteles menggunakan istilah "filsafat pertama" dibandingkan metafisika karena menurutnya semua filsafat berasal dari abstraksi ini.[7] Filsafat pertama dalam pandangan Aristoteles dapat diartikan menjadi dua pengertian. Pertama yaitu sebagai ilmu yang menjadi asas pertama. Sedangkan yang kedua sebagai ilmu yang membahas keberadaan sebagai sebuah keberadaan beserta dengan ciri-ciri objek.[8]
Metode filsafat
Aristoteles mengemukakan bahwa metode penemuan pengetahuan dan kebenaran baru terbagi menjadi dua. Pertama, metode induktif dan yang kedua ialah metode deduktif. Metode induktif bertujuan menyimpulkan hal-hal khusus menjadi suatu kesimpulan umum. Sementara itu, metode deduktif hanya menyimpulkan kebenaran dari dua hal yang bersifat pasti dan tidak diragukan. Sifat dari metode deduktif ialah menyimpulkan dari sesuatu yang bersifat umum menjadi khusus. Kondisi dari suatu proposisi dapat ditinjau melalui analitika atau dialektik. Analitika digunakan pada penelitian yang menggunakan proposisi yang telah diyakini kebenarannya untuk argumentasi. Sementara dialektik digunakan pada penelitian yang menggunakan proposisi yang diragukan kebenarannya untuk argumentasi. Analitika dan dialektika menjadi dasar dari logika dengan inti yaitu silogisme. Peran silogisme ialah menjadi mekanisme penalaran premis-premis yang benar untuk menghasilkan kesimpulan yang benar. Silogisme menjadi bentuk formal dari penalaran deduktif. Aristoteles menjadi metode deduktif ini sebagai metode terbaik dalam memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru yang didasarkan kepada kesimpulan. Metode ini dikenal dengan nama metode silogistis deduktif.[9]
Pemikiran sains
Ilmu alam
Aristoteles menjadi perintis dalam kegiatan pengumpulan dan klasifikasi spesies biologi. Kecenderungan terhadap ilmu alam oleh Aristoteles berkaitan dengan analisis kritis. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengetahui tentang hukum alam dan keseimbangan alam. Keberadaan materi menandakan bahwa materi ada dengan suatu bentuk tertentu. Selain itu, ia berpendapat bahwa terdapat satu tujuan dari pergerakan benda-benda. Pemikiran Aristoteles mengenai gerak menghasilkan hubungan sebab-akibat yang mengarahkan kepada pemikiran mengenai penggerak pertama yang tidak bergerak. Arah pemikirannya mengarah kepada pengertian mengenai Tuhan.[10]
Retorika
Aristoteles menjadikan retorika sebagai suatu ilmu yang mandiri dengan kedudukan yang sama dengan ilmu lainnya. Menurut Aristoteles, retorika bukan sekadar perkataan yang bersifat omong kosong, melainkan tuturan yang efektif dan mengandung etika dalam menyampaikan kebenaran. Aristoteles mengemukakan bahwa retorika tidak dapat dijadikan sebagai bagian dari ilmu lain. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa ilmu lain memerlukan retorika untuk memberikan deskripsi mengenai penemuan-penemuannya. Ajaran retorika Aristoteles dikenal sebagai retorika tradisional oleh para ahli retorika yang hidup pada masa awal abad ke-20. Ajaran retorika dari Aristoteles berpengaruh hingga keruntuhan Kerajaan Yunani dan Kerajaan Romawi.[11]
Pemikiran humaniora
Manusia
Aristoteles menganggap manusia sebagai makhluk sosial. Secara alamiah, manusia memiliki naluri untuk melakukan interaksi sosial dengan manusia lainnya. Selain itu, manusia juga memerlukan bantuan manusia lainnya. Manusia sebagai makhluk sosial diwujudkan dalam bentuk masyarakat yang saling terhubung dalam kesatuan biologis yang didasarkan oleh naluri.[12]
Politik
Aristoteles membedakan negara menjadi negara yang benar dan deviasi negara yang benar. Negara yang benar menurut Aristoteles terbagi menjadi monarki, aristokrasi, dan konstitusional. Sementara deviasi negara yang benar meliputi tiran, oligarki dan demokrasi. Pengecualian diberikan kepada demokrasi dengan penambahan hukum untuk dapat membenarkan penerapannya. Aristoteles menjadikan keberadaan hukum sebagai syarat penting bagi pembentukan negara. Suatu negara dapat memberikan manfaat maupun bencana politik kepada warga negara. Penentunya ialah kondisi pemenuhan kebebasan, hak asasi manusia, kepercayaan dan harga diri dari warga negara.[13]
Pandangan politik Aristoteles ini bersifat normatif. Politik diartikan sebagai sarana pembentukan masyarakat dengan peluang yang besar untuk memperoleh kebahagiaan.[14] Melalui politik, masyarakat dapat mengembangkan bakat, meningkatkan keakraban, dan menjunjung tinggi moralitas.[15] Sementara itu, kekuasaan tertinggi pada suatu negara disebut sebagai kedaulatan. Aristoteles mengkaji mengenai kedaulatan yang diartikan sebagai unsur superior di dalam beberapa jenis konstitusi dengan suatu unit politik yang jumlahnya dapat tunggal maupun banyak.[16]
Hukum
Aristoteles merupakan salah satu filsuf yang menganut pandangan hukum alam. Ia menjadikan akal sebagai alat penentu keadilan yang bersifat mutlak. Ia membagi hukum menjadi dua, yaitu hukum yang ditetapkan oleh kekuasaan negara dan hukum yang tidak subjektif dalam penilaian kebaikan maupun keburukan. Pandangan yang tidak subjketif ini keberadaannya seakan-akan tidak ada karena sifat manusia yang selalu memiliki perbedaan pendapat terhadap hukum.[17] Sementara itu, Aristoteles meyakini bahwa peran hukum sebagai sekumpulan peraturan bersifat mengikat bagi masyarakat maupun hakim.[18]
Psikologi
Aristoteles hidup pada masa manusia mulai menyelidiki persoalan kejiwaan. Setiap pernyataan hanya dibenarkan melalui argumentasi logis yang menggunakan akal. Bukti empiris belum banyak digunakan dalam membenarkan suatu pemikiran. Pada masa ini, psikologi masih menjadi bagian dari filsafat. Di Yunani Kuno, Aristoteles menjadi salah satu tokoh yang mengemukakan teori psikologi bersama dengan Plato.[19] Ia berpendapat bahwa suatu badan yang memiliki organ tersusun dari komponen mendasar yang disebut jiwa. Kedudukan jiwa di dalam badan organis ialah sebagai komponen pertama dan utama. Jiwa dijadikan sebagai penyusun kehidupan pada materi yang membuatnya mempunyai struktur khusus. Manusia dalam pandangan ini terbentuk dari jiwa yang bersifat imanen. Keberadaan jiwa ini yang membuat manusia menjadi manusia.[20]
Komunikasi
Aristoteles membagi unsur komunikasi meliputi pembicara, pesan dan pendengar. Ia meyakini bahwa komunikasi telah terjadi ketika pembicara telah mampu mengubah sikap dari pendengar melalui pesan di dalam pembicaraan. Jenis komunikasi yang dikemukakan oleh Aristoteles berkaitan dengan retorika dan pidato sehingga sifat komunikasi hanya terjadi secara satu arah.[21]
Pemikiran ketuhanan
Aristoteles mengembangan jenis argumentasi yang disebut argumen pergerakan untuk menjelaskan keberadaan Tuhan. Dalam pandangan Aristoteles, Tuhan adalah penggerak yang tidak bergerak. Semua pergerakan yang terjadi di alam semesta disebabkan oleh Tuhan. Aristoteles memandang bahwa Tuhan hanya berperan menciptakan segala pergerakan di alam semesta, tetapi tidak mengurus lagi alam semesta beserta dengan ciptaan-Nya. Tuhan dalam pandangan Aristoteles tidak mengetahui hal-hal kecil yang terjadi di dalam alam semesta. Pandangan Aristoteles ini bertentangan dengan pandangan agama mengenai sifat ketuhanan.[22]
Karya tulis

Etika Nikomakea
Dalam bukunya yang berjudul Etika Nikomakea, Aristoteles menjelaskan bahwa manusia memiliki dua jenis kebijaksanaan. Keberadaan keduanya menjadi bagian utama dari kehidupan manusia. Masing-masing adalah kebijaksanaan teoretis dan kebijaksanaan praktis. Kebijaksanaan teoretis digunakan oleh manusia untuk memahami alam semesta. Manusia memperoleh pemahaman mengenai alam semesta dan segala sesuatu yang ada melalui pengamatan dengan kebijaksanaan teoretis. Sementara itu, kebijakan praktis berkaitan dengan moral dan etika. Segala sesuatu yang ada di dunia dinilai berdasarkan kebaikan dan keburukan yang dimiliki serta menjadi dasar keberadaannya. Aristoteles meyakini bahwa manusia yang memiliki dua jenis kebijaksanaan ini akan menjadi manusia yang bijaksana.[23]
Organon
Aristoteles menganggap logika sebagai ilmu yang digunakan untuk melakukan penyimpulan atas sesuatu secara tepat. Logika dijadikannya sebagai dasar bagi segala jenis pengetahuan. Pemikirannya mengenai logika ia sampaikan dalam kumpulan tulisan yang diberi nama To Organon (atau cukup disebut Organon). Nama ini berarti metode untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Dalam tulisan-tulisannya ini, Aristoteles mengutamakan persoalan mengenai silogisme. Organon terbagi menjadi enam bab yang masing-masing membahas satu konsep tertentu. Secara berurut, konsep yang dibahas ialah kategori, proposisi, silogisme, pembuktian, seni berdebat dan sesat pikir.[24] Organon merupakan karya yang menjadikan logika sebagai ilmu. Pola pengembangan ilmu yang dihasilkannya dimulai dari pembentukan gagasan, lalu pengambilan keputusan, dan diakhiri dengan proses pemikiran.[25]
Politica
Politica adalah karya tulis Aristoteles yang membahas tentang negara hukum. Perumusan negara dalam pemikiran Aristoteles tidak berkaitan dengan manusia sebagai pemerintah. Suatu negara diperintah oleh hukum yang mengatur standar keadilan dan kesusilaan. Hukum berperan membentuk pribadi manusia yang bersifat baik dengan norma susila dan rasa keadilan yang tinggi. Negara hukum dapat terbentuk melalui warga negara yang mendasari kehidupannya dengan keadilan sebagai pemerintahnya. Hukum berperan untuk menentukan kewenangan atas hak yang diterima oleh warga negara.[26]
Penyebaran pemikiran

Dunia Islam
Pemikiran Aristoteles khususnya mengenai logika, tersebar di dunia Islam melalui penerjemahan atas karya tulisnya dalam bahasa Arab. Proses penerjemahan ini dilakukan oleh para pendukung pemikiran mengenai logika. Buku-buku yang ditulis oleh Aristoteles pertama kali diterjemahkan pada masa Khalifah al-Mansur oleh Ibn al-Muqaffaʻ. Buku-buku yang diterjemahkannya yaitu Categoriae, Interpretatione, dan Analytica Priora.[27]
Catatan
- ↑ /ˈærɪstɒtəl/ simakⓘ ARR-ih-stot-əl[1]
- ↑ pelafalan [aristotélɛːs]
Kutipan
- ↑ Collins English Dictionary.
- ↑ Roswantoro, Alim (2015). "Filsafat Sosial-Politik Plato dan Aristoteles". Refleksi. 15 (2): 125.
- ↑ Ibrahim, Duski (2017). Filsafat Ilmu: Dari Penumpang Asing untuk Para Tamu (PDF). Palembang: NoerFikri. hlm. 113. ISBN 978-602-6318-97-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Lavine, T. Z. (2020). From Socrates to Sartre: The Philosophic Quest. Yogyakarta: Immortal. hlm. 85.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Rohman, A., dan Rukiyati (2014). Lamsuri, Mohammad (ed.). Epsitemologi dan Logika: Filsafat untuk Pengembangan Pendidikan (PDF). Sleman: Aswaja Pressindo. hlm. 110. ISBN 978-602-18653-6-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Sudiantara, Yosephus (2020). Filsafat Ilmu Pengetahuan: Bagian pertama, Inti Filsafat Ilmu Pengetahuan (PDF). Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata. hlm. 5. ISBN 978-623-7635-46-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Sumanto, Edi (2019). Sartono, Oki Alek (ed.). Filsafat Jilid I (PDF). Bengkulu: Penerbit Vanda. hlm. 60. ISBN 978-602-6784-91-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Biyanto (2015). Filsafat Ilmu dan Ilmu Keislaman (PDF). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 10. ISBN 978-602-229-495-5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Waris (2014). Rofiq, Ahmad Choirul (ed.). Pengantar Filsafat (PDF). Ponorogo: STAIN Po Press. hlm. 10–11.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Siska, Yulia (2015). Manusia dan Sejarah: Sebuah Tinjauan Filosofis. Garudhawaca. hlm. 237.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Sulistyarini, D., dan Zainal, A. G. (2020). Ikhwan, Khaerul (ed.). Buku Ajar Retorika (PDF). Serang: CV. AA. Rizky. hlm. 4. ISBN 978-623-7726-81-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Mumtazinur (2019). Armia, Muhammad Siddiq (ed.). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (PDF). Banda Aceh: Lembaga Kajian Konstitusi Indonesia, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. hlm. 40–41. ISBN 978-602-50172-4-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Madung, Otto Gusti (2013). Filsafat Politik: Negara dalam Bentangan Diskursus Filosofis (PDF). Flores: Penerbit Ledalero. hlm. XV. ISBN 978-979-9447-04-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-12-26. Diakses tanggal 2021-12-26.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|dead-url=diabaikan (|url-status=disarankan) - ↑ Husna, Aspiyatul (2020). "Kebahagiaan menurut Aristoteles dan Al-Ghazali".
- ↑ Budiardjo, Miriam (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik (PDF). Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 14. ISBN 978-979-22-3494-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Isharyanto (2016). Kedaulatan Rakyat dan Sistem Perwakilan Menurut UUD 1945 (PDF). Yogyakarta: Penerbit WR. hlm. 11. ISBN 978-602-6934-42-0.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Wantu, Fence M. (2015). Pengantar Ilmu Hukum (PDF). Gorontalo: UNG Press. hlm. 30. ISBN 978-602-72133-6-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Ishaq (2018). Dasar-Dasar Ilmu Hukum (PDF). Jakarta: Sinar Grafika. hlm. 3. ISBN 978-979-007-652-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-12-24. Diakses tanggal 2021-12-26.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|dead-url=diabaikan (|url-status=disarankan) - ↑ Saleh, Adnan Achiruddin (2018). Pengantar Psikologi (PDF). Makassar: Penerbit Aksara Timur. hlm. 10. ISBN 978-602-5802-10-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Ryadi, Agustinus (2013). Kesadaran Akan Immortalitas Jiwa sebagai Dasar Etika: Pengantar Filsafat di dalam Islam (PDF). Sidoarjo: Zifatama Publishing. hlm. 4–5. ISBN 978-602-17546-8-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Mubarok dan Andjani, M. D. (2014). Komunikasi Antarpribadi dalam Masyarakat Majemuk (PDF). Jakarta Timur: Dapur Buku. hlm. 42. ISBN 978-602-1615-65-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Nuruddin, Muhammad (2021). Hal-Hal yang Membingungkan Seputar Tuhan. Depok: Keira. hlm. 40. ISBN 978-623-7754-64-0.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Wattimena, Reza A. A. (2015). Koratno, Y. Dwi (ed.). Bahagia, Kenapa Tidak? (PDF). Yogyakarta: Maharsa. hlm. 114. ISBN 978-602-08931-1-2. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-03-05. Diakses tanggal 2021-12-25.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|dead-url=diabaikan (|url-status=disarankan) - ↑ Rakhmat, Muhamad (2013). Haerun, M., dan Nurrahmat, F. B. (ed.). Pengantar Logika Dasar (PDF). Bandung: LoGoz Publishing. hlm. 6–7. ISBN 978-602-9272-09-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Hidayat, Ainur Rahman (2018). Afandi, Moh. (ed.). Filsafat Berpikir: Teknik-Teknik Berpikir Logis Kontra Kesesatan Berpikir (PDF). Pamekasan: Duta Media Publishing. hlm. 11. ISBN 978-602-6546-55-5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Pane, Erina (2019). Legal Drafting (PDF). Harakindo Publishing. hlm. 1–2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Purwanto, Muhammad Roy (2019). Ilmu Mantiq (PDF). Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. hlm. 4. ISBN 978-602-450-360-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Bacaan lanjutan
- Ackrill J. L. (1997). Essays on Plato and Aristotle, Oxford University Press, US.
- Ackrill, J. L. (1981). Aristotle the Philosopher. Oxford and New York: Oxford University Press.
- Adler, Mortimer J. (1978). Aristotle for Everybody. New York: Macmillan. A popular exposition for the general reader.
- Ammonius (1991). Cohen, S. Marc; Matthews, Gareth B (ed.). On Aristotle's Categories. Ithaca, NY: Cornell University Press. ISBN 0-8014-2688-X.
- Aristotle (1908–1952). The Works of Aristotle Translated into English Under the Editorship of W. D. Ross, 12 vols. Oxford: Clarendon Press. These translations are available in several places online; see Pranala luar.
- Bakalis Nikolaos. (2005). Handbook of Greek Philosophy: From Thales to the Stoics Analysis and Fragments, Trafford Publishing ISBN 1-4120-4843-5
- Bocheński, I. M. (1951). Ancient Formal Logic. Amsterdam: North-Holland Publishing Company.
- Bolotin, David (1998). An Approach to Aristotle's Physics: With Particular Attention to the Role of His Manner of Writing. Albany: SUNY Press. A contribution to our understanding of how to read Aristotle's scientific works.
- Burnyeat, M. F. et al. (1979). Notes on Book Zeta of Aristotle's Metaphysics. Oxford: Sub-faculty of Philosophy.
- Cantor, Norman F.; Klein, Peter L., ed. (1969). Ancient Thought: Plato and Aristotle. Monuments of Western Thought. Vol. 1. Waltham, Mass: Blaisdell Publishing Co.
- Chappell, V (1973). "Aristotle's Conception of Matter". Journal of Philosophy. 70: 679–96. doi:10.2307/2025076.
- Code, Alan. (1995). Potentiality in Aristotle's Science and Metaphysics, Pacific Philosophical Quarterly 76.
- Ferguson, John (1972). Aristotle. New York: Twayne Publishers.
- De Groot, Jean (2014). Aristotle's Empiricism: Experience and Mechanics in the 4th Century BC, Parmenides Publishing, ISBN 978-1-930972-83-4
- Frede, Michael. (1987). Essays in Ancient Philosophy. Minneapolis: University of Minnesota Press.
- Fuller, B.A.G. (1923). Aristotle. History of Greek Philosophy. Vol. 3. London: Cape.
- Gendlin, Eugene T. (2012). Line by Line Commentary on Aristotle's De Anima, Volume 1: Books I & II; Volume 2: Book III. Spring Valley, New York: The Focusing Institute. Available online in PDF.
- Gill, Mary Louise. (1989). Aristotle on Substance: The Paradox of Unity. Princeton: Princeton University Press.
- Guthrie, W. K. C. (1981). A History of Greek Philosophy. Vol. 6. Cambridge University Press.
- Halper, Edward C. (2009). One and Many in Aristotle's Metaphysics, Volume 1: Books Alpha – Delta, Parmenides Publishing, ISBN 978-1-930972-21-6.
- Halper, Edward C. (2005). One and Many in Aristotle's Metaphysics, Volume 2: The Central Books, Parmenides Publishing, ISBN 978-1-930972-05-6.
- Irwin, T. H. (1988). Aristotle's First Principles. Oxford: Clarendon Press, ISBN 0-19-824290-5.
- Jaeger, Werner (1948). Robinson, Richard (ed.). Aristotle: Fundamentals of the History of His Development (Edisi 2nd). Oxford: Clarendon Press.
- Jori, Alberto. (2003). Aristotele, Milano: Bruno Mondadori Editore (Prize 2003 of the "International Academy of the History of Science") ISBN 88-424-9737-1.
- Kiernan, Thomas P., ed. (1962). Aristotle Dictionary. New York: Philosophical Library.
- Knight, Kelvin. (2007). Aristotelian Philosophy: Ethics and Politics from Aristotle to MacIntyre, Polity Press.
- Lewis, Frank A. (1991). Substance and Predication in Aristotle. Cambridge: Cambridge University Press.
- Lloyd, G. E. R. (1968). Aristotle: The Growth and Structure of his Thought. Cambridge: Cambridge Univ. Pr., ISBN 0-521-09456-9.
- Lord, Carnes. (1984). Introduction to The Politics, by Aristotle. Chicago: Chicago University Press.
- Loux, Michael J. (1991). Primary Ousia: An Essay on Aristotle's Metaphysics Ζ and Η. Ithaca, NY: Cornell University Press.
- Maso, Stefano (Ed.), Natali, Carlo (Ed.), Seel, Gerhard (Ed.). (2012) Reading Aristotle: Physics VII.3: What is Alteration? Proceedings of the International ESAP-HYELE Conference, Parmenides Publishing. ISBN 978-1-930972-73-5
- McKeon, Richard (1973). Introduction to Aristotle (Edisi 2d). Chicago: University of Chicago Press.
- Owen, G. E. L. (1965c). "The Platonism of Aristotle". Proceedings of the British Academy. 50: 125–150. [Reprinted in J. Barnes, M. Schofield, and R. R. K. Sorabji, eds.(1975). Articles on Aristotle Vol 1. Science. London: Duckworth 14–34.]
- Pangle, Lorraine Smith (2003). Aristotle and the Philosophy of Friendship. Cambridge: Cambridge University Press. Aristotle's conception of the deepest human relationship viewed in the light of the history of philosophic thought on friendship.
- Plato (1979). Allen, Harold Joseph; Wilbur, James B (ed.). The Worlds of Plato and Aristotle. Buffalo: Prometheus Books.
- Reeve, C. D. C. (2000). Substantial Knowledge: Aristotle's Metaphysics. Indianapolis: Hackett.
- Rose, Lynn E. (1968). Aristotle's Syllogistic. Springfield: Charles C Thomas Publisher.
- Ross, Sir David (1995). Aristotle (Edisi 6th). London: Routledge. A classic overview by one of Aristotle's most prominent English translators, in print since 1923.
- Scaltsas, T. (1994). Substances and Universals in Aristotle's Metaphysics. Ithaca: Cornell University Press.
- Strauss, Leo (1964). "On Aristotle's Politics", in The City and Man, Chicago; Rand McNally.
- Swanson, Judith (1992). The Public and the Private in Aristotle's Political Philosophy. Ithaca: Cornell University Press.
- Taylor, Henry Osborn (1922). "Chapter 3: Aristotle's Biology". Greek Biology and Medicine. Diarsipkan dari asli tanggal 2006-03-27. Diakses tanggal 3 Januari 2017.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Veatch, Henry B. (1974). Aristotle: A Contemporary Appreciation. Bloomington: Indiana U. Press. For the general reader.
- Woods, M. J. (1991b). "Universals and Particular Forms in Aristotle's Metaphysics". Aristotle and the Later Tradition. Oxford Studies in Ancien Philosophy. Vol. Suppl. hlm. 41–56.
Lihat pula
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Aristoteles pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Entri basisdata #Q868 di Wikidata | |
- Aristoteles di Encyclopædia Britannica
- Aristoteles di Curlie (dari DMOZ)
- (Inggris)Aristoteles di PhilPapers.
- (Inggris)Aristoteles di Indiana Philosophy Ontology Project.
- Dari Internet Encyclopedia of Philosophy:
- Dari Stanford Encyclopedia of Philosophy:
Catholic Encyclopedia. 1907.{{cite encyclopedia}}:|title=tidak ada atau kosong
"Aristotle" . The New Student's Reference Work . 1914.{{cite encyclopedia}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosongs:|HIDE_PARAMETER4=,|HIDE_PARAMETER5=, and|HIDE_PARAMETER6=
Laërtius, Diogenes (1925). "The Peripatetics: Aristotle" . Lives of the Eminent Philosophers. Vol. 1:5. Diterjemahkan oleh Hicks, Robert Drew (Edisi Two volume). Loeb Classical Library.{{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong:|1=- Karya oleh Aristoteles di Open Library
- Works of Aristotle at The Internet Classics Archive, MIT
- Aristoteles pada Goodreads
- (Inggris)Aristotle di PlanetMath.
- Aristoteles-Park in Stagira
- Koleksi karya (kebanyakan dalam bahasa Inggris atau Yunani)
- At the Massachusetts Institute of Technology (primarily in English).
- Karya Aristotle di Project Gutenberg
- Karya oleh/tentang Aristoteles di Internet Archive(pencarian dioptimalkan untuk situs non-Beta)
- Karya Aristoteles di LibriVox (buku suara domain umum)

- (Inggris) (Yunani) Perseus Project at Tufts University.
- At the University of Adelaide Diarsipkan 2017-02-15 di Wayback Machine. (primarily in English).
- (Yunani) (Prancis) P. Remacle
- The 11-volume 1837 Bekker edition of Aristotle's Works in Greek (PDF ·DJVU)
- Bekker's Prussian Academy of Sciences edition of the complete works of Aristotle at Archive.org:
- Aristotle's works in translation
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Akademik | |
| Seniman | |
| Orang | |
| Lain-lain | |