Usamah bin Zaid | |
|---|---|
| Meninggal | 54 H |
| Ayah |
|
| Kerabat | Aiman bin Ubaid (saudara tiri) |
Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdil 'Uzza bin Yazid bin Umrul Qais (Bahasa Arab: أُسَامَة ٱبْن زَيْد بن حارثة بن شراحبيل بن كعب بن عبد العزى بن يزيد بن امرئ القيس) adalah salah seorang pemeluk Islam paling awal dan pembantu Nabi Muhammad. Karena ayahnya yaitu Zaid bin Haritsah adalah anak kesayangan Nabi Muhammad, maka ia mendapat julukan "Hibbu Hibbi Rasulillah" (orang yang dicintai oleh yang dicintai Rasulullah).[1] Nama kunyah nya adalah Abu Muhammad dan Abu Zaid. Ia berkulit hitam dan pemberani.[2]
Biografi
Usamah merupakan anak dari sahabat terkenal yang pernah menjadi anak angkat Nabi Muhammad yaitu Zaid bin Haritsah, secara nasab ia masih termasuk dari keturunan Bani Kalb, sedangkan Ibunya yaitu Ummu Aiman, merupakan salah seorang yang merawat dan mengasuh Nabi Muhammad sewaktu kecil. Usia Usamah sebaya dengan Aisyah.[2]
Muhammad pernah mendudukkan Hasan di atas pahanya, dan mendudukkan Usamah pada pahanya yang lain. Ia berdoa, "Ya Allah, saungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya."[3]
Ali pernah berkata: "Wahai Rasulullah, siapa di antara keluargamu yang paling kamu cintai?" Beliau menjawab: "Fathimah." Ali berkata: "Aku bertanya tentang laki-laki." Beliau bersabda: "Orang yang Allah anugerahkan nikmat kepadanya dan aku anugerahkan nikmat kepadanya, yaitu Usamah bin Zaid." Ali berkata: "Lalu siapa lagi?" Beliau menjawab: "Kemudian kamu."[2]
Pernah suatu masa Rasulullah menghantar pasukan kepada Bani Awalik dan Bani Munawwih untuk menyerang mereka. Berlaku suatu peristiwa. Ada seorang dari bani awalik bernama Mirdas bin Nuhaik. Dia mengejek Usamah, mencaci islam dan Rasulullah. Namun, akhirnya dia masuk islam. Walaupun begitu, Usamah bin Zaid membunuhnya kerana dia mencaci Rasulullah dan islam. Usamah menyesal membunuhnya dan tidak mau menyertai sebarang perang dengan umat islam selepas itu.[4] Usamah mengikuti Perang Mu'tah bersama ayahnya di usia 16 tahun.
Muhammad menunda keberangkatan dari Arafah karena menunggu Usamah. Lalu datanglah seorang pemuda berkulit hitam dengan hidung pesek. Orang-orang Yaman pun berkata: 'Kami menunggu hanya untuk ini.' Maka dari itulah mereka murtad.[2]
Hakim bin Hizam menghadiahkan kepada Muhammad pada masa gencatan senjata sebuah jubah Dzu Yazan yang dibelinya seharga 300 dinar (900 juta rupiah). Namun Muhammad menolaknya dan berkata: "Aku tidak menerima hadiah dari orang musyrik." Hakim pun menjualnya, lalu Muhammad memerintahkan seseorang untuk membelinya kembali untuknya. Ketika Muhammad mengenakannya, Hakim melihat beliau memakainya lalu bersenandung: "Tidaklah para pemimpin menunggu keutamaan setelah tampak yang unggul, pemilik bintang dahi dan kaki putih." Maka Muhammad menghadiahkan jubah itu kepada Usamah bin Zaid. Ketika Hakim melihatnya dikenakan Usamah, ia berkata: "Bagus sekali, wahai Usamah! Engkau mengenakan jubah Dzu Yazan."[2]
Masa Khalifah Abu Bakar
Usamah pernah ditunjuk Muhammad sebagai panglima perang, namun Muhammad lebih dahulu wafat, selanjutnya Khalifah Abu Bakar meneruskan wasiat Muhammad untuk mengutus Usamah sebagai panglima perang di usia 18 tahun. Ketika mereka sampai di Syam, kabut tebal menyelimuti mereka sehingga menyembunyikan keberadaan mereka, hingga mereka berhasil menyerang dan memperoleh apa yang mereka inginkan. Bangsa Romawi pun berkata: "Sungguh aneh, pemimpin mereka wafat namun mereka tetap menyerang wilayah kami!" Mereka menyerbu wilayah Abna di sekitar Al-Balqa'.[2] Saat Umar bertemu Usamah di kemudian hari, ia memberinya salam,"As-salamu alaika, wahai panglima."[3]
Masa Khalifah Umar
Aslam berkata: "Umar menetapkan tunjangan untuk Usamah sebesar 3.500 dirham (105 juta rupiah), sedangkan untuk putranya, Abdullah bin Umar, sebesar 3.000 dirham. Abdullah pun berkata: 'Mengapa engkau lebihkan dia dariku? Demi Allah, aku tidak pernah tertinggal darinya dalam satu pertempuran pun.' Umar menjawab: 'Karena ayahnya lebih dicintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam daripada ayahmu, dan ia sendiri lebih dicintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam daripadamu. Maka aku mendahulukan kecintaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas kecintaanku sendiri.'"[2]
Masa Khalifah Ali
Ali menemui Usamah bin Zaid dan berkata: "Kami selalu menganggapmu bagian dari diri kami sendiri, wahai Usamah. Mengapa engkau tidak ikut bergabung bersama kami?" Usamah menjawab: "Wahai Abu Hasan, demi Allah, seandainya engkau memegang sudut mulut seekor singa, niscaya aku pun akan memegang sudut mulutnya yang lain bersamamu hingga kita binasa bersama atau selamat bersama. Namun urusan yang sedang engkau hadapi ini, demi Allah, aku tidak akan pernah ikut masuk ke dalamnya selamanya."[2]
Masa Khalifah Muawiyah
Usamah datang menemui Muawiyah. Muawiyah pun mendudukkan Usamah di sisinya dan memperlakukannya dengan baik, lalu Usamah meluruskan kakinya. Muawiyah berkata: "Semoga Allah merahmati Ummu Aiman. Seolah aku melihat tulang kering betisnya di Mekah seperti tulang kering betis burung unta betina belang." Usamah pun berkata: "Semoga Allah membalasmu, wahai Muawiyah. Demi Allah, ia lebih baik darimu!" Muawiyah berkata: "Ya Allah, ampunilah kami."[2]
Keutamaan
Selain karena faktor keturunan dari dua orang yang dikasihi oleh Nabi, ia juga memiliki keutamaan lainnya, seperti :
Mendapat pembelaan dari Rasulullah langsung ketika para sahabat yang lebih tua mempertanyakan kepemimpinan Usamah atas mereka, dan mengatakan bahwa ia terlahir memang untuk memimpin.
Mendapat perlakuan istimewa sewaktu kecil sebanding dengan Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib dengan memangku keduanya dalam satu waktu, dan Rasulullah bersabda : "Ya Allah, sungguh aku mengasihi keduanya, maka kasihanilah keduanya".
Umar bin Khattab menghormati dan mengutamakan Usamah atas anaknya sendiri Abdullah bin Umar dalam berbagai hak pemberian.
Ia adalah salah satu sahabat Nabi yang menghindari fitnah ketika terjadinya perselisihan antara kelompok Ali dan Mu'awiyah.[5]
Waki' berkata: "Di antara tokoh-tokoh yang terkenal yang selamat dari fitnah adalah: Sa'ad, Ibnu Umar, Usamah bin Zaid, dan Muhammad bin Maslamah."
Yang meriwayatkan darinya: Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Wail, Abu Utsman Al-Nahdi, Urwah bin Al-Zubair, Abu Salamah, Abu Sa'id Al-Maqburi, Amir bin Sa'd, Abu Zhubyan, Atha' bin Abi Rabah, dan beberapa orang lainnya, juga kedua putranya: Hasan dan Muhammad. Dalam Musnad-nya terdapat 118 hadis, 15 di antaranya terdapat dalam Bukhari dan Muslim. Dalam Bukhari terdapat 1 hadis, dan dalam Muslim 2 hadis.[2]
Kematian
Usamah biasa berkendara menuju hartanya di Wadi Al-Qura dan berpuasa Senin dan Kamis dalam perjalanan dalam kondisi sudah tua dan lemah. Usamah kemudian wafat pada tahun 54 H di Madinah pada akhir masa Muawiyah.[6] Al-Maqburi berkata: Aku menghadiri jenazah Usamah. Ibnu Umar berkata: "Segerakanlah kekasih Rasulullah sebelum matahari terbit.
Referensi
- ↑ Ibnu Qani' Al-Baghdadi. Mu'jam As-Shahabah jilid 1. Beirut: Dar el-Fikr el-Islamiy. hlm. 197.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
- 1 2 277. Al Bidayah Wa An Nihayah 09.
- ↑ Thabaqat Ibnu Sa'ad jilid 2. hlm. 189.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Dalam kitab Shahih Bukhari jilid 7 hal. 87 dan dalam kitab Shahih Muslim jilid 4 hal. 1884
- ↑ Ibnu Abdil Barr. Al-Isti'aab fi Ma'rifat al-Ashab jilid 1. hlm. 77.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Artikel bertopik biografi tokoh Islam ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |