
Muhammad bin Maslamah bin Khalid (Bahasa Arab: محمد بن مسلمة الأنصاري) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad dari golongan Kaum Ansar yang mempunyai postur tubuh yang besar jika dibandingkan dengan para sahabat yang lain. Bersifat pendiam dan serius. Dia dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Nasabnya Muhammad bin Maslamah bin Khalid Bin Salamah bin Khalid bin Adi bin Majda'ah.[1]
Muhammad bin Maslamah adalah sahabat Anshar dari suku Aus. Ia termasuk orang-orang yang masuk Islam di awal waktu melalui dakwah sahabat Mush’ab bin Umair di Madinah. Dialah satu-satunya sahabat Nabi yang memiliki nama Muhammad sebelum ia masuk Islam. Ia memiliki postur tubuh tinggi besar, berkulit coklat kemerahan, botak, berwibawa. Ia terlibat di banyak jihad pertempuran melawan orang kafir Quraisy pada saat itu. Muhammad menyebutnya,"Fitnah tidak akan mencelakainya."[2]
Kehidupan
Di antara jasanya ialah berhasil membunuh salah satu pemuka kaum Yahudi yaitu Ka'ab bin al-Asyraf. Nabi Muhammad memberinya gelar sebagai Pahlawan Rasulullah. Kisahnya, sebagaimana dikutip dari dakwah.id, bermula ketika kaum musyrikin harus menelan kekalahannya dalam perang Badar, maka Ka’ab bin Al-Asyraf membuat syair-syair ratapan yang mengandung celaan dan hujatan kepada Nabi Muhammad dan kaum muslimin. Ia datang ke Mekkah menyenandungkan syair tersebut di hadapan penduduknya, bahkan ia juga mencela para muslimah pada waktu itu.
Mendengar hal itu, Nabi Muhammad bersabda,
مَنْ لِيَ بِكَعْبِ بْنِ الْأَشْرَفِ فَإِنَّهُ قَدْ أَذَي اللهَ وَرَسُوْلَهُ
“Siapakah yang mau menyelesaikan urusanku dengan Ka’ab bin Al-Asyraf? Karena sesungguh dia telah menghina Allah dan Rasul-Nya.” Tanpa basa-basi Muhammad bin Maslamah langsung menyahut, “Saya yang akan melakukannya wahai Rasulullah, apakah Anda ingin aku membunuhnya?” Nabi menjawab, “Ya!”
Maka Muhammad bin Maslamah berjanji di hadapan Rasulullah untuk membunuh Ka’ab. Dan Allah pun menolongnya menunaikan janji tersebut bersama Harits bin Aus, Abu Abbas bin Jabr, dan Abbad bin Bisyr.[3]
Demikianlah pembelaan sahabat kepada Nabinya. Mereka tahu bahwa mencela Nabinya, sama saja dengan mencela Allah dan kaum muslimin secara keseluruhan. Oleh sebab itu, pelakunya berhak mendapatkan hukuman yang pantas.
Saat Pertempuran Uhud, Muhammad termasuk yang bertahan melindungi Nabinya, sementara saat Ekspedisi Tabuk, Muhammad ditugaskan untuk menjaga Madinah.[4] Pada bulan Muharram tahun 6 H, Muhammad menugaskannya dalam operasi sariyah dengan 30 orang pasukan berkuda ke Nejd menaklukan Bani Bakr bin Kilab, setelah berhasil, saat pulang ia bertemu pimpinan Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal, menahannya dan membawanya ke Madinah hingga ia masuk Islam.[5]
Saat Pertempuran Khaibar, ia melawan pimpinan Yahudi Marhab. Ketika keduanya telah saling mendekat satu sama lainnya, tiba-tiba pohon tua di antara pohon Usyar roboh di antara keduanya. Maka masing-masing dari keduanya berlindung dari lawannya di balik pohon itu. Setiap kali keduanya berlindung di balik pohon tersebut, lawannya memotong pohon yang menghalanginya dengan pedang hingga keduanya tampak oleh lawannya, kemudian keduanya seperti satu orang yang berdiri, dan di antara keduanya tidak ada lagi dahan pohon yang menghalanginya. Marhab menyerang Muhammad bin Maslamah dan memukulnya dengan pedang, namun Muhammad bin Maslamah tertahan oleh perisainya yang terbuat dari kulit. Pedang Marhab tertahan di perisai kulit Muhammad bin Maslamah. Dalam kondisi seperti itu kemudian Muhammad bin Maslamah memukul Marhab hingga tewas.[6]
Masa Khalifah Umar
Karena sikap amanahnya, jujur dan tegas dalam menjalankan tugas, dia dilantik menjadi pengawas ketika zaman Kekhalifahan Umar bin Khattab dalam mengawasi prilaku dan kepribadian wakil khalifah di seluruh negara. Ia juga diutus untuk membantu Amru bin Ash dalam menaklukan Mesir memimpin 1.000 prajurit,[4] ia termasuk orang yang mendaki benteng bersama Zubair.
Umar juga mengutusnya sebagai amil zakat di Juhainah,[7] sekaligus menyelidiki jika ada aduan terkait zakat. Ketika Umar mendengar Sa'ad bin Abi Waqqash membangun rumah besar di Kufah, setelah menaklukkan Persia, Umar mengirim pesan melalui Ibnu Maslamah dengan membakar pintu rumah Sa'ad.
Ia meriwayatkan sejumlah hadits. Yang meriwayatkan darinya antara lain: Al-Miswar bin Makhramah, Sahl bin Abi Hatsmah, Qabishah bin Dzu'aib, Abdurrahman Al-A'raj, Urwah bin Az-Zubair, Abu Burdah bin Abi Musa, dan anaknya Mahmud bin Muhammad.[1]
Menghadapi Fitnah
Ketika terjadinya Perang Jamal dan Pertempuran Shiffin, dia bersikap netral dan tidak menyebelahi pihak manapun hal ini karena Nabinya pernah memberinya pedang dan mengingatkan bahwa kelak akan terjadi perpecahan, agar ia tetap di rumah hingga kematian menjemput.[7] Ali mencoba mengajaknya bergabung saat konflik dengan Muawiyah, namun Muhammad mengungkapkan perintah nabinya.
Abu Burdah, ia berkata: "Kami melewati al-Rabadzah (kampung kecil sekitar 50 km di timur kota Madinah), dan tiba-tiba ada kemah Muhammad bin Maslamah. Aku berkata kepadanya:'Seandainya engkau keluar menemui orang-orang untuk memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.' Ia menjawab: 'Nabi berkata kepadaku: Wahai Muhammad, akan terjadi perpecahan, fitnah, dan perselisihan. Maka patahkanlah pedangmu, putuskanlah tali busurmu, dan duduklah di dalam rumahmu.' Maka aku pun melakukan apa yang beliau perintahkan."
Kematian
Muhammad bin Maslamah meninggal dunia di Madinah dimakamkan di Baqi, pada bulan Safar tahun 46 Hijriah Ketika berumur 77 tahun disolatkan Marwan bin Hakam.[4][5] Ia meninggalkan keturunan sepuluh orang anak laki-laki dan enam orang anak perempuan.[1]
Referensi
- 1 2 3 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
- ↑ Muhammad bin Maslamah, Teladan Menyikapi Orang yang Menghina Nabi, Abdul Halim Trihantoro. Diakses tanggal 10 November 2020.
- ↑ Rasyad (Editor), Imam Abu Husain Muslim bin Hajjaj al Qusyairi An-Naisaburi ; Abu Ahsan bin Usman (Penerjemah) ; Azfa (2021-05-01). Kitab Hijrah dan Peperangan: Seri Mukhtashar Shahih Muslim (dalam bahasa Melayu). Hikam Pustaka. hlm. 21.
{{cite book}}:|last=memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 Aizid, Rizem (2018-11-30). The Great Sahaba. LAKSANA. hlm. 240. ISBN 978-602-407-311-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Al-Mishri, Mahmud (2010). Sahabat-sahabat Rasulullah Jilid 4. Jakarta : Pustaka Ibnu Katsir. ISBN 9789797194386
- ↑ Al-Muafiri, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (2020-12-18). Sirah Nabawiyah lbnu Hisyam: Jilid 1 (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. ISBN 978-979-3036-16-8.
- 1 2 Rajab, Ibnu (2020-12-18). Panduan Ilmu dan Hikmah: Jami'ui-Uium wal Hikam (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. hlm. 359. ISBN 978-979-3036-40-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Sahabat yang Menghadiri Perang Badar | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Artikel bertopik Sahabat dari Nabi Islam Muhammad ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |