| Biografi | |
|---|---|
| Kematian | 673 Yaman |
| Data pribadi | |
| Agama | Islām |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | pemimpin militer,rawi,emir |
| Konflik | Perang Riddah |
| Keluarga | |
| Anak | Adh-Dhahhak bin Fairuz ad-Dailami |
Fairuz ad-Dailami (bahasa Arab:فيروز الديلمي) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad. Ia juga dikenal dengan nama Ibnu ad-Dailami (ابن الديلمي). Fairuz memiliki beberapa kunyah, di antaranya Abu adh-Dhahhak dan Abu Abdirrahman. Menurut sebagian riwayat, Nabi Muhammad juga pernah memanggilnya dengan kunyah Abu Abdillah.[1] Fairuz dikenal karena perannya dalam membunuh Al-Aswad Al-Ansi, yang mengaku sebagai nabi di Yaman pada masa Nabi Muhammad.[2][3]
Biografi
Fairuz ad-Dailami merupakan keturunan Arab-Persia yang berasal dari kalangan "Al-Asawirah", yaitu sekelompok orang 'Ajam (non-Arab) yang telah lama menetap di kota Bashrah. Fairuz merupakan keturunan campuran; ibunya adalah seorang wanita Arab dari Bani Kinanah, sedangkan ayahnya adalah seorang Persia yang berasal dari Shan'a, Yaman.[3]
Masuk Islam
Sebelum memeluk Islam, Fairuz termasuk dalam pasukan yang diutus oleh Kisra, raja Persia, untuk merebut Yaman dari kekuasaan Kerajaan Habasyah (kini Ethiopia) dengan bekerja sama dengan Saif bin Dzi Yazan.[2] Ketika dakwah Nabi sampai ke Yaman, Fairuz diutus ke Madinah untuk menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya pada tahun 631 M. Setelah itu, ia kembali ke Yaman.[4]
Misi Menyerang al-Aswad

Surat perintah datang dari Nabi Muhammad kepada muslimin Yaman untuk menghentikan upaya al-Aswad dalam membesarkan pengaruhnya sebagai nabi tandingan. Upaya menyerang al-Aswad cukup sulit karena selain memiliki ribuan pengikut dan pasukan, al-Aswad juga diketahui memiliki kekuatan sihir yang bisa membaca rencana orang lain. Setelah proses penyamaran yang panjang akhirnya Fairuz berhasil membunuh al-Aswad di tempat tidurnya.[3] Qais bin Maksyuh, Dadzawaih dan Fairuz duduk bermusyawarah bagaimana cara memberitakan kepada pengikutya tentang terbunuhnya al-Aswad. Akhirnya mereka sepakat untuk mengumandangkan azan subuh yang merupakan syi'ar kaum muslimin.[5]
Ketika pagi datang, maka salah seorang dari mereka yakni Qais berdiri mengumandangkan azan, seketika berkumpulah seluruh kaum muslimin dan orang-orang pengikut al-Aswad di sekitar benteng, maka Qais -sebagian mengatakan Wabar bin Yuhannis- meneriakkan kalimat syahadat, "Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa 'Abhalah (al-Aswad) adalah pendusta!" Sambil melemparkan kepalanya ke tengah-tengah mereka. Maka bertekuk lututlah seluruh pengikutnya dan orang-orang sibuk mengejar mereka di setiap jalan sambil menawan mereka, dengan demikian Islam dan kaum muslimin menang, dan para perwakilan Nabi kembali kepada peker-jaan mereka masing-masing.[3]
Sementara ketiga orang tadi berselisih siapa yang menjadi pemimpin, akhirnya mereka sepakat untuk mengangkat Mu'adz bin Jabal menjadi imam shalat. Mereka segera menuliskan berita terbunuhnya al-Aswad kepada Nabi padahal beliau telah mendapat berita hal itu dari Allah pada malam harinya. Ibnu Umar berkata, "Telah sampai berita kepada Nabi pada malam terbunuhnya al-' Ansi, beliau memberitakan kabar gembira kepada kami, dengan sabdanya, "Telah terbunuh al-Ansi tadi malam, dia dibunuh oleh seorang yang penuh berkah dari keturunan yang berkah pula." Ditanyakan kepada Nabi, "Siapa yang telah membunuhnya wahai Rasulullah ?" Nabi menjawab, "Fairuz, Fairuz telah menang."[5]
Beberapa hari kemudian Nabi wafat setelah terbunuhnya al-Aswad. Qais menjadi pemimpin dan murtad bersama pengikutnya lalu membunuh Dadzawaih tetapi gagal membunuh Fairuz karena mendapatkan informasi di tengah jalan saat diundang Qais. Fairuz bersembunyi di benteng pamannya, sementara Qais mengusir keluarga persia dari Yaman. Sampai kemudian datanglah pasukan muslimin yang dikirim Abu Bakar dan berhasil mengalahkan Qais.[5]
Keluarga
Fairuz memiliki anak-anak yang bernama Sa'id, adh-Dhahhak, Abdullah, dan Ayyasy.[6][7] Fairuz datang menemui Nabi dan berkata,'Wahai Rasulullah, aku masuk Islam dan aku memiliki istri dua orang kakak beradik." Nabi berkata,"Pilihlah salah satu (dari keduanya) yang kamu suka."[8]
Kematian
Fairuz wafat pada masa kekhalifahan Utsman menurut sebagian sumber.[2] Namun, sumber lain menyatakan bahwa ia pernah menjabat sebagai gubernur Shan'a dan baru wafat pada tahun 673 M, pada masa kekhalifahan Muawiyah.[4]
Referensi
- ↑ Ibnu 'Abdil Barr. Al-Isti'ab fi Ma'rifati al-Ashab.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 al-Tabari, Jarir (1998). The History of al-Tabarī. Vol. 39: Biographies of the Prophet's Companions and Their Successors. Diterjemahkan oleh Ella Landau-Tasseron. Universitas Negeri New York. hlm. 94–95. ISBN 978-07-91-42820-7.
- 1 2 3 4 Muhammad Raji Hassan, Kinas (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Penerbit Zaman, Hal.329. ISBN 978-979-024-295-1
- 1 2 Yücel, Ahmet (1996). "FÎRÛZ ed-DEYLEMÎ". TDV Encyclopedia of Islam, Vol. 13 (Fikih – Gelenek) (dalam bahasa Turkish). Istanbul: Turkiye Diyanet Foundation, Centre for Islamic Studies. hlm. 140. ISBN 978-975-389-440-1.
{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - 1 2 3 Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
- ↑ Al-Mizzi. Tahdzib al-Kamal fi Asma' ar-Rijal – Fairuz ad-Dailami (dalam bahasa Arab). Vol. 23. hlm. 323. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-08-14. Diakses tanggal 2025-06-21.
{{cite book}}:|website=diabaikan - ↑ Al-Mizzi. Tahdzib al-Kamal fi Asma' ar-Rijal – Adh-Dhahhak bin Fairuz (dalam bahasa Arab). Vol. 13. hlm. 277.
{{cite book}}:|website=diabaikan - ↑ Hadits Tirmidzi No.1048