Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu | |
|---|---|
| زيد بن ثابت | |
| Lahir | |
| Meninggal | 45 Hijriyah Madinah |
| Anak | Kharijah bin Zaid |
| Orang tua | Tsabit bin Adh-Dhahhak |
Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari (Arabic : زيد بن ثابت) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dan merupakan penulis wahyu dan surat-surat Nabi. Nasabnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahhak bin Zaid bin Ludzan bin Amr bin Abdu Auf bin Ghanam bin Malik bin Taymullah al-Najjar bin Tsa'labah.[1] Ibunya bernama an-Nawar bin Malik.[2]
Zaid bin Tsabit merupakan keturunan Bani Najjar, perkampungan di sekitar masjid Nabawi, yang mulai tinggal bersama Nabi Muhammad ketika ia hijrah ke Madinah. Ibunya kerap mengirimkan makan malam ke rumah Muhammad sehingga ia mendapat doa berkah. Rumah Nawar yang tinggi menjadi tempat adzan Bilal sebelum didirikan masjid Nabawi dengan tiang adzannya.[3] Ia dikenal paling ahli dalam ilmu Faraidh (warisan).
Kehidupan
Ayahnya terbunuh sebelum hijrah pada Perang Bu'ats saat ia berusia 6 tahun, sehingga Zaid tumbuh sebagai anak yatim. Ketika berusia berusia 11 tahun, Zaid bin Tsabit dikabarkan telah dapat menghafal 11 surah Alquran. Saat Pertempuran Badar, Zaid ingin terlibat namun karena usianya masih 13 tahun sehingga Muhammad menolaknya. Ia pulang dengan sedih namun ditenangkan ibunya, Nawar.
Zaid bin Tsabit baru turut serta bersama Nabi Muhammad dalam perperangan Khandaq dan peperangan-peperangan lainnya. Dalam peperangan Tabuk, Nabi Muhammad menyerahkan bendera Bani Najjar yang sebelumnya dibawa oleh Umarah kepada Zaid bin Tsabit. Ketika Umarah bertanya kepada Nabi, ia berkata, "Al-Quran harus diutamakan, sedang Zaid lebih banyak menghafal Al-Quran daripada engkau. Orang yang paling ahli dalam ilmu faraidh (harta warisan) di antara umatku adalah Zaid bin Tsabit."[4]
Penulis wahyu

Kekuatan daya ingat Zaid bin Tsabit telah membuatnya diangkat penulis wahyu dan surat-surat Nabi Muhammad semasa hidupnya, dan menjadikannya tokoh yang terkemuka di antara para sahabat lainnya. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa:
- Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepadanya "Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani", kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani (yahudi) selama 15 hari.[2]
Masa Khalifah Abu Bakar
Ketika Muhammad wafat, para juru bicara kaum Anshar berdiri dan berkata: "Seorang pemimpin dari kami dan seorang dari kalian." Maka berdirilah Zaid bin Tsabit dan berkata: "Sesungguhnya Rasulullah berasal dari kaum Muhajirin, dan kami adalah para penolongnya. Imam itu hendaknya berasal dari kaum Muhajirin, dan kami adalah para penolongnya."[4]
Di kemudian hari pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Zaid bin Tsabit adalah salah seorang yang diamanahkan untuk mengumpulkan dan menuliskan kembali Al-Quran dalam satu mushaf. Dalam perang Al-Yamamah banyak penghafal Al-Quran yang gugur, sehingga membuat Umar bin Khattab cemas dan mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menghimpun Al-Quran sebelum para penghafal lainnya gugur. Mereka kemudian memanggil Zaid bin Tsabit dan Abu Bakar mengatakan kepadanya:
- "Anda adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukanmu".
Setelah itu Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Quran. Meskipun pada awalnya ia menolak, tetapi setelah diyakinkan akhirnya Zaid bin Tsabit dengan bantuan beberapa orang lainnya pun menjalankan tugas tersebut seperti Ubay bin Ka'ab, Muadz bin Jabal dan Abu Zaid.[2] Dialah yang menangani pembagian ghanimah pada Perang Yarmuk di Syam Suriah.[4]
Zaid bin Tsabit diangkat menjadi bendahara pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar. Ketika pemerintahan Khalifah Utsman, Zaid bin Tsabit diangkat menjadi pengurus Baitul Maal. Umar dan Utsman juga mengangkat Zaid bin Tsabit sebagai pemegang jabatan khalifah sementara ketika mereka menunaikan ibadah haji.[4]
Masa Khalifah Umar
Umar selalu menunjuk Zaid sebagai wakil. Hampir setiap kali Umar kembali, ia memberikan hadiah kebun kurma kepadanya. Umar dan Utsman tidak pernah mendahulukan siapapun atas Zaid dalam ilmu faraidh, fatwa, bacaan Al-Qur'an, dan peradilan. Umar menyebarkan para sahabat ke berbagai negeri dan melarang mereka berfatwa berdasarkan pendapat pribadi, sementara Zaid bin Tsabit ditahan di Madinah untuk memberikan fatwa kepada penduduknya.[4]
Masa Khalifah Utsman
Ketika Utsman terkepung, Zaid bin Tsabit datang menemuinya dan masuk ke dalam rumah. Utsman berkata kepadanya: "Keberadaanmu di luar rumah lebih bermanfaat bagiku daripada di sini, maka belalah aku." Zaid pun keluar dan mulai membela Utsman serta berbicara kepada orang-orang tentangnya, hingga sebagian kaum Anshar berbalik pulang. Zaid pun berkata: "Wahai kaum Anshar, jadilah penolong-penolong Allah," dua kali ia mengucapkannya. "Tolonglah dia. Demi Allah, darahnya adalah haram."
Lalu datanglah Abu Hayyah Al-Mazini bersama beberapa orang dari kaum Anshar dan berkata: "Urusanmu tidak beres bersamamu." Terjadilah percekcokan antara keduanya, dan Abu Hayyah bersama orang-orang bersamanya memegang kerah baju Zaid. Ketika beberapa orang dari kaum Anshar melintas dan melihat kejadian itu, mereka pun melepaskan Zaid. Salah seorang dari mereka berkata kepada Abu Hayyah: "Engkau memperlakukan demikian kepada seseorang yang seandainya ia meninggal malam ini, kamu tidak akan tahu berapa warisanmu dari ayahmu."[4]
Ulama
Zaid bin Tsabit telah meriwayatkan sembilan puluh dua hadist, yang lima daripadanya disepakati bersama oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim. Bukhari juga meriwayatkan empat hadist yang lainnya bersumberkan dari Zaid bin Tsabit, sementara Muslim meriwayatkan satu hadist lainnya yang bersumberkan dari Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit diakui sebagai ulama di Madinah yang keahliannya meliputi bidang fiqih, fatwa dan faraidh (waris).[2]
Yang meriwayatkan darinya antara lain: Abu Hurairah, Ibnu Abbas (keduanya juga membaca Al-Qur'an kepadanya), Ibnu Umar, Abu Sa'id Al-Khudri, Anas bin Malik, Sahl bin Sa'd, Abu Umamah bin Sahl, Abdullah bin Yazid Al-Khatmi, Marwan bin Al-Hakam, Sa'id bin Al-Musayyab, Qabishah bin Dzuaib, dua putranya: ahli fikih Kharijah dan Sulaiman, Aban bin Utsman, Atha' bin Yasar beserta saudaranya Sulaiman bin Yasar, Ubaid bin As-Sabbaq, Al-Qasim bin Muhammad, Urwah, Hujr Al-Madri, Thawus, Busr bin Sa'id, dan masih banyak lagi.[4]
Abu Abdurrahman, ia berkata: "Aku tidak pernah berbeda dengan Ali dalam satu pun bacaannya. Aku selalu mengumpulkan huruf-huruf bacaan Ali lalu aku bawa menemuinya Zaid pada musim-musim di Madinah. Mereka berdua tidak pernah berbeda kecuali dalam kata At-Tabut: Zaid membacanya dengan ha ( تابو ه ), sedangkan Ali membacanya dengan ta ( تابو ت )."[4]
Putra-putri Zaid antara lain: Kharijah, Sulaiman, Yahya, Umarah, Ismail, As'ad, Ubadah, Ishaq, Hasanah, Umrah, Ummu Ishaq, dan Ummu Kultsum. Ibu mereka adalah Ummu Sa'd binti Sa'd bin Ar-Rabi', salah seorang peserta Perang Badar.
Kematian
Zaid bin Tsabit meninggal tahun 45 Hijriyah. Putranya, Kharijah bin Zaid, menjadi seorang tabi'in besar dan salah satu di antara tujuh ulama fiqih Madinah pada masanya.[4] Marwan telah menshalatkannya, para wanita dari kawasan Al-Awali turun, begitu pula para wanita Anshar berdatangan. Kharijah berusaha mengingatkan mereka kepada Allah: "Janganlah kalian menangisinya." Mereka menjawab: "Kami tidak akan mendengarkanmu, kami akan menangisinya selama tiga hari." Dan mereka pun mengalahkannya.[4]
Lihat pula
Pranala luar
- Kisah Sahabat Nabi SAW Ke-14: Zaid bin Tsabit RA
- Compilation of the Quran
- Zayd ibn Thabit
- Shia source Diarsipkan 2011-07-19 di Wayback Machine
Catatan kaki
- ↑ "Siyar A'lam an-Nubala – Zaid bin Tsabit" (dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari asli tanggal 2014-10-16. Diakses tanggal 19 Mei 2021.
- 1 2 3 4 Al-Gharani, Ibnu Marzuqi (2018-01-03). The Great Mothers. LAKSANA. hlm. 115. ISBN 978-602-407-294-0.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ JAM’AH, AHMAD KHALIL (2019-10-14). 70 Tokoh Wanita dalam Kehidupan Rasulullah (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. hlm. 210. ISBN 978-602-9208-27-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
Referensi
Mursi, Muhammad Sa'id (2007). Muhammad Ihsan, Lc. (ed.). Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Diterjemahkan oleh Harahap, Khoirul Amru; Faozan, Achmad. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 979-592-387-0.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |