Rabu, 28 Oktober 2026
13:14 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Miqdad bin Amr

Miqdad bin Amr

Bagikan:
250px-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%82%D8%AF%D8%A7%D8%AF_%D8%A8%D9%86_%D8%B9%D9%85%D8%B1%D9%88.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Miqdad bin Amr al-Bahrani (bahasa Arab:مقداد بن عمرو البهراني) atau juga dikenal Miqdad bin al-Aswad adalah Sahabat Nabi

Muhammad generasi awal yang ikut berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Nasab lengkapnya ialah Miqdad bin Amr bin Tsa'labah bin Malik bin Rabiah al-Qudha'i al-Kindi al-Bahrani.[1]

Miqdad berasal dari Hadramaut, Yaman, kemudian pergi ke Makkah karena sedang konflik di kampung asalnya, kemudian di Makkah diangkat anak oleh al-Aswad bin Abdu Yaghuts. Sehingga ia dikenal juga sebagai Miqdad bin al-Aswad. Miqdad sahabat ketujuh yang menerima kebenaran Islam. Miqdad dikenal dengan ciri kulit hitam, rambut tebal, mata bulat, dengan perut besar.[1]

Kehidupan

Miqdad
Tempat lahirHadramaut, Yaman
EtnikArab Yamani
Dikenal sebagaiSahabat Nabi
Wafat33 H
AyahAmr bin Tsa'labah al-Bahrani
AnakAbdullah, Karimah[2]
AgamaIslam
IstriDhuba'ah binti az-Zubair bin Abdul Muthalib [2]

Miqdad berasal dari suku Arab, Bahra' bagian dari Bani Qudha'ah atau berasal dari Hadramaut, Yaman. Dia melarikan diri dari

sukunya setelah melukai seseorang dan pindah ke Mekkah. Di Mekkah, Miqdad milik seorang pria bernama al-Aswad Al-Kindi. Miqdad adalah seorang pemuda yang sangat berani ketika ia pergi ke Mekkah. Dalam budaya Arabia, orang menyukai pria pemberani dan kuat, Aswad Al-Kindi tidak punya anak, jadi suatu hari ia berdiri di antara semua suku Quraisy dan berkata "saya menyatakan bahwa mulai hari ini Miqdad sebagai anak saya, dan namanya sekarang Miqdad bin Al-Aswad Al-Kindi setelah aku mati ia akan mewarisi aku "Jadi, orang-orang mulai memanggilnya Miqdad bin Aswad al-Kindi, bukan Miqdad bin Amr. Ini adalah cara orang Arab menunjukkan cinta mereka terhadap seseorang.

Islam bangkit dari puncak Gunung Hira. Miqdad bin Aswad al-Kindi berusia dua puluh empat tahun. Dia mendengar tentang misi Nabi Muhammad. Dia bergegas untuk percaya pada agama baru. Dia berIslam secara rahasia, dan merupakan bagian dari Muhajirin yang melarikan diri dari kejaran Quraisy. Dia bertemu Nabi Muhammad diam-diam. Dengan demikian, ia berada di antara umat Islam sebelumnya. Dia merasakan penderitaan di awal menjadi Muslim.

Nabi Muhammad memerintahkan para sahabatnya untuk berimigrasi ke Madinah. Mereka berhijrah satu per satu atau kelompok dengan kelompok. Setelah beberapa waktu, ia menerima perintah dari Allah untuk berimigrasi ke Madinah juga. Ketika ia sampai di Madinah, Miqdad bin Aswad Al-Kindi bersukacita dengan mencapai Madinah.

Kesetiaannya terhadap Nabi Muhammad bisa dilihat pada Pertempuran Badar, ketika Miqdad bin Aswad Al-Kindi berdiri dan berkata: "Rasul Allah, pergi dan mematuhi ajaran Allah, Kami akan mendukung Anda Demi Allah, kami tidak akan mengatakan! sebagai orang-orang Yahudi yang berkata kepada nabi mereka: Anda dan Tuhanmu, pergi dan melawan, Kami akan tinggal di sini Kami. katakan:!! Anda telah datang kepada kami dengan kebenaran, dan kami taat dan ikuti, Kami akan menunjukkan kami adalah laki-laki yang nyata. Kami tidak akan mundur."[3]

Senang ekspresi muncul di wajah Islam Nabi Muhammad. Lalu Nabi Muhammad berkata kepada kaum Ansar: "Apa yang harus saya lakukan"?

Sa'ad bin Mu'adz menjawab:..! "Rasul Allah, kami telah percaya pada Anda, kami telah percaya Anda, Kami sudah mengaku apa yang telah dikatakan sebagai kebenaran, Kami sudah berjanji untuk mendengar dan taat Kemudian, Rasul Allah, pergi pada apa yang Anda inginkan! Demi Allah! Jika Anda meminta kami untuk menyeberangi laut, kami akan lakukan "!

Ini adalah pertempuran pertama melawan orang-orang kafir, bernama perang Badar, ketika suku Quraisy menyerbu Muhammad dengan 1400 pasukan terhadap 313 pengikut Nabi Muhammad dengan penuh antusiasme. Mereka bersiap-siap untuk menghadapi orang musyrik dengan hati yang penuh dengan iman.

Pada masa Khalifah Umar bin Khathab, Miqdad terlibat dalam kampanye pembebasan wilayah Syams (Suriah-Palestina) sebagai komandan di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah.[4] Miqdad biasa diminta untuk membacakan ayat-ayat suci Quran menjelang dimulainya pertempuran. Pada beberapa kota yang dibebaskan dari Romawi, Miqdad mengajarkan Quran hingga dikenal Qiroah (metode baca Quran) Miqdad di Homs, Suriah.[1]

Saat pembebasan Mesir oleh Amru bin Ash dari kekuatan Romawi, Miqdad juga diutus sebagai bala bantuan membebaskan beberapa kota di Mesir dengan memimpin 40 pasukan berkuda (kavaleri).[1]

Saat Umar bin Khathab menjelang sakaratul maut, ia wasiatkan agar Miqdad ikut terlibat sebagai anggota dewan untuk pemilihan Khalifah berikutnya. Dan setelah wafatnya terjadi dialog dalam pemilihan Khalifah antara memilih Utsman atau Ali.[4]

Said bin Zaid berkata, "Kami bersyukur Anda (Ali) layak (menjadi khalifah)." Ia (Ali) menjawab, "Berikan aku nasihat yang berbeda!" 'Ammar (b. Yasir) berkata, "Jika Anda ingin kaum Muslimin sepenuhnya sepakat, berikanlah 'Ali sumpah setia." Miqdad bin al-Aswad berkata, "Ammar benar; jika Anda memberikan 'Ali sumpah setia, kami akan mengatakan bahwa kami sepenuhnya setuju dengan apa yang Anda lakukan."

Ibnu Abi Sarh berkata, "Jika Anda ingin kaum Quraisy sepenuhnya sepakat, berikanlah 'Utsman sumpah setia." 'Abdallah bin Abi Rabi'ah berkata, "Ia benar, jika Anda memberikan 'Utsman sumpah setia, kami akan mengatakan bahwa kami sepenuhnya setuju dengan apa yang Anda lakukan." Ammar menegur Ibn Abi Sarh dengan berkata, "Kapan kamu pernah memberi nasihat yang baik kepada kaum Muslim?!"[4]

Keistimewaan Miqdad bin Amir ra

Berikut adalah keistimewaan dari sahabat Miqdad bin Amir ra:

  1. Bagian dari seri tentang
    Islam
    120px-Allah-green.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
    Beliau adalah orang yang pertama kali memacu kudanya dalam perang dijalan Allah[5]
  2. Termasuk dalam kelompok Assabiqunal Awwalun atau kelompok pertama yang pertama kali masuk Islam[5]
  3. Beliau turut serta dalam perang badar. Dalam disebuah hadits disebutkan bahwa Jibril Alaihissallam mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya : “Bagaimana kalian memandang orang-orang yang ikut sserta dalam perang Badar?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Mereka termasuk kaum Muslimin yang terbaik.” atau kalimat yang seperti itu. Jibril Alaihissallam mengatakan : “Begitu juga para malaikat yang ikut dalam Perang Badar.” [HR Bukhâri, Kitâbul Maghâzi, 9/56, no. 3992][5]
  4. Menjadi sahabat terbaik Abdullah bin Mas'ud. Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga aku lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala apa yang ada dibumi ini."[5]
  5. Memiliki semangat juang yang tinggi dalam perang dijalan Allah. Sebelum perang badar, tatkala Rasulullah sholallahu alaihi wasalam meminta pendapat para sahabat tentang pertempuran yang akan di hadapi, beliau berkata dengan penuh keyakinan, "Wahai Rosulallah, laksanakanlah apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersamamu. demi Allah kami tidak akan berkata seperti perkataan Bani Israil kepada Nabi Musa, 'Pergilah dan berperanglah kamu bersama Tuhanmu, sedankan kami akan duduk menunggu di sini'. Namun, kami akan mengatakan kepadamu, 'Pergi dan berperanglah engkau bersama Tuhanmu, dan kami ikut berjuang bersamamu. Demi dzat yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya Engkau membawa kami kedalam lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan. dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan disebelah kirimu, dibagian depan dan dibagian belakangmu, hingga ALlah memberikan kemenangan padamu."[5]
  6. Tidak haus akan jabatan. Suatu ketika dia diberi amanah untuk memimpin suatu daerah. setelah kembali dari tugasnya, Ia ditanya oleh Rosulallah sholallahu alaihi wasalam, "Bagiamana pedapatmu setelah menjadi amir (pemimpin)?". Miqdad menjawab, "Engkau telah menjadikan diriku menganggap diri sendiri diatas semua manusia, sedangkan mereka semua dibawahku. Demi dzat yang telah mengutusmu membawa kebenaran, sejak saat ini saya tidak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya." [5]
  7. Seorang yang sangat arif dan bijaksana. Sebagaimana keinginan semua orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-nya, ada seorang tabi'in yang menemui Miqdad dan berkata, "Sungguh berbahagialah kedua mata ini (miqdad) yang telah melihat Rosulallah sholallahu alaihi wasalam , Demi Allah, andainya kami dapat melihat apa yang anda lihat dan menyaksikan apa yang Anda saksikan?. Maka Miqdad memberikan jawaban yang sangat bijak, "Apa yang mendorong kalian untuk ingin menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya?. Demi Allah, bukankah pada masa Rasulallah sholallahu alaihi wasalam banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya ke neraka Jahanam (Spt Abu jahal, dll)? mengapa kalian tidak mengucapkan pujian bagi ALlah yang telah menghindarkan kalian dari mapapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada ALlah dan Nabi Kalian?." inilah jawaban yang luar biasa dari Miqdad ra, daripada kita menyesali tidak bisa melihat Rosulallah, lebih baik kita bersyukur bisa termasuk dalam bagian orang yang beriman, meski belum pernah melihat Rosulallah sholallahu alaihi wasalam .[5]
  8. Memiliki kecintaan Yang sangat besar kepada Rosulallah sholallahu alaihi wasalam. Sebagaimana diriwayatkan, ketika sedikit saja ada kekacuaan di Madinah, maka secepat kilat miqdad sudah berada didepan pintu rumah Rosulallah sholallahu alaihi wasalam, lengkap dengan kuda dan pedangnya terhunus. Beliau begitu khawatir akan keselamatan Rosulallah sholallahu alaihi wasalam .[5]
  9. Sahabat yang dicintai Allah. Rosullalah sholallahu alaihi wasalam berkata kepada Miqdad bin Amir, "Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya kepadaku bahwa Dia mencintaimu"[5]

Wafatnya

Miqdad bin Amr wafat di usia 70 tahun pada 33 H, di mana jenazahnya disolatkan Utsman bin Affan dan dimakamkan di pemakaman Baqi, Madinah.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar Alam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. hlm. 46–53. ISBN 978-602-236-270-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 http://muslimscholars.info/manage.php?submit=scholar&ID=248
  3. ↑ HR. Bukhari No. 4609
  4. 1 2 3 The History of Al-Tabari Vol.12. New York: State University of New York Press. 1992. hlm. 177. ISBN 0-7914-0733-0.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Muhammad Khalid, Khalid (Rabiul AKhir, 1439 H). Biografi 60 Sahabat Nabi. Jakarta Timur: Ummul Qura. hlm. 153–159. ISBN 9786029896886.{{cite book}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Sahabat yang Menghadiri Perang Badar
Bani Hasyim
Bani Muththalib
Bani Abdu Syams
Sekutu
Bani Naufal
Sekutu
Bani Asad
Sekutu
Bani Abdud Dar
Bani Abd
Bani Zuhrah
Sekutu
Bani Taim
Bani Makhzum
Sekutu
Bani 'Adi
Sekutu dan maula
Bani Sahm
Khunais bin Hudzafah
Bani Jumah
  • Utsman bin Mazh'un
  • Abdullah bin Mazh'un
  • Qudamah bin Mazh'un
  • As-Sa'ib bin Utsman bin Mazh'un
  • Ma'mar bin al-Harits
Bani Amir
  • Abu Sabrah bin Abi Ruham
  • Abdullah bin Makhramah
  • Hathib bin Amr
  • Abdullah bin Suhail
  • Umair bin Auf
Sekutu
Sa'ad bin Khaulah
Bani Fihr
120px-%D8%BA%D8%B2%D9%88%D8%A9_%D8%A8%D8%AF%D8%B1_%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%A8%D8%B1%D9%8A.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bani Abdul-Asyhal
Sekutu
Bani Haritsah
Sekutu
Bani Zhafar
Sekutu
Bani Amr
Bani Dhubai'ah
Bani Ubaid
Bani al-Ajlan
Bani Mu'awiyah
Jabr bin Utaik
Sekutu
Bani Mu'awiyah
Bani Hanasy
Bani Jahjaba
Bani Unaif
Bani Tsa'labah
Bani Ghanam
Khazraj
Bani an-Najjar
Bani
Malik
Bani Ghanam
Sekutu
Bani Amr
Bani Amir
Bani Adi
Sekutu
Bani Mazin
Sekutu
Bani Dinar
Sekutu
Bani al-Harits
Bani Ka'ab
Bani Jusyam dan Zaid
Bani Auf
Sekutu
Bani Auf
Bani Salim
Sekutu
Qawaqilah
Sekutu
  • Al-Mujadzdzar bin Ziyad
  • Ubadah bin al-Hashas
  • Buhhats bin Tsa'labah
  • Abdullah bin Tsa'labah
  • Utbah bin Rabi'ah al-Bahra'i
  • Amr bin Iyas
Bani Ka'ab
Bani Sa'idah
Sekutu
  • Ziyad bin Ka'ab
  • Dhamrah bin Amr
  • Basbas bin Amr
  • Ka'ab bin Jamaz
Bani Jusyam
Bani Salamah
Bani Hiram
Maula
Bani Ubaid
Sekutu
Bani Sawad
Maula
Unturah as-Sulami
Lainnya
Bani Amir
bin Zuraiq
Bani Zuraiq
Bani Bayadhah
  • Ziyad bin Labid
  • Khulaifah bin 'Adi
  • Farwah bin Amr al-Anshari
  • Khalid bin Qais bin Malik
  • Rukhailah bin Tsa'labah
Bani Habib
Mendapat pahala Perang Badar
Muhajirin
Aus
Khazraj
Diperselisihkan kehadirannya
Muhajirin
Aus
Khazraj
Portal:Islam
Keterangan:  Syahid 
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan