
Pancakanya atau (Sanskerta: पञ्चकन्या, alih aksara: Pañcakanyā, har. 'lima kenya') adalah lima tokoh wanita ternama di dalam wiracarita-wiracarita Hindu. Kelima-limanya dimuliakan dalam sebuah gita puja, dan perapalan nama-nama mereka dipercaya dapat meluruhkan dosa-dosa. Kelima tokoh wanita yang dimaksud adalah Ahalya, Dropadi, Kunti, Tara, dan Mandodari. Dropadi dan Kunti adalah tokoh-tokoh wiracarita Mahabharata,[1][2] sedangkan Ahalya, Tara, dan Mandodari adalah tokoh-tokoh wiracarita Ramayana. Di dalam agama Hindu, Pancakanya dihormati sebagai wanita-wanita aditama, suri teladan kesempurnaan para istri.[3]
Etimologi
Pancakanya secara harfiah berarti lima kanya. Kanya bisa diterjemahkan menjadi kenya, anak dara, anak perempuan, kenya, maupun gadis perawan.[1][4][5]
Gita puja
Berikut ini adalah gita puja Sanskerta yang menerangkan Pancakanya:
Sulih aksara Sanskerta
ahalyā draupadī sītā tārā mandodarī tathā ।
pañcakanyāḥ smarennityaṃ mahāpātakanāśinīḥ ॥
Terjemahan Indonesia
Ahalya Dropadi Sinta, Tara Mandodari juga
Kenangkanlah Pancakanya, pembinasa mahadosa
Salah satu varian dari Brahmapurana 3.7.229 karya Resi Abiyasa menggantikan Sinta dengan Kunti:[6]
Sulih aksara Sanskerta
ahalyā draupadī kuṃtī tārā mandodarī tathā ।
pañcakanyāḥ smarennityaṃ mahāpātakanāśinīm ॥
Perbedaannya digarisbawahi.
Umat Hindu yang taat, khususnya para istri, mengenang Pancakanya dengan merapal mantra ini setiap pagi. Nama-nama mereka diluhurkan, dan mantranya disebut pratah-smaraniya, yang dianjurkan untuk dirapal ketika pagi mulai merekah.[1][2]
Tokoh Ramayana
Ahalya, Tara, dan Mandodari muncul di dalam wiracarita Ramayana. Sinta, tokoh utama wanita di dalam wiracarita ini, kadang-kadang diikutsertakan di dalam daftar pancakanya.
Ahalya

Ahalya adalah istri Begawan Gotama. Ahalya disebut sebagai insan yang diciptakan Dewa Brahma dengan kecantikan yang tanpa cela,[1] tetapi kadang-kadang digambarkan sebagai putri yang fana dari kulawangsa Candra.[7] Ahalya hidup di bawah asuhan begawan Gotama hingga beranjak dewasa. Ketika Begawan Gotama hendak memulangkan Ahalya kepada Dewa Brahma, sang dewa malah mengaruniakan Ahalya untuk menjadi istrinya lantaran senang melihat kemampuannya mengendalikan diri.[8]
Lantaran terpesona melihat kecantikan Ahalya, Indra, raja para dewa, turun menyamar menjadi Begawan Gotama saat sang begawan tidak berada di rumah, lantas meminta atau memerintahkan Ahalya untuk bersenggama dengannya. Di dalam wiracarita Ramayana, Ahalya mengetahui penyamaran Dewa Indra, tetapi menuruti kemauannya lantaran "penasaran".[1] Di dalam versi-versi yang muncul lebih belakangan, Ahalya dikatakan terpedaya dan tidak mengenali Dewa Indra, atau diperkosa oleh Dewa Indra.[8] Di dalam semua versi cerita, Ahalya dan Dewa Indra dikutuk Begawan Gotama.[8] Di dalam versi-versi yang lebih tua diceritakan bahwa Ahalya menjalani tapa brata yang berat sebagai penyilih dosa, dan terbebaskan dari dosanya lantaran menjamu Sri Rama (salah satu di antara sekian banyak wujud titisan Dewa Wisnu, dan salah satu tokoh utama wiracarita Ramayana) dengan penuh keramah-tamahan. Di dalam versi-versi populer berkembang kemudian hari, Ahalya dikutuk menjadi sebongkah batu, dan kembali ke wujud manusia saat tersentuh kaki Sri Rama.[1][8] Di dalam beberapa versi, Ahalya dikutuk menjadi kali mati, dan terbebas dari kutukan saat aliran air kembali melewati kali itu dan menyatu dengan sungai Gotami (Godawari).[8] Dewa Indra dikutuk hilang alat kelaminnya, atau sekujur tubuhnya ditutupi seribu alat kelamin wanita yang akhirnya berubah menjadi seribu mata.[1][7][8]
Tara

Tara adalah permaisuri Subali, raja Kiskenda, kerajaan bangsa wanara. Sesudah ditinggal mati Subali, Tara tetap menjadi permaisuri Raja Kiskenda karena diperistri Sugriwa, adik Subali. Di dalam Ramayana, Tara disebut sebagai anak Susena, tabib bangsa wanara; di dalam sumber-sumber pustaka yang muncul belakangan, dia disebut sebagai apsara (bidadari) yang mumbul dari segara susu dalam peristiwa Samudramantana.[1][9] Tara menjadi istri Subali, dan ibu dari Anggada. Sesudah tersiar kabar bahwa Subali gugur saat bertarung melawan Asura Mayawi, Sugriwa pun naik takhta menggantikan kakaknya dan mengawini Tara.[9] Subali, yang ternyata masih hidup, pulang mengambil kembali singgasana maupun istrinya, kemudian menjatuhkan pidana buang kepada adiknya yang dia tuduh berkhianat. Dia juga merampas istri pertama Sugriwa yang bernama Ruma. Ketika Sugriwa menantang Subali untuk bertarung satu lawan satu, Tara menasihati Subali supaya tidak menjawab tantangan itu sebab Sugriwa adalah sekutu Sri Rama, tetapi Subali tidak menggubris nasihat Tara. Subali akhirnya gugur dalam pertarungan, mati tertusuk anak panah yang dilepaskan Sri Rama atas permintaan Sugriwa. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Subali berdamai dengan Sugriwa, dan mewanti-wantinya supaya menuruti nasihat Tara dalam segala perkara. Ratapan perkabungan Tara merupakan salah satu bagian penting di dalam sebagian besar versi Ramayana. Meskipun di dalam kebanyakan versi bahasa rakyat, Tara mengutuk Sri Rama dengan kuasa kesucian dirinya,[1] beberapa versi menyebutkan bahwa, Sri Rama berhasil menginsyafkan Tara. Sugriwa kembali menjadi Raja Kiskenda, tetapi menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, sering kali bersama-sama Tara sang permaisuri, sehingga lupa akan janjinya untuk membantu Sri Rama merebut kembali Dewi Sinta.[5] Selaku permaisuri sekaligus juru runding utama Sugriwa, dengan budi bahasa dan kebijaksanaan yang dimilikinya, Tara mampu merukunkan kembali Sri Rama dan Sugriwa, sesudah berhasil meredakan amarah Lesmana, adik Sri Rama, yang hendak menghancurleburkan Kiskenda sebagai hukuman kepada Sugriwa karena dianggap sudah mengkhianati Sri Rama.[1][5]
Mandodari

Mandodari, tokoh antagonis utama wiracarita Ramayana, adalah permaisuri Rahwana, raja raksasa yang bertakhta di negeri Alengka. Wiracarita-wiracarita Hindu menggambarkan Mandodari sebagai seorang wanita yang cantik jelita, saleh, dan berbudi luhur. Ayah Mandodari adalah Mayasura, raja asura, sementara ibunya adalah Apsara (bidadari) Hema. Di dalam beberapa cerita, dikisahkan bahwa Bidadari Madura dikutuk menjadi katak dan dikurung di dalam sumur selama 12 tahun. Selepas 12 tahun, Madura kembali ke wujud semula, menjadi seorang gadis jelita.[4] Madura diangkat anak oleh Mayasura, dan diberi nama Mandodari. ketika Rahwana beranjangsana ke istana Mayasura, dia melihat Mandodari, jatuh cinta kepadanya, lantas mempersuntingnya. Rahwana dan Mandodari dikaruniai tiga orang anak laki-laki, yaitu Megananda (Indrajit), Atikaya, dan Aksayakumara.[10] Meskipun Rahwana bertabiat buruk, Mandodari tetap mencintainya dan berusaha menasihatinya supaya kembali ke jalan yang benar. Mandodari berulang kali menasihati Rahwana supaya memulangkan Sinta kepada Sri Rama, tetapi diabaikan Rahwana.[4] Cinta dan kesetiaannya kepada Rahwana dipuji di dalam Ramayana.[11] Di dalam beragam versi Ramayana, Mandodari mendapatkan perlakuan buruk dari para panglima wanara, anak buah Sri Rama.[1] Beberapa versi mengatakan bahwa para panglima wanara mempermalukannya saat mengganggu upacara kurban Rahwana, sementara beberapa versi lainnya mengisahkan bahwa para panglima wanara menodai kesuciannya, yang merupakan azimat pelindung nyawa Rahwana.[1] Di dalam beberapa cerita rakyat,[12] Hanoman memperdaya Mandodari sehingga membocorkan rahasia tempat penyimpanan anak panah sakti, yang nantinya dipakai Sri Rama untuk menewaskan Rahwana. Sesudah Rahwana mangkat, Wibisana, adik Rahwana yang menyeberang ke pihak Sri Rama, mengawini Mandodari atas anjuran Sri Rama.[1] Di dalam beberapa versi, Mandodari mengutuk Sinta agar kelak ditinggalkan Sri Rama.[1]
Sinta
Sinta adalah istri Sri Rama. Jika Rama adalah titisan Dewa Wisnu, maka Sinta adalah titisan Dewi Lasmi, sang dewi kemakmuran, istri Dewa Wisnu. Sinta dihormati sebagai istri dan wanita berbudi luhur yang layak diteladani oleh semua perempuan Hindu.[13][14] Sinta adalah anak angkat Prabu Janaka, Raja Wideha. Dia ditemukan ketika sang prabu sedang membajak sawah.[15] Rama, anak Raja Ayodya, memenangkan sayembara pemilihan suami untuk Sinta. Kemudian hari, ketika Rama dihukum buang selama empat belas tahun, Sinta ikut menemaninya ke pembuangan, sekalipun Rama ingin agar dia tetap tinggal di Ayodya.[15] Di hutan Dandaka, Sinta termakan tipu daya Rahwana, sehingga menyuruh Rama memburu kijang kencana. Dia diculik Rahwana, dan hidup terkungkung di balik tembok pemagar taman Argasoka di Alengka sampai diselamatkan oleh Sri Rama, sesudah menewaskan Rahwana di medan perang.[15] Sinta membuktikan kesuciannya dengan menjalani ujian api, lantas pulang ke Ayodya bersama Sri Rama dan Lesmana, dan menyaksikan Sri Rama dinobatkan menjadi raja.[15] Ketika seorang tukang penatu meragukan kesuciannya, Sinta yang tengah mengandung disingkirkan ke hutan.[15] Sinta melahirkan putra kembar Lawa dan Kusa di pertapaan Resi Walmiki, yang melindunginya.[15] Si kembar tumbuh besar dan berkumpul kembali dengan Sri Rama. Saat diminta membuktikan kesuciannya supaya dapat diterima kembali di istana, Sinta memutuskan untuk pulang ke dalam kandungan ibunya, Pertiwi.[15]
Tokoh Mahabarata
Wiracarita Mahabarata menampilkan Dropadi dan Kunti. Adakalanya Kunti dimasukkan ke dalam daftar Pancakanya.
Dropadi

Dropadi adalah tokoh utama wanita dalam wiracarita Mahabarata. Dia adalah istri Pandawa Lima (kelima putra Pandu Dewanata) dan Permaisuri Astinapura pada masa pemerintahan Prabu Yudistira, putra sulung Pandu. Dropadi terlahir dari nyala api upacara kurban yang digelar Prabu Drupada, Raja Pancala, dan diramalkan kelak menjadi penyebab kematian Durna dan Kurawa.[16] Arjuna, putra ketiga Pandu, menyamar sebagai seorang brahmana, dan memenangkan sayembara pemilihan suami untuk Dropadi. Dalam adaptasi-adaptasi Mahabarata yang beredar luas di tengah masyarakat, diceritakan bahwa Dropadi menolak pinangan Karna sebab Karna berkasta rendah (bagian ini dihilangkan dalam Edisi Kritis Mahabarata [17] sebab dianggap sebagai cerita carangan yang baru ditambahkan belakangan, mengingat ada edisi-edisi Sanskerta yang lebih tua, yang mengisahkan bahwa Karna gagal memasang tali gandewa dalam sayembara).[18] Dropadi menjadi istri adik-beradik Pandawa Lima akibat kata-kata yang secara tidak sengaja diucapkan oleh ibu mertuanya, Kunti. Pandawa Lima sepakat menjadikan Dropadi sebagai garwa padmi mereka, dan oleh sebab itu dia menerima gelar maharani. Masing-masing putra Pandu dijatahi tempo satu tahun untuk hidup bersama Dropadi selayaknya suami-istri. Siapa saja di antara mereka yang mengganggu kebersamaan Dropadi dan putra Pandu yang sedang menjalani gilirannya harus mengembara selama dua belas tahun.[16] Dropadi melahirkan lima orang putra, masing-masih berayahkan salah seorang dari antara Pandawa Lima, dan selalu kembali perawan setiap tahun.[19]
Di dalam salah satu parwa Mahabarata, dikisahkan bahwa dalam suatu perhelatan upacara rajasuya yadnya, Duryudana terjatuh ke dalam danau yang sebening kaca, sebab mengira bakal memijak tanah kering. Dia ditertawakan oleh Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, bahkan juga oleh hamba sahaya mereka.[20] Dalam adaptasi-adaptasi modern, yang menertawakan Duryudana adalah Dropadi. Ketika Yudistira, putra sulung Pandu, kehilangan Dropadi akibat kalah judi melawan Kurawa, Dursasana mencoba menelanjangi Dropadi di hadapan seluruh hadirin di balairung istana. Sri Kresna turun tangan menyelamatkan kehormatan Dropadi dengan cara membuat kain Dropadi menjadi panjang tak terhingga panjangnya.[16] Sebagai akibat dari kekalahan Yudistira dalam permainan judi dadu itu, Panda Lima dan Dropadi dihukum buang. Saat menjalani masa pembuangan di dalam hutan, Bima, putra kedua Pandu, menyelamatkan Dropadi dari berbagai gangguang dan upaya penculikan yang dilakukan oleh raksasa-raksasa maupun Prabu Jayadrata.[16] Dropadi juga mengajari Setyaboma, permaisuri ketiga Sri Kresna, tentang tugas-tugas seorang istri. Pada tahun ke-13 masa pembuangan, Dropadi dan Pandawa Lima hidup dalam penyamaran di istana Kerajaan Wirata. Dropadi menjadi abdi Permaisuri Wirata, dan dilecehkan oleh adik kandung permaisuri, Kicaka, yang akhirnya tewas di tangan Bima.[13] Sesudah masa pembuangan berakhir, meletus Perang Kurusetra antara Kurawa dan Pandawa. Seratus Kurawa habis dibantai. Dendam Drupadi akhirnya dapat dibalas tuntas, tetapi dia kehilangan ayah, saudara-saudara, dan putra-putranya yang gugur di medan laga. Yudistira menjadi Maharaja Astinapura, dan Dropadi menjadi permaisurinya.[16]
Menjelang akhir hayat mereka, Dropadi dan Pandawa Lima melakukan berjalan kaki melintasi daerah pegunungan Himalaya menuju Swargaloka. Di tengah perjalanan, Dropadi jatuh dan meninggal dunia, yang dikatakan sebagai akibat dari dosanya mencintai Arjuna melebihi putra-putra Pandu lainnya.[16]
Kunti

Kunti adalah istri pertama dan garwa padmi Prabu Pandu Dewanata, Raja Astinapura. Putra Pandu yang pertama, kedua, dan ketiga adalah anak-anak yang dilahirkan Kunti. Kunti terlahir dengan nama Prita. Ayah kandungnya adalah Prabu Surasena, raja bangsa Yadawa. Kemudian hari, dia diangkat anak oleh Prabu Kuntiboja, Raja Kunti.[21] Karena sabar dan telaten melayani Resi Durwasa yang bawel, Kunti dihadiahi ajian sakti oleh sang resi. Dengan ajian ini, Kunti bisa memanggil dewa manapun yang dikehendakinya dan dianugerahi keturunan oleh dewa itu. Kunti secara ceroboh menguji keampuhan mantra itu dan memanggil Surya, dewa matahari. Dewa Surya mengaruniainya seorang putra, yang selanjutnya dibuang oleh Kunti. Anak inilah yang kemudian hari dikenal dengan nama Karna.[21] Kunti memilih Pandu dalam sayembara pencarian suami untuk dirinya.[22] Pandu turun takhta sesudah seorang resi mengutuknya supaya kehilangan nyawa kalau melakukan hubungan suami istri. Atas permintaan Pandu, Kunti menggunakan ajian hadiah Resi Durwasa untuk mendapatkan keturunan. Kunti akhirnya dikaruniai tiga orang putra, yaitu Yudistira dari Dewa Yama, Bima dari Dewa Bayu, dan Arjuna dari Dewa Indra.[21] Madunya, Madrim, dikaruniani putra kembar, Nakula dan Sadewa dari dewa kembar, Aswan dan Aswin. Sesudah Pandu wafat, Madrin menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kematian Pandu, lantas melakukan sati di dalam kobaran api pengabuan jasad suaminya. Kunti pulang ke Astinapura dan membesarkan Pandawa Lima.[21]
Kunti menjalin persahabatan dengan Widura, adik tiri Pandu yang menjadi penasihat Raja Astinapura. Ketika Duryudana menggunakan tipu muslihat untuk membunuh mereka di Bale Sigalagala, Kunti dan Pandawa Lima berhasil meloloskan diri. Atas anjuran Kunti, Bima tidak membunuh dan malah memperistri raksesi Hidimbi. Bima dan Hidimbi dikaruniai seorang putra yang diberi nama Gatotkaca.[22] Kunti mengajari Pandawa Lima untuk peduli terhadap nasib rakyat jelata, dan memerintahkan Bima untuk membunuh raksasa Bakasura.[21] Sesudah Arjuna memenangi sayembara pemilihan suami untuk Dropadi, Pandawa Lima memboyong pulang Dropadi, dan meminta Kunti untuk melihat apa yang mereka bawa pulang. Lantaran belum melihat Dropadi, Kunti mengira bahwa yang dibawa pulang Pandawa Lima adalah biksa (derma), dan oleh sebab itu menyuruh Pandawa Lima untuk berbagi sama rata,[23] dan demi mematuhi ucapan Kunti, Pandawa Lima menjadikan Dropadi sebagai istri bersama.[21] Kunti dan Pandawa Lima kemudian pulang Astinapura. Ketika Pandawa menjalani hukuman buang selama 13 tahun akibat kalah judi, Pandu tinggal di rumah Widura.[21] Sebelum perang Baratayuda meletus, Kunti memberitahu Karna, yang saat itu sudah menjadi panglima Kurawa, bahwa Karna adalah anaknya. Dia membujuk Karna untuk berjanji tidak akan membunuh putra-putra Pandu selain Arjuna.[21] Seusai perang Baratayuda, yang menelan nyawa Kurawa maupun Karna, Kunti bersama Drestarata dan Gandari meninggalkan istana dan hidup sebagai pertapa di hutan. Kunti menemui ajalnya dalam kebakaran hutan dan mencapai swargaloka.[5][21]
Kesamaan
Kelima kanya tersebut tidak mengenal ibu kandung mereka. Ahalya, Tara, Mandodari, Sinta, dan Dropadi lahir tanpa proses yang sewajarnya, sedangkan Kunti sejak lahir sudah diadopsi dan dipisahkan dari ibu kandungnya. Meskipun semua kanya selain Dropadi disifatkan sebagai ibu, peran mereka sebagai ibu justru tidak ditonjolkan dalam kisah hidup mereka. Kesamaan lainnya adalah tema kehilangan dalam kisah-kisah hidup mereka. Ahalya dikutuk dan ditinggalkan oleh keluarganya, Tara ditinggal mati suaminya, Dropadi ditinggal mati kelima putranya, sementara Mandodari kehilangan suami, putra, dan kerabat akibat perang. Semuanya mengalami tragedi, tetapi terus menentang kehidupan dan masyarakat. Ahalya dihukum karena menyeleweng. Dropadi yang berbakti dan berbudi luhur direndahkan martabatnya oleh kaum pria. Salah satu kesamaan lainnya adalah kelima-lima kanya (kecuali Sinta yang jarang dimasukkan ke dalam daftar Pancakanya) menjalin kedekatan dengan lebih dari satu orang pria di dalam ruang lingkup ikatan perkawinan atau kesepakatan hidup bersama yang dikenal oleh masyarakat. Ahalya menjalin kedekatan dengan Begawan Gotama dan Dewa Indra, Tara dengan Subali dan Sugriwa, Mandodari dengan Rahwana dan Wibisana, Dropadi dengan Pandawa Lima, serta Kunti dengan Pandu dan tiga dewa yang mengaruniakan benih keturunan kepadanya.[24]
Tradisi tari Mahari menyamakan pancakanya dengan kelima unsur alam. Ahalya, Dropadi, Sinta, Tara, dan Mandodari masing-masing mewakili unsur air, unsur api, unsur tanah, unsur angin, dan unsur angkasa. Dengan analogi yang sama, penulis Vimla Patil mengaitkan-ngaitkan Ahalya, Dropadi, Sinta, Tara, dan Mandodari masing-masing dengan angin, api, tanah, angkasa, dan air.[24]
Dalam budaya populer
Sastrawan penerima hadiah Nobel asal India, Rabindranath Tagore, menulis sebuah kumpulan puisi yang dijuduli Panca Kanya, bertemakan cukilan-cukilan peristiwa yang terambil dari mitologi Pancakanya.[25]
Cerita-cerita tentang Pancakanya terus menjadi motif populer dalam tradisi tari Mahari di Negara Bagian Odisa.[26]
Menurut salah satu pandangan, Pancakanya adalah wanita-wanita ideal. George M. Williams remarks, "mereka tidaklah sempurna tetapi mereka menggenapi darma (kewajiban) selaku ibu, saudari, istri, dan kadang-kadang sebagai pemimpin dengan kemampuan sendiri."[27] Menurut pandangan lain, mereka adalah wanita-wanita suci atau sati (wanita yang menjaga kesuciannya) sebagaimana disifatkan dalam tradisi tari Mahari,[26] juga pantas diteladani karena "menampakkan kualitas-kualitas diri yang hebat.[2] Wanita-wanita yang banyak menanggung derita selama hidupnya, dan yang menaati perintah dan aturan-aturan bagi kaum wanita yang termaktub di dalam pustaka-pustaka suci. Sebagaimana dijabarkan di dalam Manusmerti, Ramayana, dan Mahabarata, mereka dipandang sebagai lima wanita ideal, dan semuanya pernah menjalani kehidupan berumah tangga.[28]
Menurut pandangan lain, Pancakanya bukanlah wanita-wanita ideal yang patut diteladani.[29] Pradip Bhattacharya, penulis buku Panch-Kanya: The Five Virgins of Indian Epics, membandingkan Pancakanya dengan lima sati yang disebutkan di dalam doa tradisional lainnya, yaitu Sati, Sinta, Sawitri, Damayanti, dan Arundati. Dia melontarkan pertanyaan retoris, "jadi bukankah Ahalya, Dropadi, Kunti, Tara, dan Mandodari bukanlah istri-istri yang menjaga kesuciannya sebab masing-masing pernah berhubungan dengan satu atau lebih dari satu orang laki-laki selain suaminya?"[1]
Rujukan
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Pradip Bhattacharya. [http:ww.manushi-india.org/pdfs_issues/PDF%20141/03%20panchakanya%204-12.pdf "Five Holy Virgins"] (PDF). Manushi. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2012. Diakses tanggal 10 Januari 2013.
{{cite journal}}: Periksa nilai|url= - 1 2 3 Chattopadhyaya hlmn. 13–44
- ↑ Leeming, David; Fee, Christopher (2016-03-15). The Goddess: Myths of the Great Mother (dalam bahasa Inggris). Reaktion Books. hlm. 28. ISBN 978-1-78023-538-7.
- 1 2 3 George M. Williams (18 Juni 2008). Of Hindu Mythology. Oxford University Press. hlm. 208–9. ISBN 978-0-19-533261-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2021. Diakses tanggal 3 Januari 2013.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 Mukherjee pp. 36-9
- ↑ Apte, Vaman S. (2004) [1970]. The Student's Sanskrit-English Dictionary (Edisi 2). Motilal Banarsidass Publishers. hlm. 73. ISBN 978-81-208-0045-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2021. Diakses tanggal 11 September 2021.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Mani, hlm. 17
- 1 2 3 4 5 6 Söhnen-Thieme hlmn. 40-41
- 1 2 Mani hlm. 788
- ↑ Mani p. 476
- ↑ Mukherjee pp. 48-9
- ↑ Lutgendorf, Philip (2007-01-11). Hanuman's Tale: The Messages of a Divine Monkey (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 217. ISBN 978-0-19-804220-4.
- 1 2 Sutherland, Sally J. "Sita and Draupadi, Aggressive Behaviour and Female Role-Models in the Sanskrit Epics" (PDF). University of California, Berkeley. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 Mei 2013. Diakses tanggal 16 Januari 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Heidi Rika Maria Pauwels (2007). Indian Literature and Popular Cinema: Recasting Classics. Routledge. hlm. 53. ISBN 978-0-415-44741-6. Diakses tanggal 3 Januari 2013.
- 1 2 3 4 5 6 7 Mani pp. 720-3
- 1 2 3 4 5 6 SITA
- ↑ "The Bhandarkar Oriental Research Institute". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Oktober 2019. Diakses tanggal 8 Oktober 2019.
- ↑ "Mahabharata: Draupadi Swayamvara". 2 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Oktober 2019. Diakses tanggal 8 Oktober 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "She who must be obeyed: Draupadi the Ill fated one" (PDF). Manushi India. Org. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 Maret 2012. Diakses tanggal 14 Januari 2013.
- ↑ "The Mahabharata, Book 2: Sabha Parva: Sisupala-badha Parva: Section XLVI". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-10-20. Diakses tanggal 2019-10-08.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Mani pp. 442-3
- 1 2 "Kunti" (PDF). Manushi India Organization. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 Maret 2012. Diakses tanggal 10 Januari 2013.
- ↑ Bibek Debroy. The Mahabharata, 10 Volumes by B. Debroy. hlm. 525.
- 1 2 Bhattacharya, Pradip (November–Desember 2004). "Five Holy Virgins, Five Sacred Myths: A Quest for Meaning (Part V)" (PDF). Manushi (145): 30–7. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-09-01. Diakses tanggal 2013-01-31.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ K. M. George (1992). Modern Indian Literature: An Anthology. Sahitya Akademi. hlm. 229. ISBN 978-81-7201-324-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2020. Diakses tanggal 3 Januari 2013.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Ritha Devi (Musim semi–Musim panas 1977). "Five Tragic Heroines of Odissi Dance-drama: The Pancha-kanya Theme in Mahari "Nritya"". Journal of South Asian Literature: Feminine Sensibility and Characterization in South Asian Literature. 12 (3/4). Asian Studies Center, Michigan State University: 25–29. JSTOR 40872150.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ George M. Williams (18 Juni 2008). Handbook of Hindu Mythology. Oxford University Press. hlm. 226. ISBN 978-0-19-533261-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2021. Diakses tanggal 31 Januari 2013.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Mrs. M. A. Kelkar (1995). Subordination of Woman: A New Perspective. Discovery Publishing House. hlm. 58–. ISBN 978-81-7141-294-5. Diakses tanggal 3 Januari 2013.
- ↑ Mukherjee pp. 48–9
Sumber
- Chattopadhyaya, Kamaladevi (1982). Indian Women's Battle for Freedom. Penerbit Abhinav.
- Kelkar, Meena K. (1995). Subordination of Woman: A New Perspective. Penerbit Discovery. ISBN 978-81-7141-294-5.
- Mani, Vettam (1975). Puranic Encyclopaedia: a Comprehensive Dictionary with Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Penerbit Motilal Banarsidass. ISBN 978-0-8426-0822-0.
- Mukherjee, Prabhati (1999) [1978]. Hindu Women: Normative Models. Orient Blackswan. ISBN 978-81-250-1699-1.
- Söhnen-Thieme, Renate (1996). "The Ahalya Story Through the Ages". Dalam Leslie, Julia (ed.). Myth and Mythmaking: Continuous Evolution in Indian Tradition. Curzon Press. ISBN 978-0-7007-0303-6.