Senin, 21 September 2026
03:57 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Nuruddin al-Raniri

Nuruddin al-Raniri

Ulama Islam asal Aceh

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Nuruddin al-Raniri"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Oktober 2018)
Nuruddin Muhammad bin Ali
Syekh Nuruddin ar-Raniri
250px-Nuruddin_ar-Raniry.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Syekh Nuruddin bin Ali ar-Raniry al-Quraisyi
Nisbahar-Raniry al-Quraisyi

Syekh Nuruddin Muhammad ibnu 'Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi atau populer dengan nama Syekh Nuruddin Al-Raniri adalah ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II).

Syekh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644.

Pengetahuan yang dikuasai

Ar Raniri memiliki pengetahuan luas yang meliputi sufisme, kalam, fikih, hadits, sejarah, dan perbandingan agama.[1] Selama masa hidupnya, ia menulis kurang-lebih 29 kitab, yang paling terkenal adalah "Bustanus al-Salatin".[2] Namanya kini diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama (UIN Ar-Raniry) di Banda Aceh.[3]

Guru

Dia di katakan telah berguru dengan Sayyid Umar Abu Hafs b Abdullah Basyeiban yang di India lebih dikenal dengan Sayyid Umar Al-Idrus adalah khalifah Tariqah Al-Idrus BaAlawi di India.[butuh rujukan] Ar-Raniri juga telah menerima Tariqah Rifaiyyah dari gurunya yang bernama Ahmad ar-Rifa'i.[4] Selain itu, ia menerima tarekat Qodiriyyah dari guru dia.[butuh rujukan]

Putera Abu Hafs yaitu Sayyid Abdul Rahman Tajudin yang datang dari Balqeum, Karnataka, India pula telah bernikah setelah berhijrah ke Jawa dengan Syarifah Khadijah, puteri Sultan Cirebon dari keturunan Sunan Gunung Jati.[butuh rujukan]

Peranan di Aceh

Ar-Raniri berperan penting saat berhasil memimpin ulama Aceh menghancurkan ajaran tasawuf falsafinya Hamzah al-Fansuri yang dikhawatirkan dapat merusak akidah umat Islam awam terutama yang baru memeluknya.[butuh rujukan] Tasawuf falsafi berasal dari ajaran Al-Hallaj, Ibn 'Arabi, dan Suhrawardi, yang khas dengan doktrin Wihdatul Wujud (Menyatunya Kewujudan) di mana sewaktu dalam keadaan sukr ('mabuk' dalam kecintaan kepada Allah Ta'ala) dan fana' fillah ('hilang' bersama Allah), seseorang wali itu mungkin mengeluarkan kata-kata yang lahiriahnya atau menyimpang dari syariat Islam.[butuh rujukan]

Maka oleh mereka yang tidak mengerti hakikat ucapan-ucapan tersebut, dapat membahayakan akidah dan menimbulkan fitnah pada masyarakat Islam. Karena individu-individu tersebut syuhud ('menyaksikan') hanya Allah sedang semua ciptaan termasuk dirinya sendiri tidak wujud dan kelihatan.[butuh rujukan] Maka dikatakan wahdatul wujud karena yang wajib wujudnya itu hanyalah Allah Ta'ala sedang para makhluk tidak berkewajiban untuk wujud tanpa kehendak Allah.[butuh rujukan] Sama seperti bayang-bayang pada pewayangan kulit.[butuh rujukan]

Konstruksi wahdatul wujud ini jauh berbeda malah dapat dikatakan berlawanan dengan paham 'manunggaling kawula lan Gusti'.[butuh rujukan] Karena pada konsep 'manunggaling kawula lan Gusti', dapat diibaratkan umpama bercampurnya kopi dengan susu—maka substansi dua-duanya sesudah menyatu adalah berbeda dari sebelumnya.[butuh rujukan] Sedangkan pada paham wahdatul wujud, dapat di umpamakan seperti satu tetesan air murni pada ujung jari yang dicelupkan ke dalam lautan air murni. Sewaktu itu, tidak dapat dibedakan air pada ujung jari dari air lautan. Karena semuanya 'kembali' kepada Allah.[butuh rujukan]

Maka pluralisme (paham yang menghargai adanya perbedaan dalam suatu masyarakat ) menjadi lanjutan terhadap gagasan bahwa yang penting dan utama adalah Pencipta, dan semua ciptaan adalah sama yakni hadir di alam mayapada hanya karena kehendak Allah Ta'ala.[butuh rujukan]

Maka paham ini, tanpa dibarengi dengan pemahaman dan kepercayaan syariat, dapat membelokkan akidah. Pada zaman dahulu, para waliullah di negara-negara Islam Timur Tengah sering, apabila di dalam keadaan begini, dianjurkan untuk tidak tampil di khalayak ramai.[butuh rujukan]

Tasawuf falsafi diperkenalkan di Nusantara oleh Fansuri dan Syekh Siti Jenar.[butuh rujukan] Syekh Siti Jenar kemudian diberi hukuman mati oleh Sunan Giri selaku salah satu anggota Wali Songo di lingkup Kesultanan Demak.[5] Ini adalah hukuman yang disepakati bagi pelanggaran syariat, manakala hakikatnya hanya Allah yang dapat maha mengetahui.[butuh rujukan]

Al-Hallaj setelah dipancung lehernya, badannya masih dapat bergerak, dan lidahnya masih dapat berzikir. Darahnya pula mengalir mengeja asma Allah—ini semua karamah untuk mempertahankan namanya.[butuh rujukan]

Di Jawa, tasawuf falsafi bersinkretisme dengan aliran kebatinan dalam ajaran Hindu dan Budha sehingga menghasilkan ajaran kejawen.[butuh rujukan]

Ronggowarsito (Bapak Kebatinan Indonesia) dianggap sebagai penerus Siti Jenar. Karya-karyanya, seperti Suluk Jiwa, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Lukma Lelana, dan Serat Hidayat Jati, sering diaku-aku Ronggowarsito berdasarkan kitab dan sunnah.[butuh rujukan] Namun banyak terdapat kesalahan tafsir dan transformasi pemikiran dalam karya-karyanya itu.[butuh rujukan] Ronggowarsito hanya mengandalkan terjemahan buku-buku tasawuf dari bahasa Jawa dan tidak melakukan perbandingan dengan naskah asli bahasa Arab.[butuh rujukan] Tanpa referensi kepada kitab-kitab Arab yang ditulis oleh ulama ahli syariat dan hakikat yang mu'tabar seperti Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Ibn 'Arabi, maka ini adalah sangat berbahaya.[butuh rujukan]

Ar-Raniri dikatakan pulang kembali ke India setelah dia dikalahkan oleh dua orang murid Hamzah Fansuri pada suatu perdebatan umum. Ada riwayat mengatakan dia meninggal di India.[butuh rujukan]

Karya

Referensi

  1. Majid, Abdul (2015-10-11). "Karakteristik Pemikiran Islam Nuruddin Ar-Raniry". Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin. 17 (2): 179–190. doi:10.22373/substantia.v17i2.3990. ISSN 2356-1955.
  2. Musyaffa, Musyaffa (2018). "Pemikiran dan gerakan dakwah syeikh nuruddin ar-raniry". Jurnal Ilmiah Syi'ar (dalam bahasa American English). 18 (1): 72–90. doi:10.29300/syr.v18i1.1571. ISSN 2685-2934.
  3. "Sejarah". UIN Ar-Raniry (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-01-27.
  4. Munawir (2019). Suheri dan Fitria H., R. (ed.). 20 Tokoh Tasawuf Indonesia dan Dunia (PDF). Temanggung: CV Raditeens. hlm. 71. ISBN 978-623-7456-30-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. Syakur, Abd. (2021). Nasih, Ahmad Munjin (ed.). Tarekat dan Gerakan Sosial Keagamaan: Dinamika Tarekat Shiddiqiyyah di Indonesia (PDF). Arti Bumi Intaran. hlm. 31–32. ISBN 978-623-6864-20-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

Ulama Aceh
Abad ke-12
Abad ke-13 M
Abad ke-14 M
Abad ke-15 M
Abad ke-16 M
Abad ke-17 M
Abad ke-18 M
Abad ke-19 M
Muhammad Khatib Langgien   Ismail al-Asyi   Teungku Chik Tanoh Abee   Teungku Chik Pante Kulu   Teungku Chik di Tiro   Teungku Chik Kuta Karang   Teungku Chik Pante Geulima   Sayid Muhammad Yasin   Sayid Abdurrani Teungku Putik   Teungku Muhammad Irsyad Ie Leubeu   Teungku Fakinah   Syekh Abdussalam Tiro   Syekh Yusuf bin Ismail al-Fidiri   Syekh Abdussamad al-Batuwiy   Syekh Mas'ud bin Abdul Hadi Busu   Syekh Muhammad Marhaban al-Asyi   Syekh Abdullah al-Mishr   Syekh Abdurrahman al-Jawi   Syekh Abdullah bin Ibrahim Lambaro   Teungku Chik Dirundeng   Teungku Chik Dayah Cut   Teungku Muhammad Amin di Tiro   Teungku Chik Lamjabat   Teungku Chik Cot Keupeung   Teungku Chik Lam Baro   Teungku Chik Lam Nyong   Datu Muhammad Lam Krak   Teungku Chik Lam Pucok   Teungku Chik di Lam U   Teungku Chik di Rumpet   Teungku Chik Pante Ya'kub   Teungku Chik Leung Keubu   Teungku Chik Kuta Glee   Teungku Chik Lampaloh   Teungku Chik Lam Seunong   Teungku Chik Indrapuri   Teungku Chik di Lam Bhuk   Teungku Chik Lam Lhom   Teungku Chik Rangkang Manjang   Teungku Chik Ulee U   Teungku Geulumpang Minyeuk   Teungku Teupin Raja   Teungku Muhammad Saleh Lampoh Raya   Teungku Haji Cut Maheng   Teungku Chik di Mata Ie   Teungku Chik di Cot Plieng   Teungku di Barat   Teungku di Cantek   Habib Gigieng   Teungku Maat Tiro   Said Abdurrahman Terbangan   Habib Mustafa Tapaktuan   Haji Yahya Peukan Manggeng   Said Rajab   Teungku Chik Umar Diyan   Teungku Chik Muhammad Arsyad Diyan   Teungku Hasballah Meunasah Kumbang   Teungku Chik Ahmad Buengcala   Teungku Chik Abbas Lambirah   Teungku Chik Jeurela   Teungku Chik Muhammad Lambirah   Teungku di Cucum   Teungku Di Meulek   Syekh Jamaluddin bin Abdullah al-Asyi   Syekh Ismail bin Abdulmuthalib al-Asyi   Teungku Faki   Teungku Di Leupue
Abad ke-20 M
Teungku Peukan   Abdussalam Meuraksa   Muhammad Al-Kalali   Abuya Muda Waly   Abu Syekh Mud   Ali Hasjmy   Abu Bakar Aceh   Teungku Hasan Krueng Kale   Daud Beureu'eh   Abu Ibrahim Woyla   Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy   Habib Seunagan   Teungku Abdullah Tanjong Bungong   Abdullah Ujong Rimba   Teungku Ahmad Dewi   Muhammad Syam Marfaly   Teungku Haji Abdullah Hanafie   Teungku Abdullah Husin   Abdul Hamid Samalanga   Teungku Abdul Jalil Cot Plieng   Abdul Wahab Seulimeum   Abdullah Meuraxa   Abdurrahman Meunasah Meucap   Ahmad Hasballah Indrapuri   Ibrahim Ayahanda   Ismuha   Muhammad Abduh Syam   Muhammad Saleh Aneuk Galong   Tuanku Raja Keumala   Teungku Syekh Peusangan   Abdul Aziz Samalanga   Abdul Manaf el Zamzami   Amir Husin Almujahid   Araby Ahmad   Din Affandy   Ibrahim Ishak   Ismail Yakub   Jaafar Hanafiah   Jakfar Siddiq Lamjabat   Mahmud Usman Simpang Ulim   Mohd. Ali Djadun   Muhammad Ali Irsyad   Muhammad Ali Tanoh Abee   Muhammad Nur Haiyi   Muhammad Yusuf Kruet Lintang   Osman Raliby   Umar Taher   Usman Maqam   Teungku Abdullah Arif   Abu Lam U   M. Abubakar Bangkit   Ahmad Daudy   A. R. Hasyim   Ibrahim Husein   Ghazali Aman   Mahijddin Jusuf   Mahdi Muhammad   Manaf Meuraxa   M. Sahim Hasjmy   T. A. Lathief Rousydy   Syihabuddin Syah   Ya'qub Ali   M. Nur El Ibrahimy   Usman Lampoh Awe   Yahya Baden Peudada   Ahmad Damanhuri Takengon   Usman Aziz   Teungku Haji Makam Gampong Blang   Teungku Muhammad Lampisang   Muhammad Saleh Lambhuk   Teungku Haji Hamzah Ateuh   Muhammad Daud Ulee Lheue   Syekh Marhaban Kruengkalee   Sulaiman Mahmud Uleekareng   Hasballah Pase   Jalaluddin Amin Sungai Limpah   Zakaria Teupin Raya   Usman Gigieng   Muhammad Amin Jumpoh   Umar Meureudu   Muhammad Amin Alue   Muhammad Saleh Iboih   Teungku Haji Trienggadeng   Ahmad Isa Peudada   Abu Jailani Peudada   Ja'far Siddiq Kutacane   Yusuf Alami Bakongan   Adnan Mahmud   Muhammad Isa Peudada   Abu Bakar Sabil   Usman Fauzi Cot Iri   Qamaruddin Teunom   Syekh Ahmad Blang Nibong   Syekh Abbas Parembeu   Syekh Muhammad Daud Gayo   Syekh Ahmad Lam Lawi   Amin Umar Panton Labu   Usman Basyah Langsa   Karimuddin Alue Bilie   Basyah Kamal Lhong   Muhammad Cot Klat   Abu Ahmad Perti   Jamaluddin Teupin Punti   Yusuf Peureulak   Ibrahim Ahmad Cot Cibrek   Idris Lamreung   Ishak Iboih   Ishaq Lambaro Kaphee   Ahmad Pante   Abdul Rasyid Samlako   Hasan Keubok   Abdul Jalil Bayu   Sulaiman Lhoksukon   Ja'far Lailon   Jailani Musa   Muhammad Bilal Yatim   Imam Syamsuddin Sangkalan   Abdul Hamid Kamal   Muhammad Arsyad Lamno   Abdul Ghafar Lhoknga   Salim Mahmud Samadua   Teungku Aidarus   Abuya Syekh Muhammad Rasyid Alamy   Abu Seuriget   Muhammad Amin Panton Labu   Al Yasa' Abubakar   Azman Ismail   Daniel Djuned   Ainal Mardhiah Ali   Hasan Ibrahim
Abad ke-21 M
Abu Tu Min   Abu Mudi   Abu Daud Zamzami   Amran Waly   Muhibuddin Waly   Mawardi Waly   Muslim Ibrahim   Safwan Idris   Abu Kuta Krueng   Tu Sop   Waled Nu   Waled Marhaban Adnan   Abu Panton   Abu Paya Pasi   Faisal Ali   Abi Matang Keh   Waled Sirajuddin Hanafi   Abiya Anwar Kuta Krueng   Abu Lamkawe   Abu Paloh Gadeng   Muhammad Sufi Ibrahim   Abi Peureupok   Abi Daud Hasbi   Abu Madinah   Abu Blang Jruen   Muhammad Ja'far Sulaiman   Ayah Cot Trueng   Abu Yazid Al-Yusufi   Abah Sarah Teubee   Aba Asnawi Ramli   Abu Min Keumala   Abati Ramli Babah Buloh   Abi Hasballah Keutapang   Abati Jungka Gajah   Abu Keude Dua   Abu Jakfar Lhoknibong   Abu Lah Kruet Lintang   Ayah Leuge   Abu Keunire   Waled Azhar   Tu Bulqaini Tanjongan   Muslem Qamaruddin   Abdurrahman Badar   Abi Bate Korong   Fauzi Abu Bakar   Abi Razali   Syech Muhajir Usman   Mahmuddin Usman   Abi Hanafiah Sinabang   Basarinur   Mansur Subulussalam   Muslim At-Thahiri   Abi Lampisang   Abu Ulee Titi   Abi Hasbi Al Bayuni   Waled Husaini   Abi Hidayat Muhibbudin Wali   Abu Badawi   Waled Bukhari Husni   Abu Julok   Aba Nisam   Aba Buket Kawat   Abon Jamal Gaseh Sayang   Abi Peulalu   Waled Kama   Muksalmina A. Wahab   Abu Mekkah   Waled Munir   Abu di Rubee   Baba Baihaqi   Abuya Bukhari Aceh Tenggara   Abu Yunus Aceh Tengah   Abon Sofyan Arongan   Abuya Mustafa Habli   Abu Habib Qudrat   Waled Lapang   Muhammad Qudusi Syam Marfaly   Jamaluddin Waly   Muhammad Nasir Wali   Ruslan Wali   Halimah binti Muhammad Wali   Abu Lueng Angen
Abad ke-3 H
Imam Asy-Syafi'i (wafat 204 H)   Imam Ahmad (wafat 241 H)   Imam Bukhari (wafat 256 H)   Imam Abu Dawud (wafat 275 H)   Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H)   Syeikh Juneid al-Bagdadi (wafat 298 H)
Abad ke-4 H
Imam An-Nasa'i (wafat 303 H)   Abu Hasan al Asy'ari (wafat 324 H)   Ibnul Haddad (wafat 345 H)   Ar-Razi (wafat 347 H)   Ibnul Qathan (wafat 359 H)   Ibnul Bahran (wafat 361 H)   Al-Qaffal al-Kabir (wafat 366 H)   Ad-Daruquthni (wafat 385 H)   Al-Isma'ili (wafat 392 H)   Al-Qadhi Al-Jurjani (wafat 392 H)   As-Susi (wafat 396 H)   Ibnu Laal (wafat 398 H)
Abad ke-5 H
Al-Lalika'i (wafat 416 H)   Al-Mawardi (wafat 450 H)   Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)
Abad ke-6 H
Imam Al-Ghazali (wafat 505 H)   Imam Al-Baghawi (wafat 516 H)   Ibnu Asakir (wafat 576 H)   Abu Syuja (wafat 593 H)
Abad ke-7 H
Al-Mundziri (wafat 656 H)   Imam An-Nawawi (wafat 676 H)   Imam Ar-Rafi'i (wafat 623 H)   Ibnu Malik (wafat 672 H)   Al-Baidhawi (wafat 691 H)   Syaikh Ibrahim ad Dasuqi (wafat 696 H)   Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H)
Abad ke-8 H
Ibnu Katsir (wafat 774 H)   Ibnu Daqiq al-Ied (wafat 702 H)   Quthbuddin asy-Syirazi (wafat 710 H)   Taqiyuddin as-Subki (wafat 756 H)   Az-Zarkasyi (wafat 794 H)
Abad ke-9 H
Ibnu Al-Mulaqqin (wafat 804 H)   Ibnu Ruslan (wafat 844 H)   Ibnu Hajar Al 'Asqalani (wafat 852 H)   Jalaluddin al-Mahalli (wafat 864 H)   Imamul Kamiliyah (wafat 874 H)
Abad ke-10 H
Jamaluddin An-Nasyiri (wafat 911 H)   Imam As-Suyuthi (wafat 911 H)   Jalaluddin al-Karaki (wafat 912 H)   Ibnu Abi Syarif (wafat 923 H)   Abul Fatah al-Mishri (wafat 963 H)   Hasanuddin (wafat 964 H)   Ibnu Qassim al-'Ubaidi (wafat 994 H)   Mirza Makhdum (wafat 995 H)
Abad ke-11 H
Nuruddin al-Raniri (wafat 1068 H)   Syamsuddin as-Syaubari (wafat 1069 H)   Syihabuddin al-Qaliyubi (wafat 1070 H)   Abdul Birri al-Ajhuri (wafat 1070 H)   Al-'Urdli (wafat 1071 H)   Ibnu Jamal al-Makki (wafat 1072 H)   Al-Qinai (wafat 1073 H)   Ibrahim al-Marhumi (wafat 1073 H)   Muhammad al-Bathini (wafat 1075 H)   Muhammad al-Kurani (wafat 1078 H)   Ibrahim al-Maimuni (wafat 1079 H)   Abdul Qadir as-Shafuri (wafat 1081 H)   Ibnu Jam'an (wafat 1083 H)   Ibrahim al-Khiyari (wafat 1083 H)   Al Kurdi (wafat 1084 H)   'Al al-Ayyubi (wafat 1086 H)   Muhammad al-Bakri (wafat 1087 H)   Abdul Rauf al-Fanshuri (wafat 1094 H)
Abad ke-12 H
Abdullah bin Alawi al-Haddad (wafat 1123 H)   Muhammad al-Kurani (wafat 1145 H)   Al 'Ajaluni (wafat 1148 H)   Hasan al-Bani (wafat 1148 H)   As-Safar Jalani (wafat 1150 H)   Ad-Diri (wafat 1151 H)   As-Suwaidi (wafat 1143 H)   Zainuddin ad-Dirbi (wafat 1155 H)   Al-Busthami (wafat 1157 H)   Athaulah al-Azhari (wafat 1161 H)
Abad ke-13 H
Abdus Shamad al-Falimbani (wafat 1203 H)   Muhammad Arsyad al-Banjari (wafat 1227 H)   Al-Yamani (wafat 1201 H)   Ahmad al-Khalifi (wafat 1209 H)   Al-Baithusyi (wafat 1211 H)   At-Takriti (wafat 1211 H)   Ibnu Jauhari (wafat 1215 H)  Ad-Damanhuri (wafat 1221 H)
Abad ke-14 H
Abdul Karim Tebuwung (wafat 1313 H)   Nawawi al-Bantani (wafat 1315 H)   Ahmad Khatib al-Minangkabawi (wafat 1334 H)   Muhammad Saad Munqa (wafat 1339 H)   Syeikh Muhammad Saleh al-Minankabawi (wafat 1351 H)   Syeikh Khatib 'Ali (wafat 1353 H)   Muhammad Jamil Jaho (wafat 1360 H)   Hasjim Asy'ari (wafat 1367 H)   Abdul Wahid Tabek Gadang (wafat 1369 H)   Musthafa Husein al-Mandili (wafat 1370 H)   Dimyathi Syafi'ie (wafat 1378 H)   Abdul Qadir bin Abdul Mutalib al-Mandili (wafat 1385 H)   Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (wafat 1388 H)   Habib Salim bin Djindan (wafat 1389 H)   Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1390 H)   Abdul Wahab Hasbullah (wafat 1391 H)   Al-Habib Ali bin Husein al-Attas (wafat 1396 H)
Abad ke-15 H
Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (wafat 1410 H)   Muhammad Zaini Abdul Ghani (wafat 1426 H)   Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa (wafat 1434 H)   Sahal Mahfudz (wafat 1435 H)   Wahbah al-Zuhayli (wafat 1436 H)
Cetak tebal adalah yang sangat terkemuka di zamannya, metode penentuan abad seorang ulama dengan tahun kematiannya, Lihat Panduan Penggunaan
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan