Teungku Chik, Syaikh Teungku Chik di Reubee | |
|---|---|
| Meninggal | |
Tempat peristirahatan terakhir | Gampong Raya Reubee, Delima, Pidie |
| Nama lain | Syaikh Daim Daeng Mansur Maharaja Lela Daeng Mansur |
| Pekerjaan | Ulama, pendidik |
| Dikenal karena | Ulama Reubee; tokoh dalam tradisi sejarah Iskandar Muda |
| Anak | Putroe Sani[a] Zainal Abidin (Teungku di Lhong) |
Teungku Chik di Reubee adalah seorang ulama Aceh yang hidup sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-17 dan berpusat di Reubee, Pidie. Dalam sejumlah sumber ia disebut dengan nama Syaikh Daim, Daeng Mansur, atau Maharaja Lela Daeng Mansur.[1][2]
Ia mempunyai kedudukan penting dalam tradisi sejarah Reubee dan historiografi Aceh mengenai masa muda Iskandar Muda. A. Hasjmy dan M. Junus Djamil menyebut Daeng Mansur sebagai penguasa atau tokoh utama di Reubee ketika Iskandar Muda tinggal di kawasan tersebut. Putrinya, yang dikenal sebagai Puteri Sani atau Puteri Sendi Ratna Indra, dalam tradisi historiografi tersebut disebut menikah dengan Iskandar Muda.[3][4]
Makamnya terletak di Gampong Raya Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, dan telah didata pemerintah Aceh sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).[1]
Nama
Nama pribadi dan asal-usul Teungku Chik di Reubee belum sepenuhnya dapat dipastikan karena sumber yang tersedia memberikan keterangan yang berbeda. Situs resmi Budaya Aceh mencatat nama aslinya sebagai Syeh Daim dan menyebut Daeng Mansyur sebagai gelarnya.[1] Dalam historiografi Aceh abad ke-20, M. Junus Djamil dan A. Hasjmy lebih sering menggunakan bentuk Maharaja Lela Daeng Mansur.[4][3]
Sebutan Teungku Chik di Reubee merupakan lakap yang menunjukkan kedudukannya sebagai ulama utama yang berkedudukan di Reubee. Dalam masyarakat Aceh, Teungku Chik lazim digunakan sebagai gelar kehormatan bagi ulama besar atau pimpinan pusat pendidikan agama.
Penelitian Munikha mengenai makamnya juga menemukan bahwa masyarakat Reubee umumnya hanya menyebut tokoh tersebut sebagai "Teungku Chik" dan bahwa pengetahuan lisan maupun tertulis mengenai identitasnya tidak seragam.[2]
Asal-usul
Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul Teungku Chik di Reubee.
Versi keturunan Bugis
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menyatakan bahwa Syaikh Daim atau Daeng Mansur merupakan keturunan Raja Abdullah al-Malikul Amin dan Raja Abdul Jalil dari negeri Bugis. Menurut versi tersebut, ia datang ke Aceh sekitar abad ke-16, kemudian pergi ke Makkah untuk mendalami ilmu agama. Setelah kembali dari Makkah, ia menikah dengan anggota keluarga ulama di Reubee dan kemudian menetap di sana.[1]
Versi ulama Aceh yang berdakwah ke Bugis
Versi lain yang dicatat dalam penelitian UIN Ar-Raniry justru menyebut Daeng Mansur sebagai ulama dari Aceh. Dalam versi tersebut ia hidup pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar dan dikirim oleh penguasa Aceh untuk menyebarkan Islam ke wilayah Bugis di Sulawesi Selatan. Setelah kembali ke Aceh, ia menikahi putri seorang ulama di Reubee.[2]
Munikha menyimpulkan berdasarkan sumber yang digunakannya bahwa Teungku Chik di Reubee merupakan keturunan Aceh yang pernah menjalankan kegiatan dakwah di Bugis sebelum kembali ke Pidie.[2]
Versi keturunan kerajaan Aceh–Bugis
M. Junus Djamil memberikan silsilah yang berbeda. Menurutnya, Daeng Mansur merupakan keturunan keluarga kerajaan Aceh. Ayahnya, yang disebut Maharaja Diraja, merupakan putra Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil yang pernah berada di Johor dan kemudian berpindah ke Makassar. Maharaja Diraja menikahi seorang putri Bugis dan dari perkawinan tersebut lahir Daeng Mansur. Setelah dewasa, Daeng Mansur kembali ke Aceh dan kemudian menetap di Reubee.[4]
Dalam versi tersebut, Daeng Mansur merupakan cucu Sayyid al-Mukammil dan mempunyai hubungan kekerabatan dengan Iskandar Muda.[4]
Karena perbedaan antara sumber-sumber tersebut belum terselesaikan melalui sumber primer yang diketahui, asal-usul pasti Teungku Chik di Reubee masih merupakan persoalan historiografis.
Di Reubee
Reubee merupakan salah satu mukim lama di wilayah Pidie. Tradisi setempat menempatkan Teungku Chik di Reubee sebagai tokoh agama utama di kawasan tersebut. Ia disebut menjalankan kegiatan pengajaran agama dan mempunyai murid dari berbagai kawasan Pidie.[2]
Penelitian lapangan pada 2021 juga mencatat tradisi lisan yang menghubungkannya dengan dua ulama Pidie lainnya, yaitu Teungku Chik di Pasi dan Teungku Trueng Campli. Ketiganya dalam tradisi tersebut dikatakan mempunyai hubungan keilmuan dengan Teungku Chik Glee Meulinteung di Keumala.[2]
Selain sebagai ulama, tradisi masyarakat Reubee mengaitkan Teungku Chik dengan pengembangan pertanian dan sistem pengairan. Salah satu peninggalan yang dihubungkan dengannya adalah Krueng Tuha Teungku Chik di Reubee. Tradisi lokal menceritakan bahwa aliran tersebut terbentuk dari jalur yang dibuatnya dari arah Keumala menuju Reubee menggunakan tongkatnya.[2] Cerita mengenai pembentukan sungai dengan tongkat tersebut merupakan tradisi lisan dan tidak diketahui sebagai peristiwa yang dibuktikan oleh sumber sezaman.
Hubungan dengan Iskandar Muda
Dalam historiografi Aceh yang ditulis M. Junus Djamil dan A. Hasjmy, Reubee mempunyai peranan penting pada masa sebelum Iskandar Muda naik takhta. Setelah terjadinya perubahan politik di pusat Kesultanan Aceh, Iskandar Muda bersama ibunya disebut berpindah ke Pidie dan tinggal di kediaman Maharaja Lela Daeng Mansur di Reubee.[4][3]
A. Hasjmy menyebut kediaman tersebut sebagai Istana Reubee. Selama berada di sana, Iskandar Muda disebut mempunyai hubungan dekat dengan Daeng Mansur dan kemudian bertunangan dengan putrinya, Puteri Sani atau Puteri Sendi Ratna Indra.[3]
Menurut Hasjmy, pada Ramadan 1014 H atau sekitar awal 1606 berlangsung suatu musyawarah di Reubee di bawah pimpinan Maharaja Lela Daeng Mansur. Pertemuan tersebut dikatakan membahas keadaan politik Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Ali Riayat Syah dan mendukung tindakan Iskandar Muda terhadap pemerintahan di ibu kota.[3]
Setelah Iskandar Muda kembali ke Reubee, ia kemudian disebut menikahi Puteri Sani. Tradisi lokal juga menyatakan bahwa Iskandar Muda pernah belajar ilmu agama kepada Teungku Chik di Reubee.[1][2]
Keluarga
Menurut penelitian mengenai situs makamnya, Teungku Chik di Reubee mempunyai setidaknya dua anak yang dikenal dalam tradisi sejarah lokal, yaitu Putroe Sani dan Zainal Abidin.[2]
Putroe Sani disebut pula dengan nama Puteri Sendi Ratna Indra. A. Hasjmy dan H.M. Zainuddin menyebutnya sebagai salah seorang istri Iskandar Muda dan ibu Tajul Alam Safiatuddin Syah, penguasa perempuan pertama Kesultanan Aceh.[3][5]
Sejarawan Sher Banu A.L. Khan mencatat bahwa menurut H.M. Zainuddin, ibu Safiatuddin adalah Puteri Sani, putri Daeng Mansur. Namun, Khan memperingatkan bahwa bukti mengenai identitas ibu Safiatuddin dalam historiografi modern tidak sepenuhnya kuat; manuskrip tua yang disebut A. Hasjmy sebagai dasar identifikasinya tidak dapat diidentifikasi dengan jelas.[5]
Putra Teungku Chik di Reubee yang bernama Zainal Abidin disebut kemudian pindah ke Lhong, Aceh Besar, sehingga dikenal sebagai Teungku di Lhong. Dalam salah satu silsilah lokal, Zainal Abidin mempunyai putra bernama Abdurrahim Maharajalela.[2]
Peninggalan
Tidak diketahui adanya karya tulis Teungku Chik di Reubee yang masih dapat diidentifikasi. Peninggalan yang dikaitkan dengannya terutama berupa situs dan benda yang dipelihara oleh keturunannya serta masyarakat Reubee.[2]
Makam
Makam Teungku Chik di Reubee berada di Gampong Raya Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mencatat lokasinya pada sekitar 5,3352° LU dan 95,9075° BT. Situs tersebut didata dan diverifikasi pada 2011 dengan nomor registrasi PM.90/PW.007/MKP/2011. Dalam pangkalan data Budaya Aceh, statusnya tercatat sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).[1]
Penelitian lapangan tahun 2021 menggambarkan makam berada di dalam bangunan pelindung. Makam memiliki dua batu nisan dari batu alam yang tidak berukir dan pada saat penelitian ditutupi kain putih.[2]
Di sekitar makam juga terdapat sejumlah makam lain, balai, tempat berwudu, serta fasilitas yang digunakan masyarakat dalam kegiatan keagamaan dan adat.[2]
Rumah
Sekitar 250 meter dari kompleks makam terdapat sebuah Rumoh Aceh yang secara turun-temurun dikenal sebagai rumah peninggalan Teungku Chik di Reubee. Ketika diteliti pada 2021, beberapa bagian rumah mengalami kerusakan berupa atap bocor, tiang miring, dan bagian kayu yang dimakan rayap.[2]
Tongkat
Keluarga dan masyarakat Reubee juga memelihara sebuah tongkat yang dipercaya sebagai peninggalan Teungku Chik di Reubee. Tongkat tersebut disimpan di sekitar rumah peninggalannya dan berkaitan dengan sejumlah tradisi masyarakat setempat.[2]
Tradisi masyarakat
Kompleks makam Teungku Chik di Reubee masih mempunyai fungsi sosial dan keagamaan bagi masyarakat sekitar. Penelitian pada 2021 mencatat beberapa kegiatan seperti ziarah, peulheueh kaoi atau melepaskan nazar, peuphon beut atau memulai pengajian, serta kenduri blang.[2]
Keberadaan makam, rumah, tongkat, serta berbagai tradisi yang terkait dengannya menjadikan Teungku Chik di Reubee tetap menjadi salah satu tokoh penting dalam ingatan sejarah masyarakat Pidie.
Catatan
- ↑ Hubungan ini terutama disebut dalam historiografi Aceh modern; lihat bagian keluarga.
Lihat pula
- Iskandar Muda
- Tajul Alam Safiatuddin Syah
- Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil
- Alauddin al-Qahhar
- Pidie
- Dayah
- Kesultanan Aceh
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 "Makam Tgk Chik di Reubee (Syaikh Daim/Daeng Mansur)". Budaya Aceh. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Diakses tanggal 3 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Munikha (2021). Revitalisasi Makam Teungku Chik di Reubee Kecamatan Delima Kabupaten Pidie (Skripsi). Banda Aceh: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.
- 1 2 3 4 5 6 Hasjmy, A. (1975). Iskandar Muda Meukuta Alam. Jakarta: Bulan Bintang.
- 1 2 3 4 5 Djamil, M. Junus (1959). Gadjah Putih Iskandar Muda. Kutaradja: Lembaga Kebudajaan Atjeh.
- 1 2 Khan, Sher Banu A. L. (2017). Sovereign Women in a Muslim Kingdom: The Sultanahs of Aceh, 1641–1699. Singapore: NUS Press. hlm. 35–36. ISBN 9789814722209.