Senin, 21 September 2026
04:07 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Lawrensium

Lawrensium

unsur kimia dengan lambang Lr dan nomor atom 103

103Lr
Lawrensium
250px-Electron_shell_103_Lawrencium.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Konfigurasi elektron lawrensium
Sifat umum
Pengucapan/lawrènsium/[1]
Penampilankeperakan (diprediksi)[2]
Lawrensium dalam tabel periodik
Perbesar gambar

103Lr
Hidrogen Helium
Litium Berilium Boron Karbon Nitrogen Oksigen Fluorin Neon
Natrium Magnesium Aluminium Silikon Fosforus Belerang Klorin Argon
Kalium Kalsium Skandium Titanium Vanadium Kromium Mangan Besi Kobalt Nikel Tembaga Seng Galium Germanium Arsen Selenium Bromin Kripton
Rubidium Stronsium Itrium Zirkonium Niobium Molibdenum Teknesium Rutenium Rodium Paladium Perak Kadmium Indium Timah Antimon Telurium Iodin Xenon
Sesium Barium Lantanum Serium Praseodimium Neodimium Prometium Samarium Europium Gadolinium Terbium Disprosium Holmium Erbium Tulium Iterbium Lutesium Hafnium Tantalum Wolfram Renium Osmium Iridium Platina Emas Raksa Talium Timbal Bismut Polonium Astatin Radon
Fransium Radium Aktinium Torium Protaktinium Uranium Neptunium Plutonium Amerisium Kurium Berkelium Kalifornium Einsteinium Fermium Mendelevium Nobelium Lawrensium Ruterfordium Dubnium Seaborgium Bohrium Hasium Meitnerium Darmstadtium Roentgenium Kopernisium Nihonium Flerovium Moskovium Livermorium Tenesin Oganeson
Lu

Lr

(Ups)
nobeliumlawrensiumruterfordium
Lihat bagan navigasi yang diperbesar
Nomor atom (Z)103
Golongangolongan 3
Periodeperiode 7
Blokblok-d
Kategori unsur  aktinida,kadang dianggap sebagai logam transisi
Nomor massa[266]
Konfigurasi elektron[Rn] 7s2 5f14 7p1
Elektron per kelopak2, 8, 18, 32, 32, 8, 3
Sifat fisik
Fase pada STS (0 °C dan 101,325 kPa)padat
Titik lebur1900 K(1627 °C,2961 °F)(diprediksi)
Kepadatanmendekati s.k.14,4 g/cm3(diprediksi)[3]
Sifat atom
Bilangan oksidasi+3
ElektronegativitasSkala Pauling: 1,3(diprediksi)[4]
Energi ionisasike-1: 478,6 kJ/mol[5]
ke-2: 1428,0 kJ/mol(diprediksi)
ke-3: 2219,1 kJ/mol(diprediksi)
Lain-lain
Kelimpahan alamisintetis
Struktur kristalsusunan padat heksagon (hcp)
Struktur kristal Hexagonal close-packed untuk lawrensium

(diprediksi)[6]
Nomor CAS22537-19-5
Sejarah
Penamaandari E. Lawrence
PenemuanLaboratorium Nasional Lawrence Berkeley dan Joint Institute for Nuclear Research(1961–1971)
Isotop lawrensium yang utama
Iso­top Kelim­pahan Waktu paruh (t1/2) Mode peluruhan Pro­duk
254Lr sintetis 13 dtk 78% α 250Md
22% ε 254No
255Lr sintetis 21,5 dtk α 251Md
256Lr sintetis 27 dtk α 252Md
259Lr sintetis 6,2 dtk 78% α 255Md
22% SF
260Lr sintetis 2,7 mnt α 256Md
261Lr sintetis 44 mnt SF/ε?
262Lr sintetis 3,6 jam ε 262No
264Lr sintetis 3 jam[7] SF
266Lr sintetis 10 jam SF
|referensi|di Wikidata

Lawrensium adalah sebuah unsur kimia sintetis dengan lambang Lr (sebelumnya Lw) dan nomor atom 103. Unsur ini dinamai berdasarkan Ernest O. Lawrence, penemu siklotron, yaitu alat yang digunakan untuk menemukan banyak unsur radioaktif buatan. Lawrensium merupakan logam radioaktif, unsur transuranium ke-11, unsur transfermium ke-3, dan anggota terakhir dari deret aktinida. Seperti semua unsur dengan nomor atom di atas 100, lawrensium hanya dapat diproduksi di akselerator partikel dengan membombardir unsur-unsur yang lebih ringan menggunakan partikel bermuatan. Empat belas isotop lawrensium telah diketahui; yang paling stabil adalah 266Lr dengan waktu paruh 11 jam. Namun, 260Lr (waktu paruh 2,7 menit) lebih sering digunakan dalam kimia karena dapat diproduksi dalam jumlah yang lebih besar.

Eksperimen kimia mengonfirmasi bahwa lawrensium berperilaku sebagai homolog yang lebih berat dari lutesium dalam tabel periodik dan memiliki valensi tiga. Oleh karena itu, lawrensium juga dapat diklasifikasikan sebagai unsur pertama dalam logam transisi periode ke-7. Konfigurasi elektronnya tidak biasa untuk posisinya dalam tabel periodik, yaitu memiliki konfigurasi s2p, bukan konfigurasi s2d seperti homolognya, lutesium. Namun, hal ini tampaknya tidak memengaruhi sifat kimia lawrensium.

Pada tahun 1950-an, 1960-an, dan 1970-an, berbagai klaim mengenai sintesis unsur 103 dengan tingkat kualitas bukti yang berbeda-beda diajukan oleh laboratorium-laboratorium di Uni Soviet dan Amerika Serikat. Prioritas penemuan dan, akibatnya, penamaan unsur tersebut menjadi perdebatan antara ilmuwan Soviet dan Amerika. Persatuan Kimia Murni dan Terapan Internasional (IUPAC) pada awalnya menetapkan lawrencium sebagai nama resmi unsur tersebut dan memberikan pengakuan atas penemuannya kepada tim Amerika. Namun, keputusan ini dievaluasi kembali pada tahun 1992, yang menghasilkan pengakuan bersama kepada kedua tim atas penemuan tersebut, meskipun nama unsur lawrensium tetap dipertahankan.

Pengantar

Sintesis inti superberat

A graphic depiction of a nuclear fusion reaction
Gambaran grafis mengenai reaksi fusi nuklir. Dua inti atom bergabung menjadi satu dan memancarkan sebuah neutron. Reaksi-reaksi yang menghasilkan unsur-unsur baru hingga saat ini memiliki proses yang serupa, meskipun jumlah neutron yang dipancarkan dapat berbeda-beda—atau sebagai alternatif, partikel bermuatan dapat dipancarkan.[8]

Inti atom superberat[a] terbentuk dalam suatu reaksi nuklir yang menggabungkan dua inti atom dengan ukuran berbeda[b] menjadi satu inti; secara umum, semakin besar perbedaan massa kedua inti tersebut, semakin besar kemungkinan keduanya bereaksi.[14] Material yang terdiri dari inti-inti yang lebih berat dibuat menjadi target, yang kemudian ditembaki oleh berkas inti-inti yang lebih ringan. Dua inti hanya dapat berfusi menjadi satu jika keduanya berada cukup dekat satu sama lain. Biasanya, inti atom (yang semuanya bermuatan positif) saling tolak-menolak akibat tolakan elektrostatik. Interaksi kuat dapat mengatasi tolakan ini, tetapi hanya dalam jarak yang sangat pendek dari inti. Oleh karena itu, inti-inti dalam berkas dipercepat dengan sangat kuat agar tolakan tersebut menjadi tidak signifikan dibandingkan dengan kecepatan inti dalam berkas.[15] Energi yang diberikan untuk mempercepat inti-inti dalam berkas dapat membuatnya mencapai kecepatan hingga sepersepuluh kecepatan cahaya. Namun, jika energi yang diberikan terlalu besar, inti dalam berkas dapat terurai.[15]

Berada cukup dekat saja belum cukup bagi dua inti untuk berfusi. Ketika dua inti saling mendekat, biasanya keduanya hanya tetap bersama selama sekitar 10−20 detik, kemudian berpisah kembali (tidak selalu dengan komposisi yang sama seperti sebelum reaksi), alih-alih membentuk satu inti.[15][16] Hal ini terjadi karena selama upaya pembentukan satu inti, tolakan elektrostatik dapat memisahkan inti yang sedang terbentuk.[15] Setiap pasangan target dan berkas dicirikan oleh penampang lintangnya, yaitu probabilitas terjadinya fusi apabila dua inti saling mendekat, yang dinyatakan dalam bentuk luas penampang melintang yang harus terkena oleh partikel datang agar fusi terjadi.[c] Fusi ini dapat terjadi sebagai akibat efek kuantum yang memungkinkan inti-inti menembus tolakan elektrostatik melalui proses yang disebut penerowongan kuantum. Jika kedua inti dapat tetap berdekatan setelah melewati tahap tersebut, berbagai interaksi nuklir akan terjadi dan menyebabkan redistribusi energi hingga tercapai keseimbangan energi.[15]

Video luar
Visualisasi fusi nuklir yang tidak berhasil, berdasarkan perhitungan dari Universitas Nasional Australia[18]

Hasil penggabungan tersebut berada dalam keadaan tereksitasi[19]—yang disebut inti gabungan—dan karena itu sangat tidak stabil.[15] Untuk mencapai keadaan yang lebih stabil, penggabungan sementara ini dapat mengalami fisi tanpa membentuk inti yang lebih stabil.[20] Sebagai alternatif, inti gabungan dapat memancarkan beberapa neutron yang membawa pergi energi eksitasi. Jika energi tersebut tidak cukup untuk menyebabkan pelepasan neutron, inti gabungan akan memancarkan sinar gama. Proses ini terjadi sekitar 10−16 detik setelah tumbukan nuklir awal dan menghasilkan inti yang lebih stabil.[20] Definisi yang ditetapkan oleh Pihak Kerja Bersama IUPAC/IUPAP (JWP) menyatakan bahwa suatu unsur kimia hanya dapat diakui sebagai unsur yang telah ditemukan jika inti atomnya tidak meluruh dalam waktu 10−14 detik. Nilai ini dipilih sebagai perkiraan waktu yang diperlukan sebuah inti untuk memperoleh elektron dan dengan demikian menunjukkan sifat-sifat kimianya.[21][d]

Peluruhan dan deteksi

Berkas melewati target dan mencapai ruang berikutnya, yaitu pemisah; jika inti baru terbentuk, inti tersebut akan terbawa bersama berkas ini.[23] Di dalam pemisah, inti yang baru terbentuk dipisahkan dari nuklida lainnya (baik nuklida dari berkas awal maupun produk reaksi lainnya),[e] kemudian dipindahkan ke detektor perintang permukaan yang menghentikan inti tersebut. Lokasi pasti dari tumbukan yang akan terjadi pada detektor ditandai; demikian pula energi dan waktu kedatangannya.[23] Proses pemindahan berlangsung sekitar 10−6 detik; agar dapat dideteksi, inti tersebut harus bertahan hidup selama waktu tersebut.[26] Inti tersebut kemudian dicatat kembali ketika peluruhannya terdeteksi, dan lokasi, energi, serta waktu peluruhan diukur.[23]

Kestabilan suatu inti diberikan oleh interaksi kuat. Namun, jangkauan interaksi ini sangat pendek; ketika ukuran inti semakin besar, pengaruhnya terhadap nukleon terluar (proton dan neutron) semakin melemah. Pada saat yang sama, inti ditarik untuk terpecah oleh tolakan elektrostatik antarproton, dan jangkauan gaya ini tidak terbatas.[27] Energi ikat total yang diberikan oleh interaksi kuat meningkat secara linear terhadap jumlah nukleon, sedangkan tolakan elektrostatik meningkat sebanding dengan kuadrat nomor atom. Dengan kata lain, tolakan elektrostatik meningkat lebih cepat dan menjadi semakin penting pada inti berat dan superberat.[28][29] Oleh karena itu, secara teoretis inti superberat diprediksi[30] dan sejauh ini telah diamati[31] meluruh terutama melalui mode peluruhan yang disebabkan oleh tolakan tersebut, yaitu peluruhan alfa dan fisi spontan.[f] Hampir semua pemancar alfa memiliki lebih dari 210 nukleon,[33] dan nuklida paling ringan yang umumnya mengalami fisi spontan memiliki 238 nukleon.[34] Pada kedua mode peluruhan tersebut, inti dihambat untuk meluruh oleh perintang energi yang sesuai untuk masing-masing mode, tetapi inti tetap dapat melewati perintang tersebut melalui penerowongan kuantum.[28][29]

Apparatus for creation of superheavy elements
Skema peralatan untuk menghasilkan unsur superberat, yang didasarkan pada Dubna Gas-Filled Recoil Separator (DGFRS) yang dipasang di Laboratorium Reaksi Nuklir Flerov (FLNR) di JINR. Lintasan partikel di dalam detektor dan pada perangkat pemfokusan berkas berubah akibat adanya magnet dipol pada detektor dan magnet kuadrupol pada perangkat pemfokusan berkas.[35]

Partikel alfa umumnya dihasilkan dalam peluruhan radioaktif karena massa partikel alfa per nukleon cukup kecil sehingga masih terdapat sejumlah energi yang dapat digunakan sebagai energi kinetik partikel alfa untuk meninggalkan inti.[36] Fisi spontan disebabkan oleh tolakan elektrostatik yang merobek inti dan menghasilkan berbagai inti yang berbeda pada setiap peristiwa fisi dari inti-inti yang identik.[29] Seiring meningkatnya nomor atom, fisi spontan menjadi semakin penting dengan cepat: waktu paruh parsial fisi spontan berkurang sebesar 23 orde besaran dari uranium (unsur 92) hingga nobelium (unsur 102),[37] dan sebesar 30 orde besaran dari torium (unsur 90) hingga fermium (unsur 100).[38] Model tetesan cair yang lebih awal kemudian menyatakan bahwa fisi spontan akan terjadi hampir seketika karena hilangnya perintang fisi pada inti yang memiliki sekitar 280 nukleon.[29][39] Model kulit inti yang muncul kemudian menyatakan bahwa inti dengan sekitar 300 nukleon akan membentuk pulau kestabilan, tempat inti-inti akan lebih tahan terhadap fisi spontan dan umumnya mengalami peluruhan alfa dengan waktu paruh yang lebih panjang.[29][39] Penemuan-penemuan berikutnya menunjukkan bahwa pulau kestabilan yang diprediksi mungkin berada lebih jauh daripada perkiraan awal. Penemuan tersebut juga menunjukkan bahwa inti yang berada di antara aktinida berumur panjang dan pulau kestabilan yang diprediksi memiliki bentuk terdeformasi serta memperoleh kestabilan tambahan dari efek kulit.[40] Eksperimen terhadap inti superberat yang lebih ringan,[41] serta inti yang lebih dekat dengan pulau kestabilan yang diperkirakan,[37] menunjukkan kestabilan terhadap fisi spontan yang lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini menunjukkan pentingnya efek kulit pada inti.[g]

Peluruhan alfa dideteksi melalui partikel alfa yang dipancarkan, dan produk peluruhan dapat dengan mudah ditentukan sebelum peluruhan yang sebenarnya terjadi. Jika peluruhan tersebut, atau serangkaian peluruhan berturut-turut, menghasilkan inti yang telah diketahui, maka produk awal dari suatu reaksi dapat dengan mudah ditentukan.[h] Hubungan antara semua peluruhan dalam suatu rantai peluruhan dapat dipastikan berdasarkan lokasi peluruhan tersebut, yang harus terjadi di inti yang telah diketahui dapat dikenali berdasarkan karakteristik spesifik peluruhan yang dialaminya, seperti energi peluruhan atau, lebih khusus lagi, energi kinetik partikel yang dipancarkan.[i] Namun, fisi spontan menghasilkan berbagai inti sebagai produk, sehingga nuklida awal tidak dapat ditentukan berdasarkan inti-inti hasil peluruhannya.[j]

Dengan demikian, informasi yang tersedia bagi para fisikawan yang bertujuan mensintesis unsur superberat adalah informasi yang dikumpulkan oleh detektor: lokasi, energi, dan waktu kedatangan suatu partikel ke detektor, serta lokasi, energi, dan waktu peluruhannya. Para fisikawan menganalisis data tersebut dan berusaha menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut memang disebabkan oleh unsur baru dan tidak mungkin disebabkan oleh nuklida lain selain yang diklaim. Sering kali, data yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan dengan pasti bahwa unsur baru telah berhasil diciptakan, meskipun tidak terdapat penjelasan lain untuk efek yang diamati. Kesalahan dalam menafsirkan data juga pernah terjadi.[k]

Sejarah

250px-96904536.thumb3.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Albert Ghiorso sedang memperbarui tabel periodik pada April 1961 dan menuliskan lambang "Lw" sebagai unsur ke-103. Para ilmuwan yang turut menemukan unsur tersebut, yaitu Latimer, Sikkeland, dan Larsh (dari kiri ke kanan), terlihat menyaksikan proses tersebut.

Pada tahun 1958, para ilmuwan di Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley mengklaim telah menemukan unsur 102, yang sekarang disebut nobelium. Pada saat yang sama, mereka juga mencoba mensintesis unsur 103 dengan membombardir target kurium yang sama menggunakan ion 14N. Delapan belas jejak teramati, dengan energi peluruhan sekitar 9±1 MeV dan waktu paruh sekitar 0,25 detik. Tim Berkeley mencatat bahwa hasil tersebut mungkin disebabkan oleh terbentuknya isotop unsur 103, tetapi kemungkinan lain juga belum dapat dikesampingkan. Data tersebut cukup sesuai dengan data yang kemudian ditemukan untuk 257Lr (energi peluruhan alfa 8,87 MeV dan waktu paruh 0,6 detik). Namun, bukti yang diperoleh dalam eksperimen ini masih jauh dari cukup untuk membuktikan secara meyakinkan bahwa unsur 103 telah berhasil disintesis. Eksperimen lanjutan tidak dilakukan karena target telah hancur.[52][53] Kemudian, pada tahun 1960, Laboratorium Lawrence Berkeley mencoba menyintesis unsur tersebut dengan membombardir 252Cf menggunakan 10B dan 11B. Hasil eksperimen ini juga tidak memberikan kesimpulan yang pasti.[52]

Penelitian penting pertama mengenai unsur 103 dilakukan di Berkeley oleh tim fisika nuklir yang terdiri dari Albert Ghiorso, Torbjørn Sikkeland, Almon Larsh, Robert M. Latimer, dan rekan-rekan mereka pada 14 Februari 1961.[54] Atom-atom pertama lawrensium dilaporkan berhasil dibuat dengan membombardir target seberat 3 mg yang terdiri atas tiga isotop kalifornium menggunakan inti 10B dan 11B dari Heavy Ion Linear Accelerator (HILAC).[55] Tim Berkeley melaporkan bahwa isotop 257Lr berhasil terdeteksi dengan cara tersebut dan meluruh dengan memancarkan partikel alfa berenergi 8,6 MeV serta memiliki waktu paruh 8±2 detik.[53] Identifikasi ini kemudian dikoreksi menjadi 258Lr,[55] karena penelitian selanjutnya membuktikan bahwa 257Lr tidak memiliki sifat-sifat yang terdeteksi tersebut, sedangkan 258Lr memilikinya.[53] Pada saat itu, hasil ini dianggap sebagai bukti yang meyakinkan bahwa unsur 103 telah berhasil disintesis. Meskipun penentuan nomor massa masih kurang pasti dan akhirnya terbukti keliru, hal tersebut tidak mengubah argumen bahwa unsur 103 memang telah berhasil disintesis. Para ilmuwan di Institut Bersama untuk Riset Nuklir (JINR) di Dubna, yang saat itu berada di Uni Soviet, mengajukan beberapa kritik. Hampir semua kritik tersebut berhasil dijawab dengan baik, kecuali satu. Isotop 252Cf merupakan isotop yang paling banyak terdapat dalam target, dan dalam reaksi dengan 10B, 258Lr hanya dapat terbentuk dengan melepaskan empat neutron. Pelepasan tiga neutron diperkirakan jauh lebih kecil kemungkinannya dibandingkan pelepasan empat atau lima neutron. Hal ini seharusnya menghasilkan kurva hasil produksi yang sempit, bukan kurva lebar seperti yang dilaporkan oleh tim Berkeley. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa jumlah peristiwa yang dikaitkan dengan unsur 103 sebenarnya rendah.[53] Eksperimen ini merupakan langkah penting menuju penemuan unsur 103 yang akhirnya tidak lagi diperdebatkan, meskipun bukti pada tahap tersebut belum sepenuhnya meyakinkan.[53] Tim Berkeley mengusulkan nama "lawrencium" dengan lambang "Lw", untuk menghormati Ernest O. Lawrence, penemu siklotron. Komisi IUPAC untuk Tata Nama Kimia Anorganik menerima nama tersebut, tetapi mengubah lambangnya menjadi "Lr".[56] Penerimaan atas penemuan tersebut kemudian dianggap terlalu tergesa-gesa oleh tim Dubna.[53]

252
98
Cf
+ 11
5
B
263
103
Lr
* → 258
103
Lr
+ 5 1
0
n

Penelitian pertama mengenai unsur 103 di Dubna dilakukan pada tahun 1965. Mereka melaporkan telah menghasilkan 256Lr dengan membombardir 243Am menggunakan 18O. Isotop tersebut diidentifikasi secara tidak langsung melalui produk peluruhan turunannya, 252Fm. Waktu paruh yang dilaporkan agak terlalu panjang, kemungkinan disebabkan oleh peristiwa latar belakang. Penelitian lanjutan pada tahun 1967 dengan reaksi yang sama mengidentifikasi dua rentang energi peluruhan, yaitu 8,35–8,50 MeV dan 8,50–8,60 MeV. Kedua rentang tersebut masing-masing dikaitkan dengan 256Lr dan 257Lr.[53] Meskipun dilakukan percobaan berulang kali, mereka tidak berhasil memastikan bahwa pemancar alfa dengan waktu paruh 8 detik benar-benar merupakan 257Lr.[57][58] Pada tahun 1967, ilmuwan Rusia mengusulkan nama "rutherfordium" untuk unsur baru tersebut;[52][59] nama ini kemudian diusulkan oleh Berkeley untuk unsur 104.[59]

243
95
Am
+ 18
8
O
261
103
Lr
* → 256
103
Lr
+ 5 1
0
n

Eksperimen lebih lanjut pada tahun 1969 di Dubna dan pada tahun 1970 di Berkeley menunjukkan bahwa unsur baru tersebut memiliki sifat kimia aktinida. Dengan demikian, pada tahun 1970 diketahui bahwa unsur 103 merupakan unsur terakhir dalam deret aktinida.[53][60] Pada tahun yang sama, kelompok Dubna melaporkan sintesis 255Lr dengan waktu paruh 20 detik dan energi peluruhan alfa 8,38 MeV.[53] Namun, baru pada tahun 1971 tim fisika nuklir di Universitas California, Berkeley, berhasil melakukan serangkaian eksperimen lengkap untuk mengukur sifat peluruhan inti dari isotop-isotop lawrensium dengan nomor massa 255 hingga 260.[61][62] Hasilnya mengonfirmasi seluruh hasil sebelumnya dari Berkeley dan Dubna, kecuali penentuan awal yang keliru oleh kelompok Berkeley yang mengidentifikasi isotop pertama mereka sebagai 257Lr, padahal kemungkinan besar isotop tersebut adalah 258Lr.[53] Semua keraguan terakhir akhirnya hilang pada tahun 1976 dan 1977, ketika energi sinar-X yang dipancarkan oleh 258Lr berhasil diukur.[53]

250px-Ernest_Lawrence.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Unsur ini dinamai dari Ernest O. Lawrence.

Pada tahun 1971, IUPAC memberikan pengakuan atas penemuan lawrensium kepada Laboratorium Lawrence Berkeley, meskipun data yang mereka miliki belum ideal untuk membuktikan keberadaan unsur tersebut. Namun, pada tahun 1992, IUPAC Transfermium Working Group (TWG) secara resmi mengakui tim fisika nuklir dari Dubna dan Berkeley sebagai penemu bersama lawrensium. TWG menyimpulkan bahwa eksperimen Berkeley pada tahun 1961 merupakan langkah penting dalam penemuan lawrensium, tetapi belum sepenuhnya meyakinkan. Sementara itu, eksperimen Dubna pada tahun 1965, 1968, dan 1970 secara keseluruhan sudah sangat mendekati tingkat kepastian yang diperlukan. Akan tetapi, hanya eksperimen Berkeley pada tahun 1971 yang berhasil menjelaskan dan mengonfirmasi pengamatan sebelumnya sehingga memberikan keyakinan penuh terhadap penemuan unsur 103.[52][56] Karena nama "lawrencium" telah lama digunakan pada saat itu, IUPAC memutuskan untuk mempertahankannya.[52] Pada Agustus 1997, IUPAC secara resmi meratifikasi nama "lawrencium" dan lambang "Lr" dalam sebuah pertemuan di Jenewa.[56]

Karakteristik

Sifat fisik

Lawrensium merupakan unsur terakhir dalam deret aktinida. Para penulis yang membahas unsur ini umumnya menggolongkannya sebagai unsur golongan 3, bersama dengan skandium, itrium, dan lutesium. Hal ini karena kulit elektron-f-nya yang telah terisi diperkirakan membuat lawrensium memiliki kemiripan dengan logam transisi periode ke-7 lainnya. Dalam tabel periodik, lawrensium terletak di sebelah kanan aktinida nobelium, di sebelah kiri logam transisi 6d ruterfordium, dan tepat di bawah lantanida lutesium. Lawrensium diperkirakan memiliki banyak sifat fisik dan kimia yang sama dengan lutesium. Lawrensium diperkirakan berbentuk padat pada kondisi normal dan memiliki struktur kristal susunan padat heksagon (c/a = 1,58), mirip dengan lutesium sebagai kongenernya yang lebih ringan. Namun, struktur ini belum diketahui secara eksperimen.[6] Entalpi sublimasi lawrensium diperkirakan sekitar 352 kJ/mol, yang mendekati nilai lutesium. Hal ini menunjukkan bahwa lawrensium dalam bentuk logam kemungkinan bersifat trivalen, dengan tiga elektron yang terdelokalisasi. Prediksi ini juga didukung oleh ekstrapolasi sistematis nilai kalor penguapan, modulus curah, dan volume atom dari unsur-unsur di sekitarnya.[63] Sifat tersebut membedakan lawrensium dari aktinida-aktinida akhir yang berada tepat sebelumnya. Fermium dan mendelevium diketahui bersifat divalen, sedangkan nobelium juga diperkirakan bersifat divalen.[64] Perkiraan entalpi penguapan menunjukkan bahwa lawrensium menyimpang dari pola aktinida akhir dan justru mengikuti pola unsur-unsur 6d berikutnya, yaitu ruterfordium dan dubnium.[65][66] Hal ini mendukung penggolongan lawrensium sebagai unsur golongan 3.[66] Sebagian ilmuwan bahkan lebih memilih untuk mengakhiri deret aktinida pada nobelium dan menganggap lawrensium sebagai logam transisi pertama pada periode ke-7.[67][68]

Lawrensium diperkirakan merupakan logam berwarna keperakan dan trivalen yang mudah teroksidasi oleh udara, uap air, dan asam.[69] Unsur ini diperkirakan memiliki volume atom yang mirip dengan lutesium serta jari-jari atom logam trivalen sekitar 171 pm.[63] Lawrensium juga diperkirakan merupakan logam yang cukup berat dengan massa jenis sekitar 14,4 g/cm3.[3] Titik leburnya diperkirakan sekitar 1.900 K (1.630 °C), yang tidak jauh berbeda dari lutesium, yaitu sekitar 1.925 K (1.652 °C).[70]

Sifat kimia

F-block_elution_sequence.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Urutan elusi lantanida dan aktinida trivalen akhir, menggunakan amonium α-HIB sebagai eluen: kurva putus-putus untuk lawrensium merupakan hasil prediksi.

Pada tahun 1949, Glenn T. Seaborg, ilmuwan yang mengembangkan konsep aktinida, memprediksi bahwa unsur 103 (lawrensium) seharusnya menjadi unsur terakhir dalam deret aktinida dan bahwa ion Lr3+ seharusnya memiliki kestabilan yang kurang lebih sama dengan Lu3+ dalam larutan berair. Baru beberapa dekade kemudian unsur 103 berhasil disintesis secara meyakinkan dan prediksi tersebut dikonfirmasi melalui eksperimen.[71]

Penelitian terhadap unsur ini yang dilakukan pada tahun 1969 menunjukkan bahwa lawrensium bereaksi dengan klorin membentuk suatu produk yang kemungkinan besar merupakan triklorida, LrCl3. Volatilitasnya ditemukan mirip dengan klorida kurium, fermium, dan nobelium, serta jauh lebih rendah dibandingkan klorida ruterfordium. Pada tahun 1970, penelitian kimia dilakukan menggunakan sekitar 1.500 atom 256Lr dan membandingkannya dengan unsur-unsur yang bersifat divalen (No, Ba, Ra), trivalen (Fm, Cf, Cm, Am, Ac), dan tetravalen (Th, Pu). Ditemukan bahwa lawrensium ikut terekstraksi bersama ion-ion trivalen. Namun, waktu paruh 256Lr yang pendek membuat para peneliti tidak dapat memastikan bahwa lawrensium terelusi sebelum Md3+ dalam urutan elusi.[71] Dalam larutan berair, lawrensium berada sebagai ion trivalen Lr3+. Oleh karena itu, senyawanya seharusnya memiliki kemiripan dengan senyawa aktinida trivalen lainnya. Sebagai contoh, lawrensium(III) fluorida (LrF3) dan hidroksida (Lr(OH)3) diperkirakan sama-sama tidak larut dalam air.[71] Karena adanya kontraksi aktinida, jari-jari ion Lr3+ seharusnya lebih kecil daripada Md3+. Oleh sebab itu, ketika amonium α-hidroksiisobutirat (amonium α-HIB) digunakan sebagai eluen, Lr3+ seharusnya terelusi sebelum Md3+.[71] Eksperimen pada tahun 1987 menggunakan isotop 260Lr yang memiliki waktu paruh lebih panjang mengonfirmasi bahwa lawrensium bersifat trivalen dan terelusi pada posisi yang kurang lebih sama dengan erbium. Penelitian tersebut menemukan bahwa jari-jari ion lawrensium adalah 88,6±0,3 pm, lebih besar daripada yang diperkirakan berdasarkan ekstrapolasi sederhana dari tren periodik.[71] Eksperimen lanjutan pada tahun 1988 dengan jumlah atom lawrensium yang lebih banyak memperbaiki nilai tersebut menjadi 88,1±0,1 pm dan menghasilkan nilai entalpi hidrasi sebesar −3685±13 kJ/mol.[71] Ditemukan pula bahwa kontraksi aktinida pada bagian akhir deret aktinida lebih besar daripada kontraksi lantanida yang sebanding, kecuali pada aktinida terakhir, yaitu lawrensium. Penyebabnya diduga berkaitan dengan efek relativistik.[71]

Diperkirakan bahwa elektron 7s mengalami stabilisasi relativistik. Akibatnya, dalam kondisi reduktif, hanya elektron 7p1/2 yang mungkin terionisasi sehingga menghasilkan ion monovalen Lr+. Namun, seluruh eksperimen yang mencoba mereduksi Lr3+ menjadi Lr2+ atau Lr+ dalam larutan berair tidak berhasil. Hal serupa juga terjadi pada lutesium. Berdasarkan hasil tersebut, potensial elektroda standar pasangan E°(Lr3+ → Lr+) dihitung kurang dari −1,56 V, yang menunjukkan bahwa keberadaan ion Lr+ dalam larutan berair kemungkinan tidak stabil. Batas atas untuk pasangan E°(Lr3+ → Lr2+) diperkirakan sebesar −0,44 V. Sementara itu, nilai E°(Lr3+ → Lr) dan E°(Lr4+ → Lr3+) masing-masing diperkirakan sebesar −2,06 V dan +7,9 V.[71] Kestabilan keadaan oksidasi golongan pada deret logam transisi 6d menurun dengan urutan RfIV > DbV > SgVI. Lawrensium melanjutkan kecenderungan tersebut, dengan keadaan LrIII lebih stabil daripada RfIV.[72]

Dalam molekul lawrensium dihidrida (LrH2) yang diprediksi memiliki bentuk bengkok, orbital 6d lawrensium diperkirakan tidak berperan penting dalam pembentukan ikatan, berbeda dengan yang terjadi pada lantanum dihidrida (LaH2). LaH2 memiliki panjang ikatan La–H sebesar 2,158 Å, sedangkan LrH2 diperkirakan memiliki ikatan Lr–H yang lebih pendek, yaitu sekitar 2,042 Å. Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan stabilisasi relativistik orbital 7s dan 7p yang terlibat dalam pembentukan ikatan. Sebaliknya, subkulit 5f bersifat seperti inti dan subkulit 6d sebagian besar tidak terlibat. Secara umum, molekul LrH2 dan LrH diperkirakan lebih menyerupai spesi talium yang bersesuaian daripada spesi lantanida yang bersesuaian. Talium memiliki konfigurasi valensi gas 6s26p1, yang analog dengan konfigurasi 7s27p1 lawrensium.[73] Konfigurasi elektron Lr+ dan Lr2+ masing-masing diperkirakan adalah 7s2 dan 7s1. Namun, pada spesi ketika ketiga elektron valensi lawrensium terionisasi sehingga secara formal menghasilkan kation Lr3+, lawrensium diperkirakan akan berperilaku seperti aktinida pada umumnya dan sebagai homolog yang lebih berat dari lutesium. Hal ini terutama karena tiga potensial ionisasi pertama lawrensium diperkirakan serupa dengan lutesium. Oleh karena itu, berbeda dengan talium tetapi serupa dengan lutesium, lawrensium diperkirakan lebih cenderung membentuk LrH3 daripada LrH. Senyawa LrCO juga diperkirakan memiliki kemiripan dengan LuCO, yang juga belum diketahui. Kedua logam tersebut memiliki konfigurasi valensi σ2π1 dalam senyawa monokarbonilnya. Ikatan pπ–dπ diperkirakan terdapat dalam LrCl3, sebagaimana terdapat pada LuCl3 dan secara umum pada senyawa LnCl3. Anion kompleks [Lr(C5H4SiMe3)3] diperkirakan stabil dengan konfigurasi 6d1 pada lawrensium. Orbital 6d tersebut diperkirakan menjadi orbital molekul terisi tertinggi pada lawrensium. Struktur elektronik ini analog dengan struktur elektronik senyawa lutesium yang bersesuaian.[74]

Sifat atom

Lawrensium memiliki tiga elektron valensi; elektron 5f berada di dalam inti atom.[75] Pada tahun 1970, diprediksi bahwa konfigurasi elektron keadaan dasar lawrensium adalah [Rn]5f146d17s2 (simbol suku keadaan dasar 2D3/2), sesuai dengan prinsip Aufbau dan mengikuti konfigurasi [Xe]4f145d16s2 dari homolog lawrensium yang lebih ringan, yaitu lutesium.[76] Namun, pada tahun berikutnya, diterbitkan perhitungan yang mempertanyakan prediksi tersebut. Perhitungan tersebut justru memperkirakan konfigurasi yang tidak biasa, yaitu [Rn]5f147s27p1.[76] Meskipun perhitungan awal memberikan hasil yang saling bertentangan,[77] penelitian dan perhitungan yang lebih baru mengonfirmasi dugaan konfigurasi s2p.[78][79] Perhitungan relativistik pada tahun 1974 menyimpulkan bahwa perbedaan energi antara kedua konfigurasi tersebut sangat kecil sehingga belum dapat dipastikan mana yang merupakan keadaan dasar.[76] Perhitungan selanjutnya pada tahun 1995 menyimpulkan bahwa konfigurasi s2p seharusnya lebih stabil secara energi. Hal ini disebabkan orbital s dan p1/2 yang berbentuk hampir bulat berada paling dekat dengan inti atom sehingga bergerak cukup cepat dan mengalami peningkatan massa relativistik yang signifikan.[76]

Pada tahun 1988, sebuah tim ilmuwan yang dipimpin oleh Eichler menghitung bahwa entalpi adsorpsi lawrensium pada permukaan logam akan berbeda cukup besar bergantung pada konfigurasi elektronnya. Perbedaan tersebut memungkinkan dilakukannya eksperimen untuk menentukan konfigurasi elektron lawrensium berdasarkan sifat tersebut.[76] Konfigurasi s2p diperkirakan membuat lawrensium lebih mudah menguap dibandingkan konfigurasi s2d dan lebih menyerupai unsur blok-p, yaitu timbal. Namun, tidak ditemukan bukti bahwa lawrensium bersifat mudah menguap. Batas bawah entalpi adsorpsi lawrensium pada kuarsa atau platina juga ditemukan jauh lebih tinggi daripada nilai yang diperkirakan untuk konfigurasi s2p.[76]

960px-First_Ionization_Energy_blocks.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Energi ionisasi pertama yang diplot terhadap nomor atom, dalam satuan eV. Nilai yang diprediksi digunakan untuk unsur-unsur setelah ruterfordium (unsur 104). Lawrensium (unsur 103) memiliki energi ionisasi pertama yang sangat rendah, sehingga lebih sesuai dengan awal tren blok-d daripada dengan akhir tren blok-f sebelumnya.[80]

Pada tahun 2015, energi ionisasi pertama lawrensium berhasil diukur menggunakan isotop 256Lr.[81] Nilai yang diperoleh adalah 4,96+0,08−0,07 eV, yang sangat sesuai dengan prediksi teoretis relativistik sebesar 4,963(15) eV. Pengukuran ini juga menjadi langkah awal dalam pengukuran energi ionisasi pertama unsur-unsur transaktinida.[81] Nilai tersebut merupakan yang terendah di antara seluruh lantanida dan aktinida. Hasil ini mendukung konfigurasi s2p karena elektron 7p1/2 diperkirakan hanya terikat secara lemah. Karena energi ionisasi umumnya meningkat dari kiri ke kanan pada blok-f, nilai yang rendah ini menunjukkan bahwa lutesium dan lawrensium lebih tepat ditempatkan dalam blok-d, sesuai dengan tren yang mereka ikuti, bukan dalam blok-f. Hal tersebut berarti lutesium dan lawrensium merupakan homolog yang lebih berat dari skandium dan itrium, bukan dari lantanium dan aktinium.[80] Meskipun beberapa perilaku yang menyerupai logam alkali telah diprediksi,[82] eksperimen adsorpsi menunjukkan bahwa lawrensium bersifat trivalen, seperti skandium dan itrium, bukan monovalen seperti logam alkali.[65] Pada tahun 2021, batas bawah energi ionisasi kedua lawrensium (>13,3 eV) juga berhasil ditentukan secara eksperimen.[83]

Meskipun konfigurasi s2p diketahui sebagai konfigurasi keadaan dasar atom lawrensium, konfigurasi ds2 diperkirakan merupakan konfigurasi keadaan tereksitasi berenergi rendah. Energi eksitasinya dihitung secara berbeda dalam berbagai penelitian, yaitu sekitar 0.156 eV, 0,165 eV, atau 0,626 eV.[74] Oleh karena itu, lawrensium masih dapat dianggap sebagai unsur blok-d, meskipun memiliki konfigurasi elektron yang tidak biasa, seperti yang juga terjadi pada kromium atau tembaga. Hal ini disebabkan oleh perilaku kimianya yang sesuai dengan prediksi bahwa lawrensium merupakan analog yang lebih berat dari lutesium.[66]

Isotop

Artikel utama: Isotop lawrensium

Empat belas isotop lawrensium telah diketahui, dengan nomor massa 251–262, 264, dan 266; semuanya bersifat radioaktif.[84][85][86] Tujuh isomer nuklir telah diketahui. Isotop yang berumur paling panjang, 266Lr, memiliki waktu paruh sekitar 10 jam dan merupakan salah satu isotop superberat berumur paling panjang yang diketahui.[87] Namun, isotop-isotop yang berumur lebih pendek biasanya digunakan dalam eksperimen kimia karena 266Lr hanya dapat diproduksi sebagai produk peluruhan akhir dari unsur-unsur yang bahkan lebih berat dan lebih sulit dibuat: isotop ini ditemukan pada tahun 2014 dalam rantai peluruhan 294Ts.[84][85] 256Lr (waktu paruh 27 detik) digunakan dalam penelitian kimia pertama terhadap lawrensium; 260Lr yang berumur lebih panjang (waktu paruh 2,7 menit) biasanya digunakan untuk keperluan ini.[84] Setelah 266Lr, isotop-isotop yang berumur paling panjang adalah 264Lr (4,8+2,2
−1,3
jam), 262Lr (3,6 jam), dan 261Lr (44 menit).[84][88][89] Semua isotop lawrensium lainnya yang telah diketahui memiliki waktu paruh kurang dari 5 menit, dan yang berumur paling pendek (251Lr) memiliki waktu paruh 24,4 milidetik.[86][88][89][90] Waktu paruh isotop-isotop lawrensium sebagian besar meningkat secara bertahap dari 251Lr hingga 266Lr, dengan penurunan dari 257Lr hingga 259Lr.[84][88][89]

Pembuatan dan pemurnian

Sebagian besar isotop lawrensium dapat diproduksi dengan membombardir target aktinida (dari amerisium hingga einsteinium) dengan ion ringan (dari boron hingga neon). Dua isotop yang paling penting, 256Lr dan 260Lr, masing-masing dapat diproduksi dengan membombardir 249Cf dengan ion 11B berenergi 70 MeV (menghasilkan 256Lr dan empat neutron) serta dengan membombardir 249Bk dengan 18O (menghasilkan 260Lr, sebuah partikel alfa, dan tiga neutron).[91] Dua isotop terberat dan berumur paling panjang yang diketahui, 264Lr dan 266Lr, hanya dapat diproduksi dengan hasil yang jauh lebih rendah sebagai produk peluruhan dubnium, yang prekursor pembentuknya adalah isotop moskovium dan tenesin.

Baik 256Lr maupun 260Lr memiliki waktu paruh yang terlalu singkat untuk memungkinkan proses pemurnian kimia secara lengkap. Oleh karena itu, eksperimen awal dengan 256Lr menggunakan ekstraksi pelarut secara cepat, dengan zat pengelat tenoiltrifluoroaseton (TTA) yang dilarutkan dalam metil isobutil keton (MIBK) sebagai fase organik, sedangkan fase berair berupa larutan asetat yang diberi penyangga. Ion-ion dengan muatan berbeda (+2, +3, atau +4) kemudian akan terekstraksi ke dalam fase organik pada rentang pH yang berbeda, tetapi metode ini tidak dapat memisahkan aktinida trivalen sehingga 256Lr harus diidentifikasi berdasarkan partikel alfa berenergi 8,24 MeV yang dipancarkannya.[91] Metode yang lebih baru memungkinkan elusi selektif secara cepat menggunakan α-HIB dilakukan dalam waktu yang cukup untuk memisahkan isotop 260Lr yang berumur lebih panjang, yang dapat dilepaskan dari foil penangkap menggunakan asam klorida 0,05 M.[91]

Lihat pula

Catatan

  1. Dalam fisika nuklir, suatu unsur disebut berat jika nomor atomnya tinggi; timbal (unsur 82) adalah salah satu contoh unsur berat tersebut. Istilah "unsur superberat" biasanya mengacu pada unsur dengan nomor atom lebih besar dari 103 (meskipun ada definisi lain, seperti nomor atom lebih besar dari 100[9] atau 112;[10] terkadang istilah ini dianggap setara dengan istilah "transaktinida", yang menetapkan batas atas sebelum dimulainya deret superaktinida yang masih bersifat hipotetis).[11] Istilah "isotop berat" (dari suatu unsur tertentu) dan "inti berat" memiliki makna yang pada dasarnya dapat dipahami dalam penggunaan bahasa umum, yaitu masing-masing merujuk pada isotop dengan massa tinggi (untuk unsur tersebut) dan inti atom dengan massa tinggi.
  2. Pada tahun 2009, sebuah tim di JINR yang dipimpin oleh Oganessian mempublikasikan hasil percobaan mereka untuk menciptakan hasium melalui reaksi simetris 136Xe + 136Xe. Mereka tidak berhasil mengamati satu atom pun dalam reaksi tersebut, sehingga batas atas penampang lintang—yang merupakan ukuran probabilitas terjadinya suatu reaksi nuklir—ditetapkan sebesar 2,5 pb.[12] Sebagai perbandingan, reaksi yang menghasilkan penemuan hasium, yaitu 208Pb + 58Fe, memiliki penampang lintang sekitar 20 pb (lebih tepatnya 19+19-11 pb), berdasarkan perkiraan para penemunya.[13]
  3. Besarnya energi yang diberikan pada partikel berkas untuk mempercepatnya juga dapat memengaruhi nilai penampang lintang. Sebagai contoh, dalam reaksi 28
    14
    Si
    + 1
    0
    n
    28
    13
    Al
    + 1
    1
    p
    , penampang lintang berubah secara bertahap dari 370 mb pada 12,3 MeV menjadi 160 mb pada 18,3 MeV, dengan puncak yang lebar pada 13,5 MeV dan nilai maksimum sebesar 380 mb.[17]
  4. Gambar ini juga menunjukkan batas atas masa hidup inti gabungan yang secara umum diterima.[22]
  5. Pemisahan ini didasarkan pada kenyataan bahwa inti yang dihasilkan bergerak melewati target dengan kecepatan lebih lambat dibandingkan dengan inti berkas yang tidak bereaksi. Pemisah tersebut memiliki medan listrik dan medan magnet yang pengaruhnya terhadap partikel yang bergerak saling meniadakan pada kecepatan tertentu dari partikel tersebut.[24] Pemisahan ini juga dapat dibantu dengan pengukuran waktu terbang dan pengukuran energi rekoil; kombinasi keduanya dapat digunakan untuk memperkirakan massa suatu inti.[25]
  6. Tidak semua mode peluruhan disebabkan oleh tolakan elektrostatik. Sebagai contoh, peluruhan beta disebabkan oleh interaksi lemah.[32]
  7. Pada tahun 1960-an, telah diketahui bahwa keadaan dasar inti berbeda dalam hal energi dan bentuk, serta bahwa bilangan ajaib tertentu dari nukleon berkaitan dengan kestabilan inti yang lebih tinggi. Namun, pada saat itu diasumsikan bahwa tidak terdapat struktur inti pada inti superberat, karena inti-inti tersebut dianggap terlalu terdeformasi untuk membentuk suatu struktur.[37]
  8. Karena massa inti tidak diukur secara langsung, melainkan dihitung berdasarkan massa inti lain, pengukuran semacam ini disebut pengukuran tidak langsung. Pengukuran langsung juga memungkinkan dilakukan, tetapi sebagian besar masih belum tersedia untuk inti superberat.[42] Pengukuran langsung pertama terhadap massa inti superberat dilaporkan pada tahun 2018 di LBNL.[43] Massa ditentukan berdasarkan posisi inti setelah mengalami perpindahan; posisi tersebut membantu menentukan lintasannya, yang berkaitan dengan rasio massa terhadap muatan inti, karena proses perpindahan berlangsung dalam medan magnet.[44]
  9. Jika peluruhan terjadi dalam ruang hampa, maka karena momentum total suatu sistem terisolasi harus tetap terjaga sebelum dan sesudah peluruhan, inti anak (produk peluruhan) juga akan memperoleh kecepatan kecil. Perbandingan kedua kecepatan tersebut, dan dengan demikian perbandingan energi kinetiknya, akan berbanding terbalik dengan perbandingan kedua massanya. Energi peluruhan sama dengan jumlah energi kinetik partikel alfa yang telah diketahui dan energi kinetik inti anak (yang merupakan pecahan tertentu secara tepat dari energi kinetik partikel alfa).[33] Perhitungan ini juga berlaku dalam suatu eksperimen, tetapi perbedaannya adalah inti tidak bergerak setelah peluruhan karena terikat pada detektor.
  10. Fisi spontan ditemukan oleh fisikawan Soviet Georgy N. Flerov,[45] seorang ilmuwan terkemuka di JINR, sehingga fisi spontan menjadi semacam "hobi utama" (hobbyhorse) bagi fasilitas tersebut.[46] Sebaliknya, para ilmuwan LBNL berpendapat bahwa informasi mengenai fisi tidak cukup untuk menjadi dasar klaim atas sintesis suatu unsur. Mereka menganggap fisi spontan belum cukup dipelajari untuk digunakan dalam mengidentifikasi unsur baru, karena terdapat kesulitan dalam memastikan bahwa inti gabungan hanya melepaskan neutron dan tidak melepaskan partikel bermuatan seperti proton atau partikel alfa.[22] Oleh karena itu, mereka lebih memilih menghubungkan isotop-isotop baru dengan isotop yang sudah diketahui melalui peluruhan alfa secara berturut-turut.[45]
  11. Sebagai contoh, unsur 102 secara keliru diidentifikasi pada tahun 1957 di Nobel Institute of Physics di Stockholm, Daerah Stockholm, Swedia.[47] Sebelumnya tidak ada klaim definitif mengenai penciptaan unsur ini, dan unsur tersebut diberi nama oleh para penemunya yang berasal dari Swedia, Amerika, dan Inggris, yaitu nobelium. Namun, kemudian terbukti bahwa identifikasi tersebut tidak benar.[48] Pada tahun berikutnya, RL tidak berhasil mereproduksi hasil penelitian Swedia tersebut dan sebagai gantinya mengumumkan sintesis unsur tersebut; klaim itu juga kemudian terbukti tidak benar.[48] JINR bersikeras bahwa merekalah yang pertama kali menciptakan unsur tersebut dan mengusulkan nama mereka sendiri untuk unsur baru itu, yaitu joliotium.[49] Nama yang diusulkan oleh pihak Soviet tersebut juga tidak diterima. JINR kemudian menyebut pemberian nama unsur 102 tersebut sebagai tindakan yang "terburu-buru").[50] Nama tersebut diusulkan kepada IUPAC dalam tanggapan tertulis terhadap keputusan mereka mengenai prioritas klaim penemuan unsur-unsur, yang ditandatangani pada 29 September 1992.[50] Nama "nobelium" tetap dipertahankan karena sudah digunakan secara luas.[51]

Referensi

  1. (Indonesia) "Lawrensium". KBBI Daring. Diakses tanggal 17 Juli 2022.
  2. Emsley, John (2011). Nature's Building Blocks: An A-Z Guide to the Elements (Edisi New). New York, NY: Oxford University Press. hlm. 278–279. ISBN 978-0-19-960563-7.
  3. 1 2 Gyanchandani, Jyoti; Sikka, S. K. (10 Mei 2011). "Physical properties of the 6 d -series elements from density functional theory: Close similarity to lighter transition metals". Physical Review B. 83 (17): 172101. Bibcode:2011PhRvB..83q2101G. doi:10.1103/PhysRevB.83.172101.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  4. Brown, Geoffrey (2012). The Inaccessible Earth: An integrated view to its structure and composition. Springer Science & Business Media. hlm. 88. ISBN 9789401115162.
  5. http://cen.acs.org/articles/93/i15/Lawrencium-Ionization-Energy-Measured.html?cq_ck=1428631698138
  6. 1 2 Östlin, A.; Vitos, L. (2011). "First-principles calculation of the structural stability of 6d transition metals". Physical Review B. 84 (11): 113104. Bibcode:2011PhRvB..84k3104O. doi:10.1103/PhysRevB.84.113104.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  7. http://flerovlab.jinr.ru/she-factory-first-experiment/
  8. Ibadullayev, Dastan (2024). "Synthesis and study of the decay properties of isotopes of superheavy element Lv in Reactions 238U + 54Cr and 242Pu + 50Ti". jinr.ru. Institut Bersama untuk Riset Nuklir. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. Krämer, K. (2016). "Explainer: superheavy elements". Chemistry World (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. "Discovery of Elements 113 and 115". Laboratorium Nasional Lawrence Livermore. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2015. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. Eliav, E.; Kaldor, U.; Borschevsky, A. (2018). "Electronic Structure of the Transactinide Atoms". Dalam Scott, R. A. (ed.). Encyclopedia of Inorganic and Bioinorganic Chemistry (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 1–16. doi:10.1002/9781119951438.eibc2632. ISBN 978-1-119-95143-8. S2CID 127060181.
  12. Oganessian, Yu. Ts.; Dmitriev, S. N.; Yeremin, A. V.; et al. (2009). "Attempt to produce the isotopes of element 108 in the fusion reaction 136Xe + 136Xe". Physical Review C (dalam bahasa Inggris). 79 (2) 024608. doi:10.1103/PhysRevC.79.024608. ISSN 0556-2813.
  13. Münzenberg, G.; Armbruster, P.; Folger, H.; et al. (1984). "The identification of element 108" (PDF). Zeitschrift für Physik A. 317 (2): 235–236. Bibcode:1984ZPhyA.317..235M. doi:10.1007/BF01421260. S2CID 123288075. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 Juni 2015. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. Subramanian, S. (28 Agustus 2019). "Making New Elements Doesn't Pay. Just Ask This Berkeley Scientist". Bloomberg Businessweek. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2024. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. 1 2 3 4 5 6 Ivanov, D. (2019). "Сверхтяжелые шаги в неизвестное" [Langkah unsur superberat menuju wilayah yang belum diketahui]. nplus1.ru (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. Hinde, D. (2017). "Something new and superheavy at the periodic table". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. Kern, B. D.; Thompson, W. E.; Ferguson, J. M. (1959). "Cross sections for some (n, p) and (n, α) reactions". Nuclear Physics (dalam bahasa Inggris). 10: 226–234. Bibcode:1959NucPh..10..226K. doi:10.1016/0029-5582(59)90211-1.
  18. Wakhle, A.; Simenel, C.; Hinde, D. J.; et al. (2015). Simenel, C.; Gomes, P. R. S.; Hinde, D. J.; et al. (ed.). "Comparing Experimental and Theoretical Quasifission Mass Angle Distributions". European Physical Journal Web of Conferences. 86: 00061. Bibcode:2015EPJWC..8600061W. doi:10.1051/epjconf/20158600061. hdl:1885/148847. ISSN 2100-014X.
  19. "Nuclear Reactions" (PDF). hlm. 7–8. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Published as Loveland, W. D.; Morrissey, D. J.; Seaborg, G. T. (2005). "Nuclear Reactions". Modern Nuclear Chemistry (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons, Inc. hlm. 249–297. doi:10.1002/0471768626.ch10. ISBN 978-0-471-76862-3.
  20. 1 2 Krása, A. (2010). "Neutron Sources for ADS" (PDF). Faculty of Nuclear Sciences and Physical Engineering. Universitas Teknik Praha: 4–8. S2CID 28796927. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 September 2017 via Wayback Machine.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. Wapstra, A. H. (1991). "Criteria that must be satisfied for the discovery of a new chemical element to be recognized" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 63 (6): 883. doi:10.1351/pac199163060879. ISSN 1365-3075. S2CID 95737691.
  22. 1 2 Hyde, E. K.; Hoffman, D. C.; Keller, O. L. (1987). "A History and Analysis of the Discovery of Elements 104 and 105". Radiochimica Acta. 42 (2): 67–68. doi:10.1524/ract.1987.42.2.57. ISSN 2193-3405. S2CID 99193729.
  23. 1 2 3 Chemistry World (2016). "How to Make Superheavy Elements and Finish the Periodic Table [Video]". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. Hoffman, Ghiorso & Seaborg 2000, hlm. 334.
  25. Hoffman, Ghiorso & Seaborg 2000, hlm. 335.
  26. Zagrebaev, Karpov & Greiner 2013, hlm. 3.
  27. Beiser 2003, hlm. 432.
  28. 1 2 Pauli, N. (2019). "Alpha decay" (PDF). Introductory Nuclear, Atomic and Molecular Physics (Nuclear Physics Part). Université libre de Bruxelles. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  29. 1 2 3 4 5 Pauli, N. (2019). "Nuclear fission" (PDF). Introductory Nuclear, Atomic and Molecular Physics (Nuclear Physics Part). Université libre de Bruxelles. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  30. Staszczak, A.; Baran, A.; Nazarewicz, W. (2013). "Spontaneous fission modes and lifetimes of superheavy elements in the nuclear density functional theory". Physical Review C. 87 (2): 024320–1. arXiv:1208.1215. Bibcode:2013PhRvC..87b4320S. doi:10.1103/physrevc.87.024320. ISSN 0556-2813.
  31. Audi et al. 2017, hlm. 030001-129–030001-138.
  32. Beiser 2003, hlm. 439.
  33. 1 2 Beiser 2003, hlm. 433.
  34. Audi et al. 2017, hlm. 030001-125.
  35. Aksenov, N. V.; Steinegger, P.; Abdullin, F. Sh.; et al. (2017). "On the volatility of nihonium (Nh, Z = 113)". The European Physical Journal A (dalam bahasa Inggris). 53 (7): 158. Bibcode:2017EPJA...53..158A. doi:10.1140/epja/i2017-12348-8. ISSN 1434-6001. S2CID 125849923.
  36. Beiser 2003, hlm. 432–433.
  37. 1 2 3 Oganessian, Yu. (2012). "Nuclei in the "Island of Stability" of Superheavy Elements". Journal of Physics: Conference Series. 337 (1): 012005-1 – 012005-6. Bibcode:2012JPhCS.337a2005O. doi:10.1088/1742-6596/337/1/012005. ISSN 1742-6596.
  38. Moller, P.; Nix, J. R. (1994). Fission properties of the heaviest elements (PDF). Dai 2 Kai Hadoron Tataikei no Simulation Symposium, Tokai-mura, Ibaraki, Jepang. University of North Texas. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  39. 1 2 Oganessian, Yu. Ts. (2004). "Superheavy elements". Physics World. 17 (7): 25–29. doi:10.1088/2058-7058/17/7/31. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  40. Schädel, M. (2015). "Chemistry of the superheavy elements". Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences (dalam bahasa Inggris). 373 (2037) 20140191. Bibcode:2015RSPTA.37340191S. doi:10.1098/rsta.2014.0191. ISSN 1364-503X. PMID 25666065.
  41. Hulet, E. K. (1989). Biomodal spontaneous fission. 50th Anniversary of Nuclear Fission, Leningrad, USSR. Bibcode:1989nufi.rept...16H.
  42. Oganessian, Yu. Ts.; Rykaczewski, K. P. (2015). "A beachhead on the island of stability". Physics Today. 68 (8): 32–38. Bibcode:2015PhT....68h..32O. doi:10.1063/PT.3.2880. ISSN 0031-9228. OSTI 1337838. S2CID 119531411.
  43. Grant, A. (2018). "Weighing the heaviest elements". Physics Today (dalam bahasa Inggris) (11) 4650. Bibcode:2018PhT..2018k4650G. doi:10.1063/PT.6.1.20181113a. S2CID 239775403.
  44. Howes, L. (2019). "Exploring the superheavy elements at the end of the periodic table". Chemical & Engineering News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  45. 1 2 Robinson, A. E. (2019). "The Transfermium Wars: Scientific Brawling and Name-Calling during the Cold War". Distillations (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  46. "Популярная библиотека химических элементов. Сиборгий (экавольфрам)" [Tabel populer unsur-unsur kimia. Seaborgium (eka-wolfram)]. n-t.ru (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Dicetak ulang dari "Экавольфрам" [Eka-wolfram]. Популярная библиотека химических элементов. Серебро – Нильсборий и далее [Tabel populer unsur-unsur kimia. Dari perak hingga nielsbohrium dan seterusnya] (dalam bahasa Rusia). Nauka. 1977.
  47. "Nobelium - Element information, properties and uses | Periodic Table". Royal Society of Chemistry. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  48. 1 2 Kragh 2018, hlm. 38–39.
  49. Kragh 2018, hlm. 40.
  50. 1 2 Ghiorso, A.; Seaborg, G. T.; Oganessian, Yu. Ts.; et al. (1993). "Responses on the report 'Discovery of the Transfermium elements' followed by reply to the responses by Transfermium Working Group" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 65 (8): 1815–1824. doi:10.1351/pac199365081815. S2CID 95069384. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 November 2013. Diakses tanggal 1 September 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  51. Commission on Nomenclature of Inorganic Chemistry (1997). "Names and symbols of transfermium elements (IUPAC Recommendations 1997)" (PDF). Pure and Applied Chemistry. 69 (12): 2471–2474. doi:10.1351/pac199769122471.
  52. 1 2 3 4 5 Emsley, John (2011). Nature's Building Blocks.
  53. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Barber, R. C.; Greenwood, N. N.; Hrynkiewicz, A. Z.; Jeannin, Y. P.; Lefort, M.; Sakai, M.; Ulehla, I.; Wapstra, A. P.; Wilkinson, D. H. (1993). "Discovery of the transfermium elements. Part II: Introduction to discovery profiles. Part III: Discovery profiles of the transfermium elements". Pure and Applied Chemistry. 65 (8): 1757. doi:10.1351/pac199365081757. S2CID 195819585. (Catatan: untuk Bagian I lihat Pure Appl. Chem., Vol. 63, No. 6, hlm. 879–886, 1991)
  54. "This Month in Lab History…Lawrencium Added to Periodic Table". today.lbl.gov. Lawrence Berkeley National Laboratory. 9 April 2013. Diakses tanggal 30 Agustus 2026. Lawrensium (Lw) pertama kali disintesis pada 14 Februari 1961 oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Ghiorso, yang merupakan salah satu penemu bersama dari rekor 12 unsur kimia dalam tabel periodik.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  55. 1 2 Ghiorso, Albert; Sikkeland, T.; Larsh, A. E.; Latimer, R. M. (1961). "New Element, Lawrencium, Atomic Number 103". Phys. Rev. Lett. 6 (9): 473. Bibcode:1961PhRvL...6..473G. doi:10.1103/PhysRevLett.6.473.
  56. 1 2 3 Greenwood, Norman N. (1997). "Recent developments concerning the discovery of elements 101–111" (PDF). Pure Appl. Chem. 69 (1): 179–184. doi:10.1351/pac199769010179. S2CID 98322292.
  57. Flerov, G. N. (1967). "On the nuclear properties of the isotopes 256103 and 257103". Nucl. Phys. A. 106 (2): 476. Bibcode:1967NuPhA.106..476F. doi:10.1016/0375-9474(67)90892-5.
  58. Donets, E. D.; Shchegolev, V. A.; Ermakov, V. A. (1965). "Synthesis of the isotope of element 103 (lawrencium) with mass number 256". Soviet Atomic Energy. 19 (2): 995–999. doi:10.1007/BF01126414. ISSN 0038-531X.
  59. 1 2 Karpenko, V. (1980). "The Discovery of Supposed New Elements: Two Centuries of Errors". Ambix. 27 (2): 77–102. doi:10.1179/amb.1980.27.2.77.
  60. Kaldor, Uzi & Wilson, Stephen (2005). Theoretical chemistry and physics of heavy and superheavy element. Springer. hlm. 57. ISBN 1-4020-1371-X.
  61. Silva 2011, hlm. 1641–2
  62. Eskola, Kari; Eskola, Pirkko; Nurmia, Matti; Albert Ghiorso (1971). "Studies of Lawrencium Isotopes with Mass Numbers 255 Through 260". Phys. Rev. C. 4 (2): 632–642. Bibcode:1971PhRvC...4..632E. doi:10.1103/PhysRevC.4.632.
  63. 1 2 Silva 2011, hlm. 1644
  64. Silva 2011, hlm. 1639
  65. 1 2 Haire, R. G. (11 Oktober 2007). "Insights into the bonding and electronic nature of heavy element materials". Journal of Alloys and Compounds. 444–5: 63–71. doi:10.1016/j.jallcom.2007.01.103.
  66. 1 2 3 Jensen, William B. (2015). "The positions of lanthanum (actinium) and lutetium (lawrencium) in the periodic table: an update". Foundations of Chemistry. 17: 23–31. doi:10.1007/s10698-015-9216-1. S2CID 98624395. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Januari 2021. Diakses tanggal 30 Agustus 2026.
  67. Winter, Mark (1993–2022). "WebElements". The University of Sheffield and WebElements Ltd, UK. Diakses tanggal 30 Agustus 2026.
  68. Cowan, Robert D. (1981). The Theory of Atomic Structure and Spectra. University of California Press. hlm. 598. ISBN 978-0-520-90615-0.
  69. John Emsley (2011). Nature's Building Blocks: An A-Z Guide to the Elements. Oxford University Press. hlm. 278–9. ISBN 978-0-19-960563-7.
  70. Lide, D. R., ed. (2003). CRC Handbook of Chemistry and Physics (Edisi 84). Boca Raton, FL: CRC Press.
  71. 1 2 3 4 5 6 7 8 Silva 2011, hlm. 1644–7
  72. Hoffman, Darleane C.; Lee, Diana M.; Pershina, Valeria (2006). "Transactinides and the future elements". Dalam Morss; Edelstein, Norman M.; Fuger, Jean (ed.). The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements (Edisi 3). Dordrecht, Belanda: Springer Science+Business Media. hlm. 1686. ISBN 1-4020-3555-1.
  73. Balasubramanian, K. (4 Desember 2001). "Potential energy surfaces of Lawrencium and Nobelium dihydrides (LrH2 and NoH2)". Journal of Chemical Physics. 116 (9): 3568–75. Bibcode:2002JChPh.116.3568B. doi:10.1063/1.1446029.
  74. 1 2 Xu, Wen-Hua; Pyykkö, Pekka (8 Juni 2016). "Is the chemistry of lawrencium peculiar". Phys. Chem. Chem. Phys. 2016 (18): 17351–5. Bibcode:2016PCCP...1817351X. doi:10.1039/c6cp02706g. hdl:10138/224395. PMID 27314425. S2CID 31224634. Diakses tanggal 30 Agustus 2026.
  75. Jensen, William B. (2000). "The Periodic Law and Table" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 November 2020. Diakses tanggal 30 Agustus 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  76. 1 2 3 4 5 6 Silva 2011, hlm. 1643–4
  77. Nugent, L. J.; Vander Sluis, K. L.; Fricke, Burhard; Mann, J. B. (1974). "Electronic configuration in the ground state of atomic lawrencium" (PDF). Phys. Rev. A. 9 (6): 2270–72. Bibcode:1974PhRvA...9.2270N. doi:10.1103/PhysRevA.9.2270. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 19 Desember 2008.
  78. Eliav, E.; Kaldor, U.; Ishikawa, Y. (1995). "Transition energies of ytterbium, lutetium, and lawrencium by the relativistic coupled-cluster method". Phys. Rev. A. 52 (1): 291–296. Bibcode:1995PhRvA..52..291E. doi:10.1103/PhysRevA.52.291. PMID 9912247.
  79. Zou, Yu; Froese Fischer C.; Uiterwaal, C.; Wanner, J.; Kompa, K.-L. (2002). "Resonance Transition Energies and Oscillator Strengths in Lutetium and Lawrencium". Phys. Rev. Lett. 88 (2): 183001. Bibcode:2001PhRvL..88b3001M. doi:10.1103/PhysRevLett.88.023001. PMID 12005680. S2CID 18391594.
  80. 1 2 Jensen, W. B. (2015). "Some Comments on the Position of Lawrencium in the Periodic Table" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 Desember 2015. Diakses tanggal 30 Agustus 2026.
  81. 1 2 Sato, T. K.; Asai, M.; Borschevsky, A.; Stora, T.; Sato, N.; Kaneya, Y.; Tsukada, K.; Düllman, Ch. E.; Eberhardt, K.; Eliav, E.; Ichikawa, S.; Kaldor, U.; Kratz, J. V.; Miyashita, S.; Nagame, Y.; Ooe, K.; Osa, A.; Renisch, D.; Runke, J.; Schädel, M.; Thörle-Pospiech, P.; Toyoshima, A.; Trautmann, N. (9 April 2015). "Measurement of the first ionization potential of lawrencium, element 103" (PDF). Nature. 520 (7546): 209–11. Bibcode:2015Natur.520..209S. doi:10.1038/nature14342. PMID 25855457. S2CID 4384213.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  82. Gunther, Matthew (9 April 2015). "Lawrencium experiment could shake up periodic table". RSC Chemistry World. Diakses tanggal 30 Agustus 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  83. Kwarsick, Jeffrey T.; Pore, Jennifer L.; Gates, Jacklyn M.; Gregorich, Kenneth E.; Gibson, John K.; Jian, Jiwen; Pang, Gregory K.; Shuh, David K. (2021). "Assessment of the Second-Ionization Potential of Lawrencium: Investigating the End of the Actinide Series with a One-Atom-at-a-Time Gas-Phase Ion Chemistry Technique". The Journal of Physical Chemistry A. 125 (31): 6818–6828. Bibcode:2021JPCA..125.6818K. doi:10.1021/acs.jpca.1c01961. OSTI 1844939. PMID 34242037. S2CID 235785891.
  84. 1 2 3 4 5 Silva 2011, hlm. 1642
  85. 1 2 Khuyagbaatar, J.; et al. (2014). "48Ca + 249Bk Fusion Reaction Leading to Element Z = 117: Long-Lived α-Decaying 270Db and Discovery of 266Lr" (PDF). Physical Review Letters. 112 (17) 172501. Bibcode:2014PhRvL.112q2501K. doi:10.1103/PhysRevLett.112.172501. hdl:1885/70327. PMID 24836239. S2CID 5949620.
  86. 1 2 Leppänen, A.-P. (2005). Alpha-decay and decay-tagging studies of heavy elements using the RITU separator (PDF) (Tesis). Universitas Jyväskylä. hlm. 83–100. ISBN 978-951-39-3162-9. ISSN 0075-465X.
  87. Clara Moskowitz (7 Mei 2014). "Superheavy Element 117 Points to Fabled "Island of Stability" on Periodic Table". Scientific American. Diakses tanggal 30 Agustus 2026.
  88. 1 2 3 "Nucleonica :: Web driven nuclear science". Diarsipkan dari asli tanggal 24 Februari 2011. Diakses tanggal 30 Agustus 2026.
  89. 1 2 3 Audi, G.; Kondev, F. G.; Wang, M.; Huang, W. J.; Naimi, S. (2017). "The NUBASE2016 evaluation of nuclear properties" (PDF). Chinese Physics C. 41 (3): 030001. Bibcode:2017ChPhC..41c0001A. doi:10.1088/1674-1137/41/3/030001.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  90. Huang, T.; Seweryniak, D.; Back, B. B.; et al. (2022). "Discovery of the new isotope 251Lr: Impact of the hexacontetrapole deformation on single-proton orbital energies near the Z = 100 deformed shell gap". Physical Review C. 106 (L061301). doi:10.1103/PhysRevC.106.L061301. OSTI 1906168. S2CID 254300224.
  91. 1 2 3 Silva 2011, hlm. 1642–3

Bibliografi

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Lawrencium.
Lihat entri lawrensium di kamus bebas Wikikamus.
(besar)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
1 H He
2 Li Be B C N O F Ne
3 Na Mg Al Si P S Cl Ar
4 K Ca Sc Ti V Cr Mn Fe Co Ni Cu Zn Ga Ge As Se Br Kr
5 Rb Sr Y Zr Nb Mo Tc Ru Rh Pd Ag Cd In Sn Sb Te I Xe
6 Cs Ba La Ce Pr Nd Pm Sm Eu Gd Tb Dy Ho Er Tm Yb Lu Hf Ta W Re Os Ir Pt Au Hg Tl Pb Bi Po At Rn
7 Fr Ra Ac Th Pa U Np Pu Am Cm Bk Cf Es Fm Md No Lr Rf Db Sg Bh Hs Mt Ds Rg Cn Nh Fl Mc Lv Ts Og
Logam alkali Logam alkali tanah Lan­tanida Aktinida Logam transisi Logam miskin Metaloid Nonlogam poliatomik Nonlogam diatomik Gas mulia Sifat kimia
belum diketahui
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan