Rabu, 23 September 2026
03:17 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Lopis

Lopis

salah satu spesies ikan

Belida lopis
250px-Chitala_cf._lopis_%2810.3897-BDJ.11.e100337%29_Figure_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
C. lopis
Nama binomial
Chitala lopis
(Bleeker, 1851)
Sinonim

Notopterus chitala H.B.

Artikel takson sembarang

Lopis adalah jenis ikan sungai yang tergolong dalam genus Chitala (ikan belida). Orang Banjar menyebutnya ikan pipih. Jenis ini dapat ditemui di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Semenanjung Malaya, meskipun sekarang sudah sulit ditangkap karena rusaknya mutu sungai dan penangkapan. Ikan ini merupakan bahan baku untuk sejenis kerupuk khas dari Palembang yang dikenal sebagai kemplang. Dulu lopis juga dipakai untuk pembuatan pempek tetapi sekarang diganti dengan tenggiri. Tampilannya yang unik juga membuatnya dipelihara di akuarium sebagai ikan hias.

Karena berpotensi ekonomi dan terancam punah, lembaga penelitian berusaha menyusun teknologi budi dayanya. Hingga 2005, Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin, di Kalimantan Selatan telah mencoba membudidayakan, menangkarkan serta memperbanyak benih ikan belida.

Ikan ini sempat dinyatakan punah oleh IUCN Red List pada tahun 2020 dan informasinya tidak diperbarui lagi sejak saat itu,[1] tetapi ditemukan kembali pada tahun 2023.[2]

Taksonomi

Posisi taksonomi lopis cukup membingungkan akibat kurangnya kajian mengenai keragaman evolusioner dan sebaran geografi genus Chitala di Paparan Sunda (Sundaland).[3] Ada enam spesies Chitala dan satu spesies Notopterus yang dikenal. C. lopis oleh Roberts dianggap satu spesies dengan C. borneensis (dari Kalimantan) dan C. hypselonotus (dari DAS Musi).[4] Pendapat ini disanggah oleh Wibowo et al. yang menunjukkan berdasarkan bank data molekuler, tiga spesies ini valid dan sekaligus menunjukkan bahwa C. lopis masih ditemukan di Ci Sadane, Jawa.[3] Kajian ini sekaligus juga menunjukkan bahwa yang sering disebut ikan belida sumatera sebenarnya adalah C. hypselonotus, bukan C. lopis.

Pemerian dan penangkaran benih

250px-Belida_mistar.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lopis jantan

Ikan air tawar, pemangsa ikan kecil dan krustasea, dewasa berukuran 1,5–7 kg, dengan ciri khas ikan berpunggung pisau: punggungnya meninggi sehingga bagian perut tampak lebar dan pipih. Lopis dicirikan melalui sirip duburnya yang menyambung dengan sirip ekor berawal tepat di belakang sirip perut yang dihubungkan dengan sisik-sisik kecil. Bentuk kepala dekat punggung cekung dan rahangnya makin panjang sesuai dengan meningkatnya umur sampai jauh melampaui batas bagian belakang mata pada ikan yang sudah besar.

Betina memiliki sirip perut relatif pendek dan tidak menutup bagian urogenital, alat kelamin berbentuk bulat. Ketika berahi (matang gonad), bagian perut membesar dan kelamin memerah. Jantan memiliki sirip perut lebih panjang dan menutup bagian urogenital, alat kelamin berbentuk tabung, ukuran lebih kecil daripada betina. Jika jantan siap pijah alat kelamin memerah dan mengeluarkan cairan putih (cairan sperma) jika ditekan/diurut.

Telur biasanya diletakkan di batang terendam pada kedalaman hingga 1m. Dalam rekayasa penangkaran, batang bambu atau papan dipakai sebagai tempat penempelan telur. Pemijahan dilakukan pada musim penghujan (di BBAT Agustus hingga Maret). Dalam sekali pemijahan, seekor betina rata-rata menghasilkan 288 butir telur, meskipun dapat menghasilkan hampir dua kali lipat dari jumlah itu. Derajat pembuahan berkisar 30–100 %. Derajat penetasan 72,2% dan sintasan (survival rate) larva adalah 64,2%. Larva menetas sekitar 72–120 jam (3-5 hari) pada suhu air 29–30 °C.

Larva bersifat kanibal sehingga perlu perlindungan. Benih berusia 3 hari sudah mulai dapat makan udang artemia. Benih berusia satu bulan sudah dapat dideder di akuarium, dan satu bulan kemudian siap dideder di kolam. Ikan dengan ukuran 15 cm siap untuk pembesaran.

Belida lebih aktif pada malam hari, dan mulai respons terhadap makanan pada sore hari. Hewan ini menyukai bagian gelap dari sungai, biasanya hidup di lubuk di bawah pepohonan.

Kutipan

  1. 1 2 Ng, H.H. (2020). "Chitala lopis". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2020 e.T157719927A89815479. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-1.RLTS.T157719927A89815479.en. Diakses tanggal 18 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. Wibowo, A; Haryono, H; Kurniawan, K; Prakoso, VA; Dahruddin, H; Surbani, IL; Jaya, YY; Sudarsono, S; Rochman, F; Muslimin, B; Sukmono, T (2023). "Rediscovery of the giant featherback Chitala lopis (Notopteridae) in its type locality resolves decades of taxonomic confusion". Endangered Species Research. 52: 285–301. doi:10.3354/esr01281.
  3. 1 2 Wibowo, A, Haryono, Kurniawan, Prakoso VA, Dahruddin H, Surbani IL, Jaya YYP, Sudarsono, Rochman F, Muslimin B, Sukmono T, Rourke ML, Ahnelt H, Funge-Smith S, Hubert N (2023). "Rediscovery of the giant featherback Chitala lopis (Notopteridae) in its type locality resolves decades of taxonomic confusion". Endang. Species Res. 52: 285–301. doi:10.3354/esr01281.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  4. Roberts, TR (1992). "Systematic revision of the old world freshwater fish family Notopteridae". Ichthyol. Explor. Freshw. 2: 361−383.

Referensi

Kelompok-kelompok sumberdaya perikanan utama
Perairan bebas
Pelagis besar
Pelagis kecil
Demersal
Biota laut lain
Ikan air tawar
Atlantic cod

Lobster

Pacific oysters
Budi daya
Laut
Air tawar
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan