Leukippos | |
|---|---|
Leukippos, sebagaimana dibayangkan oleh pelukis abad ke-17 Luca Giordano | |
| Lahir | Abad ke-5 SM |
| Filsafat | |
| Era | Filsafat pra-Sokrates |
| Wilayah | Filsafat Barat |
| Atomisme | |
Mahasiswa terkenal | Demokritos |
Minat utama | Metafisika, kosmologi |
Gagasan terkenal | Konsep atom |
Leukippos atau Leukipos; Λεύκιππος, Leúkippos; fl. abad ke-5 SM) adalah seorang filsuf Yunani pra-Sokrates. Ia secara tradisional diakui sebagai pendiri atomisme, yang ia kembangkan bersama muridnya, Demokritos. Leukippos membagi dunia menjadi dua entitas: atom, yakni partikel tak terpisahkan yang membentuk segala sesuatu, dan kekosongan, yakni ketiadaan yang berada di antara atom-atom tersebut. Ia merumuskan filsafatnya sebagai tanggapan terhadap mazhab Elea, yang meyakini bahwa segala sesuatu adalah satu dan kekosongan itu tidak ada. Gagasan-gagasan Leukippos sangat berpengaruh pada masa kuno dan filsafat Renaisans. Leukippos merupakan filsuf Barat pertama yang merumuskan konsep atom, namun gagasan-gagasannya hanya memiliki kemiripan yang dangkal dengan teori atom modern.
Atom-atom Leukippos memiliki bentuk yang tak terhingga banyaknya dan terus bergerak secara konstan, sehingga menciptakan sebuah dunia yang bersifat deterministik di mana segala sesuatunya disebabkan oleh tumbukan antaratom. Leukippos mendeskripsikan awal mula dari kosmos sebagai sebuah pusaran atom yang membentuk Bumi, Matahari, bintang-bintang, dan benda langit lainnya. Karena menganggap atom maupun kekosongan itu tak terhingga, ia berasumsi bahwa dunia-dunia lain pasti ada seiring dengan terbentuknya berbagai kosmos di tempat lain. Leukippos dan Demokritos menggambarkan jiwa sebagai sebuah susunan atom berbentuk bulat, yang bersirkulasi ke seluruh tubuh melalui pernapasan serta menghasilkan pemikiran dan masukan indrawi.
Satu-satunya catatan mengenai Leukippos berasal dari Aristoteles dan Theofrastos, yakni para filsuf kuno yang hidup setelah masanya, dan sangat sedikit yang diketahui mengenai riwayat hidupnya. Sebagian besar pakar sepakat bahwa Leukippos memang pernah hidup, tetapi beberapa pihak meragukan hal ini, dan justru mengatribusikan gagasan-gagasannya sepenuhnya kepada Demokritos. Para filsuf kontemporer jarang membedakan gagasan mereka berdua secara terpisah. Dua buah karya diyakini merupakan tulisan Leukippos (Μέγας διάκοσμος, Megas Diakosmos, Sistem Dunia Raya dan Περί Νού, Peri Nou, Tentang Akal Budi), tetapi semua tulisannya telah hilang dan hanya menyisakan satu kalimat saja.
Kehidupan
Hampir tidak ada yang diketahui mengenai riwayat hidup Leukippos.[1] Ia lahir pada paruh pertama abad ke-5 SM, dan kemungkinan merumuskan filsafat atomisme pada kurun waktu 430-an SM, meskipun tanggal pastinya tidak diketahui.[2] Meskipun sezaman dengan filsuf Sokrates, Leukippos dikategorikan sebagai filsuf pra-Sokrates karena ia meneruskan tradisi penyelidikan fisis pra-Sokrates yang dipelopori oleh para filsuf Miletos.[3] Leukippos secara tradisional diyakini sebagai murid dari Zeno dari Elea,[4] kendati berbagai catatan kuno juga menyebutkan Melissos dari Samos, Parmenides, dan Pythagoras sebagai sosok yang mungkin pernah menjadi gurunya.[5] Tidak ada murid Leukippos lain yang terkonfirmasi selain Demokritos.[6] Epikuros pernah digambarkan sebagai salah satu murid Leukippos, tetapi Epikuros juga disebut-sebut pernah menyangkal keberadaan Leukippos itu sendiri.[7]
Abdera, Elea, dan Miletus telah dikemukakan sebagai tempat-tempat di mana Leukippos pernah tinggal, tetapi kota-kota ini kemungkinan besar digambarkan sebagai kota asalnya semata-mata karena keterkaitannya dengan para filsuf lain: Miletus dikaitkan dengan Mazhab Ionia yang memengaruhi Leukippos, Elea dikaitkan dengan para filsuf Elea yang ditentang oleh Leukippos, dan Abdera merupakan rumah dari muridnya, Demokritos.[6][8] Beberapa ahli klasik abad ke-20 seperti Walther Kranz dan John Burnet berpendapat bahwa ia pernah tinggal di ketiga kota tersebut—yakni ia lahir di Miletus sebelum belajar di bawah bimbingan Zeno di Elea dan kemudian menetap di Abdera.[9]
Filsafat
Atom
Leukippos diakui karena perannya dalam merumuskan aliran filsafat atomisme. Ia mengajukan gagasan bahwa segala sesuatu tersusun dari partikel-partikel mikroskopis yang tak terpisahkan, yang saling berinteraksi dan bergabung untuk membentuk semua hal yang ada di dunia ini.[10][11] Atom-atom yang didalilkan oleh Leukippos hadir dalam bentuk dan ukuran yang tak terhingga banyaknya, meskipun ukuran dan bentuk dari setiap masing-masing atom itu bersifat tetap dan tidak berubah. Atom-atom tersebut berada dalam keadaan bergerak secara konstan dan terus-menerus mengubah susunannya terhadap satu sama lain.[12][13] Ia bernalar bahwa pasti ada jenis atom yang tak terhingga jumlahnya karena tidak ada alasan mengapa hal tersebut tidak mungkin demikian.[14][15]
Menurut filsuf abad ke-4 SM, Aristoteles, Leukippos berpendapat bahwa secara logis pasti ada titik-titik yang tak terpisahkan di dalam segala hal. Alasan yang ia kemukakan adalah apabila sebuah objek terbentuk sepenuhnya dari titik-titik yang dapat terus dibagi, maka objek tersebut tidak akan memiliki struktur apa pun dan menjadi tidak berwujud.[16][17] Leukippos merumuskan atomisme ini bersama muridnya, Demokritos;[10][11] dan walaupun Leukippos diakui sebagai sosok yang merintis filsafat tersebut, Demokritos dipahami sebagai sosok yang menjabarkannya lebih jauh serta menerapkannya pada fenomena-fenomena alam.[18]
Terdapat dua buah karya yang diyakini merupakan tulisan Leukippos: Sistem Dunia Raya dan Tentang Akal Budi.[10][19] Karya yang pertama tersebut mungkin pada awalnya hanya berjudul Sistem Dunia lalu kemudian diubah namanya untuk menghindari kerancuan dengan karya Demokritos yang berjudul Sistem Dunia Kecil. Sistem Dunia Raya karya Leukippos ini pun terkadang masih sering diatribusikan kepada Demokritos.[20] Hanya terdapat satu fragmen yang masih tersisa dan diatribusikan kepada Leukippos, yang diambil dari karyanya Tentang Akal Budi: "Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan, melainkan segalanya terjadi karena suatu alasan dan oleh suatu keharusan".[21][22] Leukippos meyakini bahwa segala sesuatu pasti terjadi secara deterministik, di mana posisi dan pergerakan atom-atom memastikan bahwa mereka akan saling bertumbukan dengan cara yang pasti,[23][24] yang merujuk pada prinsip kausalitas.[25] Hal ini mengingatkan pada argumen filsuf abad ke-6 SM, Anaximandros, yang menyebutkan bahwa pergerakan tercipta oleh karena adanya perbedaan, dan kelak argumen ini dikodifikasi oleh filsuf abad ke-17 Gottfried Wilhelm Leibniz melalui prinsip alasan yang cukup.[26] Leukippos menolak gagasan bahwasanya terdapat suatu kekuatan cerdas yang mengatur alam semesta.[27]
Mazhab Elea dan kekosongan
Atomisme Leukippos merupakan tanggapan langsung terhadap filsafat Elea. Para penganut mazhab Elea meyakini bahwa ketiadaan, atau kekosongan, tidak dapat ada dengan sendirinya. Mereka menyimpulkan bahwa jika tidak ada kekosongan, maka tidak ada pergerakan dan segala sesuatu haruslah menjadi satu.[28][29] Leukippos menyetujui logika mereka, tetapi ia menyatakan bahwa kekosongan itu memang ada, dan oleh karena itu ia dapat menerima eksistensi dari pergerakan dan pluralitas.[30][31] Seperti halnya mazhab Elea, Leukippos meyakini bahwa segala sesuatu berdiam dalam keadaan yang abadi serta tidak ada satu pun yang dapat tercipta dari ketiadaan ataupun lenyap menjadi tiada, dan ia menerapkan prinsip ini baik pada atom maupun kekosongan.[32][33] Aristoteles menyebutkan bahwa Leukippos pernah menyatakan bahwa atom bukanlah tambahan bagi kekosongan, melainkan atom dan kekosongan adalah dua kebalikan yang hadir berdampingan satu sama lain.[32] Filsuf abad ke-6 M, Simplikius dari Kilikia, juga menulis mengenai gagasan ini, tetapi ia mengatribusikannya kepada Demokritos.[34] Menurut penulis Kristen Laktantius, Leukippos mengibaratkan atom-atom dengan partikel debu beterbangan yang terlihat di bawah sinar matahari.[35]
Atomisme Leukippos mempertahankan konsep-konsep realitas yang dirumuskan oleh mazhab Elea, tetapi menerapkannya pada penjelasan fisis mengenai dunia.[30][36] Dengan beralih dari titik dan unit abstrak pada geometri, ia merumuskan sebuah kemungkinan solusi atas paradoks pergerakan yang digagas oleh Zeno dari Elea, yang berpandangan bahwa ketakterpisahan membuat pergerakan menjadi mustahil.[37][38] Leukippos juga menentang argumen mazhab Elea mengenai keterbagian: yakni bahwa setiap pemisah di antara dua benda juga dapat terus dibagi. Ia berargumen bahwa kekosongan adalah pemisah yang tidak memiliki wujud dan oleh karenanya tidak dapat dibagi.[39] Kendati Leukippos menggambarkan atom-atom mampu saling bersentuhan, Aristoteles menafsirkan hal ini sebagai atom-atom yang saling berdekatan satu sama lain, karena Leukippos bersikeras bahwa kekosongan pasti senantiasa ada di antara semua atom.[31][40]
Jiwa dan persepsi
Leukippos dan Demokritos mengajukan gagasan bahwa panas, api, dan jiwa tersusun dari atom-atom berbentuk bola, karena bentuk ini memungkinkan mereka untuk saling melewati dan membuat atom lain bergerak dengan lebih efisien. Mereka memercayai keberadaan jiwa fisis yang mendorong pergerakan pada makhluk hidup, dan mendeskripsikan pernapasan sebagai proses pengeluaran atom-atom jiwa sekaligus penyerapan atom-atom jiwa yang baru.[41] Kematian pun terjadi bertepatan dengan tarikan napas terakhir, manakala atom-atom jiwa tidak lagi diisi ulang. Tidur merupakan keadaan serupa di mana jumlah atom jiwa di dalam tubuh mengalami penurunan.[42]
Leukippos merupakan filsuf pertama yang menjabarkan teori pemikiran dan persepsi.[43] Ia mendeskripsikan masukan indrawi sebagai perpindahan antaratom, yang tercipta ketika atom-atom eksternal bersentuhan dengan atom-atom jiwa.[44] Leukippos mengatakan bahwa penglihatan disebabkan oleh lapisan selaput atom yang dipancarkan dari sebuah objek, yang mempertahankan bentuk atom-atomnya dan menciptakan pantulan dari objek tersebut di dalam mata orang yang melihatnya. Deskripsinya mengenai penglihatan terinspirasi oleh Empedokles, yang merumuskan konsep serupa tentang objek-objek yang memancarkan lapisan selaput dari dirinya sendiri.[45] Leukippos mendalilkan bahwa konsep-konsep seperti warna dan tekstur tercipta oleh susunan atom yang berbeda-beda, dan bahwa konsep abstrak seperti keadilan dan kebijaksanaan dihasilkan melalui susunan atom-atom jiwa.[46]
Menurut Epifanios, Leukippos mengatakan bahwa pengetahuan berdasarkan nalar mustahil untuk diperoleh dan yang ada hanyalah keyakinan tanpa nalar.[47] Penulis abad ke-20 Constantine Vamvacas menyebutkan bahwa Leukippos sebenarnya menolak pandangan ini, dan filsuf Elea Parmenides-lah yang meyakininya. Menurut Vamvacas, Leukippos dan Demokritos "meyakini bahwa pengalaman indrawi, betapapun terbatasnya, membentuk pengetahuan yang objektif mengenai dunia fisis".[48] Pakar abad ke-20 C. C. W. Taylor menyatakan bahwa "kita tidak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Leukippos menaruh perhatian pada persoalan-persoalan epistemologis".[49]
Kosmologi
Leukippos menyatakan bahwa kekosongan membentang tanpa batas, meluas ke seluruh penjuru alam semesta. Ia juga menyatakan bahwa terdapat jumlah atom yang tak terhingga banyaknya, yang tersebar di dalam kekosongan tersebut. Bumi serta kosmos—termasuk Matahari, Bulan, bintang-bintang, dan apa pun yang terlihat di langit malam—berada secara bersama-sama di dalam kekosongan itu.[50]
Leukippos mengatakan bahwa kosmos tercipta ketika sekelompok besar atom berkumpul dan berputar membentuk sebuah pusaran. Atom-atom tersebut saling bergeseran hingga tersortir "sesuai dengan sesamanya". Atom-atom yang lebih besar berkumpul di bagian pusat, sementara atom-atom yang lebih kecil terdorong ke bagian tepi. Atom-atom yang lebih kecil inilah yang menjadi benda-benda langit di dalam kosmos. Adapun atom-atom yang lebih besar di bagian pusat bergabung membentuk sebuah selaput yang darinya Bumi terbentuk.[51][52] Para penulis kuno memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa yang dimaksud oleh Leukippos ketika ia mendeskripsikan selaput tersebut: Aetius menyatakan bahwa atom-atom yang lebih kecil merupakan bagian dari selaput yang menyelubungi atom-atom yang lebih besar, namun Diogenes Laertios menyebutkan bahwa atom-atom yang lebih besar sendirilah yang membentuk selaput tersebut dan atom-atom yang lebih kecil justru disingkirkan.[52] Leukippos juga meyakini bahwa terdapat kosmos-kosmos lain yang letaknya jauh di bagian lain dari kekosongan; hal ini menjadikannya sebagai filsuf pertama yang diketahui mengajukan gagasan mengenai keberadaan dunia-dunia lain selain Bumi, meskipun beberapa doksograf kuno mengatribusikan gagasan-gagasan ini kepada para filsuf Ionia pendahulunya.[53]
Seperti halnya para filsuf pra-Sokrates lainnya, Leukippos meyakini bahwa Bumi berada di pusat kosmos.[54] Ia mengatakan bahwa benda-benda langit lainnya mengelilingi Bumi, dengan Bulan sebagai benda langit yang jaraknya paling dekat dengan Bumi dan Matahari sebagai yang paling jauh.[55] Ia mendeskripsikan bintang-bintang sebagai benda langit yang beredar dengan kecepatan paling tinggi.[56] Meskipun pada mulanya "lembab dan berlumpur", bintang-bintang tersebut kemudian mengering lalu menyala.[57]
Leukippos mengadopsi pandangan dari para filsuf Ionia bahwa Bumi itu datar.[53] Menurut Aetius, Leukippos memandang Bumi berbentuk "seperti tabung drum", dengan permukaan yang datar serta memiliki tingkat ketebalan tertentu.[56] Ia menyatakan bahwa Bumi yang datar tersebut miring pada sumbu horizontalnya sehingga wilayah selatan lebih rendah daripada wilayah utara. Ia menjelaskan bahwa wilayah utara lebih dingin daripada wilayah selatan, dan udara dingin yang padat di wilayah utara mampu menopang berat Bumi dengan lebih baik daripada udara hangat yang renggang di wilayah selatan.[58] Aetius juga memaparkan penjelasan Leukippos mengenai fenomena petir: bahwa petir disebabkan oleh api yang termampatkan di dalam awan lalu meledak keluar.[59]
Banyak filsuf awal yang merasa bingung oleh fakta bahwa benda-benda di bumi jatuh ke bawah sementara benda-benda langit bergerak dalam lintasan melengkung. Hal ini mendorong banyak dari mereka untuk mempercayai adanya suatu zat non-bumi yang menyusun benda-benda langit. Melalui model kosmos yang dirumuskannya, Leukippos mampu membenarkan alasan mengapa entitas-entitas tersebut bergerak dengan cara yang berbeda meskipun semuanya tersusun dari zat yang sama.[60] Leukippos tidak memberikan penjelasan apa pun mengenai bagaimana pergerakan itu bermula, dan hal inilah yang menuai kritik dari Aristoteles.[61][62] Masih belum jelas apakah Leukippos menganggap pusaran-pusaran tersebut muncul secara kebetulan atau sebagai akibat yang bersifat deterministik.[63]
Warisan

Yunani Kuno
Pemahaman modern mengenai peran Leukippos dalam perkembangan atomisme bersumber dari tulisan-tulisan para filsuf Yunani kuno, yakni Aristoteles dan Teofrastos.[64] Catatan Aristoteles dari abad ke-4 SM mengenai filsafat Leukippos dan Demokritos merupakan sumber tertua yang masih sintas mengenai topik tersebut,[65] meskipun ia tidak membedakan siapa di antara keduanya yang merumuskan gagasan atom tertentu.[28][29] Aetius juga menulis tentang Leukippos, tetapi penulisannya dibuat jauh setelah masa hidup Leukippos sendiri dan merupakan turunan dari tulisan-tulisan sebelumnya mengenai subjek yang sama.[66] Beberapa catatan sejarah filsafat di masa belakangan bahkan mengabaikan Leukippos sama sekali.[67] Sejak zaman kuno, Leukippos tenggelam dalam ketidakpopuleran jika dibandingkan dengan Demokritos,[10][11] dan semenjak kemunculan catatan paling awal mengenai pemikiran atomis, sudah menjadi kebiasaan umum untuk memandang gagasan Leukippos dan Demokritos secara kolektif alih-alih berupaya membedakan keduanya.[28][29]
Filsafat atomisme karya Leukippos dan Demokritos memengaruhi dunia filsafat Yunani selama berabad-abad, terutama dalam karya-karya Aristoteles dan Epikuros.[68] Aristoteles bersikap kritis terhadap atomisme. Ia mempertanyakan mengapa batu harus jatuh ke bawah sementara api justru bergerak naik jika keduanya sama-sama tersusun dari bahan yang serupa.[69] Menurut Diogenes Laertios, interpretasi Diogenes dari Apollonia mengenai kekosongan mungkin terinspirasi oleh Leukippos.[70][71] Plato mengeksplorasi gagasan-gagasan kosmologis yang serupa dengan pemikiran Leukippos dalam dialognya yang berjudul Timaeus.[72]
Era modern
Atomisme kuno dihidupkan kembali pada abad ke-16 dan ke-17,[73][74] terutama oleh para tokoh filsafat mekanis seperti Pierre Gassendi (1592–1655) dan Robert Boyle (1627–1691).[75] Meskipun demikian, dalam praktiknya para kimiawan eksperimental seperti Boyle lebih mengandalkan tradisi korpuskularisme yang berkembang pada masa alkimia abad pertengahan dan pada akhirnya berakar dari karya-karya seperti karya Aristoteles, Meteorologi IV.[76] Sepanjang abad ke-18, para kimiawan bekerja secara independen dari atomisme filosofis, yang baru kemudian berubah ketika John Dalton (1766–1844) mengusulkan bentuk atomisme yang berakar pada eksperimen kimia.[75]
Meskipun gagasan-gagasan Leukippos membentuk preseden historis yang penting bagi konsep atom secara umum, gagasan tersebut hanya memiliki kemiripan yang dangkal dengan teori atom modern. Filsafat Leukippos merupakan bentuk konjektur yang didasarkan pada bukti a priori, sementara teori atom modern didukung oleh bukti empiris yang ditemukan melalui metode ilmiah.[77][78] Perbedaan praktis utama antara atomisme Leukippos dan teori atom modern adalah diperkenalkannya fenomena nonmaterial seperti ekuivalensi massa-energi dan gaya fundamental. Alih-alih menggunakan atom yang sepenuhnya berupa materi seperti gagasan Leukippos, teori atom modern menunjukkan bahwa gaya-gaya fundamental menggabungkan partikel subatomik menjadi atom dan mengikat atom-atom tersebut menjadi molekul.[79] Fisikawan abad ke-20 Werner Heisenberg berpendapat bahwa teori bentuk Plato lebih dekat dengan pemahaman fisika abad ke-20 daripada konsep atom versi Leukippos, dengan menyatakan bahwa atom-atom modern lebih menyerupai bentuk-bentuk Platonis yang tak berwujud alih-alih unit material diskrit ala Leukippos.[80]
Kajian ilmiah mengenai Leukippos
Filsafat modern umumnya lebih menaruh minat pada konsep atom gagasan Leukippos daripada kosmologinya.[81] Dua sistem utama telah diciptakan untuk membedakan antara Leukippos dan Demokritos. Filsuf abad ke-20 Adolf Dyroff [de] mengembangkan serangkaian perbedaan antara Leukippos dan Demokritos: ia mengusulkan bahwa Leukippos bertanggung jawab atas tanggapan atomis terhadap mazhab Elea sementara Demokritos menanggapi kaum Sofis, serta bahwa Leukippos adalah seorang ahli kosmologi sedangkan Demokritos adalah seorang polimatik.[6] Ahli klasik abad ke-20 Cyril Bailey mengusulkan sistem lain untuk membedakan kedua filsuf tersebut, dengan mengatribusikan atomisme dan keyakinan akan kekosongan kepada Leukippos sementara mengatribusikan Kosmologi Raya kepada Demokritos sebagai penerapan dari filsafat Leukippos.[82] Tidak seperti Demokritos, Leukippos hanya diketahui mempelajari kosmologi dan fisika.[65]
Kesejarahan
Menurut Diogenes Laertios, Epikuros mengklaim bahwa Leukippos tidak pernah ada, ini menjadi sebuah tuduhan yang memicu perdebatan filosofis yang panjang.[10][19] Sebagian besar filsuf modern sepakat bahwa Leukippos memang pernah ada, tetapi terdapat ketidaksepakatan mengenai apakah karyanya dapat dibedakan secara bermakna dari karya Demokritos.[66] Pada tahun 2008, filsuf Daniel Graham menulis bahwa tidak ada karya signifikan mengenai historisitas Leukippos yang dihasilkan sejak awal abad ke-20, seraya berargumen bahwa "kajian ilmiah akhir-akhir ini cenderung menghindari persoalan tersebut sedapat mungkin".[64]
Para sarjana yang mempertahankan pandangan bahwa Leukippos memang ada berargumen bahwa ia hanya mengajar secara lisan atau bahwa setiap karya tulis yang dihasilkannya tidak pernah dimaksudkan untuk diterbitkan.[6] Ahli klasik abad ke-20 John Burnet mengusulkan pembacaan alternatif atas klaim Epikuros, yang menurutnya Epikuros mungkin bermaksud mengatakan bahwa Leukippos tidak layak untuk dibahas sebagai seorang filsuf, dan bukan berarti ia secara harfiah tidak pernah ada.[83] Argumen ini didukung oleh fakta bahwa Epikuros menganggap etika sebagai fondasi dari filsafat, sementara Leukippos tidak memiliki ajaran apa pun mengenai subjek tersebut.[84] Di antara para sarjana yang menolak keberadaan Leukippos, beberapa gagasan alternatif telah diajukan: Leukippos mungkin merupakan sebuah nama samaran dari Demokritos, atau ia mungkin hanya merupakan karakter dalam sebuah dialog.[6] Para sarjana modern yang menolak keberadaan Leukippos di antaranya meliputi Erwin Rohde, Paul Natorp, Paul Tannery, P. Bokownew, Ernst Howald [de], Herman De Ley [],[66] Adolf Brieger [de], dan Wilhelm Nestle.[5]
Keberadaan Leukippos sempat menjadi isu dalam filsafat Jerman abad ke-19, yang memicu perdebatan antara Rohde, Natorp, dan Hermann Alexander Diels. Rohde meyakini bahwa bahkan pada masa Epikuros pun tidak terdapat bukti mengenai keberadaan Leukippos, sehingga tidak ada gunanya mengatribusikan atomisme Demokritos kepada sosok yang tidak dikenal seperti Leukippos, serta menolak catatan Teofrastos. Demikian pula, Natorp menolak pandangan bahwa Diogenes dari Apollonia didahului oleh Leukippos. Diels menegaskan kebenaran catatan Teofrastos dan menghasilkan tulisan-tulisan yang mengkritik Rohde dan Natorp.[85] Permasalahan ini cukup signifikan hingga diberikan sebutannya sendiri dalam bahasa Jerman: die Leukipp-frage (terj. persoalan Leukippos).[5][86]
Karya
Dua buah karya diatribusikan kepada Leukippos.[87]
- Μέγας διάκοσμος (Megas Diakosmos; diterjemahkan sebagai Sistem Dunia Raya,[8][88] Kosmologi Raya,[19] atau Tata Dunia Raya[89])
- Περί Νού (Peri Nou; diterjemahkan sebagai Tentang Akal Budi) – Karya ini memuat satu-satunya fragmen yang masih sintas dan ditulis oleh Leukippos: "οὐδὲν χρῆμα μάτην γίνεται, ἀλλὰ πάντα ἐκ λόγου τε καὶ ὑπ’ ἀνάγκης"[90] (terj. "Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan, melainkan segalanya terjadi karena suatu alasan dan oleh suatu keharusan.")[21][22]
Lihat pula
- Kanada – Seorang filsuf India kuno yang juga mengembangkan filsafat atomis awal
Catatan kaki
- ↑ Graham 2008, hlm. 335; McKirahan 2011, hlm. 303; Cerri 2016, hlm. 12.
- ↑ Kirk & Raven 1957, hlm. 402; Hasper 2014, hlm. 65; McKirahan 2011, hlm. 203.
- ↑ Hussey 1972, hlm. 141–142.
- ↑ Vamvacas 2009, hlm. 210; Kirk & Raven 1957, hlm. 401; Barnes 2012, hlm. 306.
- 1 2 3 Cerri 2016, hlm. 13.
- 1 2 3 4 5 Graham 2008, hlm. 335.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 306.
- 1 2 McKirahan 2011, hlm. 303.
- ↑ Graham 2008, hlm. 335, 348n12.
- 1 2 3 4 5 Skordoulis & Koutalis 2013, hlm. 467.
- 1 2 3 Taylor 1999, hlm. 181–182.
- ↑ Zilioli 2020, hlm. 4.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 365–366, 440.
- ↑ Gregory 2020, hlm. 24, 452.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 363–365.
- ↑ Hasper 2014, hlm. 66.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 360.
- ↑ McKirahan 2011, hlm. 304.
- 1 2 3 Graham 2008, hlm. 334.
- ↑ Cerri 2016, hlm. 15–16.
- 1 2 Gregory 2020, hlm. 34.
- 1 2 Vamvacas 2009, hlm. 218.
- ↑ McKirahan 2011, hlm. 320.
- ↑ Kirk & Raven 1957, hlm. 418.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 413.
- ↑ Vamvacas 2009, hlm. 40.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 414.
- 1 2 3 Skordoulis & Koutalis 2013, hlm. 467–468.
- 1 2 3 Gregory 2020, hlm. 23–24.
- 1 2 Vamvacas 2009, hlm. 212.
- 1 2 Stokes 1971, hlm. 219.
- 1 2 Vamvacas 2009, hlm. 212–213.
- ↑ Kirk & Raven 1957, hlm. 405.
- ↑ Graham 2008, hlm. 345.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 366.
- ↑ Laks 2018, hlm. 89.
- ↑ Furley 1987, hlm. 110.
- ↑ Kirk & Raven 1957, hlm. 372.
- ↑ Stokes 1971, hlm. 221–222.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 349.
- ↑ Augustin & Pellò 2021, hlm. 615–616.
- ↑ Augustin & Pellò 2021, hlm. 617–618.
- ↑ McKirahan 2011, hlm. 332.
- ↑ McKirahan 2011, hlm. 329.
- ↑ McKirahan 2011, hlm. 330.
- ↑ Furley 1987, hlm. 171.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 562.
- ↑ Vamvacas 2009, hlm. 211.
- ↑ Taylor 1999, hlm. 189.
- ↑ Furley 1987, hlm. 136.
- ↑ Furley 1987, hlm. 140–141.
- 1 2 Kirk & Raven 1957, hlm. 411–412.
- 1 2 Kirk & Raven 1957, hlm. 412.
- ↑ McKirahan 2011, hlm. 327.
- ↑ Graham 2008, hlm. 338.
- 1 2 Graham 2008, hlm. 339.
- ↑ Furley 1987, hlm. 140–141, 145.
- ↑ Graham 2008, hlm. 339–340.
- ↑ Graham 2008, hlm. 340–341.
- ↑ Furley 1987, hlm. 146–147.
- ↑ Furley 1987, hlm. 149.
- ↑ Kirk & Raven 1957, hlm. 417.
- ↑ Gregory 2013, hlm. 459–460.
- 1 2 Graham 2008, hlm. 333.
- 1 2 Hasper 2014, hlm. 65.
- 1 2 3 Graham 2008, hlm. 337.
- ↑ Taylor 1999, hlm. 181.
- ↑ Taylor 1999, hlm. 199–200.
- ↑ Furley 1987, hlm. 184.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 569.
- ↑ Stokes 1971, hlm. 243.
- ↑ Gregory 2013, hlm. 449.
- ↑ Gregory 2020, hlm. 26.
- ↑ Taylor 1999, hlm. 219–220.
- 1 2 Chalmers 2005–2014.
- ↑ Berryman 2005–2022.
- ↑ McKirahan 2011, hlm. 341–342.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 343–344.
- ↑ McKirahan 2011, hlm. 342.
- ↑ Barnes 2012, hlm. 344.
- ↑ Graham 2008, hlm. 344.
- ↑ Graham 2008, hlm. 336.
- ↑ Kirk & Raven 1957, hlm. 402.
- ↑ Cerri 2016, hlm. 21.
- ↑ Graham 2008, hlm. 334–335.
- ↑ Graham 2008, hlm. 333, 348n1.
- ↑ Kirk & Raven 1957, hlm. 403; Skordoulis & Koutalis 2013, hlm. 467; Graham 2008, hlm. 334.
- ↑ Kirk & Raven 1957, hlm. 403.
- ↑ Furley 1987, hlm. 116.
- ↑ Cerri 2016, hlm. 12.
Referensi
- Augustin, Michael; Pellò, Caterina (2021). "Life and Lifeforms in Early Greek Atomism". Apeiron. 55 (4): 601–625. doi:10.1515/apeiron-2021-0035. hdl:10023/24515. ISSN 0003-6390.
- Barnes, Jonathan (2012) [1982]. The Presocratic Philosophers. Routledge. doi:10.4324/9780203007372. ISBN 978-0-415-20351-7.
- Berryman, Sylvia (2005–2022). "Ancient Atomism". Dalam Zalta, Edward N.; Nodelman, Uri (ed.). The Stanford Encyclopedia of Philosophy.
- Cerri, Giovanni (2016). "A Scholarch Denied: Leucippus, Founder of Ancient Atomism". Dalam Colesanti, Giulio; Lulli, Laura (ed.). Submerged Literature in Ancient Greek Culture. Vol. 2: Case Studies. De Gruyter. hlm. 11–24. doi:10.1515/9783110428636. ISBN 978-3-11-042863-6.
- Chalmers, Alan (2005–2014). "Atomism from the 17th to the 20th Century". Dalam Zalta, Edward N. (ed.). The Stanford Encyclopedia of Philosophy.
- Furley, David (1987). The Greek Cosmologists: Volume 1, The Formation of the Atomic Theory and its Earliest Critics. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511552540. ISBN 0-521-33328-8.
- Graham, Daniel W. (2008). "Leucippus' Atomism". Dalam Curd, Patricia; Graham, Daniel W. (ed.). The Oxford Handbook of Presocratic Philosophy. Oxford University Press. hlm. 333–352. doi:10.1093/oxfordhb/9780195146875.001.0001. ISBN 978-0-19-514687-5.
- Gregory, Andrew (2013). "Leucippus and Democritus on Like to Like and ou mallon". Apeiron. 46 (4): 446–468. doi:10.1515/apeiron-2013-0021. ISSN 2156-7093. S2CID 170653648.
- Gregory, Andrew (2020). "Early Ancient Atomism". Dalam Zilioli, Ugo (ed.). Atomism in Philosophy: A History from Antiquity to the Present. Bloomsbury Publishing. hlm. 23–38. doi:10.5040/9781350107526.0008. ISBN 978-1-350-10750-2.
- Hasper, Pieter Sjoerd (2014). "Leucippus and Democritus". Dalam Warren, James; Sheffield, Frisbee C. C. (ed.). The Routledge Companion to Ancient Philosophy. Routledge. hlm. 65–78. doi:10.4324/9781315871363. ISBN 978-1-315-87136-3.
- Hussey, Edward (1972). The Presocratics. Duckworth. SBN 684-13687-2.
- Kirk, Geoffrey Stephen; Raven, John Earle (1957). The Presocratic Philosophers: A Critical History with a Selection of Texts. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511813375. ISBN 978-0-521-27455-5.
{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal - Laks, André (2018). The Concept of Presocratic Philosophy: Its Origin, Development, and Significance. Diterjemahkan oleh Most, Glenn W. Princeton University Press. doi:10.2307/j.ctvc7765p. ISBN 978-0-691-17545-4.
- McKirahan, Richard D. (2011) [1994]. Philosophy Before Socrates (Edisi 2nd). Hackett Publishing Company. ISBN 978-1-60384-182-5.
- Skordoulis, Constantine D.; Koutalis, Vangelis (2013). "Investigating the Historical Development of the Concept of Matter: Controversies About/In Ancient Atomism". Dalam Tsaparlis, Georgios (ed.). Concepts of Matter in Science Education. Springer. hlm. 463–483. doi:10.1007/978-94-007-5914-5. ISBN 978-94-007-5914-5.
- Stokes, Michael C. (1971). One and Many in Presocratic Philosophy. Center for Hellenic Studies. SBN 674-63825-5.
- Taylor, C.C.W. (1999). "The Atomists". Dalam Long, A. A. (ed.). The Cambridge Companion to Early Greek Philosophy. Cambridge University Press. hlm. 181–204. doi:10.1017/ccol0521441226. ISBN 978-0-521-44122-3. S2CID 170976113.
- Vamvacas, Constantine I. (2009). The Founders of Western Thought: The Presocratics a Diachronic Parallelism Between Presocratic Thought and Philosophy and the Natural Sciences. Springer. doi:10.1007/978-1-4020-9791-1. ISBN 978-1-4020-9790-4.
- Zilioli, Ugo (2020). "General Introduction". Atomism in Philosophy: A History from Antiquity to the Present. Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-350-10750-2.
Pranala luar
- (Inggris) Entri Leucippus di Stanford Encyclopedia of Philosophy oleh Sylvia Berryman, 9 January 2023