Jumat, 02 Oktober 2026
23:41 WIB
TERKINI
Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri

Kolotomi

Bagikan:
330px-Ladrang_cycle_portion_panerusan.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pada notasi gamelan ini, baris ketiga adalah notasi balungan, sedangkan baris keempat adalah penempatan tabuhan alat musik kolotomi, dengan p melambangkan kempyang, t melambangkan kethuk, dan N melambangkan kenong.[1] Mainkan perkiraanⓘ

Dalam teori gamelan, kolotomi adalah pola ritmis yang memiliki struktur yang bersifat tetap dalam sebuah gendhing. Terdapat sejumlah cakrik (bentuk/struktur) gendhing yang memiliki ciri khas yang sangat bervariasi dalam panjang dan kompleksitasnya; tetapi, semuanya memiliki beberapa karakteristik kolotomis. Struktur ini menjadi landasan utama dalam gendhing yang mengatur jalannya tempo permainan melalui siklus gong. Kolotomi dipahami sebagai sebuah siklus berulang yang durasinya bervariasi, mulai dari hitungan detik hingga beberapa menit. Siklus ini dibatasi oleh gong besar, yang berfungsi sebagai jangkar bagi keseluruhan musik. Di dalam siklus ini, terdapat pembagian ketukan yang dilakukan oleh berbagai instrumen gong lainnya, baik yang digantung maupun yang diletakkan secara horizontal, guna menciptakan kerangka ritmis yang sistematis dan terorganisasi.[2]

Kompleksitas musik gamelan dibangun di atas kerangka kolotomis ini melalui teknik pembagian ketukan ritmis, repetisi, serta pergeseran fase. Selain lapisan kolotomik, terdapat pula lapisan melodi linear yang dikonstruksi berdasarkan aturan idiomatik tertentu. Proses kreatif ini sangat bergantung pada kerangka konseptual yang disebut pathet. Meskipun secara sederhana sering disamakan dengan konsep "tangga nada" dalam musik Barat, pathet sebenarnya memiliki konotasi yang jauh lebih luas dan mendalam dalam menentukan nuansa serta karakter dari sebuah komposisi gamelan.[2]

Struktur kolotomik tidak hanya berfungsi sebagai pengatur ritme, tetapi juga memberikan identitas dan klasifikasi pada karya gamelan tradisional. Struktur formal ini membentuk berbagai subgenre musik yang memiliki fungsi spesifik dalam seni tari maupun drama. Nama-nama struktur kolotomik, seperti lancaran, bubaran, ketawang, dan ladrang, biasanya dicantumkan dalam judul gendhing bersama dengan informasi laras dan pathet-nya. Siklus ini akan terus diulang hingga pemain kendang dan keprak sebagai pemimpin ansambel memberikan aba-aba melalui perubahan tempo atau pathet untuk berpindah ke bagian baru atau mengakhiri komposisi tersebut.[2]

Alat musik yang digunakan

Salah satu karakteristik unik dari pola kolotomik adalah sifatnya yang berorientasi pada titik akhir. Artinya, bagian-bagian musik dalam gamelan cenderung mengantisipasi penanda struktural (seperti jatuhnya suara gong besar) daripada sekadar meresponsnya. Hal ini terlihat pada cara wiyaga memperlakukan sebuah pola: jika suatu pola diperluas atau dibagi lagi, fasenya akan digeser ke belakang. Penyesuaian ini dilakukan agar titik akhir dari pola tersebut tetap selaras dan bertepatan dengan denyut utama, yakni gong besar, memastikan kohesi ritmis tetap terjaga meskipun terjadi variasi internal yang rumit.[2]

Dalam terminologi gamelan Jawa, alat-alat musik kolotomis dalam gamelan seluruhnya digolongkan sebagai pamangku wirama. Dalam gamelan Jawa, alat musik yang tergolong sebagai pamangku wirama adalah gong besar, gong suwukan, kempul, kenong, kempyang dan kethuk, bende campur, penonthong, dan engkuk kemong.[3]

Penggunaan istilah

Kata ini diserap dari kata bahasa Inggris colotomy dan pada gilirannya kemungkinan diserap dari kata bahasa Belanda yang serupa,[4] dan kata ini berasal dari kata bahasa Yunani colon "satuan irama" dan tomi "pembagian",[5] oleh pakar etnomusikologi Jaap Kunst.[6] Meski kata ini banyak digunakan dalam teori musik Indonesia, kata tersebut juga dipakai di berbagai tradisi musik lainnya. Kolotomi juga telah digunakan untuk menjelaskan alat musik Jepang gagaku dan alat musik Thai piphat.[7]

Referensi

  1. ↑ Lindsay 1992, hlm. 49.
  2. 1 2 3 4 Matthews 2018, hlm. 81.
  3. ↑ Kunst 2013. sfn error: tanpa target: CITEREFKunst2013 (bantuan)
  4. ↑ Pickvance 2005, hlm. 63.
  5. ↑ Spiller 2004, hlm. 69.
  6. ↑ Malm 1977, hlm. 43.
  7. ↑ Malm 1977, hlm. 194-195.

Daftar pustaka

Teori
Gamelan Jawa
Musicians performing musical ensemble, bas-relief of Borobudur.
A Java-Bali style Gong, hanging in a frame.
Genre dan
ansambel
Musisi
Alat musik
Kolotomi dan
penanda khusus
Instrumen balungan
atau melodi
Instrumen panerusan
Tak bernada
Vokal dan
tepuk tangan
Tata gendhing
Komposisi
terkenal
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan