Sabtu, 24 Oktober 2026
08:23 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Gamelan Surakarta

Gamelan Surakarta

Bagikan:
250px-Gamelan_ceremonial_Munggang%2C_Kraton_Surakarta.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Upacara Gamelan Monggang, Keraton Surakarta

Gamelan Surakarta adalah salah satu dari dua gaya permainan gamelan yang sedikit berbeda yang muncul di Jawa Tengah sejak tahun 1755.[1] Berbeda dengan yogyakarta, gaya Surakarta terkenal dengan gaya permainannya yang rumit dan lembut.[1]

Deskripsi

gamelan ganda yang besar dan khas dalam permainan solo kontemporer (Surakarta) akan mencakup, dalam set sléndro, satu saron panerus (atau saron peking), dua saron barung, satu atau dua saron demung, satu gendér panerus, satu gender barung, satu slenthem (atau "gender panembung"), satu bonang panerus dan satu bonang barung (masing-masing dua belas gong), satu gambang kayu, satu siter atau celempung, satu rebab, satu suling, satu pasang kethuk dan kempyang, satu set tiga hingga lima kenong, satu set tiga hingga lima kempul, satu hingga tiga gong suwukan, dan satu gong ageng.

Set pelengkap instrumen pelog akan mencakup masing-masing dua gender panerus, gender barung, gambang dan siter atau celempung, yang pertama dari setiap pasangan disetel ke subset pelog bem lima nada (nada 1,2,3,5,6), yang kedua ke subset pelog barang lima nada (2,3,5,6,7). Pelog bonang masing-masing akan memiliki empat belas gong.

Gamelan slendro dan pelog biasanya menggunakan kendang yang sama, termasuk masing-masing satu ketipung, kendang ageng (atau kendang gendhing), ciblon, kendang wayangan, dan, dalam gamelan terbesar, sebuah gendang gantung besar, bedug. Ansambel kuno mungkin masih menyertakan instrumen seperti gambang gangsa, slentho (sebagai pengganti slenthem), dan bonang panembung. Ansambel pertunjukan yang khas mencakup solois vokal wanita dan paduan suara pria; dalam bagian-bagian tertentu, para penyanyi bertepuk tangan secara ritmis.

Perbandingan dengan Gamelan Yogyakarta

Di Yogyakarta, terdapat kecenderungan untuk memiliki lebih banyak saron dari setiap register dan lebih mungkin bonang panembung akan hadir. Instrumen kuno, celuring, seperangkat lonceng yang dipukul, hanya ditemukan pada beberapa gamelan di Kraton Yogyakarta dan dimainkan sebagai pengganti saron panerus. Gaya Solonese sering dianggap lebih halus (atau "alus") daripada gaya Yogyakarta. Salah satu perbedaan spesifiknya adalah dalam permainan saron Peking; meskipun pola yang dimainkannya untuk balungan seringkali sama, dalam gaya Yogyakarta, pola tersebut secara ritmis digeser lebih awal, menciptakan penekanan yang berbeda dalam kaitannya dengan balungan.

Lihat juga

Bacaan lebih lanjut

  • Wasisto Surjodiningrat, P.J. Sudarjana, Adhi Susanto (1993) Pengukuran nada gamelan Jawa yang beredar di Yogyakarta dan Surakarta / diterjemahkan dari bahasa Indonesia oleh penulis. Penjelidikan dalam pengukuran nada gamelan-gamelan Djawa terkemuka di Jogjakarta dan Surakarta. putaran ke-2. ed. Yogyakarta : Pers Universitas Gadjah Mada. ISBN979-420-273-8 (pbk.)

Referensi

  1. 1 2 Lindsay, Jennifer (1979). Gamelan Playing. Kuala Lumpur; New York: Oxford University Press. hlm. 47. ISBN 0195804139.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan