Senin, 28 September 2026
09:57 WIB
TERKINI
Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal
Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan Indonesia

Tuanku Imam Bonjol
250px-Portret_van_Tuanku_Imam_Bonjol.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gambar Tuanku Imam Bonjol oleh Hubert de Stuers (sekitar 1820)
Pemimpin Perang Padri
Masa jabatan
k.1821–k.1837
Penguasa monarkiPagaruyung
Informasi pribadi
Lahir1772
Meninggal6 November 1864 (umur 92)

Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyung, 1772 – wafat dalam pengasingan serta dimakamkan di Lotta, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864) adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803–1838.[1] Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087 tahun 1973.[2]

Salah satu naskah asli yang memuat riwayat hidup Tuanku Imam Bonjol tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat.[3]

Masa muda

Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shawab, yang lahir di Bonjol, Luhak Agam, Pagaruyuang pada 1 Januari 1772.[4] Ia merupakan putra dari pasangan Khatib Bayanuddin dan Hamatun.[4] Ayahnya, Khatib Bayanuddin merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota.[4][5] Ibunya Hamatun dan pamannya Syekh Usman adalah perantau bangsa Arab yang datang ke Alai, Ganggo Mudiak, Bonjol.[6][7] Mereka lalu diterima masuk ke dalam tatanan adat Minangkabau, di mana Syekh Usman menjadi penghulu kaum keturunannya, sebagai bagian klan suku Koto.[7]

Setelah dewasa dan menjadi ulama sekaligus pemimpin, Muhammad Shahab mendapat beberapa gelar dari masyarakat setempat, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, Datuk Bagindo Suman,[7] dan terakhir Tuanku Imam.[4][8]

Tuanku Imam Bonjol tidak terlibat sejak awal dalam Perang Padri. Ia baru terlibat setelah Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin Harimau Nan Salapan menunjuknya sebagai imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol.[4] Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.[4]

Perang Padri

Bagian ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Tuanku Imam Bonjol" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Artikel utama: Perang Padri
330px-Makam_Tuanku_Imam_Bonjol_di_Minahasa_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makam Tuanku Imam Bonjol di Pineleng, Minahasa

Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis di ranah Minangkabau. Selama sekitar 18 tahun pertama perang itu (1803–1821) umumnya yang berperang adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak.[butuh rujukan]

Awal timbulnya peperangan ini didasari keinginan di kalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah Rasullullah shalallahu 'alaihi wasallam. Pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam (bid'ah).[9]

Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri (penamaan bagi kaum ulama) dengan Kaum Adat. Seiring itu di beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, dan sampai akhirnya Kaum Padri di bawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815, dan pecah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibu kota kerajaan ke Lubuk Jambi.[butuh rujukan]

Pada 21 Februari 1821, kaum Adat secara resmi bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda berperang melawan kaum Padri dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang. Sebagai kompensasi, Belanda mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau).[10] Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga dinasti kerajaan Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sudah berada di Padang waktu itu.[butuh rujukan]

Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Dalam hal ini, Belanda beralasan melibatkan diri dalam perang karena "diundang" oleh kaum Adat.[butuh rujukan]

250px-Patung_Tuanku_Imam_Bonjol_di_Manado.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung Tuanku Imam Bonjol di Pineleng, Minahasa

Perlawanan oleh pasukan Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Belanda melalui Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch lalu mengajak pemimpin Kaum Padri yang kala itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824.[butuh rujukan] Hal ini karena pada saat bersamaan Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropa dan Jawa, seperti Perang Diponegoro. Namun, kemudian perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang nagari Pandai Sikek.[butuh rujukan]

Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Padri melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda, Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Di ujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan rakyat Minangkabau itu sendiri.[11] Bersatunya kaum Adat dan kaum Padri ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an).[butuh rujukan]

Rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Padri atas sesama orang Minang, terefleksi dalam ucapannya Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?).[11] Kemudian semuanya bersorak "ah, saketek indak baã, iyo biktu awak samo awak badusanak" (Bahasa Indonesia: ah, sedikit tidak apa, iya seperti itu jika kita bersaudara).[butuh rujukan]

Penyerangan dan pengepungan benteng kaum Padri di Bonjol oleh Belanda dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837)[12] yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi dengan tentara yang sebagian besar adalah bangsa pribumi yang terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda, terdapat Mayor Jenderal Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, dan Pembantu Letnan Satu Steinmetz. Namun, juga terdapat nama-nama inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.[butuh rujukan]

Pada saat penyerangan pertama, Belanda didukung oleh 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, dan 4.130 tentara pribumi. Serangan terhadap benteng Bonjol dimulai oleh orang-orang Bugis yang berada di bagian terdepan. Namun karena pertahanan Padri sangatlah kuat, maka didatangkan lagi tambahan pasukan dari Batavia, di mana pada tanggal 20 Juli 1837 mereka tiba di Padang dengan Kapal Perle. Pasukan tersebut terdiri dari Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini merujuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di kawasan yang sekarang bernama Ghana dan Mali. Mereka juga disebut Sepoys yang berdinas dalam ketentaraan Belanda.[butuh rujukan]

330px-Masjid_Imam_Bonjol_di_Minahasa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Masjid Imam Bonjol

Setelah datang bantuan dari Batavia, maka Belanda mulai melanjutkan kembali pengepungannya. Pada masa-masa selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit. Namun ia masih terus bertahan tak sudi untuk menyerah kepada Belanda. Sehingga sampai tiga kali Belanda mengganti komandan perangnya, barulah pada tanggal 16 Agustus 1837, Benteng Bonjol—benteng dari tanah liat yang di sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit—dapat dikuasai setelah sekian lama dikepung.[butuh rujukan]

Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda pada Oktober 1837, dengan kesepakatan bahwa anaknya yang ikut bertempur selama ini, Naali Sutan Chaniago, diangkat sebagai pejabat kolonial Belanda.[13] Imam Bonjol dibuang ke ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotta, Minahasa, dekat Manado.[14] Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut. Tuanku Imam Bonjol menulis autobiografi yang dinamakan Naskah Tuanku Imam Bonjol yang antara lain berisi penyesalannya atas kekejaman dalam perang Padri.[13] Tulisan tersebut merupakan karya sastra autobiografi pertama dalam bahasa Melayu yang disimpan oleh keturunan Imam Bonjol serta dipublikasikan tahun 1925 di Berkeley[15] dan tahun 2004[16] di Padang.[13]

Perjuangan yang telah dilakukan oleh Tuanku Imam Bonjol dapat menjadi apresiasi akan kepahlawanannya dalam menentang penjajahan,[17] sebagai penghargaan dari pemerintah Indonesia yang mewakili rakyat Indonesia pada umumnya, Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tanggal 6 November 1973.

Selain itu, nama Tuanku Imam Bonjol juga hadir di ruang publik bangsa sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan pada lembaran uang Rp5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001.[18]

Keturunan

Di antara anak-anak Tuanku Imam Bonjol, yakni Sutan Chaniago dan Sutan Saidi (lain ibu). Ibu Sutan Chaniago berasal dari Alahan Panjang, sedangkan ibu Sutan Saidi berasal dari Koto Lawas, Koto Tinggi.[19] Selepas Perang Padri, Sutan Chaniago diangkat menjadi Kepala Laras Alahan Panjang (1851–1875), sementara Sutan Saidi dibuang bersama Tuanku Imam Bonjol ke Manado dan kembali ke Bonjol setelah sang ayah meninggal.[20]

Putra Imam Bonjol lainnya bernama Mahmud tewas kena tusukan bayonet saat Belanda menaklukkan Benteng Bukit Tajadi pada 1836.[21]

Referensi

  1. ↑ Radjab, M., (1964). Perang Paderi di Sumatera Barat, 1803-1838. Balai Pustaka.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  2. ↑ Direktorat Urusan Kepahlawanan dan Perintis Kemerdekaan, (1991), Wajah dan sejarah perjuangan pahlawan nasional, Vol. 3, Departemen Sosial R.I., Direktorat Urusan Kepahlawanan dan Perintis Kemerdekaan.
  3. ↑ "Pemprov Sumbar Akan Jemput Naskah Tuanku Imam Bonjol ke Belanda - Harian Haluan". Pemprov Sumbar Akan Jemput Naskah Tuanku Imam Bonjol ke Belanda - Harian Haluan. 2017-11-20. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-05-24. Diakses tanggal 2023-05-24.
  4. 1 2 3 4 5 6 Muttaqin, Fajriudin, dkk. (2015-08-04). SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL. Humaniora. ISBN 978-979-778-269-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  5. ↑ Muhammad Syamsu As, Ulama pembawa Islam di Indonesia dan sekitarnya, Lentera, 1996
  6. ↑ Sjafnir Aboe Nain, (1988), Tuanku Imam Bonjol: Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau, 1784-1832, Universitas Michigan.
  7. 1 2 3 Djaja, Tamar (1965). Pustaka Indonesia: riwajat hidup orang-orang besar tanah air. Bulan Bintang. hlm. 340.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ https://books.google.co.id/books?id=k57rCgAAQBAJ&pg=PT29&dq=peto+%22pendeta%22&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiSqNLd7N3mAhUXfH0KHTMACcQQ6AEIMTAB#v=onepage&q=peto%20%22pendeta%22&f=false
  9. ↑ Indonesia, Tokoh (2007-11-10). "Pemimpin Utama Perang Paderi". TokohIndonesia.com - Tokoh.ID (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-03-20. Diakses tanggal 2025-05-08.
  10. ↑ G. Kepper, (1900), Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900, M.M. Cuvee, Den Haag.
  11. 1 2 Sjafnir Aboe Nain, (2004), Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB), transl., Padang: PPIM.
  12. ↑ G. Teitler, 2004, Het einde Padri Oorlog: Het beleg en de vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie, Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 59-183.
  13. 1 2 3 Hadler, Jeffrey (2008/08). "A Historiography of Violence and the Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and the Uses of History". The Journal of Asian Studies (dalam bahasa Inggris). 67 (3): 971–1010. doi:10.1017/S0021911808001228. ISSN 1752-0401. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-06-19. Diakses tanggal 2018-07-16.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date= Halaman 986-989, 1002
  14. ↑ "Menyusuri Makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa". Republika Online. 2018-03-21. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-05-25. Diakses tanggal 2023-05-24.
  15. ↑ Imam Bondjol, Tuanku, and Naali, Sutan Caniago (1925) Naskah Tuanku Imam Bondjol [manuscript in Arabic-script Minangkabau], University of California, Berkeley. Doe Library, DS646.15.S76.I43.
  16. ↑ Imam Bondjol, Tuanku, (2004), Naskah Tuanku Imam Bonjol, Transliterator Syafnir Aboe Nain, Padang: PPIM.
  17. ↑ Kompas 10/11/2007 Oleh Suryadi, Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda
  18. ↑ https://web.archive.org/web/20170615140700/http://www.tokohindonesia.com/ Imam Bonjol, Tuanku (diakses pada 23 Juli 2010)
  19. ↑ Nain, Sjafnir Abu (2004). Naskah Tuanku Imam Bonjol (dalam bahasa Melayu). Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. ISBN 978-979-3797-05-2.
  20. ↑ Nain, Sjafnir Abu (1988). Tuanku Imam Bonjol: sejarah intelektual Islam di Minangkabau, 1784-1832. Esa.
  21. ↑ Martamin, Mardjani (1984). Tuanku Imam Bonjol. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hlm. 20.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Lihat juga

Pranala luar

Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa

[1]

  1. ↑ A, Fandy. "Biografi Tuanku Imam Bonjol: Latar Belakang Kehidupan dan Riwayat Perjuangannya". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-01-06. Diakses tanggal 2025-05-15.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan