Minggu, 20 September 2026
18:03 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Filsafat Jawa

ilmu yang mempelajari tentang filsafat yang bertumpu pada pemikiran-pemikiran yang berakar pada budaya Jawa.

Filsafat Jawa adalah ilmu yang mempelajari tentang filsafat yang bertumpu pada pemikiran-pemikiran yang berakar pada budaya Jawa. Filsafat Jawa sebenarnya juga tergolong pada filsafat Timur, yang umumnya berdasarkan pada pemikiran para filsuf di India dan Tiongkok, meskipun saat ini filsafat Jawa belum diakui sebagai bagian dari filsafat Timur tetapi pada dasarnya filsafat Jawa memiliki kesamaan dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam filsafat India.[1]

Filsafat Jawa seperti halnya filsafat lainnya, pada dasarnya bersifat universal. Jadi filsafat Jawa meskipun dilahirkan dari hasil kebudayaan Jawa tetapi sebenarnya bisa berguna bagi orang-orang di luar Jawa juga.[2] Meski bersifat universal, filsafat Jawa atau filsafat Timur pada umumnya memiliki perbedaan dengan filsafat Barat. Dalam filsafat Timur, termasuk juga filsafat Jawa tujuannya adalah untuk mencapai kesempurnaan, sementara filsafat Barat tujuannya adalah kebijaksanaan.[3]

Asal-Usul

250px-Hanacaraka-jawa.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hanacaraka, asal-usul dari kebangkitan filsafat Jawa.

Kemunculan filsafat Jawa juga tidak dapat dilepaskan dari adanya pengaruh ajaran Hindu dan Buddha, oleh karenanya filsafat Jawa tidak dapat dipisahkan dari filsafat India.[4] Filsafat Jawa tumbuh seiring dengan kemunculan Aksara Jawa atau yang juga dikenal sebagai Hanacaraka. Kemunculan Hanacaraka membuat kesusastraaan Jawa juga makin berkembang. Pada masa-masa itu muncul berbagai pujangga-pujangga hebat seperti Empu Kanwa yang menulis Kakawin Arjunawiwāha, Empu Prapañca yang menulis Kakawin Nagarakretagama, Empu Tantular yang menulis tentang Kakawin Sutasoma, dan masih banyak lagi.[1]

Sejarah Hanacaraka muncul dan terkait dengan kisah Aji Saka dan kedatangannya dari Hindustan. Oleh karena itu maka tidak mengherankan bila ditemukan adanya nama-nama tempan atau nama orang Jawa yang mirip dengan nama-nama tempat atau nama orang India. Kisah Aji Saka ini sampai sekarang masih dipegang teguh oleh Suku Jawa dan menjadi inspirasi bagi kehidupan batin dan rohani orang Jawa.[5]

Dimensi

Seperti halnya filsafat pada umumnya, filsafat Jawa juga memiliki dimensi-dimensi yang meliputinya, antara lain dimensi metafisika, dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi. Penggolongan dari setiap dimensi filsafat tersebut disesuaikan dengan cabang-cabang dalam ilmu filsafat, yakni tentang ilmu pengetahuan, tentang 'ada dan sebab pertama', tentang materi, dan tentang norma-norma.[6]

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa filsafat Jawa mengutamakan pada aspek kesempurnaan hidup lebih tepatnya kesempurnaan batin.[7] Dalam filsafat Jawa, kesempurnaan itu bisa didapatkan manusia dengan cara berpikir dan merenungkan kaitan dirinya dengan Tuhan. Karena dalam filsafat Jawa yang menjadi tujuan adalah kesempurnaan hidup, maka setiap bidang dan dimensi yang ada dalam filsafat harus menyatu, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.[8]

Nilai-nilai

Dikarenakan filsafat Jawa bertujuan pada kesempurnaan hidup, maka ia memiliki nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Nilai-nilai yang ada dalam filsafat Jawa tidak hanya sebagai ilmu pengetahuan semata, tetapi juga menjadi filosofi dan falsafah dalam menjalani kehidupan. Berikut ini adalah beberapa nilai yang terkandung dalam filsafat Jawa.[1]

  • Aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa, maknanya jangan sombong, harus berempati dan memahami orang lain.
  • Migunani tumraping liyan, maknanya berbuat baik kepada orang lain, nanti orang lain akan berbuat baik kepadamu.
  • Eling sangkan paraning dumadi, maknanya selalu ingat asal-usul dan cita-cita dalam hidup.
  • Urip iku urup, maknanya hendaknya memberi manfaat pada lingkungan sekitar kita.
  • Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti, maknanya setiap keburukan pasti akan kalah dengan kebaikan.
  • Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha, maknanya jangan besar kepala jika sedang beruntung atau menang.
  • Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan, maknanya jangan mudah tersinggung.
  • Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman, maknanya adalah jangan mudah heran (Gumun), jangan mudah menyesal (Getun), jangan mudah terkejut (Kaget), dan jangan bersikap berlebihan (Aleman).

Referensi

  1. 1 2 3 Sutrisna Wibawa, Filsafat Jawa, (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2013) hal. 1-2
  2. Mohammad Safii, Filosofi Jawa, (Surabaya: Universitas Airlangga, 2011) hal. 1
  3. Sutrisna Wibawa, Filsafat Jawa, hal. 54
  4. Fatkur Rohman Nur Awalin, "Dunia Batin Jawa: Aksara Jawa Sebagai Filosofi dalam Memahami Konsep Ketuhanan", Jurnal Kontemplasi IAIN Tulungagung, Volume 05 Nomor 02 (Desember 2017) hal. 290
  5. Fatkur Rohman Nur Awalin, "Dunia Batin Jawa: Aksara Jawa Sebagai Filosofi dalam Memahami Konsep Ketuhanan" hal. 293
  6. Sutrisna Wibawa, Filsafat Jawa, hal. 15-16
  7. Fatkur Rohman Nur Awalin, "Dunia Batin Jawa: Aksara Jawa Sebagai Filosofi dalam Memahami Konsep Ketuhanan" hal. 290-291
  8. Sutrisna Wibawa, Filsafat Jawa, hal. 56-57
Diri dan Ketuhanan
Kesusilaan
Keindahan
Kepemimpinan
Pengetahuan
Tokoh
Pustaka
Lain-lain
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan