Jumat, 06 November 2026
18:25 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Notonagoro

guru besar di Universitas Gajah Mada

Bagikan:
Notonagoro
Lahir
Sukamto

(1905-12-10)10 Desember 1905
Meninggal23 September 1981(1981-09-23) (umur 75)
Dikenal karenaDiskusi Pancasila
Pasangan menikahGusti Raden Ayu Koestimah
Karier ilmiah
BidangFilsafat
Tempat kerjaUniversitas Gadjah Mada

Prof. Dr. (H.C.) Mr. Drs. Notonagoro lahir pada 10 Desember 1905 – 23 September 1981) adalah seorang akademisi hukum dan pemikir Indonesia. Ia dikreditkan sebagai orang pertama yang mendekati falsafah negara Pancasila secara filosofis.[1] Ia mengajar sebagai guru besar di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia merupakan peneliti dan pemikir filsafat Pancasila. Ia lahir di Sragen, Jawa Tengah pada 10 Desember 1905, dan wafat pada 23 September 1981. Ia menikah dengan Gusti Raden Ayu Koestimah putri Pakubuwono X, Raja keraton Surakarta. Gelar keraton yang kemudian ia sandang adalah Raden Mas Tumenggung Notonagoro. Ia dikenal sebagai cendikiawan yang banyak memikirkan pengembangan kajian Pancasila sebagai dan nilai-nilai yang terkandung dalam sistematis dan mendalam[2][3]

Biografi

Notonagoro lahir dengan nama Sukamto di Sragen, Jawa Tengah, Indonesia pada 10 Desember 1905. Setelah menikah dengan Gusti Raden Ayu Koostimah, putri Pakubuwono X, Susuhunan Surakarta, sebagai pegawai negeri ('"abdi dalem"') '"Kasunanan"' kerajaan, ia dipromosikan ke pangkat '"Bupati Anom"', diberi gelar kerajaan '"Raden Mas Tumenggung"' dan diberi nama 'dewasa' '"Notonagoro"'.[1]

Riwayat pendidikannya adalah sarjana Meester in de Rechten tahun 1929 dari Rechtshogeschool di Jakarta, Doktorandus in de indologi (Drs.) pada tahun 1932, dan gelar terakhir doktor honoris causa dalam ilmu filsafat, yang dianugerahkan oleh Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.[2]

Perjalanan kariernya dimulai pada tahun 1932-1938 di kantor pusat keuangan negeri Surakarta. selain itu, pada tahun 1933-1939 mengajar di Particuliaere Algemene Middelbare School di Jakarta, dan menjadi ketua bank pada tahun 1933-1940.[2]

Setahun setelah Indonesia merdeka, Notonagoro diminta untuk bergabung dengan Kementerian Kemakmuran; tahun berikutnya, ia mulai mengajar di Fakultas Pertanian di Klaten, Jawa Tengah.[1] Pada tahun 1949 ia membantu pendirian Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta,[4] kemudian menjadi dosen tamu yang mengajar hukum agraria. Pada tahun 1952 ia telah menjadi dekan fakultas hukum.[1]

Notonagoro menjadi pendiri Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada pada tahun 1968.[4] Atas kiprahnya bersama universitas dan pemikiran tentang Pancasila, Notonagoro dianugerahi gelar doktor kehormatan bidang filsafat dari Universitas Gadjah Mada pada 19 Desember 1973. Ia meninggal pada 23 September 1981.[1]

Pandangan

Dalam menyelidiki penyebab asli Pancasila, Profesor Notonagoro melibatkan penggunaan teori kausalitas. Berdasarkan teori kausalitas, causa material Pancasila berasal dari tradisi, budaya, dan agama milik Indonesia. Tradisi di sini adalah dalam arti hubungannya dengan sosial, ekonomi, masalah politik dan struktur negara. Tapi itu penting menegaskan di sini bahwa tradisi dapat diubah menjadi sila-sila Pancasila bahkan berpikir tidak sama sekali. Causa materialis Pancasila berasal dari budaya Indonesia melibatkan segala sesuatu yang dihasilkan oleh pikiran manusia seperti sains, teknologi, ekonomi, seni, dll.[5]

Pemahaman budaya ditentukan oleh poin ilmiah lihat, dalam hal ini, budaya lokal Indonesia yang diambil sebagai sila-sila Pancasila belum dijelaskan di sini. Selain itu, causa materialis dari Pancasila berasal dari agama dapat diekspresikan di seluruh realitas Indonesia sebagai orang-orang beragama yang mengakui Kesatuan Besar Allah. Prinsip ketuhanan ini cenderung menunjukkan bahwa orang Indonesia percaya Allah. Lebih dari ini, setiap orang Indonesia percaya pada Tuhan pada dasar agama dan iman mereka.[5]

Dimensi Nilai

Notonagoro menjelaskan Pancasila memiliki tiga dimensi nilai yaitu material, nilai vital, dan nilai kerohanian. Nilai-nilai ini dijelaskan sebagai berikut:

  1. Nilai Kerohanian merupakan nilai tertinggi karena berkaitan dengan aspek moral, etika dan kepercayaan yang menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia. Pemikiran tersebut memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan ideologi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  2. Nilai material adalah segala sesuatu yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan jasmani manusia, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
  3. Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna sebagai sarana untuk melakukan aktivitas atau mencapai tujuan hidup, seperti alat tulis, kendaraan, dan peralatan kerja.

Gagasan

Gagasan Notonagoro menjelaskan bahwa teori bahwa sila-sila dalam Pancasila memiliki susunan yang bersifat hierarkis dan berbentuk piramidal. Artinya, setiap sila tidak berdiri sendiri, melainkan saling menjiwai dan saling berkaitan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar yang menjiwai sila-sila lainnya, sedangkan sila Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial merupakan perwujudan nilai yang tersusun secara bertingkat.

Referensi

Catatan kaki
  1. 1 2 3 4 5 Bahari 2011, hlm. 25.
  2. 1 2 3 1983-, Bahari, Adib, (2011). 129 pendekar hukum Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Yustisia. ISBN 9789793411040. OCLC 768480553.{{cite book}}: |last= memiliki nama numerikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  3. ↑ Orang Indonesia jang terkemoeka di Djawa. Gunseikanbu. 1944.
  4. 1 2 Kompas 2006, 100 Tahun Notonagoro.
  5. 1 2 Amien, Miska (2017-04-11). "Causa Materialis Pancasila Menurut Notonagoro". Jurnal Filsafat (dalam bahasa American English). 16 (1): 18–26. doi:10.22146/jf.23212. ISSN 2528-6811.
Bibliografi
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan