| F-15 Eagle | |
|---|---|
F-15C Angkatan Udara Amerika Serikat pada Juli 2023 | |
| Informasi umum | |
| Jenis | pesawat tempur superioritas udara |
| Asal negara | Amerika Serikat |
| Pabrikan | |
| Status | Berdinas |
| Pengguna utama | Angkatan Udara Amerika Serikat |
| Jumlah yang diproduksi | F-15A/B/C/D/J/DJ: 1,198[1] |
| Sejarah | |
| Diproduksi | 1972–1997 |
| Tanggal perkenalan | 9 Januari 1976; 50 tahun lalu (1976-01-09)[2] |
| Penerbangan pertama | 27 Juli 1972; 54 tahun lalu (1972-07-27) |
| Varian | |
| Dikembangkan menjadi | |
McDonnell Douglas F-15 Eagle (Bahasa Indonesia: Elang) adalah pesawat tempur bermesin ganda generasi keempat[a] asal Amerika Serikat yang dirancang oleh McDonnell Douglas (kini bagian dari Boeing). Setelah berbagai evaluasi, Angkatan Udara Amerika Serikat memilih desain McDonnell Douglas pada tahun 1969 untuk memenuhi kebutuhan AS akan sebuah pesawat tempur superioritas udara. F-15 terbang perdana pada bulan Juli 1972, dan mulai berdinas pada tahun 1976. Pesawat ini termasuk salah satu pesawat tempur modern paling unggul, dengan lebih dari 104 pesawat tempur ditembak jatuh, tanpa satu pun F-15 yang tertembak jatuh dalam pertarungan udara.
F-15 telah diekspor ke sejumlah negara, termasuk Israel, Jepang, dan Arab Saudi. Meskipun F-15 awalnya murni dirancang sebagai pesawat tempur superioritas udara, desainnya memiliki kemampuan serang darat sekunder yang jarang dimanfaatkan. Pesawat ini terbukti fleksibel sehingga kemudian dikembangkan F-15E Strike Eagle sebagai pesawat tempur serang. F-15E mulai berdinas pada tahun 1989 dan telah diekspor dan dilisensi ke sejumlah negara.
F-15 merupakan pesawat tempur superioritas udara utama Angkatan Udara Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutu AS pada akhir Perang Dingin sebagai pengganti F-4 Phantom II yang lebih tua. F-15 pertama kali digunakan dalam pertempuran oleh Angkatan Udara Israel pada tahun 1979 dan banyak terlibat pertempuran dalam Perang Lebanon 1982. Dalam dinas Angkatan Udara Amerika Serikat, pesawat ini terlibat dalam Perang Teluk tahun 1991 serta konflik di Yugoslavia. Angkatan Udara Amerika Serikat mulai menggantikan pesawat tempur superioritas udara F-15 miliknya dengan F-22 Raptor pada dekade 2000-an. Namun, berkurangnya anggaran untuk program F-22 memaksa pemerintah untuk mengundur pemensiunan F-15C/D, yang masih digunakan oleh Garda Nasional Udara, sampai setidaknya tahun 2030. Pembatalan ini akhirnya berujung dengan pengadaan desain F-15 yang lebih canggih, yaitu F-15EX, guna mempertahankan kelayakam jumlah pesawat tempur superioritas udara. F-15 masih bertugas di sejumlah negara hingga kini.
Pengembangan
Studi awal
F-15 Memiliki asal-usul pada akhir Perang Vietnam, saat Angkatan Udara Amerika Serikat dan Angkatan Laut Amerika Serikat berselisih mengenai pengganti pesawat taktis. Sekretaris Pertahanan Robert McNamara mendesak keduanya untuk menggunakan pesawat yang sama sebanyak mungkin, bahkan jika ini berarti kompromi dalam kinerja pesawaat. Sebagai bagian dari kebijakan ini, Angkatan Udara Amerika Serikat dan Angkatan Laut Amerika Serikat memulai program TFX (F-111), dengan tujuan menghasilkan pesawat interdiktor jarak menengah bagi Angkatan Udara Amerika Serikat yang juga akan berfungsi sebagai pesawat pencegat jarak jauh bagi Angkatan Laut Amerika Serikat.[3]
Pada Januari 1965, Sekretaris McNamara meminta Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mempertimbangkan desain pesawat tempur taktis berbiaya rendah untuk peran jarak pendek dan peran bantuan tembakan udara guna menggantikan pesawat seperti F-100 Super Sabre dan berbagai pesawat pengebom ringan yang masih berdinas. Beberapa pesawat yang sudah berdinas dapat mengisi peran ini; Angkatan Laut Amerika Serikat condong menggunakan Douglas A-4 Skyhawk dan A-7 Corsair II, yang murni merupakan pesawat serang, sementara Angkatan Udara Amerika Serikat lebih tertarik pada pesawat tempur F-5 dengan kemampuan serang sekunder. A-4 dan A-7 lebih mumpuni dalam peran serang, sedangkan F-5 kurang begitu mumpuni tetapi mampu mempertahankan dirinya sendiri. Jika Angkatan Udara Amerika Serikat memilih desain murni serang, mempertahankan superioritas udara akan menjadi prioritas bagi desain baru. Sebulan kemudian, sebuah laporan mengenai pesawat tempur taktis ringan menyarankan agar Angkatan Udara Amerika Serikat membeli F-5 atau A-7, dan mempertimbangkan pesawat berkinerja tinggi untuk menjamin superioritas udaranya. Saran ini semakin dipertegas setelah dua pesawat F-105 ditembak jatuh MiG-17 yang lebih tua di Jembatan Thanh Hóa [en] pada 4 April 1965.[3]
Pada bulan April 1965, Harold Brown, yang saat itu menjabat sebagai direktur Departemen Penelitian dan Rekayasa Pertahanan [en], menyatakan bahwa keputusan yang terbaik adalah mempertimbangkan F-5 dan memulai studi "F-X".[b] Studi-studi awal ini memperkirakan produksi sebanyak 800 hingga 1.000 pesawat dan menekankan manuverbilitas dalam kecepatan tinggi; studi ini juga menyatakan bahwa sebuah pesawat tidak akan dipertimbangkan tanpa kemampuan serangan darat tertentu.[4] Pada 1 Agustus, Jenderal Gabriel Disosway [en] mengambil alih komando Komando Udara Taktis [en] (TAC) dan kembali menegaskan seruan untuk F-X, dengan penurunan persyaratan kinerja dari Mach 3,0 menjadi 2,5 untuk menekan biaya.[5]

Dokumen persyaratan resmi untuk pesawat tempur superioritas udara dirampungkan pada Oktober 1965, dan dikirimkan sebagai permintaan proposal [en] (Request for Proposal, RFP) kepada 13 perusahaan pada 8 Desember 1965. Sementara itu, Angkatan Udara memilih A-7 ketimbang F-5 untuk peran dukungan pada 5 November 1965,[6] yang semakin mendorong kebutuhan desain superioritas udara karena A-7 tidak memiliki kemampuan udara-ke-udara yang memadai.
Delapan perusahaan mengajukan proposal. Setelah proses seleksi, empat perusahaan diminta untuk memberikan pengembangan lanjutan. Secara keseluruhan, mereka mengembangkan sekitar 500 konsep. Desain-desain khas menampilkan sayap sapuan variabel, bobot lebih dari 27,000 kilogram (59,525 pon), kecepatan Mach 2,7, dan rasio dorong-berat sebesar 0,75.[7] Ketika proposal-proposal tersebut dikaji pada bulan Juli 1966, pesawat-pesawat tersebut memiliki ukuran dan bobot yang kurang lebih sama dengan TFX F-111, yang oleh karena itu tidak dapat dianggap sebagai pesawat tempur superioritas udara.[8]
Lebih kecil, lebih ringan

Selama periode ini, berbagai studi mengenai pertempuran udara di Vietnam menghasilkan temuan yang mengkhawatirkan. Teori sebelumnya mementingkan pertempuran jarak jauh menggunakan rudal serta pesawat yang dioptimalkan untuk peran tersebut. Hasilnya adalah pesawat-pesawat dengan bobot tinggi yang memiliki radar besar dan kecepatan yang tinggi, tetapi dengan manuverbilitas terbatas dan seringkali tidak dilengkapi meriam. Contoh dari ini adalah F-4 yang digunakan oleh Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Korps Marinir Amerika Serikat. Umum digunakan dalam peran superioritas udara, F-4 adalah satu-satunya pesawat tempur dengan daya, jangkauan, dan manuverbilitas yang cukup untuk menghadapi ancaman pesawat tempur Soviet.[9]
Kenyataannya, karena alasan kebijakan,[9] jarak pertempuran pesawat justru mendekat, yang mengharuskan pesawat bermanuver lebih lincah. Ini membuat pesawat tempur Amerika Serikat lebih rawan terhadap pesawat tempur yang lebih sederhana seperti MiG-21. Rudal-rudal terbukti kurang andal dari yang diduga, terutama pada jarak dekat. Walaupun pelatihan yang lebih baik dan berdinasnya meriam M61 Vulcan pada F-4 banyak membantu mengatasi situasi ini, keputusan-keputusan tersebut memicu evaluasi ulang terhadap doktrin Project Forecast 1963.[10][11] Hal ini melahirkan teori energi-manuverbilitas [en] usulan John Boyd, yang menyatakan bahwa daya cadangan [en] dan manuverbiltitas merupakan kunci dari desain pesawat tempur yang unggul. Aspek-aspek tersebut dianggap lebih penting daripada kecepatan mutlak semata. Setelah pendesakan terus-menerus yang bersamaan dengan "kegagalan" fase awal program F-X, "fighter mafia" (mafia pesawat tempur) mengusulkan akan pesawat tempur ringan. Pesawat ini dapat diproduksi dan digunakam dalam jumlah besar guna menjamin superioritas udara.[12] Pada awal 1967, mereka mengusulkan bahwa desain ideal akan memiliki rasio dorong-berat mendekati 1:1, kecepatan maksimum Mach 2,3 yang lebih lambat, bobot 18.000 kilogram (40.000 pon), dan beban sayap sebesar 390 kilogram per meter persegi (80 pon/sq ft).[13]
Pada saat itu, Angkatan Laut Amerika Serikat memutuskan bahwa F-111 tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka dan mulai mengembangkan desain pesawat tempur baru, yaitu program VFAX. Pada bulan Mei 1966, Sekretaris McNamara kembali meminta Angkatan Udara Amerika Serikat dan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mengkaji desain-desain tersebut serta megevaluasi jika VFAX mampu memenuhi persyaratan F-X Angkatan Udara Amerika Serikat. Studi yang dihasilkan memakan waktu 18 bulan dan menyimpulkan bahwa kemampuan yang diinginkan terlalu berbeda; Angkatan Laut Amerika Serikat mementingkan waktu jelajah (loiter time) dan fleksibilitas misi, sementara Angkatan Udara Amerika Serikat mengutamakan manuverbilitas.[14]
Fokus pada superioritas udara
Pada 1967, Uni Soviet memperlihatkan Mikoyan-Gurevich MiG-25 di Lapangan Udara Domodedovo dekat Moskwa.[9][15] MiG-25 dirancang sebagai pesawat pencegat berkecepatan dan beraltitudo tinggi, yang mengharuskan para perancang mengorbankan beberapa aspek performa demi unggul dalam peran tersebut.[16] Salah satunya adalah persyaratan kecepatan yang sangat tinggi melebihi Mach 2,8, yang mengharuskan penggunaan baja nirkarat ketimbang aluminium untuk banyak bagian pesawat. Bobot tambahan tersebut menuntut sayap yang jauh lebih besar agar pesawat dapat beroperasi pada altitudo tinggi yang disyaratkan. Namun, di mata para pengamat Barat, pesawat ini tampak serupa secara dengan studi F-X. Keduanya adalah pesawat berkecepatan tinggi dengan sayap besar dan manuverbilitas besar. Ini memicu kekhawatiran di Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan militer amerika serikat bahwa teknologi militer AS sudah tertinggal. MiG-23 juga memicu kekhawatiran, dan secara umum diyakini sebagai pesawat yang lebih baik daripada F-4. F-X akan mengungguli MiG-23, tetapi kini MiG-25 tampak lebih unggul dalam hal kecepatan, altitudo, dan daya tahan dibandingkan seluruh pesawat tempur AS yang berdinas, bahkan F-X sekalipun.[17] Karena itu, dilakukanlah upaya untuk menyempurnakan F-X.[18]
Baik markas besar Angkatan Udara Amerika Serikat maupun TAC terus menyerukan pesawat multiperan, sementara Disosway dan Kepala Staf Angkatan Udara Bruce K. Holloway [en] sama-sama mendesak desain superioritas udara murni yang mampu menandingi performa MiG-25. Pada saat yang bersamaan, Angkatan Laut Amerika Serikat telah menghentikan program VFAX-nya. Sebagai gantinya, mereka menerima proposal dari Grumman untuk desain yang lebih kecil dan lebih lincah, dikenal sebagai VFX. Desain ini kemudian menjadi Grumman F-14 Tomcat. VFX jauh lebih dekat dengan persyaratan F-X yang masih berubah-ubah. Perselisihan internal di Angkatan Udara Amerika Serikat akhirnya berakhir karena kekhawatiran bahwa rancangan VFAX akan dipaksakan kepada mereka; pada Mei 1968, dinyatakan bahwa "Kami akhirnya memutuskan – dan saya harap tidak ada yang masih tidak setuju – bahwa pesawat ini akan menjadi pesawat tempur superioritas udara".[14]

Pada bulan September 1968, permintaan proposal dirilis kepada perusahaan-perusahaan dirgantara besar. Persyaratan ini menuntut pesawat tempur berkursi tunggal dengan bobot lepas landas maksimum 18.000 kilogram (40.000 pon) untuk peran udara-ke-udara dengan kecepatan maksimum Mach 2,5 dan rasio dorong-berat dengan bobot misi mendekati 1:1.[19] Persyaratan ini juga menuntut konfigurasi mesin ganda, karena diyakini lebih respins dalam percepatan. Ini juga mungkin membuatnya serupa dengan program VFX milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Namun, rincian mengenai avionik sebagian besar belum disahkan, karena belum jelas apakah akan dibangun pesawat yang lebih besar dengan radar kuat jarak jauh, atau sebaliknya pesawat kecil yang akan membuat pesawat itu lebih sulit dideteksi oleh musuh.[20]
Empat perusahaan mengajukan proposal. Angkatan Udara Amerika Serikat memberikan kontrak kepada Fairchild Republic, North American Rockwell, dan McDonnell Douglas untuk fase definisi pada bulan Desember 1968. General Dynamics adalah satu-satunya perusahaan yang ditolak Angkatan Udara Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan yang diberi kontrak mengajukan proposal teknis pada bulan Juni 1969. Angkatan Udara mengumumkan pemilihan McDonnell Douglas pada 23 Desember 1969; layaknya VFX Angkatan Laut Amerika Serikat, F-X melewatkan sebagian besar tahap purwarupa dan langsung masuk ke pengembangan penuh untuk menghemat waktu dan menghindari kemungkinan pembatalan program.[21] Desain pemenangnya menyerupai F-14 berekor ganda, tetapi dengan sayap tetap; kedua desain tersebut didasarkan pada konfigurasi kajian NASA yang diuji dalam terowongan angin.[22]

Dengan nama resmi "Eagle", dua versi awal pesawat ini adalah varian berkursi tunggal F-15 dan varian berkursi ganda TF-15. Nama kedua varian tersebut diubah menjadi F-15A dan F-15B setelah berdinasnya varian F-15C. Versi-versi ini ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney F100 untuk mencapai rasio dorong-berat di atas 1:1. Meriam GAU-7 yamg dirancang dengam amunisi nirselongsong [en] mengalami masalah pengembangan dan akhirnya dibatalkan, digantikan oleh meriam M61 Vulcan. Sayap dipasang pada badan pesawat yang datar dan lebar yang juga menyediakan permukaan badan angkat. Rangka pesawat dirancang dengan masa pakai 4.000 jam. Walaupum begitu, modifikasi memungkinkan masa pakai melebihi 8.000 jam, dengan beberapa pesawat bahkan terbang melebihi angka tersebut.[23] Penerbangan perdana F-15A dilakukan pada 27 Juli 1972, disusul penerbangan perdana F-15B berkursi ganda pada bulan Juli 1973.[24]
F-15 memiliki radar "look-down/shoot-down [en]" yang dapat membedakan target berketinggian rendah dari kekacauan sinyal di darat. Pesawat ini menggunakan teknologi komputer dengan sistem kendali dan tampilan baru untuk mengurangi beban kerja pilot. Ini membuat F-15 (selain model B/D berkursi ganda) hanya membutuhkan satu awak demi menghemat bobot. Berbeda dengan F-14 atau F-4, F-15 hanya memiliki satu bingkai kanopi dengan pandangan jelas ke depan. Angkatan Udara Amerika Serikat memperkenalkan F-15 sebagai "pesawat tempur superioritas udara khusus Angkatan Udara Amerika Serikat pertama sejak North American F-86 Sabre".[25]
F-15 ditanggapi baik oleh pengguna seperti angkatan udara Israel dan Jepang. Kritikan dari kelompok "fighter mafia" yang menyatakan bahwa F-15 terlalu besar untuk menjadi pesawat tempur jarak dekat khusus dan terlalu mahal untuk diadakan dalam jumlah besar memicu lahirnya program Lightweight Fighter [en] (LWF). Program ini pada akhirnya menghasilkan General Dynamics F-16 Fighting Falcon milik Angkatan Udara Amerika Serikat dan pesawat McDonnell Douglas F/A-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat.[26]
Pembaruan dan pengembangan lanjutan
Model F-15C berkursi tunggal dan F-15D berkursi ganda mulai diproduksi pada 1978 dan melakukan penerbangan perdananya masing-masing pada Februari dan Juni tahun itu.[27] Model-model ini dilengkapi dengan Production Eagle Package (PEP 2000, Paket Produksi Eagle), yang mencakup tambahan bahan bakar internal sebesar 910 kilogram (2.010 pon), penyediaan untuk pemasangan tangki bahan bakar konformal (CFT) eksternal, serta peningkatan bobot lepas landas maksimum hingga 31.000 kilogram (68.000 pon).[28] Peningkatan bobot lepas landas ini memungkinkan pembawaan bahan bakar internal, muatan senjata penuh, tangki bahan bakar konformal, dan tiga tangki bahan bakar eksternal secara bersamaan. Radar AN/APG-63 yang digunakan diperbagus dengan programmable signal processor (PSP, Prosesor Sinyal Programabel), yang memungkinkan radar tersebut diprogram ulang untuk fungsi tambahan seperti integrasi persenjataan dan peralatan baru. PSP ini merupakan yang pertama dari jenisnya di dunia, dan radar AN/APG-63 yang ditingkatkan tersebut merupakan radar pertama yang menggunakannya. Pembaruan lainnya mencakup roda gigi yang diperkuat, komputer pusat digital baru,[29] dan aural overload warning system (OWS) yang memungkinkan pilot bermamuver hingga 9 g.[27]

Program F-15 MSIP (Multistage Improvement Program, Program Perbaikan Multitahap) dimulai pada Bulan Februari 1983 dengan F-15C MSIP pertama diproduksi pada Tahun 1985. Awalnya program ini direncanakan untuk diterapkan pada F-15A dan F-15C, dengan MSIP I untuk F-15A dan MSIP II untuk F-15C. Namun, MSIP I akhirnya dibatalkan dan hanya MSIP II untuk F-15C yang dilanjutkan. Tambahan mencakup komputer pusat baru; radar ANLAPG-63(V)2, Programmable Armament Control Set (Set Kontrol Persenjataan Programabel), yang memungkinkan penggunaan versi baru rudal AIM-7, AIM-9, dan AIM-120A; serta Tactical Electronic Warfare System (Sistem Peperangan Elektronik Taktis) yang fungsinya diperluas. Ini meningkatan performa penerima peringatan radar (RWR) AN/ALR-56C dan sistem umpan AN/ALQ-135. 43 F-15C terakhir yang dirpoduksi dilengkapi dengan radar AN/APG-70 yang diperuntukan untuk F-15E; pesawat-pesawat ini terkadang dijuluki Enhanced Eagle. F-15C generasi sebelumnya kemudian di-retrofit dengan radar tersebut. Juga pada Tahun 1985, model F-15C dan D mulai dilengkapi dengan mesin Pratt & Whitney F100-PW-220 baru serta kendali mesin digital yang lebih responsif. Kendali ini juga mengurangi keausan, dan membuat konsumsi bahan bakar lebih hemat.
Meskipun F-15A pada awalnya dikecualikan dari MSIP, Garda Nasional Udara AS (ANG) menerima jet-jet tersebut pada tahun 1990-an dan memulai program MSIP tersendiri untuk F-15A mereka pada TA 1994. Pesawat-pesawat ini menerima radar AN/APG-63 PSP, komputer pusat yang lebih besar, sistem umpan, integrasi AIM-120 dan rudal canggih lainnya, layaknya F-15C MSIP II.[30] Setelah dilaksanakannya program tersebut, pesawat-pesawat F-15A Garda Nasional Udara AS terus berdinas hingga akhirnya dipensiunkan pada Tahun 2011.[31] Mulai dari Tahun 1997, mesin F100-PW-100 diperbarui ke konfigurasi serupa dengan designasi F100-PW-220E.[32] Pada Tahun 2000, radar AESA AN/APG-63(V)2 di-retrofit pada 18 pesawat F-15C Angkatan Udara AS.[33] Karena alasan biaya, penggantian radar ini tidak diterapkan pada seluruh armada F-15C; sisa F-15C MSIP dengan AN/AN/PG-63 PSP kemudian diperbagus dengan AN/APG-63(V)1 untuk memudahkan perawatan dan menyamai kinerja AN/APG-70. Pembaruan ini dilaksanakan setahun kemudian pada Maret Tahun 2000 dimulai dengan dengan Skadron Tempur 27 di Pangkalan Angkatan Udara Langley, Virginia .[34] Sebagian besar armada telah menerima pembaruan ini.

Perangkat lunak Zone Acquisition Program (ZAP, Program Akuisisi Zona) telah diintegrasikan ke dalam program penerbangan seluruh pesawat F-15 AS. Perangkat lunak ini memberikan informasi zona peluncuran rudal dinamis dan wilayah kelayakan peluncuran rudal kepada pilot.[35]
Meskipun persyaratan F-X Angkatan Udara AS berfokus pada superioritas udara, McDonnell Douglas diam-diam telah menyertakan kemampuan serang darat sekunder dalam desain F-15 sejak awal, dan juga melakukan studi internal untuk meningkatkan kemampuan tersebut.[36] Pada Tahun 1979, McDonnell Douglas dan produsen radar F-15, Hughes, bekerja sama untuk mengembangkan versi pesawat tempur serang dari F-15. Versi ini bersaing dalam kompetisi Dual-Role Fighter [en] milik Angkatan Udara AS yang dimulai pada Tahun 1982. Pada Tahun 1984, pesawat tempur serang F-15E terpilih untuk diproduksi ketimbang pesaingnya, F-16XL milik General Dynamics; pesawat ini merupakan pesawat tempur multiperan berkursi ganda yang sepenuhnya terintegrasi untuk misi segala cuaca, udara-ke-udara, dan interdiksi jarak jauh.[37] Kokpit bagian belakang diperbagus dengan penambahan empat layar tabung sinar katode (CRT) multiguna untuk sistem pesawat dan manajemen senjata. Sistem kendali pesawat digital redundan buatan EG&G [en] memungkinkan pesawat terbang mengikuti kontur medan secara otomatis (automatic terrain following). Sistem ini diperbagus lagi oleh sistem navigasi inersia (INS) giroskop laser cincin.[38] Untuk interdiksi berkecepatan tinggi di altitudo rendah dan serangan presisi terhadap target taktis pada malam hari atau cuaca buruk, F-15E dilengkapi radar AN/APG-70 beresolusi tinggi dan perangkat LANTIRN untuk memungkinkan termografi.[39] F-15E kemudian dikembangkan menjadi keluarga F-15 Advanced Eagle, yang memiliki kendali fly-by-wire. F-15 Advanced Eagle kini menjadi dasar bagi seluruh produksi F-15 saat ini.[40]

Mulai Tahun 2006, dengan berkurangnya anggaran untuk program F-22 yang seharusnya menggantikan F-15 dalam peran superioritas udara, Angkatan Udara AS berencana memodernisasi 179 F-15C ke kondisi terbaik guna mempertahankan armada pesawat tempur dengan memasang radar AESA AN/APG-63(V)3 dan memperbarui layar-layar kokpit; pesawat pertama yang diperbarui dikirim pada Bulan Oktober 2010.[41][42] Sebagian besar F-15 dilengkapi dengan helm Joint Helmet Mounted Cueing System [en].[43] Lockheed Martin mengembangkan sistem sensor pencarian dan pelacakan inframerah (IRST) untuk pesawat tempur seperti F-15C, yang akhirnya melahirkan sensor AN/ASG-34(V)1 IRST21 yang dipasang di Legion Pod; perangkat AN/AAQ-33 Sniper XR juga diintegrasikan sebagai solusi IRST sementara.[44] Pembaruan lanjutan bernama Eagle Passive/Active Warning Survivability System (EPAWSS, Sistem Pertahanan Pasif/Aktif Eagle) telah direncanakan.[45] Boeing terpilih pada Bulan Oktober 2015 sebagai kontraktor utama untuk EPAWSS, dengan BAE Systems terpilih sebagai subkontraktor. EPAWSS merupakan sistem serba digital dengan umpan elektronik canggih, peringatan radar, dan daya tampung chaff serta flare yang lebih besar dalam ukuran yang lebih kecil dibandingkan Tactical Electronic Warfare System era 1980-an. Lebih dari 400 unit F-15C dan F-15E telah direncanakan untuk dipasangi sistem ini.[46] Namun, pada TA 2020, Angkatan Udara AS memutuskan untuk menghentikan program EPAWSS bagi F-15C karena telah diputuskan untuk membeli F-15EX sebagai gantinya; pesawat-pesawat ini akan menggantikan F-15C dalam dinas, terutama sebagai pesawat tempur superioritas udara.[47]
Pada Bulan September Tahun 2015, Boeing memperkenalkan pembaruan bernama 2040C Eagle (juga disebut Golden Eagle) yang dirancang untuk menjaga relevansi F-15 hingga 2040. Ini dilakukan sebagai mitigasi akan jumlah F-22 yang terlalu sedikit. 2040C Eagle sendiri dirancang di atas konsep F-15SE Silent Eagle [en] dengan pemanfaatan siluman rendah (low-observable). Sebagian besar pembaruan berfokus pada persenjataan, termasuk rak rudal untuk melipatgandakan muatan rudalnya menjadi 16, CFT untuk menambah jangkauan, perangkat komunikasi "Talon HATE" untuk komunikasi dengan pesawat tempur generasi kelima, radar AESA APG-63(V)3, perangkat IRST Legion berjangkauan jauh, serta sistem perang elektronik EPAWSS.[48] Pembaruan 2040C untuk F-15C/D dibatalkan, karena usia rangka pesawat membuatnya sulit untuk dirawat. Walaupun begitu, banyak komponen 2040C Eagle seperti EPAWSS dan radar AESA tetap digunakan untuk pembaruan F-15E serta F-15EX yang dipesan oleh Angkatan Udara AS pada tahun 2020; F-15EX memanfaatkan jalur produksi Advanced Eagle yang awalnya dikhususkan untuk pelanggan ekspor guna meminimalkan waktu tunggu dan mengurangi biaya penggantian F-15C/D yang lebih tua. Menghidupkan ulang produksi F-22 dianggap terlalu mahal.[49]
Desain
Struktural

F-15 memiliki badan pesawat semi-monokok berbahan logam dengan sayap kantilever besar yang dipasang di bahu badannya. Bentuk denah sayap F-15 menyerupai bentuk delta terpotong yang dimodifikasi dengan sudut sapuan tepi depan sebesar 45°. Aileron dan flap pengangkat terletak di tepi belakang. Flap manuver tidak digunakan di tepi depan sayap. Kerumitan ini dihindari melalui kombinasi beban sayap yang rendah dan kelengkungan konis tepi depan yang bervariasi sesuai dengan posisi sepanjang bentang sayap. Rasio ketebalan airfoil bervariasi dari 5,9% di pangkal hingga 3% di pucuk sayap.[50][51][c]
Ekor pesawat dibuat dari logam dan material komposit, dengan sepasang stabilizer vertikal berstruktur sarang lebah [en] yang dibuat dari paduan aluminium/material komposit. kulit ekor pesawat ini berbahan komposit boron. Ini menghasilkan bidang ekor dan kemudi yang sangat tipis. Bidang ekor bergerak (stabilator) komposit yang terletak di luar stabilizer vertikal berfungsi untuk memberikan kendali guling (roll) saat bermanuver; ekor horizontal ini memiliki bentuk Leading-edge extension untuk mengurangi flutter. F-15 memiliki rem udara yang dipasang di punggung serta roda gigi berjenis tricycle. Pesawat ini ditenagai oleh dua mesin turbofan beraliran aksial Pratt & Whitney F100 dengan kemampuan afterburner. Mesin ini dipasang berdampingan yang dipasok oleh saluran intake variabel. Kokpit dipasang tinggi di badan pesawat dengan kaca depan hanya ditopang satu bingkai. kanopi F-15 relatif besar untuk meningkatkan visibilitas serta memberi pilot bidang pandang 360°. Rangka pesawat terdiri dari 37,3% aluminium, 29,2% struktur sarang lebah, 25,8% titanium, 5,5% baja, dan 2% komposit serta serat kaca; mulai tahun 1980-an, struktur ini mulai menggunakan titanium hasil pembentukan superplastik [en].[52]

Manuverbilitas tinggi F-15 berasal dari beban sayap (rasio bobot-luas sayap) yang rendah dan rasio dorong-berat yang tinggi. Kedua aspek tersebut memungkinkan pesawat berbelok tajam hingga 9 g tanpa kehilangan kecepatan udara.[d] F-15 dapat menanjak hingga ketinggian 9.100 meter (29.900 ft) dalam waktu sekitar 60 detik. Pada kecepatan tertentu, gaya dorong yang dihasilkan kedua mesinnya lebih besar daripada bobot dan hambatan udara F-15, sehingga pesawat ini mampu berakselerasi sepenuhnya secara vertikal. Sistem senjata dan kendali penerbangan dirancang agar satu orang dapat melakukan pertempuran secara aman dan efektif.[53] Model A dan C merupakan varian berkursi tunggal; kedua model ini adalah versi superioritas udara. Model B dan D menambahkan kursi kedua di belakang pilot untuk pelatihan, meskipun keduanya juga sepenuhnya mampu bertempur. Model E menggunakan kursi kedua untuk Weapon Systems Officer (WSO, Perwira Sistem Persenjataan). Nosel mesin F-15 memiliki keunikan dibandingkan pesawat tempur modern lainnya; nosel pesawat ini tidak memiliki kelopak buang "bulu kalkun" (turkey feather) yang umumnya dihjumpai pada pesawat tempur lainnya. Keputusan untuk tidak menggunakan kelopak buang itu diambil setelah timbul masalah selama pengembangan desain kelopak buang, termasuk terlepasnya kelopak saat terbang. Keputusan ini akhirnya berdampak pada hambatan aerodinamis yang 3% lebih besar.[54]
F-15 dibuktikan mampu melakukan penerbangan terkendali hanya dengan satu sayap setelah sebuah F-15D milik Israel mengalami tabrakan di udara dengan sebuah A-4 Skyhawk yang membuat sebagian besar sayap kanannya lepas. A-4 yang bertabrakan jatuh dan hancur dengan pilotnya terlontar. F-15 yang bertabrakan terjebak dalam guling (roll) tak terkendali. Melalui penggunaan afterburner serta pendaratan pada berkecepatan tinggi, pilot Zivi Nedivi berhasil mendaratkan pesawatnya dengan selamat di Pangkalan Udara Ramon [en]. Uji terowongan angin pada model bersayap tunggal mengonfirmasi bahwa penerbangan terkendali hanya mungkin dilakukan dalam rentang kecepatan yang sangat terbatas, yaitu ±20 knot, dan variasi sudut serang ±20 derajat. Peristiwa ini melahirkan penelitian mengenai teknologi adaptif terhadap kerusakan serta pengembangan sebuah sistem bernama "Intelligent Flight Control System" (IFCS, Sistem Kontrol Terbang Pintar).[55]
Avionik
Sistem avionik mencakup head-up display (HUD), radar canggih, sistem navigasi inersia (INS) AN/ASN-109, instrumen penerbangan, komunikasi frekuensi ultra tinggi (UHF), serta penerima sistem navigasi udara taktis [en] (TACAN) dan sistem pendaratan instrumen (ILS). Pesawat ini juga memiliki sistem peperangan elektronik, sistem identifikasi teman atau lawan (IFF), perangkat penangkal elektronik, serta komputer pusat digital.[56]
HUD menampilkan kepada pilot seluruh informasi penting yang dikumpulkan oleh sistem avionik. Tampilan ini, yang dapat terlihat dalam kondisi cahaya apa pun, memberikan pilot informasi yang diperlukan untuk melacak dan menghancurkan pesawat musuh tanpa perlu melihat ke bawah pada instrumen kokpit.[57]
Sistem radar APG-63 dan 70 berjenis radar pulsa-Doppler mampu melacak baik ke atas untuk pesawat yang terbang tinggi maupun melacak pesawat di bawah terlepas kendala kekacauan sinyal radar (clutter) dari permukaan. Radar ini dapat mendeteksi dan melacak pesawat serta target kecil berkecepatan tinggi pada jarak di luar jangkauan visual [en] (BVR) hingga jarak dekat, dan pada ketinggian hingga serendah garis pohon. AN/APG-63 memiliki jangkauan \sejauh 160 kilometer (99 mi). Radar ini memasok informasi target ke komputer pusat untuk penembakan senjata. Untuk pertempuran jarak dekat (dogfight), radar secara otomatis mengunci pesawat musuh, dan informasi ini diberikan pada HUD. Sistem peperangan elektronik F-15 memberikan baik peringatan dari RWR maupun penangkalan otomatis terhadap ancaman-ancaman tertentu.[39]
Pembaruan radar AESA APG-63(V)2 dan AN/APG-63(V)3 yang menyertakan perangkat keras dari AN/APG-63(V)1, dengan tambahan antena AESA untuk meningkatkan kesadaran situasi pilot. Radar AESA ini memiliki sinar radar yang sangat lincah, memberikan pembaruan pelacakan yang hampir instan. Radar ini juga memiliki kemampuan pelacakan multitarget yang lebih baik. AN/APG-63(V)2 dan AN/APG-63(V)3 kompatibel dengan muatan senjata F-15C dan memungkinkan pilot memanfaatkan sepenuhnya kemampuan AIM-120 AMRAAM, yaitu memandu beberapa rudal secara bersamaan ke target-target yang tersebar luas secara azimut, elevasi, atau jarak.[42]
Persenjataan dan muatan luar

Berbagai jenis persenjataan udara-ke-udara dapat dibawa oleh F-15. Sistem senjata otomatis memungkinkan pilot menembakkan senjata secara efektif dan aman. Ini dilakukan menggunakan HUD serta kendali avionik dan senjata yang terletak pada stik throttle mesin dan stik kendali. Ketika pilot beralih dari satu sistem senjata ke sistem lainnya, panduan visual untuk senjata yang dipilih muncul pada HUD.[58]
F-15 dapat dipersenjatai dengan kombinasi empat jenis senjata udara-ke-udara: rudal AIM-7F/M Sparrow atau AIM-120 AMRAAM di sudut bawah badan pesawat; rudal AIM-9L/M Sidewinder atau AIM-120 AMRAAM pada dua rak senjatan di bawah sayap; serta meriam Gatling M61 Vulcan berkaliber 20 mm (0,79 in) yang terpasang di pangkal sayap bagian kanan.[59]

Tangki bahan bakar konformal (CFT), yang awalnya disebut paket Fuel And Sensor Tactical (FAST, paket Bahan Bakar dan Sensor Taktis), dikembangkan untuk model F-15C/D. Tangki-tangki ini dapat dipasang di samping saluran intake mesin di bawah masing-masing sayap.[59] Tangki-tangki ini menurunkan performa F-15 karena meningkatkan hambatan aerodinamis dan tidak dapat dijatuhkan saat terbang. Namun, tangki-tangki konformal ini masih lebih efisien dibandingkan tangki-tangki eksternal pada umumnya. Setiap CFT dapat menampung 750 2.840 litert bahan bakar.[60] CFT ini meningkatkan jangkauan dan mengurangi kebutuhan akan pengisian bahan bakar di udara. Seluruh rak eksternal untuk persenjataan tetap dapat digunakan terlepasnya terpasang CFT. Selain itu, rudal AIM-7 atau AIM-120 dapat dipasang pada sudut-sudut CFT.[28] Skadron Tempur-Pencegat 57 (57 FIS) Angkatan Udara AS yang bermarkas di Pangkalan Udara NAS Keflavik, Islandia, merupakan satu-satunya skadron F-15C yang menggunakan CFT secara rutin karena daerah operasinya yang luas Atlantik Utara. Dengan dibubarkannya 57 FIS, F-15E menjadi satu-satunya model F-15E yang dapat CFR. CFT juga telah digunakan oleh Israel dan Arab Saudi.
Riwayat dinas
Pengenalan dan dinas awal
Pengguna terbesar dan pertama F-15 adalah Angkatan Udara Amerika Serikat. F-15B pertama, sebuah TF-15 (F-15B), dikirimkan pada 13 November 1974.[61] Pada Januari 1976, F-15 pertama yang dikhususkan untuk skadron tempur dikirimkan kepada Skadron Tempur 555.[61] Pesawat-pesawat awal ini menggunakan radar APG-63 buatan Hughes Aircraft (sekarang bagian dari Raytheon). F-15 pada masa dinas awalnya memiliki masalah keandalan dan masalah daya tahan mesin F100-PW-100-nya, yang spesifikasinya sangat ambisius dan krusial bagi performa tinggi F-15. Selain itu, masalah ini diperparah oleh para pilot yang jauh lebih sering melakukan perubahan percepatan secara mendadak. Ini berbeda pada pesawat tempur dan mesin sebelumnya, karena besarnya daya dorong yang tersedia. Masalah-masalah ini kemudian diatasi dengan mesin F100-PW-220 yang disempurnakan, pertama kali dikirimkan pada tahun 1986.[62]

Kemenangan pertama oleh F-15 dicetak oleh ace Angkatan Udara Israel (IAF) Moshe Melnik pada tahun 1979.[63] Selama serangan IAF terhadap faksi-faksi Palestina di Lebanon pada 1979–1981, F-15A dilaporkan menembak jatuh 13 MiG-21 Suriah dan dua MiG-25 Suriah. F-15A dan B milik Israel terbang sebagai pengawal dalam Operasi Opera, sebuah serangan udara terhadap reaktor nuklir Irak. Selama Perang Lebanon 1982, F-15 Israel tercatat menembak jatuh 41 pesawat Suriah (23 MiG-21 dan 17 MiG-23, serta satu helikopter Aérospatiale SA.342L). Selama Operasi Mole Cricket 19 [en], F-15 dan F-16 Israel bersama-sama menembak jatuh 82 pesawat tempur Suriah (MiG-21, MiG-23, dan MiG-23M) tanpa satu pun pesawat tempur Israel tertembak jatuh.[64]
Israel merupakan satu-satunya operator yang menggunakan varian superioritas udara F-15 dalam peran serangan, karena jangkauan pesawat tempur ini jauh melampaui pesawat tempur lain dalam inventaris Israel pada tahun 1980-an. Penggunaan F-15 pertama untuk misi serangan (udara-ke-darat) terjadi selama Operasi Wooden Leg pada 1 Oktober 1985, di mana enam F-15D menyerang Markas Besar Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Tunis, masing-masing membawa satu bom berpandu GBU-15, dan dua F-15C menyerang ulang reruntuhannya dengan masing-masing enam bom Mk-82.[65] Ini merupakan salah satu dari sedikit kesempatan F-15 bervarian superioritas udara (model A/B/C/D) digunakan dalam misi serangan taktis.[66] Varian superioritas udara F-15 milik Israel sejak itu telah ditingkatkan secara ekstensif untuk membawa persenjataan udara-ke-darat yang lebih beragam, termasuk bom berpandu GPS JDAM dan rudal Popeye.[67]
Penggunaan tempur (udara-ke-udara) pertama F-15 oleh Amerika terjadi selama Operasi Urgent Fury. F-15 dari Wing Tempur Taktis 33 melindungi ruang udara bersama F-14 Tomcat milik Angkatan Laut AS. Mereka melindungi Marinir dan Divisi Lintas Udara 82 selama invasi Grenada.[68]
Pilot F-15C Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi [en] dilaporkan menembak jatuh dua F-4E milik Angkatan Udara Iran [en] dalam sebuah baku tembak pada 5 Juni 1984.[69][70]
Uji coba antisatelit

Rudal ASM-135 dirancang sebagai senjata antisatelit jarak jauh, dengan F-15 berperan sebagai tahap pertama. Uni Soviet dapat mengaitkan peluncuran roket antisatelit AS dengan hilangnya satelit mata-mata, tetapi sebuah F-15 yang membawa ASAT akan berbaur di antara ratusan penerbangan F-15 lainnya. Dari Januari 1984 hingga September 1986, dua F-15A digunakan sebagai wahana peluncur untuk rudal ASAT. F-15A tersebut dimodifikasi untuk membawa satu ASM-135 pada rak tengah dengan perangkat tambahan di dalam rak khusus.[71][72] Pesawat peluncur melakukan pendakian Mach 1,22 sebesar 3,8 g pada sudut 65° untuk meluncurkan rudal ASAT pada ketinggian 11.600 m (38.100 ft).[73][74][75] Rudal ASAT ASM-135 mencapai ketinggian 555 km (345 mi).[74] Komputer penerbangan diperbarui untuk mengendalikan pendakian tajam (zoom-climb) dan pelepasan rudal.
Penerbangan uji ketiga melibatkan satelit observatorium surya Solwind yang operasional pada orbit 555-kilometer (345 mi). Satelit ini dihancurkan murni melalui energi kinetik.[73][76] Sang pilot, Mayor Angkatan Udara AS Wilbert Pearson, menjadi satu-satunya pilot yang berhasil menghancurkan sebuah satelit.[74] Program ASAT ini melibatkan lima peluncuran uji. Program tersebut secara resmi dihentikan pada 1988.[71][74]
Perang Teluk dan setelahnya
Angkatan Udara AS mulai menerbangkan pesawat F-15C, D, dan E ke wilayah Teluk Persia pada Agustus 1990 untuk Operasi Desert Shield dan Desert Storm. Selama Perang Teluk, F-15 menkontribusi 36 dari 39 pesawat Angkatan Udara Irak yang ditembak jatuh oleh Angkatan Udara AS. Irak telah menkonfirmasi kehilangan 23 pesawatnya dalam pertempuran udara.[77] Pesawat tempur F-15C dan D digunakan dalam peran superioritas udara, sementara F-15E digunakam dalam peran serang malam hari. Para F-15E memburu peluncur rudal Al-Hussein dan posisi artileri menggunakan sistem LANTIRN.[78] Menurut Angkatan Udara AS, F-15C miliknya menkonfirmasi 34 pesawat Irak yang ditembak jatuh Perang Teluk, sebagian besar melalui tembakan rudal: lima MiG-29, dua MiG-25, delapan MiG-23, dua MiG-21, dua Sukhoi Su-25, empat Su-22, satu Su-7, enam Mirage F1, satu pesawat kargo Il-76, satu pesawat latih PC-9, dan dua helikopter Mi-8. Menurut NHHC [en], F-15 mungkin juga pernah menembak jatuh sebuah F-14 Angkatan Laut AS secara tidak sengaja.[79] Selain itu, F-15E meraih kemenangan udara-ke-udara pertamanya pada 14 Februari 1991 saat sebuah helikopter Mi-24 "Hind" Irak ditembak jatuh dengan bom berpandu laser GBU-10.[80] Superioritas udara berhasil dicapai dalam tiga hari pertama Perang Teluk; banyak kemenangan setelahnya dilaporkan merupakan pesawat Irak yang melarikan diri ke Iran, alih-alih terlibat pertempuran dengan pesawat Amerika. Dua F-15E hilang akibat tembakan rudal arhanud, dan satu lagi rusak di darat akibat serangan rudal Scud di Pangkalan Udara King Abdulaziz.[81]
Pada 11 November 1990, seorang pilot Angkatan Udara Kerajaan Saudi membelot ke Sudan dengan membawa pesawat tempur F-15C selama Operasi Desert Shield. Arab Saudi membayar 40 juta dolar AS (~$84.6 juta pada 2024) untuk pengembalian pesawat tersebut tiga bulan kemudian.[82] F-15 Arab Saudi menembak jatuh dua Mirage F1 Irak selama Operasi Desert Storm.[83] Satu F-15C milik Arab Saudi rusak akibat kecelakaan selama Perang Teluk.[84] Angkatan Udara Irak mengklaim pesawat tempur ini merupakan bagian dari dua F-15C Angkatan Udara AS yang terlibat pertempuran melawan dua MiG-25PD Irak, dan terkena rudal R-40 sebelum jatuh.[85]

F-15 sejak itu telah diterbangkan untuk mendukung patroli zona larangan terbang Irak selama Operasi Southern Watch; Operasi Provide Comfort di Turki; dan operasi NATO di Bosnia. Pada 1994, dua helikopter UH-60 milik Angkatan Darat AS secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh F-15C Angkatan Udara AS di utara Irak dalam sebuah insiden salah serang.[86] F-15C Angkatan Udara AS menembak jatuh empat MiG-29 Yugoslavia menggunakan rudal AIM-120 dan AIM-7 selama Pengeboman NATO di Kosovo.[87]
Cacat struktural
Seluruh armada F-15 berhenti diterbangkan oleh Angkatan Udara AS setelah sebuah F-15C milik Garda Udara Nasional Missouri mengalami kegagalan struktural dan jatuh pada 2 November 2007. Armada F-15E yang lebih baru kemudian diizinkan untuk kembali terbang. Angkatan Udara AS melaporkan pada 28 November 2007 bahwa sebuah titk lemah longeron bagian atas F-15C diduga menjadi penyebab kecelakaan tersebut. Kecacatan ini menyebabkan badan pesawat di depan intake, termasuk, terpisah dari rangka pesawat.[88]
Pesawat model F-15A hingga D dihentikan penggunaannya hingga titik tersebut menjalani inspeksi terperinci dan menerima perbaikan.[89] Penghentian penerbangan F-15 ini mendapat perhatian media karena membebani operasi pertahanan udara AS.[90] Penghentian tersebut memaksa sejumlah negara bagian untuk mengandalkan pesawat tempur dari negara bagian tetangga untuk perlindungan pertahanan udara, dan membuat Alaska bergantung pada dukungan pesawat tempur Angkatan Bersenjata Kanada.[90]
Pada 8 Januari 2008, Komando Tempur Udara (ACC) Angkatan Udara AS mengizinkan sebagian armada F-15 lamanya kembali terbang. ACC juga merekomendasikan kembalinya penerbangan F-15 secara terbatas di negara yang menggunakan model-model terdampak.[91] Laporan dewan peninjau kecelakaan yang dirilis pada 10 Januari 2008 menyatakan longeron tersebut tidak memenuhi spesifikasi rancangan, yang menyebabkan retakan bertahap (fatigue) dan akhirnya kegagalan total pada struktur penopang yang tersisa serta rusaknya struktur pesawat saat terbang.[92] Dalam laporan yang dirilis pada 10 Januari 2008, sembilan F-15 lainnya diketahui mengalami masalah serupa pada longeronnya. Akibatnya, Jenderal John D. W. Corley menyatakan, "masa depan jangka panjang F-15 kini dipertanyakan".[93] Pada 15 Februari 2008, ACC mengizinkan seluruh pesawat tempur F-15A/B/C/D yang dihentikan untuk kembali terbang, dengan syarat menjalani inspeksi, tinjauan teknik, dan perbaikan. ACC juga merekomendasikan penerbangan kembali F-15A/B/C/D AS lainnya.[94]
Dinas lanjutan
F-15 menembak jatuh 104 pesawat tanpa satu pun F-15 ditembak jatuh pesawat lain hingga 2008[update]; varian superioritas F-15A/B/C/D, belum pernah mengalami kekalahan akibat serangan musuh.[95][96] Lebih dari separuh pesawat yang ditembak jatuh F-15 diraih oleh pilot Angkatan Udara Israel.
Pada 16 September 2009, F-15A terakhir milik Garda Nasional Udara Oregon dipensiunkan, yamg menandai berakhirnya masa dinas model F-15A/B di Amerika Serikat.[97] Dengan dipensiunkannya model-model awal tersebut, model F-15C/D terus berdinaa untuk mendampingi F-22 dalam dinas AS. Karena Departemen Pertahanan pada 2000-an lebih berfokus pada penumpasan pemberontakan asimetris di Timur Tengah, pengadaan F-22 dipangkas hanya menjadi 187 pesawat operasional, dan Angkatan Udara AS terpaksa memperpanjang masa dinas F-15C/D jauh melampaui tanggal pensiun yang direncanakan. Ini dilakukan guna mempertahankan jumlah pesawat tempur superioritas udara yang memadai; pada 2007, AU AS berencana mendinaskan 179 unit F-15C/D bersama 224 unit F-15E hingga jauh dari 2025.[98] Selama dekade 2010-an, F-15C/D Angkatan Udara AS secara rutin ditempatkan di luar negeri bersama Pacific Air Forces di Pangkalan Udara Kadena di Jepang[99] serta bersama U.S. Air Forces in Europe di Pangkalan Udara RAF Lakenheath, Britania Raya.[100] F-15 reguler Angkatan Udara AS lainnya dioperasikan oleh ACC sebagai pesawat lawan/agresor di Pangkalan Angkatan Udara Nellis, Nevada, serta oleh Komando Materiel Angkatan Udara AS (AFMC) sebagai pesawat uji dan evaluasi di Pangkalan Angkatan Udara Edwards dk California, dan Pangkalan Udara Eglin di Florida. Sisa F-15C/D aktif dioperasikan oleh Garda Nasional Udara Amerika Serikat.
Untuk menjaga kelayakan F-15C/D, armada F-15C/D menjalani serangkaian pembaruan, dengan 179 pesawat menerima radar AESA AN/APG-63(V)3 mulai 2010, disertai penambahan perangkat IRST dan pembaruan kokpit di kemudian hari.[42][43] Namun, masalah pada armada yang semakin menua menyebabkan F-15C menghadapi pemangkasan anggaran pada TA 2015 Angkatan Udara AS. Ini dilakukan sebagai respons terhadap sequestration (pemotongan anggaran otomatis).[101][102] Pada pertengahan 2010-an, armada F-15C/D yang menua tidak lagi layak secara ekonomis untuk dipertahankan hingga 2030-an seperti yang diharapkan akibat kelelahan struktural (fatigue),[e] dan Angkatan Udara AS memilih untuk tidak melanjutkan pembaruan F-15 2040C yang diusulkan Boeing; pada April 2017, pejabat Angkatan Udara AS merencanakan untuk memensiunkan F-15C/D pada pertengahan 2020-an dan menginginkan pesawat lain seperti F-16 mengambil alih peran F-15, selagi mengkaji opsi untuk memperbarui armada pesawat tempurnya.[103]
Pada akhir 2018 dan awal 2019, menyusul serangkaian kajian oleh Cost Analysis and Program Evaluation (CAPE, Kantor Analisis Biaya dan Evaluasi Program), Departemen Pertahanan dalam anggaran TA 2020-nya mengajukan permintaan pengadaan F-15EX — varian canggih F-15QA model ekspor yang saat itu sedang diproduksi — untuk menggantikan F-15C dan mendampingi F-22 guna mempertahankan ukuran armada pesawat tempur, dengan rencana pengadaan total sebanyak 144 pesawat.[104] Hal ini memungkinkan Angkatan Udara AS memanfaatkan jalur produksi ekspor yang sudah ada untuk mendinaskan pesawat tempur secara cepat dan terjangkau, karena memulai kembali jalur produksi F-22 dianggap terlalu mahal.[49][105]

Pada tahun 2022, diumumkan bahwa Angkatan Udara AS berencana memensiunkan armada F-15C/D-nya pada tahun 2026, sementara F-15E akan dipensiunkan pada tahun 2030-an.[106] Pada April 2022, Pangkalan Udara RAF Lakenheath telah memensiunkan seluruh armada F-15C/D-nya. Pesawat-pesawat yang dipensiunkan kemudian berdinas kembali di skadron-skadron Garda Nasional Udara.[107] Pangkalan Udara Kadena melepaskan armada F-15-nya antara Desember 2022 hingga Januari 2025.[108][109] Penerbangan F-15C terakhir Angkatan Udara AS dilakukan oleh pesawat serial 81-0029 pada 24 Januari 2025.[110]
Perang Saudara Yaman dan perang Iran
Selama Perang Saudara Yaman, kelompok Houthi telah menggunakan rudal R-27T yang digunakan sebagai rudal arhanud. Sebuah video yang dirilis pada 7 Januari 2018 menunjukkan sebuah R-27T yang dimodifikasi mengenai sebuah F-15 Saudi melalui kamera inframerah pandang depan (FLIR). Sumber-sumber Houthi mengklaim telah menembak jatuh F-15 tersebut, meskipun hal ini diperdebatkan. Ini karena rudal tampaknya meledak akibat penyulut jarak dekat (proximity fuze), sementara F-15 tersebut tampaknya terus terbang tanpa terpengaruh.[111][112] Houthi kemudian merilis rekaman yang menunjukkan puing pesawat, tetapi nomor seri pada puing tersebut menunjukkan bahwa pesawat itu sebenarnya adalah sebuah Panavia Tornado, yang juga dioperasikan oleh pasukan Saudi. Pada 8 Januari, pihak Saudi mengakui kehilangan sebuah pesawat, tetapi karena alasan teknis.[113]
Pada 21 Maret 2018, Houthi merilis sebuah video yang menunjukkan mereka mengenai dan kemungkinan menembak jatuh sebuah F-15 Saudi di Kegubernuran Saada.[114] Dalam video tersebut, sebuah rudal R-27T yang dimodifikasi untuk arhanud diluncurkan dan tampak mengenai sebuah jet. Sama seperti pada video serangan serupa sebelumnya yang direkam pada 8 Januari, target yang jelas terkena tersebut tampaknya tidak tertembak jatuh. Pasukan Saudi mengonfirmasi terjadinya serangan tersebut, selagi menyatakan bahwa pesawar tersebut mendarat di sebuah pangkalan udara Saudi.[115][116] Sumber resmi Saudi mengonfirmasi insiden tersebut, melaporkan bahwa hal itu terjadi pada pukul 15:48 waktu setempat setelah sebuah rudal arhanud diluncurkan ke arah jet tempur tersebut dari dalam bandara Saada.[117][118]
Setelah serangan kilang minyak Arab Saudi 2019, Arab Saudi menerbangkan pesawat tempur F-15 untuk mencegat pesawat nirawak berkitnggian rendah yang sulit dicegat oleh rudal arhanud seperti MIM-104 Patriot.[119]. Sejumlah drone berhasil ditembak jatuh saat itu.[120] Pada 2 Juli 2020, sebuah pesawat F-15 Saudi menembak jatuh dua drone Shahed 129 milik Houthi di atas Yaman.[121] Pada 7 Maret 2021, selama serangan Houthi terhadap sejumlah instalasi minyak Saudi, F-15 Arab Saudi menembak jatuh beberapa pesawat nirawak menggunakan rudal AIM-9. Bukti video menunjukkan setidaknya dua pesawat Samad-3 dan satu Qasef-2K berhasil ditembak jatuh.[122][123] Pada 30 Maret 2021, sebuah video yang direkam oleh penjaga perbatasan Saudi menunjukkan sebuah F-15 Saudi menembak jatuh sebuah pesawat nirawak Quasef-2K Houthi dengan rudal AIM-120 yang ditembakkan dari jarak dekat.[124]
Pada April 2026, dilaporkan bahwa pesawat F-15 dan F-35 berhasil terkena pertahanan udara Iran selama Perang Iran 2026.[125]
Varian
Model dasar
- F-15A
- F-15B (TF-15)
- F-15C
- F-15D
- F-15E Strike Eagle
- F-15J
- F-15DJ
- F-15N Sea Eagle
- F-15SE Silent Eagle
Purwarupa
- F-15A 71-0280, purwarupa perdana.
- F-15A-1, AF Ser. No. 71-0280
- F-15A-1, AF Ser. No. 71-0281
- F-15A-2, AF Ser. No. 71-0282
- F-15A-2, AF Ser. No. 71-0283
- F-15A-2, AF Ser. No. 71-0284
- F-15A-3, AF Ser. No. 71-0285
- F-15A-3, AF Ser. No. 71-0286
- F-15A-4, AF Ser. No. 71-0287
- F-15A-4, AF Ser. No. 71-0288
- F-15A-4, AF Ser. No. 71-0289
- F-15B-3, AF Ser. No. 71-0290
- F-15B-4, AF Ser. No. 71-0291
Riset dan pengujian
- F-15 Streak Eagle (AF Ser. No.72-0119)
- F-15 STOL/MTD (AF Ser. No. 71-0290)
- F-15 ACTIVE (AF Ser. No. 71-0290)
- F-15 IFCS (AF Ser. No. 71-0290)
- F-15 MANX
- F-15 Flight Research Facility (AF Ser. No. 71-0281 and AF Ser. No. 71-0287)
- F-15B Research Testbed (AF Ser. No. 74-0141)
Spesifikasi (F-15C Eagle)
Data dari USAF fact sheet,[126] Jane's All the World's Aircraft[127]
Ciri-ciri umum
- Kru: 1
- Panjang: 19,44 m
- Rentang sayap: 13 m
- Tinggi: 5,6 m
- Luas sayap: 56,5 m²
- Airfoil: NACA 64A006.6 root, NACA 64A203 tip
- Berat kosong: 12.700 kg
- Berat isi: 20.200 kg
- Berat maksimum saat lepas landas: 30.845 kg
- Mesin: 2 × Pratt & Whitney F100-100,-220, atau -229 turbofan
- Dorongan kering: 77,62 kN (17.450 lbf) masing-masing
- Dorongan dengan pembakar lanjut: 25.000 lbf untukn mesin seri -220; 29.000 lbf untuk mesin seri -229 (111,2 kN untuk -220; 129,0 kN untuk -229) masing-masing
Kinerja
- Laju maksimum:
- Ketinggian rendah: Mach 1,2 (1.450 km/jam)
- Ketinggian tinggi: Mach 2,5 (3.018 km/jam)
- Jangkauan feri: 3.000 nm (5.600 km) dengan bahan bakar eksternal
- Langit-langit batas: 0.000 m
- Laju tanjak: 254 m/s
- Beban sayap: 358 kg/m²
- Dorongan/berat: 1,12 (-220), 1,30 (-229)
Persenjataan
- Senjata api: 1× meriam 20 mm M61A1, 940 butir peluru
- Titik keras: 4 sayap, 4 badan, 2 stasiun sayap, stasiun tengah dengan kapasitas 7.300 kg
- Rudal:
Avionik
- Radar:
- Raytheon AN/APG-63 atau AN/APG-70 atau
- Raytheon AN/APG-63(V)2 Active Electronically Scanned Array (AESA)
- Umpan:
- Interogator IFF AN/APX-76
- AN/ALQ-128 radar warning suite
- AN/ALR-56 radar warning receiver
- Sistem umpan internal AN/ALQ-135
- AN/ALE-45 chaff/flare dispensers
Lihat pula
- Pengembangan yang berhubungan
- Pesawat sebanding dalam peran, konfigurasi, dan era
- F-14 Tomcat
- Sukhoi Su-27
- Sukhoi Su-30
- Sukhoi Su-35
- Sukhoi Su-37
- F-22 Raptor
- Panavia Tornado
- Mikoyan-Gurevich MiG-25
Referensi
- ↑ Davies and Dildy 2007, p. 249.
- ↑ Spick 2000, p. 137.
- 1 2 Neufeld 2007, hlm. 42. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- ↑ Neufeld 2007, hlm. 43. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- ↑ Neufeld 2007, hlm. 44. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- ↑ Munzenmaier, Walter. "'LTV A-7D/K Corsair II: The 'SLUF' in USAF and USANG Service 1968–1993," Famous Aircraft of the USAF and USAG, Volume 1.
- ↑ Jenkins 1998, pp. 5–7.
- ↑ Neufeld 2007, hlm. 46. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- 1 2 3 Davies 2002, pp. 9–11.
- ↑ Technology and the Air Force: A Retrospective Assessment. DIANE Publishing. hlm. 44-47. ISBN 978-1-4289-1358-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2023. Diakses tanggal 11 Oktober 2016.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Harnessing the genie: science and technology forecasting for the Air Force Diarsipkan 13 Maret 2023 di Wayback Machine AIR STAFF HISTORICAL STUDY (1988).
- ↑ Neufeld 2007, hlm. 46–47. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- ↑ Neufeld 2007, hlm. 47. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- 1 2 Neufeld 2007, hlm. 49. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- ↑ "In July 1967, at Domodedovo airfield near Moscow, the Soviet Union unveiled a new generation of combat aircraft… [codenamed] Foxbat by NATO": "Development" in Modern Fighting Aircraft, 1983.
- ↑ Bowman 1980, p. 193.
- ↑ Neufeld 2007, hlm. 48. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- ↑ Davies and Dildy 2007, p. 12.
- ↑ Jenkins 1998, pp. 8–10.
- ↑ Neufeld 2007, hlm. 52. sfn error: tanpa target: CITEREFNeufeld2007 (bantuan)
- ↑ Jenkins 1998, pp. 9–11.
- ↑ Davies and Dildy 2007, p. 14.
- ↑ "Nellis F-15's Odometer Hits 10,000 Flight Hours". U.S. Air Force. 6 Februari 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Spick 2000, pp. 130–131.
- ↑ Lorell, Mark A.; Levaux, Hugh P. (1998). "Chapter 5: Return of the Air Superiority Fighter" (PDF). The Cutting Edge: A Half Century of U.S. Fighter Aircraft R&D. Santa Monica, California: RAND Corporation. ISBN 0-8330-2595-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 13 Oktober 2012. Diakses tanggal 21 Juli 2022.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Jenkins 2000, pp. 1–8.
- 1 2 Jenkins 1998, pp. 33–34.
- 1 2 Green and Swanborough 1998, p. 371.
- ↑ Davies and Dildy 2007, p. 115.
- ↑ "1994 Annual Review of the Chief". nationalguard.mil. National Guard Bureau. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Maret 2025. Diakses tanggal 8 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hughel, John. "Final 'F-15A model' retired by the Air Force". 142nd Wing. USANG. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Juli 2025. Diakses tanggal 8 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Davies and Dildy 2007, pp. 168–69.
- ↑ "18 APG-63(V)2." Diarsipkan 12 November 2020 di Wayback Machine Fas.org, 8 December 1999. Retrieved: 30 December 2010.
- ↑ "U.S. Air Force F-15 Eagles Receiving Boeing APG-63(V)1 Radar Upgrade". MediaRoom. Boeing. Diakses tanggal 8 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "ZAP Missile Launch Envelope". faac.com. FAAC / Arotech. 14 Maret 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2020. Diakses tanggal 18 November 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "PS 940 F-15 Armament Handbook, Oct-1979." Diarsipkan 11 Januari 2014 di Wayback Machine scribd.com. Retrieved: 29 November 2012.
- ↑ Davies 2003, pp. 15–16, 25, 31–32.
- ↑ Lambert 1993, p. 523.
- 1 2 Jenkins 1998, pp. 97–104.
- ↑ Gareth Jennings (15 Juni 2017). "Qatar agrees purchase of F-15QA fighters from US". Jane's. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Juni 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Davies and Dildy 2007, pp. 161–65.
- 1 2 3 "New USAF F-15C Radar Upgrades." Diarsipkan 13 Maret 2023 di Wayback Machine Combat Aircraft, Key Publishing, 19 July 2018. Retrieved: 14 March 2019.
- 1 2 "Air Force will get new bomber, upgrades to fighters." Diarsipkan 4 Agustus 2019 di Wayback Machine Spacewar.com, 5 October 2006. Retrieved: 1 September 2011.
- ↑ "Lockheed Martin Developing System Requirements for F-15C IRST Program." Diarsipkan 4 Mei 2010 di Wayback Machine Lockheed Martin. Retrieved: 30 December 2010
- ↑ Trimble, Stephen. "US Air Force looks to dramatically extend F-15 service life." Diarsipkan 16 Agustus 2019 di Wayback Machine Flightglobal, 23 November 2011.
- ↑ Boeing, BAE To Develop New Electronic Warfare Suite for F-15 Diarsipkan 20 April 2020 di Wayback Machine – Ainonline.com, 1 October 2015
- ↑ "F-15 Eagle Passive Active Warning Survivability System (EPAWSS) FY20 AIR FORCE PROGRAMS" (PDF). dote.osd.mil. The Office of the Director, Operational Test and Evaluation. Diakses tanggal 8 Juli 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑
- Boeing doubles F-15C missile load in '2040C' Eagle upgrade Diarsipkan 17 September 2015 di Wayback Machine – Flightglobal.com, 15 September 2015
- Sampson, Cheryl (16 September 2016). "Boeing Completes Design Review for U.S. Air Force's Talon HATE Program". mediaroom.com. Boeing. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Desember 2015. Diakses tanggal 31 Desember 2015.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "News Releases/Statements". MediaRoom. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Juni 2017. Diakses tanggal 26 Juni 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - "Boeing selects new EPAWSS system for U.S. Air Force Fighter Aircraft". BAE Systems – United States. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Agustus 2017. Diakses tanggal 26 Juni 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- 1 2 Clark, Colin (22 Maret 2019). "Shanahan Ethics Agreement Out; How The F-15X Decision Was Made". Breaking Defense.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Lednicer, David. "The Incomplete Guide to Airfoil Usage". Selig. U Iillinois. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Maret 2019. Diakses tanggal 16 April 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Niedling, L. (Maret 1980). "The F-15 wing development program". The Evolution of Aircraft Wing Design; Proceedings of the Symposium. Meeting Paper Archive. Dayton, Ohio: American Institute of Aeronautics and Astronautics (AIAA). doi:10.2514/6.1980-3044.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Coad, Steve (April 2003). "The F-15 Strike Eagle: the F-15 Eagle's air superiority is achieved through a combination of unprecedented maneuverability and acceleration, range, weapons, and avionics". Advanced Materials & Processes. 161 (4). ASM International.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Eden and Moeng 2002, p. 944.
- ↑ Davies and Dildy 2007, pp. 46–47.
- ↑ Tomayako, James E. Gelzer, Christian (ed.). "The Story of Self-Repairing Flight Control Systems" (PDF). Dryden Historical Study No. 1. NASA. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 23 Desember 2005. Diakses tanggal 29 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gunston 1986, p. 194.
- ↑ Huenecke 1987, pp. 227–30.
- ↑ Huenecke 1987, pp. 232–236.
- 1 2 Lambert 1993, p. 521.
- ↑ Jenkins 1998, p. 111.
- 1 2 Scutts 1989, p. 47.
- ↑ "The Development of the F100-PW-220 and F110-GE-100 Engines: A Case Study of Risk Assessment and Risk Management" (PDF). dtic.mil. RAND. 21 Juli 1994. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 Juni 2014. Diakses tanggal 17 April 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "An Eagle evolves". Boeing. Januari 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Mei 2011. Diakses tanggal 24 September 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Grant, Rebecca (Juni 2002). "The Bekaa Valley War". Air & Space Forces Magazine. Vol. 85, no. 6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Juli 2025. Diakses tanggal 15 Januari 2019.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "McDonnell Douglas (now Boeing) F-15 Eagle air superiority fighter" Diarsipkan 9 Mei 2008 di Wayback Machine. aerospaceweb.org. Retrieved: 24 September 2010.
- ↑ David Cenciotti (27 November 2012). "F-15 fuel tank washes ashore in the southern Gaza Strip: Hamas claims it is from downed Israeli plane". The Aviationist site. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Januari 2014. Diakses tanggal 2 Februari 2014.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Rogoway, Tyler (8 Mei 2015). "The Amazing Saga Of How Israel Turned Its F-15s Into Multi-Role Bombers". jalopnik.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Juli 2017. Diakses tanggal 26 Juni 2017.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Cole, Ronald H. (1997). "Operation Urgent Fury" (PDF). Washington, D.C.: Joint History Office.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Smith, William E. "The Gulf: Pushing the Saudis too far" Diarsipkan 22 Mei 2022 di Wayback Machine. Time, 18 June 1984. Retrieved: 26 January 2008.
- ↑ Halloran, Richard. "2 Iranian fighters reported downed by Saudi Air Force" Diarsipkan 3 September 2017 di Wayback Machine. The New York Times, 6 June 1984, p. 1. Retrieved: 26 January 2008.
- 1 2 Jenkins 1998, p. 31.
- ↑ "Celestial Eagle: Historic F-15 antisatellite mission remembered". US Air Force. Retrieved: 24 September 2010.
- 1 2 Karambelas, Gregory and Sven Grahn, eds. "The F-15 ASAT story" Diarsipkan 5 Januari 2008 di Wayback Machine. svengrahn.pp.se. Retrieved: 30 December 2010.
- 1 2 3 4 Grier, Peter (Februari 2009). "The Flying Tomato Can". Air & Space Forces Magazine. Vol. 92, no. 2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Juli 2025. Diakses tanggal 3 Februari 2009.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "September 13, 1985: Anti-Satellite Missile Testing". Air Force Test Center (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Juli 2025. Diakses tanggal 14 September 2025.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Eberhart, J. (1985). "ASAT Target Was Working Research Satellite". Science News. 128 (13): 197. doi:10.2307/3970241. ISSN 0036-8423. JSTOR 3970241.
- ↑ "The First Night" by Cooper, Sadik (IAPR, Vol.26)
- ↑ Davies 2002, pp. 31–40.
- ↑ "In my opinion, one of our F14s was most likely shot down by an F-15. Although the F-14 was officially listed as being downed by an Iraqi surface-to-air missile, there were no SAM batteries in that area"/H-058-1: Operation Desert Storm, Part 6 (January 1991). Samuel J. Cox, Director, Naval History and Heritage Command./H-Gram Journal № 058. 15 January 2021. P.26
- ↑ Schogol, Jeff (7 Juli 2022). "How an F-15 scored an air-to-air kill by dropping a bomb on an enemy helicopter". Task & Purpose (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 11 Juli 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "1st. Fighter Wing timeline." Diarsipkan 19 Agustus 2009 di Wayback Machine istfighter.com Retrieved: 24 September 2010.
- ↑ "Defection of Saudi F-15 Fighter Pilot Damaging to US War Effort", Defence and Foreign Affairs Weekly, 23 December 1990
- ↑ Peeters, Sander. "Different Middle Eastern air-to-air victories since 1964". acig.info. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Maret 2016. Diakses tanggal 7 April 2015.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Cikhart, Jakub. "Damaged and lost allied planes and helos." Diarsipkan 17 Agustus 2014 di Wayback Machine dstorm.eu. Retrieved: 7 April 2015.
- ↑ Cooper, Tom. "Operation Samarrah", October 2010.
- ↑ Jenkins 1998, p. 47.
- ↑ U.S. Air Force Historical Research Agency.
- ↑ Schanz, Marc V. (Februari 2008). "Air Force World" (PDF). Air & Space Forces. Vol. 91, no. 2. hlm. 16. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 April 2025. Diakses tanggal 7 Februari 2008.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (frames from an animated image by Boeing recreating the breakup.) - ↑ "F-15 A-D models ordered to stand down for additional inspections." US Air Force, 28 November 2007. Retrieved: 1 September 2011.
- 1 2 Lindlaw, Scott (for Associated Press). "F-15 grounding strains U.S. air defenses." Diarsipkan 7 Juni 2009 di Wayback Machine ABC News 26 December 2007.
- ↑ "Air Combat Command clears selected F-15s for flight." Air Force, 9 January 2008. Retrieved: 1 September 2011.
- ↑ "F-15 Eagle accident report released." US Air Force, 10 January 2008. Retrieved: 26 January 2008.
- ↑ "Air Force leaders discuss F-15 accident, future." U.S. Air Force, 10 January 2008.
- ↑ "ACC issues latest release from stand down for F-15s." US Air Force, 15 February 2008.
- ↑ Davies and Dildy 2007, inside cover.
- ↑ Correll, John T. (Februari 2008). "The Reformers". Air & Space Forces Magazine. Vol. 91, no. 2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Februari 2025. Diakses tanggal 7 Februari 2008.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hughel, Staff Sgt. John. "Final F-15A model retired from Oregon Guard." Diarsipkan 24 September 2011 di Wayback Machine ng.mil, 13 October 2009. Retrieved: 26 August 2011.
- ↑ Tirpak, John A. (Maret 2007). "Making the Best of the Fighter Force". Air & Space Forces Magazine. Vol. 90, no. 3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2025. Diakses tanggal 7 Maret 2007.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "18th Operations Group." Diarsipkan 3 Maret 2016 di Wayback Machine Kadena Air Base, 11 September 2007. Retrieved: 2 February 2014.
- ↑ "48th Operations Group." Diarsipkan 3 Maret 2016 di Wayback Machine RAF Lakenheath website, 1 August 2013.
- ↑ "USAF weighs scrapping KC-10, A-10 fleets". Defensenews.com. Diakses tanggal 15 September 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)[pranala nonaktif] - ↑ "Sequester may force USAF to retire entire fleets of aircraft." Diarsipkan 21 September 2013 di Wayback Machine Flightglobal.com. Retrieved: 17 September 2013.
- ↑ Insinna, Valerie (12 April 2017). "US Air Force chief ambivalent on F-15 Eagle retirement". Defense News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2023. Diakses tanggal 23 April 2017.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Pentagon To Request $1.2 Billion for New Boeing F-15 Fighters". Bloomberg Government. 21 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Desember 2018. Diakses tanggal 24 Desember 2018.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Everstine, Brian W. (7 April 2021). "F-15EX Named the Eagle II". Air & Space Forces Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Agustus 2025. Diakses tanggal 11 April 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Tirpak, John A. (28 Maret 2022). "Air Force Would Reduce Fleet by 250 Old Aircraft, Bring on 82-plus New Ones". Air & Space Forces Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Mei 2025. Diakses tanggal 31 Maret 2022.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Archer, Bob (23 Mei 2022). "The 493rd Fighter Squadron and its F-15C Eagles depart Europe". key.aero. Diakses tanggal 9 April 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ D'Urso, Stefano (13 Desember 2022). "U.S. Air Force F-15Cs Have Started Leaving Kadena Air Base". The Aviationist. Diakses tanggal 9 April 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sakurai, Rin (28 Maret 2025). "End of an Era: Kadena Conducts Last Operational F-15 Eagle Flight". The Aviationist. Diakses tanggal 9 April 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Harpley, Unshin Lee (April 2025). "Air Force's Last Active-Duty F-15C Made Its Final Flight at Kadena". Air & Space Forces Magazine. Diakses tanggal 9 April 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Demerly, Tom (9 Januari 2018). "Yemen's Houthis Claim Saudi F-15 Kill with SAM Over Capital City of Santis". theaviationist.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 November 2019. Diakses tanggal 2 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Binnie, Jeremy (9 Januari 2018). "Yemen rebels release F-15 'shoot down' footage". Jane's 360. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Maret 2018. Diakses tanggal 3 April 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Saudi warplane crashes in Yemen; pilots escape". Aljazeera. 7 Januari 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Juli 2019. Diakses tanggal 29 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Saudi Military F - 15 fighter jet shot down in Yemen: Report". Times of Islamabad. 22 Maret 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Juni 2019. Diakses tanggal 2 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ خالد, محمد بن (21 Maret 2018). "#RSAF Col. Turki Al Malki: At 15:48 (GMT+3) today, a coalition aircraft flying in the area of operations over Sa'dah, #Yemen, got hit by a SAM missile launched from Sa'dah Airport. The aircraft completed the assigned mission and returned to its air base safely". twitter.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Mei 2018. Diakses tanggal 2 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Saudi Arabia says F-15 survived SAM hit over Yemen". Jane's 360. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Agustus 2018. Diakses tanggal 2 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Coalition fighter jet unsuccessfully targeted by defense missile over Saada". english.alarabiya.net. 21 Maret 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Mei 2019. Diakses tanggal 2 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Saudi Arabia says F-15 survived SAM hit over Yemen". Jane's 360. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Agustus 2018. Diakses tanggal 2 Februari 2019.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ De Luce, Dan (12 Maret 2021). "Iranian-backed Houthi rebels in Yemen ramp up drone, missile attacks on Saudi Arabia". NBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2021. Diakses tanggal 29 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Newdick, Thomas (10 Februari 2021). "Yemen's Houthi Rebels Strike Airliner In New Drone Attack On Saudi Airport". The Warzone. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2021. Diakses tanggal 29 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Spires, Josh (13 Juli 2020). "Saudi F-15 jet shoots down Iranian drones above Yemen". dronedj.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Oktober 2021. Diakses tanggal 29 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Middle East: Saudi F-15s shoot down Iran-backed Houthi Drones". seelatest.com. 8 Maret 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2021. Diakses tanggal 29 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Knights, Michael (12 Maret 2021). "Continued Houthi Strikes Threaten Saudi Oil and the Global Economic Recovery". The Washington Institute for Near East Policy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Oktober 2021. Diakses tanggal 29 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Trevithick, Joseph (30 Maret 2021). "Watch A Saudi F-15 Fighter Swoop In Low To Blast A Houthi Rebel Drone Out Of The Sky". The Warzone. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2021. Diakses tanggal 29 September 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Regencia, Ted (5 April 2026). "Al Jazeera Live Blog - 5th of April". Al Jazeera (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 April 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "USAF fact sheets: F-15 Eagle". Diarsipkan dari asli tanggal 2003-10-04. Diakses tanggal 2007-08-12.
- ↑ Jane's All the World's Aircraft.
- Bowman, Martin W. US Military Aircraft. London: Bison Books, 1980. ISBN 0-89009-292-3.
- Davies, Steve. Boeing F-15E Strike Eagle, All-Weather Attack Aircraft. London: Airlife Publishing, Ltd., 2003. ISBN 1-84037-378-4.
- Davies, Steve. Combat Legend, F-15 Eagle and Strike Eagle. London: Airlife Publishing, Ltd., 2002. ISBN 1-84037-377-6.
- Davies, Steve and Doug Dildy. F-15 Eagle Engaged, The World's Most Successful Jet Fighter. Oxford, UK: Osprey Publishing, 2007. ISBN 978-1-84603-169-4.
- Eden, Paul and Soph Moeng, eds. The Complete Encyclopedia of World Aircraft. London: Amber Books Ltd., 2002. ISBN 0-7607-3432-1.
- Gething, Michael J. F-15 Eagle (Modern Fighting Aircraft). New York: Arco, 1983. ISBN 0-668-05902-8.
- Green, William and Gordon Swanborough. The Complete Book of Fighters. New York: Barnes & Noble Inc., 1988. ISBN 0-7607-0904-1.
- Gunston, Bill. American Warplanes. New York: Crescent Books. 1986. ISBN 0-517-61351-4.
- Huenecke, Klaus. Modern Combat Aircraft Design. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press, 1987. ISBN 0-87021-426-8.
- Jenkins, Dennis R. F/A-18 Hornet: A Navy Success Story, pp. 1–8. New York: McGraw-Hill, 2000. ISBN 0-07-134696-1.
- Jenkins, Dennis R. McDonnell Douglas F-15 Eagle, Supreme Heavy-Weight Fighter. Hinckley, UK: Midland Publishing, 1998. ISBN 1-85780-081-8.
- Lambert, Mark, ed. Jane's All the World's Aircraft 1993–94. Alexandria, Virginia: Jane's Information Group Inc., 1993. ISBN 0-7106-1066-1.
- Scutts, Jerry. Supersonic Aircraft of USAF. New York: Mallard Press, 1989. ISBN 0-7924-5013-2.
- Spick, Mike, ed. The Great Book of Modern Warplanes. St. Paul, Minnesota: MBI, 2000. ISBN 0-7603-0893-4.
Bacaan
- Braybrook, Roy. F-15 Eagle. London: Osprey Aerospace, 1991. ISBN 1-85532-149-1.
- Crickmore, Paul. McDonnell Douglas F-15 Eagle (Classic Warplanes series). New York: Smithmark Books, 1992. ISBN 0-8317-1408-5.
- Drendel, Lou. Eagle (Modern Military Aircraft Series). Carrollton, Texas: Squadron/Signal Publications, 1985. ISBN 0-89747-271-3.
- Drendel, Lou and Don Carson. F-15 Eagle in action. Carrollton, Texas: Squadron/Signal Publications, 1976. ISBN 0-89747-023-0.
- Fitzsimons, Bernard. Modern Fighting Aircraft, F-15 Eagle. London: Salamander Books Ltd., 1983. ISBN 0-86101-182-1.
- Gething, Michael J. and Paul Crickmore. F-15 (Combat Aircraft series). New York: Crescent Books, 1992. ISBN 0-517-06734-X.
- Kinzey, Bert. The F-15 Eagle in Detail & Scale (Part 1, Series II). El Paso, Texas: Detail & Scale, Inc., 1978. ISBN 0-8168-5028-3.
- Rininger, Tyson V (2009). F-15 Eagle at War. Minneapolis, USA: Zenith Press, 2009. ISBN 978-0-7603-3350-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Catatan
- ↑ Pesawat tempur generasi keempat umumnya diartikan sebagai pesawat tempur yang berdinas dari tahun 1980-an sampai sekarang
- ↑ "F-X" seharusnya dibaca sebagai "Fighter, Unknown designation number" (pesawat tempur dengan nomor penunjukan yang belum diketahui), namun sering diterjemahkan sebagai "Fighter-Experimental". Ini bukanlah program-program F-X lainnya.
- ↑ 6,6% ketika airfoil diproyeksikan ke garis tengah, 5,9% pada pangkal sayap.
- ↑ Sebelum penerapan sistem peringatan overload, manuver F-15 dibatasi hingga hanya 7,33 g.
- ↑ Rangka pesawat F-15C/D akan memiliki usia rata-rata 37 tahun pada 2021; 75% telah melampaui masa dinas bersertifikat, yang menyebabkan pemberhentian akibat masalah struktural, dan perpanjangan masa pakai dianggap terlalu mahal.
Pranala luar
- F-15 Eagle USAF Fact Sheet Diarsipkan 2009-06-13 di Wayback Machine
- F-15 Eagle history page on Boeing.com
- McDonnell Douglas F-15A, and F-15C on USAF National Museum web site
- F-15 Eagle in service with Israel Diarsipkan 2005-02-17 di Wayback Machine
- F-15 page on GlobalSecurity.org
- The McDonnell Douglas F-15 Eagle page on Vectorsite.net
- F-15 Eagle di situs on Aerospaceweb.org
Pesawat militer Boeing | ||
|---|---|---|
Daftar pesawat militer Boeing | ||
| Pesawat tempur/serang | ||
| Pesawat pengebom | ||
| Pesawat transpor mesin piston | ||
| Pesawat transpor mesin jet | ||
| Pesawat tanker-transpor | ||
| Pesawat latih | ||
| Pesawat patroli pengintai | ||
| Pesawat pengintai | ||
| Pesawat nirawak | ||
| Pesawat eksperimental/prototipe | ||
Situs web: boeing.com/defense
| ||
Pesawat militer dan kendaraan angkasa McDonnell dan McDonnell Douglas | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pesawat tempur |
| |||||||||
| Pesawat serang |
| |||||||||
| Pesawat latih |
| |||||||||
| Transport militer |
| |||||||||
| Helikopter militer |
| |||||||||
| Pesawat tak berawak (UAV) |
| |||||||||
| Pesawat uji coba |
| |||||||||
| Pesawat angkasa |
| |||||||||
Transportasi supersonik | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pesawat sekarang ditarik dari layanan | |||||
| Proyek pengembangan bersejarah |
| ||||
| Proyek pengembangan saat ini |
| ||||
| Lihat pula | |||||
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |