Erich Raeder | |
|---|---|
Raeder pada tahun 1940 | |
| Panglima Tertinggi Angkatan Laut | |
| Masa jabatan 1 Juni 1935 –30 Januari 1943 | |
| Wakil | Rolf Carls |
| Pendahulu | Diri sendiri (sebagai Kepala Komando Angkatan Laut) |
| Pengganti | Karl Dönitz |
| Kepala Komando Angkatan Laut Jerman | |
| Masa jabatan 1 Oktober 1928 –1 Juni 1935 | |
| Pendahulu | Hans Zenker |
| Pengganti | Diri sendiri (sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Laut) |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Erich Johann Albert Raeder 24 April 1876 |
| Meninggal | 6 November 1960(1960-11-06) (umur 84)[1] |
| Makam | Pemakaman Nordfriedhof, Kiel[2][3] |
| Suami/istri | Erika Moller |
| Anak | 4 |
| Orang tua |
|
| Tanda tangan | |
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Cabang | |
| Pangkat | Großadmiral |
| Komando | SMS Cöln |
| Pertempuran/perang | |
| Penghargaan | Lihat di bawah |
| Informasi kriminal | |
| Dikenal karena | Terdakwa utama dalam Peradilan Nürnberg |
Status pidana | Meninggal dunia |
| Vonis | |
Hukuman pidana | Penjara seumur hidup |
Erich Johann Albert Raeder ([ˈeːʁɪçˈʁɛːdɐ]; 24 April 1876 – 6 November 1960)[1] adalah seorang laksamana Jerman yang memainkan peran penting dalam sejarah angkatan laut Perang Dunia II dan dipidana atas kejahatan perang setelah perang berakhir. Ia mencapai pangkat angkatan laut tertinggi, yaitu laksamana besar (Großadmiral), pada tahun 1939. Raeder memimpin Kriegsmarine pada paruh pertama perang; ia mengundurkan diri pada Januari 1943 dan digantikan oleh Karl Dönitz. Pada Peradilan Nürnberg, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, tetapi dibebaskan lebih awal pada tahun 1955 karena kesehatan yang memburuk.
Masa awal
Raeder lahir dari keluarga kelas menengah Protestan di Wandsbek, Provinsi Schleswig-Holstein Kerajaan Prusia di Kekaisaran Jerman. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah.[butuh rujukan]
Raeder mengidolakan ayahnya, Hans Raeder, yang sebagai guru dan seorang ayah dikenal karena pandangan otoriternya yang kuat, serta menanamkan nilai-nilai kerja keras, hemat, agama, dan disiplin kepada putranya—semua hal yang belakangan terus digaungkan Raeder sepanjang hidupnya.[4] Hans Raeder juga mengajari anak-anaknya untuk mendukung pemerintah yang ada, yang kala itu dipimpin oleh pakar-pakar yang diklaim "non-politik" di bawah Bismarck, yang dikatakan berada "di atas politik" dan hanya melakukan apa yang terbaik bagi Jerman.[4] Dengan cara yang sama, Hans Raeder memperingatkan anak-anaknya bahwa jika Jerman menjadi negara demokrasi, hal itu akan menjadi bencana karena akan melahirkan pemerintahan yang dijalankan oleh orang-orang yang "bermain politik"—hanya melakukan apa yang terbaik untuk kepentingan sektarian picik mereka alih-alih untuk bangsa.[4]
Seperti kebanyakan orang Jerman kelas menengah pada masanya, Hans Raeder sangat tidak menyukai Partai Demokrat Sosial Jerman (SPD), yang dituduhnya "bermain politik partai" di Reichstag dengan mempromosikan kepentingan kelas pekerja alih-alih memikirkan kebaikan nasional—sebuah sikap yang juga diadopsi oleh putranya.[5] Sepanjang hidupnya, Raeder mengklaim bahwa ia bersifat apolitisch (seseorang yang "di atas politik", yaitu hanya memikirkan kebaikan bangsa alih-alih partainya), dan sebagai perwira yang "non-politik", Raeder mempertahankan pandangan bahwa dukungannya terhadap kekuatan laut didasarkan pada pertimbangan objektif demi kebaikan nasional.[5]
Karier angkatan laut hingga Perang Dunia II
Angkatan Laut Kekaisaran Jerman

Raeder bergabung dengan Kaiserliche Marine (Angkatan Laut Kekaisaran) pada tahun 1894 dan naik pangkat dengan cepat, menjadi kepala staf Franz von Hipper pada tahun 1912. Kenaikan pangkat Raeder sebagian besar disebabkan oleh kecerdasan dan kerja kerasnya,[6] meskipun dari tahun 1901 hingga 1903 Raeder bertugas di staf Pangeran Heinrich dari Prusia, dan memperoleh pelindung yang berpengaruh dalam proses tersebut.[7] Karena kepribadiannya yang dingin dan menjaga jarak, Raeder adalah sosok yang bahkan sering diakui oleh teman-temannya sendiri sangat sedikit mereka ketahui.[6] Tokoh dominan di Angkatan Laut kala itu adalah Laksamana Alfred von Tirpitz, Sekretaris Negara Angkatan Laut yang otokratis. Cara yang disukai Tirpitz untuk memperoleh "status kekuatan dunia" adalah melalui Risikotheorie (teori risiko)-nya, yaitu Jerman akan membangun sebuah Risikoflotte (Armada Risiko) yang akan membuatnya terlalu berbahaya bagi Britania untuk mengambil risiko perang dengan Jerman, dan dengan demikian mengubah keseimbangan kekuatan internasional secara tegas demi keuntungan Reich. Tirpitz mengubah Angkatan Laut dari pasukan pertahanan pesisir yang kecil pada tahun 1897 menjadi Armada Laut Lepas (Hochseeflotte) yang kuat pada tahun 1914.
Pada tahun 1904, Raeder, yang fasih berbahasa Rusia, dikirim ke Timur Jauh sebagai pengamat Perang Rusia-Jepang.[8] Mulai tahun 1905, Raeder bekerja di bagian hubungan masyarakat Angkatan Laut, tempat ia pertama kali bertemu Tirpitz dan mulai mengenal dunia politik dengan memberi pengarahan kepada para jurnalis untuk memuat artikel-artikel yang mempromosikan Seemachtideologie (ideologi kekuatan laut) serta menemui para politisi yang menduduki kursi di Reichstag untuk meyakinkan mereka agar mendukung Seemachtideologie.[9] Bekerja sama erat dengan Tirpitz, Raeder terlibat aktif dalam melobi Reichstag untuk meluluskan Undang-Undang Angkatan Laut Ketiga tahun 1906 yang mewajibkan Jerman membangun "kapal tempur beriam besar" demi bersaing dengan kapal tempur kelas Dreadnought baru milik Britania dalam perlombaan senjata angkatan laut Inggris-Jerman yang baru dimulai pada awal abad ke-20.[10]
Raeder menjadi kapten kapal pesiar pribadi Kaisar Wilhelm II pada tahun-tahun menjelang Perang Dunia I. Tugas ini sendiri bukanlah posisi yang terlalu bergengsi, tetapi orang-orang yang menduduki jabatan ini kerap mendapatkan kenaikan pangkat dengan cepat setelahnya.[11]
Perang Dunia I
Raeder menjabat sebagai kepala staf Hipper selama Perang Dunia I, sekaligus memegang posisi tempur. Ia berpartisipasi dalam Pertempuran Dogger Bank pada tahun 1915 dan Pertempuran Jutlandia pada tahun 1916. Raeder di kemudian hari menggambarkan Hipper sebagai laksamana yang "benci pekerjaan administratif"; oleh karena itu, Hipper melimpahkan wewenang yang sangat besar kepada Raeder, yang membuatnya memiliki pengaruh lebih besar daripada yang diperkirakan dari jabatannya sebagai kepala staf.[12]
Selama dan setelah Perang Dunia I, angkatan laut Jerman terbagi menjadi dua aliran pemikiran. Salah satunya, dipimpin oleh Laksamana Alfred von Tirpitz (1849–1930), terdiri dari para pengikut setia ajaran sejarawan Amerika Serikat Alfred Thayer Mahan (1840–1914) dan percaya pada pembangunan "armada yang seimbang" yang berpusat di sekitar kapal tempur untuk mencari dan memenangkan pertempuran pemusnahan (Entscheidungsschlacht) yang menentukan melawan Royal Navy jika terjadi perang.[13] Aliran pemikiran lainnya, dipimpin oleh Komandan Wolfgang Wegener (1875–1956), berpendapat bahwa karena kapasitas pembuatan kapal Britania yang jauh lebih unggul, Jerman tidak akan pernah bisa berharap untuk membangun "armada yang seimbang" yang mampu memenangkan Entscheidungsschlacht, sehingga penggunaan terbaik dari kekuatan angkatan laut Jerman adalah membangun armada kapal penjelajah dan kapal selam yang akan mengobarkan guerre de course (penyerangan perdagangan terhadap pelayaran niaga musuh).[14] Setelah membaca ketiga makalah Wegener yang memaparkan gagasan-gagasannya, Laksamana Hipper memutuskan untuk menyerahkannya ke Departemen Angkatan Laut di Berlin, tetapi mengubah pikirannya setelah membaca makalah karya Raeder yang menyerang tesis Wegener karena dinilai cacat.[15] Ini menandai dimulainya perselisihan panjang antara Raeder dan Wegener, di mana Wegener mengeklaim bahwa mantan temannya, Raeder, cemburu terhadap gagasannya yang ditegaskan Wegener lebih unggul.[16]
Pada Mei 1916, Raeder memainkan peran penting dalam merencanakan serangan oleh skuadron kapal penjelajah tempur Hipper yang bertujuan untuk memancing keluar pasukan kapal penjelajah tempur Britania yang kemudian akan dihancurkan oleh kekuatan utama Armada Laut Lepas (Hochseeflotte).[17] Serangan ini berkembang menjadi Pertempuran Jutlandia. Raeder memainkan peran menonjol, dan terpaksa berpindah dari SMS Lützow ke SMS Moltke di tengah-tengah pertempuran akibat kerusakan parah pada kapal bendera Hipper.
Sebagai kepala staf Laksamana Hipper, ia terlibat erat dalam rencana Hipper untuk mengerahkan skuadron kapal penjelajah tempur Jerman melintasi Atlantik dan menyapu perairan di lepas pantai Kanada hingga ke Hindia Barat dan ke Amerika Selatan untuk menenggelamkan kapal-kapal penjelajah Britania yang beroperasi di perairan tersebut, sehingga memaksa pihak Britania memindahkan sebagian besar Armada Dalam Negeri ke Dunia Baru.[18] Meskipun rencana Hipper ditolak karena dianggap terlalu berisiko, rencana tersebut sangat memengaruhi pemikiran Raeder di kemudian hari.[19]
Pada 14 Oktober 1918, Raeder menerima kenaikan pangkat besar dengan diangkat sebagai wakil Laksamana Paul Behncke, Sekretaris Negara Angkatan Laut.[20] Raeder sempat ragu terhadap kapal selam, tetapi ia menghabiskan minggu-minggu terakhir perang dengan bekerja demi mewujudkan Program Scheer untuk membangun 450 U-boot.
Pada 28 Oktober 1918, armada Kekaisaran Jerman di Kiel memberontak ketika beberapa awak kapal menolak untuk berlayar dalam pertempuran terakhir melawan Grand Fleet Britania yang diperintahkan oleh pihak angkatan laut tanpa sepengetahuan atau persetujuan dari pemerintah Jerman.[21][22] Raeder memainkan peran penting dalam berupaya menumpas pemberontakan tersebut.[butuh rujukan]
Republik Weimar
Dua adik laki-laki Raeder tewas dalam tugas selama Perang Dunia I dan pada tahun 1919, pernikahan pertamanya, yang mengalami tekanan berat akibat stres terkait perang, berakhir dengan perceraian.[23] Bagi Raeder yang berpandangan puritan, perceraian tersebut merupakan aib pribadi yang sangat besar, dan selama sisa hidupnya ia selalu membantah pernikahan pertamanya.[23] Tahun 1918–1919 merupakan salah satu masa tersulit dalam hidupnya.[23]
Pemberontakan Armada Laut Lepas
Pada musim dingin 1918–19, Raeder terlibat erat dalam upaya korps perwira angkatan laut, yang didukung kuat oleh Menteri Pertahanan Gustav Noske, untuk membubarkan dewan pekerja dan prajurit yang dibentuk setelah pemberontakan Kiel.[24] Noske adalah seorang anggota Partai Demokrat Sosial Mayoritas Jerman yang memegang teguh pandangan "hukum dan ketertiban". Selama periode ini, Raeder bertindak sebagai penghubung antara korps perwira angkatan laut dan Noske, dan Raeder-lah yang menyarankan kepada Noske pada 11 Januari 1919 agar Adolf von Trotha diangkat sebagai panglima tertinggi Angkatan Laut.[25] Serangan Tirpitz terhadap kepemimpinan Kaisar selama perang telah menyebabkan perpecahan dalam korps perwira antara para pengikut "Sang Guru" dan Kaisar, dan Raeder menganggap Trotha sebagai satu-satunya perwira yang dapat diterima oleh kedua faksi.[25] Noske pada gilirannya meminta relawan dari Angkatan Laut untuk bergabung dengan Freikorps demi menumpas pemberontakan kaum Komunis.[26] Angkatan Laut menyumbangkan dua brigade ke Freikorps.[27] Di bawah Republik Weimar, militer menganggap dirinya bersifat überparteilich (di atas partai), yang tidak berarti netralitas politik seperti yang tersirat.[28] Pihak militer berpendapat bahwa terdapat dua jenis "politik": parteipolitisch (politik partai) yang menjadi tanggung jawab para politisi, dan staatspolitisch (politik negara) yang menjadi tanggung jawab militer.[28] Staatspolitisch berkaitan dengan kepentingan "abadi" Jerman dan "misi sejarah" untuk meraih kekuatan dunia, yang harus dikejar tanpa memedulikan apa yang diinginkan oleh para politisi atau rakyat.[28]
Kudeta Kapp

Setelah perang, pada tahun 1920, Raeder terlibat dalam Kudeta Kapp yang gagal ketika, bersama hampir seluruh korps perwira angkatan laut, ia secara terbuka menyatakan dukungannya kepada "pemerintahan" Wolfgang Kapp melawan para pemimpin Republik Weimar.[7] Pada musim panas tahun 1920, Raeder menikahi istri keduanya, yang kelak dengannya ia dikaruniai seorang putra.
Setelah kegagalan Kudeta Kapp, ia disingkirkan di Angkatan Laut dan dipindahkan ke Arsip Angkatan Laut, tempat ia memainkan peran penting selama dua tahun dalam menulis sejarah resmi Angkatan Laut pada Perang Dunia I.[29] Setelah itu, Raeder melanjutkan kenaikan jabatannya secara bertahap dalam hierarki angkatan laut, menjadi Vizeadmiral (laksamana madya) pada tahun 1925.
Panglima Tertinggi

Pada 1 Oktober 1928, Raeder dinaikkan pangkatnya menjadi laksamana dan diangkat sebagai kepala Komando Angkatan Laut (Chef der Marineleitung) dari Reichsmarine, Angkatan Laut Republik Weimar. Pada 1 Juni 1935, Reichsmarine diubah namanya menjadi Kriegsmarine dan Raeder menjadi panglima tertingginya dengan gelar Oberbefehlshaber der Kriegsmarine. Pada 20 April 1936, Raeder dinaikkan pangkatnya ke pangkat baru Generaladmiral (laksamana jenderal) serta diberi pangkat dan wewenang seorang Reichsminister (menteri Reich), tetapi tanpa gelar formal tersebut.[30] Pada 30 Januari 1937, Hitler menganugerahkan Lencana Emas Partai kepada Raeder, yang secara otomatis mendaftarkannya sebagai anggota Partai (nomor keanggotaan 3.805.228).[31]
Perang Dunia II

Raeder percaya bahwa angkatan laut belum siap menghadapi dimulainya Perang Dunia II setidaknya hingga lima tahun ke depan. Armada permukaan tidak memadai untuk melawan Angkatan Laut Britania Raya (Royal Navy) dan alih-alih mengadopsi strategi penyerangan konvoi. Raeder ingin Kriegsmarine memainkan peran aktif karena ia khawatir anggarannya akan dipotong setelah perang. Kapal-kapal yang lebih kecil disebarkan ke seluruh dunia untuk memaksa Royal Navy memencarkan kapal-kapal mereka demi menghadapinya, sementara kapal-kapal tempur akan melakukan penyerangan di Laut Utara, dengan tujuan secara bertahap mengurangi kekuatan Royal Navy di dalam negeri.
Raeder tidak puas dengan hasil Pertempuran Sungai Perak dan percaya bahwa Hans Langsdorff seharusnya tidak menenggelamkan sendiri kapalnya, melainkan berlayar keluar untuk bertempur melawan Royal Navy. Komandan armada Hermann Boehm dimintai pertanggungjawaban dan dipecat oleh Raeder, yang juga mengeluarkan perintah bahwa kapal-kapal harus bertempur hingga amunisi terakhir dan menang atau tenggelam dengan bendera tetap berkibar.
Pihak Sekutu menggunakan lapangan udara Norwegia untuk memindahkan pesawat ke Finlandia yang bertempur melawan Soviet dalam Perang Musim Dingin, serta menanam ranjau di perairan Norwegia, dan Jerman cemas dengan perkembangan tersebut. Jika Sekutu menggunakan pangkalan angkatan laut Norwegia atau berhasil menanam ranjau di perairan Norwegia, mereka dapat memutus impor bijih besi penting Jerman dari Swedia dan memperketat blokade terhadap Jerman. Sekutu telah membuat rencana untuk menginvasi Norwegia dan Swedia demi memutus pengiriman bijih besi tersebut. Laksamana Rolf Carls, komandan Kriegsmarine di wilayah Laut Baltik, mengusulkan invasi ke Norwegia kepada Raeder pada September 1939. Raeder memberikan pengarahan kepada Hitler mengenai gagasan tersebut pada Oktober, tetapi perencanaannya baru dimulai pada Desember 1939. Operasi tersebut berada dalam perencanaan prioritas rendah hingga terjadinya insiden Altmark pada Februari 1940, ketika sebuah kapal tanker Jerman yang membawa 300 tahanan Sekutu di perairan Norwegia yang saat itu netral diserbu oleh para pelaut dari kapal perusak Royal Navy dan para tahanan dibebaskan. Setelah kejadian ini, rencana invasi Norwegia menjadi sangat mendesak. Invasi tersebut memakan biaya besar bagi Kriegsmarine, yang kehilangan satu kapal penjelajah berat, dua dari enam kapal penjelajah ringannya, 10 dari 20 kapal perusaknya, dan enam U-boot. Selain itu, hampir seluruh kapal utama lainnya mengalami kerusakan dan memerlukan perbaikan di galangan kapal, sehingga untuk sementara waktu armada permukaan Jerman hanya memiliki tiga kapal penjelajah ringan dan empat kapal perusak yang beroperasi setelah kampanye Norwegia tersebut.
Kemenangan cepat atas Prancis memungkinkan Kriegsmarine menempatkan pangkalannya di pelabuhan-pelabuhan pantai barat Prancis. Hal ini penting secara strategis karena kapal-kapal perang Jerman tidak perlu lagi melintasi Selat Inggris yang berbahaya untuk kembali ke pelabuhan dalam negeri, serta memungkinkan mereka untuk menjangkau lebih jauh ke Samudra Atlantik untuk menyerang konvoi. Dengan menyerahnya Prancis, Raeder melihat kesempatan untuk meningkatkan kekuatan angkatan laut secara signifikan dengan menyita kapal-kapal Angkatan Laut Prancis dan mengawakinya dengan krunya. Namun, Hitler memveto gagasan ini karena khawatir hal tersebut akan mendorong angkatan laut Prancis untuk bergabung dengan Royal Navy. Ketakutan Britania terhadap rencana Raeder berujung pada Penyerangan Mers-el-Kébir, di mana Royal Navy menyerang angkatan laut Prancis meskipun sedang dalam keadaan damai dengan Prancis.

Pada 11 Juli 1940, Hitler dan Raeder sepakat untuk melanjutkan pembangunan kapal-kapal tempur yang diamanatkan oleh Rencana Z. Raeder juga memerintahkan pembangunan pangkalan di Trondheim di Laut Norwegia serta di Saint-Nazaire dan Lorient di Teluk Biskay. Pada saat ini, Raeder dan para perwira senior lainnya mulai mengajukan memo untuk menginvasi (antara lain) Shetland, Islandia, Azores, Iran, Madagaskar, Kuwait, Mesir, dan Hindia Belanda.
Pada Januari 1941, kapal tempur Scharnhorst dan Gneisenau dikirim dalam misi penyerangan perdagangan yang berhasil di Atlantik. Pada 18 Maret, menyusul dimulainya program Lend-Lease, Raeder ingin mulai menembaki kapal-kapal perang AS meskipun tanpa provokasi. Ia menolak untuk menginvasi Azores karena kerugian kapal permukaan pada tahun sebelumnya. Raeder mendesak Hitler untuk menyatakan perang terhadap Amerika Serikat sepanjang tahun 1941 agar Kriegsmarine dapat mulai menenggelamkan kapal-kapal perang Amerika yang mengawal konvoi Britania.[32]
Pada April 1941, Raeder berencana menyusuli keberhasilan misi penyerangan perdagangan oleh Scharnhorst dan Gneisenau dengan misi yang bahkan lebih besar, melibatkan tiga kapal tempur dan satu kapal penjelajah berat di bawah komando Lütjens, dengan nama kode Operasi Rheinübung. Rencana awalnya adalah melibatkan kapal tempur Scharnhorst dan Gneisenau dalam operasi tersebut, tetapi Scharnhorst sedang menjalani perbaikan berat pada mesinnya, dan Gneisenau baru saja dihantam torpedo yang merusaknya beberapa hari sebelumnya sehingga membuatnya tidak dapat beroperasi selama enam bulan. Pada akhirnya, hanya Bismarck dan Prinz Eugen yang dikirim dalam misi tersebut, yang berakhir dengan tenggelamnya Bismarck. Kegagalan ini hampir mengakhiri penggunaan kapal utama untuk melawan pelayaran niaga.[butuh rujukan] Hitler tidak puas dan menganggap sumber daya yang digunakan dalam pembangunan serta pengoperasian Bismarck yang besar sebagai investasi yang buruk.
Pada akhir tahun 1941, Raeder merencanakan penerobosan Selat (Channel Dash) yang mengirimkan dua kapal tempur tersisa dari pelabuhan-pelabuhan Prancis kembali ke Jerman untuk operasi lebih lanjut di perairan Norwegia. Rencana tersebut bertujuan untuk mengancam konvoi Lend-Lease ke Uni Soviet, mencegah invasi ke Norwegia, dan mengikat elemen-elemen Home Fleet yang seandainya tidak diikat dapat digunakan di Atlantik untuk melawan kelompok kapal selam (wolfpack) U-boot.
Setelah serangan di Pearl Harbor, Raeder, bersama Generalfeldmarschall Keitel dan Reichsmarschall Göring, mendesak Hitler untuk segera menyatakan perang terhadap Amerika Serikat mengingat adanya rencana perang AS Rainbow Five, serta memulai serangan U-boot di lepas pantai timur AS, yang belakangan disebut sebagai "Masa Bahagia Kedua" (Second Happy Time) oleh para awak kapal selam Jerman.[33]
Pengunduran diri

Pada 30 Januari 1943, menyusul kemarahan Hitler atas Pertempuran Laut Barents, Karl Dönitz, panglima tertinggi armada U-boot Kriegsmarine, dinaikkan pangkatnya menjadi Großadmiral, dan Raeder diangkat sebagai inspektur laksamana, sebuah jabatan seremonial. Raeder gagal menginformasikan pertempuran tersebut kepada Hitler, yang justru mengetahui peristiwa itu dari pers asing. Menurut Albert Speer, Hitler menganggap Lützow dan Admiral Hipper kurang memiliki semangat bertempur. Reorganisasi ini sesuai dengan tujuan Speer untuk bekerja lebih erat dengan Dönitz.[34]
Pascaperang
Peradilan Nürnberg

Raeder ditangkap oleh pasukan Soviet pada 23 Juni 1945[35] dan dipenjarakan di Moskwa. Pada akhir Juli, ia dibawa ke Nürnberg untuk diadili atas tuduhan: (1) konspirasi untuk melakukan kejahatan terhadap perdamaian, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan; (2) merencanakan, memulai, dan mengobarkan perang agresi; serta (3) kejahatan terhadap hukum perang. Tuduhan paling serius adalah bahwa ia memerintahkan pelaksanaan perang kapal selam tanpa terbatas, penenggelaman kapal-kapal netral dan tanpa senjata, serta bahwa, dengan melanggar Perjanjian Angkatan Laut London Kedua, ia menyetujui pembunuhan atau tidak dilakukannya penyelamatan terhadap korban selamat di laut.[36]
Raeder dinyatakan bersalah atas semua tuduhan[37] dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.[38] Ia terkejut karena sebelumnya memperkirakan akan dihukum mati.[39] Istrinya, dengan dukungan para veteran Jerman, memimpin beberapa kampanye untuk membebaskannya hingga akhirnya, karena kesehatannya yang memburuk, ia dibebaskan pada 26 September 1955.[40]
Kematian

Raeder menulis autobiografinya, Mein Leben, dengan bantuan seorang penulis bayangan.[40]
Ia meninggal dunia karena sebab alami di Kiel pada 6 November 1960.[1][41] Istrinya telah meninggal pada tahun sebelumnya. Ia dimakamkan di Nordfriedhof (Pemakaman Utara) di Kiel.[2][3][42] Mantan Großadmiral Karl Dönitz menghadiri pemakamannya pada 12 November 1960.[43]
Referensi
- 1 2 3 "Erich Raeder" [Erich Raeder]. Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). 2 November 2020. Diakses tanggal 13 April 2021.
{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Erich Raeder 24.IV.1876 – 06.XI.1960". Der Spiegel (Obituari) (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 14 April 2021.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Thorne, Stephen J. (30 Oktober 2019). "Raeder's Defence: German Admiral Fights for His Doomed Fleet" [Pertahanan Raeder: Laksamana Jerman Berjuang demi Armadanya yang Ditakdirkan Hancur]. Legion (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 14 April 2021. Diakses tanggal 14 April 2021.
{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Bird, hlm. 1–2. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- 1 2 Bird, hlm. 2. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- 1 2 Bird, hlm. xxvi. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- 1 2 Thomas, hlm. 51. sfn error: tanpa target: CITEREFThomas (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 13. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 13–14. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 14–15. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 17. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 18. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Herwig, hlm. 73. sfn error: tanpa target: CITEREFHerwig (bantuan)
- ↑ Herwig, hlm. 83–85. sfn error: tanpa target: CITEREFHerwig (bantuan)
- ↑ Hansen, hlm. 89. sfn error: tanpa target: CITEREFHansen (bantuan)
- ↑ Hansen, hlm. 81. sfn error: tanpa target: CITEREFHansen (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 23. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 89. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Hansen, hlm. 93. sfn error: tanpa target: CITEREFHansen (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 31. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 34. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ ""Nieder die Regierung! Tod dem Kapitalismus!" Die Matrosenaufstände 1918" ["Tumbangkan Pemerintah! Kematian bagi Kapitalisme!" Pemberontakan Pelaut 1918]. Bundesarchiv: 100 Jahre Weimarer Republik (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 30 Agustus 2024.
- 1 2 3 Bird, hlm. 49. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 35–36. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- 1 2 Bird, hlm. 37. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 45–46. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Bird, hlm. 46–52. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- 1 2 3 Bird, hlm. 140. sfn error: tanpa target: CITEREFBird (bantuan)
- ↑ Thomas, hlm. 57–58. sfn error: tanpa target: CITEREFThomas (bantuan)
- ↑ "Nazi Conspiracy and Aggression, Volume V, pp. 542-543, Document 2879-PS" [Konspirasi dan Agresi Nazi, Jilid V, hlm. 542-543, Dokumen 2879-PS] (PDF) (dalam bahasa Inggris). Office of United States Chief of Counsel For Prosecution of Axis Criminality. 1946. Diakses tanggal 22 April 2021.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wistrich, Robert (1982). Who's Who in Nazi Germany [Siapa di Antara Siapa di Jerman Nazi] (dalam bahasa Inggris). Macmillan Publishing Co. hlm. 239. ISBN 0-02-630600-X.
- ↑ Murray & Millet 2000, hlm. 248. sfn error: tanpa target: CITEREFMurrayMillet2000 (bantuan)
- ↑ "The Big Leak" [Kebocoran Besar] (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Agustus 2018. Diakses tanggal 17 Januari 2018.
- ↑ Speer 1995, hlm. 374–375. sfn error: tanpa target: CITEREFSpeer1995 (bantuan)
- ↑ Biagi, Enzo (1983). La seconda guerra mondiale, una storia di uomini [Perang Dunia Kedua, Sebuah Sejarah tentang Manusia] (dalam bahasa Italia). Milan: Gruppo editoriale Fabbri. hlm. 2743.
- ↑ "Nuremberg Trial Judgements: Erich Raeder" [Putusan Peradilan Nürnberg: Erich Raeder]. www.jewishvirtuallibrary.org (dalam bahasa Inggris).
- ↑ Biagi, hlm. 2757
- ↑ Biagi, hlm. 2759
- ↑ Bird, Keith (2013). Erich Raeder: Admiral of the Third Reich [Erich Raeder: Laksamana Reich Ketiga] (dalam bahasa Inggris). Naval Institute Press. ISBN 978-1612513751.
- 1 2 Bird, Keith (2013). Erich Raeder: Admiral of the Third Reich [Erich Raeder: Laksamana Reich Ketiga] (dalam bahasa Inggris). Naval Institute Press. ISBN 978-1612513751.
- ↑ "Admiral Erich Raeder Is Dead; Led German Navy Under Hitler; Played an Important Role in Developing of Nazi Fleet—Convicted for War Crimes" [Laksamana Erich Raeder Meninggal Dunia; Memimpin Angkatan Laut Jerman di Bawah Hitler; Memainkan Peran Penting dalam Mengembangkan Armada Nazi—Dipidana atas Kejahatan Perang]. The New York Times (dalam bahasa Inggris). 7 November 1960. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 18 September 2023.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Admiral Erich Raeder Is Dead; Led German Navy Under Hitler; Played an Important Role in Developing of JVczi Fleetu Convicted for War Crimes" [Laksamana Erich Raeder Meninggal Dunia; Memimpin Angkatan Laut Jerman di Bawah Hitler; Memainkan Peran Penting dalam Mengembangkan Armada Nazi—Dipidana atas Kejahatan Perang]. The New York Times (dalam bahasa Inggris). 7 November 1960. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 23 September 2023.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "GERMANY: KIEL: DOENITZ AT RAEDER FUNERAL" [JERMAN: KIEL: DOENITZ DI PEMAKAMAN RAEDER]. Reuters Archive Licensing (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 September 2023.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bibliografi
- Alexander, Bevin, How Hitler Could Have Won World War II, New York: Three Rivers Press. 2000. ISBN 0-609-80844-3.
- Bergen, Doris, "'Germany Is Our Mission: Christ Is Our Strength!' The Wehrmacht Chaplaincy and the 'German Christian' Movement" pp. 522–536 from Church History Volume 66, Issue # 3, September 1997.
- Bird, Eugene, The Loneliest Man in the World, Rudolph Hess, in Spandau, London: Sphere, 1976.
- Bird, Keith, Weimar, The German Naval Officer Corps and the Rise of National Socialism, Amsterdam: Grüner, 1977, ISBN 90-6032-094-8.
- Bird, Keith, Erich Raeder Admiral of the Third Reich, Annapolis: Naval Institute Press, 2006, ISBN 1-55750-047-9
- Buchanan, Patrick, Churchill, Hitler and the Unnecessary War: How Britain Lost Its Empire and the West Lost the World, New York: Random House, 2008, ISBN 0-307-40516-8.
- Dörr, Manfred (in German). Die Ritterkreuzträger der Überwasserstreitkräfte der Kriegsmarine – Band 2:L–Z. Osnabrück, Germany: Biblio Verlag. 1996. ISBN 3-7648-2497-2.
- Fischer, Kurt (in German). Großadmiral Dr. phil. h.c. Erich Raeder. In: Gerd R. Ueberschär (ed.): Hitlers militärische Elite Band 1: Von der Anfängen des Regimes bis zum Kriegsbeginn (pp. 185–194). Darmstadt, Germany: Wissenschaftliche Buchgesellschaft. 1998. ISBN 3-89678-083-2.
- Gilbey, Joseph, Kriegsmarine: Admiral Raeder's Navy – A Broken Dream, 2006.
- Goda, Norman: Tomorrow the World: Hitler, Northwest Africa, and the Path Toward America, Texas A&M University, 1998, ISBN 0-89096-807-1.
- Goda, Norman: "Black Marks Hitler's Bribery of his Senior Officers During World War II" pp. 96–137 from Corrupt Histories edited by Emmanuel Kreike and William Jordan, University of Rochester Press, 2005, ISBN 978-1-58046-173-3.
- Goda, Norman, Tales from Spandau: Nazi Criminals and the Cold War, Cambridge, Cambridge University Press, 2007, ISBN 0-521-86720-7.
- Hankey, Maurice Politics, Trials and Errors, Clark, New Jersey: Lawbook Exchange, 2002, ISBN 1-58477-228-X.
- Hansen, Kenneth "Raeder versus Wegener Conflict in German Strategy" pp. 81–108 from U.S. Naval War College Review, Volume 58, Issue # 4, Autumn 2005.
- Herwig, Holger, "The Failure of German Sea Power, 1914–1945: Mahan, Tirpitz, and Raeder Reconsidered" pp. 68–105 from The International History Review, Volume 10, Issue #1, February 1988.
- Kallis, Aristotle, Fascist Ideology Territory and Expansionism in Italy and Germany 1922–1945, Routledge: London, 2000 ISBN 0-415-21612-5.
- Kershaw, Ian, Fateful Choices Ten Decisions that Changed the World 1940–1941, Penguin: London, 2007, ISBN 978-0-14-311372-0.
- Mulligan, Timothy P. "Ship-of-the-Line or Atlantic Raider? Battleship Bismarck Between Design Limitations and Naval Strategy" pp. 1013–1044 from The Journal of Military History, Volume 69, Issue # 4, October 2005.
- Murray, Williamson & Millet, Alan, A War to Be Won Fighting the Second World War, Cambridge: Belknap Press, 2000, ISBN 978-0-674-00680-5.
- Padfield, Peter, Dönitz: the Last Führer, London: Victor Gollancz, 1984, ISBN 978-0-304-35870-0.
- Rahn, Werner, "The War at Sea in the Atlantic and in the Arctic Ocean" pp. 301–441 from Germany and the Second World War Volume VI The Global War Widening of the Conflict into a World War and the Shift of the Initiative 1941–1943 edited by Günther Roth, Oxford: Clarendon Press, 2001 ISBN 0-19-822888-0.
- Raeder, Erich, My Life, Annapolis: Naval Institute Press, 1960.
- Scherzer, Veit (2007). Die Ritterkreuzträger 1939–1945 Die Inhaber des Ritterkreuzes des Eisernen Kreuzes 1939 von Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine, Waffen-SS, Volkssturm sowie mit Deutschland verbündeter Streitkräfte nach den Unterlagen des Bundesarchives [The Knight's Cross Bearers 1939–1945 The Holders of the Knight's Cross of the Iron Cross 1939 by Army, Air Force, Navy, Waffen-SS, Volkssturm and Allied Forces with Germany According to the Documents of the Federal Archives] (dalam bahasa Jerman). Jena, Germany: Scherzers Militaer-Verlag. ISBN 978-3-938845-17-2.
- Shirer, William L. (1960). The Rise and Fall of the Third Reich. New York: Simon & Schuster. LCCN 60-6729.
- Thomas, Charles. The German Navy in the Nazi Era, Annapolis: Naval Institute Press, 1990, ISBN 0-87021-791-7.
- Wette, Wolfram The Wehrmacht: History, Myth, Reality, Cambridge: Harvard University Press, 2006, ISBN 0-674-02213-0.
- Weinberg, Gerhard, The Foreign Policy of Hitler's Germany Diplomatic Revolution in Europe, Chicago: University of Chicago Press, 1970, ISBN 978-0-391-03825-7.
- Weinberg, Gerhard, A World at Arms: A Global History of World War II, Cambridge: Cambridge University Press, 2005, ISBN 978-0-521-61826-7.
- Wheeler-Bennett, John, The Nemesis of Power: The German Army in Politics 1918–1945, London: Macmillan, 1967, ISBN 978-1-4039-18123.
Pranala luar
- Raeder versus Wegener Conflicts in German Naval Strategy oleh Komandan Kenneth Hansen
- Kliping surat kabar tentang Erich Raeder di Arsip Pers Abad ke-20 dari Perpustakaan Ekonomi Nasional Jerman (ZBW)
- Raeder, Erich Johann Albert di World War II Graves (termasuk nomor petak makam)
| Jabatan militer | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Laksamana Hans Zenker |
Panglima Tertinggi Reichsmarine 1928–1935 |
Diteruskan oleh: Diri sendiri sebagai Panglima Tertinggi Kriegsmarine |
| Didahului oleh: Diri sendiri sebagai Panglima Tertinggi Reichsmarine |
Panglima Tertinggi Kriegsmarine 1935–1943 |
Diteruskan oleh: Karl Dönitz |
| Penghargaan dan prestasi | ||
| Didahului oleh: Sir Stafford Cripps |
Sampul majalah Time 20 April 1942 |
Diteruskan oleh: Pierre Laval |
| Marsekal Reich (Reichsmarschall) |
| |||
|---|---|---|---|---|
| Marsekal Lapangan (Generalfeldmarschall) | ||||
| Laksamana Besar (Großadmiral) |
| |||
Terdakwa utama pada Proses Nürnberg | |
|---|---|
| Dijatuhi hukuman mati | |
| Dipenjara |
|
| Dibebaskan | |
| Tidak ada keputusan | |
| |