| Athena | |
|---|---|
Dewi kebijaksanaan, perang, dan kerajinan tangan | |
| Anggota Dua Belas Dewa Olimpus | |
Mattei Athena di Louvre. Salinan Romawi dari abad ke-1 SM/M berdasarkan patung asli Yunani Athena Piraeus dari abad ke-4 SM yang dikaitkan dengan Kefisodotos atau Eufranor. | |
| Kediaman | Gunung Olimpus |
| Simbol | Aigis, ketopong, tombak, baju zirah, gorgoneion, kereta perang, alat pemintal |
| Hewan | Burung hantu, ular, kuda |
| Pohon | Zaitun |
| Keluarga | |
| Orang tua | Zeus sendiri, atau Zeus dan Metis[a][1] |
| Anak | Erikhthonios (diadopsi) |
| Padanan | |
| Romawi | Minerva |
| Mesir | Neith |
Athena[b] atau Atena[c]—yang sering diberi julukan Pallas[d]—adalah seorang dewi Yunani Kuno pelindung kebijaksanaan, perang, dan kerajinan tangan[2] yang kemudian disinkretiskan dengan dewi Romawi Minerva.[3] Athena dianggap sebagai dewi pelindung bagi berbagai kota di seluruh Yunani, khususnya kota Athena, yang kemungkinan besar menjadi asal nama sang dewi.[4] Simbol utamanya meliputi burung hantu, pohon zaitun, ular, dan gorgoneion. Dalam seni, ia umumnya digambarkan mengenakan ketopong dan memegang tombak.
Sejak asal-usulnya sebagai dewi istana Aegea, Athena terikat erat dengan kota Athena. Ia dikenal sebagai Polias dan Poliouchos (keduanya berasal dari kata polis, yang berarti "negara-kota"), dan kuil-kuilnya biasanya terletak di atas akropolis berkubu di bagian pusat kota. Parthenon di Akropolis Athena dipersembahkan untuknya, bersama sejumlah kuil dan monumen lainnya. Sebagai pelindung kerajinan dan tenun, Athena dikenal sebagai Ergane. Ia juga merupakan seorang dewi prajurit dan dipercaya memimpin para prajurit ke medan perang sebagai Athena Promachos. Festival utamanya di Athena adalah Panathenaia, yang dirayakan pada bulan Hekatombaion di pertengahan musim panas dan merupakan festival terpenting dalam kalender Athena.
Dalam mitologi Yunani, Athena lahir dari dahi ayahnya, Zeus; dalam Theogonia karya Hesiodos, hal ini terjadi setelah Zeus menelan pasangannya, Metis, saat ia sedang mengandung Athena. Dalam mitos pendirian kota Athena, ia mengalahkan Poseidon dalam kompetisi memperebutkan perlindungan atas kota tersebut dengan menciptakan pohon zaitun pertama. Ia dikenal sebagai Athena Parthenos "Athena Perawan". Dalam salah satu mitos arkais Attika, Hefaistos mencoba memerkosanya, tetapi gagal, sehingga Gaia melahirkan Erikhthonios, seorang pahlawan pendiri Athena yang dibesarkan oleh dewi tersebut. Ia adalah dewi pelindung perjuangan para pahlawan; ia dipercaya telah membantu pahlawan-pahlawan seperti Perseus, Herakles, Bellerofon, dan Iason. Bersama Afrodit dan Hera, Athena adalah salah satu dari tiga dewi yang perselisihannya mengakibatkan Perang Troya. Ia memainkan peran aktif dalam Iliad dengan membantu orang-orang Akhaia, dan dalam Odisseia, ia menjadi dewi pelindung bagi Odisseus.
Dalam tulisan-tulisan belakangan karya penyair Romawi Ovidius, Athena dikatakan pernah bersaing melawan seorang manusia fana bernama Arakhne dalam perlombaan menenun. Setelah itu, Athena mengubah Arakhne menjadi laba-laba pertama dan mengubah Medusa menjadi Gorgon setelah menyaksikan wanita muda itu diperkosa oleh Poseidon di dalam kuil sang dewi. Ovidius juga menyatakan bahwa Athena menyelamatkan seorang perawan fana bernama Korone dari dewa yang sama dengan mengubahnya menjadi seekor burung gagak.[5][6] Sejak Renaisans, Athena telah menjadi simbol internasional untuk kebijaksanaan, kesenian, dan pembelajaran klasik. Para seniman dan pembuat alegori Barat sering menggunakan Athena sebagai simbol kebebasan dan demokrasi.
Etimologi

Athena dikaitkan dengan kota Athena.[4][7] Nama kota tersebut dalam bahasa Yunani Kuno adalah Ἀθῆναι (Athȇnai), sebuah toponim jamak merujuk tempat di mana—menurut mitos—ia memimpin Athenai, yaitu sebuah persaudaraan wanita yang didedikasikan untuk pemujaannya.[8] Pada zaman kuno, para cendekiawan memperdebatkan apakah Athena dinamai dari nama kota Athena atau kota Athena dinamai dari nama sang dewi.[4] Sekarang para cendekiawan umumnya sepakat bahwa sang dewi mengambil namanya dari kota tersebut;[4][7] akhiran -ene umum ditemukan dalam nama lokasi, tetapi jarang digunakan untuk nama diri perorangan.[4] Kesaksian dari berbagai kota di Yunani Kuno membuktikan bahwa dewi-dewi pelindung kota yang serupa dipuja di kota-kota lain[8] dan, seperti Athena, mengambil nama mereka dari kota tempat mereka dipuja.[8] Sebagai contoh, di Mikenai terdapat seorang dewi bernama Mykene, yang persaudaraan wanitanya dikenal sebagai Mykenai,[8] sedangkan di Tebes dewi yang serupa dinamai Thebe, dan kota tersebut dikenal dalam bentuk jamak Thebai (atau Thebes dalam bahasa Inggris, dengan akhiran 's' merupakan bentuk jamak).[8] Nama Athenai kemungkinan berasal dari bahasa Pra-Yunani karena mengandung morfem yang diduga Pra-Yunani, yaitu *-ān-.[9]
Dalam dialognya, Kratylos, filsuf Yunani Kuno Plato (428–347 SM) memberikan beberapa etimologi yang cukup imajinatif mengenai nama Athena, berdasarkan teori-teori warga Athena kuno serta spekulasi etimologisnya sendiri:
Hal itu merupakan masalah yang lebih serius, dan di sana, temanku, para penafsir modern Homeros menurutku dapat membantu menjelaskan pandangan orang-orang kuno. Sebagian besar dari mereka dalam penjelasan mengenai sang penyair menegaskan bahwa yang dimaksud dengan Athena adalah "pikiran" [νοῦς, noũs] dan "kecerdasan" [διάνοια, diánoia], dan pembuat nama tampaknya memiliki gagasan yang luar biasa tentangnya; dan bahkan menyebutnya dengan gelar yang lebih tinggi lagi, "kecerdasan ilahi" [θεοῦ νόησις, theoũ nóēsis], seolah-olah ia hendak mengatakan: Dialah yang memiliki pikiran Tuhan [ἁ θεονόα, a theonóa]. Namun, mungkin nama Theonoe dapat diartikan "ia yang mengetahui hal-hal ilahi" [τὰ θεῖα νοοῦσα, ta theia noousa] dengan lebih baik daripada yang lain. Kita juga tidak jauh dari kebenaran jika menganggap bahwa penciptanya ingin mengidentifikasikan Dewi ini dengan kecerdasan moral [εν έθει νόεσιν, en éthei nóesin], dan oleh karena itu memberinya nama Etheonoe; yang kemudian, baik oleh dirinya maupun para penerusnya, telah diubah menjadi apa yang mereka anggap sebagai bentuk yang lebih baik, dan menyebutnya Athena.
— Plato, Kratylos 407b
Dengan demikian, Plato percaya bahwa nama Athena berasal dari bahasa Yunani Ἀθεονόα, Atheonóa—yang oleh orang Yunani kemudian dirasionalkan sebagai gabungan dari pikiran (νοῦς, noũs) sang dewa (θεός, theós). Orator abad kedua Masehi Aelius Aristides berupaya menurunkan simbol-simbol alam dari akar etimologis nama Athena sebagai eter, udara, bumi, dan bulan.[10]
Asal-usul

Athena pada awalnya adalah dewi istana Aegea, yang mengawasi kerajinan rumah tangga dan melindungi raja.[12][13][14][15] Sebuah prasasti tunggal Yunani Mikenai 𐀀𐀲𐀙𐀡𐀴𐀛𐀊 a-ta-na po-ti-ni-ja muncul di Knossos pada lempengan-lempengan Linear B dari "Ruang Lempengan Kereta Perang" era Minoa Akhir II;[16][17][11] prasasti-prasasti ini mencakup arsip Linear B tertua di mana pun.[16] Meskipun Athana potnia sering diterjemahkan sebagai "Puan Athena", kata tersebut juga dapat berarti "Potnia dari Athana", atau Sang Puan dari Athena.[11][18] Namun, keterkaitan apa pun dengan kota Athena dalam prasasti Knossos tersebut tidaklah pasti.[19] Serangkaian tanda a-ta-no-dju-wa-ja muncul dalam korpus lempengan Linear A yang belum terpecahkan, ditulis dalam bahasa Minoa tak terklasifikasi.[20] Hal ini dapat dihubungkan dengan ekspresi-ekspresi Yunani Mikenai Linear B a-ta-na po-ti-ni-ja dan di-u-ja atau di-wi-ja (Diwia, "milik Zeus" atau, mungkin, berhubungan dengan dewi homonim),[16] yang menghasilkan terjemahan "Athena milik Zeus" atau "Athena ilahi". Demikian pula, dalam mitologi dan tradisi epik Yunani, Athena tampil sebagai putri Zeus (Διός θυγάτηρ; bdk. Dyeus).[21] Namun, prasasti yang dikutip tersebut tampaknya sangat mirip dengan "a-ta-nū-tī wa-ya", yang dikutip sebagai SY Za 1 oleh Jan Best.[21] Best menerjemahkan kata awal a-ta-nū-tī, yang berulang di awal baris, sebagai "Aku telah memberi".[21]
Sebuah fresko Mikenai menggambarkan dua wanita mengulurkan tangan mereka ke arah sosok sentral yang tertutup oleh perisai angka delapan yang sangat besar; hal ini mungkin menggambarkan dewi prajurit beserta palladionnya, atau Palladionnya dalam representasi anikonik.[22][23] Dalam "Fresko Prosesi" di Knossos hasil rekonstruksi bangsa Mikenai, dua baris sosok pembawa bejana tampaknya bertemu di depan sosok sentral, yang kemungkinan merupakan pendahulu Minoa bagi Athena.[24] Cendekiawan awal abad ke-20 Martin Persson Nilsson berpendapat bahwa Patung-patung dewi ular Minoa merupakan representasi awal Athena.[12][13]
Nilsson dan peneliti lain mengeklaim bahwa pada masa-masa awal, Athena sendiri merupakan seekor burung hantu atau dewi burung secara umum.[25] Dalam buku ketiga Odisseia, ia mengambil bentuk seekor elang laut.[25] Para pendukung pandangan ini berargumen bahwa ia menanggalkan topeng burung hantu pelindungnya sebelum kehilangan sayapnya. "Athena, pada saat ia muncul dalam seni," catat Jane Ellen Harrison, "telah sepenuhnya menanggalkan bentuk hewannya, mengubah wujud ular dan burung yang pernah dikenakannya menjadi sebatas atribut, tetapi sesekali dalam lukisan vas figur-hitam ia masih muncul dengan sayap."[26]

Secara umum disepakati bahwa pemujaan Athena mempertahankan beberapa aspek dari dewi transfungsional Proto-Indo-Eropa.[28][29] Pemujaan Athena mungkin juga dipengaruhi oleh kultus dewi-dewi prajurit Timur Dekat seperti Ishtar dari Semit Timur dan Anat dari Ugarit,[11] dua dewi yang kerap digambarkan menyandang senjata.[13] Pakar klasik Charles Penglase mencatat bahwa Athena menyerupai Inanna dalam perannya sebagai "dewi prajurit yang mengerikan"[30] dan kedua dewi tersebut terikat erat dengan penciptaan.[30] Kelahiran Athena dari kepala Zeus kemungkinan diturunkan dari mitos Sumeria terdahulu tentang perjalanan Inanna turun ke dan kembali dari Dunia Bawah.[31][32]
Plato mencatat bahwa warga Sais di Mesir memuja seorang dewi bernama Neith,[e] yang diidentifikasikannya sebagai Athena.[33] Neith merupakan dewi perang dan perburuan Mesir Kuno yang juga dikaitkan dengan tenun; pemujaannya dimulai pada periode Pra-Dinasti Mesir. Dalam mitologi Yunani, Athena dilaporkan pernah mengunjungi situs-situs mitologis di Afrika Utara, termasuk Sungai Triton di Libya dan dataran Phlegraea.[f] Berdasarkan kemiripan-kemiripan ini, ahli Sinologi Martin Bernal mencetuskan hipotesis "Black Athena" (terj. Athena Hitam), dengan klaim bahwa Neith dibawa ke Yunani dari Mesir bersama dengan "sejumlah besar fitur peradaban dan kebudayaan pada milenium ketiga dan kedua".[34][35] Hipotesis "Black Athena" memicu kontroversi luas menjelang akhir abad kedua puluh,[36][37] tetapi saat ini telah ditolak secara luas oleh para akademisi modern.[38][39]
Julukan dan atribut
Athena juga merupakan dewi perdamaian.[40]
Mirip dengan peran perlindungannya atas berbagai kegiatan dan kota-kota Yunani, Athena dipandang sebagai "pelindung para pahlawan", "pelindung kesenian", serta berbagai tradisi lokal terkait seni dan kerajinan tangan.[40]
Athena dikenal sebagai Atrytone (Άτρυτώνη "Yang Tak Kenal Lelah"), Parthenos (Παρθένος "Perawan"), dan Promachos (Πρόμαχος "ia yang bertempur di garis depan"). Julukan Polias (Πολιάς "dari kota") merujuk pada peran Athena sebagai pelindung kota.[41] Julukan Ergane (Εργάνη "Yang Tekun") menandainya sebagai pelindung para pengrajin dan seniman.[41] Burkert mencatat bahwa warga Athena terkadang hanya menyebut Athena sebagai "Sang Dewi", hē theós (ἡ θεός), sebuah gelar yang jelas berasal dari zaman kuno.[4] Setelah bertindak sebagai hakim dalam peradilan Orestes yang membebaskannya dari tuduhan membunuh ibunya, Klitaimnestra, karena menjalankan perintah Apollo, Athena memperoleh julukan Areia (Αρεία).[41]
Athena terkadang diberi julukan Hippia (Ἵππια "dari kuda", "penunggang kuda"),[42][43] merujuk pada penemuannya atas besi kekang, tali pengekang, kereta perang, dan gerobak.[42] Ahli geografi Yunani Pausanias menyebutkan dalam karyanya Panduan ke Yunani bahwa kuil Athena Chalinitis ("pemakai kekang")[43] di Korintus terletak di dekat makam anak-anak Medea.[43] Julukan lainnya meliputi Ageleia, Itonia, dan Aethyia, sebutan baginya saat dipuja di Megara.[44][45] Ia juga dipuja sebagai Assesia di Assesos. Kata aíthyia (αἴθυια) menandai "penyelam", beberapa spesies burung penyelam (kemungkinan burung penggunting laut), serta secara kiasan bermakna "kapal", sehingga nama tersebut merujuk pada pengajaran Athena mengenai seni pembuatan kapal atau navigasi.[46] Di sebuah kuil di Friksa di Elis Kuno, konon dibangun oleh Klimenos, ia dikenal sebagai Kydonia (Κυδωνία).[47] Pausanias menulis bahwa di Buporthmos terdapat tempat suci Athena Promachorma (Προμαχόρμα), bermakna pelindung tempat berlabuh.[48][49]
Biografer Yunani Plutarkhos menggambarkan persembahan sebuah patung oleh Perikles untuk sang dewi sebagai Athena Hygieia (Ὑγίεια, "Kesehatan") setelah ia mengilhami, melalui mimpi, keberhasilan pengobatan seorang pria yang terluka saat pembangunan gerbang Akropolis.[50] Mechanitis (Μηχανῖτις), bermakna mahir dalam menciptakan, merupakan salah satu julukannya.[51]
Di Athena terdapat kuil Athena Phratria, selaku pelindung fratria, di Agora Kuno Athena.[52]
Pallas Athena

Julukan Pallas bagi Athena —julukannya yang paling terkenal—diturunkan baik dari πάλλω, bermakna "mengacungkan [senjata]", maupun lebih mungkin dari παλλακίς dan kata-kata kerabatnya, bermakna "pemuda, wanita muda".[53] Mengenai topik ini, Walter Burkert menyatakan "dia adalah Pallas dari Athena, Pallas Athenaie, sebagaimana Hera dari Argos adalah Here Argeie".[4] Di masa-masa belakangan, setelah makna asli dari nama tersebut dilupakan, bangsa Yunani menciptakan mitos-mitos untuk menjelaskan asal-usulnya, seperti yang dilaporkan oleh filsuf Epikurean Filodemos dan Bibliotheka karya Pseudo-Apollodoros, dengan klaim bahwa Pallas pada awalnya merupakan entitas terpisah yang dibunuh Athena dalam pertempuran.[54]
Dalam satu versi mitos, Pallas adalah putri dewa laut Triton sekaligus teman masa kecil Athena.[55] Suatu hari, Zeus menyaksikan Athena dan Pallas melakukan latih tanding persahabatan. Tidak ingin putrinya kalah, Zeus mengibaskan aigis miliknya untuk mengalihkan perhatian Pallas, yang secara tidak sengaja tertusuk oleh Athena.[56] Berduka mendalam atas perbuatannya, Athena mengambil nama Pallas bagi dirinya sebagai tanda duka serta penghormatan kepada sahabatnya, lalu Zeus memberikannya aigis sebagai permohonan maaf.[56] Dalam versi cerita lainnya, Pallas adalah seorang Raksasa;[57] Athena membunuhnya selama Gigantomakhia dan mengkuliti tubuhnya untuk dijadikan jubah, yang ia kenakan sebagai trofi kemenangan.[57][13][58][59] Dalam variasi alternatif dari mitos yang sama, Pallas justru merupakan ayah Athena,[57][13] yang berupaya menyerang putrinya sendiri,[60] hingga memicu Athena untuk membunuhnya dan mengambil kulitnya sebagai trofi.[61]
Palladion merupakan sebuah patung Athena yang dikatakan berdiri di kuilnya di Akropolis Troya.[62] Athena memahat sendiri patung tersebut agar menyerupai sahabatnya yang telah wafat, Pallas.[62] Patung ini memiliki sifat khusus menyerupai jimat dan dipercaya bahwa, selama patung tersebut berada di dalam kota, Troya tidak akan pernah jatuh.[62] Ketika bangsa Yunani merebut Troya, Kassandra, putri Priamos dan Hekabe, memeluk palladion untuk perlindungan,[62] tetapi Aias Muda secara kasar merenggutnya dari sana, menyeretnya ke tempat para tawanan lain, lalu memerkosanya.[62] Athena sangat murka atas pelanggaran terhadap perlindungannya ini.[63] Meskipun Agamemnon berusaha meredakan kemurkaannya dengan kurban persembahan, Athena mengirimkan badai di Tanjung Kafereos untuk menghancurkan hampir seluruh armada Yunani dan memisahkan kapal-kapal yang selamat ke seluruh Aegea.[64]
Glaukopis

Dalam karya-karya epik Homeros, julukan paling umum bagi Athena adalah Glaukopis (γλαυκῶπις), umumnya diterjemahkan sebagai "bermata cerah" atau "dengan mata bersinar".[65] Kata ini merupakan gabungan dari glaukós (γλαυκός, bermakna "bersinar, keperakan", dan di kemudian hari "hijau kebiruan" atau "abu-abu")[66] dan ṓps (ὤψ, "mata, wajah").[67]
Kata glaúx (γλαύξ,[68] "burung hantu kecil")[69] berasal dari akar kata yang sama, menurut sebagian pendapat karena mata khas burung itu sendiri. Athena telah dikaitkan dengan burung hantu sejak masa sangat awal;[70] dalam citra-citra arkais, ia kerap digambarkan dengan seekor burung hantu hinggap di tangannya.[70] Melalui keterkaitannya dengan Athena, burung hantu berkembang menjadi maskot nasional warga Athena hingga akhirnya menjadi simbol kebijaksanaan.[3]
Tritogeneia
Dalam Iliad (4.514), Odisseia (3.378), Himne Homeros, serta Theogonia karya Hesiodos, Athena juga diberi julukan unik Tritogeneia (Τριτογένεια), yang maknanya masih belum jelas.[71] Julukan ini dapat bermakna beragam hal, termasuk "lahir dari Triton", mungkin menunjukkan bahwa dewa laut bernama sama tersebut merupakan orang tuanya menurut beberapa mitos awal.[71] Salah satu mitos menceritakan peran Triton sebagai ayah angkat bagi Athena sang anak piatu, dibesarkan bersama putrinya sendiri, Pallas.[55] Kerényi berpendapat bahwa "Tritogeneia tidak berarti ia lahir ke dunia di sungai atau danau tertentu, melainkan ia lahir dari air itu sendiri; sebab nama Triton tampaknya secara umum dikaitkan dengan air."[72][73] Dalam Metamorphoses karya Ovidius, Athena sesekali disebut sebagai "Tritonia".
Kemungkinan makna lainnya adalah "lahir tiga kali" atau "lahir ketiga", merujuk pada suatu trias, statusnya sebagai putri ketiga Zeus, atau fakta bahwa ia lahir dari Metis, Zeus, dan dirinya sendiri; berbagai legenda mencatatnya sebagai anak pertama setelah Artemis dan Apollo, meskipun legenda lain mengidentifikasikannya sebagai anak pertama Zeus.[74] Sejumlah cendekiawan mengajukan keterkaitan dengan dewa Rigveda, Trita,[75] yang terkadang dikelompokkan dalam himpunan tiga penyair mitologis.[75] Michael Janda menghubungkan mitos Trita dengan adegan dalam Iliad saat "tiga bersaudara" Zeus, Poseidon, dan Hades membagi dunia di antara mereka, masing-masing memperoleh "langit luas", laut, dan dunia bawah.[76][77] Janda lebih lanjut menghubungkan mitos kelahiran Athena dari kepala (yaitu bagian paling atas) Zeus, memahami Trito- (yang mungkin awalnya bermakna "yang ketiga") sebagai kata lain untuk "langit".[76] Dalam analisis Janda mengenai mitologi Indo-Eropa, ranah surgawi ini juga dikaitkan dengan perairan mitologis yang mengelilingi dunia berpenghuni (bdk. ibu Triton, Amfitrit, permaisuri Poseidon).[76]
Kemungkinan makna lain disebutkan dalam biografi Demokritos karya Diogenes Laertios, bahwa Athena disebut "Tritogeneia" karena tiga hal yang menjadi tumpuan seluruh kehidupan fana berasal darinya.[78]
Pemujaan dan patronasi
Pemujaan Panhelenik dan Athena

Dalam aspeknya sebagai Athena Polias, Athena dipuja sebagai dewi kota dan pelindung benteng.[13][79][42] Di Athena, Plinteria, atau "Perayaan Pemandian", dirayakan setiap tahun pada akhir bulan Thargelion.[80] Perayaan tersebut berlangsung selama lima hari. Selama periode ini, para imam wanita Athena, atau plyntrídes, melaksanakan ritual penyucian di dalam Erekhtheion, tempat suci persembahan bagi Athena dan Poseidon.[81] Di sini pakaian dari patung Athena ditanggalkan untuk dicuci, lalu tubuh patung tersebut disucikan.[81] Athena dipuja pada perayaan-perayaan seperti Khalkeia sebagai Athena Ergane,[82][42] pelindung berbagai kerajinan tangan, khususnya tenun.[82][42] Ia juga merupakan pelindung para pekerja logam dan dipercaya membantu penempaan zirah serta senjata.[82] Pada akhir abad kelima SM, peran sebagai dewi filsafat menjadi aspek utama dalam pemujaan Athena.[83]
Sebagai Athena Promachos, ia diyakini memimpin para prajurit menuju medan pertempuran.[84][41] Athena mewakili sisi perang terdisiplin dan strategis, berlawanan dengan saudaranya Ares, pelindung kekerasan, dahaga darah, dan pembantaian—"kekuatan mentah peperangan".[85][86] Athena dipercaya hanya mendukung pihak yang bertempur demi keadilan[85] serta dipandang melihat perang terutama sebagai sarana menyelesaikan konflik.[85] Bangsa Yunani menjunjung tinggi Athena jauh melebihi Ares.[85][86] Athena secara khusus dipuja dalam peran ini selama perayaan Panathenaia dan Pamboiotia,[87] dua perayaan yang secara menonjol menampilkan peragaan ketangkasan atletik dan militer.[87] Sebagai pelindung para pahlawan dan prajurit, Athena dipercaya lebih menyukai mereka yang mengandalkan akal budi dan kecerdasan alih-alih kekuatan otot semata.[88]

Dalam aspeknya sebagai perawan prajurit, Athena dikenal sebagai Parthenos (Παρθένος "perawan"),[84][90][91] karena sebagaimana sesama dewi Artemis dan Hestia, ia diyakini tetap menjadi perawan abadi.[92][93][84][91][94] Kuil paling terkenal milik Athena, Parthenon di Akropolis Athena, mengambil namanya dari gelar ini.[94] Menurut Karl Kerényi, pakar mitologi Yunani, nama Parthenos bukan sekadar pengamatan atas keperawanan Athena, melainkan juga pengakuan terhadap perannya sebagai penegak aturan kesusilaan seksual serta misteri ritual.[94] Bahkan melampaui sekadar pengakuan, warga Athena menyematkan nilai tinggi pada sang dewi berdasarkan kemurnian keperawanan tersebut, hal yang mereka junjung sebagai landasan perilaku wanita.[94] Kajian dan teori Kerényi mengenai Athena menjelaskan julukan keperawanannya sebagai hasil dari hubungannya dengan sang ayah, Zeus, sekaligus bagian penting yang padu dalam karakternya sepanjang zaman.[94] Peran ini terungkap dalam beberapa kisah tentang Athena. Marinus dari Neapolis melaporkan bahwa ketika umat Kristen memindahkan patung sang dewi dari Parthenon, seorang wanita jelita muncul dalam mimpi Proklos, pemuja Athena, lalu mengumumkan bahwa "Sang Puan dari Athena" ingin tinggal bersamanya.[95]
Athena juga diakui sebagai pencipta bentuk ramalan berbasis kerikil. Kerikil-kerikil tersebut dinamai thriai, sebutan kolektif bagi sekelompok nimfa yang memiliki kemampuan meramal. Namun, saudara seayahnya, Apollo, merasa gusar dan dengki terhadap para praktisi seni saingan keahliannya. Ia mengeluh kepada ayah mereka, Zeus, dengan dalih bahwa meski banyak orang melakukan lemparan kerikil, hanya sedikit yang benar-benar nabi sejati. Zeus, menaruh simpati pada keluhan Apollo, mendiskreditkan ramalan kerikil tersebut dengan membuat batu-batu kerikil itu tak berguna. Perkataan Apollo menjadi dasar bagi suatu ungkapan Yunani kuno.[96]
Pemujaan regional

Athena tidak hanya menjadi dewi pelindung kota Athena, melainkan juga kota-kota lain, termasuk Pergamon,[40] Argos, Sparta, Gortyn, Lindos, dan Larissa.[41] Berbagai pemujaan Athena merupakan cabang dari pemujaan panhelenik baginya[41] serta kerap mengawasi beragam ritus inisiasi pemuda Yunani, seperti peralihan para pemuda menuju kewarganegaraan atau pernikahan bagi kaum wanita muda.[41] Pemujaan-pemujaan ini menjadi sarana sosialisasi yang seragam, bahkan hingga di luar Yunani daratan.[41] Athena kerap disamakan dengan Afaia, dewi lokal Pulau Aegina, berasal dari Kreta dan juga dikaitkan dengan Artemis serta nimfa Britomartis.[97] Di Arkadia, ia diasimilasikan dengan dewi kuno Alea dan dipuja sebagai Athena Alea.[98] Tempat-tempat suci persembahan bagi Athena Alea terletak di kota-kota Lakonia seperti Mantineia dan Tegea. Kuil Athena Alea di Tegea merupakan pusat keagamaan penting di Yunani Kuno.[g] Ahli geografi Pausanias memperoleh informasi bahwa temenos tersebut didirikan oleh Aleus.[99]
Athena memiliki kuil utama di Akropolis Sparta,[100][42] tempat ia dipuja sebagai Poliouchos dan Khalkíoikos ("dari Rumah Perunggu", kerap di-Latinkan sebagai Chalcioecus).[100][42] Julukan ini mungkin merujuk pada kemungkinan patung pemujaan di sana terbuat dari perunggu,[100] dinding kuil itu sendiri berlapis perunggu,[100] atau peran Athena selaku pelindung pekerja logam.[100] Genta dari terakota dan perunggu digunakan di Sparta sebagai bagian dari pemujaan Athena.[100] Sebuah kuil berlanggam Ionia untuk Athena Polias dibangun di Priene pada abad keempat SM.[101] Kuil tersebut dirancang oleh Pitios dari Priene,[102] arsitek sama yang merancang Mausoleum Halikarnassos.[102] Kuil ini dipersembahkan oleh Aleksander Agung,[103] dan sebuah prasasti dari kuil tersebut mengenai persembahannya kini disimpan di Museum Britania.[101] Ia dipuja sebagai Athena Asia di Kolkhis—konon karena keberadaan gunung terdekat bernama serupa—tempat pemujaannya dipercaya dibawa oleh Kastor dan Polideukes ke Lakonia, lalu sebuah kuil dibangun baginya di Las.[104][105][106]
Athena Cyrrhestica dipuja di kota Kirus di provinsi Kirhestika, Suriah.[107]
Di Pergamon, Athena dipandang sebagai dewi kosmos dan aspek-aspek alam yang mendukung Pergamon serta takdirnya.[40]
Mitologi
Kelahiran


Dalam jajaran dewa Olimpus klasik, Athena dianggap sebagai anak kesayangan Zeus, raja para dewa, terlahir dengan zirah lengkap dari dahinya. Sejak lahir, ia telah memiliki kekuatan besar.[108][109][110][h] Kisah kelahirannya hadir dalam beberapa versi.[111][112][113] Penyebutan paling awal terdapat dalam Buku V Iliad, ketika Ares menuduh Zeus bersikap pilih kasih kepada Athena karena "autos egeinao" (secara harfiah "engkau memperanakannya", tetapi kemungkinan bermakna "engkau melahirkannya").[114][115]
Dalam versi tuturan Hesiodos dalam Theogonia, Zeus menikahi Metis, sosok yang digambarkan sebagai "paling bijaksana di antara para dewa dan manusia fana", lalu berhubungan seksual dengannya.[116][117][115][118] Namun, usai mengetahui Metis hamil, Zeus khawatir keturunannya kelak berusaha menggulingkannya, sebab Gaia dan Uranus bernubuat bahwa Metis akan melahirkan putra yang lebih bijaksana dan lebih berkuasa daripada ayahnya untuk menggulingkan kekuasaannya.[116][117][115][118] Demi mencegah hal ini, Zeus memperdaya Metis agar membiarkannya menelan sang dewi. Namun, langkah itu terlambat karena Metis telah mengandung dan segera melahirkan putri mereka, Athena, yang kemudian dibesarkan Metis di dalam pikiran Zeus, tempat ia terus memberinya nasihat sebagai penguasa.[116][119][115][118] Ketika Athena tumbuh dewasa, Metis menempa jubah, zirah, perisai, serta tombak untuk putrinya.[116][119][115][118] Catatan kisah belakangan dari Bibliotheke karya Pseudo-Apollodoros, ditulis pada abad kedua Masehi, menempatkan Metis sebagai pasangan seksual Zeus yang enggan, alih-alih sebagai istrinya.[120][121] Menurut versi cerita ini, Metis menjelma menjadi berbagai wujud dalam upaya meloloskan diri dari Zeus,[120][121] tetapi Zeus berhasil memperkosanya dan menelannya.[120][121]
Setelah menelan Metis, menurut Hesiodos, Zeus menikahi enam istri lagi secara berurutan hingga ia menikahi istri ketujuh sekaligus istrinya saat ini, Hera.[118] Kemudian Zeus mengalami sakit kepala yang luar biasa.[122][115][118] Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia memerintahkan seseorang (baik Prometheus, Hefaistos, Hermes, Ares, maupun Palaimon, bergantung pada sumber yang diteliti) untuk membelah kepalanya dengan labrys, kapak bermata dua khas Minoa.[57][115][123][121] Athena melompat keluar dari kepala Zeus, kerap digambarkan tumbuh dewasa sepenuhnya dan bersenjata lengkap.[57][115][110][124] "Himne Homeros Pertama bagi Athena" menyatakan pada baris 9–16 bahwa para dewa dibuat takjub oleh kemunculan Athena[125] dan bahkan Helios, dewa matahari, menghentikan kereta perangnya di angkasa.[125] Pindaros, dalam "Ode Olimpia Ketujuh" miliknya, menyatakan bahwa ia "berteriak lantang dengan seruan dahsyat" dan bahwa "Langit serta Ibu Bumi gemetar di hadapannya".[126][125]
Hesiodos menyatakan bahwa Hera sangat jengkel terhadap Zeus karena melahirkan seorang anak sendirian, sehingga ia mengandung dan melahirkan Hefaistos secara partenogenesis,[118] tetapi dalam Imagines 2. 27 (terj. Fairbanks), retorikus Yunani abad ketiga Masehi Filostratos Tua menulis bahwa Hera "bergembira" atas kelahiran Athena "seolah-olah Athena adalah putrinya juga". Apologet Kristen abad kedua Masehi Yustinus Martir berkeberatan terhadap kaum pagan yang mendirikan citra-citra Kore di mata air, sosok yang ia tafsirkan sebagai Athena: "Mereka mengatakan bahwa Athena merupakan putri Zeus bukan dari hubungan seksual, melainkan ketika sang dewa bermaksud membuat dunia melalui sebuah firman (logos), pikiran pertamanya adalah Athena."[127] Menurut catatan langka dari kisah ini dalam skolium atas Iliad, ketika Zeus menelan Metis, sang dewi tengah mengandung Athena dari sang Kiklops Brontes.[128] Etymologicum Magnum[129] justru menganggap Athena sebagai putri dari Daktil Itonos.[130] Fragmen-fragmen yang dinisbatkan oleh sosok Kristen Eusebius dari Kaisarea kepada sejarawan semi-legendaris Fenisia Sankhuniathon—yang menurut perkiraan Eusebius ditulis sebelum Perang Troya—menjadikan Athena sebagai putri Kronos, seorang raja Biblos yang mengunjungi "dunia yang dapat dihuni" dan mewariskan Attika kepada Athena.[131][132]
Athena, yang terlahir sebagai seorang putri alih-alih putra dalam nubuat yang digambarkan Hesiodos, tidak pernah berhasil menggulingkan ayahnya, Zeus, sebagai penguasa kosmos. Namun, Iliad karya Homeros menceritakan percobaan penggulingan saat ia, Hera, dan Poseidon bersekongkol untuk mengalahkan Zeus serta mengikatnya dengan rantai. Hanya berkat sang Nereid Thetis, yang memanggil Briareos, salah satu dari para Hekatonkheires ke Gunung Olimpus, dewa-dewi lainnya membatalkan rencana mereka (karena takut kepada Briareos).[133]
Puan Kota Athena

Sebagai dewi perang, penasihat ulung, pengekangan diri yang bijak, serta wawasan praktis, Athena menjadi pelindung kesejahteraan para raja. Dalam suatu mitos pendirian yang dilaporkan oleh Pseudo-Apollodoros,[129] ia bersaing dengan Poseidon untuk memperebutkan perlindungan atas kota Athena.[134] Masing-masing sepakat memberikan satu hadiah bagi warga Athena[134] dan Kekrops, raja Athena, akan menentukan hadiah mana yang lebih baik.[134] Poseidon menghantam tanah menggunakan trisulanya, lalu sebuah mata air asin memancar;[134] hal ini memberi warga Athena akses menuju perdagangan dan air.[135] Kota Athena pada puncak kejayaannya merupakan kekuatan laut yang penting, mengalahkan armada Persia dalam Pertempuran Salamis[135]—tetapi air tersebut asin dan tidak dapat diminum.[135] Menurut versi alternatif dari mitos ini dalam Georgika karya Virgilius,[129] Poseidon justru memberikan kuda pertama kepada warga Athena.[134] Athena menawarkan pohon zaitun domestikasi pertama.[134][91] Kekrops menerima hadiah ini[134] lalu menyatakan Athena sebagai dewi pelindung kota Athena.[134] Pohon zaitun menghasilkan kayu, minyak, serta makanan,[135] dan menjadi simbol kemakmuran ekonomi Athena.[91][136] Robert Graves berpendapat bahwa "upaya Poseidon untuk menguasai kota-kota tertentu merupakan mitos politik",[135] yang mencerminkan konflik antara agama matriarkal dan patriarkal.[135]

Setelahnya, Poseidon sangat murka atas kekalahannya hingga ia mengutus salah satu putranya, Alirrothios, untuk menebang pohon tersebut. Namun, ketika ia mengayunkan kapaknya, sasarannya meleset dan kapak itu jatuh mengenai dirinya sendiri hingga menewaskannya. Hal ini konon menjadi asal mula penamaan pohon zaitun suci Athena sebagai moria, sebab upaya balas dendam Halirotios terbukti berakibat fatal (moros dalam bahasa Yunani). Dengan penuh amarah, Poseidon menuduh Ares melakukan pembunuhan. Masalah tersebut akhirnya diselesaikan di Areopagus ("bukit Ares") lewat keputusan yang memenangkan Ares, dan tempat itu kelak dinamai berdasarkan peristiwa tersebut.[138][139]
Pseudo-Apollodoros[129] mencatat sebuah legenda kuno tentang Hefaistos yang pernah berupaya memerkosa Athena, tetapi sang dewi mendorongnya hingga air maninya memancar di pahanya.[140][89][141] Athena menyapu air mani tersebut menggunakan segumpal wol lalu melemparkannya ke tanah, sehingga membuahi Gaia dan membuatnya melahirkan Erikhthonios.[140][89][141] Athena mengadopsi Erikhthonios sebagai putranya dan membesarkannya.[140][141] Fabulae, karya mitografi Romawi yang dinisbatkan kepada Gaius Julius Hyginus, mencatat kisah serupa saat Hefaistos menuntut Zeus agar mengizinkannya menikahi Athena karena dialah yang telah membelah tengkorak Zeus demi kelahiran sang dewi.[140] Zeus menyetujuinya, lalu Hefaistos dan Athena menikah,[140] tetapi tatkala Hefaistos hendak menyempurnakan pernikahan tersebut, Athena menghilang dari ranjang pengantin. Hal ini menyebabkan air mani Hefaistos jatuh ke lantai hingga membuahi Gaia yang kemudian mengandung Erikhthonios.[140]
Ahli geografi Pausanias[129] mencatat bahwa Athena memasukkan bayi Erikhthonios ke dalam kotak kecil[142] (cista), yang dipercayakannya kepada tiga putri Kekrops: Herse, Pandrosos, dan Aglauros dari Athena.[142] Ia memeringatkan tiga bersaudara itu agar tidak membuka kotak tersebut,[142] tanpa menjelaskan baik alasan maupun isinya.[142] Aglauros, dan mungkin salah satu saudarinya,[142] membuka kotak itu.[142] Berbagai catatan berbeda menyebutkan bahwa mereka menemukan sang anak berwujud ular, dijaga oleh seekor ular, dijaga oleh dua ekor ular, atau memiliki kaki berupa ular.[143] Dalam versi Pausanias, kedua saudari tersebut menjadi gila akibat melihat isi kotak lalu mencampakkan diri dari atas Akropolis dan tewas seketika.[144] Namun, sebuah lukisan vas Attika justru menggambarkan mereka dikejar oleh sang ular hingga ke tepi jurang.[144] Versi alternatif menceritakan bahwa Athena menitipkan kotak itu kepada putri-putri Kekrops sewaktu ia pergi mengambil gunung batu kapur dari Semenanjung Palene untuk dijadikan bagian dari Akropolis. Saat ia pergi, Aglauros dan Herse membuka kotak tersebut. Seekor burung gagak melihat aksi mereka lalu terbang memberi tahu Athena. Sang dewi murka lalu menjatuhkan gunung bawaannya; gunung tersebut kelak menjadi Bukit Likabetos.
Versi lain mitos para perawan Athena dikisahkan dalam Metamorphoses karya penyair Romawi Ovidius (43 SM – 17 M); dalam varian belakangan ini, Hermes jatuh cinta kepada Herse. Herse, Aglauros, dan Pandrosos pergi ke kuil untuk mempersembahkan kurban bagi Athena. Hermes meminta bantuan Aglauros untuk memikat Herse. Aglauros menuntut imbalan uang. Hermes memberikannya uang yang sebelumnya telah dipersembahkan ketiga saudari itu kepada Athena. Sebagai hukuman atas keserakahan Aglauros, Athena meminta dewi Kedengkian untuk membuat Aglauros cemburu kepada Herse. Ketika Hermes datang untuk memikat Herse, Aglauros justru menghalangi jalannya, alih-alih membantunya sesuai kesepakatan. Hermes pun mengutuknya menjadi batu.[145]
Erikhthonios merupakan salah satu pahlawan pendiri terpenting bagi kota Athena,[89] sedangkan legenda putri-putri Kekrops menjadi mitos pemujaan terkait ritual perayaan Areforia.[89][146] Pausanias mencatat bahwa pada perayaan Areforia, dua gadis muda bergelar areforoi yang bermukim di dekat kuil Athena Polias menerima sejumlah benda misterius dari imam wanita Athena.[147] Benda-benda terselubung tersebut mereka junjung di atas kepala menuruni lorong bawah tanah alami.[147] Di dasar lorong, mereka meletakkan barang-barang serahan itu lalu mengambil himpunan benda rahasia lainnya[147] untuk dibawa kembali menuju kuil.[147] Ritual ini digelar tengah malam[147] tanpa ada seorang pun—bahkan sang imam wanita—yang mengetahui wujud benda-benda tersebut.[147] Ular dalam kisah ini kemungkinan merupakan sosok serupa yang dipahat melingkar di kaki Athena pada patung Athena Parthenos karya Feidias di Parthenon.[137] Banyak patung Athena yang bertahan hingga kini menampilkan sosok ular tersebut.[137] Herodotos mencatat bahwa seekor ular menghuni celah di sisi utara puncak Akropolis Athena,[137] dan warga Athena menyajikan kue madu setiap bulan sebagai persembahan baginya.[137] Menjelang Invasi Persia ke Yunani pada 480 SM, sang ular tidak memakan kue madu tersebut;[137] warga Athena menafsirkannya sebagai pertanda bahwa sang dewi telah meninggalkan mereka.[137]
Athena menaruh perhatian khusus pada seorang gadis Attika bernama Mirsine, sosok bersahaja yang melampaui seluruh rekan atletnya, baik di palestra maupun gelanggang lari.[148] Terdorong rasa dengki, para atlet lain membunuhnya. Athena yang merasa iba lantas mengubah jasad gadis itu menjadi pohon mirtel, tumbuhan yang kelak disayanginya sebagaimana zaitun.[149] Kisah yang hampir serupa dituturkan mengenai gadis lain bernama Elaia—ia menjelma menjadi pohon zaitun, tumbuhan suci bagi Athena.[150]
Menurut Ovidius, sewaktu gadis fana bernama Korone menyusuri pantai, Poseidon melihatnya lalu berupaya merayunya. Usahanya gagal, sehingga sang dewa beralih hendak memerkosanya. Namun, Korone melarikan diri dari kejaran berahi tersebut sambil berseru memohon pertolongan manusia dan dewa-dewi. Tiada manusia mendengar tangisnya, tetapi "sang dewi perawan menaruh iba pada sesama perawan"; Athena menyelamatkannya dengan mengubah wujud gadis itu menjadi seekor burung gagak.[5][6]
Sepeninggal orang tua mereka, Kleothera dan Merope yang kini yatim piatu dibesarkan oleh Afrodit.[151] Para dewi Olimpus lainnya turut menganugerahi kedua gadis tersebut karunia: Hera mengaruniai kecantikan, Artemis memberikan perawakan tinggi, sementara Athena mengajari mereka pelbagai keterampilan wanita.[151][152]
Pelindung para pahlawan
Dalam Iliad karya Homeros, Athena selaku dewi perang mengobarkan semangat serta bertempur di sisi para pahlawan Yunani. Bantuan dari sang dewi menjadi lambang keperkasaan militer. Zeus, penguasa para dewa, secara khusus menetapkan ranah peperangan bagi Ares dan Athena. Keunggulan moral serta militer Athena melebihi Ares sebagian bersumber dari perannya mewakili dimensi perang terpelajar dan beradab—menjunjung keadilan serta kearifan—sementara Ares sekadar mencerminkan dahaga darah belaka. Keunggulan ini juga ditopang oleh cakupan perannya yang jauh lebih luas serta penting, ditambah rasa patriotisme para pendahulu Homeros mengingat Ares dipandang berasal dari negeri asing. Dalam Iliad, Athena menjadi pengejawantahan ilahi bagi cita-cita kepahlawanan dan kemiliteran: ia mempersonifikasikan keunggulan pertempuran jarak dekat serta kejayaan, diiringi langsung oleh Nike, dewi kemenangan. Sifat-sifat penentu kemenangan terukir pada aigis—baju pelindung dada yang dikenakan Athena saat bertempur di medan perang—yakni rasa gentar, perselisihan, pertahanan, serta penyerangan.

Berdasarkan Bibliotheke karya Pseudo-Apollodoros, Athena memberikan arahan kepada Argos, pembangun Argo—kapal yang digunakan pahlawan Iason beserta rombongan Argonaut—serta turut membantu pembuatan kapal tersebut.[154][155] Menurut "Ode Olimpia Ketiga Belas" karya Pindaros, Athena membantu pahlawan Bellerofon menjinakkan kuda bersayap Pegasus lewat pemberian kekang kuda.[156][157] Dalam drama tragedi karya Aiskhilos, Orestes, Athena campur tangan menyelamatkan Orestes dari murka para Erinyes serta memimpin peradilannya atas pembunuhan ibunya, Klitaimnestra.[158] Tatkala keputusan juri terbelah imbang antara membebaskan dan memidana, Athena memberikan suara penentu untuk membebaskan Orestes[158] serta menetapkan aturan bahwa sejak saat itu, setiap kali suara juri seimbang, terdakwa harus dibebaskan.[159]
Pseudo-Apollodoros juga mencatat bahwa Athena memandu pahlawan Perseus dalam upayanya memenggal Medusa.[160][161][162] Ia bersama Hermes, dewa para pengembara, menampakkan diri kepada Perseus usai pahlawan itu memulai pengembaraannya, lalu membekalinya dengan sarana penumpas sang Gorgon.[162][163] Athena meminjamkan perisai perunggu kilap miliknya agar Perseus dapat melihat bayangan Medusa tanpa tersihir menjadi batu.[162][164] Hermes meminjamkan pedang harpe miliknya untuk memenggal Medusa.[162][165] Saat Perseus mengayunkan bilah senjata tersebut, Athena mengarahkannya hingga kepala sang Gorgon tertebas putus.[162][164]
Dalam seni Yunani Kuno, Athena kerap digambarkan membantu pahlawan Herakles.[166] Sosoknya muncul pada empat dari dua belas metope di Kuil Zeus di Olimpia mengenai Dua Belas Tugas Herakles.[167][166] Pada tugas pertama, ia sekadar mengamati Herakles membunuh Singa Nemea usai memberi petunjuk cara menguliti binatang itu menggunakan cakarnya sendiri;[166] sementara pada tugas kesepuluh, Athena ditampilkan aktif membantunya menopang kubah langit.[168] Menurut Apollodoros, atas saran Athena, Herakles menyeret Alkioneus—satu dari dua Raksasa terkuat selain Porfirion—keluar dari perbatasan tanah kelahirannya (tempat raksasa itu tak dapat mati), lalu memanahnya hingga tewas (bdk. Antaios).[169] Athena dihadirkan sebagai "sekutu yang tegas",[170] sekaligus "sosok lembut ... pengaku pencapaiannya".[170] Penggambaran artistik mengenai apoteosis Herakles memperlihatkan Athena mengendarai kereta perang membawanya ke Gunung Olimpus, lalu mempersembahkannya kepada Zeus demi pengangkatannya sebagai dewa.[168]
Dalam Odisseia, kelicikan serta kecerdikan Odisseus dengan cepat meraih simpati Athena.[171][155] Namun, pada bagian awal wiracarita tersebut, perannya sebagian besar terbatas membantu dari jauh, terutama lewat penanaman pemikiran ke dalam benaknya selama perjalanan pulang dari Troya. Tindakan bimbingannya menegaskan perannya sebagai "pelindung para pahlawan", atau sebagaimana digelarkan oleh pakar mitologi Walter Friedrich Otto, "dewi kedekatan", berkat pengayoman serta perhatian keibuannya.[172][160][173] Athena baru hadir secara pribadi memberikan bantuan nyata sewaktu Odisseus terdampar di pesisir pulau bangsa Faiakes, tempat Nausikaa tengah mencuci pakaian.[174] Sang dewi menampakkan diri dalam mimpi Nausikaa guna memastikan sang putri menyelamatkan Odisseus, sekaligus berperan mengantarnya kembali ke Itaka.[175] Setibanya di sana, Athena menemui Odisseus dalam penyamaran sebagai penggembala;[176][1][171] mulanya ia berbohong bahwa Penelope, istri Odisseus, telah menikah lagi dan Odisseus dianggap sudah tewas,[176] tetapi Odisseus membalas dengan kebohongan mahir demi melindungi dirinya.[177][1] Terkesan atas keteguhan dan kecerdikan tersebut, Athena menyingkap identitasnya lalu membocorkan hal-hal penting demi merebut kembali kerajaannya.[178][1][171] Ia menyamarkan Odisseus sebagai pengemis tua agar tidak dikenali baik oleh para pelamar maupun Penelope,[179][1] serta membantunya menumpas para pelamar tersebut.[179][180][1] Athena juga menemui putra Odisseus, Telemakhos.[181] Bimbingannya mendorong Telemakhos berkelana menemui para kawan seperjuangan Odisseus untuk menanyakan keberadaan sang ayah.[182] Ia mendengar pelbagai kisah mengenai perjalanan Odisseus.[182] Dorongan Athena atas pengembaraan Telemakhos membantunya tumbuh dewasa untuk mengisi peran pria pemegang tampuk kepemimpinan yang dahulu dipegang ayahnya.[183] Sang dewi turut berperan mengakhiri perselisihan yang timbul dengan kerabat para pelamar. Ia memerintahkan Laertes melemparkan tombak hingga menewaskan Eupeithes, ayah Antinous.
Mitos hukuman
Mitos yang dituturkan oleh penyair Helenistik awal abad ketiga SM, Kallimakhos, dalam "Himne 5" miliknya diawali kisah Athena yang tengah mandi di mata air Gunung Helikon pada tengah hari bersama salah satu sahabat kesayangannya, sang nimfa Khariklo.[141][184] Putra Khariklo, Tiresias, kebetulan sedang berburu di gunung tersebut lalu mendatangi mata air demi mencari air minum.[141][184] Tanpa sengaja ia melihat Athena tanpa busana. Sang dewi lantas membutakannya agar ia tidak dapat lagi menyaksikan apa yang tak boleh dilihat oleh manusia.[141][185][186] Khariklo membela putranya dan memohon belas kasih Athena.[141][186][187] Athena menjawab bahwa ia tidak dapat memulihkan penglihatan Tiresias;[141][186][187] sebagai gantinya, ia menganugerahkan kemampuan memahami bahasa burung serta meramal masa depan.[188][187][141]
Mirmeks merupakan seorang gadis Attika yang cerdik dan bersahaja. Ia dengan cepat menjadi sosok kesayangan Athena. Namun, sewaktu Athena menciptakan alat bajak, Mirmeks menemui warga Attika lalu mengeklaim bahwa perkakas itu adalah hasil ciptaannya sendiri. Merasa dikhianati, Athena mengubahnya menjadi serangga kecil yang menyandang namanya, yaitu semut.[189]

Gorgoneion tampaknya bermula sebagai simbol apotropaik penangkal kejahatan.[190] Dalam mitos Romawi belakangan yang diciptakan demi menjelaskan asal-usul sang Gorgon,[191] Medusa digambarkan diperkosa oleh Poseidon di dalam kuil Athena.[192] Usai mengetahui penistaan kuilnya, Athena mengubah Medusa menjadi monster mengerikan berambut ular; tatapan sang monster mampu mengubah setiap manusia fana menjadi batu.[193]
Dalam "Ode Pithia Kedua Belas" miliknya, Pindaros menuturkan kisah tentang Athena menciptakan aulos—sejenis seruling—demi meniru ratapan saudari-saudari Medusa, para Gorgon, usai Medusa dipenggal oleh pahlawan Perseus.[194] Menurut Pindaros, Athena memberikan aulos kepada manusia fana sebagai hadiah.[194] Belakangan, penulis drama komedi Melanippides dari Melos (ca 480–430 SM) memperindah kisah tersebut dalam komedinya, Marsyas.[194] Ia mengeklaim bahwa Athena bercermin saat meniup aulos lalu menyadari pipinya menggembung hingga tampak konyol; sang dewi lantas membuang instrumen tersebut serta mengutuknya agar siapa pun yang memungutnya menemui ajal mengenaskan.[194] Aulos itu dipungut oleh sang satir Marsias, yang kelak dibunuh oleh Apollo akibat kecongkakannya.[194] Versi cerita ini kemudian diterima sebagai bentuk kanonis,[194] lalu pemahat Athena, Myron, menciptakan sekelompok patung perunggu berdasarkan kisah tersebut untuk dipasang di hadapan fasad barat Parthenon sekitar 440 SM.[194]

Fabel tentang Arakhne termuat dalam Metamorphoses (8 M) karya penyair Romawi Ovidius (vi.5–54 dan 129–145);[195][196][197] karya ini menjadi hampir satu-satunya sumber tersisa bagi legenda tersebut.[196][197] Kisah tersebut tampaknya belum dikenal luas sebelum penuturan Ovidius[196] dan satu-satunya rujukan lebih awal adalah alusi singkat dalam Georgics karya Virgilius (29 SM) (iv, 246) tanpa menyebutkan nama Arakhne secara eksplisit.[197] Menurut Ovidius, Arakhne (namanya bermakna laba-laba dalam bahasa Yunani Kuno[198]) adalah putri pencelup Ungu Tirus terkenal di Hipaipa, Lidia, serta murid tenun Athena.[199] Ia begitu congkak atas kemahirannya menenun hingga mulai mengeklaim keahliannya melampaui Athena sendiri dan mengaku tidak perlu berutang budi kepada sang dewi, padahal Athenalah pencipta kerajinan tersebut.[199][200] Athena memberi Arakhne kesempatan untuk bertobat dengan menyamar sebagai wanita tua lalu memperingatkannya agar tidak menyinggung para dewa.[195][200] Arakhne mencemooh dan menantangnya bertanding menenun demi membuktikan kehebatannya.[201][200] Athena menyingkap wujud aslinya, menerima tantangan itu, lalu menenun adegan kemenangannya atas Poseidon dalam perebutan perlindungan atas kota Athena.[201][202][200] Tapestrinya juga menggambarkan 12 dewa Olimpus serta kekalahan tokoh-tokoh mitologis yang menantang kekuasaan mereka.[203] Sebaliknya, tapestri Arakhne menampilkan dua puluh satu adegan skandal asmara para dewa,[201][202][200] termasuk ketidaksetiaan Zeus bersama Leda, Europa, dan Danae.[202] Karya tersebut mencerminkan perilaku culas dan memalukan dari para dewa terhadap manusia fana.[203] Athena mengakui bahwa hasil tenunan Arakhne tanpa cela,[201][200][202] tetapi murka atas pilihan subjeknya.[201][200][202] Hilang kesabaran, Athena menghancurkan tapestri dan alat tenun Arakhne dengan memukulnya menggunakan teropong tenun.[201][200][202] Athena kemudian memukul wajah Arakhne dengan tongkatnya sebanyak empat kali.[201][200][202] Arakhne lalu menggantung dirinya karena putus asa.[201][200][202] Namun, Athena lalu merasa iba dan menghidupkannya kembali dalam wujud seekor laba-laba.[201][200][202]
Pada versi yang lebih langka, sebagaimana terawat dalam skholion dari seorang skholiast anonim atas karya Nikandros—pujangga yang sangat memengaruhi Ovidius—Arakhne justru dikisahkan bermukim di Attika serta memiliki saudara laki-laki bernama Falanks. Athena mengajari Arakhne seni menenun dan Falanks seni berperang. Namun, sewaktu kakak-beradik tersebut berbaring bersama di ranjang, Athena merasa begitu jijik hingga mengubah keduanya menjadi laba-laba—hewan yang selamanya ditakdirkan dimangsa oleh anak-anak mereka sendiri.[204]
Menurut Buku VIII (236–259) Metamorphoses karya Ovidius, Daidalos sangat bangga akan pencapaiannya sebagai penemu hingga tidak sanggup menoleransi keberadaan seorang saingan. Saudari perempuannya mempercayakan sang putra, Perdiks, kepadanya untuk diajari seni mekanika. Sewaktu berjalan di tepi pantai, Perdiks memungut tulang belakang ikan atau rahang ular. Sembari meniru bentuk tersebut, ia mengambil sepotong besi lalu membuat gerigi pada tepinya, hingga berhasil menciptakan gergaji. Daidalos begitu cemburu atas pencapaian keponakannya hingga memanfaatkan kesempatan sewaktu mereka berada di puncak menara tinggi untuk mendorongnya jatuh. Akan tetapi, Athena yang menyukai kecerdikan melihat jatuhnya Perdiks lalu menyelamatkan nyawanya dengan mengubah wujud anak itu menjadi burung bernama sama, yaitu perdix (burung perdiks). Burung ini tidak membuat sarang di pepohonan ataupun terbang tinggi, melainkan bersarang di semak-semak, serta senantiasa menghindari tempat tinggi karena teringat akan peristiwa kejatuhannya. Atas kejahatan ini, Daidalos diadili lalu diasingkan. Dalam beberapa catatan, sang dewi meninggalkan bekas luka berbentuk burung perdiks pada tubuh Daidalos guna selalu mengingatkannya atas kejahatan tersebut.
Perang Troya

| Perang Troya |
|---|
| Perang |
|
Medan: Kurun waktu: Pertanggalan tradisional: Pertanggalan modern: Hasil: Kesejarahan Ilias |
| Sumber sastrawi |
Perang Troya dalam budaya populer |
| Babak |
| Pihak Yunani dan sekutunya |
Katalog Kapal |
| Pihak Troya dan sekutunya |
Gugus tempur Troya |
| Dewa-dewi yang terlibat |
|
Memicu perang: Memihak Yunani: Memihak Troya: |
| Topik terkait |
Mitos Keputusan Paris disinggung sekilas dalam Iliad, tetapi diulas secara mendalam pada ikhtisar Kypria—puisi yang hilang dari Siklus Epik. Ikhtisar ini mencatat bahwa seluruh dewa-dewi beserta sejumlah manusia fana diundang ke pesta pernikahan Peleus dan Tetis (calon orang tua Akhilles). Hanya Eris, sang dewi perselisihan, tidak mendapat undangan. Merasa jengkel atas perlakuan tersebut, ia hadir membawa apel emas bertuliskan kata καλλίστῃ (kallistēi, "untuk yang tercantik"), lalu melemparkannya ke tengah-tengah para dewi. Afrodit, Hera, dan Athena sama-sama mengeklaim diri mereka paling jelita, sehingga merasa paling berhak memiliki apel tersebut. Para dewi memutuskan membawa perkara ini kepada Zeus. Enggan memihak salah satu dari mereka, Zeus menyerahkan keputusan ke tangan Paris, seorang pangeran Troya. Usai mandi di mata air Gunung Ida kawasan Troya, ketiga dewi menghadap Paris guna meminta keputusannya. Dalam penggambaran kuno Keputusan Paris yang masih tersisa, Afrodit hanya sesekali ditampilkan tanpa busana, sementara Athena dan Hera senantiasa berpakaian lengkap. Namun, sejak era Renaisans, lukisan-lukisan Barat umumnya menggambarkan ketiga dewi tersebut sepenuhnya telanjang. Ketiganya tampil begitu memesona hingga Paris kesulitan menentukan pilihan; akibatnya, mereka berupaya menyuapnya. Hera mencoba menyuap Paris dengan kekuasaan atas seluruh Asia dan Eropa, sedangkan Athena menawarkan kemasyhuran serta kejayaan tempur. Namun, Afrodit berjanji akan menjodohkannya dengan wanita paling jelita di bumi jika Paris memilihnya sebagai yang tercantik. Wanita tersebut adalah Helena, kala itu telah menjadi suami bagi Raja Menelaos dari Sparta. Paris akhirnya memilih Afrodit dan menyerahkan apel tersebut kepadanya. Dua dewi lainnya murka, hingga sebagai dampaknya, mereka memihak bangsa Yunani dalam Perang Troya.

Pada Buku V–VI Iliad, Athena membantu pahlawan Diomedes. Tanpa kehadiran Akhilles, Diomedes membuktikan dirinya sebagai prajurit Yunani paling tangguh.[205][155] Sejumlah penggambaran seni dari awal abad keenam SM diduga menampilkan Athena dan Diomedes;[205] di antaranya ukiran pita perisai yang melukiskan Athena bersama prajurit anonim di atas kereta perang, lukisan vas sosok prajurit beserta kusirnya saat menghadap Athena, serta plakat tanah liat berinskripsi yang memperlihatkan Diomedes dan Athena mengendarai kereta perang.[205] Pelbagai bagian dalam Iliad juga menyebutkan bahwa Athena sebelumnya merupakan pelindung ayah Diomedes, Tydeus.[206][207] Sewaktu warga Troya mendatangi kuilnya di Akropolis demi memohon perlindungan dari amukan Diomedes, Athena mengabaikan mereka.[63] Belakangan, saat Zeus mengizinkan para dewa bertempur, Ares—sekutu bangsa Troya—menyerang Athena, tetapi sang dewi melumpuhkannya lewat hantaman batu besar.[208]
Pada Buku XXII Iliad, sewaktu Akhilles mengejar Hektor mengelilingi tembok Troya, Athena menampakkan diri di hadapan Hektor dalam penyamaran sebagai saudaranya, Deifobos.[209] Ia membujuk Hektor bertahan agar mereka dapat melawan Akhilles bersama-sama.[209] Hektor lantas melemparkan tombaknya ke arah Akhilles tetapi meleset; ia berharap Deifobos menyodorkan tombak pengganti.[210] Namun, Athena justru menghilang dan meninggalkan Hektor seorang diri tanpa senjata berhadapan dengan Akhilles.[210] Dalam drama tragedi karya Sofokles, Aias, sang dewi menghukum saingan Odisseus, Aias yang Agung, dengan membuatnya gila hingga membantai ternak bangsa Akhaia karena mengira hewan-hewan itu adalah prajurit Akhaia sendiri.[211] Bahkan usai Odisseus sendiri menaruh iba pada Aias,[212] Athena menegaskan, "Mencemooh musuhmu—gelak tawa mana lagi yang lebih manis dari itu?" (baris 78–79).[212] Akibat rasa malu atas peristiwa tersebut, Aias kelak mengakhiri hidupnya sendiri.[212]
Seni klasik
Athena sering muncul dalam karya seni Yunani Klasik, seperti pada koin atau lukisan keramik.[213][214] Sosoknya sangat menonjol pada karya-karya yang dihasilkan di Athena.[213] Dalam penggambaran klasik, Athena lazimnya dilukiskan berdiri tegak mengenakan kiton panjang.[215] Ia paling sering ditampilkan berbusana zirah layaknya prajurit pria[214][215][7] serta mengenakan helm Korinthos terangkat tinggi di dahi.[216][7][214] Bagian tengah perisainya memuat aigis berhiaskan kepala sang gorgon (gorgoneion) di pusatnya dan jajaran ular di sekeliling tepi.[191] Terkadang ia ditampilkan mengenakan aigis sebagai jubah.[214] Sebagai Athena Promakhos, sang dewi digambarkan mengacungkan tombak.[213][7][214] Momen yang kerap menampilkan sosoknya meliputi kelahirannya dari kepala Zeus, pertempurannya melawan para Raksasa, kelahiran Erikhtonios, serta Keputusan Paris.[213]
Athena Berduka atau Athena Merenung merupakan patung relief tersohor dari kurun ca 470–460 SM[216][213] yang ditafsirkan mewakili Athena Polias.[216] Penggambaran klasik Athena paling terkenal adalah Athena Parthenos—patung emas dan gading setinggi 115 m (377 ft)[217] karya pemahat Athena, Feidias, yang ditempatkan di Parthenon tetapi kini telah musnah.[215][213] Pelbagai salinannya menyingkap bahwa patung ini menggambarkan Athena memegang perisai di tangan kiri, sementara Nike—dewi kemenangan bersayap—berdiri di tangan kanannya.[213] Sosok Athena Polias juga dihadirkan dalam relief Neo-Attika koleksi Museum Seni Rupa Virginia,[216] memperlihatkan sang dewi menggenggam burung hantu di tangan[i] serta mengenakan helm Korinthos khasnya sembari menyandarkan perisai pada sebuah herma.[216] Dewi Romawi Minerva mengadopsi sebagian besar keterkaitan ikonografis Yunani milik Athena,[218] tetapi turut diintegrasikan ke dalam Trias Kapitolina.[218]
- Wadah exaleiptron figur hitam Attika menggambarkan kelahiran Athena dari kepala Zeus (ca 570–560 SM) karya Pelukis C[213]
- Cawan kylix figur merah Attika menampilkan Athena Promakhos memegang tombak di samping pilar Doria (ca 500–490 SM)
- Cawan kylix figur merah Attika memperlihatkan Athena membunuh Raksasa Enkelados (ca 550–500 SM). Dalam mitosnya, ia menindih Enkelados di bawah Pulau Sisilia.
- Relief Athena dan Nike membunuh Raksasa Alkioneus (?) dari Friese Gigantomakhia pada Altar Pergamon (awal abad kedua SM)
- Adegan mitologis menampilkan Athena (kiri) dan Herakles (kanan) pada palet batu seni Yunani-Buddha dari Gandhara, India
- Rekonstruksi dekorasi polikrom patung Athena dari Kuil Afaia di Aigina, ca 490 SM (dari pameran Bunte Götter oleh Glyptothek München)
- Mosaik klasik dari vila di Tusculum, abad ke-3 Masehi, kini disimpan di Museo Pio-Clementino, Vatikan
- Athena (abad ke-2 SM) dalam seni Gandhara, dipajang di Museum Lahore, Pakistan
- Athena Alkidemos, yaitu "Athena, pelindung rakyat", pada koin Ptolemaios I Soter atas nama Aleksander Agung; ditempa ca 310–305 SM
- Potret Athena karya Eukleidas pada koin tetradrakhma dari Sirakusa, Sisilia, ca 400 SM
- Athena Farnese, salinan Romawi dari karya asli Yunani lingkaran Feidias, ca 430 SM, Museo Archeologico, Napoli
Kebudayaan pascaklasik
Seni dan simbolisme

Para penulis Kristen awal, seperti Klemens dari Aleksandria dan Firmicus, mencela Athena sebagai perwakilan dari segala hal yang menjijikkan tentang paganisme;[220] mereka mengecamnya sebagai sosok "tak tahu malu dan amoral".[221] Kendati demikian, sepanjang Abad Pertengahan, pelbagai atribut Athena justru dialihkan kepada Perawan Maria, ibu Yesus,[221] yang dalam penggambaran abad keempat kerap dilukiskan mengenakan gorgoneion.[221] Sebagian kalangan bahkan memandang Perawan Maria sebagai perawan pejuang layaknya Athena Parthenos;[221] sebuah anekdot menuturkan bahwa Perawan Maria pernah menampakkan diri di atas benteng Konstantinopel sewaktu kota itu dikepung oleh bangsa Avar, menggenggam tombak seraya mengobarkan semangat rakyat untuk bertempur.[222] Pada Abad Pertengahan, Athena banyak dimanfaatkan sebagai simbol serta alegori Kristen, bahkan hadir pada lambang keluarga sejumlah trah bangsawan.[223]
Memasuki era Renaisans, Athena menyandang peran sebagai pelindung kesenian dan ikhtiar manusia;[224] lukisan-lukisan alegoris yang melibatkan Athena menjadi kegemaran para pelukis Renaisans Italia.[224] Dalam lukisan karya Sandro Botticelli, Pallas dan Kentaur, yang diperkirakan dibuat sekitar dekade 1480-an, Athena merupakan personifikasi kesucian diri; ia digambarkan memegang jambul sesosok kentaur yang mewakili hawa nafsu.[225][226] Lukisan tahun 1502 karya Andrea Mantegna, Minerva Mengusir Keburukan dari Taman Kebajikan, menghadirkan Athena sebagai pengejawantahan keilmuan Yunani-Romawi yang mengusir keburukan abad pertengahan dari taman cendekia modern.[227][226][228] Athena juga dijadikan pengejawantahan kearifan dalam lukisan tahun 1591 karya Bartholomeus Spranger, Kemenangan Kearifan atau Minerva Unggul atas Kebebalan.[218]
Sepanjang abad keenam belas dan ketujuh belas, Athena dimanfaatkan sebagai simbol bagi para penguasa wanita.[229] Lewat bukunya, A Revelation of the True Minerva (1582), Thomas Blennerhassett menggambarkan Ratu Elizabeth I dari Inggris sebagai "Minerva baru" sekaligus "dewi terbesar di bumi saat ini".[230] Serangkaian lukisan karya Peter Paul Rubens menampilkan Athena sebagai pelindung sekaligus mentor Marie de' Medici;[231] lukisan final dari seri tersebut bahkan melangkah lebih jauh dengan melukiskan Marie de' Medici bersama ikonografi Athena, selaku penjelmaan fana sang dewi sendiri.[231] Pemahat Flandria, Jean-Pierre-Antoine Tassaert (Jan Peter Anton Tassaert), belakangan menampilkan Permaisuri Yekaterina yang Agung dari Rusia sebagai Athena pada sebuah patung dada pualam pada 1774.[218] Sewaktu Revolusi Prancis berkecamuk, patung dewa-dewi pagan dirobohkan di seluruh penjuru Prancis, tetapi patung-patung Athena luput dari penghancuran.[231] Athena justru dialihwujudkan menjadi personifikasi kebebasan serta republik,[231] dan patung sang dewi berdiri tegak di tengah Place de la Révolution di Paris.[231] Pada tahun-tahun pascarevolusi, penggambaran artistik atas Athena semakin marak.[232]
Patung Athena berdiri tepat di hadapan Gedung Parlemen Austria di Wina,[233] sementara penggambaran sang dewi turut memengaruhi lambang kebebasan Barat lainnya, termasuk Patung Liberty dan Britannia.[233] Selama lebih dari satu abad, replika Parthenon berukuran penuh telah berdiri di Nashville, Tennessee.[234] Pada 1990, kurator museum menambahkan replika Athena Parthenos karya Feidias setinggi 12,5 m (42 kaki) yang dibalut emas dan dibangun berbahan beton serta serat kaca.[234] Stempel Agung California memuat gambar Athena berlutut di samping seekor beruang grizzly cokelat.[235] Athena sesekali muncul pada koin modern, sebagaimana sosoknya dahulu menghiasi koin drakhma Athena kuno. Rupa kepalanya terukir pada koin peringatan Panama-Pasifik $50 keluaran 1915-S.[236]
- Mosaik Minerva Kedamaian di Perpustakaan Kongres
- Minerva Melindungi Kedamaian dari Mars (1629) karya Peter Paul Rubens
- Pallas dan Kentaur (ca 1482) karya Sandro Botticelli
- Minerva Unggul atas Kebebalan (ca 1591) karya Bartholomeus Spranger
- Maria de Medici (1622) karya Peter Paul Rubens, menampilkannya sebagai penjelmaan Athena[231]
- Prometheus mengamati Athena menganugerahi akal budi pada patung tanah liat ciptaannya (lukisan karya Christian Griepenkerl, 1877).
- Athena Menampik Cumbu Rayu Hefaistos (ca 1555–1560) karya Paris Bordone
- Minerva Bertarung Melawan Mars (1771) karya Jacques-Louis David
- Pertarungan Mars dan Minerva (1771) karya Joseph-Benoît Suvée
- Minerva Menyingkap Ittaka kepada Odisseus (abad kelima belas) karya Giuseppe Bottani
- Athena pada Stempel Agung California
Interpretasi modern

Salah satu benda paling berharga milik Sigmund Freud adalah patung perunggu kecil Athena di meja kerjanya.[238] Freud pernah menggambarkan Athena sebagai "sosok wanita tak terjangkau penolak segala hasrat seksual – lantaran menampilkan organ intim sang Ibu yang menakutkan".[239] Pandangan feminis terhadap Athena terbelah tajam;[239] sebagian menganggapnya "pengkhianat patriarkal sejati ... yang menggunakan kekuatannya demi menyokong serta memajukan pria alih-alih sesama wanita",[239] sedangkan sebagian lagi memandangnya sebagai simbol pemberdayaan perempuan.[239] Dalam Wicca kontemporer, Athena dipuja sebagai wujud Sang Dewi,[240] dan sejumlah penganut Wicca meyakini sang dewi dapat menganugerahkan "Karunia Burung Hantu" ("kemampuan menulis dan berkomunikasi secara jelas") kepada para pemujanya.[240] Sebagai satu dari dua belas dewa Olimpus, Athena merupakan dewi utama dalam Hellenismos,[241] yakni agama Neopagan yang berupaya menghidupkan serta merekonstruksi kembali keagamaan Yunani Kuno secara otentik pada era modern.[242]
Athena merupakan pelindung alami bagi perguruan tinggi: Di Bryn Mawr College, Pennsylvania, patung Athena (replika dari patung perunggu asli di perpustakaan seni dan arkeologi) bertempat di Great Hall.[243] Menjelang musim ujian, sudah menjadi tradisi bagi para mahasiswa untuk meninggalkan persembahan bagi sang dewi disertai catatan permohonan kelancaran,[243] atau sebagai bentuk penyesalan akibat tak sengaja melanggar salah satu dari sekian banyak tradisi kampus.[243] Pallas Athena menjadi dewi pelindung persaudaraan mahasiswa internasional Phi Delta Theta,[244] dan burung hantunya turut dijadikan simbol persaudaraan tersebut.[244]
Silsilah
| Silsilah Athena | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Catatan
- ↑ Dalam tradisi lain, ayah Athena terkadang dicatat sebagai Pallas, Brontes, atau Itonos. Poseidon juga terkadang dicatat sebagai ayahnya, dari nimfa Tritonis. Herodotos 4.180, Pausanias 1.14.6
- ↑ /əˈθiːnə/; Yunani Attika: Ἀθηνᾶ, Athēnâ, atau Ἀθηναία, Athēnaía; Epik: Ἀθηναίη, Athēnaíē; Doria: Ἀθάνα, Athā́nā
- ↑ /əˈθiːniː/; Ionia: Ἀθήνη, Athḗnē
- ↑ /ˈpæləs/; Παλλάς Pallás
- ↑ "Warga memiliki seorang dewi sebagai pendiri kota mereka; dalam bahasa Mesir ia dipanggil Neith dan ditegaskan sebagai sosok yang oleh orang Hellenis disebut Athena; mereka sangat mencintai orang-orang Athena, dan mengatakan bahwa mereka dalam beberapa hal memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka." (Timaios 21e.)
- ↑ Aiskhilos, Eumenides, v. 292 f. Bdk. tradisi bahwa ia adalah putri Neilos: lihat, msl. Klemens dari Aleksandria Protr. 2.28.2; Sisero, De Natura Deorum 3.59.
- ↑ "Tempat suci ini telah dihormati sejak masa-masa awal oleh seluruh warga Peloponesos, serta memberikan perlindungan istimewa bagi para pemohonnya" (Pausanias, Pemerian Yunani iii.5.6)
- ↑ Karakterisasi terkenal oleh Jane Ellen Harrison mengenai elemen mitos ini sebagai "upaya teologis nekad untuk membebaskan Kore lahir-bumi dari kondisi matriarkalnya" (Harrison 1922:302) tidak pernah dibantah atau dikonfirmasi.
- ↑ Peran burung hantu sebagai simbol kearifan bermula dari hubungannya dengan Athena.
- ↑ Menurut Homerus, Iliad 1.570–579, 14.338, dan Odisseia 8.312, Hefaistos tampaknya merupakan putra Hera dan Zeus, lihat Gantz, hlm. 74.
- ↑ Menurut Hesiodos, Theogonia 927–929, Hefaistos dilahirkan oleh Hera seorang diri tanpa memiliki ayah, lihat Gantz, hlm. 74.
- ↑ Menurut Hesiodos, Theogonia 183–200, Afrodit terlahir dari kemaluan Uranus yang terpotong, lihat Gantz, hlm. 99–100.
- ↑ Menurut Homerus, Afrodit merupakan putri Zeus (Iliad 3.374, 20.105; Odisseia 8.308, 320) dan Dione (Iliad 5.370–71), lihat Gantz, hlm. 99–100.
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 Burkert 1985, hlm. 142.
- ↑ Merriam-Webster's Encyclopedia of Literature. Merriam-Webster. 1995. hlm. 81. ISBN 9780877790426.
- 1 2 Deacy & Villing 2001.
- 1 2 3 4 5 6 7 Burkert 1985, hlm. 139.
- 1 2 Ovid. Metamorphoses. hlm. 2.569–88 – via perseus.tufts.edu.
- 1 2 Sax 2003, hlm. 45–46.
- 1 2 3 4 5 Powell 2012, hlm. 230.
- 1 2 3 4 5 Ruck & Staples 1994, hlm. 24.
- ↑ Beekes 2009, hlm. 29.
- ↑ Johrens 1981, hlm. 438–452.
- 1 2 3 4 Hurwit 1999, hlm. 14.
- 1 2 Nilsson 1967, hlm. 347, 433.
- 1 2 3 4 5 6 Burkert 1985, hlm. 140.
- ↑ Puhvel 1987, hlm. 133.
- ↑ Kinsley 1989, hlm. 141–142.
- 1 2 3 Ventris & Chadwick 1973, hlm. 126.
- ↑ Chadwick 1976, hlm. 88–89.
- ↑ Palaima 2004, hlm. 444.
- ↑ Burkert 1985, hlm. 44.
- ↑ Prasasti KO Za 1, baris 1.
- 1 2 3 Best 1989, hlm. 30.
- ↑ Mylonas 1966, hlm. 159.
- ↑ Hurwit 1999, hlm. 13–14.
- ↑ Fururmark 1978, hlm. 672.
- 1 2 Nilsson 1950, hlm. 496.
- ↑ Harrison 1922:306. Cfr. ibid., p. 307, fig. 84: "Detail of a cup in the Faina collection" [Detail sebuah cangkir dalam koleksi Faina]. Diarsipkan dari asli tanggal 5 November 2004. Diakses tanggal 6 Mei 2007.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link). - ↑ Wolkstein & Kramer 1983, hlm. 92, 193.
- ↑ Puhvel 1987, hlm. 133–134.
- ↑ Mallory & Adams 2006, hlm. 433.
- 1 2 Penglase 1994, hlm. 235.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 20–21, 41.
- ↑ Penglase 1994, hlm. 233–325.
- ↑ Bdk. juga Herodotos, Historia 2:170–175.
- ↑ Bernal 1987, hlm. 21, 51 ff.
- ↑ Fritze 2009, hlm. 221–229.
- ↑ Berlinerblau 1999, hlm. 93ff.
- ↑ Fritze 2009, hlm. 221–255.
- ↑ Jasanoff & Nussbaum 1996, hlm. 194.
- ↑ Fritze 2009, hlm. 250–255.
- 1 2 3 4 Janson, Horst Woldemar; Janson, Anthony F. (2004). Touborg, Sarah; Moore, Julia; Oppenheimer, Margaret; Castro, Anita (ed.). History of Art: The Western Tradition. Vol. 1 (Edisi revisi ke-6). Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Education. hlm. 111, 160. ISBN 0-13-182622-0.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Schmitt 2000, hlm. 1059–1073.
- 1 2 3 4 5 6 7 Hurwit 1999, hlm. 15.
- 1 2 3 Hubbard 1986, hlm. 28.
- ↑ Bell 1993, hlm. 13.
- ↑ Pausanias, i. 5. § 3; 41. § 6.
- ↑ Yohanes Tzetzes, ad Lycophr., l.c..
- ↑ Schaus & Wenn 2007, hlm. 30.
- ↑ "Pausanias, Description of Greece, 2.34.8". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juni 2021. Diakses tanggal 20 Februari 2021.
- ↑ "Pausanias, Description of Greece, 2.34.9". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Juni 2021. Diakses tanggal 20 Februari 2021.
- ↑ "Life of Pericles 13,8". Plutarch, Parallel Lives. uchicago.edu. 1916. The Parallel Lives by Plutarch published in Vol. III of the Loeb Classical Library edition, 1916
- ↑ A Dictionary of Greek and Roman biography and mythology, Mechaneus
- ↑ Lesley A. Beaumont (2013). Childhood in Ancient Athens: Iconography and Social History. Routledge. hlm. 69. ISBN 978-0415248747.
- ↑ Chantraine, s.v.; New Pauly menyatakan etimologinya tidak diketahui
- ↑ New Pauly s.v. Pallas
- 1 2 Graves 1960, hlm. 50–55.
- 1 2 Graves 1960, hlm. 50.
- 1 2 3 4 5 Kerényi 1951, hlm. 120.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 51.
- ↑ Powell 2012, hlm. 231.
- ↑ Kerényi 1951, hlm. 120-121.
- ↑ Kerényi 1951, hlm. 121.
- 1 2 3 4 5 Deacy 2008, hlm. 68.
- 1 2 Deacy 2008, hlm. 68–69.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 71.
- ↑ γλαυκῶπις in Liddell and Scott.
- ↑ γλαυκός in Liddell and Scott.
- ↑ ὤψ in Liddell and Scott.
- ↑ Thompson, D'Arcy Wentworth (1895). A glossary of Greek birds. Oxford, Clarendon Press. hlm. 45.
- ↑ γλαύξ in Liddell and Scott.
- 1 2 Nilsson 1950, hlm. 491–496.
- 1 2 Graves 1960, hlm. 55.
- ↑ Kerényi 1951, hlm. 128.
- ↑ Τριτογένεια in Liddell and Scott.
- ↑ Hesiodos, Theogonia II, 886–900.
- 1 2 Janda 2005, hlm. 289-298.
- 1 2 3 Janda 2005, hlm. 293.
- ↑ Homeros, Iliad XV, 187–195.
- ↑ "Diogenes Laertius, Lives of Eminent Philosophers, BOOK IX, Chapter 7. DEMOCRITUS(? 460-357 B.C.)".
- ↑ Herrington 1955, hlm. 11–15.
- ↑ Simon 1983, hlm. 46.
- 1 2 Simon 1983, hlm. 46–49.
- 1 2 3 Herrington 1955, hlm. 1–11.
- ↑ Burkert 1985, hlm. 305–337.
- 1 2 3 Herrington 1955, hlm. 11–14.
- 1 2 3 4 Darmon 1992, hlm. 114–115.
- 1 2 Hansen 2004, hlm. 123–124.
- 1 2 Robertson 1992, hlm. 90–109.
- ↑ Hurwit 1999, hlm. 18.
- 1 2 3 4 5 Burkert 1985, hlm. 143.
- ↑ Goldhill 1986, hlm. 121.
- 1 2 3 4 Garland 2008, hlm. 217.
- ↑ Hansen 2004, hlm. 123.
- ↑ Goldhill 1986, hlm. 31.
- 1 2 3 4 5 Kerényi 1952.
- ↑ "Marinus of Samaria, The Life of Proclus or Concerning Happiness" [Marinus dari Samaria, Riwayat Hidup Proklus atau Tentang Kebahagiaan]. tertullian.org. 1925. hlm. 15–55. Translated by Kenneth S. Guthrie (Para:30)
- ↑ Apollodorus dari Athena 2016, hlm. 224. sfn error: tanpa target: CITEREFApollodorus_dari_Athena2016 (bantuan)
- ↑ Pilafidis-Williams 1998.
- ↑ Jost 1996, hlm. 134–135.
- ↑ Pausanias, Pemerian Yunani viii.4.8.
- 1 2 3 4 5 6 Deacy 2008, hlm. 127.
- 1 2 Burn 2004, hlm. 10.
- 1 2 Burn 2004, hlm. 11.
- ↑ Burn 2004, hlm. 10–11.
- ↑ Pausanias, Pemerian Yunani 3.24.5
- ↑ Manheim, Ralph (1963). Prometheus: Archetypal Image of Human Existence [Prometheus: Citra Arketipal Eksistensi Manusia] (dalam bahasa English). Princeton University Press. hlm. 56. ISBN 9780691019079.
{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggalPemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ Farnell, Lewis Richard (1921). Greek Hero Cults and Ideas of Immortality: The Gifford Lectures Delivered in the University of St. Andrews in the Year 1920 [Kultus Pahlawan Yunani dan Gagasan tentang Keabadian: Kuliah Gifford yang Disampaikan di Universitas St. Andrews pada Tahun 1920] (dalam bahasa Inggris). Clarendon Press. hlm. 199. ISBN 978-0-19-814292-8.
{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal - ↑ Dictionary of Greek and Roman Geography (1854), Cyrrhus
- ↑ Kerényi 1951, hlm. 118–120.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 17–32.
- 1 2 Penglase 1994, hlm. 230–231.
- ↑ Kerényi 1951, hlm. 118–122.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 17–19.
- ↑ Hansen 2004, hlm. 121–123.
- ↑ Iliad Buku V, baris 880
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Deacy 2008, hlm. 18.
- 1 2 3 4 Hesiodos, Theogonia 885–900 Diarsipkan 24 Februari 2021 di Wayback Machine., 929e-929t Diarsipkan 28 October 2021 di Wayback Machine.
- 1 2 Kerényi 1951, hlm. 118–119.
- 1 2 3 4 5 6 7 Hansen 2004, hlm. 121–122.
- 1 2 Kerényi 1951, hlm. 119.
- 1 2 3 Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 1.3.6 Diarsipkan 24 Februari 2021 di Wayback Machine.
- 1 2 3 4 Hansen 2004, hlm. 122–123.
- ↑ Kerényi 1951, hlm. 119–120.
- ↑ Penglase 1994, hlm. 231.
- ↑ Hansen 2004, hlm. 122–124.
- 1 2 3 Penglase 1994, hlm. 233.
- ↑ Pindaros, "Seventh Olympian Ode Diarsipkan 25 Februari 2021 di Wayback Machine." baris 37–38
- ↑ Yustinus, Apologi 64.5, dikutip dalam Robert McQueen Grant, Gods and the One God, vol. 1:155, yang mengamati bahwa Porfirios-lah "yang serupa mengidentifikasikan Athena dengan 'pemikiran awal'".
- ↑ Gantz, hlm. 51; Yasumura, hlm. 89 Diarsipkan 27 December 2022 di Wayback Machine.; scholia bT untuk Iliad 8.39.
- 1 2 3 4 5 Kerényi 1951, hlm. 281.
- ↑ Kerényi 1951, hlm. 122.
- ↑ Oldenburg 1969, hlm. 86.
- ↑ I. P., Cory, ed. (1832). "The Theology of the Phœnicians from Sanchoniatho". Ancient Fragments. Diterjemahkan oleh Cory. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 September 2010. Diakses tanggal 25 Agustus 2010 – via Internet Sacred Text Archive.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gantz, hlm. 59; Hard 2004, hlm. 82; Homeros, Iliad 1.395–410.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Kerényi 1951, hlm. 124.
- 1 2 3 4 5 6 Graves 1960, hlm. 62.
- ↑ Kinsley 1989, hlm. 143.
- 1 2 3 4 5 6 7 Deacy 2008, hlm. 88.
- ↑ Servius On Virgil's Georgics 1.18; skholion atas Nephelai karya Aristofanes 1005
- ↑ Wunder 1855, hlm. note on verse 703.
- 1 2 3 4 5 6 Kerényi 1951, hlm. 123.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Hansen 2004, hlm. 125.
- 1 2 3 4 5 6 Kerényi 1951, hlm. 125.
- ↑ Kerényi 1951, hlm. 125–126.
- 1 2 Kerényi 1951, hlm. 126.
- ↑ Ovidius, Metamorphoses, X. Aglaura, Buku II, 708–751; XI. The Envy, Buku II, 752–832.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 88–89.
- 1 2 3 4 5 6 Deacy 2008, hlm. 89.
- ↑ Cancik, Hubert; Schneider, Helmuth; Salazar, Christine F.; Orton, David E. (2002). Brill's New Pauly: Encyclopaedia of the Ancient World. Vol. IX. Brill Publications. hlm. 423. ISBN 978-90-04-12272-7.
- ↑ Forbes Irving, Paul M. C. (1990). Metamorphosis in Greek Myths. Clarendon Press. hlm. 278. ISBN 0-19-814730-9.
- ↑ Forbes Irving, Paul M. C. (1990). Metamorphosis in Greek Myths. Clarendon Press. hlm. 278. ISBN 0-19-814730-9.
- 1 2 Homeros, Odisseia 20.66-78
- ↑ Pausanias 10.30.1
- ↑ Deacy 2008, hlm. 62.
- ↑ Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 1.9.16 Diarsipkan 25 Februari 2021 di Wayback Machine.
- 1 2 3 Hansen 2004, hlm. 124.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 48.
- ↑ Pindaros, Ode Olimpia 13.75–78 Diarsipkan 6 Januari 2021 di Wayback Machine.
- 1 2 Roman & Roman 2010, hlm. 161.
- ↑ Roman & Roman 2010, hlm. 161–162.
- 1 2 Burkert 1985, hlm. 141.
- ↑ Kinsley 1989, hlm. 151.
- 1 2 3 4 5 Deacy 2008, hlm. 61.
- ↑ Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 2.37, 38, 39
- 1 2 Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 2.41
- ↑ Pseudo-Apollodoros, Bibliotheke 2.39
- 1 2 3 Deacy 2008, hlm. 64–65.
- ↑ Pollitt 1999, hlm. 48–50.
- 1 2 Deacy 2008, hlm. 65.
- ↑ Antaios, keturunan Gaia lainnya yang menjadi lawan Herakles, tidak dapat mati selama tubuhnya menyentuh bumi. Herakles membunuh Antaios dengan meremukkannya sembari mengangkatnya dari tanah. Bagi Pindaros, pertempuran Herakles melawan Alkioneus (yang ia sebut seorang penggembala) dan Gigantomakhia merupakan dua peristiwa terpisah, lihat: Isthmia 6.30–35, Nemea 4.24–30.
- 1 2 Pollitt 1999, hlm. 50.
- 1 2 3 Jenkyns 2016, hlm. 19.
- ↑ W. F. Otto, Die Gotter Griechenlands (55–77). Bonn: F. Cohen, 1929.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 59.
- ↑ de Jong 2001, hlm. 152.
- ↑ de Jong 2001, hlm. 152–153.
- 1 2 Trahman 1952, hlm. 31–35.
- ↑ Trahman 1952, hlm. 35.
- ↑ Trahman 1952, hlm. 35–43.
- 1 2 Trahman 1952, hlm. 35–42.
- ↑ Jenkyns 2016, hlm. 19–20.
- ↑ Murrin 2007, hlm. 499.
- 1 2 Murrin 2007, hlm. 499–500.
- ↑ Murrin 2007, hlm. 499–514.
- 1 2 Morford & Lenardon 1999, hlm. 315.
- ↑ Morford & Lenardon 1999, hlm. 315–316.
- 1 2 3 Kugelmann 1983, hlm. 73.
- 1 2 3 Morford & Lenardon 1999, hlm. 316.
- ↑ Edmunds 1990, hlm. 373.
- ↑ Servius, Komentar atas Aeneis karya Vergilius 4.402 Diarsipkan 1 Januari 2022 di Wayback Machine.; Smith 1873, s.v. Myrmex Diarsipkan 25 Desember 2022 di Wayback Machine.
- ↑ Phinney 1971, hlm. 445–447.
- 1 2 Phinney 1971, hlm. 445–463.
- ↑ Seelig 2002, hlm. 895.
- ↑ Seelig 2002, hlm. 895-911.
- 1 2 3 4 5 6 7 Poehlmann 2017, hlm. 330.
- 1 2 Powell 2012, hlm. 233–234.
- 1 2 3 Roman & Roman 2010, hlm. 78.
- 1 2 3 Norton 2013, hlm. 166.
- ↑ ἀράχνη, ἀράχνης. Liddell, Henry George; Scott, Robert; A Greek–English Lexicon at the Perseus Project.
- 1 2 Powell 2012, hlm. 233.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Harries 1990, hlm. 64–82.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Powell 2012, hlm. 234.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Leach 1974, hlm. 102–142.
- 1 2 Roman & Roman 2010, hlm. 92.
- ↑ Salzman-Mitchell, Patricia B. (2005). A Web of Fantasies: Gaze, Image, and Gender in Ovid's Metamorphoses [Jalinan Fantasi: Tatapan, Citra, dan Gender dalam Metamorphoses karya Ovidius]. Ohio State University Press. hlm. 228. ISBN 0-8142-0999-8.
- 1 2 3 Burgess 2001, hlm. 84.
- ↑ Iliad 4.390 Diarsipkan 30 November 2021 di Wayback Machine., 5.115–120 Diarsipkan 30 November 2021 di Wayback Machine., 10.284-94 Diarsipkan 30 November 2021 di Wayback Machine.
- ↑ Burgess 2001, hlm. 84–85.
- ↑ Iliad 15.110–128, 20.20–29, 21.391–408.
- 1 2 Deacy 2008, hlm. 69.
- 1 2 Deacy 2008, hlm. 69–70.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 59–60.
- 1 2 3 Deacy 2008, hlm. 60.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aghion, Barbillon & Lissarrague 1996, hlm. 193.
- 1 2 3 4 5 Hansen 2004, hlm. 126.
- 1 2 3 Palagia & Pollitt 1996, hlm. 28-32.
- 1 2 3 4 5 6 Palagia & Pollitt 1996, hlm. 32.
- ↑ Cartwright, Mark (25 Januari 2015). "Athena Parthenos by Phidias" [Athena Parthenos karya Phidias]. World History Encyclopedia. Diakses tanggal 26 Juni 2019.
- 1 2 3 4 Aghion, Barbillon & Lissarrague 1996, hlm. 194.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 145–149.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 141–144.
- 1 2 3 4 Deacy 2008, hlm. 144.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 144–145.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 146–148.
- 1 2 Deacy 2008, hlm. 145–146.
- ↑ Randolph 2002, hlm. 221.
- 1 2 3 Deacy 2008, hlm. 145.
- 1 2 Brown 2007, hlm. 1.
- 1 2 Aghion, Barbillon & Lissarrague 1996, hlm. 193–194.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 147-148.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 147.
- 1 2 3 4 5 6 Deacy 2008, hlm. 148.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 148–149.
- 1 2 Deacy 2008, hlm. 149.
- 1 2 Garland 2008, hlm. 330.
- ↑ "Symbols of the Seal of California" [Simbol-simbol pada Lambang California]. LearnCalifornia.org. Diarsipkan dari asli tanggal 24 November 2010. Diakses tanggal 25 Agustus 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Swiatek & Breen 1981, hlm. 201–202.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 163.
- ↑ Deacy 2008, hlm. 153.
- 1 2 3 4 Deacy 2008, hlm. 154.
- 1 2 Gallagher 2005, hlm. 109.
- ↑ Alexander 2007, hlm. 31–32.
- ↑ Alexander 2007, hlm. 11–20.
- 1 2 3 Friedman 2005, hlm. 121.
- 1 2 "Phi Delta Theta International – Symbols". phideltatheta.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juni 2008. Diakses tanggal 7 Juni 2008.
Bibliografi
Sumber kuno
- Apolodoros, Bibliotheke, 3.180
- Agustinus, De civitate dei xviii.8–9
- Sisero, De natura deorum iii.21.53, 23.59
- Eusebius, Chronicon 30.21–26, 42.11–14
- Homeros, The Iliad with an English Translation by A.T. Murray, PhD in two volumes. Cambridge, Massachusetts., Harvard University Press; London, William Heinemann, Ltd. 1924. Versi daring di Perseus Digital Library Diarsipkan 15 April 2021 di Wayback Machine..
- Homeros, The Odyssey with an English Translation by A.T. Murray, PH.D. in two volumes. Cambridge, Massachusetts., Harvard University Press; London, William Heinemann, Ltd. 1919. Versi daring di Perseus Digital Library Diarsipkan 29 October 2021 di Wayback Machine..
- Hesiodos, Theogonia, dalam The Homeric Hymns and Homerica with an English Translation by Hugh G. Evelyn-White, Cambridge, Massachusetts., Harvard University Press; London, William Heinemann Ltd. 1914. Versi daring di Perseus Digital Library Diarsipkan 17 November 2021 di Wayback Machine..
- Laktantius, Divinae institutiones i.17.12–13, 18.22–23
- Livius, Ab urbe condita libri vii.3.7
- Lukanus, Bellum civile ix.350
Sumber modern
- Aghion, Irène; Barbillon, Claire; Lissarrague, François (1996), "Minerva", Gods and Heroes of Classical Antiquity, Flammarion Infographic Guides, Paris, France and New York City, New York: Flammarion, hlm. 192–194, ISBN 978-2-0801-3580-3
- Alexander, Timothy Jay (2007), The Gods of Reason: An Authentic Theology for Modern Hellenismos (Edisi pertama), Lulu Press, Inc., ISBN 978-1-4303-2763-9
- Apollodorus of Athens (13 Februari 2016). The Library of Apollodorus (Delphi Classics). UK: Delphi Classics. ISBN 9781786563712.
- Beekes, Robert S. P. (2009), Etymological Dictionary of Greek, Leiden and Boston: Brill
- Bell, Robert E. (1993), Women of Classical Mythology: A Biographical Dictionary, Oxford, England: Oxford University Press, ISBN 9780195079777
- Bernal, Martin (1987), Black Athena: The Afroasiatic Roots of Classical Civilization, New Brunswick: Rutgers University Press, hlm. 21, 51 ff
- Berlinerblau, Jacques (1999), Heresy in the University: The Black Athena Controversy and the Responsibilities of American Intellectuals, New Brunswick: Rutgers University Press, hlm. 93ff, ISBN 9780813525884
- Best, Jan (1989), Fred Woudhuizen (ed.), Lost Languages from the Mediterranean, Leiden, Germany et al.: Brill, hlm. 30, ISBN 978-9004089341
- Brown, Jane K. (2007), The Persistence of Allegory: Drama and Neoclassicism from Shakespeare to Wagner, Philadelphia, Pennsylvania: University of Penssylvania Press, ISBN 978-0-8122-3966-9
- Bull, Malcolm (2005), The Mirror of the Gods: How Renaissance Artists Rediscovered the Pagan Gods, Oxford, England: Oxford University Press, ISBN 978-0-19-521923-4
- Burgess, Jonathan S. (2001), The Tradition of the Trojan War in Homer and the Epic Cycle, Baltimore, Maryland: The Johns Hopkins University Press, ISBN 978-0-8018-6652-4
- Burkert, Walter (1985), Greek Religion, Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, ISBN 978-0-674-36281-9
- Burn, Lucilla (2004), Hellenistic Art: From Alexander the Great to Augustus, London, England: The British Museum Press, ISBN 978-0-89236-776-4
- Chadwick, John (1976), The Mycenaean World, Cambridge, England: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-29037-1
- Darmon, Jean-Pierre (1992), Wendy Doniger (ed.), The Powers of War: Athena and Ares in Greek Mythology, diterjemahkan oleh Danielle Beauvais, Chicago, Illinois: University of Chicago Press
- Deacy, Susan; Villing, Alexandra (2001), Athena in the Classical World, Leiden, The Netherlands: Koninklijke Brill NV, ISBN 978-9004121423
- Deacy, Susan (2008), Athena, London and New York: Routledge, ISBN 978-0-415-30066-7
- de Jong, Irene J. F. (2001), A Narratological Commentary on the Odyssey, Cambridge, England: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-46844-2
- Edmunds, Lowell (1990), Approaches to Greek Myth, Baltimore, Maryland: The Johns Hopkins University Press, ISBN 978-0-8018-3864-4
- Friedman, Sarah (2005), Bryn Mawr College Off the Record, College Prowler, ISBN 978-1-59658-018-3
- Fritze, Ronald H. (2009), Invented Knowledge: False History, Fake Science and Pseudo-Religions, London, England: Reaktion Books, ISBN 978-1-86189-430-4
- Fururmark, A. (1978), "The Thera Catastrophe-Consequences for the European Civilization", Thera and the Aegean World I, London, England: Cambridge University Press
- Gantz, Timothy, Early Greek Myth: A Guide to Literary and Artistic Sources, Johns Hopkins University Press, 1996, Two volumes: ISBN 978-0-8018-5360-9 (Vol. 1), ISBN 978-0-8018-5362-3 (Vol. 2).
- Gallagher, Ann-Marie (2005), The Wicca Bible: The Definitive Guide to Magic and the Craft, New York City, New York: Sterling Publishing Co., Inc., ISBN 978-1-4027-3008-5
- Garland, Robert (2008), Ancient Greece: Everyday Life in the Birthplace of Western Civilization, New York City, New York: Sterling, ISBN 978-1-4549-0908-8
- Goldhill, S. (1986), Reading Greek Tragedy (Aesch.Eum.737), Cambridge, England: Cambridge University Press
- Graves, Robert (1960) [1955], The Greek Myths, London, England: Penguin, ISBN 978-0241952740
{{citation}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal - Hansen, William F. (2004), "Athena (also Athenê and Athenaia) (Roman Minerva)", Classical Mythology: A Guide to the Mythical World of the Greeks and Romans, Oxford, England: Oxford University Press, hlm. 121–126, ISBN 978-0-19-530035-2
- Harries, Byron (1990), "The spinner and the poet: Arachne in Ovid's Metamorphoses", The Cambridge Classical Journal, 36, Cambridge, England: Cambridge University Press: 64–82, doi:10.1017/S006867350000523X, ISSN 0068-6735
- Harrison, Jane Ellen, 1903. Prolegomena to the Study of Greek Religion.
- Herrington, C.J. (1955), Athena Parthenos and Athena Polias, Manchester, England: Manchester University Press
- Hubbard, Thomas K. (1986), "Pegasus' Bridle and the Poetics of Pindar's Thirteenth Olympian", dalam Tarrant, R. J. (ed.), Harvard Studies in Classical Philology, vol. 90, Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, ISBN 978-0-674-37937-4
- Hurwit, Jeffrey M. (1999), The Athenian Acropolis: History, Mythology, and Archaeology from the Neolithic Era to the Present, Cambridge, England: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-41786-0
- Janda, Michael (2005), Elysion. Entstehung und Entwicklung der griechischen Religion, Innsbruck: Institut für Sprachen und Literaturen, ISBN 9783851247022
- Jasanoff, Jay H.; Nussbaum, Alan (1996), "Word games: the Linguistic Evidence in Black Athena" (PDF), dalam Mary R. Lefkowitz; Guy MacLean Rogers (ed.), Black Athena Revisited, The University of North Carolina Press, hlm. 194, ISBN 9780807845554, diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 Oktober 2022
- Jenkyns, Richard (2016), Classical Literature: An Epic Journey from Homer to Virgil and Beyond, New York City, New York: Basic Books, A Member of the Perseus Books Group, ISBN 978-0-465-09797-5
- Johrens, Gerhard (1981), Der Athenahymnus des Ailios Aristeides, Bonn, Germany: Habelt, hlm. 438–452, ISBN 9783774918504
- Jost, Madeleine (1996), "Arcadian cults and myths", dalam Hornblower, Simon (ed.), Oxford Classical Dictionary, Oxford, England: Oxford University Press
- Kerényi, Karl (1951), The Gods of the Greeks, London, England: Thames and Hudson, ISBN 978-0-500-27048-6
{{citation}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal - Kerényi, Karl (1952), Die Jungfrau und Mutter der griechischen Religion. Eine Studie uber Pallas Athene, Zurich: Rhein Verlag
- Kinsley, David (1989), The Goddesses' Mirror: Visions of the Divine from East and West, Albany, New York: New York State University Press, ISBN 978-0-88706-836-2
- Kugelmann, Robert (1983), The Windows of Soul: Psychological Physiology of the Human Eye and Primary Glaucoma, Plainsboro, New Jersey: Associated University Presses, ISBN 978-0-8387-5035-3
- Leach, Eleanor Winsor (Januari 1974), "Ekphrasis and the Theme of Artistic Failure in Ovid's Metamorphoses", Ramus, 3 (2), Cambridge, England: Cambridge University Press: 102–142, doi:10.1017/S0048671X00004549, S2CID 29668658
- Mallory, James P.; Adams, Douglas Q. (2006), Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World, London: Oxford University Press, ISBN 978-0-19-929668-2
- Morford, Mark P. O.; Lenardon, Robert J. (1999), Classical Mythology (Edisi sixth), Oxford, England: Oxford University Press, ISBN 978-0-19-514338-6
- Murrin, Michael (Musim semi 2007), "Athena and Telemachus", International Journal of the Classical Tradition, 13 (4), Berlin, Germany: Springer: 499–514, doi:10.1007/BF02923022, JSTOR 30222174, S2CID 170103084
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Mylonas, G. (1966), Mycenae and the Mycenaean Age, Princeton, New Jersey: Princeton University Press, ISBN 978-0691035239
- Nilsson, Martin Persson (1950), The Minoan-Mycenaean Religion and Its Survival in Greek Religion (Edisi second), New York: Biblo & Tannen, ISBN 978-0-8196-0273-2
{{citation}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal - Nilsson, Martin Persson (1967), Die Geschichte der griechischen Religion, München, Germany: C. F. Beck
- Norton, Elizabeth (2013), Aspects of Ecphrastic Technique in Ovid's Metamorphoses, Newcastle upon Tyne, England: Cambridge Scholars Publishing, ISBN 978-1-4438-4271-6
- Oldenburg, Ulf (1969), The Conflict Between El and Ba'al in Canaanite Religion, Leiden, The Netherlands: E. J. Brill
- Palagia, Olga; Pollitt, J. J. (1996), Personal Styles in Greek Sculpture, Cambridge, England: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-65738-9
- Palaima, Thomas (2004), "Appendix One: Linear B Sources", dalam Trzaskoma, Stephen (ed.), Anthology of Classical Myth: Primary Sources in Translation, Hackett
- Penglase, Charles (1994), Greek Myths and Mesopotamia: Parallels and Influence in the Homeric Hymns and Hesiod, New York City, New York: Routledge, ISBN 978-0-415-15706-3
- Phinney, Edward Jr. (1971), "Perseus' Battle with the Gorgons", Transactions and Proceedings of the American Philological Association, 102, Baltimore, Maryland: The Johns Hopkins University Press: 445–463, doi:10.2307/2935950, JSTOR 2935950
- Pilafidis-Williams, K. (1998), The Sanctuary of Aphaia on Aigina in the Bronze Age, Munich, Germany: Hirmer, ISBN 978-3-7774-8010-7
- Poehlmann, Egert (2017), "Aristotle on Music and Theatre (Politics VIII 6. 1340 b 20 - 1342 b 34; Poetics)", dalam Fountoulakis, Andreas; Markantonatos, Andreas; Vasilaros, Georgios (ed.), Theatre World: Critical Perspectives on Greek Tragedy and Comedy. Studies in Honour of Georgia Xanthakis-Karamenos, Berlin, Germany: Walter de Gruyter, ISBN 978-3-11-051896-2
- Pollitt, J. J. (1999) [1972], Art and Experience in Classical Greece (Edisi revised), Cambridge, England: Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-09662-1
- Powell, Barry B. (2012) [2004], "Myths of Aphrodite, Artemis, Athena", Classical Myth (Edisi Seventh), London, England: Pearson, hlm. 211–235, ISBN 978-0-205-17607-6
- Puhvel, Jaan (1987), Comparative Mythology, Baltimore, Maryland: Johns Hopkins University Press, ISBN 978-0-8018-3938-2
- Randolph, Adrian W. B. (2002), Engaging Symbols: Gender, Politics, and Public Art in Fifteenth-century Florence, New Haven, Connecticut: Yale University Press, ISBN 978-0-300-09212-7
- Robertson, Noel (1992), Festivals and Legends: The Formation of Greek Cities in the Light of Public Ritual, Toronto: University of Toronto Press
- Roman, Luke; Roman, Monica (2010), Encyclopedia of Greek and Roman Mythology, New York City, New York: Infobase Publishing, ISBN 978-0-8160-7242-2
- Ruck, Carl A.P.; Staples, Danny (1994), The World of Classical Myth: Gods and Goddesses, Heroines and Heroes, Durham, North Carolina: Carolina Academic Press, ISBN 978-0890895757
- Sax, Boria (4 April 2003). Crow. London, UK: Reaktion Boos LTD. ISBN 1-86189-194-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Schaus, Gerald P.; Wenn, Stephen R. (2007), Onward to the Olympics: Historical Perspectives on the Olympic Games, Publications of the Canadian Institute in Greece, vol. 5, Ontario, Canada: Wilfrid Laurier University Press, ISBN 978-0-88920-505-5
- Schmitt, P. (2000), "Athena Apatouria et la ceinture. Les aspects féminins des apatouries à Athènes", Annales: Economies, Societies, Civilisations, London, England: Thames and Hudson, hlm. 1059–1073
- Seelig, Beth J. (Agustus 2002), "The Rape of Medusa in the Temple of Athena: Aspects of Triangulation in the Girl", The International Journal of Psychoanalysis, 83 (4): 895–911, doi:10.1516/3NLL-UG13-TP2J-927M, PMID 12204171, S2CID 28961886
- Simon, Erika (1983), Festivals of Attica: An Archaeological Commentary, Madison, Wisconsin: The University of Wisconsin Press, ISBN 978-0-299-09184-2
- Swiatek, Anthony; Breen, Walter (1981). The Encyclopedia of United States Silver & Gold Commemorative Coins, 1892 to 1954. New York City, New York: Arco Publishing. ISBN 978-0-668-04765-4.
- Telenius, Seppo Sakari, (2005) 2006. Athena-Artemis (Helsinki: Kirja kerrallaan).
- Trahman, C.R. (1952), "Odysseus' Lies ('Odyssey', Books 13–19)", Phoenix, 6 (2), Classical Association of Canada: 31–43, doi:10.2307/1086270, JSTOR 1086270
- Ventris, Michael; Chadwick, John (1973) [1953], Documents in Mycenaean Greek, Cambridge, England: Cambridge University Press, ISBN 978-1107503410
- Walcot, P. (April 1977), "The Judgement of Paris", Greece & Rome, 24 (1), Cambridge, England: Cambridge University Press: 31–39, doi:10.1017/S0017383500019616, JSTOR 642687, S2CID 162573370
{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Wolkstein, Diane; Kramer, Samuel Noah (1983), Inanna: Queen of Heaven and Earth: Her Stories and Hymns from Sumer, New York City, New York: Harper&Row Publishers, ISBN 978-0-06-090854-6
- Wunder, Eduard (1855). Sophocles' Oedipus rex, Oedipus Colonaeus, Electra, Antigone. Vol. I. London: Williams and Norgate.
Bacaan lanjutan
- Day, Peggy L. (1999), "Anat", dalam Toorn, Karel van der; Becking, Bob; Horst, Pieter Willem van der (ed.), Dictionary of Deities and Demons in the Bible, 2nd ed., Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing, hlm. 36–39
- Servius (1881). In Vergilii carmina comentarii. Servii Grammatici qui feruntur in Vergilii carmina commentarii. Leipzig: B. G. Teubner.
- Yasumura, Noriko (2013), Challenges to the Power of Zeus in Early Greek Poetry, A&C Black, ISBN 9781472519672
Pranala luar
- ATHENA pada Perseus Project
- ATHENA dari The Theoi Project
- ATHENA dari Mythopedia
- The Warburg Institute Iconographic Database (gambar Athena)
Mitologi Yunani (dewa-dewa) | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Dewa awal |
| ||||||||||||
| Titan |
| ||||||||||||
| Dewa Olimpus |
| ||||||||||||
| Dewa laut |
| ||||||||||||
| Dewa dunia bawah |
| ||||||||||||
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Orang | |
| Lain-lain | |