Lakhesis dari mosaik Romawi abad kelima dari Pafos, Siprus.
Lakhesis (bahasa Yunani Kuno:Λάχεσις, Lákhesis, 'pembagi undian'; dari λαγχάνω, lanchánō, 'memperoleh dengan undian, takdir, atau kehendak dewa-dewi'), dalam agama Yunani Kuno, merupakan anak tengah dari Tiga Dewi Takdir, atau Moirai, bersama saudara-saudaranya, Klotho dan Atropos. Biasanya digambarkan mengenakan pakaian putih, Lakhesis adalah pengukur benang yang dipintal pada kumparan Klotho, dan dalam beberapa teks, menentukan Takdir.[1] Padanan Romawinya adalah Desima. Lakhesis membagi-bagikan benang kehidupan, menentukan panjang dari setiap rentang hidup.[2] Ia mengukur benang kehidupan dengan tongkatnya dan juga dikatakan memilih takdir seseorang selama pengukuran tersebut. Mitos-mitos meyakini bahwa ia dan saudara-saudaranya muncul dalam waktu tiga hari setelah kelahiran bayi untuk menentukan nasib anak tersebut.
Menurut Theogonia karya Hesiodos, Lakhesis dan saudara-saudaranya merupakan putri-putri Niks (Malam), meskipun belakangan dalam karya yang sama (ll. 901–906) mereka dikatakan lahir dari Zeus dan Themis.[3] Lakhesis juga disebutkan dalam buku kesepuluh Republik karya Plato sebagai putri dari Ananke (Keniscayaan). Ia memberi petunjuk kepada jiwa-jiwa yang hendak memilih kehidupan mereka berikutnya, membagikan undian kepada mereka, dan menyajikan seluruh jenis kehidupan, baik manusia maupun hewan, yang dapat mereka pilih untuk kehidupan selanjutnya.
Perdebatan asal-usul
Dalam Genealogia Deorum Gentilium, penulis Renaisans Italia Giovanni Boccaccio menulis bahwa Lakhesis merupakan yang kedua dari para Moirai. Klotho, Lakhesis, dan Atropos, sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam bagian mengenai Perdebatan, adalah putri-putri Demogorgon. Namun, Cicero menyebut mereka sebagai Parcae dalam De Natura Deorum, tempat ia menyatakan bahwa mereka adalah putri-putri dari Erebus dan Malam. Meski demikian, tampaknya lebih baik untuk mengikuti Theodontius, yang menegaskan bahwa mereka diciptakan bersamaan dengan tatanan kodrat alam. Di tempat lain, ketika Cicero berbicara tentang Parca dalam bentuk tunggal, ia juga menyebutnya sebagai putri dari Erebus dan Malam. Seneca, dalam surat-suratnya kepada Lucilius, juga menyebut mereka Parcae, dengan mengutip ucapan Kleanthes: "Takdir menuntun mereka yang rela dan menyeret mereka yang enggan." Dalam hal ini, ia menggambarkan tidak hanya tugas mereka—yaitu menuntun semua makhluk hidup—tetapi juga memaksa mereka, seolah-olah segala hal terjadi secara keniscayaan.
Lakhesis adalah sosok yang mengukur benang kehidupan, menentukan berapa lama setiap manusia fana akan hidup.[4]
↑Boccaccio, Giovanni; Solomon, Jon (2011). Genealogy of the Pagan Gods. Volume 1: Books I–V. Cambridge, Mass. London, England: Harvard University Press. hlm.166–167. ISBN9780674057104.
Bacaan lanjutan
Thomas Blisniewski: Kinder der dunkelen Nacht. Die Ikonographie der Parzen vom späten Mittelalter bis zum späten XVIII. Jahrhundert. Dissertation Cologne 1992. Berlin 1992.