Minggu, 20 September 2026
23:13 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Closeted

Bagian dari seri tentang
LGBT
      
lesbiangaybiseksualtransgender
40px-Portal_LGBT.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal LGBT

Closeted (Bahasa Indonesia: bersembunyi; tertutup) dan in the closet (Bahasa Indonesia: bersembunyi dalam lemari) adalah metafora bagi orang LGBTQ yang belum mengungkapkan Identitas gender dan orientasi seksual mereka ke orang lain dan/atau khalayak umum (dikenal pula sebagai melela).

Metafora closeted belum disulih-suarakan, sehingga mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat awam. Oleh sebab itu pula, istilah ini belum memiliki padanan yang umum digunakan dan disepakati bersama di Indonesia. Istilah lain yang lebih umum digunakan dalam budaya kwir Indonesia adalah "tertutup/menutup diri", "berpura-pura", atau "discreet" sebagai lawan dari "terbuka/membuka diri", "menjadi diri sendiri", atau "open" — yang lebih menitikberatkan pada pengelolaan performativitas individu sebagai lesbian, biseksual, gay, transgender, dan kwir di depan publik dan/atau di depan komunitas LGBTQ, dibandingkan dengan istilah "closeted" dan "melela"/"coming out" yang berkenaan dengan pengakuan identitas diri ke khalayak luas.[1]

Sebagian individu LGBTQ memilih untuk tetap closeted dan/atau "hidup dalam kepura-puraan", diantaranya karena perasaan takut atas keamanan dan keselamatan dirinya, memiliki homofobia dan transfobia terinternalisasi, ataupun hidup di lingkungan yang tidak ramah LGBTQ.[2] Menurut penelitian dari Yale School of Public Health, estimasi orang LGBT yang tidak melelakan orientasi seksual mereka adalah sebanyak 83 persen.[3]

Etimologi

D. Travor Scott mengklaim bahwa frasa "coming out of closet" (Bahasa Indonesia: melela dari dalam lemari), bersamaan dengan makna turunannya, yakni "coming out" dan "closeted" memiliki asal muasal dari dua metafor yang berbeda. "Coming out" mulanya merupakan istilah yang digunakan pada abad ke-20 untuk memperkenalkan perempuan muda dari kalangan kelas atas yang telah mencapai usia kedewasaan ke masyarakat umum secara resmi dalam acara debutante. Selain itu, di masa lampau, kata "closet" memiliki makna "kamar tidur", yang memetaforakan persembunyian seksualitas seseorang yang tidak boleh ditampilkan di luar kamar. Kemudian di tahun 1960-an, idiom "skeleton in the closet" (Bahasa Indonesia: tengkorak di lemari) digunakan untuk menyebut rahasia yang disembunyikan karena tabu dan stigma sosial, serta digunakan pula untuk menyebut identitas gender dan seksual seseorang yang tidak ingin disingkapkan. Sehingga, mengungkap identitas LGBTQ+ seseorang yang sebelumnya disembunyikan atau dirahasiakan sama saja dengan mengeluarkan si tengkorak (the skeleton) dari dalam lemari (to come out of the closet).[4]

Catatan kaki

  1. Boellstorff, Tom (2009). The gay archipelago: seksualitas dan bangsa di Indonesia. s.l.: Q-Munity. ISBN 978-602-95248-0-2.
  2. "First, Do No Harm: Reducing Disparities for Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer and Questioning Populations in California" (PDF). California Pan-Ethnic Health Network. Diakses tanggal 18 Maret 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. Pachankis, John E.; Bränström, Richard (13 Juni 2019). "How many sexual minorities are hidden? Projecting the size of the global closet with implications for policy and public health". PLOS ONE. 14 (6): e0218084. Bibcode:2019PLoSO..1418084P. doi:10.1371/journal.pone.0218084. PMC 6564426. PMID 31194801.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  4. Scott, D. Travers (2018-07-03). "'Coming out of the closet' – examining a metaphor". Annals of the International Communication Association. 42 (3): 145–154. doi:10.1080/23808985.2018.1474374. ISSN 2380-8985. S2CID 149561937.
Identitas gender
Seks ketiga /
Gender ketiga
Identitas orientasi seksual
Orientasi seksual
Non-biner
Lainnya
Terkait
Sejarah LGBT
Bendera kebanggaan LGBT
Masa pra-modern
Abad ke-16 hingga ke-19
Abad ke-20
Abad ke-21
Hak LGBT menurut negara
Topik hak-hak LGBT
Gerakan hak-hak LGBT
Orientasi seksual – Kedokteran, ilmu pengetahuan, dan seksologi
Sikap masyarakat
Prasangka dan diskriminasi
Kekerasan terhadap orang LGBT
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan