| Data klinis | |
|---|---|
| Nama dagang | Apokyn, Kynmobi, dll |
| AHFS/Drugs.com | monograph |
| MedlinePlus | a604020 |
| License data |
|
| Kategori kehamilan |
|
| Rute pemberian | Subkutan, sublingual |
| Kode ATC | |
| Status hukum | |
| Status hukum | |
| Data farmakokinetika | |
| Bioavailabilitas | 100% mengikuti penyuntikan |
| Pengikatan protein | ~50% |
| Metabolisme | Hati, fase II |
| Onset aksi | 10–20 menit |
| Waktu paruh eliminasi | 40 menit |
| Durasi aksi | 60–90 menit |
| Ekskresi | Hati |
| Pengenal | |
| |
| Nomor CAS |
|
| PubChem CID | |
| IUPHAR/BPS | |
| DrugBank |
|
| ChemSpider |
|
| UNII |
|
| KEGG |
|
| ChEBI | |
| ChEMBL |
|
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| ECHA InfoCard | 100.000.327 |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C17H17NO2 |
| Massa molar | 267,33 g·mol−1 |
| Model 3D (JSmol) | |
| |
| |
| | |
Apomorfin adalah jenis senyawa aporfina yang berfungsi sebagai agonis dopamin non-selektif; senyawa ini mengaktifkan reseptor serupa D2, dan (meskipun dalam tingkat yang jauh lebih rendah) reseptor serupa D1.[3] Senyawa ini juga bertindak sebagai antagonis reseptor 5-HT2 dan reseptor alfa-adrenergik dengan afinitas tinggi. Senyawa ini merupakan alkaloid yang ditemukan pada Nymphaea caerulea (teratai biru), namun secara historis juga dikenal sebagai produk penguraian morfin yang dihasilkan melalui perebusan morfin dengan asam pekat, yang menjadi asal-usul akhiran "-morfin" pada namanya. Berbeda dengan namanya, apomorfin sebenarnya tidak mengandung morfin ataupun kerangka struktur morfin, serta tidak berikatan dengan reseptor opioid. Awalan "apo-" merujuk pada statusnya sebagai turunan morfin (yang berarti "berasal dari morfin").
Secara historis, apomorfin telah dicoba untuk berbagai kegunaan, termasuk sebagai cara untuk meredakan kecemasan dan keinginan kuat pada pecandu alkohol, sebagai emetik (pemicu muntah), untuk menangani stereotip (perilaku berulang) pada hewan ternak, dan baru-baru ini untuk mengobati disfungsi ereksi.[4] Saat ini, apomorfin digunakan dalam pengobatan penyakit Parkinson. Obat ini merupakan emetik yang kuat dan tidak boleh diberikan tanpa obat antiemetik seperti domperidon. Sifat emetik apomorfin dimanfaatkan dalam kedokteran hewan untuk memicu emesis (muntah) terapeutik pada anjing yang baru saja menelan zat beracun atau benda asing.
Apomorfin juga pernah digunakan sebagai terapi pribadi untuk kecanduan heroin; penggunaan ini didukung oleh penulis William S. Burroughs. Burroughs dan pihak lain mengklaim bahwa obat ini merupakan "pengatur metabolik" yang memiliki kemampuan memulihkan sistem dopaminergik yang rusak atau mengalami disfungsi. Meskipun terdapat bukti anekdotal yang menunjukkan bahwa metode ini menawarkan jalan yang masuk akal menuju pola pemulihan berbasis abstinensi (penghentian penggunaan zat), belum ada uji klinis yang pernah menguji hipotesis tersebut. Sebuah studi terbaru mengindikasikan bahwa apomorfin mungkin dapat menjadi penanda yang tepat untuk menilai perubahan pada sistem dopamin sentral yang terkait dengan penggunaan heroin kronis.[5] Namun, tidak ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa apomorfin merupakan regimen pengobatan yang efektif dan aman untuk kecanduan opiat.[6]
Penggunaan medis
Penyakit Parkinson
Apomorfin digunakan untuk menangani fluktuasi motorik pada penyakit Parkinson, khususnya untuk mengatasi episode off.[7]: 13 [8]: 1261 Episode off adalah periode ketika gejala motorik seperti kekakuan (rigiditas), bradikinesia, atau penurunan mobilitas muncul kembali seiring memudarnya efek obat dopaminergik.[9]: 1711 Apomorfin dapat memberikan perbaikan gejala motorik secara cepat.[9]: 1722 [10]: 1024
Apomorfin tersedia dalam berbagai formulasi farmasi. Suntikan subkutan intermiten digunakan sebagai terapi akut dan terbukti dapat menghentikan episode off pada individu dengan fluktuasi motorik yang tidak terkendali secara memadai melalui terapi oral.[10]: 1025 Sebuah tinjauan naratif terkini melaporkan bahwa film apomorfin sublingual menghasilkan transisi cepat dari kondisi off ke on serta perbaikan jangka pendek yang bermakna secara klinis pada skor motorik saat digunakan sebagai terapi sesuai kebutuhan (on-demand) untuk episode off pada penyakit Parkinson,[11] namun tinjauan berbasis bukti MDS menilai data uji coba acak belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa formulasi apomorfin intermiten (termasuk film sublingual) memberikan manfaat berkelanjutan terhadap disabilitas atau kualitas hidup selama periode pengobatan 12 minggu.[12]
Infus subkutan berkesinambungan apomorfin menggunakan perangkat infus yang dapat dikenakan juga diresepkan bagi individu yang mengalami fluktuasi motorik.[13][7]: 12–13 Terapi infus sinambung digunakan pada pasien yang gejalanya tidak terkendali secara memadai dengan terapi oral atau transdermal, dan telah terbukti mengurangi durasi fase off harian.[10]: 1024–1025 [14]: 755–756 Apomorfin umumnya digunakan sebagai terapi tambahan untuk terapi berbasis levodopa pada pasien penyakit Parkinson yang mengalami fluktuasi motorik.[15]: 694
Kontraindikasi
Kontraindikasi utama dan mutlak penggunaan apomorfin adalah penggunaan bersamaan dengan antagonis reseptor adrenergik; kombinasi keduanya menyebabkan penurunan tekanan darah yang drastis dan pingsan.[16][17] Alkohol meningkatkan frekuensi hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah secara tiba-tiba saat bangkit berdiri) serta dapat meningkatkan risiko pneumonia dan serangan jantung. Karena sifatnya yang bersaing memperebutkan tempat pada reseptor dopamin, antagonis dopamin mengurangi efektivitas apomorfin yang bekerja sebagai agonis.[16][17]
Pemberian apomorfin secara intravena (IV) sangat tidak disarankan karena obat ini dapat mengkristal di dalam pembuluh darah vena, membentuk gumpalan darah (trombus), dan menyumbat arteri paru-paru (emboli paru).[16][17]
Efek samping
Mual dan muntah merupakan efek samping umum pada awal terapi dengan apomorfin;[18] obat antiemetik seperti trimetobenzamida atau domperidon—yang merupakan antagonis dopamin–[19] sering digunakan saat memulai penggunaan apomorfin. Sekitar 50% pasien mengembangkan toleransi yang cukup terhadap efek emetik (penyebab muntah) apomorfin sehingga mereka dapat menghentikan penggunaan antiemetik tersebut.[17][16]
Efek samping yang lebih serius meliputi diskinesia (terutama saat mengonsumsi levodopa), penumpukan cairan pada anggota gerak (edema), tertidur secara tiba-tiba, kebingungan dan halusinasi, peningkatan denyut jantung dan palpitasi, serta ereksi yang berkepanjangan (priapisme).[17][16][20] Priapisme terjadi karena apomorfin meningkatkan aliran darah arteri menuju penis. Efek samping ini telah dimanfaatkan dalam penelitian yang berupaya mengobati disfungsi ereksi.[21]
Farmakologi
Mekanisme kerja
Enantiomer-R dari apomorfin merupakan agonis bagi reseptor dopamin D1 dan D2, dengan aktivitas yang lebih tinggi pada reseptor D2.[16][19] Anggota subfamili D2; yang terdiri dari reseptor D2, D3, dan D4; merupakan reseptor terhubung protein G (GPCR) yang bersifat menghambat. Reseptor D4 secara khusus merupakan target penting dalam jalur pensinyalan dan dikaitkan dengan beberapa gangguan neurologis.[22] Kekurangan atau kelebihan dopamin dapat mengganggu fungsi dan pensinyalan reseptor-reseptor ini, yang berujung pada kondisi penyakit.[23]
Apomorfin memperbaiki fungsi motorik dengan mengaktifkan reseptor dopamin pada jalur nigrostriatal, sistem limbik, hipotalamus, dan kelenjar pituitari.[24] Obat ini juga meningkatkan aliran darah ke area motorik suplementer dan korteks prefrontal dorsolateral (stimulasi pada area ini diketahui dapat mengurangi efek diskinesia tardif akibat levodopa).[25][26] Pada penyakit Parkinson, juga ditemukan adanya kelebihan zat besi di lokasi neurodegenerasi; baik enantiomer (R) maupun (S) dari apomorfin merupakan agen pengkelat besi dan pemulung radikal bebas yang poten.[19][27]
Apomorfin juga mengurangi penguraian dopamin di otak (meskipun obat ini juga menghambat sintesisnya).[28][29] Obat ini merupakan upregulator bagi faktor pertumbuhan saraf tertentu,[30] khususnya NGF namun tidak untuk BDNF—yang penurunan regulasinya secara epigenetika telah dikaitkan dengan perilaku adiktif pada tikus.[31][32]
Apomorfin menyebabkan muntah dengan bekerja pada reseptor dopamin di zona pemicu kemoreseptor pada medula oblongata, hal ini mengaktifkan pusat muntah yang terletak di dekatnya.[24][29][33]
Apomorfin memiliki afinitas terhadap reseptor-reseptor berikut (perlu dicatat bahwa nilai Ki yang lebih tinggi menunjukkan afinitas yang lebih rendah):[34][35][36]
| Reseptor | Ki (nM) | Aksi |
|---|---|---|
| D1 | 484 | agonis (parsial)a |
| D2 | 52 | agonis parsial (aktivitas intrinsik = 79% pada D2S, 53% pada D2L) |
| D3 | 26 | agonis parsial (IA = 82%) |
| D4 | 4,37 | agonis parsial (IA = 45%) |
| D5 | 188,9 | agonis (parsial)a |
| a Meskipun efikasinya pada D1 dan D5 belum jelas, senyawa ini diketahui bekerja sebagai agonis pada situs-situs tersebut.[37] | ||
| Reseptor | Ki (nM) | Aksi |
|---|---|---|
| 5-HT1A | 2.523 | agonis parsial |
| 5-HT1B | 2.951 | tidak ada aksi |
| 5-HT1D | 1.230 | tidak ada aksi |
| 5-HT2A | 120 | antagonis |
| 5-HT2B | 132 | antagonis |
| 5-HT2C | 102 | antagonis |
| Reseptor | Ki (nM) | Aksi |
|---|---|---|
| adrenergik α1A | 1,995 | antagonis |
| adrenergik α1B | 676 | antagonis |
| adrenergik α1D | 64,6 | antagonis |
| adrenergik α2A | 141 | antagonis |
| adrenergik α2B | 66,1 | antagonis |
| adrenergik α2C | 36,3 | antagonis |
Senyawa ini memiliki nilai Ki lebih dari 10.000 nM (dan dengan demikian afinitasnya dapat diabaikan) terhadap reseptor β-adrenergik, H1, dan mACh.[3]
Toksisitas bergantung pada rute pemberian; nilai LD50 pada mencit adalah 300 mg/kg untuk rute oral, 160 mg/kg untuk rute intraperitoneal, dan 56 mg/kg untuk rute intravena.[38]
Farmakokinetika
Meskipun apomorfin memiliki bioavailabilitas yang lebih rendah jika dikonsumsi secara oral—akibat penyerapan yang buruk di saluran pencernaan dan mengalami metabolisme lintas pertama yang ekstensif[27][39]—senyawa ini memiliki bioavailabilitas 100% saat diberikan secara subkutan. Konsentrasi plasma puncaknya tercapai dalam waktu 10–60 menit. Sepuluh hingga dua puluh menit setelahnya, konsentrasi puncaknya tercapai di dalam cairan serebrospinal. Struktur lipofiliknya memungkinkannya menembus sawar darah otak.[16][24]
Apomorfin memiliki laju klirens yang tinggi (3–5 L/kg/jam) dan terutama dimetabolisme serta diekskresikan oleh hati. Kemungkinan besar, meskipun sistem sitokrom P450 hanya berperan kecil, sebagian besar metabolisme apomorfin terjadi melalui auto-oksidasi, O-glukuronidasi, O-metilasi, N-demetilasi, dan sulfasi.[16][24][29] Hanya 3–4% apomorfin yang diekskresikan dalam bentuk tidak berubah melalui urine. Waktu paruhnya adalah 30–60 menit, dan efek suntikannya bertahan hingga 90 menit.[16][40][24]
Kimia
Sifat-sifat
Apomorfin memiliki struktur katekol yang mirip dengan dopamin.[28]
Sintesis
Terdapat beberapa teknik untuk memproduksi apomorfin dari morfin. Di masa lalu, morfin dikombinasikan dengan asam klorida pada suhu tinggi (sekitar 150 °C) untuk menghasilkan apomorfin dengan rendemen rendah yang berkisar antara 0,6% hingga 46%.[41]
Teknik yang lebih baru menghasilkan apomorfin dengan cara serupa, yaitu melalui pemanasan dengan asam yang dapat memicu penataan ulang dehidrasi esensial pada alkaloid jenis morfin seperti asam fosfat. Metode ini kemudian berbeda karena melibatkan penggunaan agen peraup air; komponen ini penting untuk menyingkirkan air hasil reaksi yang dapat bereaksi kembali dengan produk dan menyebabkan penurunan rendemen. Agen peraup air tersebut dapat berupa reagen apa pun yang bereaksi secara ireversibel dengan air, seperti ftalat anhidrida atau titanium klorida. Suhu yang diperlukan untuk reaksi ini bervariasi tergantung pada jenis asam dan agen pengikat air yang digunakan. Rendemen reaksi ini jauh lebih tinggi, yakni setidaknya 55%.[41]

Kegunaan historis
Efek farmakologis dari aporfina—suatu senyawa analog alami yang terdapat dalam teratai biru (Nymphaea caerulea)[43]—telah diketahui oleh bangsa Mesir Kuno dan Maya[44]; tumbuhan ini bahkan muncul dalam lukisan dinding makam dan dikaitkan dengan ritual enteogenik.
Sejarah medis modern apomorfin bermula dari sintesisnya oleh Arppe pada tahun 1845[45] menggunakan bahan dasar morfin dan asam sulfat, meskipun pada awalnya senyawa ini diberi nama "sulfomorfida". Matthiesen dan Wright (1869) kemudian menggunakan asam klorida sebagai pengganti asam sulfat dalam proses tersebut dan menamai senyawa yang dihasilkan sebagai apomorfin. Minat awal terhadap senyawa ini muncul karena khasiatnya sebagai emetik (pemicu muntah)—yang telah diuji dan dipastikan keamanannya oleh dokter asal London, yakni Samuel Gee[46]—serta penggunaannya untuk menangani perilaku stereotipik pada hewan ternak.[47] Penelitian Erich Harnack menjadi kunci dalam pemanfaatan apomorfin sebagai pengubah perilaku; eksperimennya pada kelinci (hewan yang tidak bisa muntah) menunjukkan bahwa apomorfin memiliki efek kuat terhadap aktivitas kelinci, yakni memicu perilaku menjilat dan menggerogoti, serta menyebabkan kejang dan kematian pada dosis yang sangat tinggi.
Pengobatan alkoholisme
Apomorfin merupakan salah satu terapi farmakologis paling awal yang digunakan untuk menangani alkoholisme. Keeley Cure (populer antara tahun 1870-an hingga 1900) mengandung apomorfin di antara bahan-bahan lainnya, namun laporan medis pertama mengenai penggunaannya untuk tujuan selain sekadar memicu muntah (emesis) berasal dari James Tompkins[48] dan Charles Douglas.[49][50] Tompkins melaporkan bahwa setelah penyuntikan dosis 6,5 mg ("sepersepuluh grain"):
Dalam waktu empat menit, terjadi muntah hebat; kekakuan otot berganti menjadi relaksasi, kegelisahan berubah menjadi rasa kantuk, dan tanpa pemberian obat tambahan, pasien—yang sebelumnya mengamuk dan mengigau—akhirnya tertidur dengan tenang.
Douglas melihat dua kegunaan bagi apomorfin:
[obat ini dapat digunakan untuk menangani] serangan dipsomania [episode keinginan yang sangat kuat untuk mengonsumsi alkohol]... dalam dosis yang sangat kecil, obat ini jauh lebih cepat dan efektif dalam meredakan hasrat dipsomania dibandingkan striknina atau atropin... Empat atau bahkan 3 minim [satuan ukuran cairan; kira-kira 60 mikroliter] larutan tersebut biasanya mampu meredam tuntutan pasien yang tiada henti selama beberapa jam... saat pasien terbangun dari tidur akibat efek apomorfin, ia mungkin masih meminta alkohol, namun desakannya tidak lagi sekuat sebelumnya. Oleh karena itu, pemberian dosis ulang mungkin diperlukan, bahkan mungkin perlu dilanjutkan dua atau tiga kali sehari. Akan tetapi, dosis berulang semacam itu tidak perlu sebesar dosis awal: 4 atau bahkan 3 minim biasanya sudah cukup.
Penggunaan dosis kecil yang berkelanjutan (sebesar 1/30 grain, atau 2,16 mg menurut Douglas) dari apomorfin untuk mengurangi hasrat alkohol ini dilakukan jauh sebelum Pavlov menemukan dan memublikasikan gagasan tentang "refleks terkondisi" pada tahun 1903. Metode ini tidak hanya digunakan oleh Douglas; dokter asal Irlandia yakni Francis Hare, yang bekerja di sebuah sanatorium di luar London sejak tahun 1905, juga menggunakan apomorfin dosis rendah sebagai pengobatan, dan menggambarkannya sebagai "obat tunggal yang paling bermanfaat dalam terapi kecanduan alkohol".[51] Ia menulis:
Di sanatorium, obat ini digunakan dalam tiga situasi berbeda: (1) pada kondisi mabuk yang disertai perilaku manik atau histeris; (2) selama serangan dipsomania (dorongan tak tertahankan untuk minum alkohol), guna meredam hasrat akan alkohol; dan (3) pada insomnia esensial jenis khusus... [setelah pemberian apomorfin] kondisi mental pasien berubah total. Ia menjadi sadar sepenuhnya dan untuk sementara waktu terbebas dari hasrat akan alkohol. Namun, hasrat tersebut bisa muncul kembali, sehingga penyuntikan perlu diulang—mungkin beberapa kali dengan selang waktu beberapa jam. Suntikan-suntikan lanjutan ini sebaiknya menggunakan dosis kecil; takaran 3 hingga 6 minim sudah cukup. Dosis sebesar ini jarang memicu muntah. Efek yang muncul biasanya hanya berupa sedikit wajah pucat, sensasi awal seperti mabuk laut, dan mungkin rasa tidak enak badan ringan yang disertai hilangnya hasrat akan alkohol secara tiba-tiba, diikuti oleh tidur sejenak yang ringan.
Ia juga mencatat adanya prasangka kuat terhadap penggunaan apomorfin, baik karena asosiasi namanya maupun keengganan dokter untuk memberikan suntikan hipodermik kepada pecandu alkohol. Di Amerika Serikat, Harrison Narcotics Tax Act membuat penggunaan turunan morfin apa pun menjadi sangat sulit, meskipun apomorfin sendiri bukan merupakan opiat.
Pada tahun 1950-an, neurotransmiter dopamin ditemukan di dalam otak oleh Katharine Montagu, dan setahun kemudian diidentifikasi sebagai neurotransmiter oleh Arvid Carlsson—penemuan yang kelak mengantarkannya meraih Hadiah Nobel.[52] Kemudian pada tahun 1965, A. N. Ernst menemukan bahwa apomorfin merupakan stimulan kuat bagi reseptor dopamin.[53] Hal ini, ditambah dengan penggunaan tablet apomorfin sublingual, memicu kembali minat terhadap penggunaan apomorfin sebagai terapi alkoholisme. Serangkaian studi mengenai penggunaan apomorfin dosis non-emetik (tidak memicu muntah) untuk mengobati alkoholisme pun dipublikasikan, dengan hasil yang sebagian besar positif.[54][55][56][57][58] Namun, hal tersebut tidak banyak berdampak pada praktik klinis.
Terapi aversi
Terapi aversi untuk alkoholisme bermula di Rusia pada awal tahun 1930-an,[59] melalui makalah-makalah awal karya Pavlov, Galant, Sluchevsky, dan Friken,[60] serta terus menjadi salah satu metode pengobatan alkoholisme di Uni Soviet hingga tahun 1980-an. Di Amerika Serikat, salah satu tokoh pendukung utamanya adalah Dr. Voegtlin,[61] yang mencoba menerapkan terapi aversi menggunakan apomorfin pada pertengahan hingga akhir tahun 1930-an. Namun, ia mendapati bahwa apomorfin kurang efektif dalam memunculkan perasaan negatif pada pasien dibandingkan dengan emetik (pemicu muntah) yang lebih kuat dan lebih tidak menyenangkan, yaitu emetin.
Sementara itu, di Britania Raya, penerbitan makalah tahun 1934 karya J. Y. Dent (yang kelak menangani Burroughs)—berjudul Apomorphine in the treatment of Anxiety States (Apomorfin dalam pengobatan Kondisi Kecemasan)[62]—menjabarkan metode utama penggunaan apomorfin untuk mengobati alkoholisme di negara tersebut. Metode yang ia paparkan dalam makalah itu jelas dipengaruhi oleh gagasan tentang aversi yang pada saat itu masih tergolong baru:
Pasien diberikan minuman favoritnya, lengkap dengan merek kesukaannya... Ia meminumnya dengan kadar yang lebih pekat daripada biasanya... Dosis kecil apomorfin—seperdua puluh grain [3,24 mg]—kemudian disuntikkan secara subkutan ke pahanya, dan ia diberi tahu bahwa ia akan merasa mual atau muntah dalam waktu lima belas menit. Segelas wiski campur air serta sebotol wiski diletakkan di samping tempat tidurnya. Pada pukul enam (empat jam kemudian), ia kembali diperiksa dan prosedur yang sama diulangi... Perawat diberi instruksi khusus: jika pasien tidak minum alkohol, dosis seperempat puluh grain [1,62 mg] apomorfin harus disuntikkan pada malam hari—tepatnya pukul sembilan, pukul satu, dan pukul lima; namun, jika pasien minum alkohol, suntikan harus diberikan segera setelah ia minum dan frekuensinya dapat ditingkatkan menjadi setiap dua jam sekali. Pada pagi hari sekitar pukul sepuluh, ia kembali diberi satu atau dua gelas wiski campur air... dan sekali lagi disuntikkan apomorfin sebanyak seperdua puluh grain [3,24 mg]... Keesokan harinya, ia diperbolehkan menyantap apa pun yang ia inginkan dan minum teh sebanyak yang ia mau... Ia akan cukup kuat untuk bangkit dari tempat tidur, dan dua hari kemudian ia meninggalkan tempat perawatan tersebut.
Namun, bahkan pada tahun 1934, ia meragukan gagasan bahwa pengobatan tersebut semata-mata didasarkan pada refleks terkondisi—"meskipun muntah adalah salah satu cara apomorfin memberikan kelegaan bagi pasien, saya tidak meyakini hal itu sebagai efek terapeutik utamanya"—dan pada tahun 1948 ia menulis:[6]
Kini sudah dua puluh lima tahun berlalu sejak saya mulai menangani kasus kecemasan dan alkoholisme menggunakan apomorfin, dan saya memaparkan makalah pertama saya di hadapan perkumpulan ini empat belas tahun yang lalu. Hingga saat itu, saya beranggapan—dan sayangnya, saya sempat menyatakannya dalam makalah tersebut—bahwa keunggulan pengobatan ini terletak pada terciptanya refleks terkondisi berupa rasa jijik (aversi) pada pasien. Pernyataan itu bahkan tidak sepenuhnya benar... Saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa apomorfin memiliki khasiat lain selain sekadar memicu muntah.
Hal ini mendorongnya untuk mengembangkan metode dengan dosis lebih rendah dan tanpa efek aversi, yang kemudian menginspirasi dilakukannya uji coba positif atas metodenya di Swiss oleh Dr. Harry Feldmann.[63]
Kecanduan opioid
Dalam tulisannya yang berjudul Deposition: Testimony Concerning a Sickness (yang dimuat sebagai pengantar pada edisi-edisi selanjutnya dari buku Naked Lunch; pertama kali diterbitkan tahun 1959), William S. Burroughs menyatakan bahwa pengobatan dengan apomorfin adalah satu-satunya penyembuhan efektif untuk kecanduan opioid yang pernah ia temui:
Metode penyembuhan dengan apomorfin ini secara kualitatif berbeda dari metode penyembuhan lainnya. Saya sudah mencoba semuanya. Pengurangan dosis secara cepat, pengurangan dosis secara bertahap, kortison, antihistamin, obat penenang, terapi tidur, tolserol, reserpin. Tak satu pun dari metode tersebut mampu bertahan saat muncul kesempatan pertama untuk kambuh. Saya bisa katakan bahwa saya tidak pernah benar-benar sembuh secara metabolik sampai saya menjalani pengobatan apomorfin... Dokter John Yerbury Dent menjelaskan kepada saya bahwa apomorfin bekerja pada bagian belakang otak untuk mengatur metabolisme dan menormalkan aliran darah sedemikian rupa sehingga mekanisme enzimatik kecanduan itu dihancurkan dalam kurun waktu empat hingga lima hari. Begitu fungsi bagian belakang otak telah teregulasi, penggunaan apomorfin dapat dihentikan dan hanya digunakan kembali jika terjadi kekambuhan.
Meskipun terus mengklaim hal tersebut sepanjang hidupnya, Burroughs tidak pernah benar-benar sembuh dari kecanduannya dan kembali menggunakan opiat beberapa tahun setelah menjalani "penyembuhan" dengan apomorfin; namun demikian, ia tetap bersikeras mengenai efektivitas apomorfin dalam berbagai karya tulis dan wawancara.[64]
Kini muncul kembali minat terhadap penggunaan apomorfin untuk menangani kecanduan, baik untuk membantu berhenti merokok[65] maupun untuk mengatasi alkoholisme.[66] Karena obat ini diketahui cukup aman untuk digunakan pada manusia, obat ini menjadi kandidat yang layak untuk penggunaan ulang.
Apomorfin telah diteliti sebagai kemungkinan pengobatan untuk disfungsi ereksi dan gangguan hasrat seksual hipoaktif pada wanita, meskipun efikasinya terbatas.[21][67]
Penggunaan modern
Apomorfin digunakan untuk menangani fluktuasi motorik pada penyakit Parkinson, khususnya untuk mengatasi episode off.[7]: 13 [8]: 1261 Episode off adalah periode ketika gejala motorik seperti kekakuan (rigiditas), bradikinesia, atau penurunan mobilitas muncul kembali seiring memudarnya efek obat dopaminergik.[9]: 1711 Apomorfin dapat memberikan perbaikan gejala motorik secara cepat.[9]: 1722 [68]: 136
Apomorfin tersedia dalam berbagai formulasi farmasi. Suntikan subkutan intermiten digunakan sebagai terapi akut dan terbukti dapat menghentikan episode off pada individu yang mengalami fluktuasi motorik yang tidak terkendali secara memadai dengan terapi oral.[10]: 1025 Formulasi sublingual juga terbukti efektif sebagai terapi akut untuk episode off.[15]: 703–706
Infus subkutan sinambung apomorfin menggunakan perangkat infus portabel juga diresepkan bagi individu dengan fluktuasi motorik.[13][7]: 12–13 Terapi infus sinambung digunakan pada pasien yang gejalanya tidak terkendali secara memadai dengan terapi oral atau transdermal, dan terbukti dapat mengurangi durasi waktu off harian.[10]: 1024–1025 [14]: 755–756 Apomorfin umumnya digunakan sebagai terapi tambahan untuk terapi berbasis levodopa pada pasien penyakit Parkinson yang mengalami fluktuasi motorik.[15]
Rute pemberian alternatif
Saat ini, terdapat dua rute pemberian yang digunakan secara klinis: subkutan (baik sebagai injeksi berkala maupun infus berkesinambungan) dan sublingual.[69] Rute pemberian non-invasif lainnya telah diteliti sebagai pengganti pemberian parenteral, dengan berbagai tahapan penelitian praklinis dan klinis yang telah dicapai. Rute-rute tersebut meliputi peroral,[70] nasal,[71][72][73][74] pulmonal,[75] transdermal,[76] rektal,[77][78] dan bukal,[79][80] serta metode iontoforesis.[81]
Penggunaan pada hewan
Apomorfin digunakan untuk memicu muntah pada anjing setelah tertelannya berbagai racun atau benda asing. Obat ini dapat diberikan secara subkutan, intramuskular, intravena, atau dalam bentuk tablet yang dihancurkan pada konjungtiva mata.[82][83] Rute oral tidak efektif karena apomorfin tidak dapat menembus sawar darah otak dengan cukup cepat, dan kadar obat dalam darah tidak mencapai konsentrasi yang cukup tinggi untuk merangsang zona pemicu kemoreseptor.[82] Obat ini mampu mengeluarkan sekitar 40–60% isi lambung.[84]
Salah satu alasan apomorfin menjadi obat pilihan adalah sifat efeknya yang dapat dibalikkan:[85] pada kasus muntah berkepanjangan, efek apomorfin dapat dihentikan dengan antagonis dopamin seperti fenotiazina (contohnya asepromazin). Namun, pemberian apomorfin setelah pemberian asepromazin tidak akan memicu muntah, karena reseptor target apomorfin sudah terisi.[82]
Apomorfin tidak bekerja pada kucing, karena hewan tersebut memiliki jumlah reseptor dopamin yang terlalu sedikit.[82]
Lihat juga
Referensi
- ↑ "Movapo Pod (Stada Pharmaceuticals Australia Pty Ltd)". Therapeutic Goods Administration (TGA). 13 September 2024. Diakses tanggal 15 September 2024.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Onapgo- apomorphine hydrochloride injection, solution". DailyMed. 28 Februari 2025. Diakses tanggal 2 April 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Millan MJ, Maiofiss L, Cussac D, Audinot V, Boutin JA, Newman-Tancredi A (November 2002). "Differential actions of antiparkinson agents at multiple classes of monoaminergic receptor. I. A multivariate analysis of the binding profiles of 14 drugs at 21 native and cloned human receptor subtypes". The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. 303 (2): 791–804. doi:10.1124/jpet.102.039867. PMID 12388666. S2CID 6200455.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Albersen M, Mwamukonda KB, Shindel AW, Lue TF (Januari 2011). "Evaluation and treatment of erectile dysfunction". The Medical Clinics of North America. Urologic Issues for the Internist. 95 (1): 201–212. doi:10.1016/j.mcna.2010.08.016. PMID 21095423.
- ↑ Guardia J, Casas M, Prat G, Trujols J, Segura L, Sánchez Turet M (Oktober 2002). "The apomorphine test: a biological marker for heroin dependence disorder?". Addiction Biology. 7 (4): 421–426. doi:10.1080/1355621021000006206. PMID 14578019. S2CID 32386793.
- 1 2 Dent JY (1949). "Apomorphine Treatment of Addiction". British Journal of Addiction to Alcohol & Other Drugs. 46 (1): 15–28. doi:10.1111/j.1360-0443.1949.tb04502.x.
- 1 2 3 4 Poewe W, Seppi K, Tanner CM, Halliday GM, Brundin P, Volkmann J, et al. (Maret 2017). "Parkinson disease". Nature Reviews. Disease Primers. 3 (1) 17013. doi:10.1038/nrdp.2017.13. PMID 28332488.
- 1 2 Fox SH, Katzenschlager R, Lim SY, Barton B, de Bie RM, Seppi K, et al. (Agustus 2018). "International Parkinson and movement disorder society evidence-based medicine review: Update on treatments for the motor symptoms of Parkinson's disease". Movement Disorders. 33 (8): 1248–1266. doi:10.1002/mds.27372. PMID 29570866.
- 1 2 3 4 Chen JJ, Obering C (November 2005). "A review of intermittent subcutaneous apomorphine injections for the rescue management of motor fluctuations associated with advanced Parkinson's disease". Clinical Therapeutics. 27 (11): 1710–1724. doi:10.1016/j.clinthera.2005.11.016. PMID 16368444.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Trenkwalder C, Chaudhuri KR, García Ruiz PJ, LeWitt P, Katzenschlager R, Sixel-Döring F, et al. (September 2015). "Expert Consensus Group report on the use of apomorphine in the treatment of Parkinson's disease--Clinical practice recommendations". Parkinsonism & Related Disorders. 21 (9): 1023–1030. doi:10.1016/j.parkreldis.2015.06.012. hdl:20.500.11940/8387. PMID 26189414.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kassubek J, Jost WH, Schwarz J (Oktober 2024). "Sublingual apomorphine in the treatment of Parkinson's disease". Journal of Neural Transmission. 131 (10). Vienna: 1209–1216. doi:10.1007/s00702-024-02777-z. PMID 38743091.
- ↑ de Bie RM, Katzenschlager R, Swinnen BE, Peball M, Lim SY, Mestre TA, et al. (Mei 2025). "Update on Treatments for Parkinson's Disease Motor Fluctuations - An International Parkinson and Movement Disorder Society Evidence-Based Medicine Review". Movement Disorders. 40 (5): 776–794. doi:10.1002/mds.30162. PMC 12089898. PMID 40055961.
- 1 2 "ONAPGO- apomorphine hydrochloride injection, solution". United States Food & Drug Administration. Diakses tanggal 1 April 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Katzenschlager R, Poewe W, Rascol O, Trenkwalder C, Deuschl G, Chaudhuri KR, et al. (September 2018). "Apomorphine subcutaneous infusion in patients with Parkinson's disease with persistent motor fluctuations (TOLEDO): a multicentre, double-blind, randomised, placebo-controlled trial". The Lancet. Neurology. 17 (9): 749–759. doi:10.1016/S1474-4422(18)30239-4. hdl:11370/7d4d28ce-d9f8-4751-a809-04f629fbd319. PMID 30055903.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Agbo F, Isaacson SH, Gil R, Chiu YY, Brantley SJ, Bhargava P, et al. (Desember 2021). "Pharmacokinetics and Comparative Bioavailability of Apomorphine Sublingual Film and Subcutaneous Apomorphine Formulations in Patients with Parkinson's Disease and "OFF" Episodes: Results of a Randomized, Three-Way Crossover, Open-Label Study". Neurology and Therapy. 10 (2): 693–709. doi:10.1007/s40120-021-00251-6. PMC 8571442. PMID 33991326.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Apomorphine Hydrochloride Monograph for Professionals". Drugs.com. Diakses tanggal 26 Februari 2018.
- 1 2 3 4 5 Clayton BD, Willihnganz M (2016). Basic Pharmacology for Nurses – E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 210–211. ISBN 978-0-323-37697-6.
- ↑ Dressler D (Juni 2005). "Apomorphin bei der Behandlung des Morbus Parkinson" [Apomorphine in the treatment of Parkinson's Disease]. Der Nervenarzt (dalam bahasa Jerman). 76 (6): 681–689. doi:10.1007/s00115-004-1830-4. PMID 15592807. S2CID 19617827.
- 1 2 3 Youdim MB, Gassen M, Gross A, Mandel S, Grünblatt E (2000). "Iron chelating, antioxidant and cytoprotective properties of dopamine receptor agonist; apomorphine". Dalam Mizuno Y, Calne DB, Horowski R, Poewe W, Riederer P, Youdim MB (ed.). Advances in Research on Neurodegeneration, vol. 7. Seventh International Winter Conference on Neurodegeneration and Neuroinflammation. Karuizawa, Nagano, Japan. 20–22 January 1999. Journal of Neural Transmission. Supplementum. No. 58. Springer Science & Business Media. hlm. 83–96. doi:10.1007/978-3-7091-6284-2_7. ISBN 978-3-211-83485-5. PMID 11128615.
- ↑ "Apomorphine". Medline Plus. US National Library of Medicine. 15 Juni 2017. Diakses tanggal 26 Februari 2018.
- 1 2 Porst H, Buvat J (2008). Standard Practice in Sexual Medicine. John Wiley & Sons. hlm. 77. ISBN 978-1-4051-7872-3.
- ↑ Ptácek R, Kuzelová H, Stefano GB (September 2011). "Dopamine D4 receptor gene DRD4 and its association with psychiatric disorders". Medical Science Monitor. 17 (9): RA215–RA220. doi:10.12659/MSM.881925. PMC 3560519. PMID 21873960.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Stacy M, Silver D (2008). "Apomorphine for the acute treatment of "off" episodes in Parkinson's disease". Parkinsonism & Related Disorders. 14 (2): 85–92. doi:10.1016/j.parkreldis.2007.07.016. PMID 18083605.
- 1 2 3 4 5 PubChem. "Apomorphine". PubChem. U.S. National Library of Medicine. Diakses tanggal 26 Februari 2018.
- ↑ Lewitt P, Oertel WH (1999). Parkinson's Disease: The Treatment Options. CRC Press. hlm. 22. ISBN 978-1-85317-379-0.
- ↑ Rektorová I, Sedláčková S, Telečka S, Hlubočky A, Rektor I (2008). "Dorsolateral prefrontal cortex: a possible target for modulating dyskinesias in Parkinson's disease by repetitive transcranial magnetic stimulation". International Journal of Biomedical Imaging. 2008 372125. doi:10.1155/2008/372125. PMC 2233877. PMID 18274665.
- 1 2 Galvez-Jimenez M (2013). Scientific Basis for the Treatment of Parkinson's Disease (Edisi 2nd). CRC Press. hlm. 195. ISBN 978-0-203-33776-9.
- 1 2 Iversen L (2012). Biogenic Amine Receptors. Springer Science & Business Media. hlm. 238. ISBN 978-1-4684-8514-1.
- 1 2 3 Garattini S, Goldin A, Hawking F, Kopin IJ (1978). Advances in Pharmacology and Chemotherapy. Vol. 15. Academic Press. hlm. 27, 93, 96. ISBN 978-0-08-058106-4.
- ↑ Ohta M, Mizuta I, Ohta K, Nishimura M, Mizuta E, Hayashi K, et al. (Mei 2000). "Apomorphine up-regulates NGF and GDNF synthesis in cultured mouse astrocytes". Biochemical and Biophysical Research Communications. 272 (1): 18–22. Bibcode:2000BBRC..272...18O. doi:10.1006/bbrc.2000.2732. PMID 10872797.
- ↑ McGeary JE, Gurel V, Knopik VS, Spaulding J, McMichael J (Oktober 2011). "Effects of nerve growth factor (NGF), fluoxetine, and amitriptyline on gene expression profiles in rat brain". Neuropeptides. 45 (5): 317–322. doi:10.1016/j.npep.2011.06.002. PMID 21820738. S2CID 38444849.
- ↑ Heberlein A, Muschler M, Frieling H, Behr M, Eberlein C, Wilhelm J, et al. (Mei 2013). "Epigenetic down regulation of nerve growth factor during alcohol withdrawal". Addiction Biology. 18 (3): 508–510. doi:10.1111/j.1369-1600.2010.00307.x. PMID 21392176. S2CID 20317993.
- ↑ Riviere JE, Papich MG (2009). Veterinary Pharmacology and Therapeutics. John Wiley & Sons. hlm. 318. ISBN 978-0-8138-2061-3.
- ↑ Roth BL, Driscol J (12 Januari 2011). "PDSP Ki Database". Psychoactive Drug Screening Program (PDSP). University of North Carolina at Chapel Hill and the United States National Institute of Mental Health. Diakses tanggal 1 Juli 2014. Note: Values for humans are used. If there is more than one value listed for humans, their average is used.
- ↑ Newman-Tancredi A, Cussac D, Audinot V, Nicolas JP, De Ceuninck F, Boutin JA, et al. (November 2002). "Differential actions of antiparkinson agents at multiple classes of monoaminergic receptor. II. Agonist and antagonist properties at subtypes of dopamine D2-like receptor and α1/α2-adrenoceptor". The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. 303 (2): 805–814. doi:10.1124/jpet.102.039875. PMID 12388667. S2CID 35238120.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Newman-Tancredi A, Cussac D, Quentric Y, Touzard M, Verrièle L, Carpentier N, et al. (November 2002). "Differential actions of antiparkinson agents at multiple classes of monoaminergic receptor. III. Agonist and antagonist properties at serotonin, 5-HT1 and 5-HT2, receptor subtypes". The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. 303 (2): 815–822. doi:10.1124/jpet.102.039883. PMID 12388668. S2CID 19260572.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hsieh GC, Hollingsworth PR, Martino B, Chang R, Terranova MA, O'Neill AB, et al. (Januari 2004). "Central mechanisms regulating penile erection in conscious rats: the dopaminergic systems related to the proerectile effect of apomorphine". The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. 308 (1): 330–338. doi:10.1124/jpet.103.057455. PMID 14569075. S2CID 7485959.
- ↑ Lewis Sr RJ (2004). Sax's Dangerous Properties of Industrial Materials (Edisi 11). Wiley, John & Sons, Incorporated. hlm. 287. ISBN 978-0-471-47662-7.
- ↑ Schapira AH, Olanow CW (2005). Principles of Treatment in Parkinson's Disease (Edisi illustrated). Elsevier Health Sciences. hlm. 35. ISBN 978-0-7506-5428-9.
- ↑ Chaudhuri KR, Clough C (Februari 1998). "Subcutaneous apomorphine in Parkinson's disease". BMJ. 316 (7132): 641. doi:10.1136/bmj.316.7132.641. PMC 1112674. PMID 9522772.
- 1 2 EP 2007730,Gurusamy NU,"Process for making apomorphine and apocodeine",diterbitkan tanggal 2008-12-31, diberikan kepada Mallinckrodt Inc [Us]dan Mallinckrodt, Inc.
- ↑ Bentley KW (24 April 2014). The Isoquinoline Alkaloids: A Course in Organic Chemistry. Elsevier, 2014. hlm. 118–120. ISBN 978-1-4831-5223-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Poklis JL, Mulder HA, Halquist MS, Wolf CE, Poklis A, Peace MR (Juli 2017). "The Blue Lotus Flower (Nymphea caerulea) Resin Used in a New Type of Electronic Cigarette, the Re-Buildable Dripping Atomizer". Journal of Psychoactive Drugs. 49 (3): 175–181. doi:10.1080/02791072.2017.1290304. PMC 5638439. PMID 28266899.
- ↑ Bertol E, Fineschi V, Karch SB, Mari F, Riezzo I (Februari 2004). "Nymphaea cults in ancient Egypt and the New World: a lesson in empirical pharmacology". Journal of the Royal Society of Medicine. 97 (2): 84–85. doi:10.1177/014107680409700214. PMC 1079300. PMID 14749409.
- ↑ Taba P, Lees A, Stern G (2013). "Erich Harnack (1852–1915) and a short history of apomorphine". European Neurology. 69 (6): 321–324. doi:10.1159/000346762. PMID 23549143.
- ↑ Gee S (1869). "On the action of a new organic base, apomorphia". Transactions of the Clinical Society of London. 2: 166–169.
- ↑ Feser J (1873). "Die in neuester Zeit in Anwendung gekommen Arzneimittel: 1. Apomorphinum hydrochloratum" [The most recently used medicines: 1. Apomorphine hydrochloride]. Z Prakt Veterinairwiss: 302–306.
- ↑ Tompkins J (1899). "Apomorphine in Acute Alcoholic Delirium". Medical Record.
- ↑ "Apomorphine as a hypnotic". The Lancet. 155 (3998): 1083. April 1900. doi:10.1016/s0140-6736(01)70565-x.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Douglas CJ (1899). "The withdrawal of alcohol in delirium tremens". The New York Medical Journal: 626.
- ↑ Hare F (1912). On alcoholism; its clinical aspects and treatment. London: Churchill.
- ↑ Benes FM (Januari 2001). "Carlsson and the discovery of dopamine". Trends in Pharmacological Sciences. 22 (1): 46–47. doi:10.1016/S0165-6147(00)01607-2. PMID 11165672.
- ↑ Ernst AM (Mei 1965). "Relation between the action of dopamine and apomorphine and their O-methylated derivatives upon the CNS". Psychopharmacologia. 7 (6): 391–399. doi:10.1007/BF00402361. PMID 5831877. S2CID 7445311.
- ↑ Moynihan NH (Agustus 1965). "The Treatment of Alcoholism in General Practice". The Practitioner. 195: 223–227. PMID 14328866.
- ↑ Carlsson C, Johansson PR, Gullberg B (Mei 1977). "A double-blind cross-over study: apomorphine/placebo in chronic alcoholics". International Journal of Clinical Pharmacology and Biopharmacy. 15 (5): 211–213. PMID 326687.
- ↑ Halvorsen KA, Martensen-Larsen O (April 1978). "Apomorphine revived: fortified, prolonged, and improved therapeutical effect". The International Journal of the Addictions. 13 (3): 475–484. doi:10.3109/10826087809045262. PMID 352969.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Jensen SB, Christoffersen CB, Nørregaard A (Desember 1977). "Apomorphine in outpatient treatment of alcohol intoxication and abstinence: a double-blind study". The British Journal of Addiction to Alcohol and Other Drugs. 72 (4): 325–330. doi:10.1111/j.1360-0443.1977.tb00699.x. PMID 341937.
- ↑ Schlatter EK, Lal S (Juni 1972). "Treatment of alcoholism with Dent's oral apomorphine method". Quarterly Journal of Studies on Alcohol. 33 (2): 430–436. doi:10.15288/qjsa.1972.33.430. PMID 5033142.
- ↑ Ban TA (2008). Conditioning behavior and psychiatry. New Brunswick [N.J.]: AldineTransaction. ISBN 978-0-202-36235-9. OCLC 191318001.
- ↑ Raikhel EA (2016). Governing habits: treating alcoholism in the post-Soviet clinic. Ithaca: Cornell University Press. ISBN 978-1-5017-0313-3. OCLC 965905763.
- ↑ Lemere F, Voegtlin WL (Juni 1950). "An evaluation of the aversion treatment of alcoholism". Quarterly Journal of Studies on Alcohol. 11 (2): 199–204. doi:10.15288/qjsa.1950.11.199. PMID 15424345.
- ↑ Dent JY (1 Oktober 1934). "Apomorphine in the Treatment of Anxiety States, with Especial Reference to Alcoholism*". British Journal of Inebriety. 32 (2): 65–88. doi:10.1111/j.1360-0443.1934.tb05016.x. ISSN 1360-0443.
- ↑ De Morsier G, Feldmann H (1952). "[Apomorphine therapy of alcoholism; report of 500 cases]". Schweizer Archiv für Neurologie und Psychiatrie. Archives Suisses de Neurologie et de Psychiatrie. Archivio Svizzero di Neurologia e Psichiatria. 70 (2): 434–440. PMID 13075975.
- ↑ Birmingham J (2 November 2009). "William Burroughs and the History of Heroin". RealityStudio.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Morales Rosado JA, Cousin MA, Ebbert JO, Klee EW (Desember 2015). "A Critical Review of Repurposing Apomorphine for Smoking Cessation". Assay and Drug Development Technologies. 13 (10): 612–622. doi:10.1089/adt.2015.680. PMID 26690764.
- ↑ "Apomorphine – A forgotten treatment for alcoholism". apomorphine.info (dalam bahasa Inggris (Britania)). 21 Juni 2016. Diakses tanggal 24 Januari 2018.
- ↑ Ishak WW (2017). The Textbook of Clinical Sexual Medicine. Springer. hlm. 388. ISBN 978-3-319-52539-6.
- ↑ Olanow CW, Factor SA, Espay AJ, Hauser RA, Shill HA, Isaacson S, et al. (Februari 2020). "Apomorphine sublingual film for off episodes in Parkinson's disease: a randomised, double-blind, placebo-controlled phase 3 study". The Lancet. Neurology. 19 (2): 135–144. doi:10.1016/S1474-4422(19)30396-5. PMID 31818699.
- ↑ Hauser RA, Olanow CW, Dzyngel B, Bilbault T, Shill H, Isaacson S, et al. (September 2016). "Sublingual apomorphine (APL-130277) for the acute conversion of OFF to ON in Parkinson's disease". Movement Disorders. 31 (9): 1366–1372. doi:10.1002/mds.26720. PMC 5053872. PMID 27430123.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Borkar N, Holm R, Yang M, Müllertz A, Mu H (November 2016). "In vivo evaluation of lipid-based formulations for oral delivery of apomorphine and its diester prodrugs". International Journal of Pharmaceutics. 513 (1–2): 211–217. doi:10.1016/j.ijpharm.2016.09.024. PMID 27615708.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Netsomboon K, Partenhauser A, Rohrer J, Elli Sündermann N, Prüfert F, Suchaoin W, et al. (Desember 2016). "Preactivated thiomers for intranasal delivery of apomorphine: In vitro and in vivo evaluation". European Journal of Pharmaceutics and Biopharmaceutics. 109: 35–42. doi:10.1016/j.ejpb.2016.09.004. PMID 27615996.
- ↑ Kapoor R, Turjanski N, Frankel J, Kleedorfer B, Lees A, Stern G, et al. (November 1990). "Intranasal apomorphine: a new treatment in Parkinson's disease". Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry. 53 (11): 1015. doi:10.1136/jnnp.53.11.1015. PMC 488291. PMID 2283516.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sam E, Jeanjean AP, Maloteaux JM, Verbeke N (Maret 1995). "Apomorphine pharmacokinetics in parkinsonism after intranasal and subcutaneous application". European Journal of Drug Metabolism and Pharmacokinetics. 20 (1): 27–33. doi:10.1007/BF03192285. PMID 7588990. S2CID 7126130.
- ↑ Ikechukwu Ugwoke M, Kaufmann G, Verbeke N, Kinget R (Juli 2000). "Intranasal bioavailability of apomorphine from carboxymethylcellulose-based drug delivery systems". International Journal of Pharmaceutics. 202 (1–2): 125–131. doi:10.1016/S0378-5173(00)00434-8. PMID 10915935.
- ↑ Grosset KA, Malek N, Morgan F, Grosset DG (September 2013). "Inhaled dry powder apomorphine (VR040) for 'off' periods in Parkinson's disease: an in-clinic double-blind dose ranging study". Acta Neurologica Scandinavica. 128 (3): 166–171. doi:10.1111/ane.12107. PMID 23527823. S2CID 22189634.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Priano L, Albani G, Brioschi A, Calderoni S, Lopiano L, Rizzone M, et al. (Agustus 2004). "Transdermal apomorphine permeation from microemulsions: a new treatment in Parkinson's disease". Movement Disorders. 19 (8): 937–942. doi:10.1002/mds.20054. hdl:2318/41858. PMID 15300660. S2CID 28397399.
- ↑ Van Laar T, Jansen EN, Essink AW, Rutten WJ, Neef C (Agustus 1992). "Rectal apomorphine: a new treatment modality in Parkinson's disease". Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry. 55 (8): 737–738. doi:10.1136/jnnp.55.8.737-a. PMC 489221. PMID 1527553.
- ↑ van Laar T, Jansen EN, Neef C, Danhof M, Roos RA (Juli 1995). "Pharmacokinetics and clinical efficacy of rectal apomorphine in patients with Parkinson's disease: a study of five different suppositories". Movement Disorders. 10 (4): 433–439. doi:10.1002/mds.870100405. PMID 7565822. S2CID 30947265.
- ↑ Itin C, Komargodski R, Barasch D, Domb AJ, Hoffman A (April 2021). "Prolonged Delivery of Apomorphine Through the Buccal Mucosa, Towards a Noninvasive Sustained Administration Method in Parkinson's Disease: In Vivo Investigations in Pigs". Journal of Pharmaceutical Sciences. 110 (4): 1824–1833. Bibcode:2021JPhmS.110.1824I. doi:10.1016/j.xphs.2020.12.010. ISSN 0022-3549. PMID 33333142. S2CID 229317834.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Itin C, Komargodski R, Domb AJ, Hoffman A (September 2020). "Controlled Delivery of Apomorphine Through Buccal Mucosa, Towards a Noninvasive Administration Method in Parkinson's Disease: A Preclinical Mechanistic Study". Journal of Pharmaceutical Sciences. 109 (9): 2729–2734. Bibcode:2020JPhmS.109.2729I. doi:10.1016/j.xphs.2020.05.017. PMID 32497595. S2CID 219331493.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Li GL, de Vries JJ, van Steeg TJ, van den Bussche H, Maas HJ, Reeuwijk HJ, et al. (Januari 2005). "Transdermal iontophoretic delivery of apomorphine in patients improved by surfactant formulation pretreatment". Journal of Controlled Release. 101 (1–3): 199–208. doi:10.1016/j.jconrel.2004.09.011. PMID 15588905.
- 1 2 3 4 Bill RL (2016). Clinical Pharmacology and Therapeutics for Veterinary Technicians – E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 94. ISBN 978-0-323-44402-6.
- ↑ Khan SN, Hooser SB (2012). Common Toxicologic Issues in Small Animals, an Issue of Veterinary Clinics: Small Animal Practice – E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 310. ISBN 978-1-4557-4325-4.
- ↑ Plumb DC (2011). "Apomorphine". Plumb's Veterinary Drug Handbook (Edisi 7th). Stockholm, Wisconsin: Wiley. hlm. 77–79. ISBN 978-0-470-95964-0.
- ↑ Peterson ME, Talcott PA (2006). Small Animal Toxicology. Elsevier Health Sciences. hlm. 131. ISBN 978-0-7216-0639-2.
Templat:Antiparkinson Templat:Drugs for erectile dysfunction and PE Templat:Hallucinogens Templat:Adrenergic receptor modulators Templat:Dopamine receptor modulators Templat:Serotonin receptor modulators
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |