| Pengenal | |
|---|---|
| |
| Nomor CAS | |
| PubChem CID | |
| ChemSpider | |
| UNII | |
| ChEBI | |
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C17H17N |
| Massa molar | 235,33 g·mol−1 |
| Model 3D (JSmol) | |
| |
| |
Aporfina adalah alkaloid dengan rumus kimia C17H17N. Senyawa ini merupakan substruktur kimia inti dari alkaloid aporfina, yaitu suatu subkelas alkaloid kuinolina. Senyawa ini dapat hadir dalam dua bentuk enantiomer, yaitu (R)-aporfina dan (S)-aporfina.
Turunan
Berbagai turunan aporfina telah diisolasi dari tumbuhan.[1] Sebagai contoh, banyak jenis teratai (spesies Nymphaea) menghasilkan alkaloid aporfina seperti nuciferine, nimfaeina, nimfalina, nufarina, serta α- dan β-nufaridina.[2]
Dalam pengujian in vitro, beberapa turunan aporfina yang diisolasi dari Cassytha filiformis—yaitu aktinodafnina, cassythine, dan disentrina—menunjukkan aktivitas antiparasit terhadap Trypanosoma brucei. Penyelidikan mengenai mekanisme kerjanya mengungkapkan bahwa senyawa-senyawa tersebut berikatan dengan DNA dan bertindak sebagai agen interkalasi, selain juga menghambat aktivitas topoisomerase.[3]
Produk alami aporfina dapat ditemukan dalam bentuk isomer (R) atau (S), ataupun sebagai senyawa akiral. Selain itu, produk alami berbasis morfin dapat dipanaskan dalam suasana asam untuk menghasilkan produk degradasi aporfina; salah satu contohnya adalah apomorfin, obat penyakit Parkinson yang disetujui FDA, yang pertama kali ditemukan oleh kimiawan Finlandia Adolf Edvard Arppe pada tahun 1845.[4]

Apomorfin
Saat ini, apomorfin digunakan dalam pengobatan penyakit Parkinson. Senyawa ini merupakan emetik (pemicu muntah) yang kuat dan biasanya diberikan bersamaan dengan obat antiemetik seperti domperidon. Apomorfin juga digunakan dalam kedokteran hewan untuk memicu muntah terapeutik pada anjing yang baru saja menelan zat beracun atau benda asing.[5]
Efek
Aporfina adalah kerangka kimia aktif terhadap dopamin yang enantiomernya dapat bertindak sebagai agonis atau antagonis terhadap reseptor D1 dan reseptor D2, bergantung pada strukturnya.[6] Pada hewan pengerat, pemberian aporfina terbukti mengaktifkan ekspresi gen, khususnya di nukleus hipotalamus, yang menghasilkan perilaku stereotipikal berupa ereksi dan menguap. Pada manusia, aporfina menyebabkan ereksi non-seksual yang diperkuat oleh rangsangan erotis tanpa mengubah libido, namun efek samping yang signifikan dapat terjadi. Formulasi sublingual aporfina dosis 2–4 mg dengan onset kerja cepat telah dikembangkan dan terbukti efektif pada pasien disfungsi ereksi yang menderita diabetes melitus, hipertensi, hiperplasia prostat jinak, atau penyakit arteri koroner yang terkontrol.[7]
Sintesis
Aporfina dan turunannya dapat diperoleh melalui berbagai metode sintesis. Beberapa produk alami, termasuk analog semisintetik yang tergolong dalam kelas aporfina, telah berhasil disintesis. Senyawa-senyawa tersebut meliputi apomorfin oleh Neumeyer[8] dan Raminelli,[9] pukateina oleh Happel,[10] isokoridina oleh Di,[11] nuciferine dan oliverolina oleh Cuny,[12][13] glausina oleh Meyers,[14] disentrina oleh Cava,[15] serta lisikamina oleh Raminelli.[16]
Toksisitas
Sebagian besar alkaloid aporfina bersifat toksik dan umumnya menunjukkan efek antagonis terhadap dopamin. Banyak di antaranya memiliki aktivitas antikonvulsan atau justru memicu kejang pada hewan akibat aktivitas sitotoksik.[17]
Beberapa alkaloid aporfina (seperti krebanina) diketahui memiliki aktivitas aritmik dan tingkat toksisitas yang lebih tinggi. Dalam sebuah penelitian, sejumlah turunan target dievaluasi potensi antiaritmianya menggunakan model tikus dengan fibrilasi ventrikel. Pada penelitian ini, dilakukan analisis awal mengenai hubungan struktur-aktivitas/toksisitas. Di antara turunan target tersebut, produk krebanina dengan substitusi bromo tertentu menunjukkan aktivitas antiaritmia yang signifikan serta toksisitas yang lebih rendah. Pada sejumlah besar tikus, produk ini menyebabkan penurunan kejadian fibrilasi ventrikel (VF), peningkatan pemulihan irama sinus dari aritmia, dan peningkatan kemampuan mempertahankan irama sinus. Hasil dari penelitian terbatas ini mengindikasikan bahwa alkaloid aporfina spesifik tersebut dapat dianggap sebagai kandidat yang menjanjikan dalam pengobatan aritmia.[18]
Farmakologi
Farmakodinamika
Menurut Kantor Paten dan Merek Dagang AS (USPTO), turunan aporfina dapat mengobati penyakit yang disebabkan oleh stres oksidatif. Secara khusus, senyawa ini menghambat peroksidase lipid dan melakukan aktivitas penangkapan radikal bebas, sehingga memberikan efek perlindungan pada sel endotelium. Hal ini mengurangi stres oksidatif yang dapat memicu penyakit seperti penyakit kardiovaskular, penyakit Alzheimer, gagal ginjal, diabetes melitus, kanker, dan lain sebagainya.[19]
Alkaloid aporfina yang terdapat dalam Litsea glutinosa—tumbuhan tropis dengan sifat antioksidan dan antiparasit—diklaim berkontribusi terhadap aktivitas antikanker. Penelitian telah menunjukkan adanya efek antiproliferatif dan sitotoksik dari ekstrak Litsea glutinosa yang mengandung aporfina.[20]
(R)-Aporfina merupakan antagonis reseptor dopamin reseptor dopamin D1 dengan nilai Ki sebesar 717 nM[21] dan antagonis reseptor dopamin D2 dengan nilai Ki sebesar 527 nM.[22] Aporfina dan alkaloid terkaitnya; seperti bulbokapnina, boldina, glausina, dan korituberina; memiliki sifat antipsikotik, menunjukkan aktivitas antinosisepsi yang dapat dibalikkan oleh nalokson, serta bersifat antikonvulsan (kecuali korituberina).[23] Beberapa turunan aporfina seperti (S)-(+)-N-propilnorapomorfin berpotensi menjadi antipsikotik dengan profil efek samping yang rendah. (S)-(+)-N-Propilnorapomorfin sangat selektif terhadap jalur dopaminergik meso-limbik dan berfungsi sebagai agonis parsial yang efektif, tanpa menyebabkan peningkatan kadar prolaktin.[24]
Senyawa golongan aporfina—antara lain nuciferine, disentrina, isolaurelina, dan krebanina—bertindak sebagai antagonis atau agonis parsial yang sangat lemah terhadap reseptor serotonin 5-HT2A dan/atau 5-HT2C.[25][26][27][28] Namun, glausina merupakan pengecualian karena menunjukkan aktivitas agonisme reseptor serotonin 5-HT2A dengan efikasi yang lebih tinggi.[26]
Farmakokinetika
Aporfina mengalami hidroksilasi di dalam tubuh untuk membentuk apomorfin.[29]
Efek psikoaktif
Spesies teratai (Nymphaea), khususnya Nymphaea caerulea, mengandung alkaloid aporfina dan dimanfaatkan dalam berbagai konteks.[30] Ekstrak tumbuhan ini dilaporkan dapat menimbulkan euforia dan halusinasi jika dikonsumsi atau diisap dalam dosis tinggi. Dikenal luas sebagai "teratai biru", Nymphaea caerulea tersedia dalam berbagai bentuk termasuk bahan tumbuhan kering, teh, dan ekstrak untuk rokok elektrik. Efek psikoaktif bunga ini dikaitkan dengan dua alkaloid aporfina: apomorfin dan nuciferine. Senyawa-senyawa ini memiliki efek campuran terhadap reseptor serotonin dan dopamin.[31]
Selain Nymphaea caerulea'", Nelumbo nucifera (seroja)—anggota genus Nelumbo—mengandung alkaloid aporfina seperti nuciferine.[32] [33]
Efek pada hewan
Belum ada penelitian mengenai aporfina pada hewan. Namun, penelitian mengenai injeksi subkutan apomorfin—bentuk bioaktif dari aporfina—telah dilakukan. Dalam sebuah studi selama 5 hari, mencit diberikan apomorfin secara subkutan dengan dosis hingga 10 mg/kg setiap harinya. Tidak ditemukan efek samping selain sedikit peningkatan kadar dopamin.[34] Perlu dicatat bahwa apomorfin digunakan di klinik hewan sebagai emetik (pemicu muntah) karena efek samping di luar target yang kuat, yang menyebabkan muntah.[35]
Dalam studi lain, dilakukan penyelidikan mengenai apakah suntikan sistemik apomorfin dan turunan oksidasinya yakni 8-okso-apomorfin-semikuinon (8-OASQ) dapat menyebabkan kerusakan DNA pada otak mencit menggunakan metode single-cell gel assay. 8-OASQ menyebabkan kerusakan DNA di otak pada jam ke-1 dan ke-3, namun tidak pada jam ke-24 setelah perlakuan; sementara itu, apomorfin menyebabkan sedikit peningkatan frekuensi kerusakan DNA otak pada jam ke-3 setelah perlakuan. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua senyawa tersebut menunjukkan aktivitas genotoksik pada jaringan otak.[36]
Galeri
- Model space-filling 3D (R)-aporfina yang berotasi pada sumbu-y
- Model space-filling 3D (S)-aporfina yang berotasi pada sumbu-y
Lihat juga
- Anonaina
- Liriodenina
- Magnoflorina
- Nantenina
- Nuciferina
- Noraporfina
Referensi
- ↑ Stévigny C, Bailly C, Quetin-Leclercq J (Maret 2005). "Cytotoxic and antitumor potentialities of aporphinoid alkaloids". Current Medicinal Chemistry. Anti-Cancer Agents. 5 (2): 173–182. doi:10.2174/1568011053174864. hdl:2078.1/10136. PMID 15777224.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Oliver-Bever B (Januari 1983). "Medicinal plants in tropical West Africa. II. Plants acting on the nervous system". Journal of Ethnopharmacology. 7 (1): 1–93. doi:10.1016/0378-8741(83)90082-X. PMID 6132025.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Hoet S, Stévigny C, Block S, Opperdoes F, Colson P, Baldeyrou B, et al. (Mei 2004). "Alkaloids from Cassytha filiformis and related aporphines: antitrypanosomal activity, cytotoxicity, and interaction with DNA and topoisomerases". Planta Medica. 70 (5): 407–413. Bibcode:2004PlMed..70..407.. doi:10.1055/s-2004-818967. PMID 15124084.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Auffret M, Drapier S, Vérin M (Juni 2018). "The Many Faces of Apomorphine: Lessons from the Past and Challenges for the Future". Drugs in R&D. 18 (2): 91–107. doi:10.1007/s40268-018-0230-3. PMC 5995787. PMID 29546602.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Guardia J, Casas M, Prat G, Trujols J, Segura L, Sánchez-Turet M (Oktober 2002). "The apomorphine test: a biological marker for heroin dependence disorder?". Addiction Biology. 7 (4): 421–426. doi:10.1080/1355621021000006206. PMID 14578019.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Goldman ME, Kebabian JW (Januari 1984). "Aporphine enantiomers. Interactions with D-1 and D-2 dopamine receptors". Molecular Pharmacology. 25 (1): 18–23. doi:10.1016/S0026-895X(25)14947-X. PMID 6231468.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Anastasiadis AG, Droggin D, Davis AR, Salomon L, Shabsigh R (Januari 2004). "Male and Female Sexual Dysfunction: Epidemiology, Pathophysiology, Classifications, and Treatment.". Principles of Gender-Specific Medicine: Aporphine SL. Academic Press. hlm. 573–585. doi:10.1016/B978-012440905-7/50321-2. ISBN 978-0-12-440905-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Neumeyer JL, Neustadt BR, Oh KH, Weinhardt KK, Boyce CB, Rosenberg FJ, Teiger DG (November 1973). "Aporphines. 8. Total synthesis and pharmacological evaluation of (plus or minus)-apomorphine, (plus or minus)-apocodeine, (plus or minus)-N-n-propylnorapomorphine, and (plus or minus)-N-n-propylnorapocodeine". Journal of Medicinal Chemistry. 16 (11): 1223–1228. doi:10.1021/jm00269a601. PMID 4201182.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Muraca AC, Perecim GP, Rodrigues A, Raminelli C (2017-06-20). "Convergent Total Synthesis of (±)-Apomorphine via Benzyne Chemistry: Insights into the Mechanisms Involved in the Key Step". Synthesis. 49 (16): 3546–3557. doi:10.1055/s-0036-1588855.
- ↑ Zymalkowski F, Happel KH (September 1969). "Die Totalsynthese von (±)-Pukatein" [The total synthesis of (plus minus)-pukatein]. Chemische Berichte (dalam bahasa Jerman). 102 (9): 2959–2966. doi:10.1002/cber.19691020910. PMID 5806148.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Zhong M, Jiang Y, Chen Y, Yan Q, Liu J, Di D (2015-11-01). "Asymmetric total synthesis of (S)-isocorydine". Tetrahedron: Asymmetry. 26 (20): 1145–1149. doi:10.1016/j.tetasy.2015.09.008.
- ↑ Cuny GD (2004-02-10). "Intramolecular ortho-Arylation of Phenols Utilized in the Synthesis of the Aporphine Alkaloids (.+-.)-Lirinidine and (.+-.)-Nuciferine". ChemInform. 35 (6) chin.200406170. doi:10.1002/chin.200406170.
- ↑ Ku AF, Cuny GD (Maret 2015). "Synthetic studies of 7-oxygenated aporphine alkaloids: preparation of (-)-oliveroline, (-)-nornuciferidine, and derivatives". Organic Letters. 17 (5): 1134–1137. doi:10.1021/acs.orglett.5b00007. PMID 25710592.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Gottlieb L, Meyers AI (Oktober 1990). "An asymmetric synthesis of aporphine and related alkaloids via chiral formamidines. (+)-glaucine, (+)-homoglaucine, and (-)-8,9-didemethoxythalisopavine". The Journal of Organic Chemistry. 55 (21): 5659–5662. doi:10.1021/jo00308a029.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Cava MP, Stern P, Wakisaka K (1973-01-01). "An improved photochemical aporphine synthesis: New syntheses of dicentrine and cassameridine". Tetrahedron. 29 (15): 2245–2249. doi:10.1016/S0040-4020(01)93344-7.
- ↑ Rossini AF, Muraca AC, Casagrande GA, Raminelli C (Oktober 2015). "Total Syntheses of Aporphine Alkaloids via Benzyne Chemistry: An Approach to the Formation of Aporphine Cores". The Journal of Organic Chemistry. 80 (20): 10033–10040. doi:10.1021/acs.joc.5b01634. PMID 26375603.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wu YC (2006). "New Research and Development on the Formosan Annonaceous Plants". Studies in Natural Products Chemistry. 33: 957–1023. doi:10.1016/S1572-5995(06)80044-X. ISBN 978-0-444-52717-2.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link) - ↑ US EPA National Center for Environmental Assessment (2009-03-15). "Synthesis and Structure-Activity Relationships of a Series of Aporphine Derivatives with Antiarrhythmic Activities and Acute Toxicity". hero.epa.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-03-17.
- ↑ "Broad US patent issued to Dyadic International". Focus on Catalysts. 2012 (11): 7. November 2012. doi:10.1016/s1351-4180(12)70458-0.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Chawra HS, Gupta G, Singh SK, Pathak S, Rawat S, Mishra A, Gilhotra RM (2021-11-30). "Phytochemical constituents, Ethno medicinal properties and Applications of Plant: Litsea glutinosa (Lour.) C.B. Robinson (Lauraceae)". Research Journal of Pharmacy and Technology: 6113–6118. doi:10.52711/0974-360x.2021.01062.
- ↑ Hedberg MH, Linnanen T, Jansen JM, Nordvall G, Hjorth S, Unelius L, Johansson AM (Agustus 1996). "11-substituted (R)-aporphines: synthesis, pharmacology, and modeling of D2A and 5-HT1A receptor interactions". Journal of Medicinal Chemistry. 39 (18): 3503–3513. doi:10.1021/jm960189i. PMID 8784448.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Linnanen T, Brisander M, Unelius L, Rosqvist S, Nordvall G, Hacksell U, Johansson AM (April 2001). "Atropisomeric derivatives of 2',6'-disubstituted (R)-11-phenylaporphine: selective serotonin 5-HT(7) receptor antagonists". Journal of Medicinal Chemistry. 44 (9): 1337–1340. doi:10.1021/jm0108505. PMID 11311055.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Zetler G (1988). "Neuroleptic-like, anticonvulsant and antinociceptive effects of aporphine alkaloids: bulbocapnine, corytuberine, boldine and glaucine". Archives Internationales de Pharmacodynamie et de Therapie. 296: 255–281. OCLC 116025867. PMID 2907279.
- ↑ Baldessarini RJ, Campbell A, Ben-Jonathan N, Ellingboe J, Zong R, Neumeyer JL (Agustus 1994). "Effects of aporphine isomers on rat prolactin". Neuroscience Letters. 176 (2): 269–271. doi:10.1016/0304-3940(94)90098-1. PMID 7830962.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Farrell MS, McCorvy JD, Huang XP, Urban DJ, White KL, Giguere PM, Doak AK, Bernstein AI, Stout KA, Park SM, Rodriguiz RM, Gray BW, Hyatt WS, Norwood AP, Webster KA, Gannon BM, Miller GW, Porter JH, Shoichet BK, Fantegrossi WE, Wetsel WC, Roth BL (2016). "In Vitro and In Vivo Characterization of the Alkaloid Nuciferine". PLOS ONE. 11 (3) e0150602. Bibcode:2016PLoSO..1150602F. doi:10.1371/journal.pone.0150602. PMC 4786259. PMID 26963248.
- 1 2 Heng HL, Chee CF, Thy CK, Tee JT, Chin SP, Herr DR, Buckle MJ, Paterson IC, Doughty SW, Abd Rahman N, Chung LY (Februari 2019). "In vitro functional evaluation of isolaureline, dicentrine and glaucine enantiomers at 5-HT2 and α1 receptors". Chem Biol Drug Des. 93 (2): 132–138. doi:10.1111/cbdd.13390. PMID 30216681.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Peng Y, Zhao S, Wu Y, Cao H, Xu Y, Liu X, Shui W, Cheng J, Zhao S, Shen L, Ma J, Quinn RJ, Stevens RC, Zhong G, Liu ZJ (2018). "Identification of natural products as novel ligands for the human 5-HT2C receptor". Biophys Rep. 4 (1): 50–61. doi:10.1007/s41048-018-0047-1. PMC 5860131. PMID 29577069.
- ↑ Chaudhary S, Ponnala S, Legendre O, Gonzales JA, Navarro HA, Harding WW (Oktober 2011). "New aporphinoid 5-HT2A and α1A antagonists via structural manipulations of nantenine". Bioorg Med Chem. 19 (19): 5861–5868. doi:10.1016/j.bmc.2011.08.019. PMC 3196372. PMID 21900013. However, homologation did not improve the antagonist activity. In fact in the case of 6c, this compound had weak agonist activity (19% of 5-HT Emax). Next we decided to investigate other cycloalkyloxy analogs. The cyclohexylmethyloxy analog (6g) showed moderate activity, albeit 25-fold lower than the cyclopropyloxy analog. Other cycloalkyloxy derivatives tested showed weak agonist activity (25% and 35% of 5-HT Emax for 6e and 6f, respectively).
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bertol E, Fineschi V, Karch SB, Mari F, Riezzo I (Februari 2004). "Nymphaea cults in ancient Egypt and the New World: a lesson in empirical pharmacology". Journal of the Royal Society of Medicine. 97 (2): 84–85. doi:10.1177/014107680409700214. PMC 1079300. PMID 14749409.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Seligman S (2023-01-13). "Blue Lotus Flower: Smoking, Tea & More". DoubleBlind Mag (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-01-19.
- ↑ Schimpf M, Ulmer T, Hiller H, Barbuto AF (Agustus 2021). "Toxicity From Blue Lotus (Nymphaea caerulea) After Ingestion or Inhalation: A Case Series". Military Medicine. 188 (7–8): e2689–e2692. doi:10.1093/milmed/usab328. PMID 34345890.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Liu CM, Kao CL, Wu HM, Li WJ, Huang CT, Li HT, Chen CY (November 2014). "Antioxidant and Antiproliferative Activities of *Nelumbo nucifera* Gaertn. Stamen Extract". Molecules. 19 (11): 17829–17852. doi:10.3390/molecules191117829. PMC 6271390. PMID 25372397.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ren X, Chen H, Wang H, Wang Y, Huang C, Pan H (September 15, 2024). "Neuropharmacological effects of nuciferine from Nelumbo nucifera: A comprehensive review". Journal of Ethnopharmacology. 331. doi:10.1016/j.jep.2024.118262.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Grünblatt E, Mandel S, Berkuzki T, Youdim MB (Juli 1999). "Apomorphine protects against MPTP-induced neurotoxicity in mice". Movement Disorders. 14 (4): 612–618. doi:10.1002/1531-8257(199907)14:4<612::aid-mds1010>3.0.co;2-6. PMID 10435498.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Scott KA, Qureshi MH, Cox PB, Marshall CM, Bellaire BC, Wilcox M, et al. (Desember 2020). "A Structural Analysis of the FDA Green Book-Approved Veterinary Drugs and Roles in Human Medicine". Journal of Medicinal Chemistry. 63 (24): 15449–15482. doi:10.1021/acs.jmedchem.0c01502. PMID 33125236.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Picada JN, Flores DG, Zettler CG, Marroni NP, Roesler R, Henriques JA (Mei 2003). "DNA damage in brain cells of mice treated with an oxidized form of apomorphine". Brain Research. Molecular Brain Research. 114 (1): 80–85. doi:10.1016/s0169-328x(03)00127-x. PMID 12782396.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)