Selasa, 13 Oktober 2026
07:13 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Kesultanan Pontianak

Kesultanan Pontianak

kerajaan di Asia Tenggara

Bagikan:
Kesultanan Kadriyah Pontianak
کسلطانن قدريه ڤونتيانق
1771–1950
Bendera Kesultanan Pontianak
Bendera
Lambang Kesultanan Pontianak
Lambang
Wilayah Zelfbestuur (Swapraja) di Kalimantan Barat dan Tengah, termasuk Kesultanan Pontianak, pada tahun 1941.
Wilayah Zelfbestuur (Swapraja) di Kalimantan Barat dan Tengah, termasuk Kesultanan Pontianak, pada tahun 1941.
StatusBagian dari Hindia Belanda (sejak 1779)
Ibu kotaKota Pontianak
Bahasa umumMelayu (sebagai bahasa perdagangan),
Melayu Pontianak (dominan)
Agama Islam
PemerintahanMonarki Kesultanan
Sultan 
• 1778-1808
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
• 1945-1978
Sultan Syarif Hamid II Alkadrie
• 2017-Sekarang
Sultan Syarif Machmud Melvin Alkadrie
Sejarah 
• Didirikan
1771
• Menjadi bawahan VOC kemudian Belanda
1779
1944
1947
• Bergabung dengan Indonesia
1950
Didahului olehDigantikan oleh
krjKerajaan
Tanjungpura
krjKerajaan
Mempawah
krjKerajaan
Sukadana
Republik Indonesia
Sekarang bagian dariKota Pontianak, Kalimantan Barat
Sebagian Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat
Sebagian Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

Kesultanan Pontianak, atau Kesultanan Kadriyah Pontianak adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang didirikan pada tahun 1771 oleh Sultan Aburrahman Bin Husein Bin Ahmad Alkadri di daerah muara simpang tiga Sungai Kapuas kecil dan sungai landak yang termasuk kawasan yang diserahkan Sultan Banten kepada VOC Belanda. Ia melakukan dua pernikahan politik di Kalimantan, pertama dengan putri dari Kerajaan Mempawah, Utin Chandramidi, dan kedua pada tahun 1768 dengan Ratu Syahranum (Ratoe Sarib Anom) dari Kesultanan Banjar (putri atau saudara dari Sultan Saat/Sulaiman Saidullah 01), sehingga ia dianugerahi gelar Pangeran Nur Alam.[1][2][3][4][5][6] Setelah Habib Husein, ayah Syarif Abdurrahman, wafat di Mempawah pada tahun 1771, mereka memutuskan mencari wilayah baru dan mendapatkan tempat di Pontianak, kemudian mendirikan Istana Kadriyah dan mendapatkan pengesahan sebagai Sultan Pontianak pada tahun 1778.

Sejarah

Pendirian

Kesultanan Pontianak didirikan pada tanggal 23 Oktober 1771.[7] Pendirinya adalah seorang putra ulama keturunan Arab dari Kerajaan Mempawah yang bernama Syarif Abdurrahman Alkadrie. Pendirian Kesultanan Pontianak ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami Pontianak (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariyah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Masa kolonial

330px-Keraton.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Istana Kadriyah di Pontianak, istana tempat tinggal para sultan dan pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak .
250px-Surat_Sri_Paduka_Sultan_Sayyid_Syarif_Usman_dari_Pontianak.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Surat Sultan Syarif Usman kepada Komisaris Jenderal VOC Van der Capellen (1823)

Pada tahun 1778, kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin oleh Willem Ardinpalm. Sultan memberikan izin kepada Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal. Palm kemudian digantikan oleh Wolter Markus Stuart yang bertindak sebagai Resident van Borneo’s Wester Afdeling I (1779-1784) dengan kedudukan di Pontianak. Semula, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie menolak tawaran kerjasama dengan negeri asing dari Eropa itu. Namun setelah utusan itu datang untuk kedua kalinya, Syarif menerima Belanda sebagai rekan persemakmuran dengan tangan terbuka.

Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk Tanah Seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda yang kemudian menjadi kedudukan pemerintahan Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Barat) dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asisten Residen Kepala Daerah Kabupaten Pontianak). Area ini selanjutnya menjadi Controleur het Hoofd Onderafdeeling van Pontianak atau Hoofd Plaatselijk Bestuur van Pontianak.

Pada tahun 1808, Sultan Syarif Abdurrahman wafat. Dia dimakamkan di Batu Layang, Pontianak. Selanjutnya, Syarif Kasim Alkadrie (1808-1819) naik takhta menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya. Di bawah kekuasaan Sultan Syarif Kasim, Kesultanan Pontianak semakin mempererat kerjasama dengan Kerajaan Belanda dan kemudian Kerajaan Inggris sejak tahun 1811.

Setelah Sultan Syarif Kasim wafat pada 25 Februari 1819, Syarif Usman Alkadrie (1819-1855) naik takhta sebagai Sultan Pontianak. Pada masa kekuasaan Sultan Syarif Usman, banyak kebijakan bermanfaat yang dikeluarkan olehnya, termasuk dengan meneruskan proyek pembangunan Masjid Jami’ pada 1821 dan perluasan Istana Kadriyah pada tahun 1855. Pada April 1855, Sultan Syarif Usman meletakkan jabatannya sebagai sultan dan kemudian wafat pada 1860.

Anak tertua Sultan Syarif Usman, Syarif Hamid Alkadrie (1855-1872), kemudian dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pada 12 April 1855. Dan ketika Sultan Syarif Hamid wafat pada 1872, putra tertuanya, Syarif Yusuf Alkadrie (1872-1895) naik takhta setelah beberapa bulan ayahandanya wafat. Sultan Syarif Yusuf dikenal sebagai satu-satunya sultan yang paling sedikit mencampuri urusan pemerintahan. Dia lebih aktif dalam bidang keagamaan, sekaligus merangkap sebagai penyebar agama Islam.

Pemerintahan Sultan Syarif Yusuf berakhir pada 15 Maret 1895. Dia digantikan oleh putranya, Syarif Muhammad Alkadrie (1895-1944) yang dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pada 6 Agustus 1895. Pada masa ini, hubungan kerjasama Kesultanan Pontianak dengan Belanda semakin erat dan kuat. Masa pemerintahan Sultan Syarif Muhammad merupakan masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah Kesultanan Pontianak. Ia sangat berperan dalam mendorong terjadinya pembaruan dan moderenisasi di Pontianak. Dalam bidang sosial dan kebudayaan, dia adalah sultan Melayu di Kalimantan Barat yang pertama kali berpakaian kebesaran Eropa di samping pakaian Melayu, Teluk Belanga, sebagai pakaian resmi. Dia juga orang yang menyokong majunya bidang pendidikan serta kesehatan. Selain itu, ia juga mendorong masuknya modal swasta Eropa dan Cina, serta mendukung bangsa Melayu dan Cina mengembangkan perkebunan karet, kelapa, dan kopra serta industri minyak kelapa di Pontianak. Sementara dalam aspek politik, Sultan memfasilitasi berdiri dan berkembangnya organisasi-organisasi politik, baik yang dilakukan oleh kerabat kesultanan maupun tokoh-tokoh masyarakat.

Masa pendudukan Jepang

Artikel utama: Peristiwa Mandor
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Ontvangst_bij_de_sultan_van_Pontianak_West-Borneo_TMnr_10001596.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sultan Syarif Muhammad Alkadrie dan para pejabat Hindia Belanda dan tamu undangan (sekitar tahun 1930).

Era kekuasaan Sultan Syarif Muhammad redup seketika seiring kedatangan bala tentara Kekaisaran Jepang ke Pontianak pada tahun 1942. Pada 24 Januari 1944, karena dianggap memberontak dan bersekutu dengan Belanda, Jepang menghancurkan Kesultanan Pontianak dan beberapa kesultanan-kesultanan Melayu di Kalimantan Barat.

Pihak Jepang sebenarnya sudah mencurigai bahwa di Kalimantan Barat terdapat komplotan-komplotan yang terdiri atas kaum cendekiawan, para bangsawan, raja, sultan, tokoh masyarakat, orang-orang Tionghoa, dan para pejabat. Sehingga mereka berinisiatif untuk menghancurkan mereka dengan penangkapan-penangkapan. Penangkapan-penangkapan tersebut terjadi antara September 1943 dan awal 1944. Tak hanya melakukan penangkapan-penangkapan, Jepang juga melakukan penyiksaan dan pembunuhan massal terhadap ribuan penduduk Pontianak dan sekitarnya. Pada 28 Juni 1944, Jepang menghabisi Sultan Syarif Muhammad beserta beberapa anggota keluarga dan kerabat kesultanan, pemuka adat, para cendekiawan, dan tokoh masyarakat Pontianak. Nasib sama juga menimpa para raja dan sultan lain serta masyarakat di Kalimantan Barat. Tragedi berdarah ini kemudian dikenal dengan sebutan Peristiwa Mandor. Pembunuhan Sultan Syarif Muhammad dan tindakan semena-mena Jepang inilah yang menjadi salah satu faktor utama terjadinya Perang Dayak Desa.

Jenazah Sultan Syarif Muhammad baru ditemukan pada 1946 oleh putranya yang bernama Syarif Hamid Alkadrie. Syarif Hamid bisa selamat dari genosida itu karena tidak sedang berada di Pontianak. Saat itu ia menjadi tawanan perang Jepang di Batavia sejak 1942 dan bebas pada 1945.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Ide_Anak_Agung_Gde_Agung_in_gesprek_met_Sultan_Hamid_II_van_Pontianak_TMnr_10018600.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sultan Syarif Hamid II Alkadrie dalam percakapan dengan Ida Anak Agung Gde Agung, Raja Gianyar (sekitar tahun 1949).

Syarif Hamid kembali ke Pontianak dan dinobatkan menjadi Sultan Pontianak (1945-1978) pada 29 Oktober 1945 dengan gelar Sultan Syarif Hamid II, atau lebih dikenal dengan nama Sultan Hamid II.

Setelah peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, atas prakarsa Sultan Hamid II inilah, Kesultanan Pontianak dan kesultanan-kesultanan Melayu di Kalimantan Barat bergabung dengan Republik Indonesia Serikat. Pada masa itu Sultan Hamid II menjabat sebagai Presiden Negara Kalimantan Barat (Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat) pada 1947-1950. Sultan Hamid II adalah perancang Lambang Negara Indonesia. Selain sebagai Ketua Perhimpunan Musyawarah Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg / BFO) pada tahun 1949, ia juga menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio di Kabinet Republik Indonesia Serikat.

Pada 28 Oktober 1946, Pemerintah Sipil Hindia Belanda sebagai Dewan Borneo Barat membentuk Daerah Istimewa Kalimantan Barat dan mendapat kedudukan sebagai Daerah Istimewa pada 12 Mei 1947. Daerah Istimewa Kalimantan Barat meliputi monarki-monarki (swapraja) di Kalimantan Barat, termasuk Kesultanan Pontianak. Saat itu Sultan Hamid II ditujuk sebagai Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat. Sebelum 5 April 1950, Daerah Istimewa Kalimantan Barat bergabung dengan Negara Republik Indonesia (RIS). Daerahnya kemudian menjadi bagian dari Provinsi Administratif Kalimantan. Setelah pembubaran Republik Indonesia Serikat pada 17 Agustus 1950, wilayah Kesultanan Pontianak menjadi bagian Provinsi Kalimantan Barat.

Setelah Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978, terjadi kekosongan jabatan sultan di keluarga Kesultanan Pontianak. Kekosongan jabatan itu bahkan berlangsung selama 25 tahun. Namun pada 15 Januari 2004, pihak bangsawan Istana Kadriyah mengangkat Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan Pontianak ke VIII. Jauh sebelumnya, tepatnya pada 29 Januari 2001 seorang bangsawan senior, Syarifah Khadijah Alkadrie binti Sultan Syarif Muhammad Alkadrie bin Sultan Syarif Yusuf Alkadrie, mengukuhkan Kerabat Muda Istana Kadriyah Kesultanan Pontianak. Kekerabatan ini bertujuan menjaga segala tradisi dan nilai budaya Melayu Pontianak, termasuk menghidupkan dan melestarikannya.

Daftar Sultan Pontianak

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_sultan_van_Pontianak_en_zijn_hofhouding_TMnr_60027158.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (berdiri di tengah) bersama para kerabat istana dan tamu undangan tampak mengenakan pakian adat Jawa, di beranda Istana Kadriyah, sekitar tahun 1920-1940.
250px-Souvereiniteitsoverdracht_aan_Indonesi%C3%AB_in_het_Koninklijk_Paleis_op_de_Dam.%2C_Bestanddeelnr_903-7680.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sultan Syarif Hamid II Alkadrie dan Perdana Menteri Mohammad Hatta ketika menghadiri upacara pengakuan kedaulatan Indonesia di Istana Dam, Amsterdam, Belanda, 27 Desember 1949.

Berikut adalah daftar para sultan yang pernah bertakhta dan memerintah Kesultanan Pontianak, sejak dilantiknya Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai sultan pada tahun 1778, masa VOC, masa Hindia Belanda, masa Pendudukan Jepang, hingga bergabungnya kesultanan dengan negara Indonesia.

Sultan-Sultan Kesultanan Kadriyah Pontianak
No Sultan Masa pemerintahan
1 Sultan Syarif Abdurrahman bin Hussein Alkadrie 1 September 1778 – 28 Februari 1808
2 Sultan Syarif Kasim bin Abdurrahman Alkadrie 28 Februari 1808 – 25 Februari 1819
3 Sultan Syarif Usman bin Abdurrahman Alkadrie[8] 25 Februari 1819 – 12 April 1855
4 Sultan Syarif Hamid I bin Usman Alkadrie 12 April 1855 – 22 Agustus 1872
5 Sultan Syarif Yusuf bin Hamid I Alkadrie 22 Agustus 1872 – 15 Maret 1895
6 Sultan Syarif Muhammad bin Yusuf Alkadrie 15 Maret 1895 – 24 Juni 1944[9][10]
7 Sultan Syarif Thaha Alkadire[11][12] 24 Juni 1944 – 29 Oktober 1945
8 Sultan Syarif Hamid II Alkadrie 29 Oktober 1945 – 30 Maret 1978
* Interregnum 30 Maret 1978 – 15 Januari 2004
9 Sultan Syarif Abubakar Alkadrie[13] 15 Januari 2004 – 31 Maret 2017
10 Sultan Syarif Machmud Melvin Alkadrie[14] 15 Juli 2017 – Kini

Nasab

Jalur silsilah
Adam آدم
Syits شيث
Anusy أنوش
Qinan قينان
Mahla-il مهلائيل
Al-Yarid يارد
Akhnuh خنوخ
(Idris)
Mattusyalekh متوشلخ
Lamik
Nuh نوح
Sam سام
Arfakhsyad أرفخشذ
Saleh شالح
'Abir عابر
(Hud)
Falikh فالج
Raghu رعو
Sarukh ساروغ
Nahur ناحور
Azar آزَر
Ibrahim إبراهيم
ISMAIL إسماعيل[15][16][17]
Nabit نابت
(Nabath)
Qidra قيدار
(Arab)
YashjubHaml
Ya'rub يعربBanat
Terah/Tarikhsalaman
Nahor/NaahurHumaisa
Muqawwam
Udad
'Add
Adnan عدنان
Ma'ad مَعْد
Nizar نزار
Mudhar مُضَرْ
Ilyas إلياس
Ilyas مدركة
Khuzaimah bin Mudrikah
Kinanah
An-Nadhar (Qais)
Malik مالك
Fihr فهر
(QURAISY)[18]
GhalibHarits bin Fihr bin Malik
Lu'ayTsa'labah bin Harits bin Fihr bin Malik
Ka'abSurair bin Tsa'labah bin Harits bin Fihr bin Malik
MurrahHindun binti Surair bin Tsa'labah bin Harits bin Fihr bin Malik
KilabFatimah binti Sad
QushayHubba binti Hulail
Waqidah binti AmrAbdu ManafĀtikah binti Murrah
NaufalAbdu SyamsBarrahHallahMuthalibHasyimSalma binti Amr[15][19]
UmayyahWahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin KilabAbdul Muthalib
HarbAbūl-ĀshAminahAbdullāhHamzahAbū ThālibZubairAbbāsAbū Lahab
Abū Sufyānal-ḤakamʿUtsmān IʿAffān1. MUHAMMAD[20]
(Silsilah)
KhadijahAli bin Abū ThālibKhaulah binti Ja'farAbdullāh bin Abbās
{{{#}}}
Muʿāwiyah IMarwān IZainab binti Muhammad Utsmān bin ʿAffānRuqayah
(Ummu Abdillah)
2. Fatimah az-Zahra[21]Muhammad bin al-Hanafiyah
(Kaisaniyah)
Ali bin Abdullāh
Bani UmayyahZaynabUmarUmmu KultsumHasan al-Mujtaba[22]3. Ḥusain[23] Zainab Abu HasyimImam Muhammad al-Kamil
Hafshah
(istri Muhammad)
Zaid Hasan al-Mutsanna4. Ali Zainal Abidin[24]IbrāhimMansurSaffāḥMusa
Abdullah al-Mahd al-Kamil5. Muhammad al-Baqir[25]Zaid bin Ali asy-Syahid
(Zaidiyah)
(Butriyah)
Bani Abbāsiyah
Muhammad an-Nafs az-Zakiya[26]Musa al-Jun6. Ja'far ash-Shadiq[27]
Abdullah as-Saleh7. Ali al-Uraidhi[28]Isma'il bin Ja'far al-Aaraj
(Ismailiyah)
Musa al-Kadzim[29]
Musa ats-Tsani8. Muhammad an-Naqib[30]Ali ar-Ridha[31][32]
Muhammad ats-Tsa'ir9. Isa ar-Rumi[33]Muhammad al-Jawad[34]
'Abdullah10. Ahmad al-Abah[35][36]Ali al-Hadi[37]
'Ali11. Ubaidillah bin Ahmad[38]Hasan al-Askari [39]
Sulaiman12. ♂ Alwi al-Awwal (Alawiyyin) Abi Sa'adah[40][41]Muhammad al-Mahdi
Husain13. Muhammad Maula Shama’ah[42]
'Isa14. Alwi ats-Tsani[43]
Abdul Karim15. Ali Khali' Qasam[44]
Mutha'in16. Muhammad Shahib Mirbath[45]
Idris17. Ali Walidil Faqihi / Ali Faqih Nuruddin
al-A'dham al-Faqih al-Muqaddam[46]
Alwi 'Ammul Faqihi[47]
Syarif Mekkah
Qatadah Abu 'Aziz
18. Muhammad al-Faqih Muqaddam
(+ 1232 M)[48]
Abdul-Malik AzmatkhanAbdullahAbdurrahman
'Ali19. Ali[49]Alwi al Ghayyur[50]Ahmad[51]
Hasan Abu Sa'ad20. Hasan al Turabi[52]Ali Maula Ad DarkAbdullah [53]
Muhammad Abu Numay I Najmuddin21. Muhammad Asadillah[54]Muhammad al-Mauladawilah[55]AliMuh.Shohib*Masjid*Magalib
Rumaitsah Abu Ridha Asaduddin22. Hasan Mu'allim[56]Abdurrahman Assegaf[57]AliAlwi
'Ajlan Abu Sarjah23. Muhammad al-Jamalullail[58]Abu Bakar As Sakran [59]
'Syarif Ali 24. Ali[60]Ali Shohib Al Wirid Al SakranAbdullah Al Idrus Al AkbarAhmad (l. Al-Musawa)[61]
Hasan II25. Abdurrahman[62]
Barakat I26. Ahmad [63]
Muhammad27. Salim[64]
Barakat II28. Muhammad[65]
Muhammad Abu Numay II29. Abdullah[66]
Hasan30. Salim
'Abdullah31. Muhammad al-Qadri
Husain32. Husain
'Abdullah33. Ahmad
Muhsin34. Habib Husain
'Awn35. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie dari Pontianak
'Abdul Mu'in36. Sultan Syarif Osman Alkadrie dari PontianakSultan Syarif Kasim Alkadrie dari Pontianak
Muhammad37. Sultan Syarif Abdul Hamid I Alkadrie dari Pontianak
Syarif 'Ali Bey38. Sultan Syarif Yusuf Alkadrie dari Pontianak
Syarif Husain 39. Sultan Syarif Muhammad Alkadrie dari Pontianak
Faisal I dari Irak Ali dari HejazAbdullah I dari Yordania40. Pangeran Agung Syarif Mahmud AlkadrieSultan Syarif Hamid II dari Pontianak
Ghazi I dari Irak Abd al-Ilah dari HejazTalal dari Yordania 41. Sultan Syarif Abubakar Alkadrie dari Pontianak
Faisal II dari Irak Hussein dari Yordania 42. Sultan Syarif Melvin Alkadrie dari Pontianak
Abdullah II dari Yordania43. Syarif .....
Hussein, Putra Mahkota Yordania44. Syarif .....

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (dalam bahasa Belanda). Vol. 3. 1855. hlm. 569.
  2. ↑ Kesatria khatulistiwa. hlm. 205.
  3. ↑ J. U. Lontaan (1985). Menjelajah Kalimantan. Baru. hlm. 294.
  4. ↑ Radermacher, Jacob Cornelis Matthieu (1826). Beschryving van het eiland Borneo, voor zoo verre het zelve, tot nu toe, bekend is (dalam bahasa Belanda) (Edisi 3). Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. hlm. 118.
  5. ↑ Radermacher, Jacob Cornelis Matthieu (1780). Beschryving van het eiland Borneo, voor zoo verre het zelve, tot nu toe, bekend is (dalam bahasa Belanda). Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen. hlm. 115.
  6. ↑ Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (dalam bahasa Belanda). Vol. 2. Egbert Heemen. 1780. hlm. 115.
  7. ↑ Nurcahyani, L., Sulistyorini, P., dan Hasanudin (1999). Kuswiah, Wiwi (ed.). Kota Pontianak sebagai Bandar Dagang di Jalur Sutra (PDF). Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hlm. 11. ISBN 979-9335-06-X.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ (Belanda) van Eysinga, Philippus Pieter Roorda (1841). Handboek der land- en volkenkunde, geschiedtaal-, aardrijks- en staatkunde von Nederlandsch Indie. Vol. 3. Van Bakkenes. hlm. 177.
  9. ↑ "Landsdrukkerij". Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1905, Tweede Gezeelte: Kalender en Personalia (dalam bahasa Belanda) (Edisi 2). Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1905. hlm. 288.
  10. ↑ "Landsdrukkerij". Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1914, Tweede Gezeelte: Kalender en Personalia (dalam bahasa Belanda) (Edisi 2). Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1914. hlm. 260.
  11. ↑ [ https://www.kalbariana.web.id/kronologi-sejarah-pemerintahan-kesultanan-pontianak]
  12. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-15. Diakses tanggal 2020-07-15.
  13. ↑ Kompas: SBY Dapat Gelar Datuk dari Kesultanan Kadriah Pontianak
  14. ↑ Jawa Pos: Mengintip Ritual Adat Penobatan Sultan Pontianak IX
  15. 1 2 https://yeshivainstitute.wordpress.com/2018/12/19/gematria-of-ishmael-in-the-torah-quran/
  16. ↑ https://yeshivainstitute.wordpress.com/2018/12/29/hagar-the-princess/
  17. ↑ https://yeshivainstitute.wordpress.com/2018/12/12/torahs-hidden-message-muhammad-%ef%b7%ba-and-jesus-%d8%b9-in-the-light-of-gematria-part-ii/
  18. ↑ https://www.familytreedna.com/public/Qurayishj1c3d?iframe=yresults
  19. ↑ https://yeshivainstitute.wordpress.com/2018/12/08/torahs-hidden-message-muhammad-%ef%b7%ba-and-jesus-%d8%b9-in-the-light-of-gematria/
  20. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d1.htm#g1
  21. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d2.htm#g2
  22. ↑ https://www.royalark.net/Arabia/mecca1.htm
  23. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d3.htm#g3
  24. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d4.htm#i22
  25. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d5.htm#i21
  26. ↑ https://www.royalark.net/Morocco/morocco2.htm
  27. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d6.htm#i20
  28. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d7.htm#i19
  29. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d7.htm#i440
  30. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d8.htm#i18
  31. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d8.htm#i564
  32. ↑ http://www.ezsoftech.com/stories/infallible10.asp
  33. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d9.htm#i17
  34. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d9.htm#i565
  35. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d10.htm#i16
  36. ↑ https://id.rodovid.org/wk/Orang:359674
  37. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d10.htm#i566
  38. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d11.htm#i15
  39. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d11.htm#i567
  40. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d12.htm#i14
  41. ↑ https://www.familytreedna.com/public/baalawi?iframe=yresults
  42. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d13.htm#i13
  43. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d14.htm#i12
  44. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d15.htm#i11
  45. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d16.htm#c81
  46. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d17.htm#i9
  47. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d17.htm#i81
  48. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d18.htm#i8
  49. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d19.htm#i82
  50. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d19.htm#i7
  51. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d19.htm#i415
  52. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d20.htm#i85
  53. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d20.htm#i84
  54. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d21.htm#i86
  55. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d21.htm#i5
  56. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d22.htm#i89
  57. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d22.htm#i4
  58. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d23.htm#i95
  59. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d23.htm#i3
  60. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d24.htm#i97
  61. ↑ https://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d24.htm#i2
  62. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d25.htm#i102
  63. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d26.htm#i103
  64. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d27.htm#i104
  65. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d28.htm#i105
  66. ↑ http://freepages.rootsweb.com/~naqobatulasyrof/family/main/des/d29.htm#i106

Pranala luar

Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Malaysia Timur dan Brunei
Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan