Minggu, 20 September 2026
18:09 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Orang Nabath

Orang Nabath

orang Arab yang menghuni Arabia utara dan Levant Selatan

Untuk nama di Alkitab yang kemungkinan merujuk ke suku ini, lihat Nebayot.
Arab people who inhabited northern Arabia and the Southern LevantTemplat:SHORTDESC:Arab people who inhabited northern Arabia and the Southern Levant
Bangsa Nabath
250px-Roman_Empire_125.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta dari Kekaisaran Romawi di bawah Hadrian (berkuasa 117–138 M), memperlihatkan lokasi Arabes Nabataei di daerah gurun sekitar provinsi Romawi dari Arabia Petraea
Bahasa
Agama
Kelompok etnik terkait
Arab

Bangsa Nabath (bahasa Arab Nabath: 𐢕𐢃𐢋𐢈, nbṭw, divokalisasi sebagai Nabāṭū) adalah bangsa Arab kuno yang mendiami Jazirah Arab utara dan Levant selatan.[1][2][3][4][5][6][7] Pemukiman mereka—yang paling menonjol adalah Raqmu (sekarang Petra, Yordania)[1] yang diperkirakan sebagai ibu kota mereka—memberikan nama Nabatene (bahasa Yunani Kuno:Ναβατηνή, translit. Nabatēnḗ) kepada daerah perbatasan Arab yang membentang dari Sungai Eufrat ke Laut Merah.

Bangsa Nabath muncul sebagai peradaban dan entitas politik yang unik antara abad ke-4 dan ke-2 SM,[8] dengan kerajaan ini berpusat di sekitar jaringan perdagangan yang dikontrol secara longgar yang membawa kekayaan dan pengaruh yang cukup besar di seluruh dunia kuno.

Dideskripsikan sebagai bangsa yang sangat independen oleh catatan Yunani-Romawi kontemporer, bangsa Nabataea dianeksasi ke dalam Kekaisaran Romawi oleh Kaisar Trajan pada tahun 106 M. Budaya individu bangsa Nabataea yang mudah dikenali dari ciri khas keramik yang dilukis dengan halus, diadopsi ke dalam budaya Yunani-Romawi yang lebih besar. Mereka kemudian memeluk agama Kristen selama Era Romawi Akhir. Jane Taylor menggambarkan mereka sebagai "salah satu bangsa yang paling berbakat di dunia kuno".[9]

Nama

Bentuk asli dari nama Nabataean adalah Nabaʾatu, yang dicatat dalam bahasa Akkadia Babilonia sebagai Nebaʾati, dan merupakan bentuk jamak faʿalatun yang "melenceng" dari nabī dari istilah bahasa Arab nabīʾu, yang berarti "orang terhormat". Nama Nabaʾatu ini mengalami dua evolusi utama, dengan penghilangan hamzah glotal berhenti menghasilkan bentuk Nabāṭu, dan penggantian hamzah dengan aproksimasi palatal bersuara yāʾ yang menghasilkan bentuk Nabayatu.[10]

Nama Nabataeans dicatat dalam sumber-sumber Akkadia sebagai Nebaʾati, Nabayate, Nabayati, Nabaitiya, Nabaitaya, Nabatua, dan Nabayati.

Dalam sumber-sumber Latin, nama orang Nabataea tercatat sebagai Nabataei.[11]

Sejarah

Suku Nabath membentuk Kerajaan Nabath yang berdiri sejak abad ke-9 SM hingga 40 M.[12] Suku Arab Nabath ini pernah dijajah oleh Romawi dan dijadikan bagian dari propinsi kekaisaran Romawi yang diberi nama Arabia Petraea. Nama Petra yang artinya batu ini diberikan oleh orang Roma yang menjajahnya pada tahun 106 SM. Kolonial oleh bangsa Romawi ini hanya berlangsung seabad. Sejak itu, denyut kehidupan di kota ini merosot, lalu hilang ditelan zaman. Petra ditemukan kembali oleh petualang asal Swiss, Johan Burckhardt pada tahun 1812, dan sejak itu, dunia pun mulai mengenalnya.

Bangsa Nabath juga mahir dalam berdagang dan mereka pernah memfasilitasi perdagangan antara bangsa-bangsa lain, seperti Cina, India, Timur jauh, Mesir, Suriah, Yunani dan Romawi kuno. Mereka menjual barang seperti rempah-rempah, kemenyan, emas, hewan, besi, tembaga, gula, obat-obatan, gading, parfum, kain, dan lain-lainnya. Dari asal-usulnya sebagai kota benteng, Petra menjadi persimpangan komersial yang kaya antara budaya Arab, Assyria, Mesir, Helenistik Yunani dan Romawi kuno. Tidak seperti masyarakat lain waktu mereka, tidak ada perbudakan di Nabath dan setiap anggota masyarakat memberikan kontribusi dalam tugas-tugas kerja.

Pengendalian rute perdagangan ini dianggap sangatlah penting, di antara daerah dataran tinggi Yordania, Laut Merah, Damaskus dan Arab bagian Selatan. Pada masa lampau rute perdagangan ini dianggap sebagai "darah kehidupan Kerajaan Nabath." Sebenarnya kawasan bangsa Nabath ini mencangkup kawasan yang sangat luas, mulai dari Madain Shaleh di Madinah, sampai kawasan Petra di Jordan dan Damsyik di Syiria. Namun rumah-rumah batu yang lebih menonjol dijadikan kawasan wisata itu adalah Petra di Jordan.

Peradaban mereka mengalami kemajuan antara tahun 400 SM dan 200 SM, dengan meninggalkan berbagai monumen, di antaranya wilayah pekuburan di atas bukit berbatu. Penulisan bahasa Nabath menggunakan abjad Nabath. Kaum Nabath adalah ahli dalam memahat dan mengukir batu-batu alam pegunungan yang berwarna merah. Mereka juga ahli membuat patung batu, di antaranya yang terkenal adalah Hubal.

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 "Nabataeans". livius.org. Diakses tanggal Agustus 31, 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. "Herod | Biography & Facts". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris).
  3. "Solving the Enigma of Petra and the Nabataeans - Biblical Archaeology Society". Biblical Archaeology Society. 6 April 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. Bowersock, Glen Warren (1994). Roman Arabia (dalam bahasa Inggris). Harvard University Press. ISBN 9780674777569.
  5. Catherwood, Christopher (2011). A Brief History of the Middle East (dalam bahasa Inggris). Little, Brown Book Group. ISBN 9781849018074.
  6. Incorporated, Facts On File (2009). Encyclopedia of the Peoples of Africa and the Middle East (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. ISBN 9781438126760.
  7. Hornblower, Simon; Spawforth, Antony; Eidinow, Esther (2012). The Oxford Classical Dictionary (dalam bahasa Inggris). OUP Oxford. ISBN 9780199545568.
  8. Taylor, Jane (2001). Petra and the Lost Kingdom of the Nabataeans. London: I.B.Tauris. pp. 14, 17, 30, 31. ISBN9781860645082. Retrieved 8 July 2016.
  9. Taylor, Jane (2001). Petra and the Lost Kingdom of the Nabataeans. London, United Kingdom: I.B.Tauris. hlm. centerfold, 14. ISBN 978-1-86064-508-2. The Nabataean Arabs, one of the most gifted peoples of the ancient world, are today known only for their hauntingly beautiful rock-carved capital — Petra.
  10. Lipiński 2000.
  11. Ephʿal 1984, hlm. 221-223.
  12. The Mysterious Nabateans

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan