Jumat, 30 Oktober 2026
09:59 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Silas Papare

Silas Papare

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Bagikan:
Ini adalah nama Papua, Serui, marganya adalah Papare
Silas Papare
250px-Silas_Papare%2C_Hasil_Rakjat_Memilih_Tokoh-tokoh_Parlemen_%28Hasil_Pemilihan_Umum_Pertama_-_1955%29_di_Republik_Indonesia%2C_p419.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Silas Papare, 1955
Ketua Umum Partai Kemerdekaan Indonesia Irian
Masa jabatan
1946–1962
Informasi pribadi
Lahir(1918-12-18)18 Desember 1918
Meninggal7 Maret 1978(1978-03-07) (umur 59)
Indonesia Jakarta, Indonesia[1]
MakamTaman Makam Pahlawan (TMP) Newi Serui, Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia
Partai politikPartai Kemerdekaan Indonesia Irian
Suami/istriRegina Aibui
HubunganAlfred Papare (cucu)
PekerjaanPolitikus
Penghargaan sipil
Pahlawan Nasional

Silas Papare (18 Desember 1918 – 7 Maret 1978[2][3]) adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya diabadikan menjadi salah satu Kapal Perang Korvet kelas Parchim TNI AL KRI Silas Papare dengan nomor lambung 386, dan juga namanya diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara di Sentani, Jayapura menjadi Lanud Silas Papare Jayapura. Selain itu didirikan Monumen Silas Papare di dekat pantai dan pelabuhan laut Serui. Sementara di Jayapura, namanya diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro dan Pangkalan TNI AU Silas Papare, Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan.[4]

Riwayat hidup

250px-Silas_Papare%2C_Kami_Perkenalkan_%281954%29%2C_p154.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Silas Papare, 1954

Ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 dan bekerja di rumah sakit Serui, sebelum pindah ke rumah sakit milik perusahaan minyak NNGPM di Sorong sejak tahun 1936 di mana menjadi ketua perawat. Sekitar tahun 1940 dia dipindahkan ke Serui karena kekurangan personel, hingga awal 1942 ketika Jepang masuk. Pada tahun 1944, ia direkrut sebagai mata-mata Amerika Serikat dan pemerintah Belanda, NEFIS untuk membantu perlawanan terhadap tentara Jepang di Papua terutama berhubungan dengan mantan pemberontakan Koreri yang sebelumnya memberontak terhadap pemerintah Belanda kemudian terhadap pemerintah Jepang.[5] Ketika Belanda berusaha kembali menduduki Papua setelah Perang Dunia II berakhir, Silas Papare mulai berhubungan dengan Corinus Krey ajudan Soegoro Atmoprasodjo akibat praktiknya di Kampung Harapan, dan juga Marthen Indey dari Batalyon Papua. Dia menjadi salah satu pendiri organisasi kesiswaan bersama Lukas Rumkorem, Yan Waranu, G. Sawari, S.D. Kawab, dan Corinus Krey.[6] Pada Desember 1945, Sugoro beserta kelompoknya melancarkan pemberontakan pertamanya dari Kampung Harapan bersama anggota KNIL, bekas anggota Kempeitai dan anggota Batalyon Papua untuk memberontak pada Desember 1945. Usaha tersebut gagal karena ada satu anggota Batalyon Papua yang melaporkan ke pihak Belanda. Lantas pemerintah Belanda mengirim pasukan KNIL dari Kloofkamp dan juga Rabaul, sekitar 250 orang ditangkap seperti Silas Papare yang dihukum oleh Belanda dan dipenjarakan di Jayapura.[4][7][8][9]

Belanda yang tadinya akan mengirim Silas Papare karena terkenal anti-Indonesia sebelumnya mengganti dengan Frans Kaisiepo pada Konferensi Malino, walau ternyata Kaisiepo menggunakan kesempatannya untuk mempopulerkan nama "Irian".[5][10] Papare dipindahkan ke Serui dari Hollandia karena terjadi beberapa pemberontakan lanjutan oleh kelompok Sugoro agar mereka tidak bisa berhubungan.[11] Semasa menjalani masa tahanan di Serui, Silas berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda ke tempat tersebut. Perkenalannya tersebut semakin menambah keyakinannya bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik Indonesia. Akhirnya, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada November 1946.[4] Pada tahun 1949, jumlah anggota PKII terus meningkat hingga mencapai 4.000 orang, walau PKII dinyatakan ilegal oleh Belanda dan bergerak secara diam-diam.[3]

500px-MS_Rumagesan%2C_Silas_Papare%2C_NL_Suwages%2C_Sugoro%2C_dan_AH_Nasution_berbincang-bincang%2C_Konferensi_Cibogo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
M.S. Rumagesan, Silas Papare, N.L.Suwages, Soegoro Atmoprasodjo, dan A.H. Nasution berbincang-bincang selama Konferensi Putra-putra Irian Barat di Cibogo Bogor, 14-15 April 1961

Silas kembali ditangkap oleh otoritas Belanda karena mendirikan PKII dan dipenjarakan di Biak dengan alasan hilang ingatan. Menggunakan alasan yang sama, Silas Papare berhasil melarikan diri dan pergi menuju Yogyakarta.[3][4] Pada bulan Oktober 1949 di Yogyakarta, ia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI. Silas Papare yang ketika itu aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) dan juga ikut dalam Konferensi Cibogo, Bogor yang dilaksanakan pada tanggal 13-15 April 1961 oleh pemuda-pemuda Papua yang kabur dari Nugini Belanda untuk upaya pembebasan Irian Barat.[12] Ia juga diminta oleh Presiden Soekarno menjadi delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York bersama Albert Karubuy sebagai perwakilan PKII, delegasi yang asal Papua lainnya adalah Johannes Abraham Dimara, Marthen Indey, Frits Kirihio, dan Efraim Somisu.[13] Perjanjian tersebut ditandatangani pada 15 Agustus 1962, yang mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Belanda perihal Irian Barat. Setelah penyatuan Irian Barat, ia kemudian diangkat menjadi anggota MPRS.[4]

Gelar Pahlawan Nasional

Berkat perjuangan dan jasa-jasanya tersebut dalam mengusahakan Irian Jaya menjadi bagian dari Republik Indonesia dan membantu mengusir penjajah maka pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 14 September 1993 dengan Keppres No.77/TK/1993.[4]

Referensi

  1. ↑ Lumintang et al. 1997, hlm. 117.
  2. ↑ "Profil - Silas Papare". Merdeka.com. Diakses tanggal 2020-06-13.
  3. 1 2 3 "Silas Papare, Tokoh Pejuang dari Timur Indonesia - BADAN INTELIJEN NEGARA REPUBLIK INDONESIA". www.bin.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-13. Diakses tanggal 2020-06-13.
  4. 1 2 3 4 5 6 "Silas Papare, Mantan Mata-mata Amerika Asal Papua yang Jadi Pahlawan Nasional Atas Usahanya Bawa Bumi Cendrawasih Kembali ke Pelukan Ibu Pertiwi - Semua Halaman - Sosok". sosok.grid.id. Diakses tanggal 2020-02-27.
  5. 1 2 Chauvel 2005, hlm. 70–71.
  6. ↑ Lumintang et al. 1997, hlm. 72.
  7. ↑ Lumintang et al. 1997, hlm. 32.
  8. ↑ Lumintang et al. 1997, hlm. 38.
  9. ↑ Lumintang et al. 1997, hlm. 74, Ada kesalahan pencetakan, karena pemberontakan terjadi pada hari 25 December 1945 seperti di paragraf sebelumnya.
  10. ↑ Penders 2002, hlm. 140.
  11. ↑ Lumintang et al. 1997, hlm. 38–39.
  12. ↑ 25 tahun Trikora. Yayasan Badan Kontak Keluarga Besar Perintis Irian Barat. 1988. Diakses tanggal 2021-11-01.{{cite book}}: |website= diabaikan
  13. ↑ 25 tahun Trikora. 1988. hlm. 156. Diakses tanggal 2021-11-01.{{cite book}}: |website= diabaikan

Bibliografi

Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan