Selasa, 13 Oktober 2026
23:53 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM
R. E. Martadinata

R. E. Martadinata

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Bagikan:
Eddy Martadinata
250px-R.E_Martadinata_colorized_by_colorbykevin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Martadinata pada tahun 1960 (diwarnai)
Menteri/Panglima Angkatan Laut Republik Indonesiake-4
Masa jabatan
20 Juli 1959 –25 Februari 1966
PresidenSoekarno
PendahuluR. Soebijakto
PenggantiMoeljadi
Informasi pribadi
Lahir(1921-03-29)29 Maret 1921
Meninggal6 Oktober 1966(1966-10-06) (umur 45)
Riung Gunung, Cisarua, Indonesia
MakamTaman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata
6°15′26″S 106°50′47″E / 6.25722°S 106.84639°E / -6.25722; 106.84639
Suami/istriSoetiarsih Soeraputra
Anak7
AlmamaterPoliteknik Ilmu Pelayaran Semarang
Penghargaan sipil
Pahlawan Nasional Indonesia (1966)
Bintang Republik Indonesia kelas 4 (1963)[1]
Bintang Mahaputera kelas 4 (1961)[2]
Tanda tangan
Karier militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabang40px-Insignia_of_the_Indonesian_Navy.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail TNI Angkatan Laut
Pangkat40px-22-TNI_Navy-ADM.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Laksamana
KomandoKepala Staf TNI Angkatan Laut
Pertempuran/perangRevolusi Nasional Indonesia
Pemberontakan Makassar
NRP36/P[3]

Laksamana Raden Eddy Martadinata (sering ditulis R. E. Martadinata; 29 Maret 1921 – 6 Oktober 1966) adalah seorang laksamana Angkatan Laut Indonesia dan diplomat.[4] Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia secara anumerta pada tahun 1966.[5] Ia diakui sebagai salah satu pendiri Angkatan Laut Indonesia.[6]

250px-Sukabumi_Raden_Eddy_Martadinata_Road.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jalan Raden Eddy Martadinata, Sukabumi, Jawa Barat

Pendidikan awal

  1. Sekolah Dasar HIS di Lahat lulus pada tahun 1934,
  2. Sekolah Menengah Pertama MULO - B di Bandung lulus pada tahun 1938.
  3. Sekolah Menengah Atas AMS di Jakarta lulus pada tahun 1941
  4. Sekolah Pelayaran Zeevaart Technische School tidak sempat menyelesaikan karena adanya pendudukan Jepang.
  5. Sekolah Pelayaran Semarang (SPS-SPM) sekarang menjadi Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang hingga pada masa awal pendudukan Jepang.
  6. Melanjutkan lagi Sekolah Pelayaran Tinggi Semarang sekarang bernama Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang yang diselenggarakan Jepang sampai ia diangkat sebagai nakhoda kapal latih Dai 28 Sakura Maru.
  7. Bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia tahun 1945

Pendidikannya di bidang pelayaran berpengaruh terhadap kariernya sampai ia mengabdikan dirinya sebagai Kepala Staff TNI Angkatan Laut. Namun demikian, ia sempat tidak dapat menyelesaikan sekolah karena kedatangan pendudukan Jepang dan terjadinya perang. Melalui pendidikannya di Sekolah Pelayaran Tinggi Semarang sekarang bernama PIP Semarang, R. E. Martadinata sempat memiliki pengalaman bekerja sebagai penerjemah pelayaran pada masa pendudukan Jepang tersebut.

Perjuangan

Ia menghimpun pemuda bekas Taruna Sekolah Pelayaran Tinggi Semarang Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang dan mereka berhasil merebut beberapa buah kapal milik Jepang di Pasar Ikan Jakarta. Selanjutnya mereka menguasai beberapa kantor di Tanjung Priok dan Jalan Budi Utomo Jakarta. Setelah pemerintah membentuk BKR, pemuda-pemuda pelaut bekas Taruna dan Perwira Pengajar Sekolah Pelayaran Tinggi serta pelaut-pelaut Jawa Unko Kaisya yang dikoordinasi oleh M. Pardi, Adam, Martadinata, Surjadi Untoro, dan lain-lain, membentuk BKR Laoet Poesat yang dalam perjalanannya berubah menjadi TKR Laoet, diubah lagi menjadi TRI Laoet dan bulan Februari berganti lagi menjadi ALRI.

Pada masa awal pembentukan BKR, R. E. Martadinata memiliki kontribusi membentuk BKR Laut Jawa Barat bersama Aruji Kartawinata yang menjadi pimpinannya, tidak lama BKR Laut berubah nama menjadi ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Memiliki pengaruh di ALRI, R. E. Martadinata sempat mengemban amanat sebagai Kepala Staff Operasi pada Markas Besar ALRI di Yogyakarta. Dedikasinya yang tinggi terhadap negara membuatnya dipercaya sebagai Kepala Staff Komando Daerah Maritim Surabaya. Prestasinya di bidang kemaritiman membuatnya berhasil meneruskan pendidikan di United States Navy Post Graduate School di Amerika Serikat pada tahun 1953.

Penugasan

250px-RE_Martadinata%2C_Jalesveva_Jayamahe%2C_p217.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
R. E. Martadinata

Berbagai penugasan yang pernah diemban selama berkarier di Angkatan Laut hingga akhir hayatnya adalah sebagai berikut:

  1. Wakil Komandan BKR Laut Jawa Barat - Agustus 1945
  2. Ajudan Kepala Staf Umum TKR Laut - Desember 1945
  3. Kepala Staf Operasi V MBA (Bagian Perencanaan) - Maret 1946
  4. Komandan Pendidikan Latihan Opsir Kalibakung (Tegal,Jawa tengah) - Maret 1947
  5. Wakil Komandan ALRI di Aceh - Desember 1948
  6. Komandan Kapal RI Hang Tuah - Desember 1949
  7. Kepala Staf KDMS, diperbantukan di Staf AL Jakarta, Pj Kepala SO - Agustus 1950
  8. Mengikuti pelayaran ke Belanda dengan Kapal Tjerk Hiddes - Desember 1950
  9. Komandan Kapal RI Gajah Mada - Maret 1951
  10. Perwira SO IV Staf ALRI - Oktober 1952
  11. Kepala Biro Planning Staf ALRI
  12. Kepala Pengawas Pembuatan Kapal di Italia dan Komandan KALITA (Kesatuan Angkatan Laut Italia) - Januari 1959
  13. Perwira Spl pada KASAL - April 1959
  14. Menteri / Panglima Angkatan Laut - Juli 1959
  15. Panglima Operasi III KOTOE - September 1963
  16. Duta Besar Luar Biasa & Berkuasa Penuh RI untuk Republik Pakistan - Februari 1966

Kepala Staf Operasi V

Ketika menjabat sebagai Kepala Staf Operasi V (Bagian Perencana), Martadinata mencurahkan perhatian dalam penyelesaian keruwetan ALRI. Salah satunya adalah soal kedudukan dan pembagian tugas antara MBU. ALRI di Yogyakarta dengan Markas Tertinggi (MT). ALRI yang berkedudukan di Lawang, yang dibentuk berdasarkan spontanitas pemuda-pemuda pelaut di Jawa Timur ia menginginkan agar perwira-perwira senior di Yogyakarta dan di Lawang dapat menyatukan diri dalam wadah Markas ALRI yang tunggal. Januari 1947 dibentuk Dewan Angkatan Laut (DAL) yang diserahi tugas menyelesaikan masalah tersebut.

Mendirikan SAL dan Kepala Pendidikan Latihan

Penugasan berikutnya adalah mendirikan Sekolah Angkatan Laut (SAL) di Kalibakung, Tegal dan dilanjutkan dengan penugasan sebagai Kepala Pendidikan dan Latihan di Sarangan, Magetan tahun 1948 yang kemudian dikenal dengan nama Special Operation (SO). Martadinata diberi tugas oleh KSAL Subijakto untuk menyelenggarakan sekaligus memimpin SO karena menurut KSAL Subijakto, SO merupakan lembaga pendidikan lanjutan untuk para perwira laut. Pendidikan tersebut diselenggarakan khusus untuk mempersiapkan para perwira laut yang akan bertugas memimpin armada kapal-kapal cepat. Kapal tersebut dirancang bisa menembus blokade Belanda, agar pasukan Republik tetap memperoleh senjata dan amunisi untuk meneruskan perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan. Pendidikan SO mengambil tempat di Telaga Sarangan, lereng Gunung Lawu, Jawa Timur.

250px-Eddy_Martadinata_with_Soerjadi_Soerjadarma.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
RE Martadinata bersama Suryadi Suryadarma.

Wakil Kepala Staf AL Daerah Aceh

Ketika berlangsung Agresi Militer Belanda II, Ia ditunjuk sebagai Wakil Kepala Staf AL Daerah Aceh (ALDA) yang bertugas untuk mengendalikan kegiatan staf yang mencakup dua bidang yakni melaksanakan pendidikan dan mengoordinasi kegiatan "Armada Penyelundup" senjata dari luar negri untuk membantu perjuangan.

Kepala Staf Komando Daerah Maritim Surabaya dan Komandan KRI Hang Tuah

Bulan Oktober 1949 ia kembali ke Jawa dan diangkat menjadi Kepala Staf Komando Daerah Maritim Surabaya tahun 1950. Saat itu sudah tercapai gencatan senjata antara RI dan Belanda. Sesuai kesepakatan, Belanda menyerahkan peralatan perangnya kepada Angkatan Perang RI, salah satu di antaranya Kapal Perang HrMS Morotai yang kemudian diubah namanya menjadi RI Hang Tuah dan R.E. Martadinata diangkat menjadi Komandannya. RI Hang Tuah merupakan Kapal Perang terbesar saat itu, digunakan untuk operasi-operasi militer menumpas pemberontakan gerombolan Andi Azis di Ujung Pandang dan RMS di Maluku.

Tugas belajar

Martadinata kemudian berkesempatan mengikuti pendidikan United States Navy Post Graduate School di AS pada tahun 1953. Selesai mengikuti pendidikan di AS, ia mendapat tugas khusus selama tiga tahun sepanjang tahun 1957-1959 di Italia untuk mengawasi pembuatan 2 kapal korvet kelas Almirante Clemente yang dipesan RI yaitu RI Soerapati dan RI Imam Bondjol. Pada kurun waktu tersebut Martadinata juga sekaligus bertugas mengawasi pembuatan kapal pesanan ALRI di Yugoslavia. Sekembalinya dari Italia, ia diangkat menjadi Hakim Perwira pada pengadilan Tentara di Medan Jakarta dan Surabaya.

250px-Upacara_Peluncuran.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Menteri/Panglima Angkatan Laut

Pada tahun 1959, terjadi pergolakan di dalam tubuh ALRI yaitu adanya ketidakpuasan terhadap kepemimpinan KSAL yang pada saat itu dipimpin oleh Laksamana Madya R. Soebijakto, beberapa perwira yang dimotori oleh Mayor Laut Yos Soedarso dan Mayor (KKO) Ali Sadikin (kemudian disebut sebagai Gerakan 1959) menghadap Presiden Soekarno untuk menyampaikan permohonan penggantian KSAL dengan damai dan tanpa kekerasan.

Pada awalnya Presiden Soekarno tidak menyetujui permohonan tersebut, tetapi setelah melihat bahwa gerakan tersebut mendapat dukungan hampir sebagian besar staf ALRI maka Presiden Soekarno memanggil Laksamana Madya R. Soebijakto untuk mendiskusikan Gerakan 1959. Dalam pembicaraan tersebut Presiden menyampaikan rencana penggantian KSAL dan ketika Presiden menanyakan siapakah calon yang cocok untuk menjadi KSAL maka Laksamana Madya R. Soebijakto mengusulkan Kolonel Laut R.E. Martadinata sebagai penggantinya karena dianggap netral. Pada saat itu Martadinata masih memimpin satuan ALRI mengawasi pembuatan kapal pesanan ALRI di Italia. Setelah menjabat, maka dengan sekuat tenaga ia berhasil mendamaikan kembali golongan-golongan yang saling berlawanan sehingga ALRI tetap utuh dan bersatu.

Pada saat menjabat sebagai Kepala Staf ALRI itulah, R. E. Martadinata berada pada puncak karier. Oleh karena amanatnya sebagai pimpinan tertinggi, ia mendapat mandat melakukan usaha perdamaian antara kelompok yang saling berselisih. Di samping itu, ia dituntut membela keutuhan negara saat terjadi isu dan fitnah yang berpotensi mengancam ketahanan negara. Saat menjabat KSAL yang kemudian diubah namanya diubah menjadi Menteri/Panglima Angkatan Laut, Angkatan Laut Republik Indonesia memiliki kekuatan yang disegani di kawasan Asia Pasifik seiring dengan meningkatnya konfrontasi dengan Belanda berkaitan dengan perebutan Irian Barat. Dengan dicanangkannya Trikora, maka ALRI membeli peralatan tempur dari Rusia dengan jumlah yang cukup banyak antara lain: 1 kapal penjelajah (kelas Sverdlov), 8 perusak (kelas Skoryy), 8 frigat (kelas Riga), 12 kapal selam (kelas Whiskey) dan kapal-kapal pendukung lainnya yang berjumlah hampir lebih dari 100 buah kapal. Selain itu dibeli pula pesawat pembom torpedo Ilyushin Il-28 seri Il-28T dan Il-28U, serta helikopter Mil Mi-4.

Pada tahun 1965, terjadi kembali pergolakan di dalam tubuh ALRI yang kemudian dikenal dengan nama Gerakan Perwira Progresif Revolusioner (GPPR). Gerakan ini mengikuti pola Gerakan 1959 yaitu menghadap Presiden Sukarno untuk menyampaikan laporan terjadinya kemerosotan kinerja Angkatan Laut karena dikelola oleh para perwira yang tidak profesional serta ketidakpuasan dengan kepemimpinan R.E. Martadinata sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut. Karena gerakan ini dianggap sebagai pelanggaran militer dan sesuai saran dari Letnan Jenderal Ahmad Yani yang ketika itu menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat, maka hampir kurang lebih 150 perwira yang terlibat dalam gerakan tersebut di mana termasuk di antaranya J.E. Habibie (mantan Dubes RI di Belanda) dan Pongky Soepardjo (mantan Dubes RI di Finlandia) dikeluarkan dari dinas Angkatan Laut.

Sikap Martadinata mengenai G30S/PKI

Ketika terjadi pemberontakan G30S/PKI tahun 1965, dalam kapasitas sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut, R.E. Martadinata segera memberikan reaksi mengutuk gerakan tersebut dan menyatakan ALRI bekerjasama dengan AD untuk menumpas G30S/PKI. Tindakannya tersebut ternyata tidak disenangi oleh Presiden Soekarno sehingga jabatannya sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut dicopot dan digantikan oleh Laksamana Muda Muljadi. Martadinata kemudian diangkat menjadi duta besar berkuasa penuh RI untuk Pakistan.

Kepangkatan

  1. Kapten (Act) Mayor - 1950
  2. Mayor Laut - 1953
  3. Letnan Kolonel Laut - 1957
  4. Kolonel Laut - 1959
  5. Komodor Laut - 1959
  6. Laksamana Muda Laut - 1960
  7. Laksamana Madya Laut - 1964
  8. Laksamana - 1966

Pengabdian terakhir

250px-R._E._Martadinata_-_TMP_Kalibata_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makam Raden Eddy Martadinata di Taman Makam Pahlawan Kalibata

Dalam rangka menyambut hari ulang tahun ABRI ke-21, R.E. Martadinata kembali ke Indonesia mendampingi 3 tamu dari Pakistan yaitu Kolonel Laut Maswar bersama istri serta Nyonya Rouf, istri dari Deputi I Kepala Staff Angkatan Laut Pakistan. Pada tanggal 6 Oktober 1966, mereka mengadakan perjalanan menaiki helikopter Alouette II milik ALRI dengan dikemudikan pilot Letnan Laut Charles Willy Kairupan, yang ternyata dalam perjalanan menabrak bukit di Riung Gunung. Kecelakaan tersebut menewaskan seluruh penumpang dan pilot, termasuk Laksamana Laut R.E. Martadinata. Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional karena pengabdiannya untuk negeri ini berdasarkan Surat Keputusan RI No 106/TK/1975.

Kehidupan pribadi

R.E. Martadinata menikah dengan Soetiarsih Soeraputra dikarunia 5 putri 2 putra yaitu:

  1. Soehaeny Martadinata
  2. Siti Khadijah Martadinata
  3. Judiati Martadinata
  4. Irzansyah Martadinata
  5. Siti Mariam Martadinata
  6. Vittorio Kuntadi Martadinata
  7. Roswita Riyanti Martadinata

Penghargaan

Pahlawan Nasional

Atas jasa dan perjuangannya, R.E. Martadinata dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 220 Tahun 1966 pada tanggal 9 April 1966.[7]

Tanda jasa[8]

Baris ke-1 Bintang Republik Indonesia Pratama (10 Januari 1963)[3]
Baris ke-2 Bintang Mahaputera Pratama (15 Februari 1961)[7] Bintang Sakti Bintang Dharma
Baris ke-3 Bintang Gerilya Bintang Jalasena Utama Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia
Baris ke-4 Satyalancana Kesetiaan 16 Tahun Satyalancana Perang Kemerdekaan I Satyalancana Perang Kemerdekaan I
Baris ke-5 Satyalancana G.O.M I Satyalancana G.O.M II Satyalancana Satya Dharma
Baris ke-6 Satyalancana Wira Dharma Order of Military Merits with Golden Swords (Second rank) - Yugoslavia Grand Officer of the Order of Merit of the Italian Republic - Italia (24 Desember 1959)
Baris ke-7 Commander of the Legion of Merit - Amerika Serikat Knight Commander of the Most Exalted Order of the White Elephant - Thailand (9 Februari 1960)[9] Commander of the Phillipine Legion of Honor - Filipina (30 Agustus 1963)

Referensi

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Eddy Martadinata.
  1. ↑ Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia 1959 - sekarang (PDF). Diakses tanggal 28 April 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diakses tanggal 28 April 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia 1959 - sekarang (PDF). Diakses tanggal 4 September 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Ajisaka, Arya (2004). Mengenal Pahlawan Indonesia: Penuntun Belajar [Knowing Indonesian Heroes: A Study Guide]. Kawan Pustaka. ISBN 978-979-303-470-6.
  5. ↑ Mirnawati (2012). Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap [Most Complete Collection of Indonesian Heroes]. Jakarta: CIF. hlm. 181–182. ISBN 978-979-788-343-0.
  6. ↑ "Martadinata, RE". Encyclopedia of Jakarta. Jakarta City Government. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Maret 2016. Diakses tanggal 3 Maret 2013.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diakses tanggal 3 September 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Zamzulis Ismail, Burhanuddin Sanna, Indonesia (1994). Siapa Laksamana R. E. Martadinata. Indonesia: Dinas Sejarah TNI-AL.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ↑ แจ้งความสำนักนายกรัฐมนตรี เรื่อง พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์
Jabatan militer
Didahului oleh:
R. Soebijakto
Kepala Staf TNI Angkatan Laut
20 Juli 1959 - 25 Februari 1966
Diteruskan oleh:
Moeljadi
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Suadi
Duta Besar Indonesia untuk Pakistan
1966
Diteruskan oleh:
Sjamsul Bachri
Politik
Abdul Halim Majalengka · Abdul Kahar Mudzakkir ·Abdurrahman Wahid  · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumban Tobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara ·Kasman Singodimedjo ·Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja ·Mochtar Kusumaatmadja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi ·Soeharto  · Soekarni ·Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto ·Zainal Abidin Syah · Zainul Arifin
Militer
Kemerdekaan
Revolusi
Pergerakan
Sastra
Seni
Pendidikan
Integrasi
Pers
Pembangunan
Agama
Perjuangan
Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Bataha Santiago · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Ida Dewa Agung Jambe · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Marsinah · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyai Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Paku Alam VIII · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Ratu Kalinyamat · Salahuddin bin Talabuddin · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Saifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Tuan Rondahaim Saragih  · Untung Suropati · Zainal Mustafa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan