Jumat, 30 Oktober 2026
14:34 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Permasalahan Jerman

Permasalahan Jerman

Bagikan:
500px-Map-GermanConfederation.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Eropa Tengah pada sekitar tahun 1820 yang memperlihatkan Kerajaan Prusia (biru), Kekaisaran Austria (kuning) dan negara-negara Jerman merdeka (abu-abu). Garis merah menandai perbatasan dari Konfederasi Jerman;sebagai catatan bahwa Prusia dan Austria menguasai lahan-lahan non-Konfederasi.

Permasalahan Jerman adalah sebuah perdebatan pada abad ke-19, khususnya saat Revolusi 1848, tentang cara terbaik untuk melaksanakan Penyatuan Jerman.[1] Dari 1815–1866, sekitar 37 negara pemakai bahasa Jerman merdeka yang berada dalam Konfederasi Jerman. Großdeutsche Lösung ("Solusi Jerman Besar") adalah usulan penyatuan seluruh orang-orang pemakai bahasa Jerman dalam satu negara, dan ditawarkan oleh Kekaisaran Austria dan para pendukungnya. Kleindeutsche Lösung ("Solusi Jerman Kecil") mengusulkan hanya menyatukan negara-negara Jerman utara dan tidak meliputi Austria; perencanaan tersebut diusulkan oleh Kerajaan Prusia.

Solusi-solusi tersebut juga disebut dengan nama-nama negara yang mereka rencanakan untuk dibuat, Kleindeutschland dan Großdeutschland ("Jerman Kecil" dan "Jerman Besar"). Kedua gerakan tersebut adalah bagian dari perkembangan nasionalisme Jerman serta memberikan dampak yang sama pada masa tersebut terhadap pendirian sebuah negara yang disatukan berdasarkan pada bahasa dan etnisitas umumnya, seperti penyatuan Italia oleh Wangsa Savoy dan revolusi Serbia untuk kemerdekaan.

Latar belakang

Pada 6 Agustus 1806, Kaisar Franz II dari Habsburg memegang tahta Kekaisaran Romawi Suci pada saat Peperangan Napoleon dengan Prancis, yang mengakhiri Kekaisaran tersebut yang secara resmi menyatukan Jerman selama satu milennium.

Lihat pula

Referensi

Negara
Perserikatan
Peristiwa
Tokoh
Terkait
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan