Kamis, 29 Oktober 2026
02:52 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Iredentisme Hungaria

Iredentisme Hungaria

Bagikan:
250px-Austria-Hungary_map.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Austria-Hungaria: wilayah hijau menunjukkan bagian utama Kerajaan Hungaria, sementara merah adalah kerajaan otonom Kroasia-Slavonia di Kerajaan Hungaria.

Iredentisme Hungaria adalah istilah yang mengacu kepada gagasan iredentisme dan pan-nasionalis yang ingin mengembalikan wilayah Hungaria seperti sebelum Perang Dunia I, atau paling tidak memperoleh kembali wilayah yang dihuni oleh orang-orang Hungaria di negara-negara tetangga.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I, Traktat Trianon mendefinisikan perbatasan baru Hungaria, tetapi perbatasan ini membuat Hungaria kehilangan 72% wilayah dan 2/3 penduduk (dengan lima juta di antaranya adalah orang Hungaria).[1][2] Namun, hanya 54% penduduk Kerajaan Hungaria sebelum perang yang merupakan anggota kelompok etnik Hungaria.[3][4] Setelah traktat ini diberlakukan, pemimpin-pemimpin Hungaria mencoba mencabut sebagian isinya. Gagasan ini kemudian menjadi gagasan yang amat dipertimbangkan di tingkat nasional menjelang meletusnya Perang Dunia II.[5]

Hungaria mendukung Blok Poros dan berhasil memperoleh kembali beberapa wilayah bekas kerajaan (yang sebagian besar dihuni oleh orang Hungaria) berdasarkan Arbitrasi Wina Pertama dan Kedua pada tahun 1938 dan 1940. Dengan cara militer Hungaria juga berhasil memperoleh wilayah Ruthenia Carpathia pada tahun 1939 serta Bačka, Baranja, Međimurje, dan Prekmurje pada tahun 1941 (lihat pendudukan wilayah-wilayah Yugoslavia oleh Hungaria). Setelah berakhirnya Perang Dunia II, perbatasan Hungaria dikembalikan seperti yang diberlakukan oleh Traktat Trianon sebelumnya, kecuali tiga desa Hungaria yang diserahkan kepada Cekoslowakia. Tiga desa ini saat ini merupakan bagian dari wilayah administratif Bratislava.

Catatan kaki

  1. ↑ Fenyvesi, Anna (2005). Hungarian language contact outside Hungary: studies on Hungarian as a minority language. John Benjamins Publishing Company. hlm. 2. ISBN 90-272-1858-7. Diakses tanggal 2011-08-15.
  2. ↑ "Treaty of Trianon". Encyclopædia Britannica.
  3. ↑ A magyar szent korona országainak 1910. évi népszámlálása. Első rész. A népesség főbb adatai. (in Hungarian). Budapest: Magyar Kir. Központi Statisztikai Hivatal (KSH). 1912.
  4. ↑ Anstalt G. Freytag & Berndt (1911). Geographischer Atlas zur Vaterlandskunde an der österreichischen Mittelschulen. Vienna: K. u. k. Hof-Kartographische. "Census December 31st 1910"
  5. ↑ "HUNGARY". Hungarian Online Resources (Magyar Online Forrás). Diarsipkan dari asli tanggal 2010-11-24. Diakses tanggal 2011-02-13.

Bacaan lebih lanjut

  • Dupcsik, Csaba; Repárszky, Ildikó (2001). Történelem IV. XX. század (dalam bahasa Hungaria). Budapest: Műszaki Könyvkiadó. ISBN 978-9631628142.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


Ikon rintisan

Artikel bertopik politik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan