Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional. |
| Kaskado | |
|---|---|
| Nama lain | Stefanofilariasis, dermatitis verminosa |
| Nodul pada kulit akibat kaskado | |
| Penyebab | Cacing nematoda Stephanofilaria |
Kaskado atau stefanofilariasis adalah penyakit hewan yang diakibatkan oleh cacing nematoda dalam genus Stephanofilaria. Penyakit ini merupakan salah satu bentuk filariasis. Cacing Stephanofilaria menimbulkan lesi pada kulit yang ditandai dengan kerontokan rambut dan dermatitis nodular ulseratif. Radang yang ditimbulkan biasanya berbentuk bulat dan terletak di garis tengah perut hewan. Kaskado umumnya dijumpai pada sapi, kerbau, kambing, dan mamalia lainnya.[1][2][3]
Beberapa spesies dalam genus Stephanofilaria yaitu S. stilesi, S. duodesi, S. assamensis, S. dinniki, dan S. srivastavie. Mereka membutuhkan lalat, antara lain Musca, Stomoxys, dan Haematobia, sebagai vektor yang membawa mikrofilaria untuk melengkapi daur hidup cacing ini.[4][5]
Referensi
- ↑ Dirkeswan 2014, hlm. 411.
- ↑ "Stephanofilariasis in Animals". MSD Manual. Diakses tanggal 11 Juli 2021.
- ↑ Hibler, Charles P. (1966). "Development of Stephanofilaria stilesi in the Horn Fly". The Journal of Parasitology. 52 (5): 890. doi:10.2307/3276527.
- ↑ Dirkeswan 2014, hlm. 412.
- ↑ Saparov, K.A.; Akramova, F.D.; Azimov, D.A.; Golovanov, V.I. (2014). "Study of Biology, Morphology And Taxonomy of The Nematode Stephanofilaria Assamensis (Filariina, Stephanofilariidae)". Vestnik Zoologii. 48 (3): 269–274. doi:10.2478/vzoo-2014-0030. ISSN 2073-2333.[pranala nonaktif permanen]
Daftar pustaka
- Direktorat Kesehatan Hewan (2014), Manual Penyakit Hewan Mamalia, cetakan ke-2 (PDF), Jakarta: Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, hlm. 411–417