Sabtu, 03 Oktober 2026
12:21 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Rhinotrakeitis sapi infeksius

Bagikan:
60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Rhinotrakeitis sapi infeksius
Nama lainPenyakit hidung merah (red nose disease), necrotic rhinitis, vulvovaginitis pustular infeksius (infectious pustular vulvovaginitis)
SpesialisasiPenyakit menular, kedokteran hewan
GejalaRhinitis, trakeitis, leleran hidung, salivasi berlebih, batuk
KomplikasiPneumonia
JenisPernapasan, reproduksi (keguguran), konjungtival, ensefalitik, neonatal[1]
PenyebabBovine alphaherpesvirus 1
Metode diagnostikPemeriksaan histopatologi, isolasi virus, uji FAT, SN, AGDT, CFT[2]
Diagnosis bandingPasteurelosis, diare ganas sapi (BVD), difteri, septisemia epizotik (SE), demam kataral malignan (MCF), alergi[2]

Rhinotrakeitis sapi infeksius (bahasa Inggris: infectious bovine rhinotracheitis, disingkat IBR) adalah penyakit menular pada sapi dan beberapa hewan lain yang disebabkan oleh virus Bovine alphaherpesvirus 1 (BoHV-1). Virus ini dapat menyerang sapi dengan berbagai manifestasi klinis, seperti gangguan sistem pernapasan, sistem reproduksi, mata, dan otak. Selain sapi dan kerbau, penyakit ini juga ditemukan pada kambing, babi, bagal, dan rusa.[3]

Bentuk penyakit

Infeksi BoHV-1 dapat menyebabkan berbagai bentuk penyakit:[1]

  • Pada bentuk pernapasan, tanda klinis yang muncul bervariasi tergantung pada derajat keparahan penyakit, seperti rhinitis, trakeitis (radang trakea), demam tinggi, leleran dari hidung, salivasi berlebih, batuk, dan dapat terjadi infeksi sekunder oleh bakteri yang menyebabkan pneumonia.[4]
  • Pada bentuk reproduksi, penyakit ini disebut vulvovaginitis pustular infeksius (infectious pustular vulvovaginitis, disingkat IPV). Terjadi balanopostitis (radang kepala penis) pada hewan jantan, sedangkan hewan betina mengalami pembengkakan vulva dan keluarnya cairan kental. Keguguran dapat terjadi pada trisemester terakhir.
  • Pada bentuk konjungtival terjadi edema pada kornea dan keluarnya cairan dari konjungtiva.
  • Pada bentuk ensefalitik ditemukan pada anak sapi berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan meningitis dan ensefalitis.
  • Pada bentuk neonatal, infeksi terjadi sejak sapi masih berada dalam kandungan. Anak sapi yang lahir mengalami diare yang persisten, demam, anoreksia, depresi, dispnea, dan keluarnya cairan dari mata.

Diagnosis

Penegakan diagnosis dilakukan berdasarkan melihat tanda klinis, perubahan patologis, serta pengujian laboratorium. Pemeriksaan histopatologi, isolasi virus, dan uji antibodi fluoresen (FAT) dilakukan untuk mengidentifikasi BoHV-1. Deteksi antibodi dilakukan dengan uji netralisasi serum (SN), uji difusi gel agar (AGDT), atau uji fiksasi komplemen (CFT).[2]

Penularan

Penyakit IBR/IPV dapat ditularkan baik secara vertikal (dari induk ke anak sapi dalam kandungan) dan secara horizontal (antarhewan). Penularan horizontal terjadi melalui inhalasi cairan hidung yang mengandung virus dan melalui hubungan reproduksi.[3]

Pencegahan dan pengendalian

Vaksinasi, menjaga kebersihan dan sanitasi kandang dilakukan untuk mencegah IBR. Pemberian antibiotika dan terapi suportif seperti pemberian vitamin dilakukan untuk mengobati infeksi sekunder akibat bakteri.[5]

Catatan kaki

  1. 1 2 Dirkeswan 2014, hlm. 26–27.
  2. 1 2 3 Dirkeswan 2014, hlm. 28.
  3. 1 2 Dirkeswan 2014, hlm. 25.
  4. ↑ Campbell, John. "Viral Respiratory Tract Infections in Cattle". Merck Veterinary Manual. Diakses tanggal 23 Februari 2020.
  5. ↑ Dirkeswan 2014, hlm. 29.

Daftar pustaka dan bacaan lanjutan

Klasifikasi
HPHK Golongan I
Penyakit prion
Penyakit viral
Penyakit bakterial
Penyakit parasitik
HPHK Golongan II
Penyakit viral
Penyakit bakterial
Penyakit fungal
Penyakit parasitik
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan