Senin, 12 Oktober 2026
19:42 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Sindrom iritasi usus

Sindrom iritasi usus

kumpulan gejala karena gangguan atau iritasi pada saluran pencernaan

Bagikan:

Sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS) adalah kumpulan gejala karena gangguan atau iritasi pada saluran pencernaan. Gejala yang timbul akibat IBS adalah nyeri perut yang berulang, perut kembung, diare, sembelit atau perubahan konsistensi buang air besar.[1]

250px-Irritable_bowel_syndrome.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi rasa sakit pada Sindrom iritasi usus

Penderita Sindrom iritasi usus lebih sering dialami oleh wanita.[2] Penyebab munculnya gejala IBS dipicu oleh berbagai hal, yaitu stres, konsumsi makanan dan minuman tertentu, hingga perubahan hormonal, termasuk saat menstruasi.[3][4] Sindrom iritasi usus dapat dikatakan sebagai gangguan multifaktor, dengan mekanisme gabungan beberapa gejala yaitu, dismotilitas gastrointestinal, peradangan pada usus, hipersensitivitas viseral, dan perubahan mikrobiota usus. IBS tidak mengakibatkan perubahan pada jaringan usus atau meningkatkan risiko kanker usus besar.[4]

Klasifikasi

Sindrom iritasi usus atau IBS dapat menghasilkan gejala yang berbeda pada penderitanya. Umumnya IBS dapat diklasifikasikan sebagai, yaitu: IBS-D, dengan gejala yang menonjol adalah diare; IBS-C, dengan gejala yang menonjol adalah konstipasi; IBS-M, gejala campuran diare dan konstipasi; dan IBS-U, dengan gejala tidak khas dan tidak bisa diklasifikasikan.[3][5][6]

Gejala

Gejala utama IBS adalah nyeri perut atau rasa tidak nyaman seperti ketika mengalami diare atau sembelit dan perubahan kebiasaan buang air besar.[7] Sindrom iritasi usus dapat mereda dalam satu hari, atau dapat menjadi berkepanjangan, kronis atau sering kambuh.[8]

Perawatan

Perawatan sering diberikan untuk mengurangi nyeri dan gejala IBS lainnya, dan mungkin perlu mencoba lebih dari satu kombinasi perawatan untuk menemukan yang paling membantu. Obat atau jenis penanganan untuk menyembuhkan IBS belum ada. Namun, pengaturan diet dapat dilakukan untuk meredakan nyeri akibat IBS dan mencegah munculnya gejala.

Langkah pertama dalam mengobati IBS biasanya untuk memantau gejala, kebiasaan buang air besar setiap hari, dan faktor lain yang dapat memengaruhi usus. Hal ini dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang memperburuk gejala pada beberapa orang dengan IBS, seperti laktosa atau intoleransi makanan lainnya dan stres.

Perubahan diet

Perubahan diet dapat dilakukan untuk menghilangkan produk susu secara sementara, karena intoleransi laktosa sering terjadi dan dapat memperburuk IBS atau menyebabkan gejala serupa dengan IBS. Konsentrasi laktosa terbesar ditemukan dalam susu dan es krim, meskipun terdapat dalam jumlah yang lebih kecil dalam yogurt, keju, dan makanan siap saji yang mengandung bahan-bahan ini. Durasi waktu untuk pantang lakotasa dapat dilakukan selama dua minggu. Jika gejala IBS membaik, menghindari laktosa dapat dilanjutkan. Jika gejala tidak membaik, maka dapat melanjutkan makan makanan yang mengandung laktosa.

Terapi psikososial

Obat-obatan

Beberapa obat yang digunakan untuk meredakan gejala IBS berupa: antikolinergik (atropin), antispasmodik, (hiosin butilbromida), antidiare (loperamid), antidepresan trisiklik (amitriptilin), pereda nyeri (pregabalin atau gabapentin).[3]

Obat antikolinergik mengeblok stimulasi sistem saraf pada saluran pencernaan, membantu mengurangi kram parah dan kontraksi tidak teratur pada usus besar. Obat-obatan dalam kategori ini termasuk disiklomin, hyosciamin, dan minyak peppermint yang dikemas. Obat-obatan ini mungkin membantu bila digunakan secara preventif (yaitu, sebelum gejala muncul), dan dengan demikian sangat membantu jika pasien dapat memprediksi timbulnya gejala. Efek samping yang umum termasuk mulut dan mata kering dan penglihatan kabur.

Banyak agen antidepresan trisiklik (TCA) memiliki efek penghilang nyeri pada orang dengan IBS. Dosis TCA biasanya jauh lebih rendah daripada yang digunakan untuk mengobati depresi. Obat dapat mengurangi persepsi nyeri bila digunakan dalam dosis rendah, meskipun mekanisme pasti dari manfaatnya tidak diketahui. TCA yang biasa digunakan untuk manajemen nyeri termasuk amitriptilin, imipramin, desipramin, dan nortriptiline. Efek samping umum yaitu mengalami kelelahan saat memulai TCA. Namun, ini tidak selalu merupakan efek samping yang buruk, karena dapat membantu meningkatkan kualitas tidur saat TCA diminum di malam hari. TCA umumnya dimulai dalam dosis rendah dan meningkat secara bertahap. Efek penuhnya mungkin tidak terlihat selama tiga sampai empat minggu. TCA juga memperlambat pergerakan isi melalui saluran pencernaan dan mungkin paling membantu pada orang dengan IBS yang dominan diare.[9]

Kelas antidepresan lain, inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI), dapat direkomendasikan jika seseorang menderita IBS dan depresi. SSRI umum termasuk fluoksetin, sertralin, paroksetin, citalopram, dan escitalopram.[10] Obat antidepresan lain yang dapat direkomendasikan termasuk mirtazapin, venlafaxin, dan duloksetin.

Terapi herbal

Iberogast adalah produk herbal yang mengandung sembilan ekstrak dari tanaman obat, dilaporkan efektif untuk IBS dengan dispepsia fungsional.[11]

Referensi

  1. ↑ Canavan, C.; West, J.; Card, T. (2014). "Review article: the economic impact of the irritable bowel syndrome". Alimentary Pharmacology & Therapeutics (dalam bahasa Inggris). 40 (9): 1023–1034. doi:10.1111/apt.12938. ISSN 1365-2036.
  2. ↑ Grundmann, Oliver; Yoon, Saunjoo L. (2010). "Irritable bowel syndrome: Epidemiology, diagnosis and treatment: An update for health-care practitioners". Journal of Gastroenterology and Hepatology (dalam bahasa Inggris). 25 (4): 691–699. doi:10.1111/j.1440-1746.2009.06120.x. ISSN 1440-1746.
  3. 1 2 3 "Irritable Bowel Syndrome". Alodokter. 2015-12-22. Diakses tanggal 2021-09-08.
  4. 1 2 Heitkemper, Margaret; Jarrett, Monica; Jun, Sang-Eun (2013-10-01). "Update on Irritable Bowel Syndrome Program of Research". Journal of Korean Academy of Nursing (dalam bahasa English). 43 (5): 579–586. doi:10.4040/jkan.2013.43.5.579. ISSN 2005-3673.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  5. ↑ Ericsson, C. D.; Hatz, C.; DuPont, A. W. (2008-02-15). "Postinfectious Irritable Bowel Syndrome". Clinical Infectious Diseases. 46 (4): 594–599. doi:10.1086/526774. ISSN 1058-4838.
  6. ↑ Lee, Yoo Jin; Park, Kyung Sik (2014-03-14). "Irritable bowel syndrome: Emerging paradigm in pathophysiology". World Journal of Gastroenterology (dalam bahasa Inggris). 20 (10): 2456–2469. doi:10.3748/wjg.v20.i10.2456.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  7. ↑ Schmulson, Max W.; Chang, Lin (1999-11-08). "Diagnostic approach to the patient with irritable bowel syndrome". The American Journal of Medicine (dalam bahasa English). 107 (5): 20–26. doi:10.1016/S0002-9343(99)00278-8. ISSN 0002-9343.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  8. ↑ Tamparo, C (2011). Fifth Edition: Diseases of the Human Body. Philadelphia: PA: F.A. Davis Company. hlm. 407. ISBN 978-0-8036-2505-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ↑ Fritsch, Paul; Kolber, Michael R.; Korownyk, Christina (2020-04-01). "Antidepressants for irritable bowel syndrome". Canadian Family Physician (dalam bahasa Inggris). 66 (4): 265–265. ISSN 0008-350X. PMID 32273413.
  10. ↑ Creed, F (2006-8). "How do SSRIs help patients with irritable bowel syndrome?". Gut. 55 (8): 1065–1067. doi:10.1136/gut.2005.086348. ISSN 0017-5749. PMC 1856284. PMID 16849340.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  11. ↑ Malfertheiner, Peter (2017). "STW 5 (Iberogast) Therapy in Gastrointestinal Functional Disorders". Digestive Diseases (dalam bahasa Inggris). 35 (Suppl. 1): 25–29. doi:10.1159/000485410. ISSN 0257-2753.
Saluran GI atas
Esofagus
Perut
Saluran GI bawah
Enteropati
Usus halus
(Duodenum/Jejunum/Ileum)
Usus Besar
(Apendiks/Usus Besar)
Besar dan/atau kecil
Rektum
Anal canal
Pendarahan GI
Kelenjar pencernaan
Hati
Kantung empedu
Saluran empedu/
Lainnya biliary tree
Pankreas
Lain
Hernia
Peritoneal
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan