Selasa, 03 November 2026
07:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Danau Buyan

Danau Buyan

salah satu danau di dunia

Bagikan:
250px-Danau_Buyan.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Danau Buyan, Bali

Danau Buyan adalah sebuah danau yang terletak di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Air di Danau Buyan berasal dari tampungan air hujan dari berbagai sumber mata air yang mengalir melintasi pegunungan selama musim hujan.

Danau Buyan merupakan salah satu danau di Indonesia yang menjadi habitat bagi ikan dari spesies gupi dan gulma air. Penduduk setempat menjadikan danau Buyan sebagai tempat pemancingan. Sejak tahun 1997, danau buyan juga mulai dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali sebagai Taman WIsata Alam Danau Buyan-Danau Tamblingan.

Sejak tahun 2004, perubahan topografi di sekitar danau Buyan mengakibatkan pengurangan daya tampung airnya. Pada tahun 2009 dan 2010, Danau Buyan mengalami pencemaran air yang diakibatkan oleh limbah plastik dari kegiatan pariwisata.

Lokasi dan kondisi geografis

osm-intl,12,-8.268233,115.138779,300x300.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Danau_Buyan&revid=30093969&groups=_2ba83157fe616b3651d654a23d7bb11fcc76cfa6&parser=parsoid
A. Danau Tamblingan, B. Danau Buyan, C. Danau Beratan

Danau Buyan merupakan salah satu danau yang terletak di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.[1] Lokasi Danau Buyan berada di Kaldera Bratan dalam komplek pegunungan Bratan bersama dengan danau lainnya yaitu Danau Tamblingan dan Danau Bratan.[2] Posisi Danau Buyan berada di bagian tengah antara Danau Tamblingan di sebelah barat dan Danau Bratan di sebelah timur. Jarak dari Danau Buyan ke Danau Tamblingan adalah 1 km dan terpisahkan oleh kawasan hutan.[3] Sedangkan jarak antara Danau Buyan dan Danau Bratan sekitar 6 km.[4] Luas lahan yang ditempati oleh Danau Buyan adalah 336 hektar.[5]

Volume air

Pasokan air di Danau Buyan termasuk melimpah.[6] Air di Danau Buyan berasal dari air hujan yang tertampung pada berbagai sumber mata air yang mengalir melintasi pegunungan dan memasuki danau selama musim hujan.[7] Danau Buyan merupakan danau fosil yang dalam keadaan normal memiliki pasokan air dalam kondisi setimbang. Pada musim kemarau, pasokan air di dalam Danau Buyan akan mengalami pengurangan akibat penguapan yang berlebihan. Air akan kembali memenuhi Danau Buyan selama musim hujan.[8]

Keanekaragaman hayati

Danau Buyan merupakan salah satu danau di Indonesia yang menjadi habitat bagi ikan dari spesies gupi.[9] Jenis tumbuhan air berupa gulma air juga tumbuh di Danau Buyan. Dinas Perikanan Bali telah menebar benih karper rumput di Danau Buyan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma air.[10]

Pemanfaatan

Memancing

Kegiatan memancing di Danau Buyan dilakukan oleh penduduk setempat.[11] Pemancingan dilakukan dengan menggunakan perahu kecil yang disebut pedahu. Para pemancing tidak menggunakan perahu motor dengan tujuan menjaga kelestarian alam di Danau Buyan.[12]

Pariwisata

Danau Buyan merupakan salah satu objek wisata alam di Bali.[13] Pada tanggal 22 Januari 1997, Kepala Kantor WIlayah Departemen Kehutanan di Kabupaten Buleleng menerbitkan surat keputusan yang menjadikan Danau Buyan bersama dengan Danau Tambilngan sebagai taman wisata alam. Nama yang ditetapkan ialah Taman WIsata Alam Danau Buyan-Danau Tamblingan dengan luas 1.703 hektar.[14] Taman WIsata Alam Danau Buyan-Danau Tamblingan dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali.[15]

Di kawasan Danau Buyan terdapat pura yang menjadi objek wisata yaitu Pura Ulun Danu Buyan dan Pura Watu Gajah. Selain itu, di kawasan Danau Buyan terdapat dua area kemah yang dinamai Bumi Perkemahan Buyan 1 dan Bumi Perkemahan Buyan 2. Objek wisata lain di kawasan Danau Buyan adalah perkebunan stroberi.[16] Setelah Danau Buyan menjadi kawasan industri pariwisata bagi Desa Pancasari, sebagian penduduk yang memiliki lahan permukiman di Desa Pancasari mendirikan indekos untuk disewakan kepada para pekerja industri pariwisata di kawasan Danau Buyan. Pendiri indekos di kawasan Danau Buyan umumnya bekerja sebagai petani. Lahan yang digunakan untuk mendirikan indekos umumnya merupakan pengalihan dari lahan pertanian.[17]

Masalah lingkungan

Penyusutan volume air

Pada tahun 2006, kedalaman air di Danau Buyan berkurang menjadi sekitar 54 meter. Berkurangnya kedalaman air membuat Danau Buyan mengalami penyusutan volume penampungan sebesar 1.029.675,8418 m3 selama satu setengah tahun sejak tahun 2004. Penyebab berkurangnya volume air di Danau Buyan adalah perubahan topografi di sekitarnya. Penguapan air terjadi lebih cepat dibandingkan dengan perembesan air permukaan yang menuju ke Danau Buyan sehingga tidak terjadi kesetimbangan.[18]

Pengurangan volume air di Danau Buyan juga disebabkan oleh penggunaan air untuk perkebunan stroberi dan perkebunan lain di bagian timur dan selatan Danau Buyan.[19] Peralihan lahan untuk perkebunan sayur di sekitar Danau Buyan membuat kemampuan tanah untuk menampung air menjadi berkurang dan mengurangi pasokan air menuju ke Danau Buyan sekaligus meningkatkan jumlah sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan danau.[20]

Pencemaran air

Pada tahun 2009 dan 2010, Danau Buyan mengalami pencemaran air berdasarkan hasil studi indeks STORET. Penyebab pencemaran air di Danau Buyan adalah kegiatan wisata di pinggir danau yang menghasilkan sampah-sampah plastik dalam kondisi berserakan. Sampah plastik dihasilkan oleh pengunjung yang mengadakan perkemahan, pertemuan komunitas dan foto pranikah. Selain itu, sampah plastik juga dihasilkan oleh warung-warung tenda di pinggir Danau Buyan.[21]

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Suryana, Dayat (2012). Bali: Daerah Bali dan Sekitarnya. CreateSpace Independent Publishing Platform. hlm. 139. ISBN 978-148-007-861-1.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |lay-url= diabaikanPemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Pageh, I Made (2018). Model Revitalisasi Ideologi Desa. Depok: Rajawali Pers. hlm. 31. ISBN 978-602-425-355-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Setya R., W. (2019). Winarti, Yuni (ed.). Indonesia Nan Indah: Danau dan Waduk. Semarang: Alprin. hlm. 37. ISBN 978-602-8094-50-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Backshall, S., dkk. (2003). Indonesia (dalam bahasa Inggris). Rough Guides. hlm. 633. ISBN 978-1-85828-991-5.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |lay-url= diabaikanPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Nursobah (2020). Pahrudin, Pajar (ed.). Cahaya di Langit Samarinda. Surabaya: Scopindo Media Pustaka. hlm. 242. ISBN 978-623-7729-55-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Mashad, Dhurorudin (2014). Tim Al-Kautsar (ed.). Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm. 4. ISBN 978-979-592-666-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Suamba, I. K., dkk. (2024). Devi, Luh Putu Parendra Indra (ed.). Upacara Keagamaan pada Sistem Subak. Sleman: Penerbit Deepublish Digital. hlm. 10. ISBN 978-634-200-060-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Kusuma 2024, hlm. 51.
  9. ↑ Fernandi, Aloysius (2023). Irawan, Gerardo (ed.). Mengenal Ikan Guppy: Jenis, Asal, dan Karakteristiknya. Yogyakarta: Cahaya Harapan. hlm. 3. ISBN 978-623-8492-77-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ↑ Kordi K., M. Ghufran H. (2009). Budi Daya Perairan: Buku Kedua. Penerbit PT Citra Aditya Bakti. hlm. 780. ISBN 978-979-414-968-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ↑ Ekaristi, M., dan Bawantara, A. (2009). Satia, Widi (ed.). Jalan-jalan Bali. Jakarta Selatan: GagasMedia. hlm. 117. ISBN 979-780-302-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ↑ Made M., A., & Wardoyo, P. (2012). Tka (ed.). 123 Tempat Makan di Bali: Bonus Peta Wisata dan 97 Obyek Wisata di Bali. Yogyakarta: Gradien Mediatama. hlm. 156. ISBN 978-602-8260-47-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ↑ Yusa, I. M. M., dkk. (Juni 2024). Branding Bali dan Budaya Populernya. Sidyanusa. hlm. 36. ISBN 978-623-996-965-3.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |lay-url= diabaikanPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ↑ Utama, I. G B. R., dan Junaedi, I. W. R. (Juli 2015). Agrowisata Sebagai Pariwisata Alternatif Indonesia: Solusi Masif Pengentasan Kemiskinan. Sleman: Penerbit Deepublish. hlm. 177. ISBN 978-623-209-112-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ↑ Suryawan, I Ngurah (Agustus 2024). Armedian, Daruz (ed.). Jalan ke Tanah Leluhur: Refleksi dari Bali menuju Papua. Bantul: Basabasi. hlm. 35. ISBN 978-623-305-477-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ↑ Djunaedi, dkk. (Mei 2017). Setyarso, B., dkk. (ed.). Hikayat 45 Danau Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 64. ISBN 978-602-424-244-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  17. ↑ Suryana, I. G. P. E. (April 2024). Wesnawa, I. G. A., dkk. (ed.). Bencana Alam di Bali dalam Perspektif Ilmu Geografi. Badung: PT Nilacakra Publishing House. hlm. 79–80. ISBN 978-623-708-243-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. ↑ Kusuma 2024, hlm. 50-51.
  19. ↑ Kusuma 2024, hlm. 51-52.
  20. ↑ Atmadja, Nengah Bawa (2013). Ghofur, S. A., dan Arifin, A. (ed.). Ajeg Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi. Bantul: LKiS Yogyakarta. hlm. 424–425. ISBN 978-979-1283-98-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  21. ↑ Mirdad, M. A., Bahar, A. A., dan Wisnuyana, B. (2025). Non-Governmental Organization (NGO) dalam Pandangan Tiga Perspektif: Hubungan Internasional, Kebijakan Publik dan Antropologi. Surabaya: Airlangga University Press. hlm. 118. ISBN 978-634-7123-48-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Daftar pustaka

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Bengkulu
Riau
-
Kepulauan Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Lampung
Kepulauan
Bangka Belitung
-
Jakarta
-
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
Yogyakarta
-
Jawa Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
-
Bali
NTB
NTT
Sulawesi Barat
-
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan