Minggu, 27 September 2026
05:28 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Sistiserkosis

Sistiserkosis

60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Artikel ini berisi tentang infeksi. Untuk larva cacing penyebabnya, lihat sistiserkus.
Sistiserkosis
Neurocysticercosis.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Pencitraan resonansi magnetik pada orang dengan neurosistiserkosis menunjukkan banyaknya kista dalam otak
SpesialisasiPenyakit menular Sunting ini di Wikidata
GejalaTidak ada, benjolan kulit, gangguan saraf
JenisSistiserkosis jaringan, neurosistiserkosis
PenyebabSistiserkus (larva cestoda Taenia)
Faktor risikoHigiene dan sanitasi rendah
ObatObat cacing (praziquantel, albendazol)

Sistiserkosis (bahasa Inggris:cysticercosis) adalah penyakit berupa infeksi jaringan yang disebabkan oleh sistiserkus (larva cacing Taenia) akibat menelan telur cacing. Penderita sistiserkosis adalah inang perantara Taenia. Dalam tubuh, sistiserkus menginfeksi jaringan otot, kulit, mata, dan sistem saraf pusat. Jika terjadi pada jaringan saraf, infeksinya disebut neurosistiserkosis. Penyakit ini tergolong zoonosis karena dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya.

Penyebab

lossy-page1-250px-Taenia_solium_Life_cycle_%2802%29.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Daur hidup T. solium yang menggambarkan terjadinya sistiserkosis

Taenia merupakan genus cacing pita yang daur hidupnya memungkinkannya berpindah-pindah dari satu inang ke inang lainnya. Penderita sistiserkosis adalah inang perantara Taenia, sementara inang definitifnya menderita taeniasis. Sistiserkosis terjadi saat inang menelan telur cacing atau proglotid gravid (segmen tubuh cacing yang telah matang dan dipenuhi telur) sehingga telur tersebut menetas dalam tubuh inang dan berubah menjadi larva yang disebut sistiserkus.[1]

Umumnya, inang perantara Taenia adalah hewan. Pada babi, sistiserkosis disebabkan oleh T. solium yang larvanya disebut Cysticercus cellulosae, sedangkan sistiserkosis sapi disebabkan oleh T. saginata yang larvanya disebut Cysticercus bovis atau Cysticercus innermis.[2] Meskipun demikian, manusia dapat menjadi inang perantara dan menderita sistiserkosis jika mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi telur cacing Taenia. Pada manusia, sistiserkosis disebabkan oleh T. solium, sedangkan T. saginata tidak mengakibatkan sistiserkosis; sementara itu, kemampuan T. asiatica dalam menyebabkan sistiserkosis di Asia belum diketahui secara pasti.[3][4]

Persebaran

Sistiserkosis ada di seluruh dunia, tetapi kasusnya lebih banyak dilaporkan di kawasan perdesaan di negara-negara berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika Latin dengan populasi babi yang tinggi dan penerapan higiene yang kurang.[5][6] Di wilayah-wilayah endemik, populasi penduduk yang menunjukkan hasil seropositif mencapai 10 hingga 25%.[7] Sebuah studi tahun 2012 menyatakan bahwa sistiserkosis mengakibatkan 1.200 kematian di seluruh dunia pada tahun 2010 dan lebih dari 700 jiwa pada tahun 1990.[8] Penyakit ini merupakan salah satu penyakit tropis terabaikan.[9]

Indonesia

Di Kabupaten Jayawijaya Papua, Indonesia ditemukan 66,3% (106 orang dari 160 responden) positif menderita taeniasis solium/sistiserkosis selulosae dari babi. Sementara 28,3% orang adalah penderita sistiserkosis yang dapat dilihat dan diraba benjolannya di bawah kulit. Sebanyak 18,6% (30 orang) di antaranya adalah penderita sistiserkosis selulosae yang menunjukkan gejala epilepsi. Dari 257 pasien yang menderita luka bakar di Papua, sebanyak 82,8% menderita epilepsi akibat adanya sistiserkosis pada otak.[3]

Sebanyak 13,5% (10 dari 74 orang) pasien yang mengalami epilepsi di Bali didiagnosa menderita sistiserkosis di otak.[10] Prevalensi taeniasis T. asiatica di Sumatera Utara berkisar 1,9 hingga 20,7%., dan kasus di provinsi ini umumnya disebabkan oleh konsumsi daging babi hutan setengah matang.[11]

Gejala klinis

Masa inkubasi penyakit ini beragam. Penderita sistiserkosis bisa saja tidak mengalami gejala klinis selama bertahun-tahun. Gejala sistiserkosis bervariasi, tergantung jumlah dan lokasi sistiserkus, yang dapat hidup di jaringan otot lurik, otot jantung, paru-paru, hati, subkutan, mukosa mulut, dan sistem saraf pusat.[1] Di beberapa wilayah endemis seperti di Asia, nodul (benjolan padat) dapat berkembang di bawah kulit.[12] Setelah beberapa bulan atau tahun, benjolan tersebut akan membengkak, menjadi lembek, mengalami radang, dan selanjutnya menghilang secara perlahan.[7] Sementara itu, neurosistiserkosis menimbulkan gejala saraf, yang di negara-negara berkembang, merupakan salah satu penyebab utama epilepsi.[7] Kejang dan sakit kepala merupakan gejala yang sering dialami orang dengan neurosistiserkosis, yang kemudian dapat berujung pada strok dan kematian.[13]

Diagnosis

Sistiserkosis dapat didiagnosis dengan melakukan biopsi pada benjolan di kulit. Sementara itu, infeksi pada otak dilihat dengan melakukan pemindaian tomografi terkomputasi (CT) atau pencitraan resonansi magnetik (MRI). Temuan eosinofil di cairan serebrospinal merupakan salah satu indikator neurosistiserkosis.

Pencegahan dan pengobatan

Infeksi dapat dicegah dengan menerapkan sanitasi, seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan membersihkan sayur dan buah sebelum dikonsumsi.[14] Sejumlah kasus sistiserkosis tidak perlu diobati.[15] Pada neurosistiserkosis, pemberian praziquantel dan/atau albendazol,[16] serta terapi suportif dengan kortikosteroid dan obat antikejang dapat digunakan. Terkadang diperlukan pembedahan untuk mengangkat kista yang ditimbulkan sistiserkus.[12]

Referensi

  1. 1 2 "Parasites: Cysticercosis Biology". CDC. 12 Juli 2019. Diakses tanggal 25 Juli 2021.
  2. ↑ Direktorat Kesehatan Hewan (2014), Manual Penyakit Hewan Mamalia, cetakan ke-2 (PDF), Jakarta: Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, hlm. 375–383
  3. 1 2 Simanjuntak, Gindo Mangara (2000). Studi Taeniasis/Cysticercosis di Kabupaten Jayawijaya Propinsi Irian Jaya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekologi dan Status Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-07-24. Diakses tanggal 2021-07-25.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan)
  4. ↑ "Parasites: Cysticercosis". CDC. Diakses tanggal 25 Juli 2021.
  5. ↑ "Parsites: Cysticercosis Epidemiology & Risk Factors". CDC. 17 April 2014. Diakses tanggal 25 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "Taeniasis/Cysticercosis Fact sheet N°376". World Health Organization. Februari 2013. Diakses tanggal 18 Maret 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 3 García, Héctor H.; Gonzalez, Armando E; Evans, Carlton A.W.; Gilman, Robert H. (2003). "Taenia solium cysticercosis". The Lancet. 362 (9383): 547–556. doi:10.1016/S0140-6736(03)14117-7. PMC 3103219. PMID 12932389.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
  8. ↑ Lozano, Rafael; Naghavi, Mohsen; Foreman, Kyle; Lim, Stephen; Shibuya, Kenji; Aboyans, Victor; Abraham, Jerry; Adair, Timothy; Aggarwal, Rakesh (2012). "Global and regional mortality from 235 causes of death for 20 age groups in 1990 and 2010: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2010". The Lancet. 380 (9859): 2095–2128. doi:10.1016/S0140-6736(12)61728-0.
  9. ↑ "Neglected tropical diseases: Taeniasis and cysticercosis". WHO. 6 April 2020. Diakses tanggal 25 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Margono, S.S.; Subahar, R.; Hamid, A.; Wandra, T.; Sudewi, S.S.; Sutisna, P.; Ito, A. (2001). "Cysticercosis in Indonesia: epidemiological aspects". The Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health. 32 Suppl 2: 79–84. ISSN 0125-1562. PMID 12041608.
  11. ↑ Wandra, Toni; Depary, A.A.; Sutisna, Putu; Margono, Sri S.; Suroso, Thomas; Okamoto, Munehiro; Craig, Philip S.; Ito, Akira (2006). "Taeniasis and cysticercosis in Bali and North Sumatra, Indonesia". Parasitology International. 55: S155–S160. doi:10.1016/j.parint.2005.11.024.
  12. 1 2 "Taeniasis/Cysticercosis Key Facts". WHO. Diakses tanggal 25 Juli 2021.
  13. ↑ "Parasites: Cysticercosis Disease". CDC. 14 April 2014. Diakses tanggal 25 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ "Parasites: Cysticercosis Prevention & Control". CDC. 24 Juni 2014. Diakses tanggal 25 Juli 2021.
  15. ↑ "Parasites: Cysticercosis Treatment". CDC. 14 April 2014. Diakses tanggal 25 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ Webbe, G. (1994). "Human cysticercosis: Parasitology, pathology, clinical manifestations and available treatment". Pharmacology & Therapeutics. 64 (1): 175–200. doi:10.1016/0163-7258(94)90038-8.

Pranala luar

HPHK Golongan I
Penyakit prion
Penyakit viral
Penyakit bakterial
Penyakit parasitik
HPHK Golongan II
Penyakit viral
Penyakit bakterial
Penyakit fungal
Penyakit parasitik
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan