Kamis, 24 September 2026
02:01 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Taeniasis

Taeniasis

60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Taeniasis
250px-Desiccated_tapeworm_proglottids.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Temuan proglotid (segmen tubuh) Taenia dalam tinja merupakan tanda taeniasis
SpesialisasiPenyakit menular Sunting ini di Wikidata
GejalaTidak ada, penurunan berat badan, nyeri perut
JenisInfeksi T. solium (cacing pita babi), T. saginata (cacing pita sapi), T. asiatica (cacing pita Asia)
PenyebabCestoda Taenia
Faktor risikoKonsumsi daging yang belum matang
Metode diagnostikPemeriksaan sampel tinja
ObatObat cacing (praziquantel, niklosamid, dan albendazol)

Taeniasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing pita dalam genus Taenia. Cacing ini bersifat parasitik dan dapat menular dari hewan ke manusia maupun sebaliknya sehingga taeniasis digolongkan sebagai zoonosis.[1]

Penyebab

lossy-page1-250px-Taenia_solium_Life_cycle.tif.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Daur hidup Taenia yang menggambarkan terjadinya taeniasis

Pada manusia, taeniasis disebabkan oleh tiga spesies, yaitu Taenia solium (cacing pita babi), T. saginata (cacing pita sapi), dan T. asiatica (cacing pita asia). Infeksi terjadi akibat mengonsumsi daging sapi atau daging babi kurang matang yang mengandung sistiserkus (fase larva cacing) sehingga sistiserkus berkembang menjadi Taenia dewasa dalam usus manusia.[2][3]

Epidemiologi

Manusia merupakan inang definitif bagi Taenia, sedangkan inang perantaranya yaitu sapi (T. saginata) dan babi (T. solium dan T. asiatica). Dalam kasus tertentu, manusia dapat menjadi inang perantara T. solium jika mereka menelan proglotid (segmen-segmen tubuh Cestoda yang biasanya keluar bersama tinja) atau telur Taenia sehingga orang tersebut terkena sistiserkosis.[4][5]

Taeniasis dilaporkan di seluruh dunia, tetapi infeksi T. saginata banyak terjadi di negara-negara dengan populasi sapi yang tinggi, seperti wilayah tropis dan subtropis di Afrika, Timur Tengah, Eropa Timur, Meksiko, dan Amerika Selatan.[5] Sementara itu, infeksi T. solium banyak dilaporkan di Amerika Latin.[4] Taenia asiatica dilaporkan di beberapa negara di Asia, di antaranya Taiwan, Korea, Indonesia, Nepal, Thailand, dan Tiongkok.[6][7]

Gejala klinis

Penyakit ini hanya menimbulkan gejala klinis ringan atau tanpa gejala sama sekali. Gejala dan tanda klinis yang muncul dapat berupa penurunan berat badan atau nyeri perut. Taeniasis akibat T. saginata biasanya lebih menimbulkan gejala dibandingkan T. solium. Meskipun demikian, taeniasis akibat T. solium dapat berkembang menjadi sistiserkosis yang lebih berbahaya.[8] Sistiserkosis merupakan kondisi saat sistiserkus tumbuh dan berkembang dalam jaringan otot, kulit, mata, dan sistem saraf pusat.[3]

Diagnosis

250px-Taenia_egg.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Telur Taenia

Tanda infeksi dapat dilihat apabila di dalam tinja terdapat proglotid. Proglotid ini baru muncul pada tinja setelah infeksi berlangsung selama tiga bulan karena cacing memerlukan waktu untuk tumbuh menjadi dewasa. Sampel tinja diperiksa di bawah mikroskop untuk memeriksa jenis cacing atau telurnya. Walaupun begitu, identifikasi Taenia tidak dapat dilakukan hanya dengan pemeriksaan telur cacing karena semua spesies Taenia menghasilkan telur yang identik dan bahkan serupa dengan telur cacing dalam genus Echinococcus. Pemeriksaan anatomi proglotid gravid (proglotid yang telah matang dan dipenuhi telur) atau skoleks (bagian kepala) dapat membantu mengidentifikasi spesies cacing pita.[8]

Pencegahan dan penanganan

Infeksi Taenia dicegah dengan mengonsumsi daging yang matang. Memutus daur hidup cacing juga bisa dilakukan dengan mencegah babi dan sapi mengonsumsi makanan yang berpotensi tercemar tinja manusia.[9] Sementara itu, taeniasis diobati dengan obat cacing seperti praziquantel, niklosamid, dan albendazol.[10]

Referensi

  1. Sandy, Samuel (2014). "Kajian Aspek Epidemiologi Taeniasis dan Sistiserkosis di Papua" (PDF). Jurnal Penyakit Bersumber Binatang. 2 (1): 1–14.
  2. "Taeniasis". CDC. 29 September 2020. Diakses tanggal 24 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Taeniasis/Cysticercosis". WHO. 17 Mei 2021. Diakses tanggal 24 Juli 2021.
  4. 1 2 Pearson, R.D. (2020). "Taenia Solium (Pork Tapeworm) Infection and Cysticercosis". MSD Manual. Diakses tanggal 24 Juli 2021.
  5. 1 2 Pearson, R.D. (2020). "Taenia Saginata (Beef Tapeworm) Infection". MSD Manual. Diakses tanggal 24 Juli 2021.
  6. Eom, Keeseon S.; Jeon, Hyeong-Kyu; Rim, Han-Jong (2009). "Geographical Distribution of Taenia asiatica and Related Species". The Korean Journal of Parasitology. 47 (Suppl): S115. doi:10.3347/kjp.2009.47.S.S115. ISSN 0023-4001.
  7. Ale, Anita; Victor, Bjorn; Praet, Nicolas; Gabriël, Sarah; Speybroeck, Niko; Dorny, Pierre; Devleesschauwer, Brecht (2014). "Epidemiology and genetic diversity of Taenia asiatica: a systematic review". Parasites & Vectors. 7 (1): 45. doi:10.1186/1756-3305-7-45. ISSN 1756-3305.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  8. 1 2 "Taeniasis". CDC. 18 Desember 2017. Diakses tanggal 24 Juli 2021.
  9. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (28 Juni 2019), Chapter 15.4. Infection with Taenia Solium (Porcine Cysticercosis) (PDF), OIE Terrestrial Animal Health Code, World Organisation for Animal Health (OIE)
  10. "Taeniasis and cysticercosis: Treatment". WHO. Diakses tanggal 24 Juli 2021.

Pranala luar

Klasifikasi
Sumber luar
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan