Minggu, 18 Oktober 2026
11:51 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Bedil buluh

Bagikan:

Bedil buluh (bahasa Minang: badia batuang; kadang disebut juga bedil bambu atau pletokan bambu[1]) adalah alat permainan anak-anak berbentuk senapan yang terbuat dari bambu.[2] Selain di Indonesia, permainan ini juga dimainkan di Malaysia dan Taiwan. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki berusia 7-12 tahun, dan peluru yang digunakan pada umumnya adalah putik jambu air atau buah jeluak.

Pada awalnya permainan bedil buluh dimainkan secara perorangan, kemudian berkembang menjadi permainan perang-perangan antara kelompok. Pemain yang terkena peluru dianggap mati. Kelompok dengan anggota terbanyak yang masih hidup akan keluar sebagai pemenang.[3]

Pembuatan

Pilih bambu yang panjang dan lurus. Selanjutnya bambu dipotong sepanjang satu ruas (sekitar 50 cm) yang salah satu ujungnya dibuang, sedangkan tulang ruas bagian pangkal dibiarkan. Setelah itu bambu dipotong menjadi dua bagian. Panjang bagian yang satu berkisar antara 38–40 cm, yang akan berfungsi sebagai bodi bedil. Sedangkan bagian yang satu lagi berukuran lebih pendek, yaitu antara 10–12 cm. Bagian ini berfungsi sebagai gagang bedil.

Proses berikutnya adalah meraut sepotong bilah bambu tua untuk dimasukkkan ke dalam lubang pada gagang bedil, sehingga kedudukan bilah bambu di dalam gagang bedil menjadi kokoh (tidak bergoyang).

Cara memainkan

Putik jambu dimasukkan ke dalam lubang di pangkal bodi bedil dengan cara dipukul dengan pangkal gagang bedil hingga padat, kemudian peluru kedua dipasang lagi di pangkal bodi, lalu didorong menggunakan buluh raut dengan cara menghentakkannya sehingga udara di dalam bodi terdesak keluar melalui ujung bodi. Akibat tekanan udara tersebut maka peluru pertama yang sudah ada di ujung bodi bedil akan terpental keluar dengan mengeluarkan bunyi.

Catatan

  1. ↑ "Mainan Tradisional Indonesia Terbuat dari Bambu". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-12-01. Diakses tanggal 27 November 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Hamzuri, hlm. 83.
  3. ↑ "Permainan Bedil Buluh". Diakses tanggal 27 November 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Referensi

  • Hamzuri, Drs.; Siregar, Tiarma R. (1998). Permainan Tradisional Indonesia. Direktorat Permuseuman, Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. {{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |1=
Permainan tradisional Indonesia
Lomba tradisional
Dengan alat
Menggunakan bambu
Menggunakan bola
Menggunakan kelapa/pinang
Menggunakan batu
Menggunakan kartu
Menggunakan tali
Tanpa alat
Lihat juga: Daftar permainan Indonesia (menurut provinsi)


Ikon rintisan

Artikel bertopik permainan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan