Kamis, 24 September 2026
18:21 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum

Ali Oma

Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks eksisting. (Januari 2023) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Permainan Ali Oma adalah permainan anak - anak yang berasal dari Kota Pekanbaru. Permainan Ali Oma dilakukan oleh anak - anak laki-laki dan perempuan berjumlah 5 sampai 20 orang, berusia 7 sampai dengan 12 tahun. Lapangan adalah tempat bermain yang paling tepat. Dalam permainan ini menggunakan kayu yang agak besar atau tembok sebagai benteng dan semak - semak sebagai tempat persembunyiannya.

Sebelum mereka memulai permainan, mereka akan menentukan siapa yang "jadi" dan "penyuruk" dengan cara undian "lambung uang". Pengundian Lambung uang dapat dilakukan dengan cara menelentangkan dan menelungkupkan tangan secara serentak dan berhadapan. Jumlah yang paling sedikit adalah pemenangnya, sementara yang kalah akan terus melakukan lambung uang, 2 orang terakhir melakukan suit, maka yang kalah dinyatakan sebagai "jadi" dan lainnya adalah penyuruk. Pemeran Jadi akan menutup muka dengan menghadap ke benteng dan para penyuruk pergi bersembunyi. Mereka menyanyikan Ali Oma secara bersahutan, seperti halnya :

Jadi Penyuruk
ali oma Ambio
kaki pincang mata kero
Ro apa rokan
Kon apa Kambing
Bing apa Bing kok
kak apa Kodok
Dok apa Dolah
Lah apa Laci
Ci apa Cina
Na apa Nasi
Si apa Si ta
Ta apa Tali
Li apa Lipan
Pan apa Pandan
Dan apa Dandut, lico - lico

Pada saat bait terakhir, tokoh "jadi" dapat melakukan pencarian. Jika ada penyuruk yang dapat, maka pencari menyebut nomor penemunya satu per satu. Nomor penemuan syah apabila benteng tidak diserang pemain lainnya. Lalu para penyeruk akan baris berbanjar menghadap benteng ,sedang para pencari akan menebak baris keberapa yang pertama ditemuinya. Jika tebakan benar maka ia akan menjadi tokoh "jadi", tetapi apabila salah maka permainan akan diulang kembali.[1]

Aturan permainan

Permainan Ali Oma dimulai dengan melambungkan uang koin atau sut untuk menentukan siapa yang "jadi". Anak yang "jadi" inilah yang akan menutup matanya di benteng, sementara yang lainnya bersembunyi ("penyuruk").

Dalam hitungan yang disepakati anak yang "jadi" akan membuka matanya dan mencari para "penyuruk". Bila anak yang "jadi" mendapati seorang "penyuruk" harus menyebut namanya dan mengatakan "jadi"!

Para "penyuruk" dapat menghindari tangkapan yang "jadi" dengan menyerang "benteng", yaitu dengan menepuk benteng tanpa setahu yang "jadi" atau sebelum namanya disebut.[2]

Nilai budaya

Permainan Ali Oma memiliki nilai-nilai berupa tolong menolong, kerja keras dan sportivitas. Nilai tolong-menolong tercermin ketika ada penyuruk yang tertangkap, maka penyuruk lainnya akan menolongnya dengan berusaha menyerang "benteng" karena dengan dibobolnya "benteng" tersebut dapat membebaskan pihak tertangkap yang dapat bersembunyi. Nilai kerja keras tercermin pada Si jadi untuk menjadi "benteng" dan mencari penyuruk seorang diri. Sedangkan nilai sportivitas tercermin dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang selama permainan berlangsung dan bersedia menggantikan posisi pemain yang menjaga "benteng".[3]

Referensi

  1. Siregar, Dra. Tiarma Rita, ed. (4 Desember 1998). Permainan Tradisional Indonesia. Jakarta: DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT PERMUSEUMAN. hlm. 49.{{cite book}}: |editor-first= tidak memiliki |editor-last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. redaksi (2023-08-19). "Permainan Ali Oma". Budaya Melayu Riau. Diakses tanggal 2026-02-13.{{cite web}}: |last= memiliki nama generik
  3. Vermialita, Ressy (27 April 2016). "Permainan Ali Oma » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-02-05.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)


Ikon rintisan

Artikel bertopik permainan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan