Rabu, 14 Oktober 2026
12:08 WIB
TERKINI
Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Cuaca Lampung Dihantui 289 Titik Panas, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Cuaca Lampung Dihantui 289 Titik Panas, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas

Batik Gedog

Batik asli khas Kabupaten Tuban

Bagikan:

Batik Gedog adalah batik khas masyarakat Kabupaten Tuban. Kainnya dibuat dengan cara ditenun. Motifnya berbentuk kotak-kotak atau garis hitam putih.[1]

Motif

Batik Gedog menggunakan motif-motif geometris. Motif ini menghasilkan gambar tanaman yang simetris. Pemilihan motif ini karena kain batik gedog merupakan kain hasil tenun yang agak kasar.[2] Tanaman yang dijadikan sebagai motif yaitu pohon kluwih, pohon kopi, pohon kemiri, pohon randu dan ganggang. Selain itu, juga terdapat motif burung, serangga dan binatang melata. Motif burung yang umum yaitu burung merak dan burung segunting.[3]

Berdasarkan warnanya, Batik Gedog memiliki empat jenis motif. Pertama, batik putihan yang berwarna dasar putih dan bercorak biru tua atau hitam. Kedua, batik bangrod yang berwarna merah. Ketiga, batik pipitan yang memadukan warna merah dan biru tua. Keempat, batik irengan dengan warna dasar biru tua atau hitam disertai dengan corak putih. Pembuatan Batik Gedog menggunakan pewarna alami. Bahan pewarna diperoleh dari pohon nila (biru), pohon mengkudu (merah), dan akar pohon mangga (kuning).[4]

Pemaknaan

Pusat pembuatan Batik Gedog berada di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Pekerjaan membuat Batik Gedog dilakukan oleh masyarakat ketika tidak sedang berladang atau saat menunggu masa bercocok tanam.[5] Motif Batik Gedog yang berupa titik-titik merupakan perlambangan kosmologi Jawa-Hindu yaitu "kiblat papat lima pancer". Maknanya berupa keserakahan manusia terhadap bumi. Motif yang berbentuk tanaman merupakan perlambang keperluan pangan masyarakat, sedangkan motif burung melambangkan kehidupan di alam bagian atas.[6]

Pada masa Hindu, motif Batik Gedog menandakan strata sosial dari penggunanya. Perkembangan Islam di Pulau Jawa kemudian memberikan pengaruh pada motif Batik Gedog. Perbedaan motif hanya digunakan untuk membedakan usia penggunanya. Para orang tua menggunakan batik dengan motif yang geometris dan berwarna gelap, sedangkan para pemuda menggunakan batik dengan motif yang tidak geometris dan berwarna cerah.[7]

Kegunaan

Pakaian

Batik Gedog digunakan sebagai pakaian wanita dengan cara dililitkan mengelilingi pinggang. Bentuknya persegi panjang dengan lebar antara 100 cm hingga 110 cm dengan panjang 250 cm. Selain itu, Batik Gedog dijadikan sebagai alat bantu untuk membawa barang di bahu. Masyarakat menggunakannya sebagai pakaian berladang dan ke pasar.[8]

Barang dagangan

Masyarakat membuat Batik Gedog untuk ditukar dengan barang lain yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Batik yang ditukar dapat berupa batik polos atau batik tulis. Setelah masyarakat mengenal uang, sistem barter tidak lagi diterapkan. Penjualan Batik Gedog sebagai barang dagangan hanya dilakukan saat musim kemarau berlangsung.[9]

Alat ritual

Batik Gedog digunakan untuk acara adat, pernikahan, kelahiran, dan kematian. Pada acara kelahiran, bayi yang baru lahir dibungkus dengan Batik Gedog polos yang berwarna putih sebagai lambang kesucian. Sedangkan pada acara pernikahan, Batik Gedog dipakai oleh pengantin dan digunakan sebagai mahar.[10]

Referensi

  1. ↑ Karsam 2014, hlm. 43.
  2. ↑ Karsam 2014, hlm. 48.
  3. ↑ Marsudi 2013, hlm. 158.
  4. ↑ Marsudi 2013, hlm. 158–159.
  5. ↑ Ciptandi, Sachari, dan Haldani 2016, hlm. 263.
  6. ↑ Marsudi 2013, hlm. 161.
  7. ↑ Marsudi 2013, hlm. 159.
  8. ↑ Ciptandi, Sachari, dan Haldani 2016, hlm. 264–265.
  9. ↑ Ciptandi, Sachari, dan Haldani 2016, hlm. 265–266.
  10. ↑ Ciptandi, Sachari, dan Haldani 2016, hlm. 267.

Daftar pustaka

Jenis pembuatan
Alat dan bahan
Kelas sosial
Daerah
Corak
Sumatra
Jawa
Kalimantan
Bali Nusa Tenggara
Sulawesi
Maluku dan Papua
Museum
Sentra batik
Pembatik
Perancang busana
Perusahaan
Acara
Acara
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan