![]() | |
| Didirikan | 12 Mei 1977[1] |
|---|---|
| Lokasi | |
| Koordinat | 7°45′27″S 110°22′54″E / 7.7574422°S 110.38179137°E / -7.7574422; 110.38179137 |
| Direktur | Hadi Nugroho |
| Akses transportasi umum | |
Museum Batik Yogyakarta (bahasa Jawa:ꦩꦸꦱꦶꦪꦸꦩ꧀ꦧꦛꦶꦏ꧀ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ, translit. Musiyum Bathik Ngayogyakarta) adalah museum batik sulam pertama di Indonesia.[2] Pendirinya bernama Hadi Nugroho dan R. Ng. Jumima Dewi Sukaningsih.[3] Keluarga Hadi Nugroho merupakan keturunan pengusaha batik pada zaman dahulu sehingga banyak barang-barang yang masih tersimpan dengan baik, antara lain bahan peralatan membatik dan kain batik. Barang-barang itu kemudian dikumpulkan dijadikan satu sebagai koleksi dan ternyata cukup banyak koleksi-koleksi yang tersimpan milik Hadi Nugroho dijadikan sebagai museum di rumah beliau.
Gagasan beliau ternyata didukung oleh G.B.R.M. Hadinegoro, K.R.T. Soebanar Kusumonegoro, Ir. Sri Soedewi Samsi, R. Ma'roef Soeprapto, dan keluarga Hadi.[4]
Museum Batik Yogyakarta terletak di Jalan Dr. Sutomo No. 13 A, Kota Yogyakarta.[5][6] Bangunan ini dikelola sendiri oleh pasangan suami istri Dewi dan Hadi Nugroho. Museum ini dinyatakan sebagai museum batik pertama dan terlengkap di Yogyakarta pada tahun 1973 dan diresmikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1979.[3] Lahan yang ditempati oleh Museum Batik Yogyakarta seluas 400 m2.[7] Pemilik Museum Batik Yogyakarta juga menempati lahan tersebut sebagai tempat tinggal. Museum Batik berdiri dengan Akte Notaris No.22, tertanggal 25 Mei 1977 dan pejabat pembuat akte notaris Bapak Daliso Rudianto S.H.
Pada tahun 1978, museum sempat mengalami hambatan karena Hadi Nugroho sakit, kemudian mulai aktif beroperasi kembali pada tahun 1991 hingga sekarang.[8]
Pada tahun 2000, Museum Batik Yogyakarta memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia atas karya 'Sulaman Terpanjang' pada batik berukuran 90 x 400 cm.[9] Kemudian pada tahun 2001, museum ini memperoleh penghargaan kembali dari MURI sebagai pemrakarsa berdirinya Museum Sulaman pertama di Indonesia.
Berdasarkan wawancara dengan Eko, selaku Humas Museum Batik Yogyakarta pada 25 April 2014, saat ini museum belum bisa memaksimalkan penyajian pameran dikarenakan keterbatasan ruang untuk memamerkan batik yang ada. Hal ini dikarenakan bangunan tersebut semula merupakan tempat tinggal sang pemilik yang dirombak menjadi ruang pamer batik-batik koleksinya.[10] Museum Batik Yogyakarta sendiri memiliki rencana untuk merelokasi museumnya ke lahan baru. Hal ini dikarenakan pada lokasi eksisting Museum Batik Yogyakarta terdapat Hotel Batik yang akan dikembangkan kedepannya, maka pengelola museum memiliki kesempatan untuk merelokasi museum. Perancangan Musem Batik Yogyakarta ini mengacu pada paradigma-paradigma baru tentang museum yang secara keseluruhan akan mengubah cara pandang masyarakat terhadap museum.
Museum Batik Yogyakarta dibuka untuk umum sebagai pengabdian masyarakat dan sebagai tempat informasi dan konsultasi mengenai batik. Museum Batik Yogyakarta terbuka pada kesempatan kerja sama dan itikad baik untuk memajukan dan melestarikan batik. Disediakan juga workshop membatik dengan biaya Rp 40.000,- per orang dan museum dibuka Senin hingga Sabtu sejak pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore. Untuk rombongan (study tour) minimal 5 orang dengan melakukan reservasi terlebih dahulu.
Koleksi
Kini, museum ini menyimpan lebih dari 1.200 koleksi perbatikan yang terdiri dari 500 lembar kain batik tulis, 600 batik cap, 124 canting (alat pembatik), dan 35 koleksi alat dan perlengkapan membatik (wajan, anglo, pewarna alam, pacar air, kulit pohon mengkudu, kayu pohon tegeran, getah pohon pinus).
Koleksi museum ini terdiri berbagai batik gaya Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan gaya tradisional lainnya dalam bentuk kain panjang, sarung, dan sebagainya. Motifnya kebanyakan berupa motif pesisiran, pinggiran, terang bulan, dan motif esuk-sore [pagi-sore].
Beberapa koleksinya yang terkenal antara lain: Kain Panjang Soga Jawa (1950-1960), Kain Panjang Soga Ergan Lama (tahun tidak tercatat), Sarung Isen-isen Antik (1880-1890), Sarung Isen-isen Antik (Kelengan) (1880-1890) buatan Nyonya Belanda EV. Zeuylen dari Pekalongan, dan Sarung Panjang Soga Jawa (1920-1930) buatan Nyonya Lie Djing Kiem dari Yogyakarta. Semua koleksi yang ada dalam museum ini diperoleh dari keluarga pendiri Museum Batik Yogyakarta. Koleksi tertuanya adalah batik buatan tahun 1840.
Sedangkan, ratusan koleksi lainnya adalah hasil karya sendiri pemilik museum diantaranya sulaman gambar Presiden RI pertama Soekarno, mantan Presiden Soeharto, Megawati Soekarnoputri, dan Hamengkubuwono IX. Selain itu ada juga potret wajah pahlawan Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro. Ada pula sulaman wajah Paus Yohanes Paulus II dan Bunda Teresa dari India.
Analisis 7P Museum Batik Yogyakarta
- Terkait produk dan jasa, terdapat proses pelatihan pembuatan batik tulis yang sebenarnya menjadi magnet untuk wisatawan yang memiliki minat khusus terkait batik. Terutama workshop membatik pada batik cap maupun batik tulis. Berdasarkan hasil studi literatur, beberapa wisatawan mancanegara mengikuti workshop ini berasal dari Thailand, Amerika, Inggris, dan Jerman.
- Untuk harga, terdapat penyamaan harga untuk wisatawan mancanegara dan nusantara.
- Dalam kegiatan promosi, Museum Batik Yogyakarta telah ikut mempromosikan produknya dan koleksinya melalui berbagai acara. Untuk promosi daring, terdapat media sosial dan website. Saat ini @souvenirshopmuseumbatik yang menjual secara daring produk dari toko yang disediakan oleh Museum Batik Yogyakarta.
- Museum Batik Yogyakarta memiliki lokasi yang sangat strategis dan dapat dijangkau oleh transportasi umum.
- Secara fisik, Museum Batik sangatlah unik dan tertata dengan sederhana dan baik. Pemandu dan karyawan memakai batik sesuai identitas utama dari produk budaya yang ditawarkan oleh museum, yakni batik.
- Pengunjung atau wisatawan yang memasuki museum, akan disambut resepsionis yang merangkap sebagai tempat penjualan tiket. Pemandu bertugas menerangkan secara rinci tentang segala hal menyangkut museum.
- Terkait proses, Museum Batik Yogyakarta juga menerima mahasiswa yang ingin melakukan PKL (Praktek Kerja Lapangan).
Referensi
- ↑ Direktorat - Museum Batik Yogyakarta diakses pada 22 Oktober 2009
- ↑ Admin (24 Agustus 2020). "Museum Batik Yogyakarta". visitingjogja. Diakses tanggal 3 Juni 2025.
- 1 2 Rusmiyati, dkk. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid II (PDF). Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm. 8. ISBN 978-979-8250-67-5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "MUSEUM BATIK YOGYAKARTA". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2026-10-11.
- ↑ Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan (2012). Album Budaya: Direktori Museum Indonesia (PDF). Jakarta: Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 40.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Danurejan". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 31 Mei 2025.
{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam:|access-date=; no-break space karakter dalam|access-date=pada posisi 7 - ↑ Wijayanti, Ani (Desember 2019). Strategi Pengembangan Pariwisata Edukasi di Kota Yogyakarta (PDF). Sleman: Penerbit Deepublish. hlm. 34. ISBN 978-623-02-0373-2.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "MUSEUM BATIK YOGYAKARTA". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2026-10-11.
- ↑ Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. "Museum Batik Yogyakarta". Gregah Museum. Diakses tanggal 3 Juni 2025.
- ↑ Anindita, Pinasthi (2014-10-01). "Museum Batik Yogyakarta". IMAJI.
Pranala luar
- Panduan Pariwisata Yogyakarta dan sekitarnya[pranala nonaktif permanen]
- Situs Resmi Kementrian Pariwisata Diarsipkan 2014-10-12 di Wayback Machine
- Situs Resmi Museum Batik Yogyakarta
- Suara Karya Online - Museum Batik Yogyakarta Sampai Kapan Bisa Bertahan?[pranala nonaktif permanen] diakses pada 22 Oktober 2009
