Rabu, 23 September 2026
08:56 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara

Batara Cakra

Batara Cakra adalah tokoh dalam lakon pewayangan Jawa. Dalam kisah pewayangan, diceritakan bahwa ia adalah dewa yang menguasai hampir seluruh seluk-beluk dan pengetahuan di Tribuana, yaitu Jagat Mayapada (dunia kedewatan), Jagat Madyapada (dunia makhluk halus) dan Jagat Arcapada (dunia fana/ dunia manusia di Bumi.[1]

Cakra berarti sebuah bentuk lingkaran, sebuah kesinambungan, keserasian.[2] Batara Cakra adalah seorang bangsa Dewa yang selalu memperhatikan keserasian, kesetimbangan, dan kesinambungan kehidupan di dunia wayang.[2]

Riwayat

Batara Cakra merupakan putra sulung dari Sang Hyang Manikmaya dengan permaisuri kedua Umarakti/Umaranti.[1] Batara Cakra mempunyai dua orang adik kandung bernama Sang Hyang Mahadewa dan Sang Hyang Asmara.[1] Batara Cakra juga mempunyai enam saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umayi, masing-masing bernama, Sang Hyang Sambu, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Indra, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, dan Sang Hyang Kala.[1]

Tugas sebagai Dewa

Cakra merupakaan seorang cendikiawan yang teliti dan memupunyai sifat untuk menjadi dewa, karena pengetahuan dan sifat-sifatnya itu Batara Cakra diberi tugas sebagai pujangga kahyangan, dan juga ditetapkan sebagai pendamping pribadi Sanghyang Manikmaya (ayahnya), sedangkan Batara Ganesya atau Batara Gana sama-sama mempunyai tugas membina kesustraan dan ilmu pengetahuan.[1][3] Batara Gana sebagai lambang dewa pengetahuan dan pendidikan.[1] Hyang Cakradewa sebagai lambang dewa sastra dan budaya.[1]

Oleh Sang Hyang Manikmaya, Batara Cakra dipercaya memberikan anugerah dewa berupa pustaka kepada umat di Arcapada, seperti Pustakan Kalimasada kepada Prabu Puntadewa, Raja Amarta dan Kitab Pustaka Jitapsara kepada Begawan Parasara dari pertapaan Retawu.[1] Batara Cakra juga dipercaya untuk memberikan anugerah Dewa berupa surat antara lain seperti, Kalimasada kepada Prabu Puntadewa dan jitapsara kepada Bagawan parasara.[3] Sang Hyang Cakra pula yang ditugaskan memberi wejangan kepada Brahmana Sutiksna, brahmana suci di Gunung Citrakuta/Kutarunggu mengenai ilmu ketatanegaraan dan doktrin kepemimpinan yang disebut Asthabrata.[1] Oleh Brahmana Sutiksan Asthabrata kemudian diajarkan kepada Ramawijaya.[1] Ajaran Asthabrata itu juga diberikan Begawan Kesawasidi kepada Arjuna.[1] Dengan tugas-tugas yang dilakukan oleh Batara Cakra sangat paham tentang seluk beluk Tribuwana.[3] Selama hidupnya Batara Cakra tetap mengabdikan diri kepada ayahnya Syanghyang Manikmaya.[3] Batara Cakra juga selalu mencatat segala pembicaraan dan perintah Batara Guru dan disimpan di dalam pembendaharaan kedewataan.[3] Batara Guru adalah tokoh dewa yang merupakan raja dewa-dewa dalam cerita wayang, anak Sanghyang Tunggal dengan Dewi Wirandi. Menjadi raja di tiga buana (Mayapada, Madyapada, dan Arcapada) dan tokoh wayang Batara guru digambarkan mempunyai 4 tangan, berwarna biru dan bercaling.[4][5]

Sifat-sifat

Berikut ini merupakan sifat-sifat dari Batara Cakra:[1]

  1. Teliti
  2. Teguh pendiriannya
  3. memiliki hati yang bersih dan cermat

Karya

Karya Batara Cakra atau kerap di panggil Cakradewa yang terkenal adalah Serat Pustaka Jamus Kalimasada dan Jitapsara.[6] Jamus Kalimasada dianugerahkan kepada Puntadewa, Jitapsara dianugerahkan kepada Resi Palasara.[6]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Heru S Sudjarwo, Sumari, Undung Wiyono (2010). Rupa & Karakter Wayang Purwa Dewa, Ramayana, Mahabarata. Jakarta: Kakilangit Kencana. hlm. 86. ISBN 9786028556262.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. 1 2 Pitoyo. "Batara Cakra". Diakses tanggal 7 Mei 2014.
  3. 1 2 3 4 5 R. Rio Sudibyoprono (1991). Ensiklopedi Wayang Purwa. Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 136. ISBN 9799240034.
  4. "Batara guru Tokoh Wayang". Diakses tanggal 7 Mei 2014.[pranala nonaktif permanen]
  5. "Cinta wayang, Adinia Wirasti belajar dari tokoh Batara Guru". Diakses tanggal 7 Mei 2014.
  6. 1 2 "Cakra, Batara". Diakses tanggal 7 Mei 2014.


Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan