Senin, 02 November 2026
19:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Jamus Kalimasada

Jamus Kalimasada

Bagikan:
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Jamus Kalimasada" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
250px-Prabu_Anom_Puntadewa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Puntadewa

Serat Jamus Kalimasada adalah nama sebuah pusaka dalam dunia pewayangan yang dimiliki oleh Prabu Puntadewa (alias Yudistira), pemimpin para Pandawa. Pusaka ini berwujud maneaio ampuh dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta.

Kisah dalam Pewayangan

Salah satu kisah pewayangan Jawa menceritakan tentang asal-usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Pada mulanya terdapat seorang raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara yang menyerang kahyangan bersama para pembantunya, yaitu Sarotama dan Ardadedali. Dengan mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara mengobrak-abrik tempat tinggal para dewa.

Batara Guru raja kahyangan meminta bantuan Bambang Sakutrem dari pertapaan Sapta Arga untuk menumpas Kalimantara. Dengan menggunakan kesaktiannya, Sakutrem berhasil membunuh semua musuh para dewa tersebut. Jasad mereka berubah menjadi pusaka. Kalimantara berubah menjadi kitab bernama Jamus Kalimasada, Sarotama dan Ardadedali masing-masing menjadi panah, sedangkan Garuda Banatara menjadi payung bernama Tunggulnaga.

Sakutrem kemudian memungut keempat pusaka tersebut dan mewariskannya secara turun-temurun, sampai kepada cicitnya yang bernama Resi Wiyasa atau Abiyasa. Ketika kelima cucu Abiyasa, yaitu para Pandawa membangun kerajaan baru bernama Amarta, pusaka-pusaka tersebut pun diwariskan kepada mereka sebagai pusaka yang dikeramatkan dalam istana.

Di antara pusaka-pusaka Kerajaan Amarta, Jamus Kalimasada menempati peringkat utama. Kisah-kisah pedalangan banyak yang bercerita tentang upaya musuh-musuh Pandawa untuk mencuri Kalimasada. Meskipun demikian pusaka keramat tersebut senantiasa kembali dapat direbut oleh Yudistira dan keempat adiknya.

Akulturasi Nilai Keislaman pada Makna Kalimasada

Kedatangan Islam di tanah Jawa melalui jalan akulturasi budaya dengan menggeser makna-makna asal pewayangan dari Hindu menuju Islam, seperti halnya akulturasi budaya Hindu India ke Hindu Nusantara. Pada akulturasi Hindu-India ke Hindu-Nusantara, akulturasi ini berbentuk perubahan alur kisah, status maupun struktur wiracarita yang mewujud pada penokohan dan status tokoh yang ada dalam cerita.[1] Ketika Islam tiba di Indonesia, sejak era akhir pemerintahan Sriwijaya,[2] akulturasi budaya terjadi perlahan melalui bauran antara pendatang dari negeri-negeri di Timur yang menetap di wilayah Pesisir dengan penduduk Sriwijaya.[3] Hal ini juga terjadi di wilayah Pulau Jawa dengan menetapnya pendatang dari negeri-negeri Timur di wilayah Pesisir Utara seperti Gresik.[4]

Penyebaran Islam yang terjadi kemudian juga mengikuti pola akulturasi dengan mengadaptasi budaya Hindu-Buddha, memodifikasi simbolisasi dan menggeser pemaknaan yang sejalan dengan agama Islam.[5] Akulturasi ini juga terjadi pada literatur Hindu-Buddha Nusantara, salah satunya adalah pemaknaan ulang metafora Jamus Kalimasada. Menurut Salim A. Fillah, merujuk pada sumber-sumber manuskrip Het Boek van Bonang[6] dan Serat Walisana,[7] perubahan makna metaforis ini digunakan oleh Wali Songo, utamanya Sunan Kalijaga sebagai pengejawantahan nilai-nilai Islam pada Kalimasada.

Kalimasada memiliki struktur kata yang mirip dengan Kalimat Syahadat. Dalam lakon wayang Serat Jamus Kalimasada, jimat Kalimasada digambarkan sebagai ageman yang bermakna senjata, dan pegangan yang berkonotasi dengan ajian dan kepercayaan[5]. Ageman Kalimasada dimaknai oleh Sunan Kalijaga sebagai pegangan nilai dan pandangan hidup Islam yang menyelamatkan Punakawan dari kekeliruan hidup yang berujung pada api neraka.[8]

Referensi

  1. ↑ Damar, Sasongko (2012). Transformasi Cerita Mahabharata dalam Komik R. A. Kosasih: Sebuah Telaah Perbandingan (PDF). Depok: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. hlm. 3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Fatimi, S.Q. (1963). "Two letters from the Mahārājā to the Kẖalīfah: a study in the early history of Islam in the East". Islamic Studies. 2 (1): 121–140.
  3. ↑ Wolters, O.W. (1966). "A Note on the Capital of Śrīvijaya during the Eleventh Century". Artibus Asiae: Supplementum. 23: 225–239. doi:10.2307/1522654.
  4. ↑ Adha, Syamsul Idul (2021). "Kropak Ferrara: Reconsidering The 16th Century Javanese Muslim Identity". Tashwirul Afkar. 40 (1).
  5. 1 2 Pranowo, M. Bambang (2009). Memahami Islam Jawa. Jakarta: Pustaka Alvabet. ISBN 978-979-3064-70-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Schrieke, B. J. O. Het Boek van Bonang. Utrecht.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Kamila, Syifa (2018). PERJALANAN MENUJU MANUSIA SEMPURNA: PERKEMBANGAN KARAKTER SUNAN KALIJAGA DALAM SERAT WALISANA KOLEKSI PERPUSTAKAAN PURA PAKUALAMAN NOMOR 0136/PP/73 PUPUH VIII-XIII. Jogjakarta: Departemen Bahasa dan Sastra, Universitas Gadjah Mada.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Putri, Vira Ananda (2021). "Membongkar Hukum Akulturasi Budaya Sunan Kalijaga". Tsaqofah & Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam. 6 (2).
Ikon rintisan

Artikel bertopik wayang ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan