Rabu, 21 Oktober 2026
07:25 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari

Anggisrana

Bagikan:

Anggisrana adalah salah satu tokoh pewayangan Jawa. Ia merupakan raksasa Alengka yang mempunyai kesaktian untuk berubah wujud.[1] Dalam cerita pewayangan Ramayana, Anggisrana merupakan selingkuhan dari Sarpakenaka, adik Rahwana.[2][3] Oleh Dewi Sarpakenaka, Anggisrana ditugaskan untuk menyusup ke markas musuh sebagai mata-mata di pasangrahan Suwelagari dengan beralih rupa menjadi kera. Sebagai telik sandi (mata-mata), Anggisrana lebih dikenal dengan sebutan Telik Anggisrana.[1] Anggisrana merupakan kepala barisan raksasa di negara Awangga yang menjaga tapal batas negara.[4]

Bentuk dan karakter

Dalam rupa wayang kulit purwa gagrak Surakarta, Anggisrana berwujud raksasa dengan gigi tonggos, berpangkat tumenggung. Ia diwujudkan mirip Cakil, berambut udhalan―diurai sampai pantat. Gerak dan perilaku Anggisrana dalam sabetan juga mirip dengan Cakil.[5]

Dalam pewayangan, Anggrisrana memiliki sifat pemberani, tangkas, trengginas, banyak tingkah dan pandai bicara. Sebagai raksasa, Anggisrana berwatak kejam, serakah, selalu menurutkan kata hati dan mau menangnya sendiri. Karena Anggisrana berpangkat tumenggung, ia pandai dalam olah keprajuritan, khsusunya memainkan senjata gada dan keris. Anggisrana lebih banyak tinggal di perbatasan, sehingga Anggisrana memiliki jiwa yang liar. Anggisrana juga suka merampas harta penduduk, juga mengganggu ketenteraman hidup para brahmana.[5]

Sebagai mata-mata

Dalam lakon wayang yang mengadaptasi kitab Ramayana, raksasa Angisrana ditugaskan membuat kekacauan atau menyabotase pasukan kera (wanara) yang bersiap-siap menyerbu Alengka. Namun, usahanya gagal karena Hanoman memergokinya. Adegan ketika Hanoman menjebak mata-mata ini sering menjadi adegan yang lucu di dalam pedalangan.[1] Diceritakan bahwa Hanoman mengetes keaslian pasukannya dengan memerintahkan prajuritnya untuk mere―kebiasaan bangsa kera untuk membuat diri lebih bersemangat dengan mengeluarkan suara melengking tinggi―satu demi satu. Ketika tiba giliran Anggisrana, ia berdalih sedang radang tenggorokan sehingga diloloskan dari tes pertama. Hanoman lalu mengadakan tes kedua secara fisik. Semua pasukan kera diperintahkan menungging. Kemudian Hanoman memeriksa buntut kera satu per satu. Ketika tiba giliran Anggisrana, ia gemetar karena tidak mempunyai buntut. Anggisrana lalu ditangkap dan dibawa ke hadapan Rama, junjungan Hanoman. Namun Rama tidak menghukum Anggisrana. Ia justru diberi maaf dan hadiah, lalu disuruh segera pulang untuk melapor kepada Dasamuka (Rahwana).[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 Heru S Sudjarwo, Sumari, Undung Wiyono (2010). Rupa & Karakter Wayang Purwa Dewa, Ramayana, Mahabarata. Jakarta: Kakilangit Kencana. hlm. 227. ISBN 9786028556262.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. ↑ Pitoyo. "Anggisrana". Diakses tanggal 7 Mei 2014.
  3. ↑ Kyaine. "Rayuan Sarpakenaka". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-08. Diakses tanggal 8 Mei 2014.
  4. ↑ R. Rio Sudibyoprono (1991). Ensiklopedi Wayang Purwa. Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 42. ISBN 9799240034.
  5. 1 2 "Anggisrana". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-08. Diakses tanggal 8 Mei 2014.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan