Babat | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Tugu Wingko Babat | |||||
| Koordinat: 7°06′22″S 112°12′46″E / 7.1061°S 112.2128°E / -7.1061; 112.2128 | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Lamongan | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Noman Kresna Martha Sena, S.STP., M.Si. | ||||
| Populasi (2025) | |||||
| • Total | 88.887 jiwa | ||||
| Kode pos | 62271 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.24.05 | ||||
| Kode BPS | 3524100 | ||||
| Luas | 62,95 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 25 | ||||
| |||||
Babat adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Lamongan. Babat adalah kota kecil yang ramai karena terletak di persimpangan strategis yang menghubungkan Tuban di utara, Bojonegoro di barat, Jombang di selatan, serta ibu kota Lamongan hingga Surabaya di timur. Babat merupakan pusat ekonomi Lamongan barat dan juga salah satu yang termaju di Lamongan. Jumlah penduduknya juga merupakan yang terbesar kedua (setelah Paciran) yaitu sekitar 88 ribu jiwa pada tahun 2025. Babat dilengkapi dengan berbagai pusat perbelanjaan seperti Pasar Babat, Pasar Agrobis, dan Pasar Moropelang.[1] Selain itu, juga terdapat infrastruktur penunjang lain seperti Stasiun Babat, masjid jami', hingga rumah sakit.
Babat memiliki ikon kuliner bernama wingko babat, tetapi masyarakat umum sering menganggapnya berasal dari Semarang. Wingko babat adalah kue bundar dengan rasa manis yang terbuat dari campuran tepung ketan, kelapa, dan bahan lainnya. Wingko babat diabadikan dengan sebuah tugu yang berada di pusat kecamatan.[2] Selain itu, juga terdapat tempat ikonik lainnya berupa bukit kapur bernama Gunung Pegat yang berada di tepi Jalan raya Babat-Jombang.[3] Sedangkan dari segi sejarah terdapat berbagai bangunan kolonial yang masih bertahan. Hal tersebut karena wilayah ini pernah menjadi pusat Kawedanan Babat atau daerah pembantu bupati yang membawahi kecamatan-kecamatan di Lamongan barat.[4]
Geografi

Babat adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lamongan dan merupakan pintu masuk utama Lamongan dari arah barat. Perbatasan Babat dengan Kabupaten Tuban di utara dipisahkan oleh Sungai Bengawan Solo. Aliran sungai tersebut pernah berubah di zaman dahulu, sehingga salah satu desa yaitu Desa Truni sekarang berada di utara sungai. Sekarang Desa Truni terpisah dari desa lainnya di Babat dan dikelilingi Kecamatan Widang di Tuban.
Geografi Babat berupa dataran rendah dan didominasi oleh areal persawahan dan pertambakan. Selain itu, juga terdapat rawa seperti Rawa Semando yang memiliki fungsi sebagai penampungan air alami untuk mencegah banjir, tetapi sekarang banyak menjadi tambak liar.[5] Di bagian selatan Babat terdapat kawasan perbukitan kapur yang kecil. Salah satu yang terkenal adalah Gunung Pegat yang tingginya hanya sekitar 60 mdpl saja.[3]
Batas wilayah Kecamatan Babat adalah sebagai berikut:[6]
| Utara | Kecamatan Sekaran dan |
|---|---|
| Timur | Kecamatan Pucuk |
| Selatan | Kecamatan Modo, Kecamatan Kedungpring, dan Kecamatan Sugio |
| Barat |
Sejarah

Kecamatan Babat mengalami perkembangan pesat pada masa kolonial Belanda. Saat itu, wilayah ini menjadi pusat dari Kawedanan Babat. Kawedanan tersebut membawahi beberapa kecamatan di Lamongan barat yaitu Babat, Modo, Kedungpring, dan Sugio. Babat adalah satu dari 6 kawedanan yang ada di Lamongan pada tahun 1936 selain Kawedanan Lamongan, Patjiran, Soekodadi, Ngimbang, dan Karangbinangoen.[7] Salah satu peninggalan dari masa itu adalah Stasiun Babat. Beberapa rutenya sekarang nonaktif dan terbengkalai seperti jalur kereta api menuju Jombang dan Tuban.[8] Peninggalan lain di Babat di antaranya adalah Gedung CTN (Corps Tjadangan Nasional) yang diduga merupakan bekas kantor kawedanan, kantor Polsek, Jembatan Cincim, Gedung Garuda, dan lainnya.[4] Ikon kuliner dari Babat yang bernama wingko babat dikembangkan pertama kali pada masa kolonial Belanda. Usaha pertama yang memproduksi wingko babat adalah "Loe Lan Ing". Usaha tersebut didirikan oleh orang Tionghoa pada tahun 1898.[9]
Galeri
- Agresi Militer Belanda 1948 di Babat
- Bangunan rumah dinas di Stasiun Babat
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
Kecamatan Babat terdiri dari 21 desa dan 2 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa dusun / lingkungan, yakni sebagai berikut:[10]
| No. | Nama Wilayah | Tipe | Nama Dusun / Lingkungan |
|---|---|---|---|
| 1 | Babat | Kelurahan | Babat, Gilang, Ngetrep, Sawo, Tanggul |
| 2 | Banaran | Kelurahan | Banaran, Gerdu, Kalongan, Karangrejo, Roworejo, Santren |
| 3 | Bedahan | Desa | Bedahan, Tangar |
| 4 | Bulumargi | Desa | Awar-awar, Bulugondang, Karangdowo, Kemlagi, Kepoh |
| 5 | Datinawong | Desa | Dati, Nawong, Tegalrejo |
| 6 | Gembong | Desa | Gembong, Beru, Suruhan |
| 7 | Gendong Kulon | Desa | Gendong Kulon, Pereng |
| 8 | Karangkembang | Desa | Karangasem, Podang |
| 9 | Kebalanpelang | Desa | Kebalanpelang |
| 10 | Kebalandono | Desa | Balan, Dono, Ngablak |
| 11 | Kebonagung | Desa | Dawar, Kalen, Kutut |
| 12 | Keyongan | Desa | Keyongan, Bener, Leran |
| 13 | Kuripan | Desa | Kuripan, Mojosari, Mojosewu, Payaman |
| 14 | Moropelang | Desa | Moropelang |
| 15 | Patihan | Desa | Patihan |
| 16 | Plaosan | Desa | Plaosan |
| 17 | Pucakwangi | Desa | Pucakwangi |
| 18 | Sambangan | Desa | Sambangan, Jetis |
| 19 | Sogo | Desa | Sogo |
| 20 | Sumurgenuk | Desa | Sumurgenuk, Bulutrate, Ploro |
| 21 | Trepan | Desa | Gumingging, Taman |
| 22 | Tritunggal | Desa | Beton, Grogol, Tesan |
| 23 | Truni | Desa | Truni |
Tempat terkenal

- Tugu Wingko
- Stasiun Babat
- Stasiun Gembong
- Masjid Jami' Babat
- Masjid Jami' Al Huda Bedahan
- Gunung Pegat
- Batalyon Zeni Tempur 5 (Yonzipur 5) Kompi A
Pusat perbelanjaan

- Pasar Babat
- Pasar Agrobis Semando
- Pasar Moropelang
- Pasar Gembong
- Keraton BBJ Babat - juga dilengkapi kolam renang
Fasilitas kesehatan
- RSUD Karangkembang
- RSU Muhammadiyah Babat (RSUMB)
- RS Muhammadiyah Babat (RSMB)
- RS Nahdlatul Ulama Babat
- RS Permata Bunda
- Puskesmas Babat
- Puskesmas Moropelang
Kuliner
Wingko babat

Wingko babat adalah kuliner khas Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Wingko babat adalah kue berbentuk bundar yang empuk dan manis. Wingko terbuat dari campuran tepung ketan, kelapa parut, santan, gula pasir, dan lainnya. Meskipun sering diasosiasikan dengan Semarang, sejarah mencatat bahwa wingko babat pertama kali dibuat di Babat pada tahun 1898 oleh perantau Tionghoa bernama Loe Soe Siang. Kemudian anaknya yang bernama Loe Lan Ing meneruskan usahanya dengan merk "Loe Lan Ing" yang sekarang dikenal sebagai salah satu merk paling terkenal.[11][9]
Referensi
- ↑ Mohammad Sholahuddin A. (2016). "PENGARUH PEMBANGUNAN PASAR BABAT TERHADAP MUNCULNYA PEDAGANG KAKI LIMA DI JALAN KARTINI DAN JALAN PENDIDIKAN KELURAHAN BABAT KECAMATAN BABAT KABUPATEN LAMONGAN". Swara Bhumi. 1 (2). Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
- ↑ Eko Sudjarwo (2022-09-17). "Tugu Wingko Lamongan, Peneguh Jajanan Itu Khas Babat". Eko Sudjarwo.
- 1 2 A.Thoriq Hidayatullah. BERITA JATIM https://beritajatim.com/857999.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong; Teks "date-2022-09-12" diabaikan - 1 2 Eko Sudjarwo (2017-08-20). "Babat, Kota Tua yang Masih Menyimpan Bangunan Era Kolonial". DETIK.
- ↑ Hanif Manshuri (2026-05-11). "Rawa Semando Babat Lamongan Berubah Jadi Tambak, Daya Tampung Air Menurun". SURYA.
- ↑ Kabupaten Lamongan Dalam Angka 2026. BPS Kabupaten Lamongan. 2026-02-27.
- ↑ [Administratieve indeling van Java en Madoera] - sheet 3 (Oost Java). Leiden University Libraries Digital Collections. 1936.
- ↑ Refian Syarifil M (2024-09-28). "Mengintip BDSM, Salah Satu Jalur Kereta Api Kuno di Jombang yang Kini Tinggal Jejaknya". RADAR JOMBANG.
- 1 2 Farah Fadhillah Putri (2022). "DINAMIKA INDUSTRI KULINER WINGKO BABAT "LOE LAN ING" PADA TAHUN 1998 – 2019". AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah. 12 (2). Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
- ↑ Kecamatan Babat Dalam Angka 2018. BPS Kabupaten Lamongan. 2018-09-26.
- ↑ Eko Sudjarwo (2022-11-02). "Resep Wingko Babat Lamongan yang Manis, Gurih dan Lembut". DETIK JATIM.
| Kecamatan | ||
|---|---|---|
