Minggu, 20 September 2026
09:55 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Taman kanak-kanak

Taman kanak-kanak

lembaga prasekolah dengan pendekatan pendidikan tradisional berbasis bermain

Bagian dari seri
Pendidikan di Indonesia
120px-Logo_of_Ministry_of_Education_and_Culture_of_Republic_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 120px-Seal_of_the_Ministry_of_Religious_Affairs_of_the_Republic_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail 120px-Logo_of_the_Ministry_of_Social_Affairs_of_the_Republic_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi
Kementerian Agama
Kementerian Sosial
Pendidikan doktoral (Doktoral dan Pascadoktoral)
250px-Parent%27s_day_at_Eirfan%27s_Kindergarten.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Murid taman kanak-kanak di Jepang.
250px-Little_school_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Murid taman kanak-kanak di Indonesia.

Taman Kanak-Kanak (TK) adalah jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam bentuk pendidikan formal yang bersedia untuk anak berumur 6 tahun ke bawah. Kurikulum TK ditekankan pada pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Lama masa belajar seorang murid di TK biasanya tergantung pada tingkat kecerdasannya yang dinilai dari rapor per semester. Secara umum untuk lulus dari tingkat program di TK selama 2 (dua) tahun,[1] yaitu:

  • TK 0 (nol) Kecil (TK kecil) selama 1 (satu) tahun
  • TK 0 (nol) Besar (TK besar) selama 1 (satu) tahun

Pada tahun 2016,[update] menempuh pendidikan TK adalah tidak wajib untuk menempuh sekolah dasar (SD).[2] Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), tidak disebutkan bahwa ijazah TK sebagai syarat wajib untuk masuk SD.[3] Oleh karena itu, untuk masuk SD, seseorang tidak wajib menempuh pendidikan pada jenjang TK.[3]

Pembelajaran di TK

250px-Little_Genie_Kindergarten.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Taman kanak-kanak di Johor, Malaysia.

Di TK, siswa diberi kesempatan untuk belajar dan diberikan kurikulum pembelajaran yang sesuai dengan usia pada tiap-tiap tingkatannya. Siswa diajarkan mengenai hal berikut ini:

Kurikulum TK:

  1. agama
  2. budi bahasa
  3. berhitung
  4. membaca (mengenal aksara dan ejaan)
  5. bernyanyi
  6. bersosialisasi dalam lingkungan keluarga dan teman-teman sepermainannya, dan
  7. berbagai macam keterampilan lainnya.

Tujuan belajar di TK adalah meningkatkan daya cipta anak-anak dan memacu mereka untuk belajar mengenal berbagai macam ilmu pengetahuan melalui pendekatan nilai budi bahasa, agama, sosial, emosional, fisik, motorik, kognitif, bahasa, seni, dan kemandirian.[butuh rujukan] Semua dirancang sebagai upaya mengembangkan daya pikir dan peranan anak dalam hidupnya.

Lihat pula

Referensi

  1. "Masuk TK saat Anak Usia 4 atau 5 Tahun? Cek Aturan SPMB 2025". Kompas. Diakses tanggal 18 Mei 2025.
  2. Hasanah, Sovia (30 November 2016). "Perlukah Ijazah TK Untuk Mendaftar Masuk SD?". hukumonline.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-05. Diakses tanggal 29 Mei 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Azizah, Ulvia Nur. "Syarat Masuk SD 2025 Apakah Harus Ada Ijazah TK? Ini Ketentuan Terbaru SPMB". detikjateng. Diakses tanggal 2025-05-18.

Bacaan lanjutan

  • Cryan, J. R.; Sheehan, R.; Wiechel, J.; Bandy-Hedden, I. G. (1992). "Success outcomes of full-day kindergarten: More positive behavior and increased achievement in the years after". Early Childhood Research Quarterly. 7 (2): 187–203. doi:10.1016/0885-2006(92)90004-i.
  • Elicker, J.; Mathur, S. (1997). "What do they do all day? Comprehensive evaluation of a full-day kindergarten". Early Childhood Research Quarterly. 12 (4): 459–480. doi:10.1016/S0885-2006(97)90022-3.
  • Fusaro, J. A. (1997). "The effect of full-day kindergarten on student achievement: A meta-analysis". Child Study Journal. 27 (4): 269–277. Diakses tanggal September 30, 2013.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Gullo, D. F. (1990). "The changing family context: Implications for the development of all-day kindergarten." Young Children, 45(4), 35–39. EJ 409 110.
  • Housden, T., & Kam, R. (1992). "Full-day kindergarten: A summary of the research." Carmichael, CA: San Juan Unified School District. ED 345 868.
  • Karweit, N. (1992). "The kindergarten experience." Educational Leadership, 49(6), 82–86. EJ 441 182.
  • Koopmans, M. (1991). "A study of longitudal effects of all-day kindergarten attendance on achievement." Newark, NJ: Newark Board of Education. ED 336 494..
  • Morrow, L. M., Strickland, D. S., & Woo, D. G.(1998). "Literacy instruction in half- and whole-day kindergarten." Newark, DE: International Reading Association. ED 436 756.
  • Olsen, D., & Zigler, E.(1989). "An assessment of the all-day kindergarten movement." Early Childhood Research Quarterly, 4(2), 167–186. EJ 394 085.
  • Puleo, V. T.(1988). "A review and critique of research on full-day kindergarten." Elementary School Journal, 88(4), 427–439. EJ 367 934.
  • Towers, J. M. (1991). "Attitudes toward the all-day, everyday kindergarten." Children Today, 20(1), 25–28. EJ 431 720.
  • West, J., Denton, K., & Germino-Hausken, E.(2000). "America's Kindergartners[pranala nonaktif permanen]" Washington, DC: National Center for Educational Statistics
  • McGill-Franzen, A. (2006). "Kindergarten literacy: Matching assessment and instruction in kindergarten." New York: Scholastic.
  • WestEd (2005). "Full-Day Kindergarten: Expanding Learning Opportunities." Diarsipkan 2007-01-06 di Wayback Machine. San Francisco: WestEd.
  • Schoenberg, Nara (September 4, 2010). "Kindergarten: It's the new first grade". Chicago Tribune. Diakses tanggal Juni 26, 2012.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Kindergarten.
Lihat entri kindergarten di kamus bebas Wikikamus.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan