Minggu, 20 September 2026
23:25 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Sigalingging

salah satu marga Batak Toba

Artikel ini sudah memiliki daftar referensi, bacaan terkait, atau pranala luar, tetapi sumbernya belum jelas karena belum menyertakan kutipan pada kalimat. Mohon tingkatkan kualitas artikel ini dengan memasukkan rujukan yang lebih mendetail bila perlu. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini bukan mengenai Baringbing. Keduanya merupakan marga yang berbeda.
Sigalingging
Aksara Batakᯘᯪᯎᯞᯪᯰᯎᯪᯰ
(Surat Batak Toba)
Nama marga
  • Sigalingging
  • Galingging
Silsilah
Generasi dari Si Raja Batak
1Si Raja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadijulu
(Nai Ambaton)
5Raja Sitempang
6Raja Sitanggang
(Raja Pangururan)
7Raja Pangulu Oloan
(Sigalingging)
Nama lengkap tokohRaja Pangulu Oloan
(Raja Sigalingging)
Nama istri
Nama anak (putra)
  • 1. Guru Mangarissan
    (Sigorak)
  • 2. Raja Tinatea
    (Tambolang)
  • 3. Namora Pangujian
    (Parhaliang)
Nama boru (putri)Boru Sigalingging
(Dinikahi oleh Siamporik Naibaho Siahaan)
Kekerabatan
Induk margaSitanggang
KlanParna
(bersama seluruh marga keturunan Tuan Sorbadijulu)
Marga sekerabat
TurunanGaringging
Mpu Bada:
Mataniari binsarNaibaho Sitangkaraen
Asal
SukuBatak
Etnis
LahirPangururan, Samosir
Daerah asal
Monumen
Lokasi tuguSait Nihuta
2°37′8.36″N 98°41′44.77″E / 2.6189889°N 98.6957694°E / 2.6189889; 98.6957694
Paguyuban
Organisasi paguyubanPPRS (Parsadaan Pomparan Raja Sigalingging)

Sigalingging atau Galingging (Surat Batak: ᯘᯪᯎᯞᯪᯰᯎᯪᯰ) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari Samosir. Leluhur dari marga Sigalingging adalah Raja Pangulu Oloan, cucu dari Raja Sitempang.

Asal

Sigalingging termasuk dalam marga-marga Pomparan ni Raja Nai Ambaton atau Parna, leluhur (bona pasogit) Raja Sigalingging berasal dari Sait Nihuta, Samosir.[1]

Tuan Sorbadijulu (Nai Ambaton) memiliki dua orang anak yakni Raja Sitempang dan Raja Nabolon. Raja Sitempang memiliki dua orang anak yaitu Raja Sitanggang dan Raja Sigalingging. Raja Sitanggang inilah yang kerap disebut sebagai Raja Pangururan, dan penguasa tanah/golat di Pangururan adalah keturunan dari Raja Sitempang.

Raja Sigalingging memiliki tiga orang anak dan seorang putri. Istri dari Raja Sigalingging adalah Boru Naibaho Sitangkaraen, sedangkan putri dari Raja Sigalingging kawin dengan putra dari Naibaho Siahaan. Berikut nama anak Raja Sigalingging:

  1. Guru Mangarissan (Sigorak)
  2. Raja Tinatea (Tambolang)
  3. Namora Pangujian (Parhaliang)

Salah satu cucu Raja Sigalingging adalah Mpu Bada anak dari Guru Mangarissan (Sigorak) yang merantau ke Sindeas, Dairi, Pakpak, dan memperoleh beberapa marga, antara lain:

Dan keturunan Parhaliang yang merantau dari Ajinembah Karo ke Raya Simalungun dan membawa marga:

  • Garingging / Saragih Garingging

Keturunan lain dari Raja Sigalingging adalah Datu Bangun Sigalingging di daerah Sirisirisi Dolok Sanggul (sebahagian pindah ke arah Pakkat)

Seluruh keturunan marga Sigalingging ini terkumpul dalam wadah organisasi paguyuban atau punguan marga dengan nama PPRS (Parsadaan Pomparan Raja Sigalingging)

Tarombo Si Raja Batak - Raja Sigalingging

Artikel utama: Tarombo Batak
Tarombo Raja Batak sahat tu Raja Sigalingging sahat sundut 9
Tarombo Si Raja Batak - Raja Sigalingging

Sigalingging merupakan salah satu marga yang tergabung dalam perkumpulan Parna atau Parsadaan Nai Ambaton. Dengan kata lain, marga Sigalingging merupakan salah satu marga yang merupakan keturunan dari Tuan Sorbadijulu atau Nai Ambaton.

Raja Sitempang menikah dengan Si Boru Porti Mataniari dan memperoleh seorang putra, yaitu: Raja Sitanggang yang bergelar Raja Pangururan. Kemudian Raja Sitanggang menikah dengan putri sulung dari Raja Siganjang Ulu Naibaho dan memperoleh tiga orang putra, yaitu: (1) Raja Panungkunan (Tanja Bau) yang kemudian menurunkan marga Sitanggang Bau dan Sitanggang Gusar; (2) Raja Pangadatan (Raja Paradatan) yang kemudian menurunkan marga Sitanggang Lipan, Sitanggang Upar, Sitanggang Silo, Sitabi Dalan (Raja Simanihuruk), dan Silaplap Bosi (Raja Sidauruk); (3) Raja Pangulu Oloan (Raja Sigalingging).

Tarombo (Silsilah) marga Sigalingging

Artikel utama: Tarombo Batak

Raja Pangulu Oloan (Raja Sigalingging) menikah dengan Boru Naibaho Sitangkaraen dan memperoleh tiga orang putra, yaitu: (1) Guru Mangarissan (Sigorak), (2) Raja Tinatea (Tambolang), dan (3) Namora Pangujian (Parhaliang).

Guru Mangarissan (Sigorak) kemudian memiliki tiga orang putra, yaitu (1) Ompu Limbong, (2) Ompu Bonar, dan (3) Ompu Bada yang kemudian pergi ke Manduamas dan memperoleh enam orang putra yang masing-masing menurunkan marga baru, yaitu: (1) Tendang, (2) Banurea, (3) Manik Kecupak, (4) Beringin, (5) Gajah, dan (6) Berasa. Kemudian Raja Tinatea (Tambolang) memiliki tiga orang putra, yaitu: (1) Guru Sinalsal, (2) Datu Ronggur, dan (3) Guru Solaosan. Lalu Namora Pangujian (Parhaliang) memiliki seorang putra yang bernama Ompu Raja Niaji yang kemudian keturunannya terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu: Ompu Tinggi Raja dan Ompu Tuan Nagoni.

Raja Sitempang

Raja Sitempang adalah anak Raja Nai Ambaton.[2] Atau dengan kata lain mereka adalah Keturunan Si Raja Batak dari garis keturunan Raja Isumbaon yang sering disebut garis Mataniari, berbeda dengan garis keturunan Guru Tatea Bulan yang disebut garis Bulan.

Garis keturunan Mataniari diwarisi oleh Si Raja Batak sebuah Kitab bernama “Tumbaga Holing” yang berisikan Hukum, Ketatanegaraan, Bercocok Tanam, Bertukang, hingga Seni Mencipta. Sementara golongan Bulan diwarisi “Pustaha Laklak” yang berisi Ilmu Pengobatan, Ilmu Perbintangan dan Spiritual.

Warisan ini tentu menjadi suatu kekayaan, termasuk bagi Raja Naiambaton dan anaknya Raja Sitempang turut mewarisi hal ini. Raja Sitempang dalam pengasingannya juga terampil dalam seni mencipta, ia bahkan membangun pondokan/sopo yang indah untuk istrinya.

Ketika kembali dari pengasingannya Raja Sitempang membuka sebuah huta (kampung), di huta itu ia melanjutkan kepiawaiannya dalam seni mencipta. Tidak hanya itu, ia juga membantu dan mengajarkan masyarakat di huta itu dalam hal seni bertukang dan membangun rumah. Keterampilannya mengolah batang pohon menjadi “urur” (kayu kasau/beroti, kayu yang dipakai untuk membangun rumah dan penyangga bangunan) akhirnya tersohor sampai ke daerah lain, sehingga banyak orang yang datang untuk mencari nya.

Jaman dahulu belum semudah seperti sekarang dalam mengolah kayu, karena peralatannya masih belum canggih, menebang pohon dan membentuknya menjadi kayu kasau (urur) hanya menggunakan kapak dari batu, ataupun dari tembaga yang kasar. Karena itu butuh keterampilan dalam membuatnya.

Semakin banyaklah orang datang ke huta yang dibuka oleh Raja Sitempang untuk mencari urur, dan sebagian lagi belajar membuat urur. Karena itulah huta itu akhirnya diberi nama “Pang-urur-an” tempat orang mendapatkan urur untuk membuat bangunan.

  • Bius Sitolu Hae Horbo

Bius Pangururan disebut Bius Sitolu Tali yang kemudian berubah nama menjadi Bius Sitolu Hae Horbo. Disebut Tolu Hae karena yang memiliki harajaon adalah tiga Marga yaitu: Simbolon, Sitanggang, dan Naibaho. Apabila ada acara, maka masing-masing marga ini dapat sakhae dari kerbau yang disembelih. Konon katanya, hae keempat ditanam dibatu mamak. Kemudian dalam perkembangannya hae keempat diberikan kepada pargonsi.

  • Aek Parsuangan

Di salah satu sisi di Gunung Pusuk Buhit, ada 3 (tiga) mata air yang disebut Aek Parsuangan. Pemilik dan nama mata air itu berturut-turut dari atas kebawah adalah: Simbolon, Sitanggang, dan Naibaho.

Mpu Bada

Mpu Bada Sigalingging adalah cucu dari Raja Sigalingging, dari anak pertama Guru Mangarissan (Sigorak). Dalam sejarahnya Mpu Bada membuka 'huta' ke arah Sindeas Manduamas, hingga Dairi, Pakpak. Keturunan Mpu Bada terdapat di Kelasen Kabupaten Dairi di Manduamas Kabupaten Tapanuli Tengah dan di Boang Kabupaten Aceh Selatan

Marga-marga keturunan Mpu Bada:

  1. Marga Tendang yang tersebar di Boang Aceh
  2. Rea menjadi Banurea di Salak (Dairi)
  3. Manik (dari Pakpak) yaitu Manik Kecupak dan Manik Pegindar di Dairi
  4. Bringin di Simerpara (Dairi)
  5. Gajah di Manduamas (Tapanuli Tengah), Parmonangan (Tapanuli Utara), Pakkat, dan Dairi
  6. Berasa di Parmonangan, Parlilitan dan Sileang Kab Tapanuli Utara

Tarombo Mpu Bada dari sumber buku zaman Hindia Belanda [3]

250px-Ompu_Bada_Sigalingging.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Huta Sigalingging

Keturunan Raja Sigalingging terkenal perantau ulung, pemberani dan penolong, sehingga banyak menguasai lahan hutan dan mendapat tanah dari upaya menolong orang, sehingga memiliki banyak tanah ulayat/huta. Huta Sigalingging tersebar seluas yang dijelajahi di beberapa Kabupaten Sumatera Utara, berikut daftarnya:

Desa Sigalingging, Sidikalang
Desa Sigalingging, Sidikalang
  1. Lumban Sigalingging di Desa Sait Nihuta, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir (Bona Pasogit Sigalingging - Makam Raja Pangulu Oloan (Raja Sigalingging) - Tempat Tugu)
  2. Huta Sigalingging di Desa Tanjungbunga, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir
  3. Huta Sigalingging Tarabunga di Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir
  4. Lumban Sigalingging di Sirait Uruk, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba
  5. Desa Sigalingging, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi
  6. Lumban Sigalingging di Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi
  7. Huta Sigalingging Sigumbang, Siborongborong, Tapanuli Utara
    330px-Lembaga_Adat_Batak_Pakpak_-_Sulang_Silima_Marga_Sigalingging_Rading_Berru_Lebbuh_Siburabura_%2801%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
    Sekretariat Lembaga Adat Sulang Silima Marga Sigalingging Rading Berru di Siburabura, Sidikalang.
  8. Huta Sigalingging di Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Taput
  9. Huta Sigalingging Lumban Bangun Sirisi-risi, Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbahas
  10. Huta Sigalingging di Siambaton, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbahas
  11. Huta Sigalingging, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbahas
  12. Huta Sigalingging di Kecamatan Manduamas, Kabupaten Tapteng
  13. Desa Garingging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo
  14. Huta Sigalingging Combi Boang, Kabupaten Aceh Singkil
  15. Lumban Sigalingging / Huta ginjang ( Sitabo- tabo) Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir


Mars Raja Sigalingging

Pencipta : Titus Sigalingging (Op. Juan) lirik:

Na marbona do songon aek marmula do songon udan,
Sigalingging bonapasogit jonokhon ni Pangururan
Sian i do haborhatan ni pomparan ni Raja Sigalingging i
Tu angka luat si hadaoan humaliang dasa naualu i tu angka luat di parserahan

Hutai ma parningotan Disi do tugu ni ompu,
si ingoton ni pinomparna Di nadao nang na jonok
Tolu do anak ni Ompui Ima si Gorak si angkkangan na i
Sitambolang anak paidua si Parhaliang ma siampudan i tubu ni Boru Naibaho dohot Malau.

Sai sitorop ma di dangkana si toropma di rantingna,
sai toropma nang di hahana Toropma nang di anggina
Sai horas ma pomparanna i dipasupasu Tuhanta Debata
Marsihohot hita martangiang mangido sian parholong roha i, Ima Tuhanta parasiroha i

Sai horas namarhaha anggi horas manang diboruna,
rap tu dolok rap tu toruan tu hamajuon
Sai ta tiop holong dame i diparsaoran nang di punguan i
Dos ni roha dohot hasadaon di haha anggi dohot di boru i, Ima ta tiop ta ingot sai tongtong

Referensi

  1. Buku Tarombo Raja Sigalingging, 2002
  2. Buku: Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja Nai Ambaton Oleh: Bachtiar Sitanggang, SH dan Brigjen Polisi (Purn) Drs. Antonius Sitanggang, SH, MH, Jakarta, 16 Agustus 2020.
  3. Eerste Maatregelen in pas geannexeerd gebied, L Van Vuuren, 1910
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan