| Simbolon | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Aksara Batak | ᯘᯔᯪ᯲ᯅᯬᯞᯉᯬ᯲ (Surat Batak Toba) | ||||||||||||
| Nama marga | Simbolon | ||||||||||||
| Arti | si + (m) bolon (si besar) | ||||||||||||
| Silsilah | |||||||||||||
| Generasi dari Si Raja Batak |
| ||||||||||||
| Nama lengkap tokoh | Raja Bolon Tua | ||||||||||||
| Nama istri | Boru Limbong | ||||||||||||
| Nama anak (putra) |
| ||||||||||||
| Genealogi | |||||||||||||
| Induk marga | Raja Nabolon | ||||||||||||
| Klan | Parna (bersama seluruh marga keturunan Tuan Sorbadijulu) | ||||||||||||
| Marga sekerabat |
| ||||||||||||
| Turunan |
| ||||||||||||
| Mataniari binsar | Limbong | ||||||||||||
| Asal | |||||||||||||
| Suku | Batak | ||||||||||||
| Etnis | Batak Toba | ||||||||||||
| Lahir | Pangururan, Samosir | ||||||||||||
| Daerah asal | |||||||||||||
| Monumen | |||||||||||||
| Lokasi tugu | ![]() | ||||||||||||
| Paguyuban | |||||||||||||
| Organisasi paguyuban | PSBI (Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia) | ||||||||||||
| Ketua Umum | Effendi Simbolon (periode 2007—Sekarang) | ||||||||||||
| Sekretaris | Jonner Dismas Simbolon | ||||||||||||
Simbolon (Surat Batak: ᯘᯔᯪ᯲ᯅᯬᯞᯉᯬ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari Samosir. Marga ini merupakan salah satu keturunan dari Raja Nai Ambaton yang menyebar dari wilayah Samosir bagian barat hingga utara,[1] seperti Pangururan, Palipi, dan Ronggur Nihuta.
Latar belakang
Menurut literatur Batak Toba yang diterima secara umum, Si Raja Batak memiliki dua anak, yaitu Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon, Raja Isumbaon memiliki tiga anak, yaitu Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi, dan Sangkar Somalindang. Tuan Sorimangaraja memiliki tiga anak, yakni Tuan Sorbadijulu, Tuan Sorbadijae, dan Tuan Sorbadibanua.
Tuan Sorbadijulu yang bergelar Nai Ambaton memiliki dua keturunan, yakni Raja Nabolon dan Raja Sitempang. Beberapa literatur bertentangan tentang urutan keturunan Tuan Sorbadijulu. Namun, semua sepakat bahwa baik Simbolon maupun Sitanggang merupakan keturunan Tuan Sorbadijulu melalui anak yang berbeda. Raja Nabolon menurunkan lima orang anak, yaitu: Bolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Munte Tua, dan Nahampun Tua. Marga Simbolon dimulai dari Bolon Tua yang memperistri perempuan Boru Limbong, putri dari Ompu Langgat Limbong. Bolon Tua dan Boru Limbong, memiliki dua orang anak, yakni Suri Raja (Tunggul Sibisa) dan Martua Raja. Kedua keturunan Simbolon ini diakui oleh PSBI (Punguan Simbolon) sebagai pokok dari Simbolon Sipitu Sohe.
Dari Marsinta Dongan Boru Naibaho, Suri Raja menurunkan Simbolon Tuan Nahoda Raja I. Keturunan Tuan Nahoda Raja I yang bermukim di daerah Kalasan menurunkan kelompok marga baru yang disebut sebagai Sionom Hudon (enam periuk), yakni Si Tambun (Marga Tinambunan), Si Tanggor (Marga Tumanggor), Si Raja (Marga Maharaja), Si Turut (Marga Turutan), Si Payung (Marga Pinayungan), dan Si Anak Ampun (Marga Nahampun). Dari Leang Nagurasta, Suri Raja menurunkan Simbolon Tuan Juara Bulan. Beberapa literatur menyebut Simbolon Tuan Juara Bulan sebagai Simbolon Panihai. Namun, namanya yang disepakati oleh PSBI (Punguan Simbolon) sebagai bagian Simbolon Sipitu Sohe adalah Simbolon Tuan Juara Bulan. Baik Tuan Nahoda Raja I maupun Tuan Juara Bulan saling menggunakan nama "Tuan" dan keturunannya terkadang tidak ingin dipisahkan antara keduanya. Dari Boru Manurung, Suri Raja menurunkan Simbolon Pande Sahata dan Simbolon Altong Nabegu. Sementara, Martua Raja menikahi Boru Pasaribu Habeahan dan menurunkan Simbolon Suhutnihuta, Simbolon Sirimbang, dan Simbolon Hapotan.
Hubungan dengan marga lain
Secara tradisional, marga Simbolon bersama dengan Sitanggang menjalin hubungan yang kuat dengan marga Naibaho di Pangururan.[2] Ketiganya berbagi batas tanah ulayat di Pangururan. Ketika banjir besar melanda Sabulan, marga-marga keturunan Raja Lontung yang mendiami tempat itu memilih untuk berpindah ke Urat. Dari Urat, empat kelompok marga tertua Lontung, yaitu Sinaga, Situmorang, Pandiangan, dan Nainggolan, mencoba untuk menyebar ke utara dan barat Samosir. Namun, mereka diusir oleh marga Simbolon dan Sitanggang. Sebagai bentuk perjanjian damai di antara kedua kelompok marga tersebut (keturunan Sumba dan keturunan Lontung), ditetapkan garis imajiner sebagai batas wilayah yang ditarik dari sebuah aliran air di pesisir barat Samosir hingga bongkah di tanjung pesisir timur pulau itu, tepat di bagian selatan Tomok. Garis imajiner ini diterima sebagai batas antara wilayah marga-marga keturunan Sumba dan Lontung di Pulau Samosir. Bius Lintong Nihuta, Simbolon, Rianiate, Ronggur Nihuta, Pangururan, Buhit, Lumban Suhisuhi, Parbaba, Limbong-Harian, Sagala, Tamba, Sihotang, Simarmata, Simanindo, Sibatubatu, Ambarita, Tomok merupakan wilayah kekuasaan Sumba. Bius Hatoguan, Sabulan, Palipi, Urat, Sirait, Nainggolan, Lontung, Onan Runggu merupakan wilayah kekuasaan Lontung.[3]
Tokoh

Beberapa tokoh yang bermarga Simbolon, di antaranya adalah:
Referensi
- ↑ Vergouwen 2013, hlm. 10.
- ↑ Vergouwen 2013, hlm. 22.
- ↑ Vergouwen 2013, hlm. 23.
Daftar pustaka
- Vergouwen, Jacob Cornelis (2013). Keuning, J. (ed.). The Social Organisation and Customary Law of the Toba-Batak of Northern Sumatra (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Scot-Kemball, Jeune. Springer Science & Business Media. ISBN 978-94-015-1035-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
