Jumat, 06 November 2026
05:34 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Operasi Crossroads

Operasi Crossroads

percobaan senjata nuklir terhadap kapal perang bekas perang dunia 2

Bagikan:
Operasi Crossroads
CrossroadsAble2.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled330px-Crossroads_Baker.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ledakan uji coba Able (atas) dan Baker (bawah) dalam Operasi Crossroads
Information
NegaraAmerika Serikat
TempatBagian timur laut Laguna Bikini, Atol Bikini
Periode1946
Jumlah pengujianDua dilaksanakan dan satu dibatalkan
Jenis pengujianPenjatuhan bebas dari udara, bawah air
Kekuatan maks.22–23 kiloton TNT (92–96 TJ)
Kronologi rangkaian uji coba

Operasi Crossroads adalah dua uji coba senjata nuklir yang dilakukan Amerika Serikat di Atol Bikini pada pertengahan 1946. Keduanya merupakan uji coba nuklir pertama sejak Trinity pada 16 Juli 1945 dan peledakan perangkat nuklir pertama sejak pengeboman atom Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Uji coba ini bertujuan meneliti dampak senjata nuklir terhadap kapal perang.

Uji coba Crossroads mengawali serangkaian uji coba nuklir di Kepulauan Marshall. Uji coba ini juga merupakan uji coba pertama yang diumumkan kepada publik sebelum pelaksanaannya dan disaksikan para undangan, termasuk sejumlah besar wartawan. Pelaksanaannya ditangani oleh Satuan Tugas Gabungan Angkatan Darat/Angkatan Laut Satu, yang dipimpin Laksamana Madya William H. P. Blandy, bukan oleh Proyek Manhattan, yang mengembangkan senjata nuklir selama Perang Dunia II. Sebanyak 93 kapal sasaran dihimpun di Laguna Bikini untuk menerima dampak dua ledakan bom plutonium Fat Man dengan mekanisme implosi, jenis yang dijatuhkan di Nagasaki pada 1945. Masing-masing bom memiliki daya ledak 23 kiloton TNT (96 TJ).

Uji coba pertama diberi nama Able. Bomnya dinamai Gilda, mengikuti tokoh yang diperankan Rita Hayworth dalam film Gilda (1946). Bom tersebut dijatuhkan pada 1 Juli 1946 dari pesawat B-29 Superfortress Dave's Dream milik Grup Pengeboman ke-509. Bom meledak pada ketinggian 520 kaki (158 m) di atas armada sasaran. Kerusakan kapal yang ditimbulkannya lebih ringan daripada perkiraan karena bom meleset sejauh 2.130 kaki (649 m) dari titik bidik.

Uji coba kedua, Baker, menggunakan bom yang dikenal sebagai Helen of Bikini. Bom ini diledakkan pada kedalaman 90 kaki (27 m) di bawah permukaan air pada 25 Juli 1946. Semburan air laut radioaktif menyebabkan kontaminasi yang meluas. Uji coba ketiga di perairan dalam, yang dinamai Charlie, direncanakan untuk 1947, tetapi dibatalkan terutama karena Angkatan Laut Amerika Serikat tidak mampu mendekontaminasi kapal-kapal sasaran setelah uji coba Baker. Pada akhirnya, hanya sembilan kapal sasaran yang dapat dibongkar untuk diambil besi tuanya; kapal lainnya harus ditenggelamkan dengan sengaja. Charlie kemudian dijadwalkan ulang sebagai Operasi Wigwam, uji ledak di perairan dalam yang dilaksanakan pada 1955 di lepas pantai Meksiko (Baja California).

Penduduk asli Bikini dievakuasi dari pulau itu dengan kapal LST-861, dan sebagian besar dipindahkan ke Atol Rongerik. Pada 1950-an, serangkaian uji coba termonuklir berdaya ledak besar menimbulkan kontaminasi radioaktif yang membuat Bikini tidak layak untuk pertanian subsisten dan penangkapan ikan. Hingga 2017, Bikini masih tidak berpenghuni, meskipun sesekali dikunjungi penyelam rekreasi.

Para perencana berupaya melindungi peserta uji coba Operasi Crossroads dari sindrom radiasi akut, tetapi sebuah penelitian menunjukkan bahwa harapan hidup peserta berkurang rata-rata tiga bulan. Kontaminasi radioaktif pada seluruh kapal sasaran akibat uji coba Baker merupakan kasus pertama jatuhan radioaktif dari ledakan nuklir yang terjadi segera dan terkonsentrasi. Kimiawan Glenn T. Seaborg, ketua Komisi Energi Atom dengan masa jabatan terlama, menyebut Baker sebagai "bencana nuklir pertama di dunia".[1]

Latar belakang

Foto udara kapal-kapal sasaran yang berlabuh berjajar di Pearl Harbor, Hawaii.
Calon kapal sasaran dan kapal pendukung Operasi Crossroads di Pearl Harbor pada 27 Februari 1946. Dari depan ke belakang: USS Crittenden, Catron, Bracken, Burleson, Gilliam, Fallon, sebuah kapal yang tidak diketahui identitasnya, Fillmore, Kochab, Luna, serta sebuah kapal tanker dan kapal Liberty yang tidak teridentifikasi. Di sebelah kanan tampak LSM-203 dan LSM-465. Lebih jauh di latar belakang terdapat sebuah dok apung dan bangkai kapal niaga.

Usulan pertama untuk menguji senjata nuklir terhadap kapal perang diajukan pada 16 Agustus 1945 oleh Lewis Strauss, yang kelak menjadi ketua Komisi Energi Atom. Dalam memo internal kepada Menteri Angkatan Laut James Forrestal, Strauss berpendapat, "Jika uji coba semacam itu tidak dilakukan, akan muncul desas-desus bahwa armada sudah ketinggalan zaman dalam menghadapi senjata baru ini, dan hal itu akan menghambat pengalokasian dana untuk mempertahankan Angkatan Laut pascaperang sebesar yang kini direncanakan."[2] Karena bom yang tersedia sangat sedikit, ia menyarankan penggunaan banyak sasaran yang disebar berjauhan di wilayah yang luas. Seperempat abad sebelumnya, pada 1921, citra Angkatan Laut di mata publik terpukul ketika pesawat-pesawat pengebom Jenderal Billy Mitchell menenggelamkan semua kapal sasaran yang disediakan Angkatan Laut dalam uji pengeboman kapal Proyek B.[3] Uji coba yang diusulkan Strauss akan dirancang untuk menunjukkan kemampuan kapal bertahan.[4]

Pada Agustus 1945, Senator Brien McMahon menjadi orang pertama yang mengusulkan uji coba semacam itu secara terbuka. Dalam setahun berikutnya, ia akan menyusun Undang-Undang Energi Atom serta membentuk dan mengetuai Komite Gabungan Kongres untuk Energi Atom. Namun, uji coba yang diusulkannya dirancang untuk memperlihatkan kerentanan kapal, bukan kemampuan bertahannya. Ia mengusulkan agar sebuah bom atom dijatuhkan pada kapal-kapal Jepang hasil rampasan, dengan alasan, "Ledakan yang dihasilkan seharusnya membuktikan kepada kita seberapa efektif bom atom ketika digunakan terhadap kapal-kapal perang raksasa."[5] Pada 19 September, Kepala Pasukan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (USAAF), Jenderal Besar Henry H. Arnold, meminta Angkatan Laut menyisihkan 10 dari 38 kapal Jepang hasil rampasan untuk uji coba yang diusulkan McMahon.[6]

Sementara itu, Angkatan Laut melanjutkan rencananya sendiri. Rencana tersebut diungkapkan dalam konferensi pers pada 27 Oktober oleh Panglima Armada Amerika Serikat, Laksamana Armada Ernest King. Rencana itu melibatkan 80 hingga 100 kapal sasaran, sebagian besar kapal Amerika Serikat yang tidak lagi dibutuhkan.[6] Ketika Angkatan Darat dan Angkatan Laut berebut kendali atas uji coba tersebut, Asisten Menteri Perang Howard C. Peterson mengamati, "Di mata publik, uji coba ini tampak sebagai ajang yang mempertaruhkan masa depan Angkatan Laut ... jika Angkatan Laut mampu bertahan [dalam uji coba] lebih baik daripada yang dibayangkan publik, maka publik akan menganggap Angkatan Laut telah 'menang'."[7]

Calon yang diajukan Angkatan Darat untuk memimpin uji coba, Mayor Jenderal Leslie Groves, kepala Proyek Manhattan yang menghasilkan bom-bom tersebut, tidak terpilih. Kepala Staf Gabungan memutuskan bahwa uji coba harus dipimpin seorang perwira Angkatan Laut karena angkatan itu menyumbangkan personel dan materiel terbanyak. Komodor William S. "Deak" Parsons adalah perwira Angkatan Laut yang pernah terlibat dalam Proyek Manhattan dan pengeboman Hiroshima.[8] Ia telah diangkat menjadi asisten Wakil Kepala Operasi Angkatan Laut Bidang Senjata Khusus, Laksamana Madya William H. P. Blandy,[9] yang kemudian ia usulkan untuk memimpin uji coba. Usulan itu diterima. Pada 11 Januari 1946, Presiden Harry S. Truman menunjuk Blandy sebagai kepala Satuan Tugas Gabungan Angkatan Darat/Angkatan Laut Satu (JTF-1), yang dibentuk untuk melaksanakan uji coba. Parsons menjadi Wakil Komandan Satuan Tugas Bidang Pengarahan Teknis, sedangkan Mayor Jenderal USAAF William E. Kepner menjadi Wakil Komandan Satuan Tugas Bidang Penerbangan. Blandy memberikan nama sandi Operasi Crossroads kepada uji coba tersebut.[10][11]

Atas desakan Angkatan Darat, Blandy setuju menempatkan lebih banyak kapal di sekitar titik sasaran daripada yang diinginkan Angkatan Laut. Namun, ia menolak tuntutan Mayor Jenderal USAAF Curtis LeMay bahwa "setiap kapal harus dimuati penuh dengan minyak, amunisi, dan bahan bakar".[12] Menurut Blandy, kebakaran dan ledakan di dalam kapal dapat menenggelamkan kapal yang seharusnya masih bisa mengapung dan diperiksa kerusakannya. Ketika Blandy mengusulkan dewan penilai hasil uji coba yang seluruh anggotanya berasal dari Angkatan Laut, Senator McMahon mengadu kepada Truman bahwa Angkatan Laut tidak boleh "menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi yang mungkin justru menentukan keberadaannya sendiri".[13] Truman mengakui bahwa "beredar kabar bahwa uji coba ini tidak akan sepenuhnya jujur". Ia mewajibkan adanya panel peninjau sipil dalam Operasi Crossroads untuk "meyakinkan publik bahwa uji coba itu objektif".[14]

Penentangan

Desakan untuk membatalkan Operasi Crossroads sepenuhnya datang dari kalangan ilmuwan dan diplomat. Para ilmuwan Proyek Manhattan berpendapat bahwa uji coba lebih lanjut tidak diperlukan dan membahayakan lingkungan. Sebuah kajian Los Alamos memperingatkan bahwa "air di dekat lokasi ledakan permukaan yang baru terjadi akan menjadi ramuan penyihir" yang sarat radioaktivitas.[15] Ketika para ilmuwan menyatakan bahwa uji coba itu mungkin hanya menunjukkan kemampuan kapal bertahan dengan mengabaikan dampak radiasi terhadap awaknya,[16] Blandy menanggapinya dengan menempatkan hewan percobaan di beberapa kapal. Langkah ini justru memicu protes dari para pendukung hak asasi hewan.[17] J. Robert Oppenheimer menolak undangan untuk menyaksikan uji coba dan menyampaikan keberatannya melalui surat kepada Presiden Truman. Ia berpendapat bahwa semua data yang dihasilkan uji coba itu dapat diperoleh dengan lebih akurat dan lebih murah di laboratorium.[18]

Setahun sebelumnya, Menteri Luar Negeri James F. Byrnes pernah mengatakan kepada fisikawan Leo Szilard bahwa demonstrasi bom secara terbuka dapat membuat Uni Soviet "lebih mudah dikendalikan" di Eropa.[19] Kini ia mengemukakan pandangan sebaliknya: unjuk kekuatan nuklir Amerika Serikat lebih lanjut dapat memperkeras penolakan Uni Soviet terhadap Rencana Acheson–Lilienthal, yang membahas berbagai kemungkinan pengendalian senjata nuklir secara internasional dan pencegahan perang nuklir pada masa mendatang. Dalam rapat kabinet pada 22 Maret, ia mengatakan, "dari sudut pandang hubungan internasional, akan sangat membantu jika uji coba ini dapat ditunda atau bahkan tidak pernah dilaksanakan".[20] Ia berhasil membujuk Truman untuk menunda uji coba pertama selama enam minggu, dari 15 Mei menjadi 1 Juli. Kepada publik, penundaan itu dijelaskan sebagai upaya memberi kesempatan kepada lebih banyak anggota Kongres untuk menyaksikannya selama reses musim panas.[21]

Ketika anggota Kongres mempersoalkan penghancuran kapal-kapal sasaran senilai $450 juta, Blandy menjawab bahwa nilai sebenarnya hanyalah harga besi tua kapal-kapal itu, yakni $10 per ton, atau total $3,7 juta.[22] Para veteran dan anggota legislatif dari New York dan Pennsylvania meminta agar kapal tempur yang menyandang nama negara bagian mereka dipertahankan sebagai kapal museum, sebagaimana Texas telah mempertahankan USS Texas. Namun, JTF-1 menjawab bahwa "sayangnya, kapal-kapal seperti USS New York tidak dapat dikecualikan".[23]

Persiapan

Peta Atol Bikini dengan daerah sasaran ditandai.
Peta Atol Bikini dan daerah sasaran uji coba.

Serangkaian tiga uji coba direkomendasikan untuk mempelajari dampak senjata nuklir terhadap kapal, peralatan, dan materiel. Lokasinya harus berada di wilayah yang dikuasai Amerika Serikat. Karena penduduk harus dievakuasi, lokasi yang ideal ialah tempat tak berpenghuni atau berpenduduk sangat sedikit, dengan jarak sekurang-kurangnya 300 mil (500 km) dari kota terdekat. Agar bom dapat dijatuhkan dari B-29 Superfortress, harus tersedia pangkalan udara dalam radius 1.000 mil (1.600 km). Untuk menampung kapal-kapal sasaran, diperlukan tempat berlabuh yang terlindung dengan lebar setidaknya 6 mil (10 km). Idealnya, pola cuaca di lokasi itu dapat diperkirakan dan tidak mengalami hawa dingin ekstrem ataupun badai dahsyat. Arah angin yang dapat diperkirakan akan mencegah bahan radioaktif tertiup kembali ke arah personel satuan tugas, sedangkan arus laut yang dapat diperkirakan memungkinkan bahan tersebut dijauhkan dari jalur pelayaran, daerah penangkapan ikan, dan pesisir berpenghuni.[24] Waktu pelaksanaan sangat menentukan karena personel Angkatan Laut yang dibutuhkan untuk memindahkan kapal sedang dibebastugaskan dalam demobilisasi setelah Perang Dunia II. Sementara itu, ilmuwan sipil yang memahami senjata atom mulai meninggalkan pekerjaan di pemerintah federal untuk mengajar di perguruan tinggi.[25]

Pada 24 Januari, Blandy menetapkan Laguna Bikini sebagai lokasi dua peledakan pada 1946, Able dan Baker. Uji coba di perairan dalam, Charlie, yang dijadwalkan pada awal 1947, akan dilaksanakan di laut sebelah barat Bikini.[26] Di antara lokasi yang dipertimbangkan secara serius, termasuk Kepulauan Galápagos milik Ekuador,[27] Bikini merupakan yang paling terpencil. Atol ini memiliki tempat berlabuh yang luas dan terlindung, cuaca yang sesuai meskipun tidak ideal,[28] serta penduduk yang sedikit dan mudah dipindahkan. Bikini telah berada di bawah kendali eksklusif Amerika Serikat sejak 15 Januari, ketika Truman menyatakan Amerika Serikat sebagai satu-satunya wali amanat bagi seluruh pulau di Pasifik yang direbut dari Jepang selama perang. Angkatan Laut telah meneliti lokasi uji coba sejak Oktober 1945 dan siap mengumumkan pilihan atas Bikini segera setelah pernyataan Truman.[29] Pada 6 Februari, kapal survei Sumner mulai membuka alur melalui terumbu Bikini menuju laguna dengan peledakan. Penduduk setempat tidak diberi tahu alasannya.[30]

Ke-167 penduduk Bikini baru mengetahui nasib mereka empat hari kemudian, pada Minggu, 10 Februari. Saat itu, Komodor Angkatan Laut Ben H. Wyatt, gubernur militer Amerika Serikat untuk Kepulauan Marshall, tiba dengan pesawat terbang laut dari Atol Kwajalein. Dengan merujuk pada kisah Alkitab yang telah mereka pelajari dari para misionaris Protestan, ia menyamakan mereka dengan "anak-anak Israel yang diselamatkan Tuhan dari musuh mereka dan dituntun ke Tanah Perjanjian". Ia juga menyatakan bahwa pemindahan itu dilakukan "demi kebaikan umat manusia dan untuk mengakhiri semua perang dunia". Tidak ada perjanjian yang ditandatangani, tetapi ia melaporkan melalui telegram bahwa "kepala suku mereka, yang disebut Raja Juda, berdiri dan mengatakan bahwa penduduk asli Bikini sangat bangga menjadi bagian dari usaha luar biasa ini".[31] Pada 6 Maret, Wyatt berusaha membuat rekaman reka ulang pertemuan 10 Februari, ketika penduduk Bikini menyerahkan atol mereka. Meski berulang kali diarahkan dan pengambilan gambar diulang sedikitnya tujuh kali, Juda hanya mengatakan di depan kamera, "Kami bersedia pergi. Semuanya ada di tangan Tuhan." Keesokan harinya, LST-861 mengangkut mereka beserta barang-barang mereka sejauh 128 mil (206 km) ke timur, menuju Atol Rongerik yang tidak berpenghuni. Pemindahan itu menjadi awal pengasingan permanen mereka.[32] Tiga keluarga Bikini kembali pada 1974, tetapi dievakuasi lagi pada 1978 karena zat radioaktif telah masuk ke tubuh mereka setelah empat tahun mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.[33] Hingga 2022, atol tersebut masih tidak berpenghuni.[34]

Kapal

250px-View_of_the_target_fleet_before_the_Crossroads_nuclear_tests%2C_in_June_1946_%28146763102%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Armada sasaran untuk uji coba Able.

Untuk menyediakan ruang bagi kapal-kapal sasaran, 100 ton pendek (90 t) dinamit digunakan untuk menyingkirkan bongkahan koral dari Laguna Bikini. Di kompleks David Taylor Model Basin di luar Washington, D.C., geladi bersih Baker dilakukan dengan dinamit dan model kapal di sebuah kolam yang dinamai "Little Bikini".[35] Sebanyak 93 kapal sasaran dihimpun di Laguna Bikini.[36] Di pusat kelompok sasaran, kepadatannya mencapai 20 kapal per mil persegi (7,7 per km2), tiga hingga lima kali lipat dari yang diperbolehkan doktrin militer. Tujuan yang dinyatakan bukanlah meniru keadaan berlabuh yang sebenarnya, melainkan mengukur hubungan antara kerusakan dan jarak dari pusat ledakan pada sebanyak mungkin variasi jarak.[37] Susunan ini juga mencerminkan hasil perselisihan Angkatan Darat dan Angkatan Laut mengenai jumlah kapal yang boleh tenggelam.[38]

Armada sasaran mencakup empat kapal tempur Amerika Serikat yang sudah usang, dua kapal induk, dua kapal penjelajah, dua belas kapal perusak, delapan kapal selam, 41 kapal pendarat, 19 kapal angkut, dua kapal tanker pengisi bahan bakar, satu dok apung, serta tiga kapal Blok Poros yang diserahkan setelah menyerah: kapal penjelajah Jepang Sakawa, kapal tempur Nagato, dan kapal penjelajah Jerman Prinz Eugen.[39] Kapal-kapal itu membawa bahan bakar dan amunisi dalam jumlah tertentu untuk pengujian, serta instrumen ilmiah untuk mengukur tekanan udara, gerakan kapal, dan radiasi. Hewan hidup yang ditempatkan di beberapa kapal sasaran[40] dipasok oleh kapal pendukung USS Burleson. Kapal ini membawa 200 babi, 60 marmot, 204 kambing, 5.000 tikus, 200 mencit, serta biji-bijian yang mengandung serangga untuk penelitian dampak genetik oleh Institut Kanker Nasional.[25] Kapal-kapal sasaran amfibi dikandaskan di pantai Pulau Bikini.[41]

Armada pendukung yang terdiri atas lebih dari 150 kapal menyediakan tempat tinggal, stasiun percobaan, dan bengkel bagi sebagian besar dari 42.000 personel laki-laki—lebih dari 37.000 di antaranya personel Angkatan Laut—serta 37 perawat perempuan.[42] Personel lainnya ditempatkan di atol-atol terdekat, seperti Atol Enewetak dan Kwajalein. Personel Angkatan Laut diperbolehkan memperpanjang masa dinas selama satu tahun jika ingin mengikuti uji coba dan menyaksikan ledakan bom atom.[43] Pulau-pulau di Atol Bikini digunakan sebagai lokasi penempatan instrumen dan, sebelum terkontaminasi oleh Baker, sebagai tempat rekreasi.[44]

Kamera

250px-CrossroadsAble2.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Crossroads-Able, 23 kiloton.

Sistem autopandu yang dikendalikan melalui radio dipasang pada delapan pesawat pengebom B-17, sehingga pesawat-pesawat itu menjadi pesawat nirawak kendali jarak jauh. Pesawat tersebut kemudian dilengkapi kamera otomatis, detektor radiasi, dan pengambil sampel udara. Para pilot mengoperasikannya dari pesawat induk pada jarak yang aman dari ledakan. Pesawat nirawak dapat terbang memasuki lingkungan radiasi yang mematikan bagi awak manusia, seperti awan jamur Able.[45] Seluruh foto urutan ledakan yang diambil dari daratan dibuat dengan kendali jarak jauh, menggunakan kamera pada menara tinggi yang didirikan di beberapa pulau di atol tersebut. Secara keseluruhan, kamera-kamera di Bikini menghasilkan 50.000 foto dan 1.500.000 kaki (460.000 m) pita film. Salah satu kameranya mampu merekam 1.000 bingkai per detik.[46]

Sebelum uji coba pertama, seluruh personel dievakuasi dari armada sasaran dan Atol Bikini. Mereka menaiki kapal-kapal armada pendukung, yang mengambil posisi aman sedikitnya 10 mil laut (19 km) di sebelah timur atol. Personel uji coba dibekali kacamata gelap khusus untuk melindungi mata, tetapi sesaat sebelum Able diputuskan bahwa perlindungan kacamata itu mungkin tidak memadai. Mereka diperintahkan membelakangi ledakan, memejamkan mata, dan menutup wajah dengan lengan sebagai perlindungan tambahan. Beberapa pengamat yang mengabaikan tindakan pencegahan tersebut memberi tahu yang lain saat bom meledak. Sebagian besar pengamat di kapal melaporkan hanya merasakan sedikit guncangan dan mendengar bunyi "pum" pelan yang mengecewakan.[43]

250px-Mark_III_Nuclear_Bomb_nicknamed_%27Gilda%27.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bom Able, yakni bom nuklir Mark III jenis Fat Man, dengan nama julukan "Gilda" yang dicat menggunakan stensil serta foto Rita Hayworth sebagai tokoh utama film tersebut.

Pada 26 Juli 2016, National Security Archive membuka status rahasia dan merilis seluruh rekaman yang dibuat pesawat pengintai yang terbang di atas lokasi uji coba nuklir hanya beberapa menit setelah bom meledak.[47][48] Rekaman itu dapat ditonton di YouTube.[49]

Nama julukan

Able dan Baker adalah sebutan untuk dua huruf pertama dalam Alfabet Fonetik Gabungan Angkatan Darat/Angkatan Laut, yang digunakan dari 1941 hingga 1956. Padanannya dalam alfabet fonetik NATO yang digunakan saat ini ialah Alfa dan Bravo. Charlie merupakan sebutan untuk huruf ketiga dalam kedua sistem. Menurut kesaksian para saksi mata, waktu peledakan masing-masing uji coba diumumkan sebagai jam H atau How;[50] sementara itu, sejarah resmi JTF-1 menggunakan istilah jam M atau Mike.[51]

Pada Juli 1946, hanya ada tujuh bom nuklir di dunia.[52] Dua bom yang digunakan dalam uji coba ini merupakan bom plutonium Fat Man dengan mekanisme implosi, jenis yang dijatuhkan di Nagasaki. Bom Able diberi tulisan Gilda dengan stensil dan dihiasi foto Rita Hayworth dari majalah Esquire. Hayworth adalah bintang film Gilda (1946).[53] Bom Baker dinamai Helen of Bikini. Tema perempuan mematikan yang memadukan daya pikat dan kehancuran dalam penamaan senjata nuklir ini tercermin dalam penggunaan kata "bikini" di berbagai bahasa sejak 1946 sebagai nama pakaian renang perempuan yang terdiri atas dua potong.[54]

Uji coba dan peledakan dalam rangkaian Crossroads Amerika Serikat
Nama Tanggal dan waktu (UTC) Lokasi Elevasi + ketinggian Metode penempatan Tujuan Perangkat Daya ledak Referensi
Able 30 Juni 1946 21:00:01,0 Bagian timur laut Laguna Bikini, Atol Bikini 11°35′N 165°30′E / 11.59°N 165.50°E / 11.59; 165.50 (Able) 0 + 158 m (518 ft) Penjatuhan bebas
dari udara
Dampak senjata Mk III "Gilda" 23 kt [55][56][57][58][59]
Baker 24 Juli 1946 21:34:59,8 Bagian timur laut Laguna Bikini, Atol Bikini 11°35′N 165°31′E / 11.59°N 165.52°E / 11.59; 165.52 (Baker) 0 – 275 m (902 ft) Bawah air Dampak senjata Mk III "Helen of Bikini" 23 kt [55][56][59]
Charlie
(dibatalkan)
1 Maret 1947 Bagian timur laut Laguna Bikini, Atol Bikini 11°34′N 165°31′E / 11.57°N 165.51°E / 11.57; 165.51 (Charlie) 0 – 50 m (160 ft) Bawah air Dampak senjata Mk III 23 kt [59]

Tabel ringkasan rangkaian uji coba Amerika Serikat terdapat dalam artikel Rangkaian uji coba nuklir Amerika Serikat.

Uji coba Able

Ledakan nuklir di udara pada 1 Juli 1946. Foto diambil dari menara di Pulau Bikini, sejauh 35 mil (56 km).
Gilda, senjata nuklir berdaya ledak 23 kiloton yang dijatuhkan dari udara dan diledakkan pada 1 Juli 1946 dalam uji coba Crossroads Able.

Peledakan

250px-USS_Nevada_%28BB-36%29_Operation_Crossroads_Target_Ship.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nevada dicat jingga terang agar mudah terlihat dalam uji coba atom.
250px-View_of_the_target_fleet_after_Crossroads_test_Able_on_1_July_1946.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Armada sasaran setelah uji coba Able. Kapal induk Saratoga tampak di bagian tengah kanan dan Independence yang terbakar di bagian tengah kiri. Kapal tempur Nagato berada di antara keduanya. Kapal di sebelah kiri, di samping kapal tempur Pennsylvania, sedang berusaha membilas zat radioaktif dengan air laguna.

Pada pukul 09.00 tanggal 1 Juli 1946, Gilda dijatuhkan dari B-29 Dave's Dream milik Grup Pengeboman ke-509, yang diterbangkan Mayor Woodrow Swancutt di bawah komando Brigadir Jenderal Roger M. Ramey.[60] Pesawat yang sebelumnya bernama Big Stink itu membawa perlengkapan fotografi dalam misi Nagasaki pada 1945. Namanya diganti untuk mengenang Dave Semple, seorang juru bom yang tewas dalam misi latihan pada 7 Maret 1946.[61] Gilda meledak pada ketinggian 520 kaki (158 m) di atas armada sasaran dengan daya ledak 23 kiloton. Lima kapal tenggelam.[25][37] Dua kapal angkut serbu tenggelam seketika, dua kapal perusak tenggelam dalam hitungan jam, dan Sakawa tenggelam keesokan harinya.[62]

Sebagian dari 114 wartawan yang menyaksikan uji coba menyatakan kekecewaan atas dampaknya terhadap kapal.[63] The New York Times terlalu dini melaporkan bahwa "hanya dua kapal tenggelam, satu terbalik, dan delapan belas rusak".[64] Keesokan harinya, Times memuat penjelasan Forrestal bahwa "kapal yang dibangun dengan kokoh dan dilapisi perisai tebal sulit ditenggelamkan kecuali mengalami kerusakan di bawah permukaan air".[65]

Penyebab utama kerusakan kapal yang lebih ringan daripada perkiraan ialah bom meleset sejauh 710 yard (649 m) dari titik bidik.[66] Kapal yang menjadi sasaran bidik tidak tenggelam. Kegagalan mengenai sasaran ini memicu penyelidikan pemerintah terhadap awak pesawat pengebom B-29. Berbagai penjelasan diajukan, termasuk karakteristik balistik bom yang memang diketahui buruk, tetapi tidak ada yang meyakinkan. Rekaman penjatuhan bom tidak memberikan kesimpulan yang pasti. Alat bidik bom diperiksa dan dinyatakan tidak bermasalah. Uji penjatuhan bom labu juga dilakukan dan berhasil mengenai sasaran. Kolonel Paul W. Tibbets meyakini bahwa penyebabnya ialah kesalahan perhitungan awak pesawat. Misteri itu tidak pernah terpecahkan.[67][68]

Ada pula faktor lain yang membuat Able tidak sedahsyat perkiraan. Para pengamat berada jauh lebih jauh dari titik ledakan dibandingkan dalam uji coba Trinity, dan kelembapan udara yang tinggi menyerap sebagian besar cahaya serta panas.[69]

Kapal tempur USS Nevada, satu-satunya kapal tempur yang berhasil bergerak meninggalkan tempat berlabuh saat Penyerangan Pearl Harbor pada 1941, ditetapkan sebagai titik bidik Able. Kapal itu dicat jingga, dengan laras meriam dan bordu berwarna putih, agar tampak mencolok di tengah kelompok kapal sasaran. Delapan kapal berada dalam radius 400 yard (366 m) darinya. Seandainya bom meledak di atas Nevada sesuai rencana, sedikitnya sembilan kapal, termasuk dua kapal tempur dan satu kapal induk, kemungkinan besar akan tenggelam. Titik ledakan sebenarnya berada di sebelah barat-barat laut sasaran, lebih dekat ke kapal angkut serbu USS Gilliam, di bagian perairan yang jauh lebih renggang susunan kapalnya.[70]

Susunan sasaran Able

Peta posisi kapal untuk ledakan nuklir 1 Juli 1946. Posisi 19 kapal dalam tabel pendamping ditandai dengan simbol dan angka.
Susunan kapal sasaran di Laguna Bikini untuk peledakan Able dalam Operasi Crossroads. Separuh kapal sasaran berada di luar cakupan peta ini. Lima tanda X merah menunjukkan lima kapal yang tenggelam. Tabel di sebelah kanan menjelaskan nomor kapal. Lingkaran berjari-jari 1.000 yard (914 m) dari titik ledakan menunjukkan daerah tempat kapal mengalami kerusakan berat. Sasaran bidik bom ialah kapal nomor 32, kapal tempur USS Nevada, yang dicat jingga untuk membantu juru bom. Bom jatuh lebih dekat ke kapal nomor 5, kapal angkut serbu USS Gilliam. Seluruh kapal selam berada di permukaan.
Lokasi kapal yang tenggelam[71]
# Nama Jenis Jarak dari titik nol
5 Gilliam Kapal angkut 50 yd (46 m)
9 Sakawa Kapal penjelajah 420 yd (380 m)
4 Carlisle Kapal angkut 430 yd (390 m)
1 Anderson Kapal perusak 600 yd (550 m)
6 Lamson Kapal perusak 760 yd (690 m)
Kerusakan berat
# Nama Jenis Jarak dari titik nol
40 Skate Kapal selam 400 yd (370 m)
12 YO-160 Kapal tanker pelabuhan 520 yd (480 m)
28 Independence Kapal induk 560 yd (510 m)
22 Crittenden Kapal angkut 595 yd (544 m)
32 Nevada Kapal tempur 615 yd (562 m)
3 Arkansas Kapal tempur 620 yd (570 m)
35 Pensacola Kapal penjelajah 710 yd (650 m)
11 ARDC-13 Dok 825 yd (754 m)
23 Dawson Kapal angkut 855 yd (782 m)
38 Salt Lake City Kapal penjelajah 895 yd (818 m)
27 Hughes Kapal perusak 920 yd (840 m)
37 Rhind Kapal perusak 1,012 yd (0,925 m)
49 LST-52 LST 1,530 yd (1,399 m)
10 Saratoga Kapal induk 2,265 yd (2,071 m)

Selain lima kapal yang tenggelam, empat belas kapal dinilai mengalami kerusakan berat atau lebih parah, terutama akibat gelombang kejut. Kecuali tiga kapal, semuanya berada dalam radius 1.000 yard (900 m) dari titik ledakan. Di dalam radius itu, arah hadap kapal terhadap bom turut menentukan dampak gelombang kejut. Sebagai contoh, kapal nomor 6, kapal perusak USS Lamson, tenggelam meskipun berada lebih jauh daripada tujuh kapal yang tetap mengapung. Sisi lambung Lamson menghadap ledakan sehingga seluruh hantaman diterima sisi kirinya. Sebaliknya, tujuh kapal yang lebih dekat berlabuh dengan buritan menghadap ledakan, sehingga bagian lambung yang paling rentan mendapat sedikit perlindungan.[72]

Satu-satunya kapal besar dalam radius 1.000 yard yang mengalami kerusakan sedang, bukan berat, ialah kapal tempur Jepang Nagato, kapal nomor 7. Konstruksinya kokoh, dan buritannya yang menghadap bom memberikan sedikit perlindungan. Kerusakan dari Perang Dunia II yang belum diperbaiki mungkin menyulitkan analisis kerusakan. Karena Nagato merupakan kapal tempat penyerangan Pearl Harbor dikomandoi, kapal itu ditempatkan di dekat titik bidik untuk memastikan kapal tersebut tenggelam. Bom Able meleset, dan penenggelaman yang bernilai simbolis itu baru terjadi tiga minggu kemudian, lima hari setelah peledakan Baker.[73]

Kebakaran menyebabkan kerusakan berat pada kapal nomor 10, kapal induk Saratoga, yang berada lebih dari 1 mil (1,6 km) dari ledakan. Untuk keperluan pengujian, semua kapal membawa bahan bakar dan persenjataan dalam jumlah tertentu, serta pesawat terbang. Sebagian besar kapal perang membawa sebuah pesawat terbang laut di geladak yang dapat diturunkan ke air dengan derek.[74] Namun, Saratoga membawa beberapa pesawat dengan bahan bakar penerbangan yang sangat mudah menguap, baik di geladak maupun di hanggar di bawahnya. Api berhasil dipadamkan, dan Saratoga dipertahankan agar tetap mengapung untuk digunakan dalam peledakan Baker.[75][76]

Radiasi

Foto udara awan jamur.
Foto udara awan jamur Able yang membubung dari laguna, dengan Pulau Bikini tampak di latar belakang. Awan itu membawa zat pencemar radioaktif ke stratosfer.

Seperti Little Boy di Hiroshima dan Fat Man di Nagasaki, Crossroads Able merupakan ledakan di udara. Bom-bom ini sengaja diledakkan pada ketinggian yang cukup agar material permukaan tidak tersedot ke dalam bola api. Dalam uji coba Trinity, perangkat nuklir dipasang pada menara dan diledakkan pada ketinggian 100 kaki (30 m). Ledakan itu membentuk kawah sedalam 6 kaki (1,8 m) dan selebar 500 kaki (150 m), serta menghasilkan sejumlah jatuhan radioaktif lokal. Uji coba tersebut dilaksanakan secara rahasia, sehingga masyarakat dunia saat itu tidak mengetahui adanya jatuhan radioaktif tersebut.[77] Agar benar-benar menjadi ledakan di udara tanpa jatuhan lokal, perangkat Trinity seharusnya diledakkan pada ketinggian 580 kaki (180 m).[78] Dalam ledakan di udara, produk fisi radioaktif naik ke stratosfer dan menyebar ke lingkungan global, bukan hanya lingkungan setempat. Ledakan di udara secara resmi disebut "membersihkan diri sendiri".[79] Able tidak menghasilkan jatuhan radioaktif lokal yang berarti.[80]

Bola api memancarkan radiasi yang sangat kuat selama beberapa detik. Banyak kapal yang berada lebih dekat menerima dosis radiasi neutron dan gama yang dapat mematikan siapa pun di atasnya, tetapi kapal-kapal itu sendiri tidak menjadi radioaktif. Berdasarkan standar saat itu, pengaktifan neutron pada bahan penyusun kapal dianggap sebagai masalah kecil. Seorang pelaut di kapal pendukung USS Haven diketahui "tidur di tengah hujan sinar gama" yang berasal dari cendera mata logam yang diambilnya secara tidak sah dari kapal sasaran. Neutron dari bola api telah membuat benda itu menjadi radioaktif.[81] Dalam satu hari, hampir semua kapal sasaran yang tidak tenggelam sudah dinaiki kembali. Pemeriksaan kapal, pengambilan instrumen, serta pemindahan dan penambatan ulang kapal untuk uji coba Baker berlangsung sesuai jadwal.[82]

Hewan percobaan

Sebanyak 57 marmot, 109 mencit, 146 babi, 176 kambing, dan 3.030 tikus putih ditempatkan di 22 kapal sasaran, pada posisi yang biasanya ditempati manusia.[83] Dalam tiga bulan setelah ledakan, 35% hewan itu mati atau dimatikan: 10% mati akibat gelombang ledakan di udara, 15% akibat radiasi, dan 10% dimatikan peneliti sebagai bagian dari penelitian lanjutan.[84] Hewan selamat yang paling terkenal ialah Babi Nomor 311, yang konon ditemukan berenang di laguna setelah ledakan, lalu dibawa ke Kebun Binatang Nasional di Washington, D.C.[85] Kisah misterius selamatnya Babi Nomor 311 menimbulkan kehebohan saat itu dan terus diberitakan secara keliru. Namun, sebuah penyelidikan mengarah pada kesimpulan bahwa babi itu tidak berenang di laut ataupun lolos dari ledakan. Kemungkinan besar, selama uji coba babi itu berada dengan aman di kapal pengamatan, sehingga "mangkir tanpa izin" dari tempatnya di Sakawa, lalu muncul pada waktu yang hampir bersamaan dengan penangkapan babi-babi lain yang selamat.[86]

Dua kambing dikandangkan di geladak kapal dengan makanan dan air dalam jangkauannya.
Hewan percobaan sengaja dikurung di kapal-kapal Operasi Crossroads. Kambing nomor 53, yang dikandangkan dengan cara seperti ini di geladak Nevada, mati akibat paparan radiasi dua hari setelah Able.[87]

Tingginya tingkat kelangsungan hidup hewan percobaan sebagian disebabkan oleh sifat radiasi yang dipancarkan dalam satu pulsa. Seperti dalam dua kecelakaan kekritisan di Los Alamos yang sebelumnya melibatkan inti iblis, korban yang cukup dekat untuk menerima dosis mematikan meninggal, sedangkan mereka yang lebih jauh pulih dan bertahan hidup. Selain itu, seluruh mencit ditempatkan di luar zona yang diperkirakan mematikan untuk mempelajari kemungkinan mutasi pada generasi berikutnya.[88]

Meskipun Gilda meleset hampir setengah mil (800 meter) dari sasarannya, Nevada, dan tidak berhasil menenggelamkan atau mengontaminasi kapal tempur itu, awak kapal tidak akan selamat seandainya berada di dalamnya. Kambing nomor 119, yang ditambatkan di dalam menara meriam dan dilindungi pelat perisai, menerima radiasi bola api yang cukup untuk membuatnya mati empat hari kemudian akibat sindrom radiasi akut. Hewan itu bertahan dua hari lebih lama daripada kambing nomor 53, yang berada di geladak tanpa perlindungan.[89] Seandainya Nevada diawaki penuh, kapal itu kemungkinan akan menjadi peti mati terapung, tidak dapat bergerak karena tidak ada awak yang masih hidup. Dua tahun kemudian, pada 31 Juli 1948, kapal tersebut akhirnya ditenggelamkan dengan torpedo udara sejauh 105 kilometer (65 mi) di barat daya Pearl Harbor. Secara teoretis, setiap bagian kapal yang tidak terlindung menerima radiasi nuklir awal dari bola api sebesar 100 sievert (10.000 rem).[78] Dengan demikian, orang yang berada cukup jauh di bagian dalam kapal sehingga paparan radiasinya berkurang 90% tetap akan menerima dosis mematikan sebesar 10 sievert (1.000 rem).[90] Menurut penilaian Bulletin of the Atomic Scientists:[16]

"sebuah kapal besar, sekitar satu mil dari ledakan, tidak akan tenggelam, tetapi awaknya akan terbunuh oleh semburan radiasi mematikan dari bom itu, dan yang tersisa hanyalah kapal hantu yang terapung tanpa kendali di lautan luas."

500px-Able_Fireball.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Montase foto beberapa mikrodetik pertama peledakan Able, bola api, dan dampak radiasinya.

Uji coba Baker

250px-Crossroads-Baker_Slow_Motion.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peledakan Crossroads-Baker dalam gerak lambat. LSM-60, yang ditambatkan tepat di atas perangkat nuklir, hancur sepenuhnya.

Peledakan

Dalam uji coba Baker pada 25 Juli, senjata digantung di bawah kapal pendarat LSM-60 yang ditambatkan di tengah armada sasaran. Baker diledakkan pada pukul 08.35,[25] di kedalaman 90 kaki (27 m), yakni separuh kedalaman perairan yang mencapai 180 kaki (55 m). Tidak ada bagian LSM-60 yang dapat dikenali yang pernah ditemukan; kapal itu diduga menguap akibat bola api nuklir. Sepuluh kapal tenggelam,[91] termasuk kapal penjelajah berat Jerman Prinz Eugen, yang tenggelam pada Desember, lima bulan setelah uji coba, karena radioaktivitas menghalangi perbaikan kebocoran lambungnya.[92]

Foto-foto Baker berbeda dari foto ledakan nuklir lainnya. Kilatan menyilaukan dan membakar yang biasanya menutupi daerah sasaran terjadi di bawah air sehingga nyaris tidak terlihat. Kapal-kapal yang tampak jelas di latar depan dan belakang memberikan gambaran skala ledakan. Awan kondensasi yang besar dan kolom air vertikal merupakan ciri khas peledakan Baker. Salah satu foto memperlihatkan jejak pada posisi kapal tempur berbobot 27.000 ton USS Arkansas sebelumnya berada.[93]

Seperti dalam Able, kapal-kapal yang masih mengapung dalam radius 1.000 yard (900 m) dari titik ledakan mengalami kerusakan berat. Namun, kali ini kerusakan berasal dari bawah, akibat tekanan air, bukan tekanan udara. Perbedaan terbesar antara kedua peledakan ialah kontaminasi radioaktif pada seluruh kapal sasaran akibat Baker. Terlepas dari tingkat kerusakannya, hanya sembilan kapal sasaran Baker yang tidak tenggelam yang akhirnya dapat didekontaminasi dan dijual sebagai besi tua. Sisanya ditenggelamkan di laut setelah upaya dekontaminasi gagal.[94]

Susunan sasaran Baker

Peta posisi kapal untuk ledakan nuklir 25 Juli 1946. Posisi 10 kapal dalam tabel pendamping ditandai dengan simbol dan angka.
Susunan kapal sasaran di Laguna Bikini untuk peledakan Baker dalam Operasi Crossroads. Separuh kapal sasaran berada di luar cakupan peta ini. Sepuluh tanda X merah menunjukkan sepuluh kapal yang tenggelam. Tabel di sebelah kiri menjelaskan nomor kapal. Lingkaran hitam berjari-jari 1.000 yard (914 m) dari titik ledakan menunjukkan daerah tempat kapal mengalami kerusakan berat. Lingkaran biru berjari-jari 330 yard (302 m) menandai tepi kawah dangkal di bawah air yang terbentuk akibat ledakan, sekaligus keliling luar kolom air berongga yang menyelubungi kapal tempur Arkansas. Kapal selam berikut berada dalam keadaan menyelam: Pilotfish, kapal nomor 8, dengan lunas pada kedalaman 56 kaki (17 m); Apogon, kapal nomor 2, dengan lunas pada kedalaman 100 kaki (30 m); dan Skipjack, kapal nomor 41, pada kedalaman 150 kaki (46 m).
Kapal yang tenggelam[95]
# Nama Jenis Jarak dari titik nol ke haluan
50 LSM-60 Kapal amfibi 0 yd (0 m)
3 Arkansas Kapal tempur 259 yd (237 m)
8 Pilotfish Kapal selam 363 yd (332 m)
10 Saratoga Kapal induk 446 yd (408 m)
12 YO-160 Kapal tanker pelabuhan 543 yd (497 m)
41 Skipjack Kapal selam 808 yd (739 m)
2 Apogon Kapal selam 846 yd (774 m)
7 Nagato Kapal tempur 852 yd (779 m)
11 ARDC-13 Dok 1,276 yd (1,167 m)

Prinz Eugen, kapal nomor 36, tidak tenggelam dalam uji coba Able maupun Baker, tetapi tingkat radioaktivitasnya terlalu tinggi untuk memungkinkan perbaikan kebocoran. Pada September 1946, kapal itu ditarik ke Atol Kwajalein, lalu terbalik di perairan dangkal pada 22 Desember. Kapal itu masih berada di sana, dengan bilah baling-baling sisi kanan mencuat di atas air.[96]

Kapal selam USS Skipjack merupakan satu-satunya kapal tenggelam yang berhasil diapungkan kembali di Bikini.[97] Kapal itu ditarik ke California, lalu dua tahun kemudian ditenggelamkan lagi sebagai kapal sasaran di lepas pantai. [98]

Tiga kapal lain yang semuanya hampir tenggelam ditarik ke pesisir Bikini dan dikandaskan:[99] kapal angkut serbu USS Fallon, kapal nomor 25; kapal perusak USS Hughes, kapal nomor 27; dan kapal selam USS Dentuda, kapal nomor 24. Awak Dentuda berada dengan aman jauh dari kapal selam mereka. Karena berada dalam keadaan menyelam—sehingga terhindar dari awan semburan dasar—dan di luar radius 1.000 yard, Dentuda tidak mengalami kontaminasi berat ataupun kerusakan lambung. Kapal itu berhasil didekontaminasi, diperbaiki, dan sempat kembali berdinas.[100][101][102]

Urutan peristiwa ledakan

Peledakan Baker menghasilkan begitu banyak fenomena yang tidak lazim sehingga dua bulan kemudian diadakan konferensi untuk menyeragamkan tata nama dan mendefinisikan istilah baru bagi keperluan deskripsi serta analisis.[103] Bola api di bawah air berbentuk gelembung gas panas yang mengembang dengan cepat dan mendesak air di sekelilingnya. Proses ini menghasilkan gelombang kejut hidraulik supersonik yang meremukkan lambung kapal-kapal terdekat saat merambat ke luar. Gelombang itu akhirnya melambat hingga mencapai kecepatan suara dalam air, yakni satu mil per detik (1.600 m/s), lima kali kecepatan suara di udara.[104] Di permukaan, gelombang kejut tampak sebagai tepi depan cincin air berwarna gelap yang mengembang dengan cepat. Cincin ini disebut "lapisan licin" (slick) karena menyerupai lapisan minyak di permukaan air.[105] Tepat di belakangnya, permukaan air memutih dalam fenomena yang disebut "retakan" (crack). Fenomena ini tampak lebih dramatis, tetapi daya rusaknya lebih kecil.[106]

Ketika diameter gelembung gas mencapai kedalaman perairan, 180 kaki (55 m), gelembung itu menghantam dasar laut dan permukaan air secara bersamaan. Di dasar laut, terbentuk kawah dangkal sedalam 30 kaki (9 m) dan selebar 2.000 kaki (610 m).[107] Di bagian atas, gelembung mendorong air menjadi "kubah semburan" yang menerobos permukaan seperti geiser. Saat itu baru empat milidetik berlalu sejak peledakan.[108]

Dalam satu detik pertama, gelembung yang mengembang menyingkirkan seluruh air dalam radius 500 kaki (150 m) dan mengangkat dua juta ton[109] air serta pasir dasar laut ke udara. Ketika gelembung naik dengan kecepatan 2.500 kaki per detik (760 m/s),[110] kubah semburan memanjang menjadi silinder berongga atau cerobong semburan yang disebut "kolom". Tingginya mencapai 6.000 kaki (1.800 m), lebarnya 2.000 kaki (600 m), dan ketebalan dindingnya 300 kaki (90 m).[111]

Begitu mencapai udara, gelembung itu memicu gelombang kejut atmosfer supersonik yang, seperti retakan di permukaan air, lebih dramatis secara visual daripada merusak. Tekanan rendah sesaat di belakang gelombang kejut langsung membentuk kabut yang menyelubungi kolom yang sedang berkembang. Kabut ini disebut "awan Wilson" atau "awan kondensasi" dan menutupi kolom dari pandangan selama dua detik. Mula-mula awan Wilson berbentuk setengah bola, lalu melebar menjadi cakram yang terangkat dari permukaan air sehingga kolom semburan yang sudah terbentuk penuh terlihat. Awan itu kemudian melebar membentuk cincin seperti donat dan menghilang. Peledakan Able juga menghasilkan awan Wilson, tetapi panas bola api membuatnya lebih cepat menguap.[111]

Ketika awan Wilson menghilang, puncak kolom telah membentuk "kembang kol", dan seluruh air semburan dalam kolom beserta puncaknya bergerak turun kembali ke laguna. Meskipun bentuknya menyerupai awan, kembang kol itu lebih mirip puncak geiser, tempat air berhenti naik dan mulai jatuh. Tidak ada awan jamur, dan tidak ada material yang naik ke stratosfer.[112]

  • Foto udara ledakan nuklir yang membubung dari laguna. Awan kondensasi berbentuk setengah bola di permukaan berdiameter 1 mil (1,6 km). Sebagai pembanding, kapal-kapal Angkatan Laut di latar depan tampak seperti mainan di bak mandi.
    Crossroads Baker, memperlihatkan "retakan" putih di permukaan air di bawah kapal-kapal dan puncak kolom semburan berongga yang mencuat menembus awan Wilson berbentuk setengah bola. Pantai Pulau Bikini tampak di latar belakang.
  • Awan Wilson terangkat.
    Awan Wilson terangkat, memperlihatkan objek hitam vertikal yang lebih besar daripada kapal-kapal di latar depan. Sebuah teori populer yang telah dibantah menyatakan bahwa objek itu adalah kapal tempur Arkansas yang terangkat tegak;[113] sebenarnya, bagian gelap itu terbentuk karena lambung Arkansas menghalangi pembentukan kolom semburan sehingga meninggalkan celah di dalamnya.[114]
  • Pemandangan yang sama lima detik kemudian, difoto dari menara kamera, memperlihatkan kolom air berdiameter 2.000 kaki (600 m) dan setinggi 6.000 kaki (1.800 m).
    Awan Wilson telah menguap sehingga puncak berbentuk kembang kol di atas kolom semburan terlihat. Dua juta ton air semburan jatuh kembali ke laguna. Awan semburan dasar yang radioaktif bergerak menuju kapal-kapal.

Sementara itu, air laguna yang mengalir deras kembali ke ruang yang ditinggalkan gelembung gas yang naik memicu tsunami. Gelombang ini mengangkat kapal-kapal saat melintas di bawahnya. Sebelas detik setelah peledakan, gelombang pertama berada 1.000 kaki (300 m) dari titik nol di permukaan dan mencapai ketinggian 94 kaki (29 m).[115] Ketika mencapai pantai Pulau Bikini, sejauh 35 mil (56 km), gelombang itu telah menjadi rangkaian sembilan gelombang dengan tinggi pecahan gelombang di pantai hingga 15 kaki (5 m). Gelombang-gelombang tersebut melemparkan kapal pendarat ke pantai dan memenuhi kapal-kapal itu dengan pasir.[116]

Dua belas detik setelah peledakan, air yang jatuh dari kolom mulai membentuk "awan semburan dasar" setinggi 900 kaki (270 m), menyerupai kabut di kaki air terjun besar. Berbeda dengan gelombang air, awan semburan dasar bergulung melewati bagian atas kapal, bukan bagian bawahnya. Dari seluruh dampak bom, awan semburan dasar membawa akibat terbesar bagi sebagian besar kapal sasaran karena melapisinya dengan zat radioaktif yang tidak dapat dihilangkan.[115] Para pendukung perang nuklir taktis menyebut fenomena ini sebagai pembentukan kondisi laut bergelombang sangat tinggi (generation of very high sea states, GVHSS). Mereka mengesampingkan radiasi dan menekankan kerusakan fisik yang dapat melumpuhkan peralatan komunikasi serta radar pada superstruktur kapal perang.[117]

Arkansas

Selain kapal tempat bom digantung, Arkansas adalah kapal yang paling dekat dengan bom. Gelombang kejut bawah air meremukkan sisi kanan lambungnya, yang menghadap bom, dan menggulingkan kapal tempur itu ke sisi kiri. Gelombang tersebut juga merenggut kedua baling-baling kanan beserta porosnya, kemudi, dan sebagian buritan, sehingga lambungnya memendek 25 kaki (7,6 m).[118]

Ketika ditemukan kembali oleh penyelam Angkatan Laut pada tahun yang sama, kapal itu tergeletak terbalik dengan haluan di tepi kawah bom bawah air dan buritan mengarah miring ke pusat kawah. Superstruktur maupun meriam-meriam besarnya tidak terlihat. Penyelam pertama yang mencapai Arkansas terbenam hingga ketiak dalam lumpur radioaktif. Ketika penyelam Jawatan Taman Nasional kembali pada 1989 dan 1990, dasar perairan telah kembali padat tertutup pasir dan lumpurnya sudah hilang. Mereka dapat melihat laras meriam depan yang tidak terlihat pada 1946.[119]

Semua kapal tempur memiliki bagian atas yang berat dan cenderung tergeletak terbalik ketika tenggelam. Arkansas juga tergeletak terbalik, tetapi sketsa bangkai kapal yang dibuat penyelam pada 1989 nyaris tidak memperlihatkan sisi kanan lambung, sehingga kapal itu tampak seolah-olah terbaring miring. Sebagian besar sisi kanan masih ada, tetapi sangat penyok dan tertekan.[120]

Superstrukturnya belum ditemukan. Bagian itu mungkin terlepas dan tersapu, atau berada di bawah lambung dalam keadaan remuk dan tertimbun pasir yang mengalir kembali ke kawah hingga mengisi sebagian kawah tersebut. Satu-satunya jalan masuk bagi penyelam ke dalam kapal ialah celah sempit melalui kasemat sisi kiri, yang disebut "aircastle". Sebelum memasuki Arkansas pada 1990, penyelam Jawatan Taman Nasional berlatih pada kasemat serupa di kapal tempur USS Texas, sebuah kapal museum.[121]

Bertentangan dengan anggapan populer, Arkansas tidak terangkat tegak oleh ledakan uji coba senjata tersebut. Pemeriksaan forensik atas bangkainya dalam berbagai survei sejak uji coba secara meyakinkan menunjukkan bahwa kegagalan struktur pelat lambung di sisi kanan memungkinkan air masuk dengan cepat dan membuat kapal terbalik.[114]

  • Gambar garis lambung kapal tempur yang sebagian remuk dan tergeletak terbalik di dasar laut.
    Kapal tempur Arkansas dalam keadaan terbalik pada kedalaman 180 kaki (55 m) di Laguna Bikini. Sketsa penyelam dari penyelaman Jawatan Taman Nasional pada 1989.
  • Foto bawah air sebuah meriam yang mencuat dari bukaan di sisi kapal tenggelam.
    Kasemat sisi kiri Arkansas pada 1989, dalam keadaan terbalik menempel pada dasar laut. Bukaan ini merupakan satu-satunya jalan masuk penyelam ke dalam kapal, yang dimasuki pada 1946 dan kembali pada 1990.
  • Kapal museum yang ditambatkan secara permanen, dengan lingkaran merah pada foto yang menandai meriam yang mencuat dari bukaan di sisi kiri kapal.
    Kapal tempur serupa, USS Texas, dengan kasemat ditandai lingkaran. Di Bikini, seluruh bagian yang dahulu berada di atas meriam geladak bawah Arkansas telah hilang atau terkubur pasir.

Kapal induk

Saratoga, yang ditempatkan dekat dengan Baker, tenggelam 7,5 jam setelah gelombang kejut bawah air menimbulkan kebocoran pada lambungnya. Segera setelah gelombang kejut melintas, gelombang air mengangkat buritan 43 kaki (13 m) dan haluan 29 kaki (8,8 m), mengguncang kapal ke kiri dan ke kanan, lalu menerjangnya. Kelima pesawat yang ditambatkan di geladak terbang tersapu, dan cerobongnya roboh ke geladak. Kapal tetap tegak dan berada di luar kolom semburan, tetapi cukup dekat untuk tersiram air radioaktif dari puncak kembang kol yang runtuh maupun awan semburan dasar.[122] Blandy memerintahkan kapal tunda menarik kapal induk itu ke Pulau Enyu untuk dikandaskan. Namun, Saratoga dan air di sekelilingnya masih terlalu radioaktif untuk didekati hingga kapal itu tenggelam.[123] Kapal tergeletak tegak di dasar laut, dengan puncak tiangnya 40 kaki (12 m) di bawah permukaan.[124]

USS Independence tidak tenggelam dalam Able, tetapi geladak terbangnya mengalami kerusakan hebat.[125] Kapal itu ditambatkan cukup jauh dari Baker sehingga tidak mengalami kerusakan fisik tambahan, tetapi terkontaminasi berat. Kapal kemudian ditarik ke San Francisco,[126] tempat percobaan dekontaminasi selama empat tahun di Galangan Angkatan Laut Hunters Point gagal memberikan hasil yang memuaskan. Pada 29 Januari 1951, kapal tersebut ditenggelamkan di dekat Kepulauan Farallon.[127]

  • Gambar garis kapal induk yang tergeletak tegak di dasar laut.
    Sketsa penyelam yang memperlihatkan USS Saratoga di dasar Laguna Bikini. Tonjolan pelindung torpedo di sisi kanannya remuk.
  • Foto kapal induk yang rusak parah, masih mengapung dengan asap mengepul dari geladak.
    USS Independence, kapal nomor 28, memperlihatkan kerusakan akibat ledakan Able, sebelum Baker membuatnya radioaktif.

Radioaktivitas produk fisi

Baker merupakan ledakan nuklir pertama yang cukup dekat dengan permukaan sehingga produk fisi radioaktifnya tertahan di lingkungan setempat. Ledakan itu tidak "membersihkan diri sendiri". Akibatnya, laguna dan kapal-kapal sasaran terkontaminasi zat radioaktif. Meskipun telah diantisipasi, kontaminasi ini menimbulkan masalah yang jauh lebih besar daripada perkiraan.[128]

Ledakan Baker menghasilkan sekitar 3 pon (1,4 kg) produk fisi.[129][130] Produk fisi tersebut tercampur merata dengan dua juta ton air semburan dan pasir dasar laut yang terangkat ke dalam kolom semburan beserta puncaknya yang berbentuk kembang kol, lalu jatuh kembali ke laguna. Sebagian besar tetap berada di laguna dan mengendap di dasar, atau terbawa ke laut oleh arus di dalam laguna yang digerakkan pasang surut dan angin.[112]

Sebagian kecil air semburan yang terkontaminasi terlempar kembali ke udara sebagai awan semburan dasar. Berbeda dengan awan Wilson, yang merupakan fenomena meteorologis di udara bersih, awan semburan dasar adalah kumpulan kabut radioaktif pekat yang bergulung melintasi seluruh kapal sasaran dan melapisi permukaannya dengan produk fisi.[131] Ketika butiran air dalam kabut itu menguap, awan semburan dasar menjadi tidak terlihat, tetapi terus bergerak menjauh dan mengontaminasi kapal-kapal yang berada beberapa mil dari titik ledakan.[132]

Perahu nirawak menjadi wahana pertama yang memasuki laguna. Instrumen di atasnya memungkinkan pengukuran radiasi dengan kendali jarak jauh. Ketika kapal pendukung memasuki laguna untuk melakukan evaluasi, dekontaminasi, dan penyelamatan, mereka menghindari bagian perairan dengan radioaktivitas tinggi yang terdeteksi oleh perahu nirawak. Standar paparan radiasi bagi personel sama dengan yang digunakan dalam Proyek Manhattan, yakni 0,1 röntgen per hari.[133] Karena batasan ini, hanya lima kapal sasaran yang paling jauh yang dapat dinaiki pada hari pertama.[134] Kapal-kapal yang lebih dekat disemprot oleh kapal pemadam Angkatan Laut dengan air laut dan bahan penghambat api. Penyemprotan pertama mengurangi radioaktivitas hingga separuhnya, tetapi penyemprotan berikutnya tidak efektif.[135] Sebagian besar kapal baru dapat dinaiki kembali setelah radioisotop berumur pendek meluruh; kapal sasaran terakhir baru dapat dinaiki setelah sepuluh hari.[136]

Dalam enam hari pertama setelah Baker, ketika tingkat radiasi masih paling tinggi, 4.900 personel menaiki kapal-kapal sasaran.[137] Para pelaut berusaha menghilangkan zat radioaktif dengan menyikat permukaan kapal menggunakan air, sabun, dan larutan alkali. Tidak ada cara yang berhasil selain penyemprotan abrasif hingga permukaan logamnya terbuka.[135]

  • Siluet kapal-kapal dengan awan kabut yang mendekat dari air yang jatuh di latar belakang.
    Ketika kolom semburan runtuh, "awan semburan dasar" radioaktif, yang menyerupai kabut di kaki air terjun, bergerak ke arah kapal-kapal sasaran. Kapal di latar depan sebelah kiri ialah kapal tempur Jepang Nagato, yang panjangnya 725 kaki (221 m).
  • Foto udara kapal pemadam yang menyemprot buritan sebuah kapal tempur.
    Dalam upaya membilas kontaminasi awan semburan dasar yang sebagian besar tidak efektif, kapal pemadam menyemprot kapal tempur New York dengan air laguna yang radioaktif. Kapal itu berada di luar cakupan peta di atas.
  • Para pelaut menyikat geladak kapal.
    Para pelaut menyikat kapal penjelajah Jerman Prinz Eugen dengan air, sabun, dan larutan alkali. Lima bulan kemudian, kapal itu masih terlalu radioaktif untuk memungkinkan perbaikan kebocoran, sehingga akhirnya tenggelam.

Hewan percobaan

250px-Crossroads_Aftermath4.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dampak pengujian terhadap hewan dalam Operasi Crossroads.

Hanya babi, kambing, dan tikus yang digunakan dalam uji coba Baker. Seluruh babi dan sebagian besar tikus mati. Beberapa hari berlalu sebelum para pelaut dapat menaiki kapal-kapal sasaran tempat hewan percobaan berada. Selama itu, akumulasi dosis sinar gama dari produk fisi mencapai tingkat yang mematikan bagi hewan-hewan tersebut.[138] Karena perhatian publik terhadap Operasi Crossroads banyak tertuju pada nasib hewan percobaan, pada September Blandy menegaskan bahwa kematian akibat radiasi tidak menyakitkan: "Hewan itu hanya melemah, lalu pulih atau mati tanpa rasa sakit. Secara keseluruhan, penderitaan hewan-hewan itu dapat diabaikan."[139] Pernyataan ini jelas tidak benar. Walaupun penderitaan Harry Daghlian dan Louis Slotin menjelang kematian akibat cedera radiasi di Los Alamos telah didokumentasikan dengan baik tetapi masih dirahasiakan, kematian akibat radiasi di Hiroshima dan Nagasaki yang diberitakan secara luas bukanlah kematian tanpa rasa sakit. Pada 1908, Dr. Charles Allen Porter telah menyatakan dalam makalah ilmiah bahwa "nyeri akibat luka sinar-X yang meradang nyaris tidak tertandingi oleh penyakit lain mana pun".[100]

Radioaktivitas terimbas

Ledakan Baker melepaskan neutron bebas ke lingkungan dalam jumlah sekitar dua kali jumlah peristiwa fisi yang terjadi. Satu peristiwa fisi plutonium rata-rata menghasilkan 2,9 neutron. Sebagian besar neutron ini digunakan untuk memicu fisi berikutnya, hingga proses fisi mereda dan neutron yang tersisa tanpa tertangkap lolos ke lingkungan.[140] Dalam ledakan di udara, sebagian besar neutron yang terlepas ke lingkungan diserap oleh udara bersuhu sangat tinggi yang naik ke stratosfer bersama produk fisi dan plutonium yang tidak mengalami fisi. Dalam peledakan Baker di bawah air, neutron-neutron itu ditangkap oleh air laut di laguna.[141]

Dari empat unsur utama dalam air laut—hidrogen, oksigen, natrium, dan klorin—hanya natrium yang menjadi sangat radioaktif dalam jangka pendek ketika inti atomnya mendapat tambahan satu neutron. Natrium-23 yang umum dijumpai berubah menjadi natrium-24 radioaktif, dengan waktu paruh 15 jam. Dalam enam hari, intensitasnya turun seribu kali lipat, tetapi waktu paruh yang pendek berarti intensitas awalnya tinggi. Isotop lain juga terbentuk dari air laut: hidrogen-3 (waktu paruh 12 tahun) dari hidrogen-2, oksigen-17 (stabil) dari oksigen-16, serta klorin-36 (waktu paruh sekitar 300.000 tahun) dari klorin-35, selain beberapa unsur renik. Namun, jumlahnya yang sedikit atau intensitasnya yang rendah dalam jangka pendek (karena waktu paruhnya panjang) membuat perannya tidak berarti dibandingkan natrium-24.[141]

Natrium radioaktif yang terbentuk berjumlah kurang dari satu pon. Jika seluruh neutron yang dilepaskan oleh fisi 2 pon (0,91 kg) plutonium-239 ditangkap natrium-23, hasilnya ialah 04 pon (1,8 kg) natrium-24. Namun, natrium tidak menangkap semua neutron tersebut. Berbeda dengan produk fisi, yang berat dan akhirnya mengendap di dasar laguna, natrium tetap terlarut. Zat ini mengontaminasi lambung dan sistem air laut kapal-kapal pendukung yang memasuki laguna, serta air yang digunakan untuk dekontaminasi.[141]

Plutonium yang tidak mengalami fisi

Sebanyak 106 pon (48 kg) plutonium yang tidak mengalami fisi dan 3 pon (1,4 kg) produk fisi tersebar ke lingkungan.[142] Plutonium tidak menimbulkan bahaya biologis kecuali tertelan atau terhirup, dan radiasi alfanya tidak dapat menembus kulit. Setelah masuk ke tubuh, plutonium sangat beracun, baik secara radiologis maupun kimiawi, dengan toksisitas logam berat yang sebanding dengan arsen.[143] Berdasarkan "dosis toleransi" Proyek Manhattan sebesar satu mikrogram plutonium per pekerja, 10,6 pon diperkirakan setara dengan sekitar lima miliar dosis yang dapat ditoleransi.[144]

Sinar alfa plutonium tidak dapat dideteksi oleh dosimeter film maupun pencacah Geiger yang digunakan orang-orang yang menaiki kapal sasaran. Daya tembus partikel alfa sangat rendah, sehingga tidak mampu menembus tabung kaca detektor. Plutonium dianggap ada di setiap bagian lingkungan tempat radiasi produk fisi terdeteksi. Rencana dekontaminasinya adalah menyikat kapal-kapal sasaran hingga bersih dari produk fisi, dengan asumsi plutonium ikut terbilas. Untuk mengetahui keberhasilan rencana itu, sampel cat, karat, dan bahan permukaan kapal sasaran lainnya dibawa ke laboratorium di kapal pendukung Haven dan diperiksa kandungan plutoniumnya.[145] Hasil pengujian menunjukkan bahwa rencana itu tidak berhasil. Hasil pemeriksaan plutonium, bersama hasil pengujian ikan yang ditangkap di laguna, menyebabkan seluruh pekerjaan dekontaminasi dihentikan mendadak pada 10 Agustus. Keputusan itu secara efektif mengakhiri Operasi Crossroads atas alasan keselamatan.[146] Pengujian pada kapal pendukung USS Rockbridge pada November menunjukkan keberadaan 2 miligram (0,031 gr) plutonium,[147] setara dengan 2.000 dosis yang dapat ditoleransi.[148]

Kegagalan pembersihan setelah Baker dan penghentian program

Penghentian program pada 10 Agustus, enam belas hari setelah Baker, merupakan hasil pertentangan antara Dr. Stafford Warren, kolonel Angkatan Darat yang bertanggung jawab atas keselamatan radiasi Operasi Crossroads, dan Wakil Kepala Operasi Angkatan Laut Bidang Senjata Khusus, Laksamana Madya William H. P. Blandy. Seorang petugas pemantau keselamatan radiasi di bawah komando Warren kemudian menyebutnya sebagai "satu-satunya kolonel Angkatan Darat yang pernah menenggelamkan armada kecil Angkatan Laut".[149]

Warren pernah menjabat kepala bagian medis Proyek Manhattan[150] dan bertanggung jawab atas keselamatan radiasi dalam uji coba Trinity,[151] serta pemeriksaan di lapangan di Hiroshima dan Nagasaki setelah pengeboman.[152] Dalam Operasi Crossroads, tugasnya adalah menjaga keselamatan para pelaut selama pembersihan.[153]

Pemantauan radiasi

250px-Crossroads_Aftermath1.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kerusakan struktur yang meluas dan upaya pembersihan kapal-kapal.

Sebanyak 18.875 dosimeter film dibagikan kepada personel selama operasi. Sekitar 6.596 dosimeter diberikan kepada personel di pulau-pulau terdekat atau kapal pendukung yang tidak berpotensi terpapar radiasi. Sisanya diberikan kepada semua orang yang dinilai paling berisiko mengalami kontaminasi radiologis, serta sebagian personel dari setiap kelompok yang bekerja di daerah dengan kontaminasi lebih rendah. Jika dosimeternya menunjukkan paparan lebih dari 0,1 röntgen (R) per hari, personel tersebut dijauhkan selama satu hari atau lebih dari daerah dan kegiatan yang berpotensi menimbulkan paparan. Para ahli saat itu meyakini bahwa dosis radiasi tersebut dapat ditoleransi dalam jangka panjang tanpa dampak merugikan bagi kesehatan. Dosis kumulatif tertinggi, 3,72 R, diterima seorang petugas pemantau keselamatan radiasi.[154]

Kendala pembersihan

Pembersihan terhambat oleh dua faktor utama: awan semburan dasar yang tidak diperkirakan dan ketiadaan rencana pembersihan yang layak. Para perencana memahami bahwa jika kolom air jatuh kembali ke laguna—sebagaimana kemudian terjadi—kapal yang tersiram air jatuhan mungkin terkontaminasi sedemikian parah sehingga tidak dapat dibersihkan. Namun, tidak ada yang menduga hal itu akan menimpa hampir seluruh armada sasaran.[155] Belum ada prosedur dekontaminasi yang diuji untuk mengetahui efektivitasnya dan mengukur potensi risikonya bagi personel. Tanpa protokol dekontaminasi, kapal-kapal dibersihkan dengan cara penyikatan geladak yang biasa: selang, pel, dan sikat, serta air, sabun, dan larutan alkali.[156] Para pelaut tidak mengenakan pakaian pelindung.[157]

Kontaminasi sekunder

250px-Crossroads_Aftermath2.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dampak Operasi Crossroads dilihat dari udara, dengan kebakaran besar yang masih berlangsung pada kapal-kapal yang terkena ledakan.

Pada 3 Agustus, Kolonel Warren menyimpulkan bahwa seluruh upaya itu sia-sia dan berbahaya.[158] Para pelaut yang tidak terlindung justru menghamburkan bahan radioaktif dan mengontaminasi kulit, pakaian, serta kemungkinan paru-paru mereka. Ketika kembali ke tempat tinggal di kapal pendukung, mereka mengontaminasi bilik pancuran, fasilitas pencucian pakaian, dan segala sesuatu yang disentuh. Warren menuntut agar seluruh operasi pembersihan segera dihentikan. Ia terutama mengkhawatirkan plutonium, yang tidak dapat dideteksi di lokasi.[159]

Warren juga mengamati bahwa prosedur keselamatan radiasi tidak dijalankan dengan benar.[160] Kapal pemadam mendekati kapal sasaran yang disemprotnya terlalu dekat, sehingga awaknya tersiram percikan air radioaktif. Salah satu kapal pemadam harus ditarik dari operasi.[160] Dosimeter film menunjukkan 67 kejadian paparan berlebih antara 6 dan 9 Agustus.[149] Lebih dari separuh dari 320 pencacah Geiger yang tersedia mengalami korsleting dan tidak dapat digunakan.[161] Awak dua kapal sasaran, USS Wainwright dan USS Carteret, yang ditambatkan jauh dari titik ledakan, telah kembali tinggal di kapal mereka dan menerima paparan berlebih. Mereka segera dievakuasi kembali ke Amerika Serikat.[162]

Kapten L. H. Bibby, komandan kapal tempur New York yang tampaknya tidak rusak, menuduh para petugas keselamatan radiasi Warren memegang pencacah Geiger terlalu dekat dengan geladak.[149] Ia ingin kembali menaiki kapalnya dan membawanya pulang. Angka radiasi yang terus menurun di kapal-kapal sasaran menimbulkan kesan keliru bahwa pembersihan berhasil. Namun, Warren menjelaskan bahwa meskipun kekuatan sinar gama produk fisi berkurang akibat pejatuhan radioaktif, kapal-kapal itu tetap terkontaminasi. Bahaya tertelannya partikel mikroskopis masih ada.[158]

Warren meyakinkan Blandy

Bagian radioaktif pada seekor ikan tampak putih dengan latar hitam.
Seekor ikan botana radioaktif menghasilkan citra sinar-X-nya sendiri. Bagian terang merupakan alga segar yang dimakannya. Bagian tubuh lainnya telah menyerap dan menyebarkan cukup banyak plutonium sehingga sisiknya menjadi radioaktif. Ikan itu masih hidup dan tampak sehat ketika ditangkap.

Blandy memerintahkan Warren menjelaskan pandangannya kepada 1.400 perwira dan pelaut yang skeptis.[149] Sebagian dapat diyakinkan, tetapi Blandy baru berhasil diyakinkan pada 9 Agustus. Pada hari itulah Blandy untuk pertama kalinya menyadari bahwa pencacah Geiger tidak dapat mendeteksi plutonium.[145] Blandy mengetahui masalah kesehatan yang dialami para pekerja pengecat angka jam dengan radium setelah menelan radium dalam jumlah mikroskopis pada 1920-an, serta anggapan bahwa plutonium memiliki dampak biologis serupa. Ketika plutonium ditemukan di ruang kapten Prinz Eugen tanpa disertai produk fisi, Blandy menyadari bahwa plutonium bisa berada di mana saja.[163]

Keesokan harinya, 10 Agustus, Warren memperlihatkan autoradiograf seekor ikan kepada Blandy, yakni citra sinar-X yang dihasilkan radiasi dari ikan itu sendiri. Garis luar tubuh ikan terbentuk oleh radiasi alfa dari sisiknya, yang menunjukkan bahwa plutonium, dengan berperilaku menyerupai kalsium, telah tersebar ke seluruh tubuh ikan hingga ke sisik. Blandy mengumumkan keputusannya: "kalau begitu, kita hentikan semuanya." Ia memerintahkan penghentian seluruh pekerjaan dekontaminasi selanjutnya.[146] Dalam surat kepada keluarganya, Warren menulis, "Foto sinar-X yang dibuat ikan itu sendiri ... berhasil meyakinkannya."[146]

Kegagalan dekontaminasi mengakhiri rencana menyiapkan sebagian kapal sasaran untuk peledakan Charlie pada 1947 dan membawa pulang sisanya sebagai lambang keberhasilan. Masalah hubungan masyarakat yang segera dihadapi ialah mencegah munculnya anggapan bahwa seluruh armada sasaran telah musnah. Pada 6 Agustus, untuk mengantisipasi perkembangan ini, Blandy telah memberi tahu stafnya bahwa kapal yang tenggelam atau hancur lebih dari 30 hari setelah peledakan Baker "tidak akan dianggap tenggelam akibat bom".[164] Saat itu, minat publik terhadap Operasi Crossroads mulai surut dan para wartawan telah pulang. Kegagalan dekontaminasi baru menjadi berita ketika laporan akhir terbit setahun kemudian.[165]

Uji coba Charlie

Seorang pria berseragam Angkatan Laut dan seorang perempuan bertopi memotong kue bertuliskan Operation Crossroads yang berbentuk awan jamur, sementara seorang perwira Angkatan Laut lain menyaksikan.
Blandy dan istrinya memotong kue Operasi Crossroads yang berbentuk geiser radioaktif Baker, disaksikan Laksamana Muda Frank J. Lowry, 7 November 1946.

Staf program uji coba semula menjadwalkan Charlie pada awal 1947. Mereka ingin meledakkan bom jauh di bawah permukaan air di sisi atol yang terlindung dari angin, untuk menguji dampak senjata nuklir sebagai bom laut terhadap kapal-kapal yang tidak ditambatkan.[43] Keterlambatan dekontaminasi kapal sasaran setelah Baker yang tidak diperkirakan[25] membuat personel pendukung teknis yang dibutuhkan tidak dapat membantu pelaksanaan Charlie. Selain itu, tidak tersedia kapal sasaran yang bebas kontaminasi untuk digunakan dalam uji coba tersebut. Staf program persenjataan Angkatan Laut menilai uji coba itu kurang mendesak, mengingat seluruh persediaan Amerika Serikat hanya terdiri atas segelintir senjata nuklir, lalu membatalkannya. Alasan resmi pembatalan Charlie ialah staf program menganggapnya tidak lagi diperlukan karena keberhasilan Able dan Baker.[166] Pengujian dampak ledakan di laut dalam yang semestinya dilakukan melalui Charlie baru terlaksana sembilan tahun kemudian dalam Operasi Wigwam.[167]

Dampak lanjutan

Semua kapal mengalami rembesan air dan memerlukan pengoperasian pompa bilga secara berkala agar tetap mengapung.[168] Jika pompa bilga tidak dapat dioperasikan, kapal-kapal sasaran akhirnya akan tenggelam. Hanya satu kapal yang mengalami nasib itu: Prinz Eugen, yang tenggelam di Laguna Kwajalein pada 22 Desember. Kapal-kapal lain dipertahankan tetap mengapung sampai dapat ditenggelamkan dengan sengaja atau dibongkar. Setelah keputusan 10 Agustus untuk menghentikan dekontaminasi di Bikini, armada sasaran yang masih mengapung ditarik ke Atol Kwajalein agar amunisi aktif dan bahan bakarnya dapat dibongkar di perairan yang tidak terkontaminasi. Pemindahan ini dilakukan sepanjang sisa Agustus dan September.[169]

Delapan kapal besar dan dua kapal selam ditarik kembali ke Amerika Serikat dan Hawaii untuk pemeriksaan radiologis. Dua belas kapal sasaran mengalami kontaminasi begitu ringan sehingga dapat diawaki kembali dan dilayarkan pulang ke Amerika Serikat oleh awaknya. Pada akhirnya, hanya sembilan kapal sasaran yang dapat dibongkar menjadi besi tua, sedangkan kapal lainnya harus ditenggelamkan dengan sengaja. Kapal-kapal sasaran yang tersisa ditenggelamkan di lepas Atol Bikini atau Kwajalein, atau di dekat Kepulauan Hawaii maupun pesisir California, selama 1946–1948.[170] Sisa-sisa Independence dipertahankan di Galangan Hunters Point hingga 1951 untuk menguji metode dekontaminasi.[171]: 6–24 

Kapal-kapal pendukung didekontaminasi sesuai kebutuhan dan harus memperoleh izin berdasarkan pemeriksaan radiologis sebelum dapat kembali bergabung dengan armada. Proses ini memerlukan banyak percobaan di galangan Angkatan Laut di Amerika Serikat, terutama di Hunters Point, San Francisco.[171]: 6–15  Kapal perusak USS Laffey memerlukan "penyemprotan abrasif dan pengecatan seluruh permukaan di bawah air, serta pencucian dengan asam dan penggantian sebagian pipa air laut dan evaporator".[172]

Sebuah survei dilakukan pada pertengahan 1947 untuk mempelajari dampak jangka panjang uji coba Operasi Crossroads. Menurut laporan resminya, upaya dekontaminasi "membuktikan secara meyakinkan bahwa kontaminasi radioaktif seperti yang ditemukan pada kapal-kapal sasaran dalam uji coba Baker tidak dapat dihilangkan dengan berhasil".[173]

Pada 11 Agustus 1947, Life merangkum laporan itu dalam artikel sepanjang 14 halaman dengan 33 gambar.[174] Artikel tersebut menyatakan, "Seandainya semua kapal di Bikini diawaki penuh, bom pada hari uji coba Baker akan membunuh 35.000 awak kapal. Jika bom semacam itu dijatuhkan di bawah Battery, New York, ketika angin selatan bertiup kencang, 2 juta orang akan tewas."[175]

Masalah kontaminasi baru dipahami secara luas oleh masyarakat pada 1948, ketika No Place to Hide, buku laris karya David Bradley, dimuat berseri dalam The Atlantic, diringkas oleh Reader's Digest, dan dipilih oleh Book of the Month.[176] Dalam kata pengantarnya, Bradley, salah satu anggota utama Bagian Keselamatan Radiologis di Bikini yang dikenal sebagai "orang-orang Geiger", menegaskan bahwa "laporan tentang ledakan yang sebenarnya, betapapun baik niatnya, banyak dibumbui khayalan dan takhayul, sementara hasil uji coba tetap terkubur dalam ruang penyimpanan rahasia militer".[177] Uraiannya mengenai uji coba Baker dan dampaknya menarik perhatian dunia pada masalah jatuhan radioaktif dari senjata nuklir.[178]

Paparan terhadap personel

250px-Operation_Crossroads_Joint_Task_Force_One_ID_Card.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kartu identitas Operasi Crossroads.

Seluruh kegiatan Operasi Crossroads dirancang agar personel tidak menerima paparan lebih dari 0,1 röntgen (R) per hari. Saat itu, jumlah tersebut dianggap dapat ditoleransi dalam jangka panjang tanpa dampak merugikan bagi kesehatan. Karena tidak tersedia pakaian khusus atau perisai radiasi, rencana perlindungan mengandalkan pengaturan mengenai siapa yang boleh pergi ke suatu tempat, kapan, dan berapa lama.[40]

Daerah yang diperkirakan memiliki radioaktivitas tinggi kemudian diperiksa dengan pencacah Geiger, kadang-kadang melalui kendali jarak jauh, untuk memastikan keamanannya. Tingkat radiasi gama yang terukur menentukan berapa lama personel dapat bekerja di sana tanpa melampaui dosis harian yang diizinkan.[40] Pengukuran radiasi gama secara langsung dilakukan oleh ahli keselamatan radiasi, sedangkan dosimeter film yang dapat dibaca pada akhir hari diberikan kepada semua personel yang dinilai paling berisiko terpapar radiasi. Siapa pun yang dosimeternya menunjukkan paparan lebih dari 0,1 R per hari dijauhkan selama satu hari atau lebih dari daerah dan kegiatan yang berpotensi menimbulkan paparan. Paparan kumulatif tertinggi yang tercatat ialah 3,72 R, diterima seorang ahli keselamatan radiasi.[40]

Sebagian personel dari setiap kelompok yang bekerja di daerah dengan kontaminasi lebih rendah juga diberi dosimeter. Pada akhirnya, 18.875 dosimeter film dibagikan kepada sekitar 15% dari seluruh tenaga kerja. Berdasarkan sampel ini, total paparan teoretis dihitung untuk setiap orang yang tidak memiliki dosimeter pribadi.[40] Sesuai perkiraan, paparan terhadap awak kapal sasaran yang menaiki kembali kapal mereka setelah Baker lebih tinggi daripada paparan terhadap awak kapal pendukung. Lambung kapal pendukung yang memasuki laguna setelah Baker menjadi begitu radioaktif sehingga tempat tidur dipindahkan ke bagian tengah masing-masing kapal.[179] Dari seluruh massa partikel radioaktif yang tersebar oleh setiap ledakan, 85% berupa plutonium yang tidak mengalami fisi. Plutonium ini memancarkan radiasi alfa yang tidak terdeteksi oleh dosimeter film atau pencacah Geiger. Tidak ada metode untuk mendeteksi plutonium dengan cukup cepat, dan peserta tidak dipantau untuk mengetahui apakah mereka telah menelannya.[141]

Ringkasan hasil pembacaan dosimeter film (dalam röntgen) untuk Juli dan Agustus, ketika jumlah personel yang terlibat paling banyak, ditampilkan di bawah ini:

Hasil pembacaan aktual dosimeter film (+R gama)
Hasil pembacaan[40] Jumlah 0 0,001–0,1 0,101–1,0 1,001–10,0
Juli 3.767 (100%) 2.843 (75%) 689 (18%) 232 (6%) 3 (<0,1%)
Agustus 6.664 (100%) 3.947 (59%) 2.139 (32%) 570 (9%) 8 (0,1%)

Personel militer yang ikut membersihkan kapal-kapal terkontaminasi menerima paparan radiasi dalam jumlah yang tidak diketahui. Pada 1996, sebuah penelitian angka kematian veteran Operasi Crossroads yang didanai pemerintah[180] menunjukkan bahwa hingga 1992, 46 tahun setelah uji coba, angka kematian para veteran tersebut 4,6% lebih tinggi daripada kelompok pembanding yang tidak mengikuti operasi itu. Jumlah kematian pada kelompok veteran Operasi Crossroads lebih banyak 200 orang dibandingkan kelompok pembanding yang serupa (12.520 berbanding 12.320), yang menyiratkan berkurangnya lama hidup sekitar tiga bulan bagi veteran Operasi Crossroads.[181] Pada 1978, para veteran yang terpapar radiasi membentuk organisasi nirlaba National Association of Atomic Veterans untuk memperjuangkan tunjangan veteran yang mencakup penyakit yang mereka yakini disebabkan oleh paparan tersebut.[180]

Undang-undang yang disahkan pada 1988 menghapus kewajiban veteran untuk membuktikan hubungan sebab-akibat antara jenis kanker tertentu dan paparan radiasi akibat uji coba nuklir.[182] Kejadian leukemia dan kanker lain, yang diperkirakan menjadi penyebab utama peningkatan angka kematian tersebut, ternyata tidak lebih tinggi secara signifikan daripada angka normal. Kematian akibat penyakit-penyakit itu ditabulasikan dengan asumsi bahwa jika paparan radiasi memperpendek umur, pengaruhnya kemungkinan akan tampak di sana, tetapi hal itu tidak ditemukan. Data mengenai penyebab kematian lainnya tidak cukup untuk menentukan penyebab kenaikan angka kematian dari semua sebab, sehingga penyebabnya tetap menjadi misteri. Peningkatan angka kematian lebih besar pada mereka yang menaiki kapal sasaran setelah uji coba, yakni 5,7%, dibandingkan 4,3% pada mereka yang tidak.[180]

Atol Bikini

Artikel utama: Atol Bikini
250px-USS_Nevada_Post_Operation_Crossroads.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
USS Nevada setelah Operasi Crossroads, dengan kerusakan yang meluas.

Ke-167 penduduk Bikini yang dipindahkan ke Atol Rongerik sebelum uji coba Crossroads tidak mampu mengumpulkan makanan atau menangkap ikan dan kerang dalam jumlah yang cukup di lingkungan baru mereka. Angkatan Laut meninggalkan persediaan makanan dan air untuk beberapa minggu, tetapi kemudian tidak kembali tepat waktu. Pada Januari 1947, pengunjung Rongerik melaporkan bahwa penduduk mengalami malagizi. Pada Juli mereka terancam kelaparan, dan pada Januari 1948 tubuh mereka telah sangat kurus. Pada Maret 1948, mereka dievakuasi ke Kwajalein, kemudian pada November ditempatkan di pulau tak berpenghuni lain, Kili. Dengan luas hanya sepertiga mil persegi, Kili memiliki seperenam luas daratan Bikini dan, yang lebih penting, tidak memiliki laguna ataupun pelabuhan yang terlindung. Karena tidak dapat menjalankan tradisi menangkap ikan di laguna, mereka menjadi bergantung pada kiriman makanan. Kini, 4.000 keturunan mereka tinggal di beberapa pulau dan di luar negeri.[33]

Keinginan mereka untuk kembali ke Bikini tertunda tanpa kepastian akibat keputusan Amerika Serikat melanjutkan uji coba nuklir di Bikini pada 1954. Pada 1954, 1956, dan 1958, sebanyak 21 bom nuklir tambahan diledakkan di Bikini, dengan total daya ledak 75 megaton TNT (310 PJ), setara dengan lebih dari 3.000 bom Baker. Hanya satu yang berupa ledakan di udara, yakni uji coba Redwing Cherokee berdaya ledak 3,8 megaton. Ledakan di udara menyebarkan jatuhan radioaktif ke wilayah yang luas, sedangkan ledakan di permukaan menghasilkan jatuhan lokal yang intens.[183] Uji coba pertama setelah Crossroads merupakan yang paling mencemari: peledakan Bravo berdaya ledak 15 megaton dalam Operasi Castle pada 1 Maret 1954, yang merupakan uji coba terbesar Amerika Serikat. Jatuhan Bravo menyebabkan cedera radiasi pada penduduk Bikini yang tinggal di Atol Rongelap.[184]

Upaya singkat untuk memukimkan kembali Bikini pada 1972–1978 dihentikan ketika masalah kesehatan akibat radioaktivitas dalam persediaan makanan memaksa atol itu dievakuasi lagi. Penyelam rekreasi yang mengunjungi Bikini untuk menyelami bangkai kapal harus mengonsumsi makanan dari luar. Pemerintah setempat memutuskan menutup kegiatan wisata selam di Laguna Bikini yang menggunakan sistem datang dan pulang dengan pesawat pada 2008,[185] dan musim penyelaman 2009 dibatalkan karena biaya bahan bakar, layanan penerbangan ke pulau yang tidak andal, serta penurunan dana perwalian penduduk Bikini yang menyubsidi kegiatan itu.[33] Setelah uji coba yang berhasil pada Oktober 2010, pemerintah setempat memberikan izin kepada satu penyelenggara ekspedisi selam ke armada hantu nuklir di Atol Bikini mulai 2011. Kapal induk Saratoga menjadi daya tarik utama industri wisata selam kelas atas yang masih kesulitan berkembang.[34]

Warisan

Menyusul masalah dekontaminasi setelah uji coba Baker, Angkatan Laut Amerika Serikat melengkapi kapal-kapal baru dengan sistem pembilasan penanggulangan kontaminasi (Countermeasure Wash Down System). Sistem pipa dan nosel ini menyemprot seluruh permukaan luar kapal dengan air laut dari sistem pemadaman kebakaran ketika serangan nuklir diperkirakan segera terjadi. Secara teoretis, lapisan air yang mengalir akan mencegah zat pencemar mengendap di retakan dan celah.[186]

Dalam budaya populer

Gambaran penduduk pulau yang setengah telanjang berdampingan dengan senjata nuklir yang mampu mengembalikan semua orang ke keadaan primitif menjadi sumber inspirasi bagi sebagian orang. Selama Operasi Crossroads, perancang pakaian renang Paris Louis Réard menggunakan nama Bikini untuk rancangan pakaian renang minimalisnya, yang menampakkan pusar pemakai dan dianggap revolusioner pada masa itu. Ia menjelaskan bahwa "seperti bom, bikini berukuran kecil dan berdampak dahsyat".[187] Penulis mode Diana Vreeland menyebut bikini sebagai "bom atom dunia mode".[187] Meskipun pakaian renang dua potong telah digunakan sejak zaman kuno, nama Bikini yang diberikan Réard-lah yang melekat pada seluruh bentuk modernnya.[188]

Seniman Bruce Conner membuat Crossroads, video tahun 1976 yang disusun dari film-film resmi, dengan kolase suara buatan Patrick Gleeson menggunakan penyintesis Moog serta komposisi nada dengung yang dimainkan Terry Riley pada organ listrik. Seorang pengulas di The New York Review of Books menyebut pengalaman menonton video itu sebagai "sublimitas nuklir" (nuclear sublime).[189]

Film dan acara televisi telah menggunakan rekaman arsip ledakan uji coba Baker untuk menggambarkan peristiwa fiktif. Dalam serial animasi SpongeBob SquarePants dari Nickelodeon, rekaman tersebut digunakan tiga kali: dalam episode musim kedua "Dying for Pie", episode musim kelima "The Krusty Plate", dan episode musim kedelapan "Frozen Face-Off". Rekaman itu juga digunakan dalam episode musim kelima "Feud for Sale" dari The Ren & Stimpy Show. Salah satu contoh dalam film ialah Godzilla (1998) produksi TriStar Pictures, yang menggunakan rekaman uji coba Baker pada bagian pembuka untuk menggambarkan bom atom yang menciptakan monster judulnya. Dalam Godzilla Minus One, Operasi Crossroads merupakan penyebab awal mutasi Godzilla; novelisasi film tersebut menjelaskan lebih lanjut bahwa peledakan yang menyebabkannya adalah Baker. Rekaman arsip ledakan Baker juga digunakan dalam film Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb karya Stanley Kubrick.[190] Rekaman itu muncul dalam montase penutup, diiringi Vera Lynn yang menyanyikan "We'll Meet Again".[191]

Lihat pula

  • Wōdejebato – gunung bawah laut di dekat lokasi yang dijelajahi dan dipetakan selama uji coba ini.

Catatan

  1. ↑ Weisgall 1994, hlm. ix.
  2. ↑ Strauss 1962, hlm. 208–209.
  3. ↑ Weisgall 1994, hlm. 19–22.
  4. ↑ Weisgall 1994, hlm. 14–15.
  5. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 10.
  6. 1 2 Weisgall 1994, hlm. 16.
  7. ↑ Peterson 1946, dikutip dalam Weisgall 1994, hlm. 17.
  8. ↑ Christman 1998, hlm. 3–5.
  9. ↑ Christman 1998, hlm. 210–211.
  10. ↑ Weisgall 1994, hlm. 30–31.
  11. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 28–29.
  12. ↑ Weisgall 1994, hlm. 126.
  13. ↑ Weisgall 1994, hlm. 67.
  14. ↑ Weisgall 1994, hlm. 68–69.
  15. ↑ Newson 1945, hlm. 4, dikutip dalam Weisgall 1994, hlm. 216.
  16. 1 2 Bulletin Editors 1946, hlm. 1.
  17. ↑ Delgado 1991, Bab 2.
  18. ↑ Bird, Kai; Sherwin, Martin J. (2005). American Prometheus: The Triumph and Tragedy of J. Robert Oppenheimer. New York: Alfred A. Knopf. hlm. 349–350. ISBN 978-0-375-41202-8. OCLC 56753298.
  19. ↑ Szilard 1978, hlm. 184.
  20. ↑ Weisgall 1994, hlm. 90.
  21. ↑ Weisgall 1994, hlm. 94. Meskipun telah ditunda, hanya 13 anggota Kongres yang menyaksikan uji coba Able dan 7 yang menyaksikan Baker. Shurcliff 1947, hlm. 185.
  22. ↑ Weisgall 1994, hlm. 79.
  23. ↑ Surat Brigadir Jenderal T. J. Betts, Angkatan Darat Amerika Serikat, kepada Peter Brambir, 21 Maret 1946, disimpan dalam berkas Protest Answers, National Archives Record Group 374. Dikutip dalam Delgado 1991, Bab 2.
  24. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 16–17.
  25. 1 2 3 4 5 Daly 1986. Daya ledak bom sering dilaporkan sebesar 21 kiloton, tetapi artikel ini secara konsisten menggunakan angka 23 kiloton sesuai Weisgall 1994, hlm. 186.
  26. ↑ Weisgall 1994, hlm. 117.
  27. ↑ Parsons, Laksamana Muda. "Subject: site for atomic bomb experiments, May 12, 1948." Lampiran memo Letnan Jenderal J. E. Hull kepada Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, "Subject: location of proving ground for atomic weapons." Dikutip dalam: Radioactive Heaven and Earth: The health and environmental effects of nuclear weapons testing in, on, and above the earth: A report of the IPPNW International Commission to Investigate the Health and Environmental Effects of Nuclear Weapons Production and the Institute for Energy and Environmental Research (1991), hlm. 70 ISBN0-945257-34-1. Diakses 23 Februari 2019.
  28. ↑ Bikini tidak memenuhi salah satu kriteria cuaca yang ditetapkan: "angin yang dapat diperkirakan dan berarah seragam dari permukaan laut hingga ketinggian 60,000 kaki (0,018288 km)". Daly 1986, hlm. 68.
  29. ↑ Weisgall 1994, hlm. 31–33.
  30. ↑ Weisgall 1994, hlm. 105, 106.
  31. ↑ Weisgall 1994, hlm. 107.
  32. ↑ Weisgall 1994, hlm. 113.
  33. 1 2 3
  34. 1 2 "Bikini Atoll Diving Charter". Indies Trader Marine Adventures. Diakses tanggal 14 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  35. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 22–27.
  36. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 124
  37. 1 2 Shurcliff 1946, hlm. 119.
  38. ↑ Weisgall 1994, hlm. 124.
  39. ↑ Delgado 1991, hlm. 22
  40. 1 2 3 4 5 6 Navy History and Heritage Command 2002
  41. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 106.
  42. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 33.
  43. 1 2 3 Waters 1986, hlm. 72–74.
  44. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 32.
  45. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 111.
  46. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 9.
  47. ↑ Network, News Corp Australia (26 Juli 2016). "New footage reveals Bikini Atoll atomic bomb test aftermath". New Zealand Herald (dalam bahasa New Zealand English). ISSN 1170-0777. Diakses tanggal 26 Juli 2016.
  48. ↑ "NatlSecurityArchive on Twitter". Diakses tanggal 26 Juli 2016.
  49. ↑ "Video6". YouTube. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Juli 2016. Diakses tanggal 13 Maret 2019.
  50. ↑ Bradley 1948, hlm. 40, 91.
  51. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 109, 155.
  52. ↑ Weisgall 1994, hlm. 286.
  53. ↑ "Atomic Goddess Revisited: Rita Hayworth's Bomb Image Found". CONELRAD Adjacent (blog). 13 Agustus 2013. Diakses tanggal 11 Maret 2015.
  54. ↑ Weisgall 1994, hlm. 263–265.
  55. 1 2 United States Nuclear Tests: July 1945 through September 1992 (DOENV-209 REV15) (PDF) (Laporan). Las Vegas, NV: Department of Energy, Nevada Operations Office. 1 Desember 2000. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 Oktober 2006. Diakses tanggal 18 Desember 2013.
  56. 1 2 Yang, Xiaoping; North, Robert; Romney, Carl (Agustus 2000). CMR Nuclear Explosion Database (Revision 3) (Laporan). SMDC Monitoring Research.
  57. ↑ Norris, Robert Standish; Cochran, Thomas B. (1 Februari 1994). "United States nuclear tests, July 1945 to 31 December 1992 (NWD 94-1)" (PDF). Nuclear Weapons Databook Working Paper. Washington, DC: Natural Resources Defense Council. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 29 Oktober 2013. Diakses tanggal 26 Oktober 2013.
  58. ↑ Operation Crossroads, 1946 (DNA-6032F) (PDF) (Laporan). Defense Nuclear Agency. 1 Mei 1984. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 Februari 2014. Diakses tanggal 6 Januari 2014.
  59. 1 2 3 Sublette, Carey. "Nuclear Weapons Archive". Diakses tanggal 6 Januari 2014.
  60. ↑ "18.11.3 - B-29 44-27354, 58th Wing, 509th Composite Group aircraft that dropped the atomic bomb in Test Able of Operation Crossroads. Task Group 1.5 was the Army Air Force group of the task force and consisted of approximately 2,200 people. They were largely from SAC and were placed under the command of Brigadier General Roger M. Ramey, Commanding General of the 58th Bomb Wing. General Ramey's group was responsible for delivering the first Crossroads atomic bomb and provided the aircraft to photograph the explosion and collect scientific data.On July 1, 1946 Dave's Dream, a B-29 piloted by Major Woodrow P. Swancutt, assigned to the 509th Group temporarily stationed at Kwajalein, dropped an atomic bomb on 73 ships lying off of Bikini Island. Five ships were sunk and nine were badly damaged. Task Group 1.5 participated in the second phase of Operation Crossroads, the underwater explosion on July 25, 1946 by providing numerous aircraft for photographic, data collection, and support functions. Pilot Major Woodrow Swancutt is on the right1st Lt. Robert M. Glenn - Flight EngineerT/Sgt. Jack Cothran - Radio OperatorCpl. Herbert Lyons - Left ScannerCpl. Roland M. Medlin - Right ScannerCapt. William C. Harrison, Jr. - Co-PilotMajor Woodrow P. Swancutt - PilotMajor Harold H. Wood - BombardierCapt. Paul Chenchar, Jr. - Radar Operator | National Museum of Nuclear Science & History". nuclearmuseum.pastperfectonline.com. Diakses tanggal 9 April 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  61. ↑ Campbell 2005, hlm. 18, 186–189.
  62. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 130–135.
  63. ↑ Delgado 1991, hlm. 26.
  64. ↑ New York Times, 1 Juli 1946, hlm. 1.
  65. ↑ New York Times, 2 Juli 1946, hlm. 3.
  66. ↑ Delgado 1991, hlm. 86.
  67. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 114.
  68. ↑ Weisgall 1994, hlm. 201–202.
  69. ↑ Weisgall 1994, hlm. 188.
  70. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 134–135.
  71. ↑ Data dalam tabel dan peta berasal dari Delgado 1991. Peta Able terdapat pada hlm. 16, peta Baker pada hlm. 17, dan data kerusakan serta jarak kapal pada hlm. 86–87. Teks lengkap sumber ini tersedia di internet (lihat pranala dalam bagian Referensi di bawah).
  72. ↑ Weisgall 1994, hlm. 189.
  73. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 165.
  74. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 165, 166, 168.
  75. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 197.
  76. ↑ Weisgall 1994, hlm. 190.
  77. ↑ Hansen 1995, hlm. 154, Vol 8, Table A-1. and Glasstone & Dolan 1977, hlm. 409, 622.
  78. 1 2 Fletcher 1977.
  79. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 143.
  80. ↑ Weisgall 1994, hlm. 193.
  81. ↑ Bradley 1948, hlm. 70.
  82. ↑ Weisgall 1994, hlm. 218–221.
  83. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 108.
  84. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 140.
  85. ↑ "Animals as Cold Warriors". Online Exhibit at the National Library of Medicine. Diakses tanggal 4 Mei 2013.
  86. ↑ "Myth of Pig 311 Finally Cleared", Lewiston Daily Sun, 22 Juli 1946.
  87. ↑ Life Editors 1947, hlm. 77. Kedua kambing pada foto ini, yang berada di kapal angkut serbu Niagara, mungkin berada cukup jauh untuk selamat. Delgado 1991, hlm. 22.
  88. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 140–144.
  89. ↑ Life Editors 1947, hlm. 76.
  90. ↑ Glasstone & Dolan 1977, hlm. 580.
  91. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 164–166.
  92. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 275.
  93. ↑ Terangkatnya kapal dalam posisi tegak dilaporkan oleh peserta Operasi Crossroads dan digambarkan dalam dua gambar sezaman (lihat Battleship Arkansas Being Tossed in Giant Pillar). Namun, dua penulis mengemukakan bahwa bentuk yang menyerupai siluet lambung kapal tempur tegak itu sebenarnya adalah celah pada kolom air, semacam bayangan hujan terbalik, yang terbentuk ketika lambung Arkansas yang tidak terlihat dan masih mendatar menghalangi naiknya air dalam kolom. Penjelasan ini dikemukakan sebagai kemungkinan dalam Shurcliff 1947, hlm. 155, 156. Delgado menyatakannya sebagai kepastian dalam Delgado 1991, hlm. 55, 88, dan kembali dalam Delgado 1996, hlm. 75.
  94. ↑ Nasib 13 kapal pendarat kecil tidak diketahui; kapal-kapal itu mungkin dijual sebagai besi tua, bukan ditenggelamkan. Delgado 1991, hlm. 33.
  95. ↑ Shurcliff, William A. (18 November 1946). "Technical Report of Operation Crossroads" (PDF). Defense Technical Information Center. Joint Task Force One. hlm. 280–281. Diakses tanggal 25 Juli 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  96. ↑ Delgado 1991, hlm. 60–64. Pada 1978, baling-baling kirinya diangkat dan kini disimpan di Tugu Angkatan Laut Jerman di Laboe.
  97. ↑ Delgado 1996, hlm. 83.
  98. ↑ "USS Skipjack (SS-184)". United States Navy. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Juni 2013. Diakses tanggal 14 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  99. ↑ Delgado 1996, hlm. 87.
  100. 1 2 Weisgall 1994, hlm. 229.
  101. ↑ "Dentuda (SS-335)". Naval History and Heritage Command. 21 April 2016. Diakses tanggal 23 Juli 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  102. ↑ Gaasterland, C.L. (1947). "OPERATION CROSSROADS. U.S.S. DENTUDA (SS335). TEST BAKER" (PDF). JOINT TASK FORCE ONE WASHINGTON DC. hlm. 10. Diakses tanggal 23 Juli 2024.
  103. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 151.
  104. ↑ Glasstone & Dolan 1977, hlm. 244.
  105. ↑ Glasstone & Dolan 1977, hlm. 48.
  106. ↑ Glasstone & Dolan 1977, hlm. 49.
  107. ↑ Glasstone & Dolan 1977, hlm. 251.
  108. ↑ Glasstone & Dolan 1977, hlm. 49, 50.
  109. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 156.
  110. ↑ Glasstone & Dolan 1977, hlm. 50.
  111. 1 2 Shurcliff 1947, hlm. 150–156.
  112. 1 2 Weisgall 1994, hlm. 225.
  113. ↑ Dua bingkai video diambil dari film dokumenter Robert Stone tahun 1988, Radio Bikini, pada penanda waktu 42:44 dan 42:45. Kesaksian saksi mata terdapat dalam Weisgall 1994, hlm. 162–163. Pada 2 Agustus 1946, pernyataan pendahuluan Dewan Evaluasi Kepala Staf Gabungan menyebutkan, "Dari beberapa foto, tampaknya kolom ini mengangkat kapal tempur Arkansas berbobot 26.000 ton untuk sesaat sebelum kapal itu jatuh ke dasar laguna. Konfirmasi mengenai hal ini harus menunggu analisis foto berkecepatan tinggi yang belum tersedia." Shurcliff 1947, hlm. 196. Bingkai-bingkai video yang ditampilkan di sini pertama kali dipublikasikan pada 1988 ketika Robert Stone memperoleh izin menggunakannya dalam film dokumenternya. Rekaman itu dapat dilihat di internet melalui sonicbomb.com pada detik ke-39 video, "Baker". Diakses tanggal 3 November 2008.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)[pranala nonaktif permanen]
  114. 1 2 "National Park Service: The Archeology of the Atomic Bomb (Chapter 4)". www.nps.gov. Diakses tanggal 26 September 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  115. 1 2 Glasstone & Dolan 1977, hlm. 52.
  116. ↑ Shurcliff 1947, plate 29.
  117. ↑ Brown, Peter J. (1986). "Blue-out and Nuclear Sea States". Proceedings. 112 (1). Institut Angkatan Laut Amerika Serikat: 104&105.
  118. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 151.
  119. ↑ Delgado 1996, hlm. 119, 120.
  120. ↑ Delgado 1991, hlm. 95.
  121. ↑ Delgado 1996, hlm. 117.
  122. ↑ Delgado 1991, hlm. 101.
  123. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 213.
  124. ↑ Davis 1994.
  125. ↑ Shurcliff 1946, hlm. 154–157.
  126. ↑ Weisgall 1994, hlm. 261.
  127. ↑ "USS Independence (CVL-22)". United States Navy. Diarsipkan dari asli tanggal 25 September 2000. Diakses tanggal 14 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  128. ↑ Memo Kolonel A. W. Betts, USACOE, kepada Brigadir Jenderal K. D. Nichols, MED, USACOE, 10 Agustus 1946, dikutip dalam Delgado 1996, hlm. 87.
  129. ↑ Perbandingan konversi massa yang mengalami fisi menjadi energi ialah satu pon (0,45 kg) per delapan kiloton energi. Daya ledak perangkat Baker sebesar 23 kiloton menunjukkan bahwa sedikit kurang dari tiga pon (1,4 kg) plutonium-239 berubah menjadi produk fisi. Glasstone 1967, hlm. 481.
  130. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 167, 168, & plate 28.
  131. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 159.
  132. ↑ Glasstone & Dolan 1977, hlm. 53–55.
  133. ↑ Delgado 1996, hlm. 85.
  134. ↑ Delgado 1991, hlm. 28.
  135. 1 2 Delgado 1991, hlm. 29.
  136. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 168.
  137. ↑ Delgado 1996, hlm. 175.
  138. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 166–167.
  139. ↑ Shurcliff 1947, hlm. 167.
  140. ↑ Glasstone 1967, hlm. 486.
  141. 1 2 3 4 Delgado 1996, hlm. 86.
  142. ↑ Jumlah total plutonium dalam inti, yang kemudian disebut pit, ialah 136 pon (62 kg), dan 3 pon (1,4 kg) di antaranya mengalami fisi. Coster-Mullen 2003, hlm. 45.
  143. ↑ "Plutonium". Asosiasi Nuklir Dunia. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Maret 2010. Diakses tanggal 4 Mei 2013.
  144. ↑ Pada 17 Desember 1945, dalam memo kepada direktur Los Alamos Norris Bradbury, Henry Newson memperkirakan bahwa untuk Baker, "mungkin akan ada cukup banyak plutonium di dekat permukaan untuk meracuni gabungan seluruh angkatan bersenjata Amerika Serikat pada kekuatan tertingginya selama perang. Produk fisinya akan lebih buruk lagi." Weisgall 1994, hlm. 216.
  145. 1 2 Weisgall 1994, hlm. 241.
  146. 1 2 3 Weisgall 1994, hlm. 242.
  147. ↑ Weisgall 1994, hlm. 272.
  148. ↑ Weisgall 1994, hlm. 238.
  149. 1 2 3 4 Weisgall 1994, hlm. 236.
  150. ↑ Compton 1956, hlm. 179.
  151. ↑ Groves 1962, hlm. 298.
  152. ↑ Weisgall 1994, hlm. 209–210.
  153. ↑ Weisgall 1994, hlm. 211–213.
  154. ↑ "Operation Crossroads: Fact Sheet". U.S. Defense Nuclear Agency, Defense Nuclear Agency. 1984. Diakses tanggal 4 Mei 2015.
  155. ↑ Menurut laporan Angkatan Laut, awan semburan dasar menyebarkan kontaminasi sejauh tujuh mil (11 km) searah angin dan mengontaminasi berat seluruh kapal sasaran kecuali sembilan dari sembilan puluh lima kapal. Weisgall 1994, hlm. 223, 224.
  156. ↑ Weisgall 1994, hlm. 230.
  157. ↑ Weisgall 1994, hlm. 231.
  158. 1 2 Weisgall 1994, hlm. 239.
  159. ↑ Weisgall 1994, hlm. 238–242.
  160. 1 2 Weisgall 1994, hlm. 232.
  161. ↑ Weisgall 1994, hlm. 213.
  162. ↑ Weisgall 1994, hlm. 237.
  163. ↑ Weisgall 1994, hlm. 235–236.
  164. ↑ Weisgall 1994, hlm. 240.
  165. ↑ Life Editors 1947, hlm. 88.
  166. ↑ Weisgall 1994, hlm. 259–261.
  167. ↑ "Operation Wigwam" (PDF). Defense Threat Reduction Agency. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 Februari 2013. Diakses tanggal 14 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  168. ↑ Oertling 1996, hlm. xv.
  169. ↑ Delgado 1991, hlm. 31.
  170. ↑ Delgado 1991, hlm. 32, 33.
  171. 1 2 Historical Radiological Assessment, Volume II, Use of General Radioactive Materials, 1939–2003, Hunters Point Shipyard (PDF) (Laporan). United States Department of the Navy. 2004. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 Oktober 2021. Diakses tanggal 2 Januari 2018.
  172. ↑ Delgado 1991, hlm. 33.
  173. ↑ Direktur Materiel Kapal, JTF-1, "Technical Inspection Report, Radiological Inspection of Target and Non-Target Vessels", Armed Forces Special Weapons Project, 1947, National Archives, dikutip dalam Delgado 1996, hlm. 86.
  174. ↑ Warren 1947, hlm. 86–88.
  175. ↑ Life Editors 1947, hlm. 75.
  176. ↑ Delgado 1996, hlm. 173.
  177. ↑ Bradley 1948, hlm. xii.
  178. ↑ Fox, Margalit (30 Januari 2009). "David Bradley, 92, Author, Antinuclear Advocate, Champion Skier and State Legislator, Is Dead". The New York Times.
  179. ↑ Wawancara dengan Laksamana Muda Robert Conard, MC, USNR (purnawirawan), di Setauket, New York, 9 November 1993, oleh Jan K. Herman, sejarawan Bureau of Medicine and Surgery. "Interview". Department of the Navy – Naval Historical Center. 11 Agustus 2002. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Juni 2009. Diakses tanggal 27 September 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  180. 1 2 3 Institute of Medicine 1996
  181. ↑ Penelitian tersebut tidak menerbitkan angka lama hidup. Namun, tabel aktuaria memperkirakan sekitar 800 kematian per tahun untuk kelompok sebesar itu ketika mendekati usia 70 tahun. Tambahan 200 kematian akan menempatkan veteran Operasi Crossroads sekitar tiga bulan lebih awal daripada kelompok sebayanya pada kurva mortalitas. Social Security Online, Actuarial Publications, Period Life Table. "Table". www.socialsecurity.gov. 22 April 2009. Diakses tanggal 10 November 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  182. ↑ Weisgall 1994, hlm. 278.
  183. ↑ Hansen 1995, hlm. 154, Vol VII, Table A-1.
  184. ↑ Delgado 1996, hlm. 176.
  185. ↑ "Bikini Atoll Dive Tourism Information". Kili/Bikini/Ejit Local Government Council. Diakses tanggal 14 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  186. ↑ "United States Navy CMWDS". Diarsipkan dari asli tanggal 12 Januari 2015. Diakses tanggal 4 Mei 2013.
  187. 1 2 Rosebush, Judson. "1945–1950: The Very First Bikini". Bikini Science. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Juni 2012. Diakses tanggal 25 November 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  188. ↑ Eveleth, Rose (5 Juli 2013). "The Bikini's Inventor Guessed How Much It Would Horrify the Public". Smithsonian.com. Diakses tanggal 22 Januari 2017.
  189. ↑ The Creepy World of Bruce Conner, New York Review of Books, 15 Juli 2016. Memuat pranala ke video.
  190. ↑ Peacock, Timothy Noël (22 Juli 2021). "From Crossroads to Godzilla: the cinematic legacies of the first postwar nuclear tests". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 3 Februari 2024.
  191. ↑ "We'll Meet Again: The story of Dame Vera Lynn's wartime classic" (dalam bahasa Inggris (Britania)). 18 Juni 2020. Diakses tanggal 3 Februari 2024.

Referensi

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Operasi Crossroads.
Tempat
The rising mushroom cloud from the Nagasaki "Fat Man" bomb, August 9, 1945
Pengurus
Ilmuwan
Operasi
Senjata
Topik terkait
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan