Rabu, 23 September 2026
05:51 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Kulup

Kulup

Artikel ini berisi tentang kulup manusia. Untuk kulup pada mamalia lain, lihat Penutup penis.
Kulup
250px-Foreskin2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kulup manusia yang sepenuhnya menutupi glans penis
Rincian
PendahuluTuberkel genital, Lipatan urogenital
SistemSistem reproduksi pria
ArteriArteri dorsalis penis
VenaVena dorsalis penis
SarafSaraf dorsalis penis
Pengidentifikasi
Bahasa Latinpraeputium, preputium penis[1]
MeSHD052816
TA98A09.4.01.011
TA23675
FMA19639
Daftar istilah anatomi

Dalam anatomi manusia laki-laki, kulup, yang juga dikenal sebagai preputium, adalah lipatan berlapis ganda yang terdiri atas kulit, jaringan mukosa, dan otot pada ujung distal penis manusia yang menutupi glans serta meatus urinarius.[2] Kulup melekat pada glans melalui pita jaringan elastis yang dikenal sebagai frenulum.[3] Lapisan kulit luar kulup bertemu dengan mukosa preputium bagian dalam pada daerah persambungan mukokutaneus.[4] Kulup bersifat mudah digerakkan, cukup elastis, serta mempertahankan glans dalam lingkungan yang lembap.[5] Struktur serupa yang dikenal sebagai Selubung penis terdapat pada organ alat kelamin jantan semua primata dan sebagian besar mamalia.[6]

250px-Human_Male_Penis_Foreskin_Retraction_Series_03.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seri Retraksi Kulup

Pada manusia, panjang kulup sangat bervariasi, demikian pula tingkat penutupan glans baik saat penis dalam keadaan lemas maupun ereksi.[7] Saat lahir, kulup menyatu dengan glans dan umumnya belum dapat ditarik ke belakang pada masa bayi maupun awal masa kanak-kanak.[8] Ketidakmampuan menarik kembali kulup pada masa kanak-kanak tidak boleh dianggap sebagai suatu masalah kecuali jika disertai gejala lain.[9] Penarikan kembali kulup tidak dianjurkan hingga kulup terlepas secara alami dari glans sebelum atau selama masa pubertas.[9] Pada orang dewasa, kulup umumnya dapat ditarik melewati glans apabila perkembangan berlangsung normal.[9] Secara anatomi, preputium pada laki-laki bersifat homolog dengan tudung klitoris pada perempuan.[10][11] Dalam beberapa keadaan, kulup dapat mengalami kondisi patologis tertentu.[a][12]

Struktur

Bagian luar

250px-Frenulum_of_human_penis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto penis yang sedang ereksi, dimanipulasi untuk memperlihatkan frenulum

Permukaan luar kulup merupakan kelanjutan dari kulit batang penis dan dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis berkeratin. Kulup bagian dalam merupakan kelanjutan dari epitel yang melapisi glans dan tersusun atas membran mukosa tanpa rambut berlapis skuamosa, serupa dengan bagian dalam kelopak mata maupun rongga mulut.[13] Permukaan mukosa preputium memiliki kemampuan yang sangat baik untuk memperbaiki diri.[14] Luas permukaan kulup bagian luar berkisar antara 7–100 cm2,[15] sedangkan luas permukaan kulup bagian dalam berkisar antara 18–68 cm2.[7] Zona mukokutaneus merupakan daerah pertemuan antara kulup bagian luar dan bagian dalam. Kulup dapat bergerak bebas setelah terlepas dari glans, yang umumnya terjadi sebelum atau selama pubertas. Kulup bagian dalam melekat pada glans melalui frenulum, yaitu jaringan penis yang kaya akan pembuluh darah.[16] Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, "frenulum membentuk perbatasan antara lapisan kulup luar dan dalam, dan ketika penis tidak sedang ereksi, frenulum menegang sehingga mempersempit bukaan kulup".[16]

Jaringan subkutan

Kulup manusia merupakan struktur berlapis yang tersusun atas kulit luar, epitel mukosa, lamina propria, Fasia dartos, dan dermis.[14][17] Fasia dartos superfisial, yang dahulu disebut otot peripenil, merupakan salah satu dari dua selubung jaringan otot polos yang terletak di bawah kulit penis, bersama Fasia Buck atau fasia dalam penis yang berada lebih dalam.[18] Fasia dartos memanjang hingga ke dalam kulit preputium dan mengandung banyak serat elastis.[19] Serat-serat ini membentuk suatu pusaran pada ujung kulup yang dikenal sebagai orifisium preputium, yang berukuran sempit selama masa bayi dan kanak-kanak.[20][17] Fasia dartos peka terhadap suhu dan bereaksi terhadap perubahan suhu dengan mengembang maupun berkontraksi.[21] Fasia ini hanya terhubung secara longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga memungkinkan kulit penis bergerak dengan leluasa dan tetap elastis.[19] Sel Langerhans merupakan sel dendritik imatur yang ditemukan pada seluruh bagian epitel penis, tetapi paling banyak terdapat di lapisan superfisial permukaan dalam kulup.[22]

Sebagai kelanjutan dari kulit batang penis, preputium menerima persarafan somatosensorik dari kedua Saraf dorsalis penis beserta cabang-cabang Saraf perineum, serta persarafan otonom dari pleksus pelvis.[23][24] Reseptor somatosensorik yang terdapat pada preputium terdiri atas nosiseptor dan mekanoreseptor, dengan dominasi korpuskel Meissner.[23][25] Suplai darah ke preputium berasal dari arteri preputium, yang merupakan cabang dari arteri aksial dan Arteri dorsalis penis.[18] Arteri aksial dan arteri dorsalis yang berjalan di dalam kulit penis saling beranastomosis melalui cabang-cabang perforan dan membentuk arteri preputium sebelum mencapai korona glans.[26][27] Vena preputium, yang merupakan perpanjangan dari vena dorsalis superfisial, menerima aliran darah dari preputium dan bermuara ke Vena dorsalis penis yang lebih besar, yang mengalirkan darah dari bagian batang penis lainnya.[28][29]

Perkembangan

Masa gestasi

Penis berkembang dari suatu struktur falik primordial yang terbentuk pada embrio selama minggu-minggu awal kehamilan, yang dikenal sebagai tuberkel genital.[30] Pada awalnya tuberkel ini belum terdiferensiasi, kemudian berkembang menjadi penis bergantung pada paparan hormon pria yang disekresikan oleh testis.[31] Diferensiasi organ kelamin luar mulai tampak jelas antara minggu ke-12 hingga ke-16 usia kehamilan.[32][33] Perkembangan preputium dimulai sekitar minggu ke-11 atau lebih awal dan berlanjut hingga minggu ke-18.[34][35][36]

Secara historis, teori mengenai tahapan perkembangan preputium selama masa gestasi terbagi ke dalam dua gagasan utama.[37] Laporan paling awal oleh Schweigger-Seidel (1866)[38] dan kemudian Hunter (1935)[39] mengemukakan bahwa preputium terbentuk dari kulit dorsal yang memanjang secara bertahap ke arah distal hingga akhirnya menutupi seluruh glans dan kemudian menyatu dengan epitel glans.[37] Glenister (1956)[40] mengembangkan teori tersebut dengan mengemukakan bahwa lipatan preputium terbentuk sebagai invaginasi lamina seluler, yang kemudian membentang keluar menutupi glans, sementara lamina preputium yang terbentuk juga berkembang ke arah belakang sehingga membentuk lipatan yang tumbuh ke dalam pada sulkus koronal.[37]

Pada usia kehamilan sebelas hingga dua belas minggu, proses pembentukan preputium mulai tampak sebagai penebalan epidermis yang terpisah dari penis dan membentuk lipatan yang menonjol, yang disebut lipatan preputium.[41] Pada bagian bawah struktur ini terbentuk lamina preputium yang meluas ke arah dorsolateral di atas dasar glans yang sedang berkembang.[42][43] Pada minggu ke-13, preputium belum mencapai ujung distal glans dan hanya menutupi sebagian permukaannya.[44] Pada minggu ke-16, lipatan preputium bilateral telah menutupi sebagian besar glans dan sisi ventral preputium menyatu pada garis tengah.[45] Rafe penis, yang merupakan kelanjutan dari Rafe perineum pada laki-laki, terbentuk pada sisi ventral penis sebagai hasil penyatuan lipatan uretra dan lipatan preputium.[46] Saraf dorsalis penis, yang telah muncul sejak usia kehamilan sembilan minggu, berkembang sepenuhnya melalui cabang-cabangnya hingga mencapai ujung distal glans dan preputium pada minggu ke-16.[47] Pada minggu ke-19, perkembangan kulup telah selesai.[35] Menjelang akhir trimester kedua,[48] glans dan preputium telah menyatu sepenuhnya melalui lamina preputium, yang kadang-kadang juga disebut lamina balanopreputium.[49] Pada saat lahir, membran bersama ini secara fisiologis masih melekat pada glans sehingga mencegah kulup ditarik kembali selama masa bayi dan awal masa kanak-kanak.[50][51] Fenomena kulup yang belum dapat ditarik kembali pada anak secara alami mulai menghilang pada usia yang bervariasi, baik pada masa kanak-kanak, praremaja, maupun pubertas.[52]

Variabilitas

Pada anak-anak, kulup umumnya menutupi glans sepenuhnya, tetapi pada orang dewasa belum tentu demikian. Selama ereksi, tingkat retraksi otomatis kulup sangat bervariasi; pada sebagian pria dewasa, ketika kulup lebih panjang daripada penis yang ereksi, kulup tidak akan tertarik ke belakang secara spontan saat ereksi. Dalam keadaan demikian, kulup tetap menutupi seluruh atau sebagian glans hingga ditarik ke belakang secara manual atau oleh aktivitas seksual. Kulup dapat diklasifikasikan sebagai panjang apabila muara preputium melampaui glans, sedang apabila muara preputium berada di sekitar meatus, dan pendek apabila sebagian besar glans telah terekspos.[53] Variasi kulup yang panjang disebut oleh Chengzu (2011) sebagai prepuce redundant (kulup berlebih). Penarikan kulup secara teratur dan pembersihan bagian bawahnya dianjurkan bagi semua pria dewasa, terutama mereka yang memiliki kulup panjang atau "berlebih".[54] Menurut Xianze (2012), sebagian laki-laki mungkin enggan membiarkan glans mereka terekspos karena rasa tidak nyaman ketika bergesekan dengan pakaian, meskipun dilaporkan bahwa ketidaknyamanan tersebut biasanya berkurang dalam waktu sekitar satu minggu setelah glans terus-menerus terekspos.[55] Guochang (2010) menyatakan bahwa pada individu yang kulupnya terlalu sempit untuk ditarik ke belakang atau masih memiliki perlengketan, retraksi paksa harus dihindari karena dapat menyebabkan cedera.[56]

250px-Acroposthion_of_the_foreskin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kulup yang secara alami panjang

Evolusi dan fungsi

250px-HQ_SAM_SASu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kulup biasanya menutupi glans ketika penis tidak ereksi (gambar atas), tetapi umumnya tertarik ke belakang saat ereksi (gambar bawah). Tingkat penutupan glans pada keadaan lemas maupun ereksi bervariasi bergantung pada panjang kulup.

Kulup merupakan bagian dari warisan filogenetika manusia dan terdapat pada sebagian besar mamalia. Primata nonmanusia, seperti simpanse, memiliki preputium yang menutupi sebagian atau seluruh glans penis.[16] Pada primata, kulup terdapat pada alat kelamin kedua jenis kelamin dan kemungkinan telah ada selama jutaan tahun evolusi.[57]

Pada tahun 2007, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa masih terdapat "perdebatan mengenai peran kulup", dengan kemungkinan fungsinya meliputi menjaga kelembapan glans, melindungi penis yang sedang berkembang di dalam rahim, atau meningkatkan kenikmatan seksual karena adanya reseptor saraf.[16] Pada tahun 2009, Organisasi Kesehatan Dunia menyebut anggapan bahwa sirkumsisi memengaruhi kenikmatan seksual sebagai sebuah "mitos". Pandangan tersebut juga didukung oleh sejumlah organisasi medis utama.[58] Kulup mengandung korpuskel Meissner, yang merupakan salah satu kelompok ujung saraf yang berperan dalam sensitivitas sentuhan halus. Dibandingkan dengan bagian kulit tidak berambut lainnya pada tubuh, indeks Meissner tertinggi ditemukan pada ujung jari (0,96) dan terendah pada kulup (0,28), yang menunjukkan bahwa kulup memiliki jaringan kulit tidak berambut dengan sensitivitas sentuhan paling rendah di tubuh.[59] Kulup membantu menyediakan kulit yang cukup ketika terjadi ereksi.[60] Pada bayi, kulup melindungi glans dari amonia dan feses di dalam popok sehingga mengurangi kejadian stenosis meatus. Selain itu, kulup membantu mencegah glans mengalami lecet dan trauma sepanjang hidup.[60]

Pada masa kini, masih terdapat kontroversi mengenai apakah kulup merupakan struktur yang penting atau vestigial.[61] Pada tahun 1949, dokter Britania Douglas Gairdner menyatakan bahwa kulup memiliki peran pelindung yang penting pada bayi baru lahir. Ia menulis, "Sering dikatakan bahwa preputium adalah struktur vestigial yang tidak memiliki fungsi... Namun, tampaknya bukan suatu kebetulan bahwa selama masa anak belum mampu mengendalikan berkemih, glans sepenuhnya diselubungi oleh preputium, karena tanpa perlindungan ini glans menjadi rentan terhadap cedera akibat kontak dengan pakaian atau popok yang basah."[61] Selama hubungan seksual, kulup mengurangi gesekan sehingga dapat mengurangi kebutuhan akan pelumas tambahan.[61] College of Physicians and Surgeons of British Columbia menyatakan bahwa kulup "tersusun atas kulit luar dan mukosa dalam yang kaya akan ujung saraf sensorik khusus dan jaringan erotogenik".[62] Dalam terbitan Maret 2017 jurnal Global Health: Science and Practice, Morris dan Krieger menulis bahwa "variasi ukuran kulup sejalan dengan anggapan bahwa kulup merupakan struktur vestigial".[63]

Signifikansi klinis

Kulup dapat terlibat dalam terjadinya balanitis, fimosis, infeksi menular seksual, dan kanker penis.[64] Laporan teknis tahun 2012 mengenai sirkumsisi dari American Academy of Pediatrics, yang kini telah kedaluwarsa, menyimpulkan bahwa kulup dapat menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme yang dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih pada sebagian bayi serta berkontribusi terhadap penularan beberapa infeksi menular seksual pada orang dewasa.[65] Pada beberapa kasus penyakit yang berulang, penggunaan sabun secara berlebihan dapat mengiritasi mukosa; oleh karena itu, area tersebut sebaiknya dibersihkan dengan lembut.[66]

Frenulum breve adalah frenulum yang terlalu pendek sehingga tidak memungkinkan kulup ditarik sepenuhnya ke belakang, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan saat berhubungan seksual.[diperlukan kutipan medis.]

Fimosis adalah keadaan ketika kulup pada orang dewasa tidak dapat ditarik ke belakang dengan baik. Fimosis dapat diobati dengan salep steroid topikal serta penggunaan pelumas selama berhubungan seksual; pada kasus yang berat, sirkumsisi mungkin diperlukan.[67] Postitis adalah peradangan pada kulup.

Suatu kondisi yang disebut parafimosis dapat terjadi apabila kulup yang sempit terjebak di belakang glans dan membengkak membentuk cincin yang menjerat. Kondisi ini dapat menghambat aliran darah sehingga mengakibatkan iskemia pada glans penis.[67]

Liken sklerosus adalah penyakit kulit kronis yang bersifat inflamasi dan paling sering terjadi pada perempuan dewasa, meskipun juga dapat dijumpai pada laki-laki dan anak-anak. Klobetasol propionat topikal dan mometason furoat terbukti efektif dalam pengobatan liken sklerosus genital.[68]

Beberapa cacat bawaan pada kulup dapat terjadi, meskipun semuanya tergolong langka. Pada apostia, kulup tidak ada sejak lahir,[69]:37–39 pada mikropostia kulup tidak menutupi glans,[69]:41–45 sedangkan pada makropostia, yang juga dikenal sebagai megapreputium kongenital, kulup memanjang jauh melampaui ujung glans.[69]:47–50

Ditemukan bahwa kulup yang lebih besar meningkatkan risiko infeksi HIV pada laki-laki yang tidak disirkumsisi,[70] kemungkinan besar karena luas permukaan kulup bagian dalam yang lebih besar serta tingginya konsentrasi sel Langerhans.[71]

Masyarakat dan budaya

Modifikasi

Lihat pula: Sirkumsisi dan Restorasi kulup
250px-Preputioplasty.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Preputioplasti:
Gbr. 1. Penis dengan cincin fimosis yang ketat sehingga kulup sulit ditarik ke belakang.
Gbr. 2. Kulup ditarik ke belakang di bawah anestesi dengan cincin fimosis atau stenosis yang menyempitkan batang penis dan membentuk "pinggang".
Gbr. 3. Sayatan ditutup secara lateral.
Gbr. 4. Penis dengan kulup yang telah dilonggarkan dikembalikan menutupi glans.

Sirkumsisi adalah tindakan pengangkatan kulup, baik sebagian maupun seluruhnya. Tindakan ini paling sering dilakukan sebagai prosedur elektif untuk alasan preventif, budaya, atau keagamaan.[72][73]:257 Sirkumsisi juga dapat dilakukan pada anak-anak maupun orang dewasa untuk menangani fimosis, balanitis, dan berbagai kelainan lainnya.[74] Etika sirkumsisi pada anak merupakan salah satu sumber kontroversi.[75][76] Sebagian pria menggunakan pemberat atau alat lainnya untuk meregangkan kulit penis guna menumbuhkan kembali kulup; jaringan yang dihasilkan memang dapat menutupi glans, tetapi tidak sepenuhnya mereplikasi karakteristik kulup alami.[77] Praktik budaya maupun estetika lainnya meliputi tindik genital yang melibatkan kulup serta penyayatan kulup.[78] Preputioplasti merupakan teknik rekonstruksi kulup yang paling umum, biasanya dilakukan ketika seorang anak laki-laki lahir dengan kulup yang terlalu kecil;[79]:177 prosedur serupa juga dilakukan untuk mengatasi kulup yang terlalu ketat tanpa harus menjalani sirkumsisi.[79]:181

Produk berbahan dasar kulup

250px-Neonatal_Human_Dermal_Fibroblasts.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Fibroblas dermal manusia neonatal yang diisolasi dari kulup dan diwarnai dengan kalsein-AM. Sel-sel semacam ini umum digunakan dalam aplikasi bioreaktor dan rekayasa jaringan.

Kulup yang diperoleh dari prosedur sirkumsisi sering dimanfaatkan oleh peneliti biokimia dan mikroanatomi untuk mempelajari struktur dan protein kulit manusia. Secara khusus, kulup yang diperoleh dari bayi baru lahir diketahui bermanfaat dalam pembuatan lebih banyak jaringan kulit manusia.[80]

Kulup bayi juga digunakan sebagai jaringan untuk cangkok kulit,[81][82][83] serta dalam produksi obat berbasis β-interferon.[84]

Fibroblas yang berasal dari kulup telah dimanfaatkan dalam penelitian biomedis,[85] maupun aplikasi kosmetik.[86]

Sejarah

Kulup dipandang sebagai lambang keindahan, keberadaban, dan maskulinitas di seluruh dunia Yunani-Romawi. Sebagian orang Yahudi di dunia Yunani-Romawi menjalani epispasme untuk memulihkan kulup mereka setelah disunat demi menghindari pengucilan sosial, karena memperlihatkan glans dianggap tidak sopan dalam budaya tersebut.[87] Di Yunani Kuno, kulup dihargai, terutama jika ukurannya lebih panjang.[88] Penggambaran ilustratif kulup paling awal yang diketahui berasal dari kerajaan-kerajaan Mesir Kuno.[89]

Kulup juga telah digambarkan dalam karya seni dari berbagai periode sejarah:

Notes

  1. Seperti Fimosis, Balanitis, dan Postitis.

References

  1. Paulsen, Friedrich; Waschke, Jens (2023). Sobotta Atlas of Anatomy, Vol. 2, 17th Ed., English/Latin: Internal Organs. Elsevier Health Sciences. hlm. 2971. ISBN 978-0-70206-770-9. Diakses tanggal Oktober 11, 2023.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. Kirby R, Carson C, Kirby M (2009). Men's Health (Edisi 3rd). New York: Informa Healthcare. hlm. 283. ISBN 978-1-4398-0807-8. OCLC 314774041.
  3. Helen Weiss; World Health Organization; Joint United Nations Programme on HIV/AIDS; London School of Hygiene and Tropical Medicine (2008). Male circumcision: global trends and determinants of prevalence, safety, and acceptability. Geneva: World Health Organization. ISBN 978-92-4-159616-9. OCLC 425961131. The foreskin is attached to the glans by the frenulum
  4. Raynor, Stephen C. (2010-01-01), "chapter 61 - CIRCUMCISION", dalam Holcomb, George Whitfield; Murphy, J. Patrick; Ostlie, Daniel J. (ed.), Ashcraft's Pediatric Surgery (Fifth Edition) (dalam bahasa Inggris), Philadelphia: W.B. Saunders, hlm. 791–795, ISBN 978-1-4160-6127-4, diakses tanggal 2022-10-24, The prepuce is a specialized junctional mucocutaneous tissue that provides adequate skin and mucosa
  5. Collier, Roger (2011-11-22). "Vital or vestigial? The foreskin has its fans and foes". Canadian Medical Association Journal. 183 (17): 1963–1964. doi:10.1503/cmaj.109-4014. ISSN 0820-3946. PMC 3225416. PMID 22025652. It is also a warm, moist environment that may allow viral particles to linger longer on the penis
  6. Fahmy, Mohamed A. Baky (2015), "Prepuce", dalam Fahmy, Mohamed A. Baky (ed.), Rare Congenital Genitourinary Anomalies: An Illustrated Reference Guide (dalam bahasa Inggris), Berlin, Heidelberg: Springer, hlm. 33–41, doi:10.1007/978-3-662-43680-6_3, ISBN 978-3-662-43680-6
  7. 1 2 Werker PM, Terng AS, Kon M (September 1998). "The prepuce free flap: dissection feasibility study and clinical application of a super-thin new flap". Plastic and Reconstructive Surgery. 102 (4): 1075–1082. doi:10.1097/00006534-199809040-00024. PMID 9734426. S2CID 37976399.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. Dave, Sumit; Afshar, Kourosh; Braga, Luis H.; Anderson, Peter (2018). "CUA guideline on the care of the normal foreskin and neonatal circumcision in Canadian infants". Canadian Urological Association Journal (dalam bahasa Inggris). 12 (2): E76–E99. doi:10.5489/cuaj.5033. ISSN 1920-1214. PMC 5937400. PMID 29381458. At birth, the inner foreskin is usually fused to the glans penis and should not be forcibly retracted
  9. 1 2 3 Potts, Jeannette (2004). "Penis Problems". Essential Urology: A Guide to Clinical Practice. Humana Press. hlm. 29. ISBN 978-1-59259-737-6. Virtually all foreskins become retractable in puberty. Thus, phimosis is not a pathological condition in young children unless it is associated with balanitis, or, rarely, urinary retention.
  10. Crooks, Robert L.; Baur, Karla (2010-01-01). Our Sexuality (dalam bahasa Inggris). Cengage Learning. ISBN 978-0-495-81294-4.
  11. Sloane, Ethel (2002). Biology of Women (dalam bahasa Inggris). Delmar Thomson Learning. ISBN 978-0-7668-1142-3.
  12. Shah M (Januari 2008). The Male Genitalia: A Clinician's Guide to Skin Problems and Sexually Transmitted Infections. Radcliffe Publishing. hlm. 37–. ISBN 978-1-84619-040-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-02-01. Diakses tanggal 2015-10-27.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. Cunha, Gerald R.; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Baskin, Laurence S. (2020). "Development of the human prepuce and its innervation". Differentiation; Research in Biological Diversity. 111: 22–40. doi:10.1016/j.diff.2019.10.002. ISSN 0301-4681. PMC 6936222. PMID 31654825. ts outer surface is continuous with skin of the penile shaft and is covered by a glabrous stratified squamous keratinized epithelium. Its inner mucosal surface is lined by variably-keratinized squamous epithelium
  14. 1 2 Fahmy, Mohamed A. Baky (2020), "Histology of the Prepuce", dalam Fahmy, Mohamed A. Baky (ed.), Normal and Abnormal Prepuce (dalam bahasa Inggris), Cham: Springer International Publishing, hlm. 59–65, doi:10.1007/978-3-030-37621-5_6, ISBN 978-3-030-37621-5, S2CID 216401902
  15. Kigozi G, Wawer M, Ssettuba A, Kagaayi J, Nalugoda F, Watya S, et al. (Oktober 2009). "Foreskin surface area and HIV acquisition in Rakai, Uganda (size matters)". AIDS. 23 (16): 2209–2213. doi:10.1097/QAD.0b013e328330eda8. PMC 3125976. PMID 19770623.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. 1 2 3 4 "Male circumcision: Global trends and determinants of prevalence, safety and acceptability" (PDF). World Health Organization. 2007. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2015-07-15. Diakses tanggal 2009-06-12.
  17. 1 2 Cold, C.J.; Taylor, J.R. (2002-05-27). "The prepuce". BJU International. 83 (S1): 34–44. doi:10.1046/j.1464-410x.1999.0830s1034.x. ISSN 1464-4096. PMID 10349413. S2CID 30559310.
  18. 1 2 Hsieh, Cheng-Hsing; Hsu, Geng-Long; Chang, Shang-Jen; Yang, Stephen Shei-Dei; Liu, Shih-Ping; Hsieh, Ju-Ton (2020). "Surgical niche for the treatment of erectile dysfunction". International Journal of Urology (dalam bahasa Inggris). 27 (2): 117–133. doi:10.1111/iju.14157. ISSN 0919-8172. PMID 31812157. S2CID 208870116.
  19. 1 2 Hadidi, Ahmed (2022). Hypospadias Surgery: An Illustrated Textbook. Springer. hlm. 115, 624. ISBN 978-3-030-94248-9.
  20. McGregor, Thomas B.; Pike, John G.; Leonard, Michael P. (2007). "Pathologic and physiologic phimosis". Canadian Family Physician. 53 (3): 445–448. ISSN 0008-350X. PMC 1949079. PMID 17872680. physiologic phimosis consists of a pliant, unscarred preputial orifice
  21. Gibson, Alan; Akinrinsola, Adetokunbo; Patel, Tejesh; Ray, Arijit; Tucker, John; McFadzean, Ian (Agustus 2002). "Pharmacology and thermosensitivity of the dartos muscle isolated from rat scrotum". British Journal of Pharmacology. 136 (8): 1194–1200. doi:10.1038/sj.bjp.0704830. ISSN 0007-1188. PMC 1573456. PMID 12163353.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. McCoombe SG, Short RV (Juli 2006). "Potential HIV-1 target cells in the human penis". AIDS. 20 (11): 1491–1495. doi:10.1097/01.aids.0000237364.11123.98. PMID 16847403. S2CID 22839409.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. 1 2 Raynor, Stephen C. (2010-01-01), "chapter 61 - CIRCUMCISION", dalam Holcomb, George Whitfield; Murphy, J. Patrick; Ostlie, Daniel J. (ed.), Ashcraft's Pediatric Surgery (Fifth Edition) (dalam bahasa Inggris), Philadelphia: W.B. Saunders, hlm. 791–795, ISBN 978-1-4160-6127-4, diakses tanggal 2022-10-24
  24. Cunha, Gerald R.; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Baskin, Laurence S. (2020). "Development of the human prepuce and its innervation". Differentiation; Research in Biological Diversity. 111: 22–40. doi:10.1016/j.diff.2019.10.002. ISSN 0301-4681. PMC 6936222. PMID 31654825. branches of the dorsal nerve of the penis are already present within the preputial mesenchyme", "Parasympathetic and sympathetic input to the penis is via the pelvic plexus
  25. García-Mesa, Yolanda; García-Piqueras, Jorge; Cobo, Ramón; Martín-Cruces, José; Suazo, Iván; García-Suárez, Olivia; Feito, Jorge; Vega, José A. (2021). "Sensory innervation of the human male prepuce: Meissner's corpuscles predominate". Journal of Anatomy. 239 (4): 892–902. doi:10.1111/joa.13481. ISSN 0021-8782. PMC 8450466. PMID 34120333. Certain preputial sensory corpuscles, such as Meissner's corpuscles, Pacinian corpuscles, and Merkel cell‐neurite complexes, function as mechanoreceptors in human glabrous skin
  26. Quartey, J. K.M. (2006), "Anatomy and Blood Supply of the Urethra and Penis", dalam Schreiter, F.; Jordan, G.H. (ed.), Urethral Reconstructive Surgery (dalam bahasa Inggris), Berlin, Heidelberg: Springer, hlm. 13–14, doi:10.1007/3-540-29385-x_3, ISBN 978-3-540-29385-9, Behind the corona, the axial arteries send perforating branches through Buck's fascia to anastomose with the terminal branches of the dorsal arteries before they end in the glans. The attenuated continuation of the arteries pass into the prepuce.
  27. Jacob, S. (2008-01-01), "Chapter 4 - Abdomen", dalam Jacob, S. (ed.), Human Anatomy (dalam bahasa Inggris), Churchill Livingstone, hlm. 71–123, ISBN 978-0-443-10373-5, diakses tanggal 2022-11-09
  28. Hinman, F. (1991). "The blood supply to preputial island flaps". The Journal of Urology. 145 (6): 1232–1235. doi:10.1016/s0022-5347(17)38584-1. ISSN 0022-5347. PMID 2033699.
  29. Hsieh, Cheng-Hsing; Hsu, Geng-Long; Chang, Shang-Jen; Yang, Stephen Shei-Dei; Liu, Shih-Ping; Hsieh, Ju-Ton (2020). "Surgical niche for the treatment of erectile dysfunction". International Journal of Urology (dalam bahasa Inggris). 27 (2): 117–133. doi:10.1111/iju.14157. ISSN 0919-8172. PMID 31812157. S2CID 208870116. The superficial dorsal vein drains blood from the foreskin into saphenous and external pudendal veins
  30. George, Fredrick W.; Wilson, Jean D. (1984). "2 - Sexual Differentiation". Fetal Physiology and Medicine (Edisi Second, Revised). Butterworth-Heinemann. hlm. 57–79. doi:10.1016/B978-0-407-00366-8.50008-3. ISBN 978-0-407-00366-8.
  31. George, Fredrick W.; Wilson, Jean D. (1984-01-01), "2 - Sexual Differentiation", dalam Beard, RICHARD W.; Nathanielsz, PETER W. (ed.), Fetal Physiology and Medicine (Second Edition) (dalam bahasa Inggris), Butterworth-Heinemann, hlm. 57–79, ISBN 978-0-407-00366-8, diakses tanggal 2022-11-04
  32. Merz, Eberhard (2005). Ultrasound in obstetrics and gynecology. F. Bahlmann (Edisi 2nd ed., fully rev). Stuttgart: Thieme. ISBN 978-3-13-131882-4. OCLC 57251410.
  33. Schünke, Michael (2006). Thieme atlas of anatomy. General anatomy and musculoskeletal system. Erik Schulte, Udo Schumacher, Lawrence M. Ross, Edward D. Lamperti. Stuttgart: Thieme. ISBN 978-3-13-142081-7. OCLC 62906603.
  34. Liu, Xin; Liu, Ge; Shen, Joel; Yue, Aaron; Isaacson, Dylan; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Liaw, Aron; Cunha, Gerald R.; Baskin, Laurence (2018). "Human Glans and Preputial Development". Differentiation; Research in Biological Diversity. 103: 86–99. doi:10.1016/j.diff.2018.08.002. ISSN 0301-4681. PMC 6234068. PMID 30245194. Human preputial development begins at ~11 weeks of gestation [...] when the epithelium thickens on the dorsal aspect of the glans penis and forms the preputial placode [...] from which bilateral preputial laminar processes extend ventrally into the glanular mesenchyme
  35. 1 2 Favorito, Luciano Alves; Balassiano, Carlos Miguel; Costa, Waldemar Silva; Sampaio, Francisco José Barcellos (2012). "Development of the human foreskin during the fetal period". Histology and Histopathology. 27 (8): 1041–1045. doi:10.14670/HH-27.1041. ISSN 1699-5848. PMID 22763876. The complete foreskin was formed only in the fetuses at 18 and 19 WPC, in which the foreskin totally covered the glans.
  36. Cunha, Gerald R.; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Baskin, Laurence S. (2020). "Development of the human prepuce and its innervation". Differentiation; Research in Biological Diversity. 111: 22–40. doi:10.1016/j.diff.2019.10.002. ISSN 0301-4681. PMC 6936222. PMID 31654825. ...the earliest stages (8 weeks) of human preputial development to advanced preputial development at 17 weeks of gestation.
  37. 1 2 3 Cunha, Gerald R.; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Baskin, Laurence S. (2020). "Development of the human prepuce and its innervation". Differentiation; Research in Biological Diversity. 111: 22–40. doi:10.1016/j.diff.2019.10.002. ISSN 0301-4681. PMC 6936222. PMID 31654825.
  38. Schweigger-Seidel, F. (1866). "Zur Entwickelung des Praeputium". Archiv für Pathologische Anatomie und Physiologie und für Klinische Medicin. 37 (2): 219–225. doi:10.1007/bf01935635. ISSN 0945-6317. S2CID 26136414.
  39. Hunter, Richard H. (1935). "Notes on the Development of the Prepuce". Journal of Anatomy. 70 (Pt 1): 68–75. ISSN 0021-8782. PMC 1249280. PMID 17104576.
  40. Glenister, T. W. (1956). "A consideration of the processes involved in the development of the prepuce in man". British Journal of Urology. 28 (3): 243–249. doi:10.1111/j.1464-410x.1956.tb04763.x. ISSN 0007-1331. PMID 13364260.
  41. Fahmy, Mohamed A. Baky (2020), "Embryology of Prepuce", dalam Fahmy, Mohamed A. Baky (ed.), Normal and Abnormal Prepuce (dalam bahasa Inggris), Cham: Springer International Publishing, hlm. 29–33, doi:10.1007/978-3-030-37621-5_4, ISBN 978-3-030-37621-5, S2CID 216479793, The first indication of the onset of the developmental processes of the prepuce involved the appearance of a raised fold (the preputial fold), just at the coronary sulcus.
  42. Liu, Xin; Liu, Ge; Shen, Joel; Yue, Aaron; Isaacson, Dylan; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Liaw, Aron; Cunha, Gerald R.; Baskin, Laurence (2018). "Human Glans and Preputial Development". Differentiation; Research in Biological Diversity. 103: 86–99. doi:10.1016/j.diff.2018.08.002. ISSN 0301-4681. PMC 6234068. PMID 30245194. Development of the prepuce is initiated by ~12 weeks with the appearance of a novel structure, the preputial placode, which is a dorsal thickening of the epidermis on the dorsal aspect of the developing glans penis.
  43. Cunha, Gerald R.; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Baskin, Laurence S. (2020). "Development of the human prepuce and its innervation". Differentiation; Research in Biological Diversity. 111: 22–40. doi:10.1016/j.diff.2019.10.002. ISSN 0301-4681. PMC 6936222. PMID 31654825. The process of preputial lamina formation is initiated dorsally or dorsal-laterally in the proximal aspect of the glans at 11 to 12.5 weeks
  44. Favorito, Luciano Alves; Balassiano, Carlos Miguel; Costa, Waldemar Silva; Sampaio, Francisco José Barcellos (2012). "Development of the human foreskin during the fetal period". Histology and Histopathology. 27 (8): 1041–1045. doi:10.14670/HH-27.1041. ISSN 1699-5848. PMID 22763876. The glans was partially covered by the foreskin in the fetus at 13 WPC
  45. Liu, Xin; Liu, Ge; Shen, Joel; Yue, Aaron; Isaacson, Dylan; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Liaw, Aron; Cunha, Gerald R.; Baskin, Laurence (2018). "Human Glans and Preputial Development". Differentiation; Research in Biological Diversity. 103: 86–99. doi:10.1016/j.diff.2018.08.002. ISSN 0301-4681. PMC 6234068. PMID 30245194. From the lateral aspect of the preputial placode the bilateral preputial laminae expand ventrally until the preputial folds (foreskin) cover all of the glans, fusing in the ventral midline at ~16 weeks gestation.
  46. Liu, Xin; Liu, Ge; Shen, Joel; Yue, Aaron; Isaacson, Dylan; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Liaw, Aron; Cunha, Gerald R.; Baskin, Laurence (2018). "Human Glans and Preputial Development". Differentiation; Research in Biological Diversity. 103: 86–99. doi:10.1016/j.diff.2018.08.002. ISSN 0301-4681. PMC 6234068. PMID 30245194. Formation of the prepuce occurs after formation of the urethra in the penile shaft. The penile raphe within the penile shaft is a manifestation of fusion of the urethral folds within the shaft
  47. Cunha, Gerald R.; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Baskin, Laurence S. (2020). "Development of the human prepuce and its innervation". Differentiation; Research in Biological Diversity. 111: 22–40. doi:10.1016/j.diff.2019.10.002. ISSN 0301-4681. PMC 6936222. PMID 31654825. Examination of the ontogeny of innervation of the glans penis and prepuce reveals the presence of the dorsal nerve of the penis as early as 9 weeks of gestation. Nerve fibers enter the glans penis proximally and extend distally...to eventually reach the distal aspect of the glans and prepuce by 14 to 16 weeks of gestation.
  48. Fahmy, Mohamed A. Baky (2020), "Embryology of Prepuce", dalam Fahmy, Mohamed A. Baky (ed.), Normal and Abnormal Prepuce (dalam bahasa Inggris), Cham: Springer International Publishing, hlm. 29–33, doi:10.1007/978-3-030-37621-5_4, ISBN 978-3-030-37621-5, S2CID 216479793, Prepuce completely covering and fusing with the glans structure at around twenty-fourth week of gestation.
  49. Carmack, Adrienne; Milos, Marilyn Fayre (2017). "Catheterization without foreskin retraction". Canadian Family Physician. 63 (3): 218–220. ISSN 0008-350X. PMC 5349724. PMID 28292801. The foreskin and glans are connected by the balanopreputial lamina, a membrane similar to the synechial membrane that connects the nail bed and the fingernail... This membrane and the small preputial opening prevent retraction in boys with normal physiologic phimosis.
  50. Liu, Xin; Liu, Ge; Shen, Joel; Yue, Aaron; Isaacson, Dylan; Sinclair, Adrian; Cao, Mei; Liaw, Aron; Cunha, Gerald R.; Baskin, Laurence (2018). "Human Glans and Preputial Development". Differentiation; Research in Biological Diversity. 103: 86–99. doi:10.1016/j.diff.2018.08.002. ISSN 0301-4681. PMC 6234068. PMID 30245194. At birth the solid preputial lamina is intact and thus "physiologically adherent" to the glans. Thereafter, the preputial lamina will canalize creating the preputial space that "houses" the glans.
  51. "Newborn male circumcision | Canadian Paediatric Society". cps.ca (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-02-01. In the male newborn, the mucosal surfaces of the inner foreskin and glans penis adhere to one another; [...] Until this developmental process is complete, the best descriptor to use is 'nonretractile foreskin' rather than the confusing and perhaps erroneous term 'physiologic phimosis
  52. Dave, Sumit; Afshar, Kourosh; Braga, Luis H.; Anderson, Peter (2018). "CUA guideline on the care of the normal foreskin and neonatal circumcision in Canadian infants". Canadian Urological Association Journal (dalam bahasa Inggris). 12 (2): E76–E99. doi:10.5489/cuaj.5033. ISSN 1920-1214. PMC 5937400. PMID 29381458. the incidence of non-retractable physiological phimosis was 50% in grade 1 boys and decreased to 35% in grade 4 and 8% in grade 7 boys
  53. Velazquez, Elsa F.; Bock, Adelaida; Soskin, Ana; Codas, Ricardo; Arbo, Manuel; Cubilla, Antonio L. (2003). "Preputial variability and preferential association of long phimotic foreskins with penile cancer: an anatomic comparative study of types of foreskin in a general population and cancer patients". The American Journal of Surgical Pathology. 27 (7): 994–998. doi:10.1097/00000478-200307000-00015. ISSN 0147-5185. PMID 12826892. S2CID 34091663.
  54. Chengzu L (2011). "Health Care for Foreskin Conditions". Epidemiology of Urogenital Diseases. Beijing: People's Medical Publishing House.
  55. Xianze L (2012). Tips on Puberty Health. Beijing: People's Education Press.
  56. Guochang H (2010). General Surgery. Beijing: People's Medical Publishing House.
  57. Martin RD (1990). Primate Origins and Evolution: A Phylogenetic Reconstruction. New Jersey: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-08565-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  58. The American Academy of Pediatrics Task Force on Circumcision "Technical Report" (2012) addresses sexual function, sensitivity and satisfaction without qualification by age of circumcision. Sadeghi-Nejad et al. "Sexually transmitted diseases and sexual function" (2010) addresses adult circumcision and sexual function. Doyle et al. "The Impact of Male Circumcision on HIV Transmission" (2010) addresses adult circumcision and sexual function. Perera et al. "Safety and efficacy of nontherapeutic male circumcision: a systematic review" (2010) addresses adult circumcision and sexual function and satisfaction.
  59. Cox G, Krieger JN, Morris BJ (Juni 2015). "Histological Correlates of Penile Sexual Sensation: Does Circumcision Make a Difference?". Sexual Medicine. 3 (2): 76–85. doi:10.1002/sm2.67. PMC 4498824. PMID 26185672.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  60. 1 2 Dobanovacki D, Lucić Prostran B, Sarac D, Antić J, Petković M, Lakić T (2012). "[Prepuce in boys and adolescents: what when, and how?]". Medicinski Pregled. 65 (7–8): 295–300. doi:10.2298/MPNS1208295D. PMID 22924249.
  61. 1 2 3 Collier R (November 2011). "Vital or vestigial? The foreskin has its fans and foes". CMAJ. 183 (17): 1963–1964. doi:10.1503/cmaj.109-4014. PMC 3225416. PMID 22025652.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  62. College of Physicians; Surgeons of British Columbia (2009). "Circumcision (Infant Male)" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal Februari 15, 2012. Diakses tanggal April 22, 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  63. Morris BJ, Krieger JN, Klausner JD (Maret 2017). "CDC's Male Circumcision Recommendations Represent a Key Public Health Measure". Global Health: Science and Practice. 5 (1): 15–27. doi:10.9745/GHSP-D-16-00390. PMC 5478224. PMID 28351877.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  64. Simmons MN, Jones JS (Mei 2007). "Male genital morphology and function: an evolutionary perspective". The Journal of Urology. 177 (5): 1625–1631. doi:10.1016/j.juro.2007.01.011. PMID 17437774.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  65. Blank, Susan; Brady, Michael; Buerk, Ellen; Carlo, Waldemar; Diekema, Douglas; Freedman, Andrew; Maxwell, Lynne; Wegner, Steven (September 2012). "Male circumcision". Pediatrics. 130 (3): e756–e785. doi:10.1542/peds.2012-1990. PMID 22926175.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) The technical report was published in conjunction with an updated statement of policy on circumcision: Blank, Susan; Brady, Michael; Buerk, Ellen; Carlo, Waldemar; Diekema, Douglas; Freedman, Andrew; Maxwell, Lynne; Wegner, Steven (September 2012). "Circumcision policy statement" (PDF). Pediatrics. 130 (3): 585–586. doi:10.1542/peds.2012-1989. PMID 22926180. S2CID 207166111. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2017-09-01. Diakses tanggal 2017-10-04.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  66. Birley, H. D.; Walker, M. M.; Luzzi, G. A.; Bell, R.; Taylor-Robinson, D.; Byrne, M.; Renton, A. M. (1993). "Clinical features and management of recurrent balanitis; association with atopy and genital washing". Genitourinary Medicine. 69 (5): 400–403. doi:10.1136/sti.69.5.400. ISSN 0266-4348. PMC 1195128. PMID 8244363.
  67. 1 2 "Phimosis (tight foreskin)". NHS Choices. 26 Agustus 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2017. Diakses tanggal 21 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  68. Chi CC, Kirtschig G, Baldo M, Brackenbury F, Lewis F, Wojnarowska F (Desember 2011). "Topical interventions for genital lichen sclerosus". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2011 (12) CD008240. doi:10.1002/14651858.CD008240.pub2. PMC 7025763. PMID 22161424.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  69. 1 2 3 Fahmy M (2017). Congenital Anomalies of the Penis – Springer (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-43310-3.
  70. Van Howe RS, Sorrells MS, Snyder JL, Reiss MD, Milos MF (Desember 2016). "Letter from Van Howe et al Re: Examining Penile Sensitivity in Neonatally Circumcised and Intact Men Using Quantitative Sensory Testing: J. A. Bossio, C. F. Pukall and S. S. Steele J Urol 2016;195:1848–1853". The Journal of Urology. 196 (6): 1824. doi:10.1016/j.juro.2016.05.127. PMID 28181790.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  71. Szabo R, Short RV (Juni 2000). "How does male circumcision protect against HIV infection?". BMJ. 320 (7249): 1592–1594. doi:10.1136/bmj.320.7249.1592. PMC 1127372. PMID 10845974.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  72. Alan Glasper, Edward; Richardson, James; Randall, Duncan (2021). "Promote, Restore, and Stabilise Health Status in Children". A Textbook of Children's and Young People's Nursing. Elsevier Health Sciences. hlm. 382. ISBN 978-0-7020-6503-3.
  73. Cox G, Morris BJ (2012). "Chapter 21: Why Circumcision:From Prehistory to the Twenty-First Century". Dalam Bolnick DA, Koyle M, Yosha A (ed.). Surgical Guide to Circumcision. London: Springer-Verlag. hlm. 243–259. ISBN 978-1-4471-2858-8.
  74. McClung C, Voelzke B (2012). "Chapter 14: Adult Circumcision". Dalam Bolnick DA, Koyle M, Yosha A (ed.). Surgical Guide to Circumcision. London: Springer-Verlag. hlm. 165–175. ISBN 978-1-4471-2858-8.
  75. "Policy Statement On Circumcision". Royal Australasian College of Physicians. September 2004. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2008-07-20. Diakses tanggal 2007-02-28. The Paediatrics and Child Health Division, The Royal Australasian College of Physicians (RACP) has prepared this statement on routine circumcision of infants and boys to assist parents who are considering having this procedure undertaken on their male children and for doctors who are asked to advise on or undertake it. After extensive review of the literature the RACP reaffirms that there is no medical indication for routine neonatal circumcision. Circumcision of males has been undertaken for religious and cultural reasons for many thousands of years. It remains an important ritual in some religious and cultural groups.…In recent years there has been evidence of possible health benefits from routine male circumcision. The most important conditions where some benefit may result from circumcision are urinary tract infections, HIV and later cancer of the penis.…The complication rate of neonatal circumcision is reported to be around 1% and includes tenderness, bleeding and unhappy results to the appearance of the penis. Serious complications such as bleeding, septicaemia and may occasionally cause death (1 in 550,000). The possibility that routine circumcision may contravene human rights has been raised because circumcision is performed on a minor and is without proven medical benefit. Whether these legal concerns are valid will be known only if the matter is determined in a court of law. If the operation is to be performed, the medical attendant should ensure this is done by a competent operator, using appropriate anaesthesia and in a safe child-friendly environment. In all cases where parents request a circumcision for their child the medical attendant is obliged to provide accurate information on the risks and benefits of the procedure. Up-to-date, unbiased written material summarizing the evidence should be widely available to parents. Review of the literature in relation to risks and benefits shows there is no evidence of benefit outweighing harm for circumcision as a routine procedure in the neonate.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  76. Medical Ethics Committee (Juni 2006). "The law and ethics of male circumcision - guidance for doctors". British Medical Association. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-11-12. Diakses tanggal 2006-07-01.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  77. Collier R (Desember 2011). "Whole again: the practice of foreskin restoration". CMAJ. 183 (18): 2092–2093. doi:10.1503/cmaj.109-4009. PMC 3255154. PMID 22083672.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  78. "Paraphimosis: Article by Jong M Choe, MD, FACS". eMedicine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2008-11-23. Diakses tanggal 2012-07-16.
  79. 1 2 Snodgrass WT (2012). "Chapter 15: Foreskin Reconstruction". Dalam Bolnick DA, Koyle M, Yosha A (ed.). Surgical Guide to Circumcision. London: Springer-Verlag. hlm. 177–181. ISBN 978-1-4471-2858-8.
  80. McKie R (1999-04-04). "Foreskins for Skin Grafts". The Toronto Star.
  81. "High-Tech Skinny on Skin Grafts". 1999-02-16. Diarsipkan dari asli tanggal Oktober 10, 2008. Diakses tanggal 2008-08-20.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  82. Grand DJ (Agustus 15, 2011). "Skin Grafting". Medscape. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 8, 2008. Diakses tanggal Agustus 18, 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  83. Amst C, Carey J (Juli 27, 1998). "Biotech Bodies". www.businessweek.com. The McGraw-Hill Companies Inc. Diarsipkan dari asli tanggal Desember 24, 2013. Diakses tanggal 2017-09-17.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  84. Cowan AL (April 19, 1992). "Wall Street; A Swiss Firm Makes Babies Its Bet". New York Times:Business. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2009-02-13. Diakses tanggal 2008-08-20.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  85. Hovatta O, Mikkola M, Gertow K, Strömberg AM, Inzunza J, Hreinsson J, et al. (Juli 2003). "A culture system using human foreskin fibroblasts as feeder cells allows production of human embryonic stem cells". Human Reproduction. 18 (7): 1404–1409. doi:10.1093/humrep/deg290. PMID 12832363.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  86. Malamut M (14 April 2015). "The 'Baby Foreskin Facial' Is a Real Thing". Boston Magazine.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  87. Hall, Robert (Agustus 1992). "Epispasm: Circumcision in Reverse". Bible Review. 8 (4): 52–57.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  88. Hodges FM (2001). "The ideal prepuce in ancient Greece and Rome: male genital aesthetics and their relation to lipodermos, circumcision, foreskin restoration, and the kynodesme". Bulletin of the History of Medicine. 75 (3): 375–405. doi:10.1353/bhm.2001.0119. JSTOR 44445662. PMID 11568485. S2CID 29580193.
  89. Raveenthiran V (2020). "History of the Prepuce". Normal and Abnormal Prepuce. Springer. hlm. 7–21. doi:10.1007/978-3-030-37621-5_2. ISBN 978-3-030-37620-8. S2CID 216446879.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Foreskin.
Internal
Saluran seminal
Testis
Spermatogenesis
Lainnya
Kelenjar aksesori pria
Eksternal
Penis
Skrotum
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan